Beranda blog Halaman 585

Tak Hanya Ilmu, Dai Juga Perlu Bekal Kekuatan Mental

0
Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, saat berpidato dalam acara wisudah sarjana STAI Lukman Al Hakim, Surabaya / Foto: Robinsah
Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, saat berpidato dalam acara wisudah sarjana STAI Lukman Al Hakim, Surabaya / Foto: Robinsah

Hidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, mengatakan, untuk sukses menapaki jalan dakwah, para dai tidak hanya bisa mengandalkan ilmu yang dimiliki. Namun, lebih dari itu, mereka juga harus memiliki mental kuat sehingga tidak mudah tergelincir di lapangan.

Hal itu disampaikan beliau saat menyampaikan pidato acara Wisuda dan Pelepasan Kader Dai Nusantara’ Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL), Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, (30/07/2016).

“Di medan perjuangan, banyak sekali tantangannya. Terutama yang berkaitan dengan materi. Dai yang memiliki mental lemah, meski memiliki pengetahuan luas, bisa undur diri dari medan perjuangan ini,” ujarnya.

Dan, lanjutnya, kalau kita berkaca kepada para pendahulu kita, khususnya para dai Hidayatullah periode awal, banyak dari mereka yang tidak mengenyam bangku pendidikan.

Namun, tegasnya, sejarah telah mencatat mereka sebagai sosok yang memiliki semangat dan loyalitas tinggi dalam menjalankan misi dakwah.

“Ada di antara mereka ditugaskan ke Papua, tanpa alamat yang dituju. Dan sukses mendirikan pesantren di sana,” sengatnya.

Oleh karena itu, beliau mengingatkan, kalau para dai-dai dahulu tanpa harus mengenyam bangku kuliah, mereka tetap teguh dan istikomah dalam dunia dakwah. Maka, apa lagi para dai yang telah mengenyam bangku kuliah, tegasnya.

“Mereka seharusnya lebih kuat. Sebab, selama sekian tahun telah dibina intelektualitas dan spiritualitasnya secara bersamaan. Tinggal aktualisasinya di lapangan,” demikian dia.

“Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) sering mengatakan, bagi kader, semua tempat itu sama. Tidak ada istilah daerah basah dan daerah kering. Karena Allah yang memberikan kesejahteraan di daerah basah, itu juga Allah yang memberikan ketenangan pada daerah yang kering,” ujarnya.

Maka, tambah Ust Nashirul, spirit memiliki Allah dimanapun kita berada adalah kunci sukses dalam perjuangan.

“Kalau ada yang diberikan tugas oleh Ustadz Abdullah Said, mereka akan berangkat setelah sholat lail, setelah mendapatkan kekuatan malam, dan tidak akan kembali sebelum tugas yang diamanahkan kepada mereka telah tertunaikan,” tandasnya.

Sebar Dai ke Pelosok Nusantara

Wisuda sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) Surabaya angkatan ke-15 ini meluluskan sarjana strata satu bidang Pendidikan Islam (S.Pd.I), Komunikasi Islam (S.Kom.I), dan Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I).

Puluhan sarjana ini langsung diserap bursa kerja yang menjadi tenaga pendukung sesuai kualifikasi kesarjanaan masing-masing di berbagai amal usaha milik Hidayatullah. Diantara mereka ada yang dikirim bertugas ke Sumatera, Sulawesi, Papua, dan termasuk ke pedalaman Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kehadiran STAI Lukman Al Hakim hingga saat ini seiring dengan kebutuhan Hidayatullah terhadap sumber daya manusia siap guna. Ratusan lebih alumninya telah menyebar ke berbagai titik di nusantara yang berperan sangat besar dalam menggerakkan dakwah dan pendidikan sampai ke wilayah-wilayah terpencil.

STAIL yang berdiri pada Tahun 1994 ini telah mendapatkan legalitas dan akreditasi resmi dari pemerintah dan menyatakan komitmennya untuk terus melahirkan lebih banyak sarjana unggul dan kompetitif terutama mencetak kader dai yang siap diterjunkan ke cabang-cabang atau merintis garapan dakwah baru untuk membina umat di daerahnya. */ Khairul Hibri – Pena Jawa Timur

Elcorps Dukung Sekolah Dai Tangguh dan Sekolah Pemimpin

Elcorps Gandeng BMH Dalam Program Sekolah Pemimpin Dan Dai TangguhHidayatullah.or.id – Guna meningkatkan loyalitas karyawan, Elcorps mengadakan gelaran Familiy Gathering bersama seluruh karyawannya yang diadakan di Trans Studio Bandung pada 30-31 Juli.

