Hidayatullah.or.id — Media cetak dan pondok pesantren mempunyai misi yang sama yakni menyampaikan berita.
Hal itu ditegaskan Direktur Utama Kendari Pos, Irwan Zainuddin saat didaulat membawakan materi ”Marketing di Pondok Pesantren” di hadapan pengurus Pesantren Hidayatullah se-Sulawesi Tenggara, Sabtu (19/11).
Menurut Irwan Zainuddin, pendidikan yang diselenggarakan Hidayatullah sudah mendapat berbagai pengakuan. Hanya saja publikasi yang intens perlu terus dilakukan agar kebanggaan itu tak hanya menjadi milik internal semata, tetapi masyarakat Sulawesi Tenggara.
”Semangat kader-kader Hidayatullah tak perlu diragukan lagi dalam mengembangkan syiar, baik masalah umat maupun pendidikan,” kata Irwan Zainuddin.
“Makanya saya meminta kepada pengurus agar bisa menulis, misalnya mimbar Jumat yang bisa dipublikasikan di Kendari Pos, termasuk mengajak umat untuk melakukan pelatihan mengurus jenazah yang kini sudah mulai ditinggalkan anak muda sekarang,” lanjut Irwan.
Pengurus Hidayatullah menyambut baik ide tersebut. Ketua DPW Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sultra, Nasri Buhari MPdi bahkan meminta agar kerjasama dengan Kendari Pos terus terjalin.
”Kami bangga dengan Kendari Pos. Salah satu kebanggaan dan ketakjuban kami yakni bisa mengumpulkan warga Metro Kendari dengan jumlah 15 ribu orang dalam sehari pada kegiatan beberapa waktu lalu. Kerja-kerja wartawan yang menghasilkan berita tiap hari tanpa mengenal waktu patut ditiru oleh pengurus Hidayatullah untuk terus berbuat untuk umat,” jelasnya.
Nasri menambahkan beberapa perlombaan religi yang diikuti berhasil menorehkan prestasi. Hal itu membuktikan kualitas santri Hidayatullah tak kalah dengan lembaga pendidikan Islam lainnya.
”Di pesantren juga kami mengajarkan santri jiwa bisnis tentu dalam koridor Islam terutama penekanan bisnis halal,” paparnya.
Sekadar diketahui pelatihan marketing di Pondok Pesantren digelar Hidayatullah sejak Jumat (18/11) lalu dan berakhir Sabtu (19/11) dengan menghadirkan berbagai pemateri. (knd/fjr)
Hidayatullah.or.id – Departemen Perkaderan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah menerapkan program bahasa Arab berbasis lingkungan.
Hal ini disamapaikan Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Muhammad Sholeh Utsman usai rapat koordinasi dengan Tim bahasa Arab kampus utama Hidayatullah Makassar, Senin (14/11).
Sholeh mengatakan, ini program Hidayatullah pusat yang diterapkan di dunia pendidikan Hidayatullah. Namun karena program ini baru dicanangkan maka baru tiga kampus utama saja yang menjadi rujukan.
“Seperti Hidayatullah Depok, Hidayatullah Malang, dan Hidayatullah Makassar,” paparnya.
Kalau program ini berhasil dilakukan sesuai komiten, maka program ini akan dikembangkan kebeberapa kampus Hidayatullah yang tersebar diseluruh Indonesia.
“Bahkan kemarin Hidayatullah Gorontalo meminta, menerapkan program bahasa Arab berbasis lingkungan,” katanya.
Target kami suatu saat nanti kampus utama Hidayatullah tidak ada lagi yang memakai bahasa selain bahasa wajib, bahasa Arab, kata Sholeh.
Sebab ini, lanjut Sholeh, menjadi bahasa ciri khas pondok pesantren, karena mereka selain menjadi calon ulama, mereka juga harus mampu menguasai bahasa Al-Qur’an yaitu bahasa Arab.
“Menjadi ulama tidak hanya bisa mengaji, menghafal hadits dan lain sebagainya. Namun harus menguasai Bahasa Arab, agar mereka mampu menerjemahkan Al-Qur’an dan menafsirkannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, walaupun kita bukan orang Arab, tetapi kita wajib bisa Bahasa Arab, karena identitas kita adalah pondok pesantren yang tentu pelajarannya berbasis Islam.
Sementara itu Ketua Penanggung Jawab Tim Bahasa Arab Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, ustadz Syahril Utsman mengatakan, belajar Bahasa Arab setiap saat, sehingga kami mewajibkan Santri untuk menggunakan bahasa Arab, baik dalam ruangan kelas maupun ia sedang main bola.
“Tidak ada alasan bagi santri tidak memakai bahasa Arab dalam lingkungan pondok,” ujar Syahril.
