Beranda blog Halaman 610

Liberalisme dan Kecemasannya

http://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-image33889799MERUYAKNYA perkembangan teknologi informasi khususnya internet tidak saja membawa angin segar bagi pelaku industri kreatif digital.

Momentum ini rupanya dimanfaatkan pula oleh kelompok-kelompok liberal dan pro-kebebasan, yang dalam hal ini kalangan liberal Islam.

Di Indonesia sendiri, jika kita coba kilas balik, sejak awal mencuatnya sebagai entitas resmi di tahun 2001 di Jakarta, sebetulnya aliran ini telah lama mati karena tak mendapat sambutan cukup dari khalayak.

Namun, seiring dengan terbukanya kran kebebasan berpendapat yang ditopang dengan gaung demokratisasi, mereka kemudian mencoba bangkit dari ketidakberdayaan itu.

Sejak awal perlangkahannya, kelompok yang kerap mengusung ide kesetaraan dan pluralisme agama ini lebih banyak memanfaatkan saluran internet untuk mentransmisikan buah pikiran mereka seperti melalui mailing list (milis) dan website.

Kelompok ini sebenarnya sempat mendapat ruang ekspresi di media cetak dan radio dimana kedua saluran itu memiliki jaringan nasional.

Namun lantaran gagasan-gagasan yang diutarakan dianggap tak cukup memadai memikat pembaca selain karena memang jauh dari konsepsi fundamental Islam yang selama ini diyakini umumnya masyarakat kita, akhirnya mereka benar-benar mati suri.

Saat ini, portal IslamLib.com dan yang terbaru MadinaOnline.id, agaknya menjadi semacam reinkarnasi dari batu nisan ketidaberdayaan mereka beberapa tahun terakhir. Hari-hari ini tanda-tanda keberadaannya tersebut mulai tampak lagi.

Selain kedua laman di atas sebenarnya masih ada beberapa laman lainnya yang menjadi representasi ide-ide kebebasan dan liberal Islam. Tetapi kita cukup menyebut kedua laman di atas karena hanya kedua situs ini saja yang kelihatannya cukup intens mentransmisikan konten.

Kecemasan

Seperti telah diketahui, umumnya narasi yang ditransimisikan oleh laman-laman yang mengklaim diri sebagai pembawa ide-ide kebebasan selalu menuturkan kecemasan dan kecurigaan, jika tidak ingin menyebutnya sebagai bentuk ketakutan tanpa dasar.

Menariknya, kekhawatiran mereka tersebut kemudian dikontsruksi dengan akrobat intelektual yang sebetulnya sama sekali tidak menghadirkan sesuatu yang baru dan dibutuhkan manusia modern abad ini, seringkali justru tampak kebingungan dalam telaahannya.

Seturut dengan itu, mereka dalam naskah-naskahnya seringkali menepikan teks-teks status quo bahkan berusaha mendekonstruksinya seraya mati-matian memuja akal yang jelas sangat terbatas kemampuannya.

Memang, nampak sekali ada kelainan (anomali) yang sangat akut yang menjangkiti teman-teman liberal Islam ini. Mereka mengasong ide-ide kebebasan dan kesalingpengertian tapi di waktu yang sama enggan berdamai dengan gagasan yang oleh kelompok ini dilabeli sebagai ide-ide puritan atau konsevatif.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya yang melatari kawan-kawan itu menggugat hal-hal yang sejatinya sudah baku atau dalam jumhur ulama sudah qath’I (pasti)? Alasannya, pertama-tama tentu adalah dalih kebebasan melakukan interpretasi yang bersandar pada logika semata, bukan pada teks teks seperti Qur’an dan hadits.

Bagi mereka, sebuah hukum yang dipercaya sebagai kebenaran di masa lalu bisa saja dipertimbangkan kembali sesuai konteks keadaan. Sesuatu yang tampak baik dan logis di masa lalu di tempat tertentu bisa saja menjadi tampak merugikan dan tidak masuk akal di masa kemudian dan di tempat berbeda.

Itulah diyakini oleh misalnya, Ade Armando, yang baru baru ini di laman web yang dipimpinnya menggugat kewajiban umat Islam melaksanakan ibadah haji. Dengan dalih kebebasan berpendapat, beliau tak ragu melakukan itu.

Menurut pria yang pernah dilaporkan ke polisi karena dinilai menghina Islam ini, kewajiban melaksanakan haji harus dipertimbangkan kembali. Yang lucu, Ade mendalihkan pendapatnya itu dengan sesuatu yang sebenarnya absurd karena jauh dari konteks yang bisa dipahami akal sehat.

Kecemasan serupa juga seringkali ditunjukkan oleh pendiri Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla. Lelaki yang baru-baru ini lantang menihilkan mukjizat para Nabi daripada teknologi ini pernah terlalu mengkhawatirkan tafsir monoteisme Islam, yang karenanya ia membuat pemikiran baru bahwa Kristen juga bertauhid.

Dalam artikelnya di Facebook itu, Ulil mencoba menguatkan argumennya dengan mengatakan bahwa yang dimaksud mentauhidkan Allah dalam surah Al Ikhlas adalah konsepsi Tuhan punya putera biologis. Bukan putera spiritual-metafisik.

Karena itu menurut Ulil, orang Kristen adalah bertauhid, dalam versinya sendiri. Tauhid, menurut Ulil, dalam Islam pun ada perbedaan pendapat seperti tauhid versi Ibnu Taimiyah dan mazhab Asy’ariyah.

Di sini Ulil tampak usil. Barangkali karena merasa terganggu dengan kiprah teolog dunia, yaitu Ahmed Deedat dan Zakir Naik, yang kita dikenal banyak mematahkan argumentasi kontra-Islam, Ulil dalam tulisannya itu lalu menyampaikan selamat tinggal buat keduanya dan good bye buat polemik teologis.

Maka, satir rasanya Ulil mengaitkan polemik teologis dengan sosok Ahmed Deedat dan Zakir Naik yang selama ini mampu menjadi pembicara perbandingan agama serta dapat diterima dimana-mana dengan gagasannya yang selalu tajam dan menukik ke pokok masalah.

Kesantunan dan logika kedua teolog ini memang diketahui sangat mengena dan terbukti mendapat simpati dari banyak pihak di dunia bahkan oleh kalangan atheis sekalipun. Hal terakhir inilah agaknya yang membuat Ulil merasa sedikit cemas.

Jika teman-teman ini adalah figur cinta damai, sejuk, dan benar sebagai muslim liberal, semestinya mereka tidak perlu menunjukkan kecurigaan dan kekhawatiran yang terlampau berlebih.

