Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur, Ust. Drs. Muh. Nurdin Abdul Rahman (Foto: Abu Ahmad/ Hidayatullah.or.id)
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur, Ust. Drs. Muh. Nurdin Abdul Rahman, menyerukan persiapan optimal menyambut bulan suci Ramadhan dengan perencanaan yang matang. Hal itu ditekankan beliau dalam rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Timur di Kota Samarinda, pada Jum’at subuh, 11 Sya’ban 1447 (30/1/2026).
Nurdin Abdul Rahman mengingatkan para peserta akan semakin dekatnya bulan suci Ramadhan dan pentingnya kesiapan iman dalam menyambutnya.
Dalam suasana subuh yang khidmat, Nurdin mengajak seluruh peserta Rakerwil untuk memandang Ramadhan sebagai peristiwa tahunan yang menuntut kesiapan ruhani agar benar-benar memberi dampak pada kualitas keimanan seorang muslim.
“Tidak terasa, Ramadhan tersisa 20 hari lagi. Sudah sepatutnya untuk kita mempersiapkan diri agar termasuk orang-orang yang akan menjalaninya dengan baik, yaitu menjadi orang yang beriman,” katanya.
Nurdin menyoroti fenomena yang kerap luput dari perhatian umat Islam, yakni masuk dan keluarnya seseorang dari Ramadhan dengan kondisi iman yang relatif sama. Ia menilai hal ini terjadi karena Ramadhan tidak disiapkan dengan kesadaran dan perencanaan spiritual yang memadai.
“Banyak orang yang tidak memastikan kualitas imannya saat memasuki bulan Ramadhan,” katanya.
Padahal, terangnya, Ramadhan adalah bulan yang paling efektif me-recharge kondisi hati yang sempat melemah di sebelas bulan sebelumnya. Akhirnya dia meninggalkan Ramadhan dengan kualitas iman yang sama saat pertama kali dia berpuasa.
Menurut Nurdin, Ramadhan sejatinya berfungsi sebagai fase pemulihan dan penguatan iman. Jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, maka potensi besar Ramadhan sebagai sarana transformasi spiritual akan terlewatkan begitu saja.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa memasuki Ramadhan memerlukan persiapan yang komprehensif, tidak parsial. Persiapan tersebut mencakup kesiapan fisik, mental, dan terutama spiritual, agar ibadah yang dilakukan selama Ramadhan benar-benar berdaya guna.
Untuk memudahkan pemahaman, Nurdin menggunakan analogi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengibaratkan persiapan Ramadhan seperti mengisi daya sebuah perangkat elektronik.
“Seperti kita men-charge HP, kita pastikan charger kita bagus, bisa men-supply aliran listrik ke HP. Bahkan ketika charger sudah disambungkan, kita tetap melihat layar HP untuk memastikan bahwa HP benar-benar ter-charge,” ujarnya.
Analogi ini, menurutnya, menggambarkan bahwa kehadiran sarana saja tidak cukup. Diperlukan kesadaran dan pengecekan berkelanjutan untuk memastikan proses pengisian berjalan dengan baik.
“Jangan sampai HP kita ternyata tidak ter-charge meski merasa telah menyambungkan charger ke HP. Akhirnya HP tetap low batt dan tidak mampu dipergunakan dalam waktu yang lama,” ujarnya.
Nurdin menekankan bahwa Ramadhan juga demikian. Puasa, tarawih, dan tilawah tidak otomatis memperbaiki iman jika tidak disertai kesungguhan niat, pengawasan diri, dan penghindaran dari hal-hal yang merusak nilai ibadah.
Dalam bagian akhir taushiyahnya, Nurdin yang dikenal sebagai pendidik dan ayah dari sembilan anak itu membagikan beberapa langkah praktis sebagai bekal menyambut Ramadhan agar dijalani secara optimal. Ia menyebutkan setidaknya tiga kebiasaan penting yang perlu dibangun sejak bulan Sya’ban.
Ia menyampaikan bahwa langkah pertama adalah membiasakan diri dengan puasa sunnah di bulan Sya’ban sebagai latihan fisik dan mental sebelum Ramadhan.
Kedua, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an agar hati semakin peka dan siap menerima hidayah. Dan, ketiga, menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan yang dapat menjadi penghalang tumbuhnya ketakwaan.
Menurut Nurdin, jalan menuju Ramadhan yang berkualitas tidak ditempuh secara instan, tetapi melalui proses pembiasaan dan kesadaran diri yang berkelanjutan.
Kota Gaza hancur akibat serangan udara Israel (Foto: AP/Fatima Shbair)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyoroti keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace yang baru-baru ini diperkenalkan sebagai inisiatif internasional untuk mendorong perdamaian global. Forum tersebut diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan dipimpin langsung olehnya.
Menurut Naspi, keterlibatan Indonesia dalam forum ini perlu ditinjau secara kritis karena berisiko lemahkan komitmen Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan isu Palestina yang selama ini menjadi perhatian utama diplomasi Indonesia.
Naspi menilai bahwa keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace mengirimkan sinyal yang kurang menguntungkan di tingkat global. Menurutnya, partisipasi tersebut malah terkesan menampakkan lemahnya daya tawar diplomatik Indonesia, sekaligus menunjukkan keterbatasan kapasitas negosiasi dalam merumuskan posisi independen di luar kerangka kebijakan Amerika Serikat.
“Alih-alih tampil sebagai aktor penentu dengan posisi moral yang tegas, Indonesia justru berisiko dipersepsikan sebagai pengikut agenda politik global yang dirancang Washington,” kata Naspi dalam keterangannya kepada media ini di Jakarta, Kamis, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2025).
