Beranda blog Halaman 597

Ratusan Santri Kampus Gunung Tembak Ikuti Tasyakuran Akbar

150 Santri ikuti Tasyakuran akbarHidayatullah.or.id – Ratusan santri menghadiri acara Tasyakuran Akbar yang digelar di Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu (28/05/2016).

Hadir pada acara Tasyakuran itu diantaranya seluruh santri yang terdiri dari Santri Masdarasah Ibtidayah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah Radhiyatan Mardiyah, Tahfidzul Quran Ahlush Shuffah serta Mahasiswa STIS Hidayatullah. Tak ketinggalan para orang tua santri yang turut hadir pada acara ini.

Tasyakuran Akbar ini merupakan acara rutin tahunan yang digelar oleh Pondok Pesantren Hidayatullah untuk melepas para anak didiknya setelah dinyatakan lulus di level sekolah dasar, sekelah menengah pertama, menengah atas, para santri khusus penghafal Alquran serta Mahasiswa STIS Hidayatullah sendiri yang secara keseluruhan berjumlah 150 siswa.

Ketua Bidang Pengkaderan Yayasan Hidayatullah Abdul Ghofar Hadi mengatakan, pendidikan diterapkan di pondok pesantren ini berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Sebab selain memberikan pendidikan formal, adapula pendidikan mental dan spritual.

“Pendidikan mental dan spritual inilah yang selalu kami terapkan agar mereka menjadi seorang yang tangguh dengan dasar iman yang kuat,” ujar Abdul Ghofar kepada sejumlah wartawan mewawancarainya.

Acara Tasyakuran ini berlangsung cukup meriah, sebab ada beberapa sesi acara hiburan, diantaranya tarian, peragaan beladiri serta penampilan Nasyid yang diperagakan oleh para santri sendiri. (Alfian Tamzil)

BMH Tercatat Laznas Tercepat dalam Pelaporan ke Baznas

ILUSTRASI: Bantuan USD 5,340 dari para Muhsinin melalui Baitul Maal Hidayatullah untuk Pusat Pengobatan Kanker Al-Huda di kota Gaza. // FOTO: Sahabat Al-Aqsha
ILUSTRASI: Bantuan USD 5,340 dari para Muhsinin melalui Baitul Maal Hidayatullah untuk Pusat Pengobatan Kanker Al-Huda di kota Gaza. // FOTO: Sahabat Al-Aqsha

Hidayatullah.or.id – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) kembali mendapat catatan positif. Kali ini menjadi Laznas yang tercepat dalam mengirimkan laporan keuangan tahun 2015 kepada Baznas.

Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Amil Zakat di Gedung Arthaloka Jakarta Pusat (25/5) yang mengangkat tema “Strategi Kebangkitan Zakat 2016-2020.”

“Dalam catatan Baznas, BMH menjadi Laznas yang berada di nomor empat dari 11 daftar Laznas yang sudah menyampaikan laporan kepada Baznas,” ungkap Direktur Utama BMH, Supendi.

“Yang sangat menggembirakan, dari 11 Laznas yang ada, BMH menjadi satu-satunya Laznas yang tercepat dalam pelaporan keuangan ke Baznas dengan status telah menyandang legalitas dari pemerintah berdasarkan UU No. 23 Tahun 2011,” imbuhnya.
Dengan adanya catatan positif ini, BMH berkomitmen semakin kooperatif dengan semua pihak, terutama Baznas sebagai perwakilan pemerintah yang menangani perzakatan di negeri ini.

“Insya Allah BMH akan semakin terpacu untuk senantiasa meningkatkan kerjasama dengan segenap pihak, terutama Baznas. Apalagi dengan core program dakwah dan pendidikan hingga daerah pedalaman dan perbatasan, sangat tidak mungkin BMH bergerak sendiri. Perlu dukungan semua pihak, terutama umat Islam,” ungkap Supendi. (Humas BMH)

Menteri Agama Silaturrahim ke Hidayatullah Liang Ambon

Menteri Agama Bersilaturrahim ke Hidayatullah Liang Ambon Menteri Agama Bersilaturrahim ke Hidayatullah Liang Ambon 2Hidayatullah.or.id – Menteri Agama Rrepublik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Liang, Kota Ambon, Maluku Tengah, Rabu (25/05/2016).

Menag yang masih menggunakan seragam pramuka bersilaturahim dengan pengurus dan santri Pondok dilanjutkan meletakan batu pertama pembanguna gedung madrasah di lingkungan Ponpes.