Sebab, faktanya, mereka kerapkali mencurigai sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicurigai apalagi dilihat menakutkan seperti soal ibadah haji dan parade tauhid.

Narasi kecurigaan yang ditunjukkan teman-teman liberal Islam, hemat saya, boleh jadi kemudian menjadi akumulasi kebencian terhadap pihak-pihak yang dianggap berlawanan. Kendati yang dicurigai tersebut tidak pernah benar-benar membahayakan siapapun.

Malah justru yang kita dikhawatirkan narasi kecurigaan itulah yang jangan-jangan sengaja dihadirkan untuk memantik pertikaian yang tidak perlu. Sebagian lainnya berpendapat boleh jadi narasi-narasi itu memang by order.

Saya pikir seorang Ade Armando yang paham komunikasi, seharusnya dapat menempatkan diri sebagai ahli tutur yang mampu meredam potensi konflik yang bisa saja dipicu salah satunya oleh transmisi narasi.

Daripada sibuk menaruh curiga kepada peserta Parada Tauhid, misalnya, maka sebaiknya Ade mencerna betul rangkaian acara tersebut tanpa perlu terburu-buru melekatkan umpatan kesana kemari.

Karena, sangatlah aneh sekali tuduhan beliau bahwa sepanjang orasi acara itu dipenuhi dengan seruan kebencian. Ahli komunikasi ini pun tak lupa menyebut sikap intoleran tokoh-tokoh Islam yang hadir dalam acara tersebut yang entah kesimpulan itu diambil dari mana.

Umat Cerdas

Patut disyukuri, umat Islam semakin dewasa seturut dengan kian bertumbuhnya pelbagai kanal-kanal komunikasi yang hari ini dapat menjangkau dan dijangkau siapa pun.

Kesadaran berislam yang berlandas pada pokok-pokok dasar agama dengan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai koridor utama, menjadikan umat ini semakin tercerahkan dengan pemahaman Islam yang luhur dan jauh dari tafsir-tafsir bias yang kerap diocehkan kelompok liberal.

Kondisi faktual ini tentu saja sangat tidak mengenakkan bagi kelompok penyeru kebebasan berfikir dan berkehendak. Kemajuan ini pulalah yang agaknya membuat ide-ide libertarian tak lagi mendapat ruang di masyarakat hari ini.

Walaupun nyata-nyata tidak perlu dicemaskan. Namun kecemasan terhadap perkembangan dan kesadaran umat Islam terhadap ajaran agamanya, tetap saja ada walaupun terlihat menggelikan. Tentu pembaca masih ingat ada LSM yang memprotes keberadaan sekolah dasar Islam terpadu (SDIT) yang katanya tidak nasionalis karena suka menyanyikan lagu-lagu perjuangan Palestina.

Anda mungkin tertawa keras mengetahui ada orang yang begitu cemasnya dengan keberadaan SDIT. Tapi ini fakta, bahwa ternyata ada saja upaya kelompok tertentu yang berusaha mengkebiri kesadaran berislam masyarakat Indonesia kendati cara yang digunakan sungguh naif, lucu, dan tentu irasional.

Belakangan kemudian muncul pula isitilah Islam Nusantara. Sepintas memang tidak ada masalah toh itu hanya istilah saja. Sampai hari ini pun kedua istilah itu tetap menjadi bahan diskusi banyak kalangan, yang itu artinya gagasan tersebut debatable dan selalu menarik dibincangan, tentu tanpa kecurigaan.

Hanya saja, dengan seabregnya istilah-istilah yang seolah ingin menampakkan diri sebagai penyeru terbaik dan terdepan dalam wacana kebangsaan, yang nampak justru adalah inferioritas sikap beragama kita. Kita kelihatannya seperti tidak percaya diri dengan slogan otentik Islam itu sendiri.

Tanpa Islam Nusantara, sekalipun, umat Islam di Indonesia telah membuktikan diri sebagai umat toleran, pengayom, dan cinta kasih. Timbulnya “intoleransi” yang seringkali dialamatkan kepada umat Islam justru rasanya lebih banyak dipicu oleh pihak lain yang enggan berkompromi baik secara hukum maupun etika.

Jadi, sejatinya, kita tak butuh tafsir-tafsir rumit untuk mengejawantah keluruhan ajaran Islam. Kita hanya khawatir, jangan sampai isitilah-isitilah tersebut malah menjadi alat kelompok tertentu untuk proyek liberalisasi dan pluralisasi agama.

Akhir kata, kita kini hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Maka selalu kuatkan pertahanan. Semoga kita janganlah terperdaya. Mari terus mempelajari agama ini agar semakin cerdas tercerahkan dan kemudian meyakini serta mengamalkannya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra. ia berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka”. Sahabat bertanya. “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nashrani yang Tuan maksudkan?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Siapa lagi?” (kalau bukan mereka). (HR. Muslim)

*) Yacong B. Halike, penulis adalah pelajar dan pernah bersentuhan dengan ide pendiri Hidayatullah, Abdullah Said

Hidayatullah Bekasi Gelar Daurah Qur’an 60 Hari 30 Juz

0

bekasiHidayatullah.or.id — Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi (HICB) membuka pendaftaran Daurah Al Qur’an Program Hafalan 30 Juz Selama 60 Hari. Pendaftaran daurah tahfizh Qur’an khusus ikhwan angkatan ke-6 ini telah dibuka dan program akan dimulai tanggal 9 Oktober hingga 7 Desember 2015.

Sekedar informasi, program daurah Qur’an ini telah sukses diselenggarakan di Kota Bogor, Jawa Barat, yang diselenggarakan oleh Pesantren Ruhama Hidayatullah Bogor. Ruhama Bogor telah menelurkan ratusan alumni dari program ini. Metode 60 hari hafal 30 juz ini digagas oleh Ustadz Ahmad Nur Shaleh, yang juga merupakan pembina Yayasan Ruhama Bogor.

Adapun syarat untuk menjadi peserta dauroh ini diantaranya adalah laki-laki usia 17-50 tahun, lancar membaca Al Qur’an, lulus tes bacaan, ada rekomendasi dari ustad atau tokoh agama setempat atau lembaga Islam.

Peserta juga harus mendapatkan surat izin dari orangtua dan istri bagi yang sudah berkeluarga, membawa surat keterangan sehat dari dokter, menyertakan ijazah asli/akte kelahiran asli, fotocopy KTP, infaq konsumsi, laundry, perlengkpan lainnya.