Naspi menegaskan bahwa Board of Peace mengandung problem mendasar dalam konstruksi politik dan orientasi perdamaian yang ditawarkan. Ia menilai bahwa kerangka kerja forum tersebut tidak dibangun di atas prinsip keadilan, melainkan cenderung mengakomodasi kepentingan kekuatan besar yang memiliki relasi dengan Israel.
Naspi berpandangan bahwa inisiatif Board of Peace justru berpotensi melanggengkan penjajahan Israel atas Palestina dalam bentuk yang lebih halus dan terlembagakan. Menurutnya, inisiatif yang tampak moderat ini pada dasarnya menyamarkan praktik dominasi dan kekerasan struktural yang selama puluhan tahun dialami oleh rakyat Palestina.
“Forum perdamaian ala Trump ini berupaya mengaburkan realitas konflik yang ditandai oleh pendudukan militer, ekspansi permukiman ilegal, perampasan wilayah, serta pelanggaran hak asasi manusia yang terdokumentasi secara luas oleh berbagai lembaga internasional,” katanya.
Salah satu aspek yang paling problematik dari Board of Peace, menurut Naspi, adalah penempatan Israel sebagai anggota setara dalam forum tersebut yang seharusnya diposisikan sebagai kekuatan pendudukan yang harus dimintai pertanggungjawaban hukum dan moral atas tindakannya di wilayah Palestina.
Pemosisian istimewa ini dinilai bertentangan dengan berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang secara konsisten menyebut Israel sebagai kekuatan pendudukan (occupying power) di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan wilayah Palestina lainnya.
“Kita juga melihat rekam jejak kebijakan Donald Trump yang menunjukkan ketiadaan keberpihakan terhadap hak-hak dasar rakyat Palestina,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pada masa pemerintahan Trump, Amerika Serikat secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebuah kebijakan yang menuai kritik luas dari komunitas internasional karena bertentangan dengan konsensus global dan resolusi PBB.
Selain itu, pada periode yang sama, Amerika Serikat memangkas bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina, termasuk pendanaan untuk Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Dalam waktu bersamaan, Amerika Serikat tetap menjadi salah satu pemasok utama persenjataan bagi Israel, yang digunakan dalam berbagai operasi militer di wilayah Gaza dan Tepi Barat.
“Fakta ini memperkuat keraguan terhadap netralitas dan itikad baik inisiatif perdamaian yang digagas oleh Trump ini,” katanya.
Naspi juga mengkritisi komposisi aktor yang terlibat dalam Board of Peace, yang dinilainya banyak diisi oleh individu dan kelompok yang selama ini dikenal memiliki afiliasi atau dukungan politik terhadap Israel. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai objektivitas forum tersebut, karena pihak-pihak yang memiliki konflik kepentingan justru diberi peran sentral dalam mendefinisikan agenda perdamaian.
Politik luar negeri Indonesia berlandaskan prinsip bebas dan aktif yang menuntut sikap independen dari kepentingan blok kekuatan mana pun, sekaligus keterlibatan aktif dalam mendorong perdamaian dunia. Dengan prinsip ini, terang Naspi, mengharuskan Indonesia berperan sebagai problem solver dalam konflik internasional.
“Keterlibatan dalam Board of Peace yang mengabaikan keputusan PBB dan tidak mematuhi Mahkamah Internasional berpotensi menyimpang dari prinsip dasar politik luar negeri Indonesia sebagai pedoman etis kebijakan global nasional kita,” katanya.
Keterlibatan dalam forum yang problematik secara moral dan politik berisiko mereduksi prinsip bebas dan aktif menjadi sekadar partisipasi simbolik. Oleh karena itu, Naspi menambahkan, diplomasi Indonesia dituntut aktif secara substantif dengan menawarkan solusi adil dan berpihak pada korban penjajahan.
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., memberi arahan strategis dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Timur di Aula Ruhui Rahayu lantai dasar Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, pada Kamis, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2026).
Naspi menegaskan rapat kerja wilayah ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat orientasi gerakan yang berakar pada nilai kemaslahatan dan diharapkan terbangun kesadaran kolektif bahwa keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya program yang dirancang melainkan dari sejauh mana program tersebut menghadirkan manfaat nyata bagi umat dan berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Karenanya, dia menekankan forum ini adalah bagian penting dari mekanisme konsolidasi organisasi dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja Hidayatullah di tingkat wilayah, sekaligus menegaskan peran strategis organisasi dalam menjawab tantangan sosial dan keumatan khususnya di Kalimantan Timur.
Sejalan dengan hal tersebut, KH. Naspi Arsyad menekankan bahwa setiap program kerja yang dihasilkan harus memiliki orientasi kemaslahatan yang jelas. Program tidak cukup disusun secara normatif, tetapi harus dirancang dengan ukuran keberhasilan yang konkret serta mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, efektivitas organisasi diukur dari sejauh mana kehadirannya dirasakan oleh umat dalam kehidupan sehari-hari.
“Program Hidayatullah harus konkret, terukur, dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Rapat kerja harus melahirkan gerakan yang hidup dan memberi solusi,” tegasnya.
Dalam kerangka itu, KH. Naspi Arsyad memandang bahwa Rakerwil harus mampu melahirkan gerakan organisasi yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan sosial.
Disamping itu, dia berharap, program yang dirumuskan tidak boleh berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi kerja lapangan yang menyentuh aspek dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat secara terpadu.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan agar Hidayatullah terus menguatkan jati dirinya sebagai pelayan umat. Kekuatan organisasi, terangnya, tidak terletak semata-mata pada struktur dan kelengkapan kelembagaan, melainkan pada kemampuan menghadirkan pelayanan yang tulus, konsisten, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat luas.
