Beranda blog Halaman 614

Kunci Kemenangan: Selalu Berbuat dan Beramal Shaleh

Hand writing Time for Action concept with red marker on transparent wipe board.

Oleh Ustadz Sholeh Hasyim

 Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan tunduklah kalian kepada Tuhan kalian. Dan lakukanlah semua kebajikan, niscaya kalian kelak di Akhirat akan beruntung (QS. Al Hajj (22) : 77).

Dari taujih Allah di atas kita dapat memahami bahwa agar kita memiliki kekuatan dan kemudian menjadi pemenang adalah dengan konsistensi amal shalih. Baik di awal, tengah, dan akhir, tentu didahuluii oleh kekuatan ruhani.

Namun, mewujudkan amal itu tidak sederhana dan mudah. Dan, lebih rumit lagi, adalah memelihara kualitas amal itu dari hal-hal yang membatalkannya (muhbithul amal). Yang selalu dijadikan titik tekan baik di masa perintisan, pertengahan, dan akhir perjuangan adalah keikhlasan dan kesabaran.

Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang lebih  baik (tulus) amalnya  (QS. Al Mulk (67) : 2).

Kadang kehidupan kita secara individu, keluarga, dan organisasi mengalami cuaca buruk, bahkan goncangan.Tetapi, sebesar apa pun goncangan, cobaan, yang kita hadapi, satu hal yang tidak boleh kita lakukan adalah berhenti berjalan mengarungi samudera kehidupan ini atau menyerah terhadap keadaan.

Itulah fakta kehidupan kita yang melekat di dalamnya adanya pasang-surut, fluktuatif. Dinamika kehidupan adalah tarbiyah dari Allah yang kita pandang dengan spirit yang sama. Yang mengalaminya, bukan kita saja.

Bahkan, pendahulu kita mungkin mengalami goncangan yang lebih hebat dan menyakitkan. Orang kafir pun diberi ujian oleh Allah. Siapa saja yang tidak ikut menjadi peserta ujian, pasti tidak naik kelas, dan terpinggirkan dari kehidupan.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran (3): 139-140)

Kebanyakan kita mempersepsikan bahwa ujian itu terjadi ketika kita dalam kondisi terjepit. Kekurangan rizki, kesehatan memburuk, berpisah dengan salah satu keluarga yang tercinta. Sedangkan, ketika karir kita naik, income kita bertambah, naik daun, tidak dianggap pujian.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al Anbiya (21) : 35).

Faktu sejarah membuktikan bahwa banyak manusia yang berhasil mengalami ujian kesempitan, tetapi gagal mengalami ujian kemapanan. Qarun, ketika miskin menjadi ahlul ibadah, ahlul mihrab, ahlul masajid, namun ketika kaya ia menjadi ahlul maksiat.

Kita khawatir, kita sukses di start, tetapi gagal ketika sampai finish. Sabar ketika diuji kesulitan namun tidak bersyukur ketika sukses. Memang, ketika kita tidak fokus dalam perjuangan, sering kali meladeni komentar orang-orang di tengah perjalanan. Sibuk melayani lingkungan sosial kita, sehingga kita tidak sampai di terminal terakhir tempat yang dituju.

Ada seorang ulama yang mengalami fase kritis dalam fase kehidupannya berpesan kepada ibunya. Ibu, jika saya nanti meninggal adakan selamatan, tetapi undanglah orang yang dalam kehidupannya tidak pernah mengalami ujian. Maka, sepeninggal beliau, selamatan diadakan, dan tidak ada seorang pun yang diundang hadir di rumahnya.

Sekarang kita analogikan dengan naik pesawat. Ketika pesawat mengalami turbulensi karena cuaca buruk, maka semua penumpang di dalam pesawat tersebut diminta duduk dengan tenang. Sembari diminta mengencangkan sabuk pengaman, pesawat tetap terbang sekalipun pesawat harus tetap melewati badai. Sulit dibayangkan, bila pesawat dihentikan karena ada badai.

Kekuatan Harmoni

Ada kaidah yang ditulis Syaikh Muhammad Al Ghazali : Anta maakaifa tufakkir (anda akan menjadi seperti apa yang anda impikan).