Bagi anda yang berminat mengikuti program hafalan Al Qur’an intensif ini dapat menghubungi nomor kontak panitia berikut:

– 08567892015 (Ustadz Abu Yuha)
– 087731113889 (Ustadz Furqon)
– 087741750792 (Ustadz Soesilo Satrio)
– 0818960612 (Ustadz Karyadi)
– Website: www.DakwahCenter.com | www.HidayatullahICB.com

Program dauroh ini terselenggara hasil kerja sama Yayasan Ruhama Bogor dan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

Bagi para dermawan yang ingin berkontribusi dalam program-program kami silahkan kirimkan donasi Anda di Rekening 4960000701 Bank Muamalat Cabang Tambun Bekasi atas nama Yayasan HICB atau Rek 7052026851 Bank BSM Cab. Pondok Kelapa atas nama Hidayatullah.

Informasi lebih lanjut dan konformasi hal-hal terkait lainnya, dapat menghubungi saluran kontak resmi di atas.

SDM Pesantren Harus Siap Hadapi MEA 2015

0

mea aseanHidayatullah.or.id — Pesatnya pertumbuhan industrialisasi di Indonesia ternyata juga menyasar kalangan pesantren.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan pesantren untuk memfasilitasi ketersediaan tenaga terampil dari kalangan pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri, seiring masuknya investasi jelang masuknya MEA 2015 nanti.

“Saya sudah mendengar lulusan ponpes tidak diragukan lagi. Sebab, lulusannya bisa menjangkau di luar negeri. Karena itu, kami tidak ragu. Kerja sama BKPM dengan Kemenag memberikan seluas-luasnya untuk alumni ponpes,” ujar Kepala BKPM Franky Sibarani, di sela-sela menandatangani kesepakatan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang disaksikan Menko Perekonomian Darmin Nasution, di Pondok Pesantren Qomarudin, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (23/08/2015).

Franky mengatakan, MoU ini pertama kalinya dilakukan antara lembaganya dengan Kemenag. Ini dilakukan agar tersedia tenaga kerja di dunia investasi yang memiliki nilai keagamaan tinggi.

Franky berharap kalangan dunia usaha dengan aktivitas investasinya dan pesantren dengan potensi tenaga kerja yang dimilikinya, harus tersambung dengan harmonis, agar tujuan pembangunan tercapai, yakni perekonomian maju dan tenaga kerja terserap.

“Selain meningkatkan daya saing investasi terkait ketersediaan SDM siap kerja, kerja sama ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya pemerintah menciptakan dua juta lapangan kerja setiap tahunnya,” pungkas Franky.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifudin mengatakan, peningkatan kompetensi lulusan ponpes mutlak harus dilakukan. Langkah ini diambil untuk memenuhi SDM menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

“Kompetensi lulusan ponpes harus ditingkatkan agar tidak ketinggalan dengan lulusan di luar ponpes,” kata Lukman.

Ia menambahkan, sebelumnya memang terjadi kesalahpahaman antara dunia industri yang dianggap mengancam dunia keagamaan. Paradigma tersebut kata Menag harus dikikis, sebab proses industri merupakan kebutuhan yang tidak terelekan.

“Semua ponpes harus membuka akses seluas-luasnya agar lulusan santrinya terserap di dunia industri,” tukas Lukman. (mtr/hio)

Calhaj Kukar Akan Jum’atan di Kampus Gunung Tembak

DSC_0096Hidayatullah.or.id — Jelang keberangkatan pertama calhaj (calon jamaah haji) asal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang tergabung dalam Kloter 6 pada Jumat 28 Agustus 2015 mendatang, Pemerintah Kukar mengadakan rapat koordinasi dengan instansi terkait sehubungan dengan pemberangkatan jemaah haji Kutai Kartanegara.

Dalam rapat koordinasi tersebut disepakati beberapa poin antara lain jumlah jasa angkutan bus yang diperlukan sebanyak 10 buah dan truk pengangkut barang bagasi sebanyak 4 buah.

Pada Keberangkatan pertama bis akan mengangkut kloter 6 sebanyak 358 jamaah, sedangkan 1 bis lagi akan mengangkut kloter 7 sekitar 29 orang pada 30/08/2-15. Setelah acara pelepasan, bis akan bertolak ke Embarkasi Balikpapan pada pukul 08.30 WITA.

Jamaah haji akan beristirahat sejenak di KM 48 dan dijadwalkan langsung menuju Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan untuk menunaikan sholat Jumat dan melanjutkan perjalanan menuju Embarkasi Asrama Haji Batakan.

“Sesuai dengan yang dijadwalkan, calhaj akan memasuki memasuki Asrama Haji Batakan Balikpapan pada pukul 15.00 WITA. Calhaj pada Kloter 6 akan di terbangkan dari Balikpapan menuju Madinah pada 29 Agustus 2015 pukul 13.35 dan tiba di Medinah pada tanggal 29 Agustus jam 20.35,” kata Asisten IV Pemerintah Kutai Kartanegara, Drs. H. Bahrul Ssos MM yang memimpin rapat terbatas tersebut.

Dia menjelaskan, untuk jamaah haji Kloter 7 Kutai Kartanegara sebanyak 29 orang asal kecamatan Muara Jawa akan di berangkatkan dari Kecamatan Muara Jawa menuju Balikpapan pada 30 Agustus jam 05.30 WITA dan masuk Asrama Haji Batakan Balikpapan pada pukul 8.00 Wita .

“Kloter 7 akan di terbangkan dari Balikpapan menuju Madinah pada tanggal 31 Agustus jam 00.35 dan akan tiba pukul 07.35 waktu Saudi,” kata Bahrul.

Dalam rapat ini dibahas juga tekhnis pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji Kutai Kartanegara. Pertemuan ini dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kukar, Drs. H. Sulaiman Anwar, Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah, Drs. H. Mukhtar MM dan dari instansi terkait yang melibatkan kepolisian bagian patwal, Dinas Perhubungan Kukar, dan Satpol PP.

Selain itu hadir pula pengurus Mesjid Agung Tenggarong dan pihak jasa transportasi Jahe Raya sebagai penyedia jasa layanan transportasi darat dari Daerah asal menuju Embarkasi dan sebaliknya. (ybh/hio)

Hidayatullah Lepas 30 Dai Mengabdi ke Pelosok Nusantara

penugasan sarjana dai tangguhHidayatullah.or.id — Sebanyak 30 Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah yang baru saja lulus tahun ini mendapat penugasan dari Pimpinan Pusat untuk berdakwah ke pelosok Nusantara. Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersinergi dengan Permata Bank Syariah turut mendukung Program Da’i Tangguh yang akan berdakwah di luar Pulau Jawa.

Dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat Hidayatullah, 30 Sarjana Ekonomi tersebut secara terpisah akan ditugaskan ke beberapa pedalaman wilayah Indonesia, seperti: di Papua, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Bangka Belitung, Gorontalo, NTB dan NTT.

Wilayah dakwah yang sangat jauh itu sebut saja, Ahmad Sukron SE yang ditugaskan ke Sungai Nyamuk –Kalimantan Utara, Muslimin SE bertugas di Boven Digul – Papua, Sapriadi SE di Raja Ampat – Papua, Muhammad Sayyaf SE di Halmahera Timur – Maluku Utara. Saat dibacakan SK penempatan tugas, para sarjana itu memekikkan Allahu Akbar.

Dakwah adalah tanggungjawab setiap Muslim. Hal inilah yang membuat Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah terus mengedukasi masyarakat luas untuk mengerti urgensi dan tantangan dakwah Islam di Indonesia. Melalui Program Da’i Tangguh, para dai yang bertugas di pelosok Nusantara dapat terbantu mengembangkan dakwahnya di tempat tugas yang diberikan.

Saat membuka Halal Bi Halal dan Talkshow Inspiratif Da’I Tangguh di Pondok Pesantren Hidayatullah, di Jl. Raya Kalimulya, Sukmajaya, Kota Depok, belum lama ini (15/8) Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah, Ustadz DR. Abdul Manan, MA memberi motivasi kepada para Sarjana Ekonomi binaan Hidayatullah agar tetap bersemangat dalam berdakwah, meski banyak rintangan dan tantangan yang dihadapinya.

“Dalam misinya Hidayatullah terus melanjutkan misi kenabian dan kerasulan, juga kelembagaan serta individual. Dai yang akan dilepas untuk berdakwah di pelosok Nusantara, yakinkan Allah bersama kita. Sebagai mujahid dakwah jangan pernah khawatir tantangan dakwah yang akan dihadapi nanti,” kata Abdul Manan.

Lebih lanjut Abdul Manan berpesan, mujahid dakwah menjadi cacat spritualnya jika satu malam tidak bangun untuk Qiyamullail. Jika tidak bangun malam, maka ia harus menggantikan shalat Dhuha sebanyak 12 rakaat.

“Seorang pendakwah itu tidak ada pensiunnya. Meski sudah tua, semangatnya untuk berdakwah harus tetap membara. Yakinlah, bahwa Islam akan bangkit di Nusantara Indonesia. Bukan dari Timur Tengah. Untuk mewujudkan NKRI yang kokoh dilakukan dengan cara dakwah, dimana pun berada. Tanpa dakwah Islam NKRI akan terancam. NKRI terwujud di tangan orang-orang beriman,” ungkap Abdul Manan.

Bagi para da’I yang mendapat tugas di tempat yang jauh, terimalah dengan hati lapang, ucapkan Alhamdulillah, jangan tinggalkan Qiyamullail dan senantiasa membaca Al Qur’an. “Jangan hanya pintar di kelas, tapi juga sukses di lapangan,” ujar Abdul Manan.

Turut hadir dalam Talkshow Inspiratif Dai Tangguh, yakni: Irwansyah (artis), Syaiful Anwar (dai Hidayatullah), dan undangan lainnya.

Sejumlah selebritis seperti Teuku Wisnu, Dude Herlino, Syahrul Gunawan, Agus Idwar menyatakan dukungannya kepada BMH, khususnya Program Dai Tangguh di Pelosok Nusantara.

Kepala Humas BMH, Imam Nawawi, mengatakan para dai sarjana ini ditugaskan mengabdi ke cabang-cabang Hidayatullah di nusantara.

“Diantaranya ada yang berwiraswasta merintis lembaga keuangan syariah yang memungkinkan dibukanya lapangan kerja bagi masyarakat setempat seperti yang telah dilakukan salah satu alumni di Kudus, Jawa Tengah,” kata Nawawi.

Nawawi menjelaskan, selain sebagai seorang sarjana, penerima manfaat dari program Dai Tangguh ini juga dituntut untuk berperan sebagai dai. Sehingga mereka harus dapat menjadi tauladan yang baik di di masyarakat.

Nawawi berharap sinergi BMH dengan Permatabank Syariah dan banyak institusi lainnya dapat terus terjalin dengan baik dan berkesinambungan dalam rangka terwujudnya masyarakat Indonesia yang mandiri dan berperadaban mulia.

“Maju dan berkelanjutan untuk Indonesia mulia, Insya Allah,” pungkasnya.(ip/hio/ybh)

Pemkot Apresiasi Sinergi dengan Hidayatullah Bontang

marhalah wustha bontang marhalah wustha bontang3Hidayatullah.or.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Walikota Ir. H. Adi Darma, M. Si mengapresiasi peran kemasyarakatan Yayasan Pesantren Hidayatullah Bontang dan mendorong Hidayatullah untuk terus melanjutkan keterlibatannya dalam pembangunan khususnya di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi sumber daya insani.

Hal itu disampaikan Walikota Adi Darma saat membuka acara Daurah Marhalah Wustha yang dirangkai dengan Pelatihan Dai se-Kaltim dan Kaltara digelar di Gedung Dakwah Hidayatullah Bontang, dibuka pada Kamis (20/08/2015).

“Pemerintah terus mendorong peningkatakn sinergi dengan Hidayatullah dalam rangka bersama-sama menciptakan Kota Bontang yang nyaman, mandiri, dan agamis,” kata Adi Darma dalam sambutannya.

Dikatakan Walikora, Hidayatullah Bontang telah berkontribusi positif bersinergi dengan banyak pihak mendukung implementasi program Kota Bontang khususnya mendorong terciptanya masyarakat yang berbudi luhur yang juga menjadi visi pemerintah kota.

“Apa yang menjadi program Hidayatullah secara nasional lalu turun ke provinsi lalu kemudian dijabarkan di daerah seperti Kota Bontang, telah turut mendukung suksesnya program-program pembangunan wilayah secara sinergis,” tukas Walikota.

Sementara itu Ketua Dewan Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, dalam pengarahannya berpesan kepada kaum muslimin khususnya kader Hidayatullah untuk konsisten serta membangun kedisipilan tinggi yang semata diniatkan dalam rangka pengabdian kepada Allah Ta’ala.