Naspi menambahkan bahwa organisasi keumatan tidak terjebak pada rutinitas struktural serta harus mampu menjelma sebagai gerakan sosial yang responsif, solutif, dan memiliki kepekaan terhadap persoalan umat.
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur resmi dibuka bertempat di Aula Ruhui Rahayu lantai dasar Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, pada Kamis, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2026).
Acara pembukaan Rakerwil dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan dan mitra strategis Hidayatullah. Hadir Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc., unsur Majelis Pembimbing Hidayatullah Ummul Qura Balikpapan, para Ketua ketua Dewan Pengurus Daerah serta Ketua Yayasan Kampus Madya se-Kalimantan Timur.
Selain itu, turut hadir organisasi pendukung tingkat wilayah seperti Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur, BMH Perwakilan Kalimantan Timur, serta perwakilan dari Pengurus Wilayah Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur.
Dari unsur Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud, S.E., M.E. berhalangan hadir dan diwakili oleh drh. Arief Murdiyatno, Staf Ahli Gubernur Bidang Sumber Daya Alam.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur, KH. Hizbullah AS, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur atas fasilitasi Aula Ruhui Rahayu sebagai lokasi pelaksanaan Rakerwil.
Menurutnya, dukungan tersebut memiliki makna simbolik yang merefleksikan hubungan baik dan kepercayaan antara Hidayatullah dan pemerintah daerah sebagaimana telah berjalan selama ini.
Hizbullah menyebut penyelenggaraan kegiatan ini sebagai momentum strategis bagi Hidayatullah Kalimantan Timur untuk melakukan konsolidasi organisasi sekaligus mempertegas peran dan kontribusinya dalam pembangunan daerah.
“Rakerwil ini menjadi forum evaluasi dan perumusan arah kebijakan organisasi yang selaras dengan dinamika sosial serta kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur,” katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Hizbullah menilai bahwa penggunaan fasilitas pemerintah daerah untuk kegiatan Rakerwil menjadi penanda kesiapan Hidayatullah untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam kerja-kerja nyata pembangunan.
“Kolaborasi ini relevan dengan visi pembangunan Kalimantan Timur menuju Indonesia Emas, yang menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis dakwah dan pendidikan,” tekannya.
Ia menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah daerah merupakan peluang strategis bagi Hidayatullah untuk memperluas kontribusi sosialnya. Hizbullah menegaskan, Hidayatullah memiliki posisi yang memungkinkan untuk berperan sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya dalam pembangunan manusia dan penguatan nilai-nilai keumatan.
“Peran peran yang kita lakukan hendaknya dapat dijalankan secara terukur dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas,” imbuhnya.
Dalam kerangka kerja organisasi ke depan, KH. Hizbullah juga menegaskan adanya tiga program utama yang menjadi fokus DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, yakni dakwah dan layanan umat, pendidikan, serta pemberdayaan umat.
Dia menegaskan, ketiga program ini sebagai pilar utama yang saling berkaitan dalam membangun kapasitas spiritual, intelektual, dan sosial-ekonomi masyarakat.
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur menjadi forum konsolidasi organisasi sekaligus ruang dialog strategis antara Hidayatullah dan pemerintah daerah dalam merumuskan kontribusi nyata bagi pembangunan Kalimantan Timur.
Acara yang berlangsung 2 hari ini dibuka secara resmi di Aula Ruhui Rahayu lantai dasar Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, pada Kamis, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2026).
Dalam sambutannya, Staf Ahli Gubernur Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Timur, drh. Arief Murdiyatno, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki sikap terbuka dan siap bersinergi dengan Hidayatullah.
Ia secara khusus menekankan bahwa bidang pemberdayaan umat merupakan salah satu ruang kolaborasi yang dinilai strategis dan relevan dengan agenda pembangunan daerah yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Arief menyampaikan bahwa Gubernur Kalimantan Timur saat ini tengah berupaya membangun konektivitas antarwilayah sebagai fondasi utama pemerataan pembangunan.
Menurutnya, penguatan infrastruktur dan keterhubungan antar daerah menjadi prasyarat penting agar program-program sosial dan ekonomi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara lebih merata dan efektif.
Ia menjelaskan bahwa konektivitas yang baik akan memberikan dampak langsung terhadap efektivitas pemberdayaan umat.
“Jika konektivitas antar wilayah sudah terbangun dengan baik, maka pemberdayaan umat akan semakin mudah dan efektif,” katanya yang mewakili Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud, S.E., M.E. berhalangan hadir.
Sejalan dengan hal tersebut, Arief menyatakan bahwa pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Timur. Dukungan ini tidak hanya dimaknai sebagai bentuk fasilitasi kegiatan, tetapi juga sebagai harapan agar forum tersebut mampu melahirkan gagasan-gagasan strategis yang berkontribusi nyata terhadap kemajuan daerah.
Menurut Arief, peran organisasi keumatan seperti Hidayatullah memiliki signifikansi penting dalam mendukung agenda pembangunan yang berkelanjutan. Ia menilai bahwa penguatan kapasitas organisasi masyarakat akan berdampak langsung pada kualitas pembangunan sosial, terutama dalam aspek pembinaan nilai, pendidikan, dan kemandirian masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Arief menegaskan adanya keterkaitan antara kemajuan organisasi dan kemajuan daerah secara keseluruhan. “Jika Hidayatullah Kaltim maju, maka Kalimantan Timur juga akan maju,” tegasnya, seraya menegaskan pembangunan tidak hanya bertumpu pada peran negara, tetapi juga membutuhkan kontribusi aktif dari elemen masyarakat sipil.
Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Timur ini diharapkan dia menjadi titik tolak lahirnya program-program strategis yang berorientasi pada dakwah transformatif, pendidikan yang mencerahkan, serta pemberdayaan umat yang berkelanjutan serta berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang religius, mandiri, dan memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan.
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Sudah kita pahami bersama bahwa Ramadhan menawarkan begitu banyak keutamaan dan kemuliaan. Tetapi ada peringatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang hendaknya kita renungkan baik-baik.
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga” (HR Ath-Thabrani).
Sudah berapa kali dalam hidup kita melewati Ramadhan demi Ramadhan dan apa yang kita dapatkan selama ini. Kalau usia kita 40 tahun berarti kita sudah menjalani puasa sebulan penuh kira-kira 25 kali dalam 25 tahun terakhir sejak kita baligh.
Lantas, perubahan apa yang telah kita dapatkan?
Ramadhan menawarkan momentum perubahan yang fundamental bagi pribadi seorang mukmin maupun kehidupan umat Islam secara keseluruhan. Peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat Islam terjadi di bulan Ramadhan.
Perang Badar, pembebasan Mekkah (Fatkhul Makkah), sebagian peristiwa pada Perang Tabuk, pembebasan Andalusia (Spanyol) oleh Thariq bin Ziyad, dan sebagainya, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi di bulan Ramadhan.
Di bulan Ramadhan ini orang beriman diharuskan meninggalkan makan, minum, melakukan hubungan seksual, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Diperintahkan kepada kita untuk menjaga mata, telinga, lisan, tangan, kaki, pikiran dan hati kita dari segala kemaksiatan.
Diperintahkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah sunnah di samping tetap memperbaiki ibadah-ibadah wajib. Kalau itu semua kita lakukan dengan benar tentu akan ada perubahan besar dalam hidup kita.
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Untuk itu mari kita renungkan kembali apa sesungguhnya esensi Ramadhan itu bagi kehidupan kita.
Pertama;Ramadhan Bulan Tarbiyah (Pendidikan)
Setiap manusia sesungguhnya dilahirkan dalam keadaan fithrah. Inilah kondisi ideal bagi manusia karena ia telah bertauhid semurni-murninya sejak di dalam kandungan sampai ia dilahirkan.
Jiwa yang bertauhid inilah yang menjadikan manusia selalu merindukan kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang sempurna yang hanya bisa ia dapatkan ketika ia mendekat kembali kepada Penciptanya.
Setelah dilahirkan ke dunia, manusia yang dalam dirinya melekat hawa nafsu, berinteraksi dengan lingkungannya dan dipengaruhi godaan setan. Kondisi ini bisa merusak fithrahnya. Karena itu pendidikan yang sesungguhnya adalah mendidik diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan memiliki imunitas (kekebalan) dari berbagai godaan.
Sesungguhnya nafsu adalah anugerah Allah bagi manusia agar memiliki gairah dan semangat untuk keberlangsungan hidupnya. Tidak ada nafsu tidak ada kehidupan. Nafsu yang terkendali, seperti kuda tunggangan, akan mengantarkan manusia mencapai tujuannya.
Jika tidak terkendali, maka ia akan menyeret kita tak tentu arah dan tujuan. Ketika nafsu terkendali manusia akan kembali kepada keadaan fithrahnya. Karena itu puasa bukan sekedar lapar dan dahaga, tetapi pengendalian diri secara total dan pembebasan diri dari segala dominasi hawa nafsu.
Bukan sekedar tidak makan dan tidak minum tetapi juga tidak memakan yang bukan hak kita. Bukan sekedar puasa jasmani tetapi juga mempuasakan mata, telinga, lisan, kaki, tangan, hati, pikiran, dan perasaan kita dari segala kemaksiatan.
“Puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (HR Bukhori)
Kedua;Ramadhan Bulan Ibadah
Ibadah sesungguhnya memiliki dimensi yang sangat luas mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, yang nampak (dzahir) ataupun yang tidak nampak (bathin).
Tetapi, di bulan Ramadhan kita diperintahkan mengkhususkan diri taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kita; sholat lima waktu berjamaah di masjid ditambah dengan sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah, bangun di tengah malam untuk tahajjud, doa, dzikir, tadarrus Al-Qur’an, dan beri’tikaf di masjid terutama pada sepuluh hari terakhir.
Sebelas bulan kemarin kita dibelit oleh kesibukan duniawi. Pada Ramadhan saatnya kita rihlah, mentamasyakan jiwa kita yang selama ini terlantar. Bebaskan diri kita dari segala kesempitan dunia dan mendekatlah kepada Allah yang maha luas rahmat-Nya. Mari kita sambut undangan Allah sebagaimana sabda Nabi:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Di bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dipenjara. Di bulan Ramadhan, ada satu malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Orang yang terhalang dari kebaikannya, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikannya itu” (H.R. Ahmad dan An Nasa’i).
Ketiga; Ramadhan Bulan Muhasabah (Instropeksi Diri)
Kesibukan hidup seringkali membuat kita kehilangan kejernihan. Berbagai persoalan bertumpuk-tumpuk dan tidak menemukan jalan keluarnya. Banyak orang yang mencari alternatif ke arena-arena hiburan. Apa yang mereka dapatkan? Ketenangan, kejernihan berpikir, atau ketajaman wawasan?