Acara itu dihadiri oleh komisaris, jajaran direksi dan manajemen hingga kolega perusahaan yang telah menjalin kerjasama selama ini, salah satunya dengan LAZNAS BMH.

“Sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian perusahaan terhadap program-program kemanusiaan dan untuk menampilkan nilai-nilai rahmatan lil’alamin, Elcorps menyalurkan dana CSR dan zakat maal kepada sejumlah lembaga kemanusiaan baik di dalam hingga luar negeri,” ungkap Fajar Fitrah selaku kepala CSR Elcorps.

Pada kesempatan itu dilakukan pula simbolis penyerahan donasi program kepada LAZNAS BMH. Diantara dukungan Elcorps kepada LAZNAS BMH adalah untuk program Wakaf Sejuta Al Qur’an, Sekolah Pemimpin dan Da’i Tangguh dengan nilai total sebesar Rp. 252 juta.

Acara simbolis dukungan oleh Elcorps diterima langsung oleh Direktur Program LAZNAS BMH, Ade Syariful Allam yang hadir saat itu.

“BMH mengapresiasi dan berterima kasih atas dukungan Elcorps terhadap program-program BMH selama ini. Sebagai perusahaan fashion yang sudah go internasional, semoga Elcorps semakin maju dan berkah”, ujar Ade.

Ada 8 lembaga kemanusiaan yang disupport oleh Elcorps, 5 dari luar negeri dan 3 untuk luar negeri yaitu untuk Pembangunan Masjid di Belanda, Belgia dan Muallaf Center New York Amerika Serikat.

Elcorps sendiri merupakan induk usaha yang membawahi beberapa perusahaan. Dalam dunia hijab ada Dauky kemudian elzatta. Selanjutnya ada elcomerce, dan elfood. (prs/hio)

Gerakan Dakwah Komunitas Taqarrub untuk Indonesia

IMG-20160731-WA010 IMG_20160731_105349_panorama IMG_20160731_105231Hidayatullah.or.id – Gerakan Dakwah Komunitas Taqarrub atau disingkat GARDA KOTA adalah program strategis berkelanjutan yang diusung oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Megapolitan periode 2016-2021.

Anggota Dewan Pertimbangan Pusat DPP Hidayatullah, Ust HA Hasan Ibrahim, MA, mendorong agar Garda Kota dapat dijalankan dengan baik dengan melibatkan semua potensi khususnya kader dan aktifis Hidayatullah yang berada dalam lingkup Megapolitan meliputi DKI Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek).

“Mudah-mudahan pemuda pemuda harapan bangsa menjadi penguat Garda Kota. Kendala apapaun kita hadapai dengan besar hati,” kata Ust Hasan Ibrahim saat menyampaikan taushiah Halal bi Halal Keluara Besar Hidayatullah Jabodebek di Komplek Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad (31/07/2016).

Beliau menuturkan, pasca Ramadhan di akhir bulan Syawal ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk menyemai kembali potensi-potensi kader yang masih berserakan.

Melalui acara Halal bi Halal ini, jelasnya, spirit kader kembali ter-charge untuk kemudian mengambil peran dakwah sekecil apapun itu dalam rangka menggalakkan Garda Kota sebagai program strategis pencerahan masyarakat.

Dia menambahkan, tidak ada kekuatan yang dapat melampaui semua tantangan yang ada selain dengan pertolongan Allah Ta’ala.

Karena itu ia mendorong kader Hidayatullah terus membangun budaya ibadah sebagaimana telah menjadi ciri khas dai Hidayatullah dalam mengembang tugas dakwah.

“Ampunan Allah Subhanahu Wata’ala adalah jaminan dan persyaratan mutlak agar doa kita dikabulkan. Allah telah membuka pintu maghfiranya untuk hamba-Nya seluas-luasnya. Tinggal kita saja mau atau tidak,” imbuhnya.