Dengan adanya sumber daya manusia yang memiliki loyalitas, konsistensi, serta dedikasi yang baik dalam pengabdian terhadap kepentingan umat secara luas, maka kata Kiai Hamim, akan menumbuhkan etos kerja yang berkinerja tinggi.

“Kita harus mempersiapkan SDM handal. SDM yang handal dari berbagai aspek khusunya spiritualitas dan loyalitas, Insya Allah menjadi kunci eksis dimasa yang akan datang,” pesan beliau.

Ketua PW Hidayatullah Kalimantan Timur, Hamzah Akbar, di kesempatan yang sama menyampaikan terimakash kepada semua pihak khususnya pemerintah Kota Bontang yang selama ini turut bermitra dengan Hidayatullah di Kaltim secara umum. Ia juga menyampaikan bahwa Hidayatullah secara nasional pada bulan November mendatang akan menggelar MUsyawarah Nasional ke-IV di di Balikpapan.

“Insya Allah, dengan dukungan banyak pihak tak terkecuali Pemerintah Kota Bontang, kita berdoa Munas IV Hidayatullah nanti berjalan lancar tanpa kendala yang berarti, Aamiin,” pungkas dia.

Dauroh Marhalah Wustha yang digelar selama 3 hari di Kampus Terpadu Pesantren Hidayatullah Bontang ini dihadiir oleh puluhan dai perwakilan dari berbagai daerah kabupaten/ kota di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. (ybh/hio)

Independensi Tauhid dan Hakikat Kemerdekaan

indonesia merdekaOleh KH Sholeh Hasyim

SESUNGGUHNYA kemerdekaan sejati adalah ketika kita siap diatur oleh sesuatu yang tidak berkepentingan kecuali untuk kebaikan pendakian mutu diri kita yang bermuara pada tauhidisme.

Kita beri peluang seluas-luasnya agar kedaulatan Allah tegak (tamkin) dalam diri, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia. Seorang mukmin melakukan dan tidak melakukan sesuatu kecuali berada dalam orbit keinginan dan restu Allah Ta’ala.

Orang yang bertauhid memahami apa maunya Allah. Dengan membaca Al Quran, sama dengan berdialog langsung dengan-Nya. Kebebasan berpikir yang terbatas kita tundukkan dibawah cakrawala kalimat-Nya yang tidak terbatas.

Kemudian, karena sifat Rahman dan Rahim-Nya, maka ketergantungan kita kepada-Nya tidak merampas kemerdekaan kita. Jadi kita mentauhidkan Allah, karena kita menyayangi diri kita sendiri, sedangkan Dialah yang menjadikan diri kita makhluk yang terbaik.

Demikian pula, secara individu setiap manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka. Namun, dalam mempertahankan kehidupannya (gharizatul baqa), manusia pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa bergantung kepada manusia lain, yaitu ibunya.

Akan tetapi, setiap ibu telah dikaruniai Allah suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian rupa, sehingga setingkat hanya dibawah sifat Rahman (kasih sayang) Allah.

Oleh karena kasih sayang ibu yang ditujukan kepada anaknya ini demikian murninya dan tanpa pamrih sedikitpun, maka nilai kemerdekaan si anak tidak tercemar lagi ternoda oleh ketergantungannya kepada kasih sayang ibu pada tahap awal kehidupannya.

Kasih sayang ibu ini ditopang pula oleh kasih sayang ayah yang tingkat kesempurnaannya setingkat dibawah kasih sayang ibu. Dengan landasan kasih sayang yang ikhlas sesama anggota keluarga ini, seorang anak-anak mulai menjalani kehidupannya dengan merdeka di tengah-tengah pergaulan sesama manusia.

Oleh karena itu pula, durhaka kepada ibu merupakan dosa yang besar sesudah syirik. Dan tidak akan diampuni oleh Allah selama ibu sendiri tidak memaafkannya.

اثناَنِ يعَجِلهما الله في الدنيا البَْغيُ وَ عُقُوقُ الوالِدَينِ

ِRasulullah Saw bersabda: Ada dua dosa yang disegerakan di dunia ini yaitu al-Baghyu dan durhaka kepada orang tua (HR. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani).

Wahai anakku tersayang, janganlah engkau menyekutukan Allah, Sesungguhnya syirik adalah kezaliman (dosa) yang amat besar (QS. Luqman (31) : 13 ).

Dimensi Kemerdekaan

Semua Rasul diutus ke dunia untuk mengajarkan dan menegakkan independensi tauhid. Dengan karakter tauhid, seseorang memiliki kedudukan sama di hadapan manusia lain.

Karena itu, kita tidak boleh merendahkan orang lain karena dia sudah diangkat oleh Allah menjadi khalifah. Karena seseorang tidak dinilai dari posisi dan pendapatannya, tetapi dari peran yang dilakukan dan kontribusi yang diberikan serta peran-peran sosialnya (al ‘ibratu bid dauri wal ‘athaai laa bil manashibi wal wazhaaifi).

Kemuliaan seseorang tidak dinilai dari keturunan, suku, warna kulit, harta, kekuasaan, dan asesoris lahiriyah lainnya, tetapi dari bobot iman, amal shalih, dan ketakwaannya.

Ada seseorang itu hanya berprofesi sebagai tukang sayur, tukang bubur, tukang gali sumur, tukang gali kubur, tukang cukur, tukang lulur dan urut, sebuah profesi yang dilihat kebanyakan manusia dengan sebelah mata, tetapi jika memiliki mental suka memberi, dan yakin dengan memberi itu pasti memperoleh, maka dia adalah manusia yang terhormat.

Daripada seorang Gubernur, tapi tidak memiliki peran dan kontribusi sosial, bahkan melakukan KKN. Dia duduk di kursi hanya untuk berebut posisi, komisi, dan ambisi, serta intres pribadi. Idealnya kedudukan yang tinggi berbanding lurus dengan peran strategis yang dilakukan dan kontribusi yang diberikan.

Kualitas pemimpin tidak dinilai dari banyaknya statemen (katsratur riwayah), tetapi ditimbang dari kualitas pelayanannya dan keterampilan mendengar dari rakyat yang di bawah kepemimpinannya (katsratur ri’ayah wal istima’). Pemimpin sebuah bangsa adalah yang terampil melayani mereka (sayyidul qaumi khadimuhum), meminjam istilah Umar bin Khathab.