Kata Syahril, program ini sudah lama diterapkan pihaknya, dan kali ini semakin dikuatkan. Bahkan, terang dia, DPP Hidayatullah sudah menjadikan kampus utama Hidayatullah Makassar salah satu kampus rujukan.
“Supaya program ini benar-benar komitmen kami bentuk tim khusus untuk menangininya, sehingga ada enam orang yang akan mengontrol santri setiap harinya,” pungkasnya. */Amanah
Hidayatullah.or.id – Sekolah Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Belopa, Kabupaten Luwu, menggelar acara perkemahan Pramuka yang diikuti oleh siswa SMP.
Acara perkemahan resmi dibuka oleh Ustadz Armin, SH.I selaku Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Belopa.
“Semoga acara perkemahan ini mampu meningkatkan dan mengembangkan ide-ide para santri dalam berkreatifitas terkhusus para pembina supaya sudah mempersiapkan matang dijauh-juah hari agar bisa lebih bagus dan sukses,” pesan Ustadz Armin
Acara ini bertempat di desa Sampeang yang berjarak sekira 15 kilometer dari sekolah tepatnya yaitu Lokasi perintisan Pesantren Hidayatullah yang setahun silam di awali dengan peletakan batu pertama oleh bupati Luwu H A Mudzakkar.
Para siswa dari kelas satu sampai kelas tiga berjalan kaki untuk menuju tempat perkemahan tersebut. Perkemahan yang dilaksanakan pada hari Jum`at sampai Minggu yang lebih dikenal dengan Perjusami, dari tanggal 18-20 November 2016.
Dengan segala keterbatasan yang ada, apalagi umumnya santri dari kalangan dhuafa, para peserta ini tetap bersemangat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ini. Semoga kelak mereka menjadi kader umat yang bermanfaat untuk agama dan bangsa Indonesia tercinta. Aamiin. */Syukron Amin
Hidayatullah.or.id – Tidak ada Indonesia tanpa Islam, tanpa Kristen, tanpa Hindu, tanpa Budha dan lainnya. Tidak ada Indonesia tanpa Bugis, tanpa Jawa, tanpa Makassar, tanpa Batak dan lainnya. Perbedaan itu anugerah. Boleh kita berbeda tapi dalam bingkai Pancasila.
Hal itu dikatakan oleh Pangdam Wirabuana Mayjen TNI Agus SB ketika berdialog dengan para tokoh agama, organisasi kepemudaan, mahasiswa dan pondok pesantren dan elemen masyarakat Sulsel, khususnya Kota Makassar pada acara Silaturahmi Para Tokoh Agama di Baruga Syech Yusuf, Makodam VII/Wrb, Rabu (16/11/2016).
Pada kesempatan itu pula Tokoh Muhammadiyah Sulsel Prof. Dr. H. Ambo Asse menghimbau kepada segenap ummat agar memahami secara bijak perkembangan situasi yang terjadi di wilayah kita. Dia mengingatkan, jangan mudah diprovokasi dan diadu domba oleh kelompok tertentu.
“Walaupun berbeda suku atau agama kita adalah satu bangsa Indonesia. Mari kita saling menghargai dan cinta akan kedamaian,” kata Prof. Ambo Asse.
Para tokoh dari Hidayatullah, Pompes IMMIM, Unibos, Pesantren Ummul Mukminim, Pesantren Darul Aman, PKC PMII Sulsel, Korkom IMM Unismuh, KMI Sulsel, Fatayat NU, GP Ansor, Wahdah Islamiah, BKPMI Sulsel, LDII, DPW PI Sulsel dan ICMI Sulsel berkumpul mengharap TNI dapat berperan dalam menyejukan kehidupan bangsa.
Selain itu, mendaulat Kodam Wirabuana sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Pertemuan tersebut juga membulatkan kerjasama lintas sektoral guna memajukan kesejahtraan masyarakat Sulawesi Selatan, terkhusus Makassar guna menghadapi era globalisasi.
Pertemuan yang bernuansa silaturrahmi ini sangat penting dalam rangka memelihara dan meningkatkan kebersamaan seluruh elemen bangsa yang ada di wilayah Sulawesi Selatan guna membangun komunikasi dialogis sehingga diperoleh kesamaan persepsi, terutama dalam mencermati dan memahami setiap permasalahan yang terjadi di wilayah sebagai dampak perkembangan zaman.
Persatuan dan kesatuan menjadi kunci menghadapi tantangan era modern maupun ancaman global seperti saat ini sehingga soliditas antar komponen bangsa harus ditumbuh kembangkan dalam menghadapi berbagai problematika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui acara ini diharapkan tercipta suasana rukun dan damai dimulai dari eratnya jalinan tali silaturahmi dan sinergitas seluruh komponen masyarakat berbangsa dan bernegara.
