Hidayatullah.or.id – Wakil Presiden Republik Indonesia, H. Muhammad Jusuf Kalla, mendorong ormas Hidayatullah untuk terus memantapkan peran dakwahnya dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi.
Demikian dikatakan Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, usai diterima Wakil Presiden di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (16/5/2016).
“Pak Wapres juga menyampaikan selamaat kepada pengurus DPP Hidayatullah yang baru periode 2015-2020 serta mengapresiasi Hidayatullah sebagai ormas Islam yang sangat cepat perkembanganya,” kata Nashirul kepada media.
Wapres Jusuf Kalla, lanjut Nashirul, pula menyampaikan secara ekonomi ummat Islam tertinggal Jauh. Wapres menilai terorisme dan komunisme masuk karena adanya kemiskinan dan kesenjangan sosial. Karena itu Wapres berpesan rakyat harus disejahterakan dan dimakmurkan sehingga tidak ada celah bagi gerakan komunis untuk memanfaatkn kesenjangan sosial.
Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, di hadapan wartawan usai bertemu Wapres Jusuf Kalla di kantornya, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (16/5/2016).
“Maka ormas Islam seperti Hidayatullah dituntut untuk mengembangkan kemandirian ekonomi, yang dimulai dari memberdayakan anggota. Melaui etos kerja dan kewirausahaan. Dari anggota yg berdaya ini akan menghidupi organisasinya, dengan membayar iuran dan ZIS,” kata Wapres seperti diutarakan Nashirul.
Doakan JK Selalu Sehat
Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq menyampaikan doa agar Wapres Jusuf Kala di usianya yang ke 74 tahun selalu dalam keadaan sehat walafiat sehinga dapat terus berbuat maksimal untuk agama, nusa, dan bangsa.
“Kami juga melaporkan program prioritas Hidayatullah di bidang pendidikan dan dakwah sebagai mainstream gerakan serta program ekonomi.
Di bidang pendidikan, Pak Wapres mendorong Hidayatullah mengembangkan pendidikn Islam yang berkualitas baik yang bersubsidi untuk dhuafa maupun yang bayar untuk kalangan mampu,” tukasnya.
Hadir mendampingi Wapres Jusuf Kalla, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Kasetwapres Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, dan Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah Syahrul Udjud.
Sementara dari DPP Hidayatullah turut mendampingi Ketua Umum, Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto, Wakil Sekjen I Sofjan Sumlang, Ketua Bidang Perekonomian Asih Subagyo, Anggota Dewan Pertimbangan Hamim Thohari, dan Ketua Dewan Mudzakarah Abu A’la Abdullah. (ybh/hio)
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPW) Hidayatullah Sultra, Nasri Bohari (kanan) saat bersilaturrahim ke Graha Pena Kendari Pos yang diterima oleh Dirut Kendari Pos, Irwan Zainuddin (kiri) dan Direktur Kendari Pos, La Ode Diada Nebansi, Kamis (12/5).
Hidayatullah.or.id – Ormas Islam Hidayatullah terus melakukan berbagai cara untuk mewujudkan Kota Kendari menjadi kota religi, aman dan tentram.
Untuk mencapai itu semua, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra), Nasri Bohari, beserta jajarannya menyambangi Graha Pena Kendari Pos, Kamis, (12/5) pagi.
Kedatangan rombongan tersebut disambut hangat langsung oleh Dirut Kendari Pos Irwan Zainuddin Direktur Kendari Pos, La Ode Diada Nebansi dan Wakil Direktur Keuangan, Agus Tranhadi.
Nasri Bohari mengatakan, kedatangannya tersebut bermaksud menjalin silaturahmi bersama pimpinan media terbesar dan paling berpengaruh di Sultra tersebut.
Selain itu, pihaknya juga menawarkan untuk bersinergi bersama Kendari Pos, untuk memberikan subangsi tulisan keagamaan setiap pekannya. Mengingat bulan suci Ramadan sudah semakin dekat menghampiri kaum muslimin pada bulan Juli mendatang.
“Peran media begitu besar pengaruhnya dan menjadi pusat perhatian masyarakat. Olehnya itu, bigitu pentingnya menjalin sinergitas dalam mewujudkan kendari menuju kota religi, aman, dan tentram. Untuk mewujudkan itu semua, tentunya melalui berbagai kegiatan keagamaan bagi kaum muslimin,” urai Nasri Bohari saat menyambangi Graha Pena Kendari Pos didamping pengurus DPW Hidayatullah lainnya.