Dengan kata lain setiap realitas yang terjadi di dalam medan kehidupan, sebelumnya merupakan sebuah realitas di alam fikiran atau keyakinan. Sebalinya, realitas yang tidak pernah ada di alam pikiran maka tidak akan pernah terjadi pula dalam realitas kehidupan.

Oleh karena itu, hidup harus dituntun, dipandu, dikomando, dan digerakkan oleh cara berpikir kita. Sebab isi kognitif kita sangat menentukan cara kita bersikap dan bergerak. Sesungguhnya Allah SWT tergantung persangkaan hamba-Nya. Jika persangkaannya baik, demikianlah yang akan terjadi. Demikian pula sebaliknya, jika berpikir negatif, akan kacau pula di lapangan (Hadits Qudsi).

Jadi, kemenangan dan kekalahan tergantung pilihan kita. Jika kita ingin memperoleh kemenangan, penuhilah persyaratan untuk ditolong dan dimenangkan.

Jika ingin kalah dan tidak naik kelas, tidak ada keinginan untuk berubah, tidak usah menjadi peserta ujian. Silahkan berjalan di pinggir kehidupan. Dan nanti akan tergilas pergiliran dan perguliran zaman. Karena roda kehidupan akan terus berputar, tidak dapat dilawan.

Sesungguhnya tantangan yang besar berbanding lurus dengan besarnya peluang yang menyertainya. Demikian pula, tentangan yang mudah dan sederhana hanya mengandung peluang yang sepele dan remeh.  Orang-orang yang besar meraih takdirnya dengan melewati ujian yang besar pula. Kualitas keimanan kita sepadan dengan tantangan kita. Keimanan dan ujian, datangnya satu paket.

Bahkan, surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang yang terhunus. Ketika membaca pasang surut peradaban, kita akan menemukan satu kaidah penting bahwa pada saat peradaban sedang mengalami grafik kenaikan, maka sesungguhnya peradaban tersebut sedang dikendalikan oleh quwwaturruh (kekuatan spiritual).

Sebuah peradaban akan kandas di tengah jalan, jika para pengusungnya lemah dalam aspek ruhani. Peradaban mengalami kemajuan yang datar-datar saja, berarti ia sedang dikendalikan oleh logika. Peradaban jatuh terpuruk, jika dikelola oleh hawa nafsu dan kepentingan sesaat.

Sesungguhnya berbagai kemenangan kaum muslimin dalam berbagai medan, baik secara politik, sosial, ekonomi, pendidikan, diawali dari kemenangan yang bersifat ruhiyah. Sebaliknya kekacauan eksternal (faudho al khoriji), sesungguhnya merupakan kekacauan yang bersifat internal (faudho ad Dakhili).

Jadi, perjuangan kita adalah menata ulang (rekonstruksi) unsur-unsur internal (intidham ad Dakhili), agar tertata pula faktor-faktor eksternal (intidham al Khoriji).

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti Kami akan menimpakan kepada mereka berkah (tambahan kebaikan) dari langit dan bumi, tapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka  Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan (QS. Al Araf (7) : 96).

Dalam surat Al Kahfi berikut menegaskan bahwa kekacauan yang terjadi di luar kita berawal dari kekacauan yang ada di dalam struktur kepribadian kita.

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingkat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu kacau (QS. Al Kahfi (18) : 28).

Tampak jelas di dalam kalimat wakaana amruhu furutha, bahwa urusan seseorang menjadi berantakan (al faudha al khariji) disebabkan oleh kekacauan yang di dalam dirinya (al faudha ad dakhili). Yakni ketika mengikuti hawa nafsunya. Demi kepentingan sesaat dan lalai dari mengingat Allah.

Orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah orang yang mengalami disorientasi dan faktor yang menggerakkan dirinya adalah faktor di luar Allah SWT sehingga menimbulkan kekacauan (chaos).