Dengan eratnya tali silaturahmi, adanya sinergitas antar komponen masyarakat tidak hanya persatuan dan kesatuan bangsa yang diperoleh akan tetapi masyarakat secara otomatis akan bertambah maju dan sejahtera di segala aspek. Hal ini terwujud karena situasi wilayah yang lebih kondusif. (tni/ad)
Hidayatullah.or.id – Dalam rangka menggencarkan program Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an (Grand MBA), Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Makassar menyelanggarakan Daurah Muallim Grand MBA dan telah membentuk “Majelis Qur’an Hidayatullah” untuk melayani masyarakat yang ingin belajar Al-Qur’an di kawasan tersebut.
Pembentukan lembaga pendidikan dan pengajaran Al Qur’an untuk masyarakat umum tersebut diresmikan berbarengan dengan kegiatan daurah yang diselenggarakan di kampus Hidayatullah Bumi Tamalanream, Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 11-13 Nopember.
Dauroh Muallim ini juga mengukuhkan kepengurusan Majelis Qur`an Hidayatullah Makassar yang diketuai Ustadz Mukhtar Daeng Lau. Kemudian ada Edi NR, SE sebagai sekretaris dan Sabil, S.Pd.I, S.H.I sebagai bendahara dan Ustadzah Aminah Ali sebagai koordinator muallimat.
Mukhtar dalam penyampaiannya dalam acara itu, menegaskan bahwa Grand MBA bukanlah sekedar belajar dan mengajar Al-Qur`an tapi merupakan gerakan membangun masyarakat dengan nilai-nilai Al-Qur`an.
“Dimulai dari pengentasan buta huruf dan buta makna Al-Qur`an dan dilanjutkan dengan membentuk komunitas-komunitas majelis Qur`an Hidayatullah sebagai wadah pembinaan berkelanjutan,” jelas Mukhtar.
Selain membedah buku-buku Grand MBA dan metode mengajarkannya, dauroh kali ini menekankan pentingnya menjadikan Grand MBA sebagai gerakan yang terorganisir terstruktur dan massif.
“Setiap muallim punya tanggungjawab untuk menyelenggarakan majelis Qur`an dimanapun ia berada,” kata Mukhtar mengingatkan.
Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.
Ustadz Mukhtar mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.
“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” katanya.
Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).
“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Mukhtar.
Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Mukhtar menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.
Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.
“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas Ustaz Mukhtar. (ysj/ha)
Siaran Pers Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah tentang Penetapan Status Gubernur DKI Jakarta Basuki TP Sebagai Tersangka Penistaan Agama
بسم الله الرحمن الرحيم*
* 1. Kami menghargai langkah POLRI menetapkan status Gubernur DKI Jakarta Basuki TP sebagai tersangka kasus penistaan agama pada hari ini, Rabu, 16 November 2016. Kami bersama organisasi dan lembaga Islam lainnya akan terus mendesak agar proses hukum berjalan secara cepat dan berkeadilan. Kami akan memperhatikan proses hukum ini secara sungguh-sungguh agar tidak terjadi penyimpangan. Karena apabila hukum tidak ditegakkan seadil-adilnya dalam kasus yang sudah begitu banyak menyita perhatian masyarakat nasional dan internasional ini, maka penyimpangan itu berpotensi mengancam ketertiban dan kedamaian di negeri tercinta ini.
2. Kasus penistaan agama ini menjadi pelajaran berharga, bahwa Al-Quran ini menyatukan hati, perasaan dan harapan umat Islam di negeri ini. Persatuan memberikan kekuatan. Semoga Allah kuatkan terus persatuan ini untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsa ini, serta keselamatannya dunia Akhirat.
3. Mengenai rencana lebih lanjut setelah penetapan Gubernur DKI Jakarta Basuki TP sebagai tersangka, kami menyerukan seluruh kaum Muslimin untuk senantiasa mengikuti arahan para ulama, sekaligus mendoakan keikhlasan dan keselamatan mereka.
Ya Allah, tolonglah bangsa ini agar lulus melalui ujian ini.
Hidayatullah.or.id – Lembaga Pendidikan Hidayatullah Balikpapan (LPPH) bekerja sama Sekolah Polisi Negara (SPN) Kalimantan Timur mengadakan pelatihan revolusi mental dan LKBB. Kegiatan ini dilaksanakan di aula kampus Hidayatullah Balikpapan belum lama ini, Sabtu (12 /11/2016).
Kegiatan revolusi mental ini gratis dari SPN Kalimantan Timur sebagai pengabdian sekaligus kepedulian terhadap remaja yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini.
Peserta adalah seluruh santri Mts, Aliyah dan Tahfidz Ahlus Suffah Hidayatullah Balikpapan yang berjumlah 360 santri. Mereka sangat antusias dengan kegiatan ini, disamping ada materi wawasan kenegaraan dan kebangsaan juga dilatih disiplin.