Sementara itu, Dirut Kendari Pos, Irwan Zainuddin mengapresiasi program yang dicanangkan Hidayatullah tersebut.
Olehnya itu, pimpinan media terbesar di Sultra tersebut siap bersinergi untuk mewujudkan kota Kendari yang religius melalui bergagai program keagamaan yang akan diselenggarakan Ormas Islam tersebut.
Tak hanya itu, pihaknya juga menyediakan rubrik khusus untuk menampung tulisan-tulisan keislaman. “Kami menyediakan rubrik tersebut rencananya akan terbit setiap pekan di hari Jumat nantinya,” tandasnya. (Hadrian/Kendari Post)
Hidayatullah.or.id – Departemen Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar selama 3 hari di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, dan dibuka pada Rabu (18/05/2016).
Rakernas yang mengusung tema “Penguatan Halaqah sebagai Tarbiyah dan Kepemimpinan” ini dihadiri sedikitnya 70 peserta koordinator murobbi dan seluruh ketua Departemen Perkaderan DPW dari seluruh Indonesia.
Rakernas ini dibuka langsung oleh Ketua DPP Bidang Dakwah dan Tarbiyah DPP Hidayatullah, Drs. Tasyrif Amin MA.
Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya seorang kader dan proses pengkaderan. Jika tidak mengkader, suatu organisasi bisa dipastikan tidak berlanjut. Kader, tegasnya, adalah kebutuhan mendasar dalam sebuah organisasi.
Rakernas ini diharapkan semakin mendorong serta menguatkan peran koordinator murobbi dan departemen perkaderan DPW di seluruh Indonesia untuk bisa melakukan penguatan rekrutmen dan kaderisasi. */Abu Fathun
Ketua PINBUK Abdul Jabir Uksim (baju batik), didampingi pemandu acara Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Asih Subagyo, saat menjadi pembicara dalam acara Workshop Hidayatullah Incorporated di Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (17/05/2016) // Foto: Yacong B. Halike
Hidayatullah.or.id – Dengan jaringannya yang menjangkau seluruh nusantara serta kekhasan profil kadernya, Hidayatullah memiliki potensi ekonomi menjanjikan yang apabila hal itu dapat dioptimalkan dengan baik akan turut menopang mainstream gerakan Hidayatullah khususnya di bidang dakwah.
Hal itu mengemuka dalam Workshop Hidayatullah Incorporated bertema “Redesain Ekonomi Menuju Kemandirian Organisasi” yang diselenggarakan DPP Hidayatullah Bidang Perekonomian di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), Selasa (17/05/2016). Hadir sebagai pembicara Ketua Umum Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Abdul Jabir Uksim.
Turut hadir jajaran pengurus DPP Hidayatullah dalam workshop tersebut Ketua Umum Nashirul Haq, Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto, beserta Bendahara Umum Wahyu Rahman.
Turut pula memberikan curahan gagasan diantaranya ketua-ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah yaitu Ketua Departemen Kewirausahaan dan Koperasi Hamzah Akbar, Ketua Departemen Ekonomi Kelembagaan Miftachurrahman, Ketua Departemen Keuangan dan ZIS Marwan Mujahidin, Ketua Departemen Wakaf dan Kehartabendaan Syaefullah Hamid, serta Ketua Bidang Perekonomian Asih Subagyo, yang sekaligus memandu acara ini.
Dalam pemaparannya, Abdul Jabir Uksim mengemukakan pentingnya kemandirian ekonomi bagi suatu organisasi atau komunitas.
Mantan caretaker Pengurus Kamar Dagang Indonesia Sulawesi Tenggara ini mengatakan kemandirian ekonomi organisasi dibangun layaknya usahawan pada umumnya dimana di sana akan tetap terdapat risiko-risiko.
Dikatakan Jabir, ada 3 hal yang perlu diperhatikan untuk membangun kemandirian ekonomi organisasi yang darinya kemudian diharapkan akan menyingkap desain atau format baru dalam tatakelola potensi ekonomi yang ada untuk dimanfaatkan sebesar-bersanya untuk menggerakan roda organisasi.
Pertama, pengalaman. Jatuh bangun dalam sebuah usaha adalah hal biasa. Itulah kenapa pengalaman tidak pernah bisa dinilai dengan uang. Semakin banyak kita memiliki pengalaman maka semakin banyak cermin yang dapat kita gunakan untuk berkaca dan terus belajar.