Kunjungan Menag ini dilakukan usai membuka pelaksnaan Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) ke-II Tahun 2016 yang tahun ini pelaksanaannya di Pantai Liang. Pantai indah yang bisa ditempuh tidak jauh dari kota Ambon.

Kehadirannya sekaligus melakukan peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Ruang Kelas Belajar (RKB) Madrasah Ibtidaiyah Salman Al-Farisi Hidayatullah Liang Ambon yang beralamat di Jalan Raya Liang Ambon KM 36 Desa Liang, Dusun Tanah Merah Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah.

Menteri Agama RI yang didampingi Gubernur Maluku Ir. Said Assegaf beserta Kanwil Provinsi, melihat langsung perkembangan Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Saya merasa kagum kepada Hidayatullah, karena terus mengalami perkembangan di bidang pendidikan. Ini juga pesantrennya bersih, indah dan tertata rapi,” ungkapnya kepada hadirin yang mengiringinya menuju lokasi peletakan batu pertama.

Dalam kesempatan berbahagia tersebut, Menteri Agama RI berjanji akan memberikan bantuan dari anggaran Kemenag sekaligus sebagai pribadi.

“Alhamdulillah, Pak Menteri Agama RI meminta kami untuk mengajukan proposal. Dan, secara pribadi beliau juga memberikan bantuan sebesar 150 juta untuk Ruang Kelas Belajar (RKB) Madrasah Ibtidaiyah Salman Al-Farisi Pesantren Hidayatullah Liang Ambon,” ungkap Pimpinan Pesantren Hidayatullah Liang Ambon Nur Fatahudin Amin.

Sebelum meninggalkan lokasi, Menteri Agama RI berpesan agar Hidayatullah terus berkomitmen membangun pendidikan dengan melahirkan generasi berdaya saing.

“Saya berharap semoga pendidikan di Hidayatullah bisa lebih meningkat dan melahirkan lulusan terbaik yang bisa bersaing,” ucapnya.* (Ibnu Suradi)

Peran Penting Keluarga dalam Membangun Peradaban

Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei 2016).
Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei 2016).

Hidayatullah.or.id – Ketua Bidang Dakwah dan Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Tasyrif Amin, mengingatkan peran penting keluarga Muslim dalam membangun kembali peradaban Islam.

Menurutnya, rumah tangga syariah adalah basis atau rahim dari sebuah peradaban Islam yang hendak dibangun.

Sebaliknya, ketika anggota keluarga kehilangan ruh syariah tersebut, bisa dipastikan tidak ada kader dakwah apalagi pemimpin yang bisa diharap dari rumah tangga demikian.

Hal itu dinyatakan beliau di depan ratusan warga dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Hadir di kesempatan yang sama, 70 orang Murabbi dan Ketua Perkaderan Hidayatullah di seluruh wilayah nusantara yang mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei 2016).

“Hati-hati dengan penyakit yang biasa menjangkiti dai. Ia sibuk menyerukan kebaikan ke tengah umat. Tapi lupa mendakwahi dan mendidik anak-anak dan anggota keluarganya sendiri,” ucap Ust Tasyrif memperingati.

Untuk itu ustadz yang juga pembina kampus Hidayatullah di beberapa daerah ini menerangkan adanya sejumlah tipikal rumah tangga dalam al-Qur’an.

Pertama, jelas Ust Tasyrif, adalah rumah tangga Nabi Ibrahim. Diceritakan, Nabi Ibrahim adalah teladan utama dalam membina keluarga.

Mulai dari minta istri, minta anak, hingga berdoa agar keturunannya menjadi pemimpin orang-orang beriman. Semua itu, lanjutnya, tak lepas dari permohonan doa kepada Allah.

“Itu adalah doa politik, menjadikan semua keturunannya sebagai Nabi dan pemimpin bagi orang beriman,” ungkap Ust Tasyrif.

Sebaliknya, ada dua tipikal rumah tangga yang berkebalikan. Yaitu antara keluarga Nabi Nuh yang istrinya kafir dan membangkang. Serta keluarga Fir’aun yang Asiah, istrinya justru menjadi wanita yang kokoh keimanannya.

“Jadi yang membedakan itu adalah istri, ketika istri tak bisa berperan sebagai pendidik,” papar Tasyrif menerangkan.

“Istri Nabi Nuh yang tidak jadi pendidik menghasilkan Kan’an, anak yang juga pembangkang. Sedang Asiah berhasil mendidik Musa meski berada di bawah kekuasaan Fir’aun,” imbuh Ust Tasyrif kembali.