Pada zaman dahulu ada suatu kaum yang memiliki postur tubuh yang tinggi besar (60 hasta). Satu hasta = 75 cm.  75 X 60 = 4500 cm = 45 m. Mereka memiliki keterampilan yang tidak tertandingi oleh banga manapun, memahat pegunungan menjadi aparteman mewah. Merekalah kaum Tsamud.

Tetapi, sayangnya, mereka tidak mampu mengelola karunia tubuh dan ketrampilan yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan mereka mengingkari-Nya. Besok di akhirat timbangannya lebih ringan dari sayap seekor nyamuk (janahu ba’udhah).

Rasulullah Saw bersabda dari Abu Hurairah :

انه ليأتي الرجل العظيم السمين يوم القيامة لا يزن عند الله جناح بعوضة وقال اقرءوا الأية : ….. فلا نقيم يوم القيامة وزنا

Sungguh, akan datang seorang laki-laki yang gagah dan gemuk pada hari kiamat yang berat timbangannya tidak seberat sayap nyamuk. Rasulullah Saw bersabda : Bacalah ayat berikut ini:

Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka,  dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian (timbangan)  bagi (amalan) mereka pada hari kiamat (QS. Al Kahfi (18) : 105).

Mengapa dakwah menuju tauhidullah selama 13 di bumi Makkah, hanya beberapa gelintir orang saja yang merespon, itupun dari kalangan kaum du’afa (lemah) dan mustadh’afin (tertindas)?.

Sederhannya, karena mereka tidak memiliki status quo.  Karena kemerdekaan obyek dakwah telah terkontaminasi oleh struktur (kekuasaan) dan kultur (lingkungan sosial) yang didominasi oleh dhannul jahiliyah (persangkaan jahiliyah), tabarrujul jahiliyah (perilaku jahiliyah), hamiyyatul jahiliyah (fanatisme jahiliyah), dakwal jahiliyah (seruan jahilyah).

Pada akhirnya umumnya masyarakat Makkah ketika itu terpenjara oleh kebodohan dan kegelapan. Efeknya, lahirlah pikiran yang jumud, ucapan tanpa arah, dan perilaku yang menyimpang.

Fenomena jahiliyah klasik berawal dari pikiran yang rusak karena kecanduan 200 macam bentuk minum-minuman keras. Akibatnya kemaksiatan dan penyakit moral (patologi sosial) demikian akut dan menggurita menjangkiti bangsa Arab saat itu.

Tauhid berusaha mengembalikan manusia kepada jati dirinya sebagai manusia. Ajaran keimanan, mencerdaskan otaknya, memperluas cakrawalanya, menghidupkan hati nuraninya, mempertajam emosi dan perasaanya, dan menggerakkanf fisiknya, secara bersamaan.

Dengan tauhid manusia menjadi utuh kembali semua unsur-unsurnya. Baik unsur akal (aqliyah), ruhani (ruhiyah), dan keterampilan fisik, jasadiyah (life skill). Tauhid, mampu memberdayakan potensi ijtihad, mujahadah, dan jihad, secara stimulan dan simultan.

Kebebasan, Bukan Kebablasan

Ketika manusia hilang kemerdekaanya, sejak saat itu kemanusiaanya telah terampas. Jadi, bobot kehidupan dan kematian seseorang sebanding dengan mutu kemerdekaanya. Memberi kesempatan kepada orang lain untuk hidup, berarti membebaskannya dari keadaan yang membelenggunya.

Sebaliknya, ketika kita merampas kemerdekaan orang lain, berarti kita menjajah dan menindasnya. Maka, Islam anti penjajahan. Penjajahan fisik sungguh berbahaya. Dan lebih berbahaya lagi adalah penjajahan mental.

Oleh karena itu ada ungkapan Arab :

لا شيئ أثمن من الحرية

Tiada ada sesuatu yang lebih berharga melebihi kemerdekaan.

Seseorang  dikategorikan mati, sekalipun masih bernafas, berjalan-jalan, makan dan minum, melakukan profesi tertentu,  jika tidak merdeka. Seseorang yang mati secara fisik, karena ingin memperjuangkan kemerdekaan, sesungguhnya dia masih hidup di tengah-tengah kita. Karena, umur manusia itu ada dua. Umur jasmani dan umur ruhani.

Ahli sastra Mesir Syauqi mengatakan :

احفظ لنفسك قبل موتها ذكرها فان ا الذكر للا نسان عمر ثا ني

Jagalah dirimu sebelum wafatmu dengan membangun citra yang baik, sesungguhnya citra yang baik itu bagi manusia adalah umur yang kedua.

Para sahabat dahulu ketika diberi kesempatan memimpin, yang tertindas dikembalikan hak-haknya. Dan yang menindas, karena pengaruh kekuasaan, keturunan dan hartanya, diambil secara paksa, dan dikembalikan kepada yang berhak.

Setiap manusia yang lahir diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih (ikhtiar), berkehendak (iradah), berkeinginan (masyiah) untuk melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu. Bebas untuk mencatat daftar kebutuhan dan deretan keinginan. Orang yang cerdas selektif dalam memenuhi kengininannya. Apakah keinginannya itu sesuai dengan kebutuhannya?.

Ada tiga level kemerdekaan yang merupakan karunia yang paling mahal. Tidak bisa ditukar dengan apapun. Kemerdekaan beragama (hurriyyatut tadayyun), kebebasan berpikir (hurriyyatul fikriyah), kebebasan berpendapat (hurriyyatul qaul). Hanya saja semua nikmat kemerdekaan itu akan dimintai pertanggungjawaban (QS. At Takatsur ayat 5).

Oleh karena itu, kemerdekan dan kebebasan yang diakui oleh Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Berbeda dengan orang Barat yang terkenal dengan pameo mereka: Berbuatlah sebebas-bebasnya asalkan kebebasanmu tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Itulah pola hidup masyarakat yang liberal dan hedonis. Mustahil, kebebasan kita tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain. Dalam Islam masyhur ungkapan berikut:

Apa yang dapat kalian korbankan untuk memberi kebebasan orang lain. Sebuah kebebasan yang terikat dengan nilai-nilai moralitas. Bukan kebebasan tanpa ada batas-batasnya. Budaya barat mengajarkan bagaimana kita mengambil. Dalam budaya Islam, diajarkan sikap mental memberi.”

Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, ada tiga komponen fundamental yang menjadi indikator khusus sebuah  kemerdekaan yang bertanggungjawab, adil, dan beradab (bermoral).