Kombes Pol. Drs. Eko Nugrohadi, MSi sebagai kepala Sekolah Polisi Negara Kalimantan Timur menyampaikan dalam materinya bahwa revolusi mental adalah program nasional yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo.
“Ini juga sebenarnya program utama dari presiden pertama Republik Indonesia yaitu Bapak Insinyur Sukarno,” terangnya.
Kepala SPN juga mengajak para Santri merubah bangsa dengan menjadi generasi penerus bangsa yang sholeh, berkarakter, berhati suci, semangat bagai elang rajawali, visioner, mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, dan cinta damai.
Penyampaian materi yang dikombinasikan dengan gerak, lagu, film film pendek yang inspiratif dan kegiatan di lapangan maka semakin menarik bagi para santri.
AKBB Ruskan juga menyampaikan bahwa tugas polisi itu ada dua, pertama membina anggota. Dan, kedua, membina masyarakat. Ini salah satu cara meretas permasalahan bangsa ini adalah dengan revolusi mental.
Para pendidik SPN yang berjumlah 12 polisi dengan kesantunan dan kesigapannya mendampingi santri untuk bisa revolusi mental.
Disampaikan para pendidik, sejak dini penting bagi mereka mengenal dan mengetahui permasalahan bangsa dan berperan untuk menjadi bagian solusi.
Materi kemandirian ekonomi, gotong royong, kewargaan diberikan secara lugas dan tegas oleh Tim SPN.
Dengan semboyan, “santri sahabat polisi dan polisi sahabat santri” kegiatan revolusi mental ini menjadi semakin berkesan bagi santri.
Ketua LPPH Balikpapan Abdul Ghofar berharap kerja sama Pesantren Hidayatullah dan Polisi terutama SPN bisa terus terjalin semakun kuat.
“Selama ini memang sudah terjalin baik, ada beberapa ustadz mengisi bimbingan ruhani keislaman di Polda dan SPN,” kata Abdul Ghofar.
Dia menambahkan, intensnya sinergi dan kemitraan juga terlihat dari Kapolres dan Kapolda juga beberapa kali mengadakan kunjungan ke pesantren dan shalat Jum’at di Pesantren Hidayatullah Balikpapan serta bercengkrama dengan dengan segenap santri dan wargta. */ Paryadi AGH
Hidayatullah.or.id – Ketua DPP Hidayatullah Drs Tasyrif Amin, M.Pd mengatakan kader dai Hidayatullah harus menjadi pegiat dan memperagakan ajaran Islam yang luhur serta menyebarkannya kepada segenap manusia karena Islam adalah rahmat untuk semesta.
Hal itu disampaikan beliau saat membuka acara Daurah Marhalah Wustho dihadiri puluhan peserta dari Sulawesi Barat, Selatan, dan Tenggara, yang dibuka pada Kamis (10/11/2016).
“Para peserta akan menjadi ujung tombak sekaligus alat peraga dakwah di lapangan,” tegas Ketua DPP Hidayatullah Bidang Tarbiyah dan Pengkaderan ini di hadapan peserta di Auka Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Polewali Mandar ini.
Bertempat di aula Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan kabupaten Polewali Mandar sebanyak 28 peserta asal Sulawesi Barat sendiri, Sulawesi Selatan dan Tenggara mengikuti Daurah Marhalah Wustho selama 4 hari.
Tasyrif menjelaskan, keikutsertaan alumni marhalah ula itu sangat ditekankan untuk mengikuti jenjang lanjutan karena beberapa materi materi yang tidak bisa ditulis saja dan penjelasan tentang transformasi nilai struktural dan strategis lainnya.
Sebagaimana dijelaskan Ketua Steering Committe yang juga ketua Pengurus wilayah Hidayatullah (DPW) Sulawesi Barat, Imran M. Djufri, bahwa kegiatan yang berdurasi selama 3 hari itu dikemas secara apik dengan muatan materi-materi kelembagaan dan prospektif dunia islam kekinian.
“Untuk itu keaktifan peserta selama acara ini menentukan suksesnya bertugas di medan dakwah,” imbuhnya.
Imran Djufri menjelaskan, melalui marhalah berjenjang yang ke dua (wustho) ini peserta lebih diharapkan pada penguasaan materi dan seberapa intens kita mengamalkan konsep ini.
“Apalagi kalau bisa merasakan susahnya dalam merintis pesantren” tukas Imran.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dan instruktur nasional dari unsur DPP Hidayatullah, Dewan Mudzakarah, dan Dewan Pertimbangan Pusat.
Hingga jelang penutupan di hari ketiga para pegiat dakwah yang bertugas di tiga propinsi itu tetap semangat mengiktui jalannya acara yang bertempat sekira 10 kilometer dari kampus Pesantren Hidayatullah Desa Basseang.