“Pengalaman akan menjadikan kita tahu dan mengerti sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pengalaman akan menempa kepekaan relasionalitas sebab tidak semua orang sama mindsetnya, sementara dalam usaha ini yang terpenting adalah menempatkan sumber daya sesuai core-nya (kemampuannya),” kata Jabir.
Kedua, kesatuan hati. Dengan hati yang selalu terpaut sebesar apapun masalah bisa diatasi. Sehingga, Jabir menegaskan, keterpaduan visi setiap pribadi di dalam tubuh organisasi sangat menentukan sukses gerakan kemandirian organisasi.
“Masalah yang datang dari luar itu mudah diselesaikan. Justru masalah yang susah sekali diselesaikan itu kalau dari dalam. Jangan sampai sama-sama di dalam tapi semua mau jadi raja-raja kecil. Karena itu harus ada kesatuan hati, chemistry-nya harus ketemu,” katanya.
Ketiga, fokus. Berusaha tidak keluar dari koridor dan kekhasan gerakanya. Fokus di sini termasuk adanya konsistensi penempatan sumber daya manusia yang ada. Jangan sampai, kata Jabir, orang yang sebenarnya kompetensinya di media, tapi disuruh mengurus sekolah.
Menurut Jabir, ketiga hal tersebut sangat menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya suatu organisasi untuk membentuk holding company dimana hal tersebut dianggap merupakan jalur yang tepat untuk membangun kemandirian organisasi.
Lebih jauh beliau menjelaskan, membangun kemandirian organisasi dengan konsep holding company merupakan terobosan yang ideal kendatipun tetap tak terlepas dari berbagai risiko. Karenanya, ia menyarankan tahapan pembentukannya pun harus realistis dan dengan kalkulasi rasional.
“Pertama-tama lakukan idetifikasi potensi, setelah itu menyamakan mindset. Setelah keduanya sudah sangat matang, baru bisa ke tahap selanjutnya membangun super holding, menentukan corporate identity, dan pada akhirnya melahirkan corporate profile untuk memangun kepercayaan publik,” katanya.
Jabir juga memberikan sejumlah strategi yang dapat diterapkan dalam membangun kemandirian ekonomi ini serta kanal-kanal pendanaan yang memungkinkan mendukung usaha tersebut.
“Kalau berjamaah rejekinya besar. Kalau bisnis skala kecil, risikonya memang kecil, tapi juga profit kecil. Bisnis skala besar, risiko besar, tapi profit juga besar. Kuncinya adalah tindakan. Continuity,” ungkap Jabir.
Menurut Jabir, gagasan kemandirian ekonomi organisasi dengan konsep holding company, tidak berarti mengeliminir yang sudah didibuat di belakang oleh para pendahulu. Sebaliknya, ini diharapkan menjadikan Hidayatullah terus bertumbuh dari sisi kemandirian ekonomi sehingga kian menguatkan peranan Hidayatullah di tengah umat.
“Hidayatullah harus seperti mobil, ada rem. Ada gas. Dapat mengukur diri kapan harus maju, kapan kencang, kapan berhenti, dan tidak selalu berdiam statis di tempat. Karena itu, persoalan kompetensi perlu terus kita bangun,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, yang hadir sekaligus membuka workshop ini menyampaikan pentingnya membangun etos kerja umat Islam agar tidak melulu menjadi objek penjajahan ekonomi global yang dikuasai segelintir pihak. Karena itu, beliau mengingatkan memajukan ekonomi adalah jihad yang memiliki nilai keutamaan selain berdakwah.
Workshop Hidayatullah Incorporated bertema “Redesain Ekonomi Menuju Kemandirian Organisasi” yang diselenggarakan DPP Hidayatullah Bidang Perekonomian ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai perwakilam amal usaha Hidayatullah. (ybh/hio)
Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menerima Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, beserta jajarannya di Istana Wapres, Jakarta Pusat, Senin (16/05/2016). // Foto: Wapresri.go.id
Hidayatullah.or.id – Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla mendorong Hidayatullah untuk terus berusaha memajukan umat.
“Siapa yang memberikan wakaf itu, pasti orang mampu. Orang mampu ya setidak tidaknya dia pasti ada usahanya pasti bapaknya pengusaha atau orang kaya, terkecuali dia dapat warisan,” ujar Wapres saat menerima Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq bersama rombongan di di Kantor Wapres, Jalan Merdeka Utara, Senin, (16/5/2016).