“Cintailah shalat. Tapi jangan cuma berdoa, tetapi juga harus berikhtiar nyata diiringi dengan ikhlas,” tukasnya.

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Jabodebek, H Asdar Majhari Petta Ewang, mengatakan pentingnya sinergi karena dakwah semakin kuat berpengaruh apabila dikerjakan secara kolektif sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing.

Dia menambahkan, Garda Kota selain membantu memediasi masyarakat perkotaan akan kebutuhannya terhadap pencerahan rohani dan pembinaan keagamaan, kedepannya ia juga diharapkan memiliki peranan lebih luas dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui beragam program yang terintegrasi. (ybh/hio)

Pengajian Rutin Malam Jum’at Bukan Sekedar Tradisi

Suasana silaturrahim dai nasional di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, tahun 70-an/ Foto: Ainur Rofiq Fadhlan
Suasana silaturrahim dai nasional di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, tahun 70-an/ Foto: Ainur Rofiq Fadhlan

Hidayatullah.or.id – Masih dalam suasana Silaturahim Syawal, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Balikpapan kembali menggelar pengajian rutin Malam Jumat di Masjid Hidayatullah Karang Bugis Balikpapan (28-7-2016).

Dikatakan Iwan Abdullah, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Balikpapan, hendaknya pengajian yang dirintis oleh pendiri Hidayatullah, KH. Ustadz Abdullah Said Rahimahullah sejak tahun 1973 tersebut dihadiri bukan sekadar karena tradisi atau kebiasaan saja.

“Tapi jamaah hadir memang karena manfaat yang didapatkan. Ada penambahan keilmuan dan spirit keimanan yang dirasakan,” ungkap ustadz Iwan.

Di hadapan jamaah pengajian, Iwan menerangkan beberapa upaya dalam meningkatkan kualitas acara pengajian tersebut. Di antaranya dengan menghadirkan para asatidz dan tokoh Islam sebagai pemateri.

Untuk malam Jumat pekan pertama, sedianya akan diampu oleh Ust Anwari Hambali, pekan kedua oleh Ust Zainuddin Musaddad, dan selanjutnya diisi Ust Anshar Amiruddin.

“Sedang pekan keempat panitia berusaha menghadirkan tokoh nasional atau sekurangnya dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah,” ungkap Iwan menjelaskan.

“Insya Allah jadwal tersebut kembali berlaku mulai bulan Agustus nanti,” imbuh mantan Ketua DPD Penajam Paser Utara (PPU) periode lalu.

Dalam kesempatan sama, ustadz Nasrullah Abdullah Said menerangkan tentang keutamaan tauhid dan harga mahal daripada karunia terbesar itu.

Disebutkan, tidak ada yang lebih baik selain memperbaiki dan meningkatkan kualitas tauhid kepada Allah, seperti menuntut ilmu atau mengikuti pengajian dan taklim lainnya.

“Karena tauhid itu kunci awal masuk surga tentu pemiliknya harus menjaga supaya tidak rusak dan ternodai,” ungkap lulusan hadits Universitas Islam Madinah.

Untuk diketahui, pengajian rutin Malam Jumat sudah berlangsung sejak masa perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah di Karang Bugis, sebelum hijrah ke kampus Gunung Tembak, Balikpapan (1973).

Diceritakan, dahulu pengajian yang mencapai ratusan pengunjung tersebut bahkan disesaki hingga jamaah dari luar kota Balikpapan.

“Dulu orangtua kami biasa naik kapal kayu nelayan (ketinting) dari desa Tanjung Jumlai, kab. Penajam Paser Utara (PPU),” jelas Hidayat Harja, dosen Sekolah Tiggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan.

“Berangkat dari Tanjung jam lima sore dan pulangnya sekitar jam 24.00,” lanjutnya.