Dan balai latihan penyuluh pertanian, perikanan dan ketahanan pangan itu kembali hijau, bersih dan rapi usai ditinggalkan para mujahid dakwah ke tempat tugas masing-masing.*/ Muhammad Bashori
AL-QUR’AN adalah jantung keberimanan dan keislaman kita. Sehingga ketika ada yang mencoba mengusik, melecehkan, apalagi terang terangan. Dan kalau kita tidak ada kepekaan, ketersinggungan, keterpanggilan ghirah, maka dipertanyakan keimanan kita
Kita harus menampakkan kebencian kepada mereka sebagaimana mereka juga menampakkan kebenciannya terhadap Islam dan muslimin. Kalau tidak, maka keberimanan kita tidak hidup alias mati.
Ini karunia besar dari Allah, karena Allah memberikan bimbingan kepada yang punya otoritas atau kompetensi untuk memberitahukan kepada umat yang mungkin tidak tahu, bukan karena mati imannya. Atau belum sampai pengetahuannya sehingga belum peka.
Ini panggilan ulama untuk memberdayakan keimanan orang–orang beriman atau keislaman orang-orang islam. Subhnallah. Allah ingin memberikan kemulian dan tanggungjawab kepada ulama dan ulama menyambut panggilan tersebut.
Dengan tampilnya Majelis Ulama Indonesia (MUI), semoga Allah menambah keberanian dan kemuliaan kepada ulama. Sekarang ketuanya KH. Ma’ruf Amin. Dulu KH Buya Hamka sebagai ketua MUI pertama juga pernah melawan kebijakkan untuk melindungi umat Islam karena waktu itu marak judi yang diprakarsai pemerintah. MUI keluarkan fatwa haram judi.
Ini perjalanan panjang tanggung jawab ulama, utamanya keagamaan umat Islam Republik Indonesia. Dalam sejarah perjalanan kemerdakaan yang dijajah Eropa (Belanda, Portugis) maka ulama yang memberikan fatwa bahwa melawan penjajah adalah jihad dan jika mati maka syahid. Sampai meraih kemerdekaan. Jadi RI milik orang Islam dan mayoritas penduduk RI adalah Islam.
Kenapa umat Islam dianggap musuh, dilawan dan dinistakan? Karena ada orang atau pihak yang sengaja membuat seperti itu. Seolah umat Islam itu musuh negara, lawan pemerintah, lawan Pancasila.
Padahal Pancasila itu yang merumuskan adalah ulama. Lihat diktum-diktum Pancasila tentang adab musyawarah, hanya ada dalam agama Islam. Ini harus dipahami umat Islam agar tidak terjebak dan dijebak. Ada orang yang memang sengaja membenturkan umat Islam dengan pemerintah.
Jika ada yang sengaja menistakan al Qur’an maka itu nyata-nyata musuh umat Islam. karena al Qur’an adaah jantung umat Islam. Dengan al Qur’an kita beriman, beribadah, bermuamalah.
Kalau jantung ditusuk maka siapapun marah. Tapi marahnya orang beriman harus dimanajemen agar tetap tenang dan berakhlaq. Apa yang membuat Allah marah maka kita harus marah, apa yang Allah benci maka kita umat Islam harus benci. Apa yang Allah senang dan cinta maka kita harus senang dan cinta.
Maka jika Allah sudah memberikan rambu-rambu dan kalau kita tidak mencernakan, sehingga harus hati-hati. Mana perkara yang dibenci dan dicintai Allah.
Kenapa umat Islam benturan dengan negara atu benturan dengan sesama umat Islam. karena ada yang desain panjangnya. Kasus di Jakarta itu hanya antek, pion saja karena ada pihak yang mendesain.
Jadilah umat Islam yang washatiyah atau pertengahan ketika di tengah publik. Karena banyak orang yang hasad atau dengki. Kadang sesama teman di halaqah saja bisa iri, kenapa dia,? kenapa bukan saya?.
Maka kenapa kita dianjurkan untuk membaca surat tiga Qul di wirid pagi, sore dan malam. Itu sebagai bentuk minta perlindungan kepada Allah. Sebab semua bisa terjadi, tiba-tiba kecelakaan, mendadak terpelanting atau yang lain. Maka jangan pernah merasa aman dalam hidup ini tanpa pertolongan Allah.
Kalau ada keimanan maka ada rasa takut, sehingga kalau mau tidur harus habiskan doa. Sebab, kita tidak tahu atau tidak ada jaminan besok bisa hidup lagi.
Maka kalau bangun tidur itu semangat. Ya Allah engkau telah mengembalikan ruh. Sehingga orang beriman harus bersyukur untuk bagaimana bermanfaat atau memanfaatkan potensi yang Allah berikan. Mata bisa melihat, kerja, membaca al Qur’an dan lain-lain
Sebagai orang beriman kita harus memberi dukungan untuk menguatkan hati-hati orang beriman yang sedang membela kaum muslimin dan Islam. Dukungan apa saja untuk ulama, untuk agama dan kitab yang dihinakan.