Justru arena-arena hiburan itu akan menambah permasalahan, membebani otak, dan menumpuk berbagai permasalahan baru. Di sana kerakusan nafsu dan keberingansan hewani akan terpupuk.
Di bulan Ramadhan nafsu ditundukkan, jiwa akan menjadi lebih tenang. Dalam kondisi ini kita akan lebih jelas melihat persoalan hidup. Sebelas bulan kita cenderung lalai, kini saatnya bermuhasabah untuk menata kembali orientasi hidup kita. Pesan Nabi:
“Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keempat; Ramadhan Bulan Taubat
Setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan. Dan sebaik-baik hamba yang berdosa adalah yang bertaubat kepada-Nya. Tetapi ketika dosa sudah bertumpuk-tumpuk, berurat dan berakar, bukan perkara mudah untuk bertaubat.
Ibarat tanaman yang baru tumbuh, mudah bagi kita untuk mencabutnya. Tetapi ketika ia sudah menjadi besar, tidak mudah kita mencabutnya apalagi ketika tenaga kita semakin melemah. Dibutuhkan energi ruhani yang luar biasa untuk berhenti dari setiap kemaksiatan.
Di bulan Ramadhan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan nafsu dikendalikan. Situasi ini sangat kondusif bagi kita untuk mengakhiri semua pelanggaran. Tentu saja ukuran kebenaran taubat kita adalah ketika kita nanti tidak mengulanginya lagi selepas Ramadhan.
Allah menawarkan ampunan bagi setiap hamba yang berdosa untuk kembali kepada-Nya. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa yang berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibu.” (HR: Ahmad, Ibnu Majah)
Kelima;Ramadhan Bulan Jihad
Turunnya perintah puasa di bulan Ramadhan beriringan dengan perintah jihad dalam Perang Badar pada tahun kedua hijriah. Kaum muslimin berperang dengan orang-orang kafir di bulan itu dengan tetap berpuasa. Puasa dan jihad sesungguhnya memiliki esensi yang sama yaitu berperang, terutama memerangi hawa nafsu.
Tidak mungkin orang akan berangkat berperang melawan musuh Allah kalau ia tidak bisa memerangi nafsunya sendiri. Demikian juga tidak mungkin orang bisa berpuasa dengan benar kalau dia tidak memerangi hawa nafsunya.
Karena itu sangat disayangkan di bulan Ramadhan ini sebagian umat Islam justru memupuk nafsu bermalasan dan memperbanyak tidur.
Menjadi pemandangan yang lumrah tetapi memprihatinkan, sebagian kaum muslimin melakukan hal yang sia-sia, bahkan maksiat; menunggu buka puasa dengan panggung hiburan musik, kebut-kebutan liar, main petasan, bahkan di beberapa tempat ada tradisi berjudi; malam hari di isi dengan begadang, mengobrol dan senda gurau; dan tradisi-tradisi lain, baik yang lama (dari nenek moyang) maupun tradisi baru, yang tidak ada hubungannya dengan ibadah Ramadhan.
Karena itu, mari kita menempa diri di bulan ini dengan bersungguh-sungguh berperang untuk menundukkan hawa nafsu kita dan bersungguh-sungguh meraih setiap keutamaan di bulan ini.
Keenam;Ramadhan Bulan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:
“Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil),” (QS. Al-Baqarah: 185).
Al-Quran adalah pedoman hidup yang tidak boleh lepas dari kehidupan seseorang. Tanpa Al-Qur’an manusia seperti berjalan di tengah malam gelap gulita tanpa cahaya. Mari kita jadikan diri kita pribadi qur’ani. Keluarga kita keluarga qur’ani. Anak-anak kita generasi qur’ani. Dan masyarakat kita masyarakat qur’ani.
Mari kita bebaskan diri dari buta huruf dan buta makna Al-Quran dengan membacanya, memperbaiki bacaan, menterjemah, mempelajari tafsirnya, dan mentadabburinya (mengambil hikmah darinya).
Ketujuh;Ramadhan Bulan Ukhuwwah
Di bulan Ramadhan kaum muslimin banyak bertemu dan berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dalam ibadah ritual maupun ibadah sosial. Bahkan sabda Nabi berikut ini mengisyaratkan kepada kita agar membangun kebersamaan dan persatuan umat Islam.
“Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, hari raya adalah pada saat kalian berhari raya” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Karena itu mari kita hindari perdebatan dan pertengkaran dalam hal-hal yang bersifat khilafiyah – furu’iyah. Para da’i, khatib, ustadz hendaknya menyampaikan pesan-pesan ukhuwwah, bukan malah memperuncing perbedaan yang memang tidak mungkin disamakan.
Perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyah – furu’iyah pasti akan terus terjadi, tetapi menjaga ukhuwwah adalah kewajiban kita. Mari kita memperbanyak silaturrahim, saling memaafkan dan memperbaiki hubungan, saling memberikan hadiah, saling menasehati, saling mendoakan.
Kedelapan;Ramadhan Bulan Sedekah
Puasa mengingatkan kita tentang orang-orang yang kelaparan karena kemiskinan dan kefakiran, yang kadang-kadang tak diketahui oleh orang-orang kaya. Allah hendak memberi kabar kepada mereka bahwa di sana ada saudara-saudara mereka yang tidur beralaskan tanah dan berselimut langit, tanpa secuil makanan.
Kalau kita lapar selama sebulan, ketahuilah orang lain telah merasa lapar selama berbulan-bulan. Mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk meningkatkan kedermawan dan solidaritas sosial. Hindari segala sikap berlebih-lebihan, berfoya-foya, pemborosan yang bisa menumpulkan jiwa sosial kita.