Selanjutnya, masih menurut Ust Tasyrif, ada tipikal rumah tangga yang unik. Yaitu keluarga Maryam.

Disebutkan, meski tanpa ayah, seorang ibu tetap bisa menjadi pendidik yang berhasil mengkader Isa, putranya.

Terakhir, Ust Tasyrif mengingatkan untuk menjauhi seburuk-buruk tipe keluarga yang dilakoni oleh Abu Lahab.

“Keluarga itu hanya bisa memproduksi kejahatan demi kejahatan. Semuanya saling membantu untuk keburukan,” tutup Tasyrif. */Masykur Abu Jaulah

Merawat Dua Warisan Amal Jariyah Perintis Hidayatullah

ILUSTRASI: Hidayatullah terus menguatkan peran dan sinergi dengan berbagai elemen umat. Tampak Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, membuka Munas IV Hidayatullah di Balikpapan, November 2015 lalu.
ILUSTRASI: Hidayatullah terus menguatkan peran dan sinergi dengan berbagai elemen umat. Tampak Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, membuka Munas IV Hidayatullah di Balikpapan, November 2015 lalu.

Hidayatullah.or.id – Berdiri sejak 1973, sekurangnya ada dua warisan berharga yang ditinggal oleh pendiri dan para perintis Pondok Pesantren Hidayatullah hingga saat ini.

Dua warisan amal jariyah tersebut adalah kampus peradaban sebagai sarana berislam dan roda regenerasi kader dakwah sebagai sistem perkaderan.

Khusus yang disebut terakhir, bidang perkaderan dan pembinaan anggota Hidayatullah adalah motor utama dalam menggerakkan roda sistem tersebut.

“Setiap kampus Hidayatullah tentu memiliki masjid sebagai jantung peradaban sekaligus pusat transformasi nilai-nilai peradaban itu,” ungkap Ustadz Nur Fuad, Ketua Departemen Pembinaaan Anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Bersama sejumlah pengurus DPP lainnya, Ust Nur Fuad hadir di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai pemateri kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bidang Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei-2016).

Rakernas yang mengusung tema “Penguatan Halaqah Sebagai Tarbiyah dan Kepemimpinan” tersebut dihadiri oleh puluhan Murabbi dan Ketua Departemen Perkaderan Hidayatullah dari setiap wilayah di nusantara.

Menurut Ust Fuad, curah gagasan di atas melahirkan kesepakatan program nasional di setiap masjid kampus Hidayatullah.

Disebutkan, program yang dimaksud berupa taklim atau halaqah diniyah bakda Shalat Maghrib dan Shubuh di masjid.

“Program ini merujuk kepada kegiatan yang sudah berjalan di kampus induk Hidayatullah Gunung Tembak dengan segala pembenahan dan penyempurnaannya,” ungkap ust Fuad menjelaskan.

Ust Fuad berharap, selain sebagai wadah pembinaan anggota dan kader Hidayatullah, taklim dan halaqah diniyah itu bisa menjadi bekal memahami sejumlah kitab agama, dan bekal untuk mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari.

Sedianya, sebagai panduan taklim atau halaqah diniyah tersebut, Departemen Pembinaan anggota DPP Hidayatullah akan menggunakan rujukan kitab yang standar dan diakui (muktabar) di kalangan ahlus sunnah.

Sebut misalnya Kitab Minhajul Muslim al-Jazairi (akidah), Kitab Taisir Karim ar-Rahman (tafsir), Kitab Taudhih al-Ahkam (hadits ahkam), Kitab ar-Rahiq al-Makhtum (sirah), dan Kitab Arabiyah Baina Yadaik (bahasa Arab). */Masykur Abu Jaulah

Terus Mendakwahkan Tauhid sebagai Pilar Kebahagiaan

ILUSTRASI: Terus memenuhi penggailan dakwah untuk umat. Tampak dai Hidayatullah, Ust Muhammad Bashori, menyeberangi sungai Pasangkayu, Sulbar, karena masih nihilnya infrastruktur di kawasan tersebut // FOTO: dok
ILUSTRASI: Terus memenuhi penggailan dakwah untuk umat. Tampak dai Hidayatullah, Ust Muhammad Bashori, menyeberangi sungai Pasangkayu, Sulbar, karena masih nihilnya infrastruktur di kawasan tersebut // FOTO: dok

Hidayatullah.or.id – Demi menegakkan kebenaran, amanah nubuwah tak boleh terputus dan terus berlangsung meski masa kenabian itu sudah tidak ada lagi.