Pertama, al- Haqq laisa al-Fusuq (kebenaran yang sesuai dengan hati nurani, bukan kejahatan yang keluar dari ketaatan). Seseorang diberi kebebasan untuk memilih agama, karena kebenaran dan penyimpangan itu sudah jelas.  Kebebasan untuk berpikir ilmiah. Kebebasan untuk berpendapat. Karena, ketiganya merupakan hak. Merupakan cerminan dari jati diri manusia.

Manusia itu senang kepada kebaikan yang dikenali hati (al Ma’ruf). Senang kepada kejujuran, kelembutan, keadilan. Dan manusia itu benci kepada kebaikan yang diingkari hati (al Munkar). Benci kepada kebohongan, kesadisan, dan kezaliman.

Sebaliknya, atas nama kemerdekaan, seseorang tidak diperbolehkan untuk berbuat kolusi, korupsi, nepotisme. Seseorang tidak dihalalkan main perempuan, makan riba, mencuri, membunuh, minum-minuman keras, karena semua itu adalah perbuatan keji. Dan barangsiapa yang rusak moralnya sama dengan menyiksa dirinya sendiri (man saa-a khuluquhu ‘adzdzaba nafsahu), meminjam istilah Ali bin Abi Thalib.

Kedua, laa dhororo wa laa dhiror. Tidak menimbulkan bahaya. Dalam islam membahayakan diri dan orang lain dilarang. Islam diturunkan untuk memelihara enam kebutuhan primer. Menjaga akal (hifzul ‘aql), memelihara keturunan  (hifzun nasl), menjaga harta  (hifzul maal), menjaga agama  (hifzud din), menjaga jiwa (hifzun nafs), serta menjaga kehormatan (hifzul ‘ardh).

Ketiga, Al Iltizam bil adab wal ‘urf. Memiliki keterikatan yang kuat dengan adab dan tradisi yang baik. Mengedepankan adab dan kepatutan. Inilah yang menyempurnakan kriteria sebelumnya agar kemerdekaan itu bernilai dan berbobot.

Seseorang boleh memilih jalan mana saja yang ia sukai. Tetapi, ia harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas  untuk menjaga ketertiban bersama. Ketika ada lampu merah, berhenti. Ada lampu hijau, meneruskan perjalanan. Pejalan kaki berada di sebelah kiri jalan.

Jadi, untuk menciptakan masyarakat yang tertib, masing-masing individu harus mampu mengelola hawa nafsunya dan taat aturan. Bukan memberi peluang yang sebebas-bebasnya untuk melakukan apa saja yang diinginkan.

Jangan sampai terjadi, memilih demokrasi, tetapi menimbulkan anarki. Memilih kebebasan tetapi kebablasan. Berani berbuat, tetapi tidak berani bertanggungjawab. Selalu menuntut hak, tetapi tidak melaksanakan kewajiban. Ingin dipahami tetapi senang menyalahpahami. Ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar. Berbeda pendapat, tetapi hanya didorong oleh perbedaan pendapatan.

Sejatinya berbeda pendapatan tidak menjadi masalah, yang penting tidak berbeda pendapat.  Jangan dibalik, berbeda pendapat tidak masalah, yang penting tidak berbeda pendapatan.

Hari-hari ini bangsa kita tercinta sedang dalam euforia 70 tahun Indonesia merdeka. Indonesia memang bebas dari penjajahan pisik, tetapi secara mental dan kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, keamanan, tidak dapat melepaskan ketergantungan dari pihak asing.

Pertanyaannya, benarkah kita sudah merdeka!

___________

USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

Dakwah Islam Akan Kokohkan NKRI dan Pancasila

daitangguh3Hidayatullah.or.id — Tegaknya Islam akan dimulai dari nusantara Indonesia dengan iringan dakwah yang merangkul menjangkau semua lapisan. Tanpa dakwah, NKRI akan terancam sebab mayoritas penduduk negeri adalah umat Islam.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Abdul Mannan, saat melepas 30 dai program Inspirasi Dai Tangguh LAZNAS BMH di Kota Depok, Jawa Barat, pekan lalu ditulis pada Rabu, (19/08/2015).

“NKRI dan Pancasila akan terjamin di tangan orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala,” tegasnya.  .

Kepada para sarjana lulusan tahun 2015 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) yang sepenuhnya mendapat beasiswa dari BMH ini, beliau mengingatkan bahwa misi Hidayatullah adalah misi Kaaffatan Linnaas Rahmatan lil ‘Alamiin yang ingin meng-Hidayatullah-kan umat manusia seluruh dunia.

“Hidayatullah yaitu hidayah Allah. Kita ingin semua manusia bisa merasakan nikmat dan indahnya Islam ini,” ujarnya.

Beliau juga mengemukakan, para dai muda ini tidak tahu sama sekali akan ditugaskan mengabdi di mana. Sebelum SK Tugas dibacakan mereka belum tahu di mana mereka akan diterjunkan.

“Mungkin nanti ada yang nangis, ya urusannya. Tidak ada istilah pulang dalam jihad, yang ada adalah tugas untuk Puang (Tuhan),” selorohnya seraya mengutip sebutan Tuhan dalam bahasa Bugis.

Beliau mengatakan kalau ada kader yang kemudian bersedih dengan segala beban tugasnya di tempat tugas, dalam hati terdalam sebenarnya ikut terenyuh juga.

“Tapi kita tetap lepas dengan air mata. Tapi mereka yakin bahwa Allah Ta’ala di Irian itu juga yang ada di Jawa. Allah Ta’ala di Depok, di Sumatera, di Makkah, adalah Allah yang satu yang memiliki alam semesta ini,” pesannya.

Kepada para dai beliau berpesan untuk tidak khawatir. Ia mengingatkan bahwa tugas dai adalah tugas pengabdian untuk universalitas kemanusiaan. Karenanya ia mengimbau para dai untuk mengedepankan akhlak yang baik kapan dan dimanapun berada.

“Wasjud waqtarib, begitu pesan Allah. Jika tantangannya berat dan menantang, maka wasjud waqtarib. Sujudlah dan dekatkan diri pada Allah Ta’ala,” katanya.

Menurutnya, spiritualitas adalah senjata utama untuk menghadapai berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapi. Sebab itu, ia berpesan agar para dai senantiasa memelihara ibadah qiyaamul lail dan tartiilul Qur’an.

“Pesan saya, bangun tahajjud di tengah malam, baca Al Qur’an sebagai sumber inspirasi utama sebelum baca koran. Bermunajatlah kepada Allah Ta’ala agar tugas kalian sukses menurut penilain-Nya. Itu harus dipegang betul. Tanpa itu kita akan terseret oleh dinamika kehidupan yang sangat tidak kenal ampun,” pesannya.