Wapres menyampaikan keprihatinannya bahwa saat ini jumlah umat Islam yang maju masih sedikit. Padahal untuk memberikan wakaf, hanya orang-orang mampu yang dapat melakukannya.
“Saya iri di Turki itu kalau ada 100 orang kaya 90 % orang Islam,” lanjut Wapres Jusuf Kalla sebagaimana dikutip laman resmi Wapres RI.
Wapres menegaskan, sebagai organisasi Hidayatullah harus fokus kepada masyarakat, jangan hanya pada organisasi, seperti yang dilakukan dua organisasi Islam besar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
Wapres menganalogikan, sebagaimana halnya perusahaan Muhammadiyah itu seperti holding company, yang sukses membangun ibadah sosial melalui sekolah dan rumah sakit.
“Sering saya katakan Muhammadiyah kalau di perusahaan istilahnya itu holding company, perusahaan buka cabang, ada sekolahnya. Muhamadiyah organisiasi yang paling kaya di dunia,” jelas Wapres.
Sementara, lanjut Wapres, Nahdlatul Ulama seperti waralaba atau franchise yang besar layaknya McDonald’s, jumlahnya mencapai ratusan ribu di dunia, namun kepemilikannya berbeda-beda. Seperti di Jakarta dan Makassar, pemiliknya berbeda tetapi capnya tetap McDonald’s.
Untuk itu, Wapres menekankan, apapun bentuknya, Hidayatullah harus tetap memajukan umat.
Seperti diwarta, Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, di Kantor Wapres, Merdeka Utara, Senin, (16/5/2016).
Kedatangan Nashirul bersama jajaran DPP Hidayatullah untuk menyampaikan terimakasih kepada Wakil Presiden yang telah hadir membuka munas Hidayatullah di Balikpapan pada 7 November 2015.
Selain itu, Nashirul melaporkan kepengurusan di tingkat pusat dan program kerja organisasi selama lima tahun telah disahkan.
Program kerja tersebut, Nashirul mengatakan, akan fokus pada bidang pendidikan dan dakwah yang berkarakter di 278 kabupaten/kota.
Terkait bidang ekonomi, lanjut Nashirul, Hidayatullah saat ini sedang mencoba menjajaki usaha di bidang koperasi, bidang pertanian, serta menjajaki pengembangan beberapa lahan persawahan untuk menjaga bidang ketahanan pangan.
Di Jakarta Timur, ungkap Nashirul, Hidayatullah mendapat tanah wakaf 5.000 m untuk dijadikan pusat dakwah dan masjid, sekaligus bisa dijadikan kantor.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah menyampaikan terimakasih kepada Wapres yang telah memfasilitasi proses kepengurusan tanah Hidayatullah di Badan Pertanahan Nasional dimana saat ini sedang menunggu proses balik nama sertifikat, walaupun dengan anggaran yang lumayan besar.
“Sehingga dalam perjalanan organisasi ini, ke depan, tidak terganggu lagi dengan donasi, mudah-mudahan,” ucap Nashirul.
Nashirul juga mengapresiasi dukungan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam meluruskan dan memediasi arah perjuangan Hidayatullah kepada beberapa pihak terutama TNI dan Polri, sehingga stigma negatif melekat ke Hidayatullah bisa diluruskan.
Hadir mendampingi Wapres Jusuf Kalla, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Kasetwapres Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, dan Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah Syahrul Udjud.
Sementara dari DPP Hidayatullah turut mendampingi Ketua Umum, Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto, Wakil Sekjen I Sofyan Sumlang, Ketua Bidang Perekonomian Asih Subagyo, Anggota Dewan Pertimbangan Hamim Thohari, dan Ketua Dewan Mudzakarah Abu A’la Abdullah. (ybh/hio)
Wartawan mewawancarai Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, usai mengadakan pertemuan dengan Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta Pusat, Senin (16/05/2016)
Hidayatullah.or.id – DPP Hidayatullah mendukung pemerintah mencegah berkembangnya ideologi komunisme. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pendidikan yang terbaik kepada generasi muda.
“Ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 harus diberantas, harus dicegah,” kata Ketua DPP Hidayatullah Nashirul Haq di Jakarta seperti dikutip Teropong Senayan, Senin (16/5/2016).
Hal itu disampaikan usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan kepada Wapres keprihatinan masyarakat, keprihatinan umat Islam dan tokoh-tokoh Islam atas munculnya indikasi kebangkitan isu atau kebangkitan ideologi komunisme.
Dia menjelaskan bahwa sudah disepakati dasar NKRI adalah Pancasila dimana sila pertama yang berbunyi ketuhanan yang Maha Esa, jelas sekali bertentangan dengan ideologi komunisme.
Di samping itu menurut dia, juga banyak ancaman-ancaman yang lain yang akan mengikuti jika keberanian mereka menampakkan diri jika tidak segera diatasi.
Dia mencontohkan misalnya belum lama ini simpatisan Israel berani melakukan pawai kemerdekaan. Hal ini juga mengancam keutuhan NKRI, dan tindakan-tindakan seperti ini bisa menimbulkan provokasi kemudian terjadinya separatisme.
Dewan pertimbangan DPP Hidayatullah Hamim Thohari mengatakan, ideologi liberalisme, sosialisme dan komunisme sama-sama membahayakan bagi ketahanan nasional dan mengancam NKRI.
“Sikap Hidayatullah sangat jelas menolak rekonsiliasi tetapi, bahwa negara ini harus memaafkan komunisme memaafkan anak turunannya itu iya, tapi bukan dalam bentuk rekonsiliasi tetapi memaafkan,” tegasnya. (mnx/ant)
Pengurus DPP Hidayatullah diterima Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta Pusat, Senin (16/05/2016). Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, Sekjen Candra Kurnianto, anggota Dewan Pertimbangan Hamim Thohari, serta didampingi pengurus lainnya diantaranya Asih Subagyo, Abu A’la Abdullah, Sofjan Sumlang, dan Muhammad Musyafir / DOK
Hidayatullah.or.id – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Nashirul Haq menyambangi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Kantor Wapres. Nashirul Haq meminta pandangan dan nasihat dari JK mulai dari dakwah hingga masalah ideologi komunisme.
Nashirul mengatakan, DPP Hidayatullah menganggap Wapres JK sebagai orang tua yang patut untuk dimintai pandangannya. Salah satu nasihat yang diminta yakni terkait dengan dakwah.
“Kami minta pandangan dan arahan terkait pendidikan dan dakwah yang menjadi mainstream kami, termasuk bidang ekonomi dan sosial menjadi perhatian kami. Alhamdulillah apa yang menjadi tekad kami, menjadi rumusan kami, sejalan dengan apa yang menjadi concern beliau bagaimana pendidikan Islam menjadi pendidikan yang unggul dan jadi pilihan masyarakat,” kata Nashirul Haq di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, dikutip Detikcom, Senin (16/5/2016).
Di bidang dakwah, lanjut Nashirul Haq, DPP Hidayatullah meminta masukan dari JK bagaimana mengembangkan dakwah di nusantara. “Terutama daerah pelosok yang selama ini sangat haus pencerahan,” katanya.
Masalah ekonomi juga dibahas dalam pertemuan itu. Nashirul Haq mengatakan, JK ingin agar DPP Hidayatullah juga aktif menggerakkan anggotanya dalam bidang ekonomi.
“Bidang ekonomi kami didorong Pak Wapres, agar bagaimana memotivasi menggerakan anggota, kader-kader agar bisa memiliki etos kerja yang tinggi, bagaimana bisa berani dan usaha. Sehingga bisa memberikan kontribusi yang maksimal dengan dakwahnya,” jelas Nashirul.
Tak hanya itu, masalah ideologi komunisme yang belakangan marak lagi, turut dibahas. Dalam hal itu, JK menawarkan solusi agar masyarakat harus disejahterakan, sehingga tidak ada ruang untuk paham ideologi masuk dan berkembang.
“Terakhir juga kami sampaikan kepada Pak Wapres keprihatinan umat Islam dan tokoh-tokoh Islam atas munculnya indikasi kebangkitan isu ideologi komunis. Solusi yang ditawarkan beliau mensejahterkan rakyat sehingga ideologi komunis tidak ada ruang untuk memanfaatkan adanya ketimpangan sosial ekonomi, tidak ada kesenjangan sosial,” katanya.
“Beliau juga dengan tegas bahwa ideologi (komunisme) bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila. Harus diberantas dan harus dicegah,” tambahnya.
Selain, hadir juga Dewan Pertimbangan Hidayatullah Hamim Thohari. Dia menegaskan paham komunisme membahayakan bagi ketahanan nasional.
“Ideologi liberalisme, sosialisme dan komunisme sama-sama membahayakan bagi ketahanan nasional, mengancam NKRI. Maka itu sejalan apa yang disampaikan oleh Pak Wapres, Hidayatullah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah perkembangan liberalisme dan komunisme di NKRI. Dan kami akan berusaha sungguh-sungguh melawan dengan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak bangsa ini,” jelasnya. (jor/hri)
Hidayatullah.or.id – Seorang muslim harus memiliki kerangka berfikir (paradigma) dan tujuan (orientasi) hidup yang jelas dan lugas. Penting dan mendasarnya hal tersebut ditegaskan kembali oleh anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah Ustadz Muhammad Naspi Arsyad, Lc, belum lama ini di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat 27 Rajab 1437 (05/05/2016).
Menjelaskan hal itu, Naspi menceritakan pengalamannya saat terbang menggunakan jasa meskapai LION AIR beberapa waktu sebelumnya. Di situ beliau menemukan tulisan di majalah LIONMAG edisi MEI sebuah uraian yang memberikan analogi sebuah kisah dua pemilik toko A dan B.
Pemilik toko A tidak memiliki obsesi yang muluk-muluk, yang penting bisa buka setiap hari, ada yang beli, yang penting ada keuntungan dan tidak sampai rugi. Tidak memikirkan untuk diperbesar atau diperbanyak.
Kemudian ada pemilik toko B. Sejak awal dia memiliki obsesi ingin membesarkan tokonya dan mendirikan cabang-cabang di tempat lain. Tidak ingin sekedar toko kecil atau sekedar buka setiap hari.
Pada awalnya, kedua toko itu sama-sama ramai dan banyak pembelinya. Obsesi keduanya yang berbeda sangat berpengaruh dalam mengelola keuntungan dan cara menjalankan roda penjualan di tokonya masing-masing. Manajemen keuangan pun berbeda.
Pemilik Toko B yang memang punya obsesi besar mengelola keuntungannya dibuat untuk membesar tokonya. Sehingga awalnya satu petak menjadi dua dan tiga petak. Variasi barang jualan juga semakin banyak dan lengkap, bisa memberikan harga lebih murah atau diskon.
Sehingga, lambat laun toko B semakin ramai dan akhirnya pelanggan toko A berpindah ke toko B yang lebih lengkap dan murah. Karena orang pada umumnya ingin one stop shopping (sekali belanja di satu tempat karena sudah terpenuhi semuanya).
Akhirnya, lama-kelamaan toko A tutup karena sepi pembeli. Ada pertanyaan, apakah bisa dikatakan bahwa itulah takdir atau nasibnya toko A?
Ustadz Naspi menjelaskan, ada sebuah hadist Syekh Hakimi. Para sahabat bertanya, Allah telah menetapkan diantara kita yang masuk surga dan masuk neraka. Kalau seperti itu, artinya sudah jelas ketetapannya siapa yang masuk surga dan neraka. Kenapa tidak menunggu mati saja, kalau masuk surga yang langsung ke surga dan yang ditetapkan masuk neraka ya masuk neraka?
Kemudian Rasulullah menjawab, semua orang nasibnya tergantung amal-amalnya, Allah tidak kejam atau tidak zalim kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Adil. Setiap kita diberi kesempatan untuk beramal, kita serahkan nasib kita ke surga atau neraka. Artinya harus memancing dengan amal.
“Sehingga jangan langsung mengatakan itu takdir. Tidak bisa kita mengatakan kepada pemilik toko A, ya sudahlah itu suratan takdir, itu garis tangan nasibmu, atau memang harus tutup,” imbuh anak muda yang juga Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah ini.
Kehadiran Hidayatullah
Ustadz Naspi mengatakan, Hidayatullah ini lahir karena obsesi yang besar dari Allahuyarham Abdullah Said. Bahkan lebih besar dari kemampuannya saat itu.
Maka, lanjut beliau, kalau obsesi Almarhum Abdullah Said mendirikan pesantren itu biasa-biasa saja. Yang penting ada santri, ada asrama, ada kyainya, ada kegiatan membaca kitab. Maka bukan bermaksud mendahului takdir mungkin Hidayatullah tidak sebesar dan sepesat ini perkembangannya.
“Obsesi Allahuyarham Abdullah Said sangat besar dalam memperjuangan Islam melalui Hidayatullah ini. Padahal kemampuan dan kekuatan yang dimiliki saat itu masih terbatas bahkan modal nol besar, tapi sejak awal obsesi itu sudah besar sehingga menjadi motivasi bagi para santri awal,” katanya.
“Bagaimana Rasulullah membangun obsesi dan motivasi kepada para sahabatnya bahwa Islam nanti akan bisa mengalahkan Persia dan Romawi. Di saat yang sama, saat itu hidupnya para sahabat tidak jelas, makanan terbatas dan belum memiliki apa-apa”.
“Waktu ini hanya sejarah yang terus berulang. Ini semua sudah pernah dijalani Rasulullah, kita harus menapaki jalan sebagaimana Rasulullah menjalani. Ini konskwensi dari syahadat kedua, bahwa kita harus menyakini Muhammad adalah Utusan Allah yang harus kita teladani segala bentuk kehidupan dan perjuangan. Apa yang beliau lakukan, emban dan perjuangan adalah teladan bagi kita. Inilah konskwensi syahadat kita”.
“Generasi sekarang terkadang memiliki pola pandang kadang berangkat atau bertolak dari realita sekarang atau yang kita miliki sekarang sehingga hawanya pesimis melulu. Sementara Rasulullah, para sahabat atau Allahuyarham Abdullah Said tidak berangkat dari realita dulu tapi obsesi yang ideal dulu”
“Memiliki paradigma besar itu tidak mudah. Maka Umar bin Khattab berkata, didiklah anak-anak sesuai dengan zamannya, karena mereka akan menghadapi zaman yang berbeda dengan kalian”.
“Gerakan dakwah pada tahun 70-an dengan tahun 2000 sangat berbeda. Sekarang lewat WA, Twitter atau Youtube. Tidak menutup kemungkinan 10 tahun ke depan akan lebih canggih lagi”.
“Perkembangan teknologi ini adalah nikmat bagi orang beriman. Allah persembahkan bagi kita, perkembangan tehnologi itu masih dalam jangkauan ilmu Allah, meskipun 1000 kali atau satu juta lebih canggih dari ilmu sekarang maka tetap masih dalam jangkauan ilmu Allah. Kalau semua masih dalam jangkauan Allah maka itulah persembahan Allah. Sehingga perkembangan teknologi harus menjadi tunggangan bagi dakwah dan gerakan pendidikan kita”.
“Memiliki paradigma besar itu tidak mudah untuk membangun obsesi besar. Harus out the box atau keluar dari sudut pandang selama ini. Keluar dari rutinitas untuk memandang dari jauh atau luar. Satu sisi itu penting dan ada benarnya, karena orang yang banyak pengalaman maka semakin bijaksana,” tukasnya.*
_______ *) Artikel ini ditulis-publikasikan pertama kali oleh UstadzAbdul Ghofar Hadi melalui WhatsApp. Tulisan telah dimodifikasi untuk mengikuti standar editorial Hidayatullah.or.id tanpa mengubah makna. Diedit oleh inisial editor YBH)
Hidayatullah.or.id – Sebanyak 38 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur, kembali siap menerima tugas dakwah dan pengabdian keummatan setelah dinyatakan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I) dalam sidang skripsi yang digelar di Aula Hasanah Lukman, belum lama ini dan ditulis media ini pada Kamis (12/05/2016).
Secara bergantian mahasiswa tersebut berhasil mempertahankan penelitian mereka di depan dewan penguji sidang konfrehensif.
Disebutkan, selain lulus 100 persen, separuh di antaranya juga dinyatakan lulus dengan hasil yudisium cum laude (lulus dengan pujian).
Untuk hasil tersebut, Ketua STIS Hidayatullah, Dr. Abdurrohim, mengapresiasi setinggi-tingginya capaian mahasiswanya.
“Prestasi itu bukan cuma milik STIS Hidayatullah secara khusus, tapi juga hadiah bagi dunia pendidikan secara luas,” ungkap dosen yang menyabet gelar doktornya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Menurut Abdurrohim, saat ini pendidikan sedang disorot tajam dengan berbagai degradasi moral dan dekadensi adab yang menimpa bangsa Indonesia.
Diharapkan, para mahasiswa dan lulusan STIS bisa menjadi oase di tengah harapan yang nyaris hilang itu.
“Kami bangga dengan kerja keras para mahasiswa. Sebab hasil itu tentu tidak datang dengan sendirinya tanpa sebab usaha dan doa,” terang Abdurrohim.
“Semoga nilai yang tinggi itu selalu sejalan dengan akhlak dan amal dalam kehidupan nyata,” ucap Abdurrohim berharap.
Dalam kesempatan terpisah, mewakili mahasiswa yang lain, Arifuddin bersyukur dan berterima kasih atas bimbingan para dosen dan seluruh pihak di STIS.
Arifuddin menyadari semua itu menjadikan segalanya berjalan lancar bagi mahasiswa hingga ujian skripsi lalu.
“Kami sangat bersyukur, sebab usaha kami selama ini membuahkan hasil yang membahagiakan,” ungkap mahasiswa asal Lombok yang juga peraih nilai cum laude.
Dewan penguji sidang skripsi tahun 2016 ini berjumlah enam orang. Mereka adalah Drs. Nispan Rahmi, M.A. (Ketua Prodi Ekonomi Syariah IAIN Antasari Banjarmasin), Drs. Nooripansyah, M.Ag. (Dosen Fak. Syariah IAIN Antasari), dan Dr. Jalaluddin, M.A. (Wakil Dekan Fak. Syariah IAIN Antasari).
Selain itu, penguji dari STIS Hidayatullah yakni Dr. Abdurrohim, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah), Kusnadi, M.Hum (Ketua Prodi al Akhwal al Syakhshiyyah STIS Hidayatullah), dan Abdul Ghofar Hadi, M.S.I.
Terakhir, STIS Hidayatullah kembali membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2016/2017. Info selengkapnya bisa menghubungi nara hubung: 081381017916 atau kunjungi web resmi www.stishid.ac.id. (admin).
Hidayatullah.or.id – Dalam rangka turut menggerakkan program pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia berkualitas sebagai penggerak pembangunan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Kota Depok, Jawa Barat, memantapkan program beasiswa full bagi calon mahasiswa yang lulus seleksi.
Selain itu, calon mahasiswa yang dinyatakan lulus sekeksi dalam program beasiswa STIE Hidayatullah ini juga mendapat kesempatan jaminan kerja ikatan dinas di amal-amal usaha organisasi Hidayatullah yang memiliki jaringan luas secara nasional.
Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) STIE Hidayatullah Tahun Akademik 2016-2017, Suheri Abdullah, MM, dalam keterangannya diterima di Jakarta, Kamis (12/05/2016) mengatakan program beasiswa kampusnya ini menargetkan calon mahasiswa kalangan yatim dan dhuafa.
“Ini sebagai bentuk komitmen STIE Hidayatullah mendukung upaya pemerataan pembangunan terutama dalam hal kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi. Alhamdulillah, STIE Hidayatullah terbukti mampu mencetak SDM unggul yang bervisi global sebagai kader leader perwawasan pembangunan yang alumninya telah tersebar di segala penjuru nusantara,” kata Suheri.
STIE Hidayatullah Depok, terang Suheri, memberikan beasiswa kepada peserta didik dari putera bangsa yang lolos seleksi dalam bentuk biaya pendidikan diantaranya berupa biaya SPP/Semester sampai selesai kuliah dan fasilitas asrama sampai selesai kuliah.
Dia melanjutkan, program beasiswa dari STIE Hidayatullah ini diperuntukan bagi calon civitas akademika yang memenuhi syarat sehingga kuotanya dibatasi.
“Beasiswa ini memang program spesial sehingga kuotanya pun kita batasi. Tapi tentu siapa saja boleh mendaftarkan diri, jika memenuhi syarat, Insya Allah diterima,” katanya beliau.
Sebagaimana dikutip dari website resmi www.stiehidayatullah.ac.id, STIE Hidayatullah memuat tahapan-tahapan dalam mengikuti program beasiswa dan jaminan kerja ikatan dinas ini.
Adapun tahapannya calon peserta mengajukan aplikasi pendaftaran melalui surat pos ke Panitia Pendaftaran, Kampus STIE Hidayatullah Jln. Raya Kalimulya RT 01/05 Kec. Cilodong Kota Depok paling lambat tanggal Agustus 2015.
Pendaftaran online juga dapat dilakukan melalui website www.stiehidayatullah.ac.id dengan menyertakan berkas-berkas persyaratannya yaitu Fotocopy Raport SMU/MA/SMK, Fotocopy Ijazah (bisa menyusul), Fotocopy ijazah kepesantrenan/swasta (jika ada), Fotocopy KTP dan KKPas foto warna ukuran 2×3, 3×4, 4×6 masing- masing 3 lembar.
Berkas lainnya yang disyaratkan adalah surat izin/keterangan dari orang tua, surat keterangan tidak mampu dari daerah asal (jika ada), surat tugas/perjanjian dengan pihak sponsor (jika ada), surat keterangan sehat dari dokter/Puskesmas, dan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK). (ybh/hio)