Dukungan dengan doa meluapkan emosi kepada Allah, mengadu kepada Allah karena Allah pasti juga marah. Doa yang histeris atau heroik.
Abu Bakar yang pendiam-pun bisa marah ketika ada orang yang murtad, karena tidak mau membayar zakat. Apalagi kepada orang kafir yang sengaja menyerang kita. Kalau ada yang mundur maka itu kafir.
Kita selama ini tidak pernah memulai, tapi merespon jika diserang maka baru muncul reaksi. Tidak mungkin orang itu menyebut surat Al Maidah dengan kebetulan, tapi sudah dipersiapkan. Atau pernah sengaja mempelajari, apalagi dengan menyebut ayatnya 51 lagi. Jadi kita ini diserang dan kita muslimin melawan kepada orang yang telah menyerang agama dan kitab suci kita.
Melawan itu ada konskwensi. Harus ada stamina, strategi, peralatan, keberaniaan, perencanaan. Bukan perang melawan dengan senjata tapi ini perang moral dan spritual. Ini moral kaum muslimin, ini kemuliaan kaum muslimin. Apa moral kita?
Mereka datang dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan mewakili kita untuk menampakkan perlawanan kepada orang orang yang menyerang jantung umat Islam yaitu al Qur’an. Saudara saudara kita perlu minum, makan dan akomodasi sehingga kita bisa infak.
Ini karunia Allah. Mereka datang menyatukan iman membela keimanan kita tanpa ada embel-embel organisasi. Kecuali orang Syiah Rafidhah yang tidak bisa bersatu dengan kita. Kita harus membenci syiah karena mereka membenci sahabat dan istri nabi. Padahal mereka para sahabat dan istri nabi, dengan mereka kita bisa mempelajari al Qur’an dan sunnah.
Rasulullah mengatakan meskipun kita infak emas dua bukit Uhud maka tidak bisa menyamai kemuliaan sahabat. Maka kita harus benci dan melaknat Syiah. Barusan mereka menembakan rudalnya ke Makkah, untungnya Saudi memiliki rudal penangkal.
Jadi wajar, kalu kita membenci Syiah karena jangankan kepada kita, kepada para sahabat dan istri nabi saja mereka memusuhi dan membenci.
Kita semua harus mendoakan dan shalat malam. Ibu-ibu juga harus pertajam berdoa. Sampaikan kepada seluruh jamaah Hidayatullah di seluruh nusantara untuk memberikan dukungan doa dan mengirim infaknya yang terbaik. Ibu-ibu juga harus terus menggalang infak untuk mengambil bagian meskipun hanya seribu dan sepuluh ribu, selain doa dan spirit.
Ini kesempatan yang terbaik, karena Allah tampakkan musuh Islam di depan mata dengan nyata. Kalau kemarin masih samar samar yaitu orang Islam mencaci atau memusuhi saudaranya umat Islam sendiri. Kalau sekarang nampak, Allah memperlihatkan musuh. Saya yakin bahwa infak kita meskipun satu sen sangat berharga karena benar-benar untuk melawan musuh.
Sudah cukup musuh diperlihatkan, karena telah berani menyebut satu nama surat bahkan nomor ayatnya lagi. Ini betul betul serangan luar biasa dan betul betul kesempatan meluapkan kemarahan dengan berdoa dan berinfak dan barisan terpimpin.
Maka kita turunkan santri ke Lapangan Merdeka dengan persiapan matang agar terpimpin, teratur, tertip, beradab sesuai dengan syariat. Sehingga 10 orang dipimpin satu orang agar tidak kerkecoh atau tersusupi agar tidak terprovokasi.
Kita hanya ingin menyampaikan perlawanan meskipun hanya dengan ucapan dan doa, ibadah, infak. Sambil terus berharap Allah memberikan keberkahan sehingga musuh-musuh Islam terpeleset.
Presiden kita Pak Jokowi, itu yang kita yang pilih, meskipun ada yang memilih yang lain. Karena ada Yusuf Kalla di situ. Karena saya sudah kenal sejak kecil, orang tuanya paling dermawan, dekat ulama, suka membangun masjid, apresiasi dan dukungannya kepada Hidayatullah. Ibunya pengurus Aisyiah. Pernah juga diundang ke Istana dan mengatakan di tengah tengah tokoh ulama dan pejabat, “bahwa Hidayatulah bagus dakwahnya”. Ada perasaan senang, karena ada yang juga orang yang dengki dan mengatakan teroris kepada Hidayatullah.
