Beranda blog Halaman 59

Studium General STIT HISAM Tekankan Integrasi Ilmu, Iman, dan Peradaban

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Samarinda (STIT HISAM) menggelar kegiatan Studium General tahun akademik 2025/2026 yang digelar di Aula UPTD BPPSDMP Provinsi Kalimantan Timur pada Senin, 23 Rabiul Awal 1447 (15/09/2025).

Kegiatan Studium General menjadi pembuka tahun akademik STIT HISAM 2025/2026 ini dihadiri oleh civitas akademika serta Ketua STIT HISAM, Jumain Rajab, S.H.I., M.Pd.I., yang menegaskan pentingnya fondasi filosofis dalam mengembangkan keilmuan Islam.

“Secara ontologis, hakikat segala sesuatu bersumber dari Rabb yang menciptakan dan mengetahui segalanya, sementara manusia hanyalah makhluk penuh keterbatasan,” jelas Jumain dalam sambutannya.

Ia juga menguraikan tiga pendekatan epistemologi Islam, yaitu bayani (tekstual), burhani (logis-argumentatif), dan irfani (kontemplatif-spiritual). Menurutnya, pendekatan ini dapat berjalan seiring dengan tradisi rasionalisme dan empirisme Barat.

“Seorang sarjana Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan kejayaan ilmu pengetahuan di tangan umat Islam,” ujar Jumain.

Dia menegaskan, ilmu agama dan sains bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan sebagai amanah keilmuan yang saling melengkapi.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Ustadz H. Hizbullah Abdullah Said, S.Pd.I., dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasinya atas perkembangan STIT HISAM.

Kegiatan ini, terangnya, menjadi momentum penting bagi STIT HISAM dalam memantapkan langkah menuju lembaga pendidikan tinggi yang berkontribusi pada keilmuan global sekaligus menjaga akar keindonesiaan.

Dengan semangat iqra bismirabbik, imbuhnya, perguruan tinggi Islam diharapkan menjadi pusat lahirnya generasi pembaharu yang beradab, berilmu, dan berdaya saing.

“Alhamdulillah, STIT HISAM telah sampai pada tahap ini. Ke depan, kita berharap lembaga ini bisa berlari lebih kencang, melompat lebih tinggi, dan terbang lebih jauh dalam mengemban amanah dakwah dan pendidikan,” ujar Hizbullah.

Pada kesempatan istimewa itu, hadir Direktur Hidayatullah Institute, Muzakkir Usman, SS., M.Ed., Ph.D., sebagai narasumber utama dalam acara ini.

Dalam paparan utamanya, Muzakkir menegaskan bahwa pendidikan Islam harus berorientasi pada pembentukan generasi ilmuwan dan pendidik yang utuh.

“Kurikulum berbasis tauhid akan melahirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral,” katanya.

Ia juga menekankan metode heutagogy yang menuntut kemandirian mahasiswa dalam belajar, serta pentingnya membangun budaya literasi dan penelitian yang hidup di lingkungan kampus.

Memperluas Dakwah di Pinggiran Mamuju, Hidayatullah Teguhkan Peran di Masyarakat

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat memperkuat dakwah dan memperluas jangkauan pengaruh keagamaan di Sulawesi Barat, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Mamuju menekankan pentingnya pemanfaatan peluang dakwah yang terbuka lebar, khususnya di wilayah pinggiran kota.

Ketua DPD Hidayatullah Mamuju, Syamsuddin, menyatakan salah satu strategi yang dijalankan adalah mengedarkan majalah Suara Hidayatullah sebagai sarana silaturrahim dan penyebaran informasi ke masyarakat “Penting memaksimalkan peluang dakwah, khususnya di Tarailu dan Papalang,” katanya saat pembukaan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang berlangsung di Kampus Pratama Hidayatullah, Lari Gentungan, Mamuju.

Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus harian serta tiga departemen DPD, dibimbing langsung oleh pendamping dari Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat.

Acara ini sebagai upaya Hidayatullah sebagai organisasi keagamaan nasional hadir melokal untuk turut membangun peradaban bangsa melalui pendidikan, sosial, dan dakwah, sekaligus menjaga kerukunan dan partisipasi masyarakat di tingkat daerah.

Arahan dari DPW disampaikan oleh Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Massiara, yang menekankan pentingnya tertib dalam manajemen organisasi.

Arahan Massiara menjadi pedoman bagi pengurus untuk memastikan seluruh program dakwah berjalan efektif dan terstruktur, selaras dengan visi misi organisasi dalam membangun kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Setidaknya ada empat tertib yang harus kita jaga, yaitu tertib organisasi, tertib manajemen, tertib administrasi, dan tertib program,” jelasnya.

Kegiatan Monev juga dihadiri Ketua Departemen Pendidikan dan Pesantren DPW, Firman Haq, dan Ketua Departemen Ekonomi, Sosial, dan Kesehatan, Muhammad Taufik.