Siapkan harta untuk menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, dan memberi makan orang-orang yang berpuasa. Ibnu Abbas meriwayatkan:
“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika ditemui Jibril. Jibril biasa menemui beliau di setiap malam bulan Ramadan, lalu beliau saling mempelajari Al-Qur`an dengannya. Sungguh Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan dibanding angin yang berhembus” (HR Muttafaq ‘alaih)
Kesembilan;Ramadhan Bulan Dakwah
Dakwah adalah mempertautkan hati manusia dengan hidayah Allah dan merubah jiwa manusia kepada kondisi yang lebih baik dan diridhoi Allah. Hati manusia senantiasa berbolak-balik. Kadang menerima, kadang menolak. Kadang terbuka, kadang tertutup. Kadang semangat, kadang mengendor.
Kita diperintahkan berdakwah kepada manusia dengan cara yang baik. Allah Subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,” (QS An-Nahl: 125).
Pada bulan Ramadhan jiwa-jiwa manusia lebih terbuka sehingga lebih mudah menangkap hidayah Allah. Karena itu mari kita gencarkan syiar Islam dan semarakkan dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dan sebagainya. Semoga dengan demikian semakin banyak umat Islam ini yang tercerahkan.
Demikianlah berbagai hal yang menjadi esensi Ramadhan. Semoga puasa kita tidak sia-sia. Tidak sekedar lapar dan dahaga.
Semoga kita bisa menjalani Ramadhan pada tahun ini sebaik-baiknya dan berhasil meraih berbagai kemuliaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.
KARANGANYAR (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Suwito Abdul Fattah, S.Pd., S.E., M.M., mendorong agar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Bagian Selatan (Bagsel) memberikan perhatian lebih pada pengembangan sektor ekonomi organisasi. Dalam kesempatan yang sama, ia menyebut wilayah tersebut dikenal memiliki atmosfer kaderisasi yang kuat.
“Saya senang sekali hadir di sini. Karena DIY–Jateng Bagian Selatan, terutama Jogja dan Solo, dikenal sebagai dua daerah Hidayatullah yang memiliki atmosfer kaderisasi yang kuat,” ujar Suwito Abdul Fattah saat membuka Rapat Kerja Wilayah.
Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan mengusung tema Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi sebagai forum perencanaan dan penguatan arah kebijakan organisasi di tingkat wilayah ini diselenggarakan selama dua hari, 8-9 Syaban 1447 (27–28/1/2026).
Kegiatan tersebut bertempat di Kampus I Ma’had Aly Menara Al-Qur’an, Hidayatullah Karanganyar. Rakerwil secara resmi dibuka oleh Suwito Abdul Fattah. Peserta berasal dari berbagai unsur organisasi, meliputi pengurus Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, organisasi pendukung, serta unit amal dan badan usaha yang berada di bawah koordinasi wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan.
Suwito Abdul Fattah menyampaikan bahwa penguatan ekonomi organisasi perlu menjadi perhatian ke depan. Ia menyampaikan harapan agar pengembangan ekonomi dapat berjalan seiring dengan penguatan kaderisasi yang telah dikenal di wilayah tersebut.
“Ke depan semoga Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan lebih memberikan perhatian juga kepada ekspansi ekonomi, agar kemandirian organisasi tercapai dan pengaruh positifnya semakin luas,” kata Suwito Abdul Fattah.
Suwito sebagai perwakilan dari DPP Hidayatulla sebagai pendamping forum menyampaikan harapan Rapat Kerja Wilayah ini menjadi ruang konsolidasi bagi seluruh unsur organisasi di wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan.
Melalui Rakerwil, imbuhnya, terbangun keselarasan antara pengurus wilayah, daerah, dan unit-unit pendukung dalam menjalankan program organisasi. Pembahasan diarahkan pada penyusunan langkah-langkah kerja yang terkoordinasi dan berkesinambungan sesuai dengan tema yang diusung.
Dalam forum tersebut, para peserta membahas berbagai aspek penguatan organisasi, termasuk konsolidasi jati diri, transformasi kelembagaan, serta penyesuaian program kerja dengan dinamika yang berkembang.
Merespon Tantangan Masa Kini dan Masa Depan
Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan, Abdullah Munir, S.Ag., dalam laporannya menyinggung tantangan yang dihadapi organisasi pada masa kini dan masa mendatang. “Semoga organisatoris dan kader Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan bersiap,” ujar Abdullah Munir dalam sambutannya.
Abdullah menyampaikan bahwa Rapat Kerja Wilayah merupakan forum penting untuk merespons tantangan tersebut. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan Rakerwil dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menyusun perencanaan organisasi. Menurutnya, perumusan program yang strategis dan efektif diperlukan agar arah gerak organisasi dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang dihadapi.
Ia juga menyampaikan harapan agar Rakerwil dapat menghasilkan program-program kerja yang terukur dan relevan dengan target jangka menengah organisasi. “Oleh karena itu, Rakerwil ini hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk menyusun berbagai program yang strategis dan efektif,” ujar Abdullah Munir.
Ia menambahkan bahwa perencanaan tersebut diharapkan dapat mengantarkan organisasi pada capaian kemandirian dan pengaruh yang lebih kuat serta semakin menghadirkan maslahat lebih luas bagi umat dan kehidupan bangsa pada tahun 2030.
Sebagai informasi tambahan, profil organisasi serta aktivitas Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan dapat diakses melalui laman resmi dpwhidayatullahdiyjatengbagsel.org. Situs tersebut memuat informasi mengenai struktur organisasi, kegiatan, serta program yang dijalankan di wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Setiap Kamis pagi, sebuah ruang ibadah di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Balikpapan menjadi titik pertemuan antara nilai-nilai keislaman dan proses pembinaan warga negara.