“Kalau naik ketinting seperti itu sekitar 30 menit dari Tanjung. Biasanya berisi 10 orang penumpang,” terang Muhammad Dinul Haq, mahasiswa asal Tanjung Jumlai menambahkan. */ Masykur Abu Jaulah

Hidayatullah Parepare Hadir Menguatkan Iman Masyarakat

Pimpinan dan staf Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Parepare mengadakan kegiatan anjangsana ke Panti Asuhan Hidayatullah Kota Parepare pada hari Selasa, 30 Juni 2015. / DOK
Pimpinan dan staf Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Parepare mengadakan kegiatan anjangsana ke Panti Asuhan Hidayatullah Kota Parepare pada hari Selasa, 30 Juni 2015. / DOK
Hidayatullah Parepare Hadir Menguatkan Iman Masyarakat4
Pimpinan dan staf Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Parepare mengadakan kegiatan anjangsana ke Panti Asuhan Hidayatullah Kota Parepare pada hari Selasa, 30 Juni 2015. / DOK

Hidayatullah.or.id – Kehadiran Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah di Parepare, Sulawesi Selatan, dirasakan cukup membantu masyarakat untuk lebih mengenal ajaran agama Islam.

Kehadiran Ponpes yang berpusat di Kalimantan Timur ini memiliki sejarah yang cukup pancang. Pada awalnya Hidayatullah adalah sebuah pondok pesantren yang berdiri di atas lahan wakaf seluas 120 hektare di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, yang didirikan oleh Ust Abdullah Said pada 7 Januari 1973.

Dalam perkembangannya, Ust Abdullah mengirimkan santri-santrinya untuk berdakwah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, khususnya daerah-daerah minoritas Muslim.

Di tempat tugas yang baru, para santri Hidayatullah tak sekadar berdakwah, tetapi juga membangun cabang pondok pesantren Hidayatullah untuk lebih melancarkan perkembangan Islam.

Pada akhirnya, tersebarlah ke lebih dari 100 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia dalam bentuk pondok pesantren termasuk di Kota Parepare ini.

Di Parepare di awal perintisan diutus Ust Furqon. Pada tahun 1994 Ust Furqon bersama istri mulai berdakwah dilingkungan masyarakat, disamping itu fokus pada kegiatan sosial dan pendidikan.

Dia bersama istrinya mengajak masyarakat yang semula tidak mengenal islam atau sudah islam tapi keyakinan masih setengah-setengah untuk ber-Islam secara kaffah dengan berpengang teguh pada Alquran dan Hadist sebagai pedoman hidup.

Perjuangan ust Furqon kurang lebih 16 tahun lamanya mampu menumbuh dan mengembangkan Pondok Pesantren Hidayatullah di Kota Parepare dengan santri awal sekitar 20 santri, hingga akhirnya terus bertambah.

Namun, perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh Ust Hamka Saifullah pada tahun 2010 melalui Musda Hidayatullah Parepare di Gedung Hidayatullah Parepare pada Oktober 2010 lalu.

Sampai akhirnya Ponpes Hidayatullah terus berkembang dan membangun sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga tingkat SMA.

Kepala SMA Hidayatullah Ust Kadir yang ditemui mengurai bahwa kepemimpinan Ust Hamka Saifullah mampu mendirikan jenjang pendidikan formal mulai TK, SD, SMP dan SMA di Jalan Sakinah Kelurahan Bumi Harapan Kecamatan Bacukiki Barat Kota Parepare.

Adanya sekolah formal yang mulai menerima siswa sejak enam tahun lalu ini membuat keberadaan pondok pesantren Hidayatullah lebih dikenal lagi oleh masyarakat.

“Santri Pondok Pesantren Hidayatullah sekarang sudah mencapai 150 santri, dan berbagai prestasi sudah diraih oleh santri,” ujarnya memungkasi seperti dimuat di harian Parepos. (mon/din)

Meneguhkan Kembali Tujuan Pernikahan Massal Hidayatullah

0
Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur / (Foto: Kemenag)
Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur / (Foto: Kemenag)

Hidayatullah.or.id – Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur, mengatakan salah satu tujuan penting pernikahan massal mubarak Hidayatullah atau biasa disingkat PMH adalah untuk mengoreksi adat pernikahan yang tak sejalan dengan tuntunan Islam.

“Islam mengoreksi adat jahiliah bangsa Arab yang berlebihan dalam menetapkan mahar. Mahar yang tinggi seringkali menjadi barrier bagi pernikahan. Akibatnya, banyak perkawinan yang tak dapat dilangsungkan karena ketidaksanggupan memenuhi tuntutan mahar yang tinggi dari pihak perempuan. Hal itu jelas menyalahi kehendak agama Islam,” kata Jamaludin saat menyampaikan nasehat pernikahan 3 pasang santri di Masjid Agung Hidayatullah Batam, Batuaji, Kota Batam, belum lama ini.