Demikian penyampaian salah seorang perintis Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdul Latif Usman, di hadapan ratusan jamaah masjid Agung ar-Riyadh, Balikpapan, Jumat, (20/5/2016).

Menurut Ust Abdul Latif, kebenaran tauhid mesti terus didakwahkan sebab hanya itulah yang bisa membuat manusia bahagia serta selamat dunia dan akhirat.

“Kalimat tauhid ini yang berfungsi untuk membenarkan pola pikir dan pola sikap dalam kehidupan manusia,” ucap dai yang telah menghabiskan puluhan tahun berdakwah di pedalaman Kalimantan tersebut.

Disebutkan sejarah, tak sedikit pengorbanan yang harus tumpah dalam urusan dakwah tauhid. Mulai dari berkorban waktu, harta, hingga jiwa sekalipun. Semata-mata untuk menyampaikan kunci surga, selamat dunia akhirat.

Untuk itu meningatkan kedatangan bulan Ramadhan yang kian dekat hendaknya dimanfaatkan setiap orang beriman sebagai ladang meraih bekal takwa sebanyak-banyaknya.

“Inilah Ramadhan. Saatnya mendekat dan menyadari tiada kekuatan selain kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Ust Abdul Latif mengingatkan.

“Sebab tugas yang diemban sangat berat. Ia adalah amanah para nabi. Namun setiap Muslim wajib mengambil peran dakwah, meski dengan jalan yang penuh liku,” imbuh Ust Abdul Latif semangat.

Lebih jauh, Ust Abdul Latif mengaku memaklumi jika dalam berbagai pertemuan seringkali kader Hidayatullah di berbagai daerah punya banyak kekurangan.

“Ada yang bilang kekurangan kader dakwah, minim sekolah, kurang tenaga guru, hingga dana yang tidak mencukupi,” ucap beliau.

Namun kekurangan itu, masih menurut Ust Abdul Latif, bukan untuk dikeluhkan kepada manusia. Tapi sebagai bahan laporan dan alasan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala.

“Seorang kader dakwah itu pantang mengeluh apalagi menyerah. Sebaliknya ia harus maksimal bekerja dan terus berdoa serta tawakkal hanya kepada Allah,” tutup beliau Latif tegas. */ Masykur Abu Jaulah

Kuatkan Peran Kampus untuk Bangun Bangsa Berperadaban

Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin / dok
Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin / dok

Hidayatullah.or.id – Satu hal yang patut disyukuri oleh kader Hidayatullah adalah adanya kampus-kampus Hidayatullah yang menjadi alat peraga dalam membangun nilai-nilai dan budaya Islam yang luhur.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Dakwah dan Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz Tasyrif Amin, di hadapan ratusan jamaah Masjid Agung ar-Riyadh, Balikpapan, Jumat, (20/5/2016).

Hadir di kesempatan yang sama, 70 orang Koordinator Murabbi dan Ketua Perkaderan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah seluruh nusantara yang mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota Hidayatullah.

Menurut Ust Tasyrif, keberadaan kampus adalah bagian dari metodologi Hidayatullah dalam perannya turut membangun bangsa yang berperadaban mulia. Hal itu bahkan diakui Tasyrif sebagai corak khas dakwah yang sudah berusia 40 tahun, seiring kiprah Hidayatullah dalam membina umat.

“Di kampus-kampus itulah Hidayatullah menggulirkan transformasi nilai-nilai peradaban yang hendak dibangun,” ucap Ust Tasyrif.

Disebutkan, selain kampus sebagai keunggulan utama, pilar peradaban lainnya adalah rumah tangga syariah. Sebab disadari perkembangan dakwah dan tantangannya ke depan menjadikan tidak semua warga Hidayatullah mesti berkampus di satu tempat.

Di sinilah pentingnya, lanjut Ust Tasyrif, peran rumah tangga syariah tersebut sebagai basis pertama penerapan nilai nilai Islam yang luhur.

Menurutnya, perilaku atau budi pekerti yang agung ditampilkan di tengah masyarakat merupakan cermin dari hasil didikan dalam keluarga.

“Karenanya, jika setiap rumah tangga syariah tersebut memerankan fungsi peragaan peradaban Islam, maka itu besar sekali pengaruh dan kontribusinya kepada masyarakat,” ungkap Ust Tasyrif.