Di ruang utama Masjid At-Taubah itu, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan dan ditadaburi bersama para warga binaan, dalam sebuah kegiatan pendampingan rohani yang berlangsung rutin di tengah pengawasan dan aturan pemasyarakatan. Aktivitas ini menggambarkan bagaimana pembinaan spiritual dijalankan sebagai bagian dari upaya pembentukan kembali kesadaran keagamaan di lingkungan terbatas.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari program Dai Tangguh yang dilaksanakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerjasama dengan DPD Hidayatullah Balikpapan. Melalui program ini, simpul sinergi ini secara konsisten mengirimkan dai untuk melakukan pembinaan keagamaan secara intensif di Lapas.
Program tersebut dilandaskan pada komitmen agar akses terhadap dakwah dan ilmu agama dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan yang sedang menjalani masa pidana. Dalam konteks keindonesiaan, pendekatan ini sejalan dengan fungsi pembinaan pemasyarakatan yang menempatkan manusia sebagai subjek pembinaan.
Salah satu dai yang terlibat langsung dalam kegiatan ini adalah Ustadz Yasin Adnan. Dalam pendampingannya, ia menerapkan pendekatan tadabur Al-Qur’an yang disesuaikan dengan kondisi psikologis dan sosial warga binaan. Pembinaan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca teks suci, tetapi juga pada pemahaman makna dan relevansinya dengan kehidupan yang sedang dijalani para peserta pembinaan.
Ustadz Yasin Adnan menjelaskan bahwa aktivitas dakwah di dalam Lapas diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan mendorong perubahan sikap.
“Kami berupaya menumbuhkan kesadaran spiritual dan membangkitkan semangat untuk berubah. Di sini, kita tidak menghakimi masa lalu, tapi kita fokus menata masa depan melalui tuntunan ayat-ayat Allah,” ujarnya dalam keterangan yang diterima media ini, Rabu, 9 Syaban 1447 (28/1/2026).
Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan menunjukkan hasil yang teramati dalam keseharian warga binaan. Berdasarkan pelaksanaan program, terjadi peningkatan pemahaman keagamaan, konsistensi dalam menjalankan ibadah, serta tumbuhnya optimisme untuk menjalani kehidupan yang lebih terarah setelah masa pembinaan berakhir. Aspek-aspek tersebut menjadi indikator perubahan yang diharapkan dari pembinaan spiritual di lingkungan pemasyarakatan.
Program Dai Tangguh juga ditempatkan sebagai kontribusi BMH dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kalimantan Timur, Achmad Rifai, menyampaikan bahwa pembinaan mental dan spiritual memiliki peran penting dalam proses tersebut.
“Dengan mental dan spiritual yang terjaga, warga binaan diharapkan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih religius, santun, dan produktif,” ungkapnya.
Dia mengatakan, pelaksanaan dakwah di wilayah khusus seperti Lapas memerlukan komitmen dan dukungan sumber daya yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran para donatur menjadi faktor penopang utama. Dana zakat dan infak yang disalurkan melalui BMH memungkinkan keberlangsungan program pendampingan dan memastikan para dai dapat menjalankan tugasnya secara konsisten di ruang-ruang pembinaan khusus.
“Pendampingan rohani di Lapas Balikpapan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga martabat manusia, membangun kesadaran beragama, dan mendukung proses pembinaan warga negara menuju kehidupan sosial yang lebih baik,” tandasnya.
MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Upaya penguatan peran dakwah dan kontribusi sosial Hidayatullah di daerah terus dilakukan melalui konsolidasi organisasi yang terarah. Demikianlah diantara mufakat dari penyelenggaraan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Barat yang mengangkat tema Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi di Pondok Pesantren Hidayatullah Kepulauan Mentawai dibuka pada Selasa, 8 Syaban 1447 (27/1/2026).
Konsolidasi tersebut dibersamai oleh unsur Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping, diikuti jajaran DPW Hidayatullah Sumatera Barat, serta Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Kehadiran lintas struktur ini upaya menyeluruh dalam memperkuat soliditas organisasi, sekaligus memastikan kesinambungan gerak dakwah, pendidikan, dan sosial berjalan dalam satu kerangka yang sama.
Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Nanang Noerpatria, dalam arahannya mengingatkan bahwa forum musyawarah menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah sebagai bagian dari kaum muslimin (jama’atun minal Muslimin) dalam menjaga identitas keislaman sekaligus berkontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kegiatan ini salah satu ikhtiar bagi kita untuk berperan aktif dalam pembangunan masyarakat hingga wilayah terluar,” katanya.
Nanang yang menyampaikan sambutan melalui Zoom Meeting menegaskan bahwa penguatan jati diri organisasi merupakan prasyarat utama dalam proses transformasi.
Menurutnya, identitas kelembagaan yang kokoh akan menjadi fondasi bagi terwujudnya organisasi yang mandiri dan memiliki pengaruh luas dalam melayani umat. Arahan tersebut menempatkan nilai-nilai keislaman sebagai dasar penggerak perubahan organisasi.
Dia kembali menekankan bahwa forum intelektual semacam ini hendaknya menjadi ruang pertemuan strategis untuk menyatukan visi, struktur, dan langkah dakwah termasuk di wilayah Sumatera Barat yang merupakan kawasan kepulauan yang memiliki tantangan geografis tersendiri.