Dia menegaskan, pernikahan bagi seorang muslim hendaknya diniatkan semata-mata karena Allah Ta’ala untuk kepentingan agama.

“Bahwa dengan menikah nantinya akan lahir generasi-generasi Islam yang taat yang terus membela, mengokohkan dan menyiarkan agama Allah, kiranya ini menjadi harapan kita bersama, aamiin,” tambahnya.

Lebih lanjut, Jamaludin mengatakan, bahwa menikah merupakan sebuah jihad dan sudah melaksanakan dari separuh agama.

“Kalau sudah menikah harus bisa menjadi imam buat keluarga. Penuhilah rumahtangga itu dengan kasih sayang dan tanggungjawab, dengan demikian akan diperoleh ketenangan dan ketentraman,” ujar pria yang juga menjadi peserta pernikahan Mubarak 100 pasang di Gunung Tembak pada 1997 silam.

Jamaluddin juga mengatakan, bahwa salah satu tujuan menikah adalah untuk memenuhi kebutuhan fitrah manusia. Dan Islam pun memudahkan urusan bagi siapa yang sudah siap dan mampu untuk menikah.

“Nabi menganjurkan memberi mahar walaupun berbentuk cincin besi. Sebab, mahar bukanlah simbol nilai perempuan dalam perkawinan, tetapi simbol kewajiban suami akan memberi nafkah kepada istrinya,” katanya lagi.

Dalam ceramahnya, Jamaluddin juga sempat menceritakan tentang proses lamaran untuk ketiga pengantin pria tersebut.

“Para pengantin pria dan perempuan ini tak pernah bertemu langsung sebelumnya. Tak ada itu pacar-pacaran. Sayalah yang melamar mereka untuk ketiga pengantin pria ini. Mereka baru saling bertemu saat penyerahan mahar, itu pun hanya lihat sekilas saja, cuma melirik lah. Alhamdulillah sejauh ini pernikahan seperti ini berhasil dan Insha Allah tidak ada yang gagal, saya sendiri juga menikah dengan cara dijodohkan seperti ini pada tahun 1997 lalu,” kenangnya.

Jamaludin menambahkan, jadi bagi yang sudah siap untuk menikah, maka kita pun akan memfasilitasinya dengan demikian akan menutup rapat-rapat pintu perzinaan yang dilarang keras dalam Islam. (btp/hio)

Tanpa Pacaran, Hidayatullah Batam Gelar Nikah Massal

Tiga mempelai pria, Fahrul Islam, Remun Suwardi dan Abdul Rasyid mendengarkan sighat ta’lik yang dibacakan oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Batuaji, H Suardi di Masjid Agung Hidayatullah Batam, Batuaji setelah akad nikah . Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id
Tiga mempelai pria, Fahrul Islam, Remun Suwardi dan Abdul Rasyid mendengarkan sighat ta’lik yang dibacakan oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Batuaji, H Suardi di Masjid Agung Hidayatullah Batam, Batuaji setelah akad nikah . Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id

Hidayatullah.or.id – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam kembali menggelar pernikahan mubarak untuk kedua kalinya. Sabtu (7/5) pukul 07.00 WIB, sebanyak tiga pasang pengantin dinikahkan secara massal oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Batuaji, H Suardi di Masjid Agung Hidayatullah Batam, Batuaji.

Ketiga pasang pengantin tersebut, Fahrul Islam berpasangan dengan Nur Fadhillah, Remun Suwardi dengan Rika Mariance dan Abdul Rasyid dengan Nur Hayati, mereka merupakan ustaz dan ustazah yang mendidik para santri di Pesantren Hidayatullah.

Hadir pada acara tersebut Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Ir. Khairil Baits yang sekaligus menjadi saksi pernikahan.

Tampak juga Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustaz Khoirul Amri, para ustaz dan ustazah, santri, dan tamu undangan.