Untuk itu, lanjut Tasyrif, diwajibkan setiap rumah tangga kader Hidayatulllah menjadi alamat pertama dari peradaban Islam tersebut.

“Ini adalah kekuatan dakwah Islam, ketika kader-kader biologis dan akademis bertransformasi menjadi kader-kader ideologis yang unggulan di masa yang akan datang,” tutup Ust Tasyrif berharap. */ Masykur Abu Jaulah

Hidayatullah NTB Gelar Tabligh Akbar Sambut Ramadhan

Hidayatullah NTB Gelar Pengajian Akbar Sambut RamadhanHidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat (NTB) melaksanakan kegiatan pengajian akbar menyambut Ramadhan yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) Ahad, 22 Mei 2016.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Mataram. Hadir dalam pengajian tersebut ratusan jamaah yang memenuhi halaman depan Masjid Al Khaibar.

Hadir Tuan Guru Haji (TGH) Saefuddin Nawawi menjadi penceramah tunggal dalam pengajian tersebut.

Dalam penyampaiannya, alumni Universitas Madinah ini menyampaikan akan pentingnya dampak dari bulan ramadhan, bukan dalam proses puasa di bulan Ramadhan itu sendiri.

“jika setelah Ramadhan nanti, tidak ada dampak positif dalam ibadah kita atau tata cara berislam kita, maka bisa dikatakan bahwa puasa kita belum mampu menghasilkan dampak ketakwaan,” jelas pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Mataram ini.

Beliau juga mengingatkan bahwa ibadah ibadah yang lain harus tetap juga diprioritaskan, utamanya yang fardhu seperti sholat dan zakat.

Beliau menegaskan, zakat itu tidak hanya di bulan ramadhan, tetapi harus dihitung berdasarkan nisab dan haul.

“Harus diingat juga bahwa ramadhan adalah momen turunnya Al Qur’an, ini menjadi pengingat kita agar bisa mentadabburi Alqur’an. Dicoba untuk membaca Alqur’an sampai khatam dengan artinya, apalagi dengan tafsirnya” tambah TGH Saefuddin Nawawi.

Pada bulan Ramadhan kali ini Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Mataram menggulirkan sejumlah program kegiatan. Selain kegiatan ibadah rutin yang digelar di masjdi pesantren yang terbuka untuk umum, juga ada kegiatan shalat tahajjub berjamaah. Juga itikaf di penghujung 10 terakhir Ramadhan.

Selain itu juga ada program penghimpunan zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) dari masyarakat dan kemudian disalurkan kepada yang berhak yang dilakukan oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah NTB yang turut didukung oleh DPW Hidayatullah setempat.*/ Sulkipli

Lazis PLN Serahkan 50 Juta Bantu Hidayatullah Manokwari

pln dan hidayatullah manokwariHidayatullah.or.id – Pesantren Hidayatullah Manokwari, Provinsi Papua Barat, mendapat bantuan dari Lazis PLN Manokwari sebesar 50 juta untuk program Pesantren Bersih, Sabtu (21/05/2016).

Acara penyerahan secara simbolis dilaksanakan di Gedung Perkantoran PLN Manokwari Jalan Bandung Borarsi, Kecamatan Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Manager PT PLN Cabang Manokwari, Mesakh KyewKyew, dan diterima oleh perwakilan Pesantren Hidayatullah Manokwari Miftahuddin.

Seremoni penyerahan bantuan tersebut turut disaksikan Ketua Lazis PLN Manokwari Riantri Pane dan Sekretaris Angga.

Dalam sambutannya Manager PT PLN Cabang Manokwari, Mesakh KyewKyew, mengatakan bahwa selaku manager PLN Manokwari sangat mendorong terbentuknya Lazis PLN di Manokwari. Hal itu menurutnya akan membantu PLN dalam menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat.

Ia juga mengapresiasi Hidayatullah Manokwari sebagai lembaga sosial yang telah turut mendorong pembangunan sumber daya manusia di kawasan tersebut. “Semoga perannya dapat terus dijaga dan ditingkatkan,” katanya.

Ketua Lazis PLN Manokwari Riantri Pane menambahkan bahwa program Pesantren Bersih merupakan program Lazis PLN Pusat yang diperuntukkan khusus untuk pesantren-pesantren.

“Bentuk bantuannya memberikan sarana MCK untuk santri, sehingga para santri di fasilitasi agar membiasakan untuk hidup bersih,” kata Riantri.