Aksi damai hari ini, ada saja pejabat yang mendatangkan pawang dan berdoa semoga hujan deras. Saya tadi malam berusaha untuk melawan doa tersebut dengan doa juga:
“Ya Allah jika hujan deras, maka jangan Engkau surutkan semangat para mujahid yang memperjuangkan agama-Mu ini. Tapi Engkau tahu rintihan kami dan keinginan kami, biarkan saja mendung supaya tidak terlalu panas di Jakarta dan Lapangan Merdeka”.
Seharusnya yang panggil ulama dan tokoh tokoh keamanan bukan pawang, apakah tidak berbahaya kalau hujan terus sehingga banjir besar dan itu musibah
Coba gimana kalau marah, bukan marah dengan merusak tanaman dan taman orang atau membakar gedung. Itu salah, bukan seperti itu tapi kita tata emosi. Kita dengan nafsul muthmainnah.
Insya Allah semua paham kenapa para ulama di MUI mengeluarkan fatwa tersebut dan kenapa kita menjadi tersadar dan membuka surat Al Maidah. Coba baca kalau memilih pemimpin kafir maka sama dengan mereka yaitu kafir.
Kemudian ayat berikutnya tentang orang orang yang ada penyakit hatinya dan yang mendukung juga sakit hatinya. Yang lebih dahsyat lagi, ayat berikutnya bahwa kemurtadan itu dalam konteks ayat ini dalam memilih pemimpin yang bukan Islam. Sebelumnya saya pahami biasa saja.
Allah menerangkan cara memilih pemimpin itu yang sholeh, shalat dan senantiasa shalat bersama umat atau berjamaah artinya senantiasa di tengah tengah umat.
Ini harus dipahamkan kepada umat. Umat islam kita masih bodoh karena belum memahami syariat. Kalau sudah paham tapi tidak ditaati artinya pembangkang. Tapi mengatakan bohong suatu ayat berarti kekafiran.
Ini sekalian saya selipkan. Jadi kalau ibu-ibu mengimani surat An Nisa’ tentang poligami tapi menolak poligami, itu artinya pembangkangan atau dosa besar. Kalau mengatakan ayat tentang poligami itu bohong berarti kufur.
Ibu-ibu jangan sampai menolak dan mengkufuri ayat poligami. Apa ibu-ibu tidak takut nanti di akherat dikucilkan oleh majlis istri-istri nabi yang dipoligami.
Ini ayatnya jelas, ada dalil dan contohnya yaitu nabi dan para sahabat. Kalau rasa-rasa berat itu ada, tapi itu biasa, istri nabi juga ada rasa-rasa tapi mereka tidak pernah menolak. Masya Allah, Allah menikahkan atau mempoligamikan nabi dengan Zainab.
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Bayangkan Allah yang menikahkan atau mempoligamikan Nabi dengan Zainab. Makanya jangan ada unek-unek dalam hati untuk menolak dan mengkufuri ayat ayat Allah. Apalah artinya dunia ini, kesusahan atau kegelisahan hanya 60-70 tahun, setelah itu kan berlalu begitu saja.
Jadi harus terus terang, Ya Allah, saya belum mampu ya Allah. Jadi sampaikan ketidakmampuannya kepada Allah. Jangan (sampaikan) ke orang lain atau saya karena saya hanya menyampaikan ayat itu. Wallahu a’lam bish shawwab.*
___________ TAUSHIAH disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, kepada jamaah pengajian muslimat dan santriwati bakda Jum’at di Pesantren Hidayatullah Balikpapan, 4/11/2016. Ditranskripsi oleh Paryadi AGH)
SEORANG anak belia melakukan kesalahan. Lalu ayahnya langsung memukulnya. Ia lantas lari ke kamar tidur, menangis dan tertidur.
Tidak lama setelah itu ia mengalami mimpi buruk dan berteriak bangun. Ibunya malah menamparnya dengan dalih berusaha menenangkannya.
Saat itulah ayahnya berkata “Dasar anak manja, Kamu yang merusaknya dengan menuruti segala kemauannya”.
Ibunya pun menimpali “Justru kamu yang merusaknya! Kamu berubah kasar. Padahal dulu sayang berlebihan padanya!”.
Di tengah situasi kacau seperti ini, Ayah mengakui dirinya dengan berkata “Saya memang tidak pantas menjadi seorang ayah. Bagaimana saya bisa merawat anak sementara saya tidak berpengalaman”.
Ibu juga menjawab dalam hati “Saya juga benar-benar sedih. Saya tidak mau punya anak lagi”.
Tindakan-tindakan seperti di atas mengesankan bahwa mereka tidak cakap dalam menjalankan tugas sebagai ayah dan ibu.
Mendidik anak tidak memerlukan segudang teori. Hal yang diperlukan adalah memahami segudang persoalan, Saling melempar tuduhan juga merupakan kesalahan fatal.