Tokoh pendiri Yayasan Hidayatullah Batam, Ust Jamaludin Nur yang turut menjadi saksi pada acara sakral tersebut mengatakan, di antara tujuan kegiatan ini untuk menjalankan salah satu syariat Islam yaitu pernikahan. Dengan harapan, kelak dari pernikahan ini akan lahir kader-kader dakwah untuk Islam.

Nur Hayati, salah seorang mempelai perempuan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan melakukan pernikahan seperti itu, meskipun ia juga tidak memiliki bayangan tentang suaminya.

“Belum pernah kenal, saya hanya tahu bahwa calon suami saya juga binaan Hidayatullah, saya percaya dengan pilihan ustaz di pesantren karena tidak mungkin kami dipilihkan orang yang salah,” ujarnya. (iwa/btp)

Pendidikan Islam Hidayatullah Merauke Semakin Diminati

Panen padi raya di sawah pertanian Pesantren Hidayatullah Merauke, Papua / DOK
Panen padi raya di sawah pertanian Pesantren Hidayatullah Merauke, Papua, oleh para santri / DOK

Hidayatullah.or.id – Animo masyarakat terhadap pendidikan Islam yang menjadi salah satu fokus program Hidayatullah menunjukkan tren positif, tak terkecuali di Kabupaten Merauke.

Pada tahun 2016 ini, ada peningkatan jumlah murid/ santri yang mendaftar atau masuk ke Pondok Pesantren Hidayatullah Merauke, Provinsi Papua, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada Tahun 2015 lalu, jumlah siswa yang mendaftar sekitar 60 siswa/I untuk tingkat SMP dan SMA. Sedangkan pada tahun ini berjumlah sebanyak 130 siswa/I yang terdiri dari 10 siswa TK, 15 siswa SD dan 105 siswa untuk tingkat SMP dan SMA.

Kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masa Orentasi Siswa (MOS) telah digelar dibuka langsung oleh pimpinan pondok pesantren Hidayatullah dan kegiatannya berlangsung selama tiga hari mulai Tanggal 25-27 Juli 2016.

“Ada peningkatan sekitar 90 persen yang mendaftar di tingkat SMP dan SMA. Ini mungkin karena pada tahun ini panitia penerimaan siswa baru dijadikan satu tidak terpisah-pisah seperti tahun kemarin. Kemungkinan juga karena kita memasang iklan di media masa,” terang Sekertaris Panitia PSB, Tri Wulan Handayani, S.Pd, di Pondok Pesantren Hidayatullah Merauke dalam rilis diterima redaksi yang juga dilansir Arafura News, belum lama ini.

Dijelaskan dia, dalam prosesnya ada tes kemampuan dasar dan tes mengaji serta baca tulis Al-Quran. Dia menerangkan, tes kemampuan dasar sebagai data awal pihak sekolah untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa/I untuk pembimbingan di pembelajaran selanjutnya. Serta untuk melihat kemampuan siswa dimana bakat dan minat masing-masing peserta didik.

Kegiatan MOS ini digelar di dalam ruangan dan ada juga yang di luar ruangan. Hal ini, dijelaskan Wulan, untuk membentuk sebuah karakter, karena tujuan MOS di pondok pesantren adalah dengan MOS Hidayatullah membentuk islamic activity dalam kegiatan sehari-hari.

Ada beberapa narasumber yang menjelaskan terkait dengan kelembagaan, pembelanjaran yang efektif, motivator untuk siswa/I, penyuluhan kesehatan dan bahaya narkoba bagi di usia pelajar.

“Dengan diberikan materi-materi ini, diharapkan siswa/I bisa mengetahui fungsi, visi misi lembaga Ponpes Hidayatullah serta menanamkan kepada mereka apa tujuan mereka untuk bersekolah dan apa tujuan mereka menuntut ilmu di Hidayatullah,” imbuhnya.

Selain itu, ada materi pembelajaran efektif bagaimana murid mengetahui pembelajaran yang efektif, menarik dan menyenangkan bagi mereka serta diberikan pengertian akhlak yang harus dipahami sebagai seorang siswa maupun sebagai seorang muslim dan muslimah.

Kemudian, ada juga latihan kedisplinan yang diisi oleh Polres Merauke tentang latihan baris berbaris.