Sementara itu perwakilan pengurus Pesantren Hidayatullah Manokwari, Miftahuddin, menyampaikan ucapan terima kasih dan bantuan Lazis PLN Manokwari ini.

“Ini sangat bermanfaat bagi para santri, sebab sudah cukup lama santri kami masih sering nebeng di MCK masjid pesantren karena masih terbatasnya infrastruktur yang ada,” kata Miftahuddin.

Harapannya, kata dia, bantuan Lazis PLN Manokwari tidak berhenti di sini dan terus terjalin sinergi dalam mengangkat program-program keummatan. (ybh/hio)

Bangga Putra Adonara Flores Juara Sains Tingkat Provinsi

Putra Flores Adonara Bangga Juara Sains Tingkat Provinsi Putra Flores Adonara Bangga Juara Sains Tingkat Provinsi2Hidayatullah.or.id – Putra kelahiran Adonara, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bernama Ardiansyah (14 tahun), bangga setelah sukses menjuarai ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Provinsi, belum lama ini.

Santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte, Kupang, NTT, ini mengaku dirinya tak menyangka kalau akan menang.

Ardi, begitu ia karib disapa, bercerita, “mana mungkin ustadz saya juara, setiap hari kita di pondok hanya makan mie instan. Masa‘ ada harapan saya untuk menang di KSM”. Demikian ia berkisah dengan nada sedikit pesimis.

Bertempat di ruang Aula Kementrian Agama, Oelamasi, Kabupaten Kupang, NTT. Ardi siswa kelas 2 MTs Hidayatullah Kupang ini, telah mengikuti kompetensi sains tingkat Kecamatan dan Kabupaten mengalahkan 22 Kabupaten yang ada di NTT.

Pada tanggal 12 April lalu Ardi dan teman-temannya mengikuti ujian Kompetensi Sains Madrasah Tingkat Provinsi. Setelah dihubungi Syamsudin Ridwan, selaku pihak Kemenag Kabupaten Kupang, Ardiansyah yang Kelahiran Adonara, 25 Januari 2001, ini dikabari akan lanjut berkompetisi ke tingkat nasional. Rencana kegiatan KSM Nasional akan digelar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, tahun ini.

Guru Kepala MTs Hidayatullah Kupang, Ilham Lubis S.Pd.I, mengatakan, “Alhamdulillah, kami ucapkan terimakasih atas prestasi yang dicapai oleh anak didik kami ke tingkat nasional. Semoga Ardi bisa mengharumkan nama Madrasah Tsanawiyah Hidayatullah Kupang di tingkat nasional nanti”.

Suratman M. Qosim selaku guru pembimbing dan pendamping selama KSM berlangsung mengatakan, “Hal yang pertama adalah rasa syukur diucapkan kepada Allah yang Maha Kuasa atas pencapaian ini. Dan kedua tentu kami bangga dengan hasil anak didik kami, yang bisa meraih prestasi juara satu untuk mata pelajaran fisika tingkan MTs dan juara 3 untuk mata pelajaran ekonomi tingkat MA”.

“Walau di tengah keterbatasan segala fasilitas, anak didik kami tetap berusaha sungguh-sungguh dalam meraih keinginan mereka,” lanjut Suratman yang juga mahasiswa Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang ini.

Suratman Kasim mengatakan, “Kami melihat Ardi selalu serius saat dijelaskan materi yang akan diujikan. Hingga larut malampun ia dan teman teman yang lain tetap bertahan dengan semangat 45. Seperti biasa di pondok, usai shlat shubuh dan wirid pagi, Ardi dan teman yg lainpun lanjut belajar bersama”.

Saat ditanya apa kiat Mahasiswa UNDANA ini dalam mengajar? Ia menyampaikan, “Teori yang akan kita ajarkan kepada anak didik itu sifatnya abstrak, nah tugas guru adalah membuat teori tersebut sekongkret mungkin serta cara mengevaluasinya. Simpel saja, kemampuan siswa kami sudah petakan, ada yang kelompok kemampuan di atas rata-rata, sedang dan kelompok rendah,” ujarnya.

“Untuk mengetahui masing-masing kemampuan peserta didik adalah, setelah membahas sub dan bab-nya langsung saja dilontarkan pertanyaan kepada siswa yang kemampuannya rendah. jika anaknya bisa menjawab, berarti lebih dari 90 persen siswa sudah memahami,” demikian lanjut Suratman menandaskan. */Abu Zain Zaidan