Ia menambahkan, teori yang dipelajari di ruang kuliah belum tentu cocok dengan keadaan di lapangan karena itu seorang sarjana harus selalu belajar dan berlatih.

Beliau memungkasi dengan menekankan pentingnya 3 hal dalam setiap tugas dan amanah yang dijalankan yaitu niat yang selalu terjaga, ibadah ikhlas karena Allah, dan kerja cerdas dan keras. (ybh/hio)

Bromocorah Sekalipun Harus Diajak Dekat dengan Allah

manna

Hidayatullah.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Abdul Mannan, mengatakan seorang dai hendaknya memiliki kepekaan kemanusiaan dalam dakwahnya. Sehingga seorang yang dicap bromocorah pun harus dirangkul agar dekat kepada hidayah Allah Ta’ala.

“Ini artinya, semua insan harus diajak untuk dekat-dekat dengan Tuhan apalagi artis,” katanya didampingi artis Irwansyah usai melepas 30 dai program Dai Tangguh LAZNAS BMH di Kota Depok, Jawa Barat, pekan lalu ditulis pada Rabu, (19/08/2015).

Umumnya di masyarakat, sebutan bromocorah bermakna sangat negatif yang berkaitan dengan semua bentuk kejahatan dalam satu paket seperti doyan mabuk, maksiat, mencuri, melakukan kekerasan, dan lain sebagainya.

Ustadz Abdul Mannan dalam jumpa pers usai acara pelepasan dai, mengatakan selama umat Islam selalu mendapat stigma negatif seperti beringas, kasar, dan arogan.

Menurut beliau, stigma-stigma tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam sehingga harus dieliminir.

“Kita membawa misi dakwah yang sejuk, familiar, dan semua harus diakomodasi. Kalau memang belum paham tentang Islam, kita ajak, kita sharing,” imbuhnya saat konferensi pers yang juga didampingi Direktur BMH Wahyu Rahman dan Kepala UPZ Bank Permata Syariah Aidil Muhammad.

Ditegaskannya, kita tidak boleh asal menuduh orang lain kafir atau bid’ah karena bisa jadi informasi tentang Islam memang belum sampai padanya.

“Karena itu kita hadir sebagai perantara mediator dengan penuh kesejukan untuk sampainya hidayah itu,” ujarnya.

Tradisi di Hidayatullah, jelas beliau, semua komponen harus dirangkul. Pokoknya yang namanya orang atau manusia, lanjut dia, harus diajak kepada Islam dan dekat kepada Allah.

“Bahkan yang kita biasa sebut bromocorah pun kita rekrut untuk bisa memahami Islam. Kita ajak beribadah, anaknya kita santuni,” tukasnya.

“Jangan sampai, maaf ini, semua langsung bid’ah dholalah finnaar. Ini gak bener, memang surga neraka miliknya dia, Allah Ta’ala yang punya. Jadi masalahnya disitu. Kita ini tidak boleh memvonis yang begitu-begitu,” pesannya.

Ia pun menceritakan pengalamnnya pernah bersinggungan langsung dengan orang-orang yang dicap sebagai bromocorah.

“Saya tanya, kenapa menjadi seperti itu (bromocorah), (jawabannya) anak saya mau makan, anak saya mau sekolah. Anaknya kita sekolahkan di Pesantren Hidayatullah, semuanya gratis. Akhirnya menangis dan bertaubah. Adapun masalah tatto dan lain sebagainya kalau memang tidak bisa hilang ya jangan dipaksa-paksa,” imbuhnya.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) menggelar acara pelepasan Daitangguh yang dikirim ke berbagai penjuru nusantara untuk melakukan pengabdian keummatan di tengah masyarakat.

Sebanyak 30 orang alumni tahun 2015 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) kota Depok, Jawa Barat, yang mendapatkan beasiswa sepenuhnya dari BMH, dilepas oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah, H. Abdul Mannan.

Semua dai sarjana ini ditempattugaskan di luar pulau Jawa. Diantaranya di Manado Sulawesi Utara, Ternate Maluku, Pangkal Pinang Belitung, Bivon Digul Papua, Sungai Nyamuk Sebatik perbatasan NKRI Kalimantan Utara, dan lain sebagainya. (ybh/hio)

Permata Syariah Kembangkan Kemitraan dengan BMH

aidil muhammad2Hidayatullah.com — Bank Permata Syariah berkomitmen akan terus mengembangkan kerjasama kemitraan dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) dalam banyak program sosial, pendidikan, dan dakwah.

Hal itu dikatakan Kepala Unit Pengelola Zakat (UPZ) Bank Permata Syariah, Aidil Muhammad, dalam jumpa pers usai pelepasan 30 dai program DaiTangguh LAZNAS BMH di Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu ditulis pada Rabu, (19/08/2015).

“Kami melihat BMH sebagai lembaga yang fokus terutama di bidang pendidikan, dakwah, dan ekonomi. Pilar-pilar itu sangat beriringan positif dengan dengan kami selaku Permata Bank Syariah di industri keuangan,” kata Aidil Muhammad.

Aidil mengatakan kerjasama kemitraan dengan BMH sejauh ini memang baru pada level pusat. Melihat perkembangan positif kemudian program-program BMH yang dijalankan dengan baik, Insya Allah, kata Aidil, malah nanti kerjasama ini bisa berkembang ke level daerah tempat tugas para dai dai BMH.

“Sinergi juga bisa dalam bentuk sharing tentang ilmu keuangan khususnya. Semoga nanti ada singeri yang bisa dilakukan di sana khususnya di STIE Hidayatullah,” pungkasnya.

Sekedar informasi, Bank Permata Syariah merupakan anak usaha dari Permata Bank. Bank Permata sendiri dibentuk sebagai hasil merger dari 5 bank di bawah pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yakni PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Prima Express, PT Bank Artamedia, dan PT Bank Patriot pada tahun 2002.

Bank Pertama Syariah meraih Best Overall Performance empat kali berturut-turut kategori Bank Syariah dalam penghargaan Banking Service Excellence 2013-2014; Unit Usaha Syariah Terbaik dengan asset >5 Triliun dari Investor Award 2014.

Kerjasam kemitraan dengan BMH dilakukan diantaranya pada program pendidikan yang menjalankan Sekolah Pemimpin dan pengiriman dai pendidik ke berbagai titik di nusantara dan program kemitraan strategis lainnya. (ybh/hio)