Tiga Pilar Ranah Pengabdian
Pada kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Barat, Nurdin Ismail, melaporkan bahwa bahwa fokus kerja Hidayatullah di Ranah Minang ke depan diarahkan pada tiga sektor utama, yakni dakwah, pendidikan, dan sosial, yang selama ini menjadi pilar pengabdian HIdayatullah kepada umat dan bangsa.
Menurut Nurdin Ismail, Rakerwil menjadi momentum strategis untuk menyusun program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah pelosok dan kepulauan. Ia menyampaikan harapan agar keberadaan Hidayatullah di Sumatera Barat semakin dirasakan manfaatnya melalui program-program yang berkelanjutan.
“Peningkatan kualitas dakwah dan pendidikan menjadi perhatian utama dalam perencanaan program kita di Sumbar. Upaya ini dilakukan diantaranya dengan memperkuat kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam,” katanya. .
Selain itu, peningkatan kontribusi sosial juga menjadi target, khususnya pada sektor kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi, yang ia pandang sebagai instrumen penting dalam mendorong kemandirian lembaga dan masyarakat.
Dalam rangka memperluas jangkauan dakwah dan sosial, Nurdin Ismail menekankan pentingnya kerja sama dengan berbagai pihak. Kolaborasi dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan unsur masyarakat lainnya dinilai perlu untuk memastikan program yang dijalankan dapat memberikan dampak nyata.
“Interaksi dan kolaborasi dengan berbagai elemen umat ini tentu menjadi langkah strategi agar peran kita semakin terasa dalam kehidupan sosial kebangsaan,” katanya.
Nurdin juga menegaskan pentingnya penguatan penguatan sumber daya manusia. Ia menyampaikan bahwa peningkatan kualitas kader di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial merupakan kunci penguatan kinerja organisasi. Dia berharap, pengembangan SDM tersebut diharapkan mendukung terwujudnya organisasi yang mandiri dan mampu menjalankan amanah umat secara berkelanjutan.
MERAUKE (Hidayatullah.or.id) — Deru kendaraan memecah sunyi jalur darat yang membelah hutan dan kawasan rawa di Papua Selatan pada akhir pekan lalu. Rombongan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Selatan melakukan perjalanan bertajuk Turun ke Daerah (Turda) menuju Distrik Bupul dan Muting, dua wilayah di Kabupaten Merauke yang berada di kawasan perbatasan negara.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari agenda organisasi untuk memastikan kesinambungan program dakwah, pendidikan, dan pengabdian sosial di wilayah terluar Indonesia. Turda dilaksanakan sebagai langkah monitoring dan penguatan langsung terhadap struktur Dewan Pengurus Cabang (DPC) di daerah.
Ketua DPW Hidayatullah Papua Selatan, Zainal Abidin, mengatakan kegiatan untuk meninjau kondisi riil kader dai yang mengabdi di distrik setempat, lembaga pendidikan, serta pelaksanaan program yang selama ini dijalankan di tengah keterbatasan geografis dan akses.
Wilayah perbatasan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan bangsa, sementara dalam perspektif keislaman, dakwah di daerah tersebut adalah sebagai amanah yang harus dijaga keberlanjutannya.
Salah satu agenda utama rombongan adalah peninjauan unit pendidikan yang beroperasi di Muting, yakni RA Yaa Bunayya dan MI Integral Luqman Al-Hakim. Kedua lembaga tersebut menjadi rujukan masyarakat setempat dalam menyediakan pendidikan dasar berbasis nilai-nilai tauhid. Di tengah keterbatasan sarana dan jarak dari pusat kota, sekolah-sekolah ini menjalankan fungsi pendidikan sekaligus pembinaan karakter bagi anak-anak Papua.
“Kita ingin memastikan anak-anak di Bupul dan Muting mendapatkan kualitas pendidikan yang sama baik dengan mereka yang di kota,” ujarnya saat kegiatan berlangsung, Rabu (22/1/2026). Evaluasi meliputi proses pembelajaran, manajemen sekolah, serta kesiapan sumber daya manusia yang mengelola lembaga pendidikan tersebut.
Turda juga melibatkan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Papua Selatan. Rudi, selaku amil BMH, turut bergabung dalam rombongan sebagai bagian dari koordinasi program sosial dan pendampingan kader. Kehadiran BMH difokuskan pada penguatan dukungan logistik, pemberdayaan ekonomi lokal, serta pengamanan administrasi aset organisasi, termasuk tanah wakaf yang digunakan untuk kepentingan dakwah dan pendidikan.
Rudi menjelaskan bahwa keterlibatan BMH merupakan bagian dari tanggung jawab kepada para donatur. Dukungan yang disalurkan diarahkan agar para kader di wilayah perbatasan tetap mendapatkan pendampingan menyeluruh. Program tersebut mencakup keberlanjutan aktivitas sosial dan kepastian legalitas aset yang menjadi penopang dakwah jangka panjang di daerah.
Peningkatan Kapasitas SDM
Selain agenda monitoring dan pemeriksaan administrasi, kegiatan Turda diisi dengan sesi peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Para kader di Bupul dan Muting mengikuti pertemuan internal untuk menyampaikan kondisi lapangan, tantangan dakwah, serta menerima penguatan agar tetap konsisten menjalankan amanah. Forum ini menjadi ruang silaturahmi internal sekaligus konsolidasi organisasi.
Rombongan juga melakukan kunjungan silaturahmi dengan masyarakat setempat. Interaksi ini dilakukan untuk mempererat hubungan sosial dan memastikan keberadaan lembaga dakwah dan pendidikan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh warga sekitar sebagai bagian dari upaya membangun harmoni antara nilai keislaman dan kehidupan masyarakat lokal di wilayah perbatasan.