“Diharapkan kepada peserta didik baru, agar mereka benar-benar memahami bahwa pendidikan tidak hanya menuntut ilmu saja tetapi juga untuk membentuk karakter mereka, budi pekerti agar lebih semangat dalam menyongsong masa depan mereka,”ujarnya. (ppc/hio).

Hidayatullah Gunung Tembak Gelar Daurah-Muqabalah UIM

Gerbang Universitas Islam Madinah Arab SaudiHidayatullah.or.id – Kampus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat yang beralamat di Jl Mulawarman, Teritip, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, ditunjuk secara resmi oleh Universitas Islam Madinah (UIM) Arab Saudi menjadi penyelenggara daurah dan muqabalah untuk masuk ke universitas bergengsi dunia tersebut.

Dikutip redaksi dari situs Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan melalui laman resmi www.stishid.ac.id, penyelenggaran kegiatan tersebut memprioritaskan peserta yang berasal dari Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Selain itu, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak memberikan fasilitas kepada peserta daurah dan muqabalah berupa penginapan dan konsumsi. Adapun transportasi ditanggung oleh masing-masing peserta.

Berikut kutipan lengkap pengumuman daurah dan muqabalah Universitas Islam Madinah (UIM) di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan:

KETENTUAN DAURAH DAN MUQABALAH UNIVERSITAS ISLAM MADINAH (UIM)
DI PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH GUNUNG TEMBAK BALIKPAPAN
  1. Peserta daurah dan muqabalah terbatas untuk 300 ORANG.
  2. Peserta daurah adalah peserta muqabalah dan peserta muqabalah adalah peserta daurah. Wajib mengikuti daurah dan muqabalah, tidak boleh mengikuti salah satunya.
  3. Peserta daurah dan muqabalah wajib membawa surat tugas utusan lembaga.
  4. Setiap lembaga hanya diperbolehkan mengirimkan 2 (dua) orang saja untuk mengikuti daurah dan muqabalah.
  5. Peserta harus mengikuti kegiatan daurah secara full dari tanggal 7-20 Agustus 2016. Prosentase kehadiran tatap muka 100%, jika kurang dari 100% tidak boleh mengikuti muqabalah.
  6. Daurah dilaksanakan pada tanggal 7-20 Agustus 2016  pukul 07.00-12.00 WITA di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.
  7. Daurah dan Muqabalah hanya untuk yang berumur 24 tahun ke bawah.
  8. Peserta daurah dan muqabalah diutamakan yang berasal dari Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

SYARAT PENDAFTARAN DAURAH DAN MUQABALAH DI PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH BALIKPAPAN

  1. Syarat pendaftaran daurah dan muqabalah: • Mengisi formulir pendaftaran (DOWNLOAD FORMULIR PENDAFTARAN) • Melampirkan surat utusan lembaga. • Melampirkan nomor registrasi (raqmu thalab) yang didapat dari website UIM. • Melampirkan lembar Istimarah yang diperoleh dari di website UIM.
  2. DOWNLOAD CONTOH RAQMU THALAB, Klik DISINI
  3. DOWNLOAD CONTOH LEMBAR ISTIMARAH, Klik DISINI
    Berikut ini adalah link website UIM untuk mendapatkan raqmu thalab dan istimarahhttp://admission.iu.edu.sa/LanguagePage.aspx

TATA CARA PENDAFTARAN DAURAH DAN MUQABALAH DI PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH BALIKPAPAN

Pendaftaran daurah dan muqabalah dibuka mulai tanggal 27-31 Juli 2016 pukul 24.00 WITA. Tidak menerima pendaftaran di luar waktu yang ditetapkan.

  1. Pendaftaran hanya MELALUI EMAIL SAJA, tidak melayani pendaftaran melalui SMS, Whatsapp, BBM, dll.
  2. Tidak melayani pendaftaran secara langsung di tempat daurah dan muqabalah.
  3. Semua persyaratan pendaftaran discan dan dikirim ke email panitia [email protected]
  4. Dokumen persyaratan pendaftaran harus lengkap dan tidak boleh menyusul.
  5. Kelulusan pendaftaran peserta akan diumumkan di web stishid.ac.id pada tanggal 2 Agustus 2016.