Setelah arahan, agenda berlanjut dengan sesi evaluasi program di masing-masing departemen DPD Hidayatullah Mamuju. Evaluasi ini mencakup penilaian capaian program, kendala pelaksanaan, serta strategi penguatan di masa depan, sebagai bagian dari sistem manajemen berkelanjutan dalam organisasi.

Selain Monev, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan mabit (malam bina iman dan takwa) yang dikemas dalam Lailatul Ijtima’ bersama seluruh kader Hidayatullah Sulawesi Barat. Momen ini dimeriahkan dengan peresmian Masjid Kampus Pratama Hidayatullah Mamuju.

Kehadiran Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, KH. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I, memberikan penguatan spiritual sekaligus motivasi bagi seluruh kader.

Rangkaian kegiatan ini, jelas Massiara, sebagai upaya meneguhkan terintegrasi dengan manajemen program dan pendidikan.

Dengan strategi yang sistematis, terang Massiara menambahkan, Hidayatullah Mamuju berupaya memperluas dampak sosial ke wilayah pinggiran, sambil meneguhkan kontribusi mereka dalam membangun Indonesia yang harmonis dan beradab.

Ketika Kesalahan Menjadi Jalan Menuju Rahmat

0

SETIAP manusia pasti pernah tersesat. Kadang kesalahan itu bersifat pribadi, namun bisa pula menimpa kelompok atau komunitas. Kisah Bani Israil di zaman Nabi Musa adalah salah satu pelajaran paling mendalam tentang kesadaran, penyesalan, dan rahmat Allah yang tak terbatas.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 54:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan anak lembu (sebagai sembahan). Maka bertaubatlah kepada Penciptamu, lalu bunuhlah dirimu (yang bersalah). Hal itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu; maka Dia menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”

Saat itu, Bani Israil menyadari kesalahan besar mereka. Mereka telah menyembah anak lembu, melupakan Allah, Sang Pencipta.

Al-Hasan al-Bashri menekankan bahwa ucapan Nabi Musa muncul saat mereka benar-benar menyesali dosa mereka, menyadari bahwa tanpa rahmat Allah, mereka termasuk orang-orang yang rugi.

Pelajaran pertama dari kisah ini adalah kesadaran akan dosa dan pentingnya taubat. Kesalahan yang tampak sepele bisa menjadi akar kehancuran jika dibiarkan.

Musa menegaskan bahwa mereka menzalimi diri sendiri, dan hanya dengan kembali kepada Allah, pengampunan sejati bisa dicapai. Bagi kita, hal ini menjadi pengingat bahwa setiap kesalahan, sekecil apa pun, harus segera disadari dan diperbaiki sebelum menjadi kebiasaan yang merusak.

Namun, taubat bukan selalu mudah. Perintah Allah kepada Bani Israil untuk menebus kesalahan mereka sangat berat, yaitu, sebagian mereka harus menegakkan hukum bagi diri sendiri dan orang lain.

Dalam penjelasan sejumlah mufassir, diterangkan bahwa mereka melaksanakan perintah di bawah naungan kegelapan, sehingga tidak saling mengenal dan dapat melaksanakan taubat kolektif dengan penuh ketaatan.

Dari sini kita belajar bahwa taubat sejati menuntut usaha, keberanian, dan kesungguhan, bahkan jika itu berarti menghadapi risiko atau konsekuensi yang menakutkan.

Kisah ini juga menegaskan rahmat Allah yang Maha Luas. Setelah proses taubat yang berat, Allah mengampuni semua pihak, baik yang melaksanakan perintah maupun yang terbunuh.

Tidak ada dosa yang terlalu besar jika taubat dilakukan dengan ikhlas dan sesuai petunjuk-Nya. Allah menerima hati yang kembali kepada-Nya dengan penuh kasih. Inilah pengingat bagi setiap kita bahwa pintu taubat selalu terbuka, tidak peduli seberapa dalam kesalahan kita.

Selain itu, kisah ini mengajarkan tentang dosa kolektif dan tanggung jawab komunitas. Kesalahan bisa berdampak pada banyak orang. Karena itu, menjaga keadilan, mencegah kezaliman, dan menegur yang salah adalah tanggung jawab moral bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti kita tidak boleh acuh terhadap kesalahan yang bisa merugikan lingkungan sekitar. Kepedulian dan kesadaran sosial menjadi bagian dari ibadah dan ketaatan kita kepada Allah.

Menjalankan Wahyu Allah

Kepatuhan kepada petunjuk para Nabi menjadi pelajaran berikutnya. Nabi Musa tidak bertindak berdasarkan keinginannya sendiri, tetapi menjalankan wahyu Allah.

Kaumnya pun diperintahkan untuk mengikuti arahan itu dengan sepenuh hati. Bagi kita, hal ini menekankan pentingnya mengikuti petunjuk Allah melalui Rasul-Nya dengan sabar, teliti, dan sungguh-sungguh, tanpa menunda atau menyeleweng.

Hikmah lainnya adalah keadilan dan kebijaksanaan Allah dalam ujian. Saat pelaksanaan taubat berlangsung, Allah menurunkan naungan kegelapan untuk mencegah kekeliruan dan menjaga agar keadilan ditegakkan.