Imam Al Ghazali menyinggung sebuah metode indah dalam menangani kesalahan sebagai berikut:
“Ketika anak melakukan kesalahan sekali, kesalahan ini harus dilupakan, Jangan beberkan masalah ini jika ia terlihat tidak berani mengulang kesalahan yang sama, Terlebih jika ia berusaha untuk menutupi kesalahan tersebut. Karena, menampakkan kesalahan seperti ini mungkin mendorongnya bersikap berani dan tidak peduli jika kesalahannya dibeberkan”.
Ketika anak kembali mengulangi kesalahan, anak harus ditegur empat mata. Besarkan tindakan yang ia lakukan dan sampaikan padanya, “Jangan pernah lagi kau ulangi perbuatan seperti itu. Jangan lagi kau terlihat melakukan perbuatan seperti itu karena kesalahanmu akan dibeberkan ke banyak orang”.
Jangan terlalu sering menegurnya. Teguran yang terlalu sering disampaikan tidak akan membekas di hatinya dan membuatnya mudah melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
Ayah harus menjaga wibawanya kala berkata pada anak. Jangan mencelanya selain sesekali saja. Hukuman harus diberikan langsung setelah kesalahan diberikan. Jangan terlalu berat hingga membuat anak merasa terdzolimi. Jangan juga menyakiti perasaannya.
Fakta menunjukkan, celaan biasa dan ringan yang disampaikan dengan nada datar lebih berpengaruh dalam diri anak dibandingkan dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh hukuman fisik yang keras.
Semakin sering hukuman diberikan kepada anak, pengaruhnya akan semakin kecil, bahkan mungkin semakin membuatnya membangkang terhadap segala perintah di kemudian hari.
Hukuman yang diberikan harus sesuai dengan tingkatan usianya. Tidak adil jika hukuman fisik atau celaan diberikan kepada anak usia dua tahun. Mengerutkan wajah sudah cukup untuk usia tersebut. Anak pada saat itu belum memaknai arti hukuman.
Anak usia tiga tahun bisa dihukum dengan cara mengambil mainannya ketika ia melakukan kesalahan. Itupun harus dilakukan setelah melakukan persetujuan dengan si anak. Dan dengan cara yang datar tanpa mengeraskan intonasi suara, sehingga anak tidak merasa tertekan dan terbebani.
Jenis Hukuman
Terlebih dulu harus diingat, bahwa hukuman harus menjadi cara terakhir dalam mendidik anak ketika nasehat, arahan, bimbingan, perlakuan yang lembut dan teladan yang baik tidak mendapat pengaruh yang besar terhadap diri anak.
Memukul bukanlah satu-satunya cara untuk memberikan hukuman. Karena kadang memukul tidak membawakan hasil positif, bahkan mungkin saja justru menimbulkan hasil yang sebaliknya.
Oleh karena itu, teguran justru akan lebih memberikan pengaruh yang positif sebagai ganti dari pemukulan.
Hukuman juga bisa dilakukan dengan tidak memberikan sesuatu yang disukai anak, misal uang saku. Namun, hal ini hanya boleh dilakukan dalam waktu sementara.
Jangan menyuruh anak ke kamar tidur saat ia melakukan tindakan yang tidak bisa diterima, sehingga akan tertanam dalam benaknya bahwa kasur dan tempat tidur termasuk salah satu jenis hukuman. Imbasnya, anak menjadi enggan ke kamar tidur pada malam hari.
Tidak baik jika anak menangis seorang diri tanpa pendampingan dari orang tua ketika ia merasa terganggu atau terluka. Lebih baik ia tetap berada di tengah orang tuanya sampai situasi membaik.
Dalam kondisi apapun, tidak diperkenankan mengunci dan mengurung anak di dalam kamar. Kamar yang gelap atau terkunci akan sangat membuatnya ketakutan dan memicu guncangan hebat padanya.
Pengaruh tindakan tersebut mungkin akan terlihat beberapa tahun lamanya. Dalam bentuk keresahan, ketakutan, atau kebimbangan dalam kepribadian.
Ketika kita merasa benar-benar harus menghukum anak secara fisik, cukup minta ia duduk di kursi sisi kamar atau berdiri di sudut kamar untuk sementara waktu, sesuai dengan kesanggupan usianya.
Ada beberapa orang tua menyediakan kursi khusus di pojok kamar untuk hukuman ini. Katakan padanya dengan tenang namun tegas untuk duduk di tempat tersebut tanpa bergerak dan tidak boleh meninggalkan tempat tersebut sebelum diijinkan.
Biasanya beberapa menit saja sudah cukup membantu menenangkan perasaannya. Sebagian orang merasa heran ternyata cara sederhana ini sangat berpengaruh dalam menenangkan sekaligus menghukum anak tanpa harus menyakiti dan membuatnya merasa tertekan.
___________ *) NAYLA FIRDAUS,penulis adalah anggota Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan