Beranda blog Halaman 60

Jejak Kehidupan Nabi Sebelum Kenabian, Refleksi atas Lima Fase Pra-Wahyu

0

NABI Muhammad ﷺ adalah sosok yang Allah tetapkan sebagai teladan utama bagi umat manusia. Dalam diri beliau terpancar kecerdasan yang luar biasa, akhlak yang agung, kepemimpinan yang tegas sekaligus penuh kebijaksanaan.

Al-Qur’an menyebut beliau sebagai uswah hasanah, suri teladan yang baik, bagi siapa saja yang mengharap rahmat Allah, takut pada hari akhir, dan senantiasa mengingat-Nya.

Sejarah hidup Rasulullah bukan sekadar rentetan peristiwa, melainkan risalah tarbiyah Ilahi yang penuh makna. Setiap fase dalam kehidupannya, terutama sebelum turunnya wahyu, merupakan persiapan menuju amanah besar sebagai pembawa risalah terakhir.

Rasulullah ﷺ lahir pada 12 Rabi’ul Awwal tahun yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah. Tahun itu dinamai demikian karena Abrahah, penguasa dari Yaman, datang dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah.

Namun, kita tahu, Allah menggagalkan ambisi tersebut. Pasukan besar dengan persenjataan yang kuat luluh lantak hanya dengan burung-burung kecil yang melempar batu dari tanah liat panas.

Peristiwa ini menjadi isyarat bahwa Allah menjaga kesucian rumah-Nya sekaligus menandai kelahiran seorang nabi besar yang kelak akan membawa risalah bagi seluruh umat manusia.

Hikmah dari peristiwa tersebut sangat jelas bahwa sebesar apa pun kekuatan dan kesombongan manusia, semuanya tak berarti tanpa izin Allah. Pertolongan-Nya mampu datang dari arah yang sama sekali tidak terduga.

Hikmah Fase Pra Wahyu

Sebelum menerima wahyu, Rasulullah ﷺ melewati beberapa fase penting yang disebut pra-wahyu. Fase-fase ini tidak terlepas dari pengaturan Allah untuk membentuk kepribadian yang matang dan siap menerima amanah besar.

Pertama, fase keyatiman. Sejak dalam kandungan, Nabi telah kehilangan ayahnya. Pada usia enam tahun, ibunda beliau pun wafat, disusul wafatnya kakek yang mengasuhnya.

Sejak itu, beliau diasuh pamannya, Abu Thalib, yang hidup sederhana. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkan Nabi pengalaman pahit sejak dini. Hal ini membentuk kepekaan sosial yang kelak tercermin dalam banyak ajaran Islam tentang kasih sayang kepada anak yatim.

Kedua, fase menggembala. Pada masa kecil, beliau bekerja sebagai penggembala kambing. Profesi sederhana ini melatih kesabaran, ketekunan, dan kepemimpinan.

Menggembala mengajarkan cara menjaga yang lemah, mengarahkan yang tersesat, dan melindungi dari bahaya. Semua keterampilan itu kelak berguna dalam membimbing umat manusia.

Ketiga, fase berdagang. Memasuki usia remaja, Muhammad ﷺ ikut berdagang bersama pamannya ke negeri Syam.

Kejujurannya dalam berniaga membuat beliau digelari al-Amîn, yang terpercaya.

Dari sini beliau belajar integritas, manajemen, serta pergaulan luas yang menyiapkan wawasan internasional dan geopolitik global. Nilai-nilai ini kelak menjadi modal dalam mengelola komunitas umat yang heterogen.

Keempat, fase berkhadijah. Dalam usia dewasa, beliau bekerja pada Khadijah, seorang saudagar perempuan terkemuka di Makkah.

Kejujurannya membuat Khadijah kagum hingga akhirnya mereka menikah.

Dari rumah tangga yang sakinah ini, Nabi mendapatkan dukungan moral dan emosional. Khadijah menjadi istri pertama sekaligus pendukung utama ketika wahyu pertama turun.

Kelima, fase bergua Hira’. Memasuki usia 35 tahun, Nabi sering melakukan tahannuts, menyepi di Gua Hira. Di sanalah beliau merenungi kondisi masyarakat Makkah yang tenggelam dalam penyembahan berhala dan krisis moral.

Proses ini beliau jalani untuk mencari ketenangan, berharap ada cahaya petunjuk. Tahannuts menjadi latihan spiritual yang menyiapkan batin beliau menyambut wahyu.

Wahyu Pertama yang Mengguncang

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, ketika beliau menyendiri di Gua Hira, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama.

Ayat yang diturunkan adalah surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang memerintahkan manusia untuk membaca dengan nama Tuhan, mengenal asal penciptaannya, serta menghargai ilmu pengetahuan sebagai anugerah mulia.

Wahyu pertama ini lantas mengguncang peradaban dunia yang menegaskan konsep dasar pandangan hidup Islam mengenai ketuhanan, tauhid, penciptaan, peran manusia, pentingnya ilmu, serta kemuliaan yang bersumber dari pengetahuan.

Dengan turunnya wahyu ini, Muhammad ﷺ resmi diangkat sebagai nabi dan rasul terakhir.

Fase pra-wahyu menunjukkan bahwa Allah tidak menelantarkan Nabi Muhammad ﷺ, melainkan mempersiapkannya. Kesulitan masa kecil menumbuhkan kepekaan sosial. Profesi menggembala menanamkan kesabaran dan kepemimpinan.

Demikian pula, pengalaman berdagang melatih kejujuran dan kemampuan manajerial beliau. Kehidupan berumah tangga bersama Khadijah memberikan keteguhan batin. Dan, tahannuts di Gua Hira mematangkan spiritualitas beliau.

Semua itu adalah bekal untuk mengemban misi besar dalam rangka menyempurnakan akhlak mulia.

Nabi ﷺ menegaskan bahwa kehadirannya diutus oleh Allah untuk membimbing manusia agar berakhlak luhur, jauh dari kesombongan dan keserakahan, serta memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

Wahyu yang Mencerahkan Peradaban

Al-Qur’an kemudian turun secara bertahap selama 23 tahun, sebagai cahaya penuntun peradaban yang menata akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.

Kehidupan masyarakat Arab pun berubah drastis dari jahiliyah menuju peradaban yang disebut oleh sejarawan Barat sebagai salah satu bangsa paling beradab dan progresif dalam sejarah.

Perubahan ini dimulai dari pembentukan paradigma tentang Tuhan, manusia, alam semesta, kebahagiaan, kebenaran, ilmu, dan hari akhir.

Hidup Rasulullah ﷺ sebelum kenabian adalah potret tarbiyah Ilahi yang penuh hikmah.

Dengan bimbingan wahyu, Nabi Muhammad ﷺ berhasil merombak pola pikir dan cara pandang umat manusia menuju peradaban yang bercahaya.

*) Ust. H. Ahmad MS, penulis Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara

Aa Gym Mengisi Taushiah Kajian Peradaban Tips Menggapai Ketenangan Jiwa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyemarakkan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mengadakan Kajian Peradaban bertajuk “Tips Menggapai Ketenangan Jiwa, Keluarga Bahagia Bersama Al-Qur’an”.

Acara digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1447 (10/9/2025), dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Hidayatullah ID @tvhid.

Kajian ini menghadirkan narasumber nasional, yaitu KH. Abdullah Gymnastiar, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA., dan KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA., yang membawakan sesi reflektif bagi umat dalam menghadapi tantangan hidup dan membangun rumah tangga bahagia.

Dalam sesi kedua, KH. Abdullah Gymnastiar menekankan pentingnya menjaga hati tetap terpaut kepada Allah melalui zikir dan doa.

Ia menjelaskan makna Surat Ar-Ra’du ayat 28 dalam konteks ketenangan jiwa.

“Jadi, masalah hidup kita itu sebetulnya simple: kebanyakan mikir, kurang zikir. Harusnya yang tepat adalah tiap mikir jadi zikir,” tegasnya.

Ulama yang akrab disapa Aa Gym ini menegaskan kelemahan manusia jika tidak bersandar pada Allah. Ia menekankan perlunya doa sebagai bentuk pengakuan atas ketidakberdayaan manusia.

“Kalau kita tidak berdoa, sombong benar kita. Siapa kita, penceramah ini bisa apa,” ujarnya.

Aa Gym juga memaparkan keterbatasan penceramah dalam memberi hidayah, menekankan peran doa dan amal sebagai penopang keberhasilan dakwah.

“Tugas penceramah itu ya meluruskan niat, berkata yang benar semampunya, berusaha mengamalkan apa yang disampaikan, dan berdoa supaya Allah menerima semua,” katanya.

Dalam membahas fenomena stress, Aa Gym menjelaskan bahwa banyak tekanan hidup muncul karena prasangka dan ketidakmampuan mengingat Allah.

“Kalau disederhanakan, hidup ini hanya ada tiga zaman. Satu, yang belum terjadi. Dua, yang sudah terjadi. Tiga, yang sedang terjadi. Biasanya, stress hanya ada di tiga tempat ini,” katanya.

“Kebanyakan kita stress dengan yang belum terjadi. Padahal kejadiannya belum, tapi sengsaranya duluan. Aneh memang. Padahal belum terjadi, belum tentu terjadi, belum tentu hidup,” imbuhnya.

Ia menutup pemaparan dengan menukil Surah At-Taubah ayat 51 sebagai pedoman dan kunci menghadapi masalah melalui ingat kepada Allah.

Kajian Peradaban ini juga mendapat dukungan dari Muslimat Hidayatullah, Inner Salon Muslimah, serta sejumlah pihak lain yang turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan.

Dengan menitikberatkan pada nilai-nilai Qur’ani, acara ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan keluarga dan pembangunan peradaban umat.

Tayangan ulang kajian ini dapat disimak di sini.

Abah Zain Tekankan Pentingnya Apresiasi dalam Membangun Rumah Tangga Qur’ani

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian semarak Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyelenggarakan Kajian Peradaban bertema “Tips Menggapai Ketenangan Jiwa, Keluarga Bahagia Bersama Al-Qur’an”.

Acara berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1447 (10/9/2025).

Kajian ini digelar untuk memperdalam ilmu, memperkuat iman, serta membangun ketenangan jiwa dalam lingkup keluarga. Hadir sebagai narasumber KH. Abdullah Gymnastiar, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA., serta KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA.

Kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Hidayatullah ID @tvhid, sehingga dapat diikuti masyarakat luas.

Dalam penyampaian materi pada sesi pertama, KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA., yang akrab disapa Abah Zain, menekankan pentingnya membangun rumah tangga yang bahagia dengan spirit Qur’ani.

Ia menyoroti peran apresiasi dalam menciptakan suasana harmonis di dalam keluarga.

Menurutnya, apresiasi antar pasangan maupun kepada anak-anak merupakan pilar penting dalam membangun rumah tangga yang penuh berkah.

Ia menegaskan bahwa tanpa penghargaan yang tulus, kehidupan keluarga dapat kehilangan kebahagiaan.

“Karena kurangnya apresiasi kepada anak, kurangnya apresiasi kepada istri, kurangnya apresiasi kepada suami, maka setali tiga uang rumahnya besar tetapi hatinya kecil. Panjang perjalanan sampai ke akhirat tapi tidak ada bayang-bayang surga, hari-hari di rumah hanya benturan kata,” ujarnya.

Selain itu, Abah Zain mengingatkan kembali kepada umat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga.

“Ayo kita kembali. Buka Al-Qur’an, jangan gengsi jangan sombong. Baca dengan cara yang lebih tenang agar menyenangkan bagi hati, bagi perasaan, dan bagi tubuh kita,” pesannya.

Kajian Peradaban ini juga mendapat dukungan dari Muslimat Hidayatullah, Inner Salon Muslimah, serta sejumlah pihak lain yang turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan.

Tayangan ulang kajian ini dapat disimak di sini.

Kursus Muballigh Profesional Tekankan Dakwah sebagai Ruh Pembangunan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam lanskap kehidupan keagamaan di Indonesia, peran muballigh tidak hanya terbatas pada mimbar masjid, tetapi juga merambah ruang-ruang baru di dunia digital.

Kesadaran inilah yang melatari terselenggaranya Kursus Muballigh Profesional oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerja sama dengan Korp Muballigh Hidayatullah (KMH). Kegiatan ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada 6–7 September 2025 dengan semangat memperkuat kompetensi generasi muda dalam berdakwah.

“Kursus Muballigh Profesional ini sarana untuk membantu masyarakat, termasuk kaum muda siap dalam dunia dakwah. Baik ceramah, khutbah bahkan bagaimana memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah,” tegas Ketua KMH, Iwan Abdullah.

Pernyataan tersebut menjadi benang merah dari penyelenggaraan acara, yakni menyiapkan para dai agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman sekaligus menjaga ruh dakwah tetap membumi.

Dalam penjelasannya, Iwan Abdullah menekankan pentingnya kesiapan anak muda untuk turun langsung ke masjid dengan keterampilan memadai.

Menurutnya, keahlian khutbah, kultum, hingga keterampilan berbicara publik menjadi bekal dasar yang tidak bisa diabaikan serta upaya mendorong generasi muda untuk menjadikan dakwah sebagai jalan pengabdian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kegiatan ini bagian dari komitmen Hidayatullah bersama simpul sinergi yang ada dalam melahirkan generasi muballigh yang berdaya saing tinggi, mampu bersinergi dengan kebutuhan masyarakat, dan tetap menjadikan dakwah sebagai ruh pembangunan bangsa,” tandasnya.

Adaptasi Perkembangan Teknologi

Kursus ini juga menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi yang aktif di bidang dakwah dan komunikasi publik. Salah satunya adalah Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang selama ini konsisten menulis setiap hari di laman pribadinya, masimamnawawi.com.

Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi pentingnya adaptasi muballigh terhadap perkembangan teknologi.

“Dakwah digital urgen. Karena bagaimanapun digital adalah realitas baru, yang para dai muda tak boleh diam saja. Harus aktif sehingga produktif dalam menebar pesan kebaikan melalui dunia digital,” ungkap Imam Nawawi.

Ia menegaskan, media sosial tidak hanya sekadar ruang hiburan, tetapi juga sarana strategis dalam menyampaikan pesan moral dan spiritual yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Peserta kursus juga merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. Muhammad Adnan, salah satu peserta, mengaku memperoleh pengalaman berharga yang meningkatkan rasa percaya diri dalam berdakwah.

Bagi Adnan, dakwah tidak bisa hanya mengandalkan niat tulus, melainkan harus dibarengi dengan kesiapan intelektual dan keberanian tampil di depan masyarakat.

“Saya akhirnya menyadari dakwah memang harus ikhlas, tapi tampil di depan masyarakat kami harus benar-benar siap. Dakwah tidak bisa tanpa semangat membaca yang sungguh-sungguh ke depan,” tuturnya.

Kursus ini menurutnya penting bagi angkatan muda seperti dirinya dalam penguatan kapasitas agar dapat menjawab tantangan zaman. Dari masjid hingga media digital, dari khutbah hingga konten sosial, para peserta diarahkan untuk menjadi pribadi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga konsisten menebarkan kebaikan dengan pengetahuan yang kuat.

Ajang DPW Cup 2025 Hidayatullah DIY-Jateng Bagsel Kirim Pesan Pentingnya Kesehatan Fisik

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam tradisi Islam, kesehatan merupakan amanah sekaligus sarana untuk memperkuat ibadah. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tubuh yang sehat akan menopang kesempurnaan amal.

Nilai ini kembali ditegaskan dalam rangkaian penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-VI tahun 2025. Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)-Jawa Tengah Bagian Selatan mengawali semarak menuju perhelatan tersebut dengan menggelar kompetisi futsal bertajuk DPW Cup 2025 pada Ahad, 14 Rabi’ul Awal 1447 (7/9/2025).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, yang membuka acara dengan tendangan perdana, menegaskan pentingnya membangkitkan kembali budaya hidup sehat.

“Gaya hidup sehat orang zaman dahulu dengan sekarang sudah sangat berubah seiring dengan perubahan zaman yang berubah dari gaya hidupnya maupun berubah dari apa yang dikonsumsinya,” jelas Nashirul dalam sambutannya.

Ia mengenang bagaimana generasi sebelumnya akrab dengan aktivitas fisik sejak kecil, mulai dari berjalan kaki ke sekolah hingga bermain bola sepulang belajar. Kondisi itu, menurutnya, berbanding terbalik dengan masa kini yang cenderung membuat orang abai terhadap kebugaran.

“Maka kita perlu aktifkan kembali gaya hidup sehat ini dengan rutin berolahraga,” ungkapnya.

Kegiatan DPW Cup 2025 ini membawa tema “Imun Meningkat, Ukhuwah Kuat, Dakwah Semangat” sebagai bentuk ajakan agar olahraga tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga mempererat persaudaraan.

Seruan itu sejalan dengan pesan Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagian Selatan, Abdullah Munir, S.Ag. Ia menekankan bahwa event olahraga menjadi sarana untuk menjaga komitmen kesehatan kader.

“Kalau sudah sakit, badan yang sehat itu mahal sekali. Kalau fisik kita sehat dan bugar, insyaAllah dakwah akan terus berjalan,” kata Munir.

Kompetisi yang berlangsung dengan penuh semangat ini berhasil menobatkan Pondok Al-Kahfi Hidayatullah Surakarta sebagai juara pertama.

Sementara itu, SMI Ma’had As-Sakinah Yogyakarta menempati posisi kedua, Kepengasuhan Ma’had As-Sakinah sebagai juara ketiga, dan Team DPD Hidayatullah Sukoharjo menempati urutan keempat.

Hasil tersebut menjadi catatan prestasi, sekaligus bukti bahwa olahraga dapat menjadi medium dakwah yang menghidupkan nilai ukhuwah. Hal itu seperti diutarakan salah satu peserta, Joni Apriyansah dari Team BMH Yogyakarta.

Joni menyampaikan kebahagiaannya meski timnya harus menelan pil pahit pada babak delapan besar yang berhadapan dengan lawan lawan tangguh.

“Walaupun kami tidak lolos ke perempat final, saya ikut senang bisa mengikuti kegiatan ini. Semalam saya baru datang dari Mojokerto, sengaja datang ke Jogja untuk bisa mengikuti kegiatan ini,” katanya.

Baginya, DPW Cup 2025 menjadi ruang aktualisasi nilai Islam tentang pentingnya menjaga jasmani, ukhuwah, dan dakwah dalam satu tarikan nafas. Melalui olahraga, kader Hidayatullah tidak hanya melatih fisik, tetapi juga memperkokoh ikatan persaudaraan yang kelak menopang peran besar dalam pembangunan peradaban umat.

“Harapan saya semoga kegiatan DPW Cup ini bisa dilaksanakan rutin minimal setahun sekali, karena selain bisa membuat badan lebih sehat, juga menambah kebersamaan dan keakraban,” tutur Joni.

Bumi Negeri Lestari di Nusantara Kolaborasi untuk Alam dan Generasi Mendatang

0

NUSANTARA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah derasnya arus pembangunan modern, menjaga keseimbangan dengan kelestarian lingkungan menjadi tantangan penting. Upaya itu mendapat momentum baru ketika Baitul Maal Hidayatullah (BMH) melaksanakan program lingkungan bertajuk Bumi Negeri Lestari.

Melalui kegiatan penanaman pohon, program ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk bergerak bersama, memastikan bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan sejalan dengan kelestarian alam.

Acara ini digelar pada Senin, 15 Rabiul Awal 1447 (8/9/2025) di kawasan hunian vertikal TNI, Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kegiatan yang membawa tema “Komitmen Bersama Selamatkan Bumi, Hijaukan Negeri dari Ibu Kota Nusantara” tersebut dimulai dengan pertemuan antara manajemen BMH dan pihak manajemen konstruksi IKN yang menekankan semangat kolaborasi dalam membangun kota yang modern sekaligus ramah lingkungan.

Puncak kegiatan ditandai dengan momen simbolis yaitu penanaman bibit pohon secara bersama-sama. Tidak sekadar seremoni, aksi ini menjadi representasi komitmen nyata BMH dan berbagai elemen pemerhati untuk menjaga harmoni antara pembangunan dan alam.

Sebanyak lima bibit pohon ditanam dalam kegiatan ini. Setiap bibit dimaknai sebagai simbol harapan besar yang mengusung semangat kolaborasi, kepedulian lingkungan, keberlanjutan pembangunan, dan doa untuk generasi mendatang.

“Kami niatkan penanaman pohon ini sebagai amal jariyah yang insya Allah akan memberi manfaat luas bagi generasi mendatang,” ujar Kepala BMH Kaltim, Muhammad Rofiq.

Manajemen IKN juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut. “Penanaman pohon ini menjadi simbol komitmen menjaga kelestarian alam di tengah pembangunan IKN,” kata Bapak Kiki dari manajemen IKN. Ia menambahkan, langkah tersebut selaras dengan visi menjadikan IKN sebagai kota yang modern sekaligus hijau.

Diterangkan Rofiq, lebih dari sekadar kegiatan lingkungan, program Bumi Negeri Lestari juga terhubung dengan agenda Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah. Dalam forum tersebut, salah satu isu penting yang diangkat adalah peran umat Islam dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Dengan demikian, kegiatan penanaman pohon ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga berkontribusi pada wacana kebangsaan yang lebih luas,” jelas Rofiq.

Program ini sekaligus memperluas cakupan peran Hidayatullah yang didukung BMH, yang selama ini dikenal aktif dalam bidang dakwah dan sosial. Melalui aksi penanaman pohon, kolaborasi ini menegaskan kepeduliannya pada aspek ekologis sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

“Melalui gerakan ini, kita ingin menunjukkan bahwa setiap individu maupun lembaga dapat memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian bumi,” jelas Rofiq.

Inisiatif semacam ini menurutnya juga menggarisbawahi pentingnya keselarasan antara pembangunan infrastruktur dan kepedulian ekologis, terutama di kawasan strategis seperti Ibu Kota Nusantara.

Terangnya menambahkan, dengan jejak hijau yang ditinggalkan, program Bumi Negeri Lestari diharapkan menjadi cermin dari cita-cita membangun kota yang tidak hanya menjadi simbol kemajuan bangsa, tetapi juga rumah yang ramah bagi seluruh kehidupan.

Munas VI Hidayatullah Konsolidasi Visi untuk Dakwah, Pendidikan, dan Peradaban Bangsa

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah tidak hanya dipandang sebagai forum rutin organisasi, melainkan momentum strategis yang diharapkan mampu memperkuat soliditas internal sekaligus menjawab tantangan zaman. Sejak tahap awal persiapan, semangat tersebut telah ditegaskan oleh jajaran pengurus pusat maupun daerah.

“Munas VI ini adalah ajang untuk memperkuat ukhuwah dan meneguhkan jati diri Hidayatullah di tengah tantangan zaman,” tegas Anggota Badan Pekerja (BP) Munas VI Hidayatullah, Ust. Akib Junaid Kahar, saat memberikan sambutan dalam sosialisasi persiapan Munas di Kampus Utama Hidayatullah Batam, Senin, 15 Rabiul Awal 1447 (8/9/2025).

Rangkaian kegiatan menuju Munas VI resmi dimulai melalui agenda sosialisasi intensif yang digelar secara hibrida, baik luring di Batam maupun daring melalui Zoom.

Menurutnya, rangkaian kegiatan ini sekaligus menandai langkah awal konsolidasi menuju forum musyawarah nasional yang akan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan internal.

“Harapannya, seluruh keputusan yang lahir dari Munas VI menjadi pedoman yang mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia menuju cita-cita 2045,” imbuhnya.

Acara ini melibatkan 71 peserta, terdiri dari pengurus Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Kepulauan Riau serta perwakilan pengurus Hidayatullah di seluruh Sumatera. Kehadiran mereka mencerminkan antusiasme tinggi untuk berperan aktif dalam perumusan masa depan organisasi.

Dalam forum tersebut, BP Munas menekankan bahwa musyawarah nasional bukan hanya agenda struktural, melainkan wadah konsolidasi visi-misi yang akan melahirkan keputusan strategis lima tahun ke depan. Akib Junaid menjelaskan, arah kebijakan yang dibahas meliputi dakwah, pendidikan, dan penguatan kaderisasi.

Sosialisasi juga menyinggung secara mendalam draf Pedoman Dasar Organisasi (PDO) 2025–2030, arah kebijakan strategis Hidayatullah, serta teknis pelaksanaan Munas VI yang dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Oktober 2025. Tema besar yang diangkat, “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045,” mencerminkan kesungguhan organisasi untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan umat.

Diskusi berjalan dengan dinamis. Antusiasme peserta dalam memberikan pandangan dan masukan menunjukkan bahwa proses ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya kolektif memperkuat partisipasi seluruh elemen organisasi.

Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, Darmasnyah Dahura, menilai forum ini telah berjalan dengan baik. Menurutnya, kelancaran agenda sosialisasi menjadi tanda positif bagi suksesnya Munas mendatang.

“Diharapkan, melalui Munas ini, Hidayatullah dapat semakin mengukuhkan perannya dalam membangun peradaban Islam dan kemajuan bangsa,” ujarnya.

Dengan demikian, jelas dia, Munas VI Hidayatullah diposisikan sebagai ruang strategis untuk memperkuat arah perjuangan organisasi di tingkat nasional.

Proses sosialisasi awal yang dilakukan di Batam tidak hanya menyiapkan teknis acara, tetapi juga mengikat kembali komitmen pengurus wilayah dan daerah agar selaras dengan visi besar Hidayatullah.

Dolan Bareng dan Mabit Pemuda Bekal Soliditas Menuju Munas Hidayatullah

0

NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Ngawi menggelar kegiatan kebersamaan yang dikemas dalam bentuk Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) serta Dolan Bareng pada 12-13 Rabi’ul Awal 1447 (5–6/9/2025).

Acara tersebut bukan sekadar ajang rekreasi, melainkan wadah memperkuat ikatan persaudaraan antar kader sekaligus menyiapkan diri menyongsong agenda nasional organisasi. Ketua panitia, Muhammad Fadlillah, menegaskan bahwa esensi kegiatan ini terletak pada kebersamaan.

“Dolan bareng ini mengajarkan arti memegang erat tali ukhuwah dan menyatukan hati antar kader Hidayatullah Ngawi agar semakin solid dalam kegiatan kelembagaan, serta untuk bersiap menyongsong Munas keenam Hidayatullah. Semoga semangat kebersamaan ini terbawa hingga pelaksanaan Munas,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat malam, 5 September 2025, di Kampus 1 Hidayatullah Ngawi. Peserta terdiri atas 20 kader dari berbagai unit amal usaha, meliputi pengurus yayasan, kepala sekolah, guru, hingga karyawan lembaga.

Dengan dukungan penuh dari Pengurus DPD Hidayatullah Ngawi, malam pertama diisi dengan wirid, tausiyah, dan diskusi program kelembagaan. Salah satu hasil diskusi adalah rihlah kebersamaan bertajuk Dolan Bareng.

Usai berdiskusi, para peserta beristirahat dan bangun kembali pada pukul 01.30 WIB untuk menunaikan shalat tahajud. Tepat pukul 02.00 WIB, rombongan bertolak menuju Yogyakarta dengan penuh semangat.

Pantai Sadranan di Gunung Kidul menjadi tujuan pertama. Gelombang laut yang besar tidak menyurutkan antusiasme peserta. Mereka bermain air, berlari dikejar ombak, dan saling bercanda, sehingga suasana penuh keakraban tercipta.

Dengan terselenggaranya Mabit dan Dolan Bareng ini, Pemuda Hidayatullah Ngawi berharap terwujud kader yang kokoh dalam iman, solid dalam kerja kelembagaan, serta siap memberi kontribusi dalam skala nasional.

“Agenda ini sebagai langkah penting membangun solidaritas kader menjelang Musyawarah Nasional VI Hidayatullah,” kata Muhammad.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Hutan Pinus Mangunan, Bantul. Suasana sejuk di bawah pepohonan menjadi tempat yang ideal untuk mempererat kebersamaan.

Duduk bersama sambil menikmati kopi, para kader berbagi cerita tentang pengalaman sehari-hari di unit kerja masing-masing. Kehangatan inilah yang diyakini akan menjadi modal penting menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah.

Menjelang malam, rombongan singgah di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Meski lelah mulai terasa, mereka tetap bersemangat menikmati suasana kota.

Berjalan bersama di sepanjang jalan ikonik tersebut, mencicipi kuliner khas seperti wedang ronde dan sate kaki lima, menjadi penutup perjalanan.

Momen sederhana itu meneguhkan tekad untuk menjaga kebersamaan di tengah dinamika aktivitas kelembagaan.

Ketua DPD Hidayatullah Ngawi, Maskur Hidayat, yang turut mendampingi rombongan, menilai kegiatan ini sebagai ruang silaturahmi yang akan terus dikembangkan.

Dalam suasana penuh semangat kebersamaan, seluruh kader berkolaborasi menggelar kegiatan rihlah dan rekreasi bersama.

“Momen ini menjadi ruang untuk melebur batas-batas formalitas, menguatkan silaturahmi, serta merajut ukhuwah yang hangat dalam suasana santai dan rileks,” katanya.

Bimtek Literasi Al-Qur’an Perkuat Peran Guru Pendidikan Agama Islam

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menjadi pusat penyelenggaraan Bimbingan Teknis Literasi Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG-PAI) Kecamatan Mulyorejo dan Tambaksari pada Kamis, 11 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Kegiatan ini berlangsung di Aula Rahmad Rahman dan dihadiri oleh 70 guru PAI dari dua kecamatan tersebut.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat kapasitas guru dalam memahami, mengajarkan, dan menginternalisasikan nilai-nilai Al-Qur’an secara kontekstual di dunia pendidikan.

Para guru diharapkan mampu menjadikan Al-Qur’an tidak hanya sebagai materi ajar, tetapi juga sebagai panduan dalam membangun karakter dan akhlak peserta didik.

Dalam forum tersebut, Pengawas PAI Kota Surabaya, Ustadz Didik Purwanto, M.Pd., memberikan pengarahan yang menekankan pentingnya integritas seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an.

Didik memaparkan, guru PAI tidak hanya dituntut mengajar dengan baik, tetapi juga dengan benar. Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an akan dimuliakan oleh Allah.

“Maka, tugas kita adalah menjaga kemurnian ajarannya sekaligus menghadirkannya dengan metode yang relevan bagi anak didik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kualitas pengajaran tidak semata ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan guru menghadirkan nilai keotentikan Al-Qur’an sesuai tuntutan zaman.

Sebagai penyelenggara sekaligus tuan rumah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya memandang kegiatan ini sebagai bagian dari sinergi yang produktif antara lembaga pendidikan Islam dan tenaga pendidik di Surabaya.

Komitmen tersebut disampaikan dalam bentuk dukungan penuh terhadap kolaborasi yang memperkuat literasi Al-Qur’an di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

“Melalui kesempatan ini, Hidayatullah Surabaya juga menegaskan visi besarnya untuk menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi Qur’ani,” kata Ketua Yayasan Hidayatullah Surabaya, Ust. H. Syamsuddin, dalam keterangannya.

Upaya tersebut, jelas dia, diwujudkan melalui program-program yang mengedepankan penguatan literasi, praktik pengamalan, serta pembangunan karakter berbasis nilai Al-Qur’an.

Dengan demikian, tambahnya, kegiatan bimbingan teknis ini bukan hanya sebatas forum pelatihan, tetapi juga momentum untuk memperkokoh peran guru PAI dalam menjaga kesinambungan pendidikan Islami di Kota Surabaya.

Mushida Baubau Gelar Berbagi Hijab Gratis pada Hari Solidaritas Jilbab 2025

0
Foto: Noer Akbar/ Hidayatullah.or.id

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan kegiatan sosial berupa pembagian hijab gratis kepada masyarakat. Aksi ini menjadi bagian dari peringatan Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia (HSJD) atau International Hijab Solidarity Day (IHSD).

Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia pertama kali digagas pada 4 September 2013. Momentum tersebut lahir sebagai bentuk penolakan terhadap pelarangan penggunaan hijab di sejumlah negara, khususnya di kawasan Barat.

Sejak saat itu, HSJD diperingati setiap tahun oleh komunitas muslim internasional sebagai wujud dukungan atas kebebasan perempuan muslimah dalam mengenakan hijab.

Dalam konteks global, HSJD kerap ditandai dengan berbagai bentuk kegiatan. Masyarakat internasional menggunakan media sosial untuk menyebarkan poster, twibbon, maupun pesan-pesan solidaritas.

Selain itu, forum diskusi dan kegiatan edukatif di sekolah dan universitas digelar untuk memperluas pemahaman tentang isu hak asasi manusia, kebebasan beragama, serta pentingnya toleransi dalam penggunaan simbol-simbol keagamaan.

Di Kota Baubau, Mushida menjadikan momen ini sebagai sarana berbagi. Kegiatan berlangsung di dua lokasi, yaitu Kelurahan Kadolokatapi, Kecamatan Wolio, dan Kelurahan Kampeonaho, Kecamatan Bungi.

Acara ini turut didukung oleh Yayasan Pesantren Hidayatullah Baubau, wali santri, serta donatur Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Baubau.

Ketua PD Mushida Kota Baubau, Ustadzah Hamsiah Kholidah, S.HI., menjelaskan bahwa pembagian hijab telah menjadi agenda rutin organisasi.

“Syukur alhamdulillah… tahun ini merupakan tahun ke tiga pelaksanaan IHSD di Kota Baubau dan dari hasil donasi berbagai pihak kali ini terkumpul 100 paket hijab yang berisi jilbab, gamis, dan sepasang kaos kaki,” kata Hamsiah dalam keterangannya, Senin, 15 Rabi’ul Awal 1447 (8/9/2025).

Paket-paket tersebut dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama kaum perempuan muslimah. Salah seorang penerima manfaat, Nenek Fifi, menyampaikan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada ibu-ibu Mushida, hari ini kami dapat jilbab gratis yang bisa dipakai untuk kegiatan majelis taklim. Semoga dimurahkan rezeki dan berkah selalu,” ucapnya.

Tidak hanya berhenti pada pembagian hijab, acara juga dirangkaikan dengan program rutin Departemen Sosial Mushida, yaitu Sedekah Jum’at. Pada kesempatan tersebut, masyarakat menerima bantuan berupa sembako dan makanan siap saji.

Kegiatan sosial ini dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya mendukung kebebasan beragama. Hijab dipandang tidak semata simbol pakaian, tetapi juga representasi identitas dan ekspresi keagamaan.

Melalui kegiatan ini, terang Hamsiah, Mushida berharap tercipta pemahaman kolektif tentang pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan muslimah untuk mengenakan hijab tanpa diskriminasi.

“Dengan demikian, peringatan Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia 2025 di Baubau berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksi sosial yang langsung menyentuh kebutuhan warga,” tukasnya memungkasi.