Ini menunjukkan bahwa setiap ketetapan Allah memiliki hikmah tersembunyi, bahkan ketika tampak berat atau sulit dipahami. Segala ujian, seberat apapun, mengandung rahmat dan tujuan untuk kebaikan kita.

Dari kisah Bani Israil, kita belajar bahwa kesadaran, penyesalan, dan ketaatan adalah jalan menuju rahmat Allah. Kita diingatkan untuk segera bertaubat saat menyadari kesalahan, menghadapi konsekuensi dengan berani, menjaga keadilan sosial, dan mengikuti petunjuk-Nya dengan sepenuh hati.

Kisah ini penting menjadi cermin bagi kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang berpotensi melakukan kesalahan, namun Allah senantiasa menyediakan jalan kembali melalui taubat yang ikhlas.

Taubat yang benar membuka pintu rahmat-Nya, menghapus dosa, dan menenangkan hati. Mari kita jadikan refleksi ini sebagai pengingat sepanjang waktu bahwa ketika kita tersesat, jangan menunda kembali kepada Allah.

Sadari kesalahan, akui dosa, dan lakukan perbaikan. Dengan kesungguhan hati, Allah akan menerima taubat kita, sebagaimana Dia menerima taubat Bani Israil, dan rahmat-Nya akan menyejukkan jiwa kita, menyinari langkah ke depan dengan cahaya ampunan dan kasih sayang-Nya yang abadi.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Memperkuat Mindset Amil dalam Peran Membangun Umat dan Pemberdayaan Masyarakat

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Indonesia masih menghadapi tantangan sosial dan kemanusiaan yang kompleks, sehingga peran lembaga zakat nasional menjadi sangat strategis dalam membangun masyarakat yang berdaya dan sejahtera.

Dalam kerangka mengatasi masalag ini, penguatan kapasitas amil menjadi kunci agar setiap langkah lembaga dapat memberikan dampak nyata bagi umat.

Hal inilah yang menjadi fokus sesi sharing yang digelar Laznas BMH Perwakilan Jawa Tengah bersama Kepala Humas BMH Pusat, Mas Imam Nawawi, di Semarang, Senin, 22 Rabi’ul Awal 1447 (15/9/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Imam Nawawi menekankan pentingnya amil untuk membangun paradigma berpikir besar dalam rangka ikut membangun umat, memberdayakan masyarakat dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Imam dalam pemaparannya memaparkan tiga prinsip penting bagi amil BMH. Pertama, setiap amil harus mampu berpikir utuh tentang gambaran besar yang menjadikan BMH semakin solid, tanggap, dan lincah menghadapi dinamika perubahan.

“Setiap amil harus mampu berpikir utuh akan gambaran yang dapat menjadikan BMH semakin solid, tanggap dan lincah dalam dinamika perubahan yang terus terjadi,” katanya.

Kedua, setiap amil tidak boleh bekerja dengan perspektif terbatas. Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antar tim sehingga koordinasi berjalan cepat dan efisien.

“Satu sama lain antar tim harus mampu melakukan sinkronisasi yang cepat bahkan kalau perlu menjadi budaya yang sudah mapan, sehingga koordinasi tak perlu makan waktu dan energi,” jelasnya.

Ketiga, amil diharapkan mampu menginternalisasi pemikiran besar yang selaras dengan tujuan kemanusiaan dan pembangunan masyarakat.

Apabila setiap amil memahami dan mengimplementasikannya, maka langkah BMH ke depan diharapkan dapat memberi warna positif dan kebaikan bagi umat.

“Jadilah amil yang mampu membangun paradigma berpikir besar. Kita hadir, berhimpun, bersama adalah dalam rangka ikut membangun umat, memberdayakan masyarakat dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik,” kata Imam menekankan.

Menurut Imam, dengan upaya yang sungguh sungguh untuk terus menguatkan ketiga prinsip tersebut, hal ini akan menjadi langkah konkret untuk menumbuhkan budaya kerja yang produktif, inspiratif, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Pedampingan Peliputan dan Publikasi

Kegiatan ini, menurut Kadiv Prodaya BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma, merupakan bagian dari rangkaian pendampingan peliputan dan publikasi yang dilakukan bersama Humas BMH Pusat.

“Puncaknya kami gelar sesi sharing pekanan yang pas sekali momentumnya,” ujarnya. Tujuan utama agenda ini, terangnya, adalah menanamkan pemahaman mendalam kepada amil agar dapat bekerja dengan visi yang lebih luas dan strategis.

Rafiuddin, seorang amil senior Jawa Tengah, mengaku mendapatkan motivasi besar dari sesi sharing penguatan mindset dan kapasitas amil ini yang menurutnya penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan kontribusi BMH bagi masyarakat.

“Saya merasa seperti dapat amunisi dan motivasi besar untuk tak berhenti berbenah, berkhidmat bagi umat,” ujar Rafi seraya berharap pelatihan seperti ini rutin dilakukan dalam memperkuat profesionalisme, menumbuhkan budaya kerja yang terintegrasi, dan meneguhkan peran lembaga zakat dalam membangun Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera.

Muslimat Hidayatullah Membekali Umat Memuliakan Jenazah dengan Ilmu

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Cahaya terik di Malinau, Kalimantan Utara, pada siang hari itu menjadi saksi sebuah ikhtiar penting umat. Di Pesantren Hidayatullah, hadirin memadati ruangan aula pesantrnen untuk menekuni ilmu yang menyentuh sisi terdalam kehidupan yaitu tata cara pengurusan jenazah sesuai sunah Rasulullah SAW.

Dalam tradisi Islam, pengurusan jenazah adalah kewajiban kolektif umat atau fardu kifayah yang harus dikuasai. Ketua Muslimat Hidayatullah (Mushida) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) adalah Ustadzah Ainun Jariyah, S.Pd., mengatakan kegiatan ini sangat penting.

“Di banyak komunitas, terutama di daerah pedalaman, pengetahuan tentang pengurusan jenazah yang benar sering kali terbatas. Ritual ini bagian dari kewajiban kolektif umat Islam,” kata Ainun dalam keterangannya, Senin, 22 Rabi’ul Awal 1447 (15/9/2025)

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kalimantan Utara dan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (PW Mushida) Kaltara. Puluhan peserta hadir dari berbagai daerah, antara lain Nunukan, Tarakan, Tana Tidung, dan tuan rumah Malinau. Mereka datang dengan semangat menambah bekal ilmu agar mampu mengabdi lebih luas kepada masyarakat.

Instruktur memberikan penjelasan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas teori. Empat pokok utama menjadi materi inti, yakni memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah. Para ustazah dan kader dibimbing dengan detail fiqih sekaligus praktik langsung agar tidak salah dalam mengamalkan tuntunan syariat.

“Alhamdulillah, kegiatan ini sangat penting dan menarik,” ungkap Hamsia, salah satu peserta asal Malinau. Ia menambahkan, “Ini memberi kami pengetahuan dan keterampilan mengurus jenazah sesuai sunah.”

Dengan pelatihan ini, setiap peserta bukan hanya menimba ilmu untuk diri sendiri. Mereka dipandang sebagai agen yang kelak mampu membimbing komunitas masing-masing dalam menghadapi situasi duka cita. Dalam masyarakat yang sering kali belum memahami tata cara pengurusan jenazah, kehadiran mereka akan sangat berarti.

“Para peserta kembali ke daerah masing-masing dengan membawa bekal ilmu yang bermanfaat, tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga untuk seluruh komunitas,” terang Ainun.

Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menyampaikan pesan yang lebih dalam. Mengurus jenazah adalah pengingat akan kematian yang pasti datang, serta tanda bahwa keimanan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah harian, melainkan juga melalui kesiapan menghadapi akhir kehidupan. “

“Kematian bukanlah akhir yang harus ditakuti, melainkan sebuah proses yang harus dipersiapkan, bahkan dalam cara paling teknis sekalipun,” ujar Ainun, seraya menambahkan kegiatan di Pesantren Hidayatullah Malinau tidak berhenti sebagai agenda pelatihan melainkan sebagai bentuk dakwah nyata dalam membekali umat dengan keterampilan dan kesadaran spiritual agar setiap jenazah dimuliakan sesuai tuntunan Islam.

Bupati Iskandarsyah Serahkan Bantuan Pendidikan bagi 20 Mahasiswa STIT Mumtaz Karimun

KARIMUN (Hidayatullah.or.id) – Pemerintah Kabupaten Karimun bersama BRK Syariah menyalurkan bantuan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun.

Bantuan senilai Rp40 juta diserahkan secara langsung oleh Bupati Karimun, Ing. H. Iskandarsyah, bersama Branch Manager BRK Syariah Cabang Karimun, Abdul Barr, kepada 20 mahasiswa, Sabtu, 20 Rabi’ul Awal 1447 (13/9/2025).

Penyerahan bantuan ini diselaraskan dengan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) untuk mahasiswa baru STIT Mumtaz yang merupakan salah satu jaringan Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH).

Bupati Iskandarsyah menjelaskan bahwa dana beasiswa tersebut bersumber dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BRK Syariah.

“Karena kita ada kerjasama dengan BRK Syariah, maka dana CSR kami salurkan ke mahasiswa-mahasiswi yang menuntut ilmu di STIT Mumtaz, Universitas Karimun, dan Cakrawala,” katanya.

Ia menjelaskan, bantuan beasiswa ini termasuk dalam program pemerintah, bahkan pihaknya berencana akan memberikan 1000 beasiswa kepada mahasiswa dan mahasiswi yang berprestasi dan kurang mampu yang ada di Kabupaten Karimun.

Bantuan pendidikan tersebut disambut baik oleh Ketua STIT Mumtaz, Dr. H. Sumarno. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah terhadap keberlangsungan studi mahasiswa.

“Alhamdulillah Pemerintah Kabupaten Karimun telah mengalokasikan dana sebanyak Rp40 juta untuk beasiswa perkuliahan di STIT Mumtaz dalam rangka untuk mempermudah dan memperlancar berkaitan dengan pembayaran UKT. Harapannya semoga program beasiswa kuliah ini berkesinambungan dan bertambah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sumarno menegaskan posisi STIT Mumtaz sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam swasta pertama dan satu-satunya di Karimun yang telah memperoleh akreditasi baik.

“Alhamdulillah kita sudah meluluskan 6 angkatan, dengan jumlah sekitar 200 orang. Alumni sudah berkiprah sebagai PPPK, pengelola pendidikan formal maupun nonformal, tenaga administrasi, penyuluh agama/dai, konsultan pendidikan, dan asisten peneliti,” katanya.

Kegiatan PBAK sendiri diadakan untuk mengenalkan mahasiswa baru terhadap sistem akademik, nilai, dan budaya perguruan tinggi.

Menurut Sumarno, PBAK juga diarahkan untuk membangun kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual mahasiswa, serta menumbuhkan solidaritas, toleransi, dan tanggung jawab akademik maupun sosial.

“Hal ini sempena dengan tema PBAK, membentuk mahasiswa berkualitas menuju Indonesia emas melalui STIT Mumtaz,” pungkasnya.

Bekal Hukum untuk Guru dan Dai untuk Menegakkan Disiplin Tanpa Takut Kriminalisasi

0

PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hukum & Advokasi DPP Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, M.H., menegaskan posisi guru dan dai sangat rentan terhadap persoalan hukum.

Di tengah derasnya arus perubahan sosial, posisi guru dan dai kerap berada pada titik rentan. Mereka adalah pilar pendidikan dan dakwah yang berhadapan langsung dengan masyarakat, namun di saat yang sama sering berhadapan dengan risiko persoalan hukum.

“Ketidaktahuan terhadap aturan bisa berakibat fatal, apalagi ketika menyangkut kasus-kasus sensitif seperti kekerasan terhadap anak, ujaran kebencian, atau isu asusila,” katanya.

Karena itu, menurutnya, pemahaman hukum mutlak dimiliki oleh para pendidik. Guru dan dai harus tetap tegas dalam mendidik, namun tidak boleh abai terhadap aturan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pelatihan Advokasi bagi Guru dan Dai yang digelar DPW Hidayatullah Sumatera Selatan bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1447 (10/09/2025). Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Hukum UMP dan diikuti oleh puluhan peserta dari Palembang, Banyuasin, Muara Enim, hingga Empat Lawang.

Para peserta terdiri atas guru, dai, serta penggiat pendidikan dan dakwah. Mereka sehari-hari bersinggungan langsung dengan siswa maupun jamaah, sehingga pelatihan ini menjadi ruang penting untuk memperkuat pemahaman hukum.

Acara ini dibuka oleh Asisten Kesra Walikota Palembang Ichsanul Akmal, serta dihadiri Ketua PW Muhammadiyah Sumsel, H. Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H. Selain Dr. Dudung, hadir pula narasumber Dr. Suharyono M. Hadiwiyono, S.H., M.H., advokat sekaligus dosen Fakultas Hukum UMP.

Dalam pemaparannya, Dudung menekankan perlunya bekal hukum bagi tenaga pendidik. “Perlindungan hukum bagi guru itu ada, tinggal bagaimana kita memahami dan menerapkannya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pemahaman hukum adalah kunci agar guru dan dai bisa bekerja dengan tenang. “Dengan bekal pengetahuan ini, insya Allah para pendidik bisa lebih tenang, bijak, dan terhindar dari kriminalisasi,” imbuhnya.

Sejumlah kasus nyata turut diangkat sebagai contoh. Mulai dari guru yang dipersoalkan karena tindakan disiplin terhadap murid, hingga dai yang dilaporkan karena ceramahnya dianggap mengandung ujaran kebencian.

Ada pula kasus pencemaran nama baik di media sosial dan tuduhan asusila. Semua itu menunjukkan bahwa pendampingan hukum bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Pentingnya Pemahaman Hukum

Ketua DPW Hidayatullah Sumsel, Lukman Hakim, menegaskan hal senada. Menurutnya, banyak kasus terjadi karena ketidaktahuan. Misalnya guru memukul murid, atau seorang dai menyampaikan ceramah yang dianggap ujaran kebencian.

“Hal-hal seperti ini perlu diantisipasi sejak awal,” ucapnya. Ia menambahkan, advokasi diperlukan agar guru dan dai memiliki bekal hukum sehingga lebih bijak dalam bersikap maupun menyampaikan pesan kebaikan.

Menurutnya, DPW Hidayatullah Sumsel telah mendampingi berbagai kasus serupa di sejumlah daerah hingga ke pengadilan.

“Harapannya, melalui pelatihan ini para guru dan dai di Sumsel bisa lebih waspada serta tidak terjerat masalah hukum akibat ketidaktahuan,” tandasnya.

Pelatihan ini juga merupakan bagian dari rangkaian Semarak Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan berlangsung pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta.

Di balik agenda besar itu, terselip komitmen untuk memperkuat posisi guru dan dai sebagai ujung tombak pendidikan karakter bangsa.

Melalui advokasi hukum, mereka diharapkan mampu melaksanakan tugas mulia mendidik dan berdakwah dengan penuh percaya diri, terlindungi dari jerat kriminalisasi, serta tetap berpegang pada aturan yang berlaku.

Spirit Maulid Nabi Meneladani Rasulullah untuk Ketahanan Keluarga di Era Fitnah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menjadi saksi terselenggaranya Tabligh Akbar bertema “Keteledanan Nabi Muhammad SAW, Panduan Keluarga di Era Fitnah Akhir Zaman” pada Sabtu, 20 Rabi’ul Awal 1447 (13/9/2025).

Acara yang dipusatkan di Masjid Ummul Quraa ini berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 11.30 WIB, diikuti kurang lebih 700 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, santri SMP hingga MA, serta karyawan pesantren.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk refleksi atas pentingnya menjaga ketahanan keluarga dengan meneladani sosok Rasulullah SAW.

Ketua panitia, Ust. Najibullah, M.M., menegaskan dalam sambutannya bahwa acara ini telah direncanakan cukup lama. Acara ini, kata dia, sebenarnya sudah direncanakan sejak bulan Muharram, namun karena banyak rintangan, acara ini diundur hingga Bulan Rabiul Awal.

“Yang, Alhamdulillah-nya, akhirnya digelar bertepatan dengan Bulan Rabiul Awal,” ungkapnya. Ia menambahkan, tema acara ini diangkat, karena sangat pentingnya untuk membentengi keluarga dari fitnah akhir zaman dengan meneladani sosok Rasulullah SAW.

Melalui Tabligh Akbar ini, jelasnya, peserta diajak untuk memahami bahwa keteladanan Rasulullah SAW adalah kunci dalam membentengi keluarga dari berbagai fitnah di akhir zaman.

Tabligh Akbar dibuka dengan lantunan hadroh dari santri SMP-MA Hidayatullah Depok. Nasyid yang dilantunkan seluruhnya berisi pujian kepada Rasulullah SAW, menambah kemeriahan suasana.

Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Aufa, santri kelas IX SMP Integral Hidayatullah Depok yang juga pernah mewakili Kota Depok dalam Musabaqah Hifdzil Qur’an tingkat provinsi. Ia membacakan Surah Al-Ahzab ayat 21 tentang keteladanan Rasulullah sebagai suri tauladan, dengan bacaan yang menyentuh hati para peserta.

Pesan Penting tentang Shalat

Sesi berikutnya diisi oleh KH. Abu A’la Abdullah, M.H.I., sebagai keynote speaker. Dalam pengantarnya, ia menekankan urgensi shalat sebagai tiang agama.

“Shalat itu penting, karena shalat menjadi penentu kita di akhirat kelak,” ujarnya. Ia menambahkan pesan Rasulullah: “Shalatlah kalian seperti shalatku.”

KH. Abu A’la mengingatkan bahwa mendidik anak dengan ajaran shalat yang benar sesuai sunnah adalah kewajiban mendasar keluarga muslim.

Ia juga menyinggung berbagai problem sosial yang menimpa generasi muda, termasuk penyimpangan perilaku akibat lemahnya iman dan jauhnya dari ibadah.

“Bukan masalah IQ dan kecerdasan, tak ada apa-apanya gelar S3 atau profesor, tapi kalau mengenai ibadah saja masih dikuasai hawa nafsu,” tegasnya.

Menurutnya, fondasi umat Islam haruslah bertumpu pada tauhid dan berhukum pada Al-Qur’an serta berakhlak Qur’ani.

Dengan menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, umat diharapkan mampu menjaga iman, memperkuat keluarga, dan membangun peradaban yang beradab di tengah arus globalisasi dan tantangan akhir zaman.

“Warisan Rasulullah hanya ada dua kepada umat muslim, Quran dan Sunnah. Kalian yang berpegang pada sunnah, tidak akan tersesat selama-lamanya,” pesannya menutup materi pengantar.

Mengupas Zaman Fitnah

Materi inti disampaikan oleh Ust. Ihsan Tanjung, Lc., pakar kajian akhir zaman, dengan dimoderatori oleh Ust. Suhardi Sukiman, S.Th.I.

Ia menjelaskan bahwa tanda kecil kiamat sudah dimulai sejak diutusnya Rasulullah SAW sebagai nabi penutup. “Akhir zaman dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Ust. Ihsan menggambarkan kondisi dunia saat ini yang ditandai dengan hegemoni global, krisis ekonomi, konflik dagang, hingga derasnya arus teknologi.

Di sisi lain, peradaban Islam menghadapi tantangan serius seperti perang pemikiran (ghazwul fikri), disorientasi tujuan hidup umat, dan pelemahan akidah.

“Kita sekarang masuk fase yang paling kelam dalam sejarah Islam, yaitu fase mulkan jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendaknya),” paparnya.

Ia menambahkan bahwa dalam menghadapi era fitnah, umat Islam perlu kembali kepada petunjuk Nabi. Di antaranya adalah menjaga lisan, fokus pada keluarga, serta tidak mudah terseret dalam urusan yang tidak bermanfaat.

“Tetaplah engkau di rumah, kuasailah lisanmu, ambillah apa saja yang kamu ketahui, tinggalkan apa yang tidak kamu ketahui, dan perhatikanlah urusan khusus dirimu,” kata Ust. Ihsan mengutip hadis Rasulullah SAW.

Tiga Program Keluarga Muslim

Dalam kesempatan itu, Ust. Ihsan Tanjung juga memberikan arahan praktis berupa tiga program penting yang dapat dijalankan oleh keluarga muslim di tengah derasnya fitnah akhir zaman.

Pertama, ia menekankan pentingnya pembinaan pribadi muslim melalui thalabul ‘ilm, yaitu menuntut ilmu secara konsisten. Menurutnya, seorang muslim tidak boleh berhenti belajar karena ilmu merupakan cahaya yang akan membimbing seseorang dalam setiap langkah hidup.

Dengan ilmu yang benar, seorang hamba akan mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta menjaga dirinya dari godaan hawa nafsu dan arus pemikiran yang menyesatkan.

Kedua, ia mendorong pentingnya membangun lingkungan islami yang kondusif dengan mempererat persahabatan bersama orang-orang saleh. Ust. Ihsan menegaskan bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang.

Ketika seorang muslim berada dalam lingkaran pertemanan yang baik, maka ia akan terdorong untuk semakin dekat dengan Allah, menjaga akhlak, dan bersemangat menjalankan syariat Islam.

Lingkungan yang saleh, meski dalam lingkup kecil, akan menjadi benteng yang kuat bagi keluarga muslim dalam menghadapi gempuran budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga, ia mengingatkan perlunya menghidupkan semangat persaudaraan Islam melalui tiga nilai utama, yakni tawaashau bil haq, tawaashau bish shabr, dan tawaashau bil marhamah. Dengan semangat saling menasihati dalam kebenaran, umat Islam akan selalu terjaga pada jalan yang lurus.

Dengan menumbuhkan kesabaran, seorang muslim tidak mudah goyah menghadapi ujian kehidupan. Dan dengan menanamkan kasih sayang, persaudaraan akan semakin kokoh, melahirkan solidaritas yang hangat di tengah masyarakat.

Melalui tiga program ini, keluarga muslim diharapkan tidak hanya mampu menjaga ketahanan diri, tetapi juga dapat berkontribusi memperkuat umat secara kolektif. Pesan ini menjadi inti dari refleksi Tabligh Akbar untuk membangun keluarga yang kokoh dengan meneladani Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan.

Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. “Marilah kita berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah, karena zaman semakin lama semakin parah. Mulailah mendekat diri kepada Allah,” serunya.

Tabligh Akbar ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ust. Hafid Bahar, M.M. Suasana khidmat terasa ketika ratusan peserta menundukkan kepala seraya memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Sebagai penutup acara, panitia juga membagikan doorprize berupa sayuran, minyak, hingga bingkisan lainnya, yang menambah keceriaan peserta.

Penyelenggara berharap kegiatan ini mampu menjadi bekal nyata bagi keluarga muslim dalam menghadapi tantangan zaman.

(Laporan naskah oleh Mercyvano Ihsan dan foto oleh Munif Achmad Musyafir, santri Kelas X peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

Dari Teras Rumah Qur’an As Shamad Tebar Cahaya Harapan dari Pinggiran Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam denyut kehidupan ibu kota yang serba cepat, masih ada ruang kecil yang menyimpan harapan akan lahirnya generasi Qur’ani. Di tengah kesibukan warga Jakarta yang tiada henti, muncul inisiatif pendidikan berbasis Al-Qur’an yang berangkat dari realitas sosial.

Usut punya usut, ternyata kendala utama bukanlah kemalasan, melainkan beban biaya hidup. Sebagian besar warga di pinggiran Jakarta tak sanggup menyisihkan uang untuk membiayai anak mereka belajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) yang berbayar.

Keterbatasan ekonomi menjadi tembok tebal yang menghalangi mereka dari pendidikan agama. Berangkat dari kondisi itulah, para dai memutuskan untuk bertindak. Mereka tidak ingin melihat “bibit-bibit” generasi muda layu sebelum berkembang.

Dari keprihatinan tersebut lahirlah gagasan mendirikan Rumah Qur’an, sebuah gerakan pendidikan Al-Qur’an gratis yang terbuka bagi anak-anak dari keluarga sederhana.

Nama ini dipilih untuk menggambarkan cita-cita membumikan Al-Qur’an di setiap permukiman. Sejak awal 2018, Rumah Qur’an As Shamad berdiri di Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, sebagai jawaban nyata atas kebutuhan masyarakat.

Banyak anak-anak usia sekolah dasar tenggelam dalam permainan. Padahal, menurut mereka, waktu sore hingga malam bisa menjadi kesempatan berharga untuk menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an.

Seiring waktu, Rumah Qur’an As Shamad menjelma menjadi oase pendidikan yang memberi harapan. Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena mampu memecahkan masalah yang selama ini membelenggu seperti akses terbatas anak-anak terhadap pendidikan agama.