CHECK IN PESERTA DAURAH DAN MUQABALAH

  1. Check in peserta daurah dimulai tanggal 7 Agustus 2016 pukul 16.00 WITA di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.
  2. Peserta harus datang tepat waktu.
  3. Seluruh peserta daurah dan muqabalah wajib berkumpul di Aula Asrama STIS Hidayatullah untuk pengarahan teknis pelaksanaan daurah dan muqabalah.
  4. Pondok Pesantren Hidayatullah hanya memberikan fasilitas kepada peserta daurah dan muqabalah berupa penginapan dan konsumsi. Transportasi ditanggung oleh masing-masing peserta.

TAMBAHAN

  1. Alamat Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak: Jln. Mulawarman, RT 25, kel. Teritip, kec. Balikpapan Timur, Balikpapan, Kalimantan Timur.
  2. Narahubung:
  • Muhammad Dinul Haq: 0812-8719-1410
  • Masykur Suyuti: 0813-8101-7916
  • Zulfahmi: 0812-9089-2303
  • Abdul Ghofar: 0813-4784-3644

Hidayatullah Kudus TuanRumah Silaturrahim Dai se-Jateng

Hidayatullah Kudus Tuan Rumah Silaturrahim Dai se-JatengHidayatullah.or.id – Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus menjadi tuan rumah acara silaturrahim guru dan dai se-Jawa Tengah (Jateng), belum lama ini dan ditulis Rabu (27/07/2017).

Ratusan guru dan dai Hidayatullah se-Jawa Tengah memadati kampus 3 Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus yang beralamatkan di Jalan Kudus-Jepara KM 5 Kedungdowo- Kaliwungu, Kota Kudus (15-16/07/2016) bertepatan pada hari Jumat-Sabtu.

Para guru dan dai tersebut hadir dalam rangka mengikuti acara Silatwil 5 (Silaturrahim Wilayah Ke 5) yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah.

Bukan hanya silaturrahim, pada hari Sabtu, 16 Juli 2016 diadakan juga seminar nasional dengan mengusung tema “Revitalisasi Peran Da’wwah dan tarbiyah dalam Membangun Peradaban Islam” yang menghadirkan Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, MA.

Dalam pemaparannya Ust Nashirul Haq, mengatakan dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam mencerahkan dan mentarbiyah ummat, diharapkan kedepannya selalu muncul pionir-pionir penggerak dakwah yang mengusung spirit peradaban Islam.

Dalam kehidupan ini, jelas beliau, peradaban terbagi menjadi 2 yaitu peradaban wahyu (Islam) dan peradaban materi (kebendaan).

Menurutnya, yang saat ini kita selesaikan adalah peradaban materi telah menguasai dunia , standar nilai di tengah-tengah masyarakat diukur berdasarkan materi, seluruh aspek kehidupan diukur dengan standart materi.

“Peradaban materi bermuara dari iblis sedangkan peradaban Islam bermuara dari Allah dan Rosul-Nya. Secara sederhana, makna peradaban adalah pengejawantahan nilai-nilai luhur Islam dalam seluruh aspek kehidupan, baik secara pribadi, keluarga, dan masyarakat,” tandasya.

Pada kesempatan acara yang berlangsung khidmat ini hadir pula Ust Sholih Hasyim dan Ust Suharsono selaku anggota Dewan Mudzakaroh Hidayatullah serta Ust Amun Rowie yang juga ketua Departemen Pendidikan DPP Hidayatullah.

Pada acara ini turut mengundang H. Mustofa selaku Bupati Kudus, yang diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian Budi Rahmat.

Dalam sambutan bupati Kudus yang dibacakan Budi Rahmat, beliau memgapresiasi guru dan dai Hidayatullah se-Jawa Tengah atas perannya turut membangun kawasan itu dengan kekhasan gerakannya yang simpatik.

Menurut ketua panitian tujuan diadakannya silaturrahim dan seminar ini adalah untuk mempererat ukhuwah antara guru dan dai.

Acara ini juga sebagai ajang penguatan spirit bagi para dai untuk terus mencerahkan kembali peran guru dan dai sebagai pionir terdepan dalam mengemban dakwah dan tarbiyah di tengah-tengah masyarakat umumnya dan Hidayaullah khususnya. (ybh/hio)