“Keberadaan Rumah Qur’an ibarat jawaban doa banyak orang tua,” kata salah satu pengajar. Saat ini, lembaga ini telah melahirkan lebih dari 50 santri yang menempuh jalan Qur’an.

Dua guru menjadi penggerak utama yang setia mendampingi anak-anak. Mereka adalah Ustadz Adam Sukiman dan Ustadzah Deuis Nur Aprianti. Dengan bimbingan penuh kesungguhan, sejumlah santri berhasil menorehkan capaian menghafal. Ada yang menamatkan satu juz, bahkan ada pula yang menyelesaikan dua juz Al-Qur’an.

“Saat ini, ada 23 santri dari berbagai usia—dari SD hingga SMP—yang aktif belajar,” terang Ustadz Adam. Aktivitas belajar biasanya berlangsung di teras rumah warga atau balai pertemuan yang disulap menjadi ruang belajar sederhana, namun penuh semangat.

Metode pengajaran yang diterapkan bersifat sederhana, namun hasilnya nyata. “Semua ini berkat dukungan penuh Laznas BMH Jakarta,” ujarnya.

Dukungan tersebut tidak hanya berupa motivasi, melainkan juga bantuan nyata. BMH menyalurkan sembako, kafalah dai, serta wakaf Al-Qur’an. Bantuan tersebut meringankan beban sekaligus meningkatkan motivasi para santri.

Selain sebagai wadah pendidikan, Rumah Qur’an As Shamad hadir juga sebagai cermin solidaritas umat. Dari sini terlihat bagaimana keterbatasan dapat diatasi melalui kepedulian kolektif.

Di tengah keterhimpitan biaya hidup masyarakat pinggiran kota, program ini menegaskan bahwa akses terhadap pendidikan Al-Qur’an adalah hak setiap anak, bukan hanya mereka yang mampu secara finansial.

Dengan langkah sederhana, Rumah Qur’an As Shamad telah menanamkan benih harapan. Dari teras rumah dan balai warga, lahir generasi baru yang tumbuh dengan cahaya Al-Qur’an.

Daurah Wustha Sultanbatara Teguhkan Peran Kader Hidayatullah di Tengah Umat

0

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Daurah Marhalah Wustha (DMW) Se-Sultanbatara yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Kota Parepare pada 11–14 September 2025 menjadi momentum penting penguatan kaderisasi.

Dalam kesempatan itu Muhammad Shaleh Utsman, Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, menegaskan harapan besar agar para peserta semakin teguh dalam membawa risalah dakwah di tengah kompleksitas tantangan umat.

“Setelah mengikuti daurah ini, kami berharap para kader wustha semakin mantap dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Tantangan umat semakin kompleks, dan kader Hidayatullah harus hadir sebagai solusi,” ujar Shaleh Utsman dikutip dari laman hidayatullahsulsel.or.id, Jum’at, 19 Rabiul Awal 1447 (12/9/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Sulsel ini menghadirkan peserta dari tiga provinsi kawasan Sulawesi bagian selatan-tenggara. Tercatat 25 orang dari Sulawesi Selatan, 4 orang dari Sulawesi Tenggara, dan 1 orang dari Sulawesi Barat.

Di tengah padatnya agenda persiapan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, penyelenggaraan daurah tetap mendapat prioritas. Shaleh Utsman menyebut kegiatan tersebut sebagai ruang penting bagi penguatan ruhiyah dan intelektual kader.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan emas bagi peserta untuk meneguhkan komitmen dakwah,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Nasri Bohari, menekankan arti penting pelaksanaan daurah, terlebih menjelang akhir periode kepengurusan 2021–2025.

“Agenda ini diharapkan melahirkan kader-kader unggul yang siap mengemban amanah dakwah di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa terlaksananya kegiatan tersebut merupakan hasil kerja kolektif. Terlaksananya DMW ini, jelas Nasri, merupakan hasil kolaborasi kuat berbagai pihak, termasuk DPP, DPW, DMW, DPD Parepare, Yayasan Al Mubarak Hidayatullah Parepare, BMH, dan Sekolah Dai Hidayatullah (SDH).

“Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kaderisasi adalah kerja bersama, bukan kerja individual,” tegas Nasri Bohari dalam sambutannya.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi intensif yang meliputi manhaj tarbiyah Hidayatullah, strategi dakwah komunitas, penguatan fikrah Islamiyah, serta manajemen organisasi. Selain itu, acara turut diisi dengan agenda penguatan spiritual dan akhlak seperti shalat lail, muhasabah, dan tausyiah umum.

Kegiatan DMW Sultanbatara di Parepare tidak hanya menghadirkan pengayaan materi, tetapi juga diharapkan memperkokoh jaringan kaderisasi di tiga provinsi wilayah selatan, barat, dan tenggara Sulawesi.

“Dengan fondasi itu, diharapkan lahir kader dakwah yang konsisten mengemban amanah demi terwujudnya Peradaban Islam,” imbuh Nasri.