Ketidakteraturan atau disharmoni di dalam diri kita akan menjadi pemicu dan pemacu disharmonisasi di dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan strategis kita. Bila, kita akan melakukan konsolidasi terhadap situasi yang kacau yang terjadi, maka pertama-tama kita harus melakukan  konsolidasi di dalam diri kita dahulu. Caranya adalah dengan melakukan penataan ulang kondisi internal kita (intdham ad dakhili).

Fenomena kekacauan tersebut di dalam surat Ibrahim ayat 28 disebutkan oleh Allah SWT tidak saja bisa terjadi dalam skala pribadi atau komunal, tetapi juga negara. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya kelembah kebinasaan”.

Ibnul Qayim dalam kitabnya “AlWabilush Shoyyib” menjelaskan ayat tersebut yakni sebab-sebab suatu kaum memperoleh petunjuk Allah sehingga dapat menciptakan keteraturan di negaranya dengan bantuan dan pertolongan Allah SWT.

Sebaliknya, lanjut Ibnul Qayim, ada kaum yang ditinggalkan Allah sehingga berantakan kondisi kaum dan negaranya karena aghfalna qalbahu ‘andzikrina, lalu dari melibatkan Allah dalam keputusan penting dalam kehidupannya.

Tokoh politik Islam Imam Al Mawardi dalam kitabnya “Adabud Dunya Wad Din” bahwa seluruh urusan manusia di dunia hanya akan teratur bila dilandasi oleh beberapa hal dengan hal utama adalah dinun matbu’un (agama yang selalu diikuti).

Sehingga, tampak jelas, bahwa akar keteraturan atau harmoni adalah kemapanan spiritual yang mendominasi dalam skala individu, keluarga, organisasi, dan negara. Bila seseorang kehilangan spiritualitas dalam dirinya maka dia akan mengalami disorder. Demikian pula dalam skala kehidupan berbangsa dan bernegara.

Al Mawardi menyebutkan pula perlunya factor as sulthanqahir (pemerintahan yang kuat), wakhish bundaa-im (kemakmuran yang berkesinambungan). Namun faktor komitmen (keterikatan yang kuat) dalam beragama tetap menjadi hal yang utama (dinun matbu’).

Itulah sebab, Rasululullah SAW dan para ulama dahulu sangat memperhatikan evaluasi ibadah yaumiyah, usbu’iyah, syahriyyah, ‘amiyah, dan marrotan fil ‘umri. Ibadah yang dimaksud mencakup ibadah qalbiyah, ibadah lisaniyah, dan ibadah ‘amaliyah/jasadiyah. []

 ____________

USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

Dai Senior Hidayatullah Ustadz Abdul Karim Bonggo Berpulang

karim bonggoHidayatullah.or.id — Kabar duka menyelimuti keluarga besar ormas Hidayatullah. Salah seorang pembimbing seniornya, Ustadz H Abdul Karim Bonggo (67), telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa (23/06/2015) malam.

Ustadz Karim, demikian dikenal, wafat di RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), beberapa saat setelah memasuki 7 Ramadhan 1436 H.

“Kemungkinan Bapak meninggal habis Maghrib menjelang Isya,” terang Miftahussalam Mubarak, anak ketiga almarhum kepada hidayatullah.com, Selasa malam via telepon.

“Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Telah berpulang Ayahanda jam 7.50 (malam WITA) tadi, mohon doanya kawan,” tulis Abdul Malik, anak tertuanya, dalam status Facebook.

Pihak keluarga yang berkumpul di RSUD sejak 1 Ramadhan, tutur Miftahussalam, sudah punya firasat akan kepergian almarhum. Sebab ayahnya sempat tak sadarkan diri beberapa kali.

“Tapi Senin kemarin saya ke Samarinda bersama Ivan (adiknya. Red), dia tugas dakwahnya di sana,” ujarnya, yang saat diwawancarai sedang dalam perjalanan kembali ke Balikpapan.

Sebelumnya, Ustadz Karim rutin menjalani pengobatan setelah menderita sakit komplikasi. Sejak tahun 2000, dai kelahiran Jeneponto, 5 April 1948, ini diserang diabetes.

Lalu, sekitar tahun 2011, sang ustadz didiagnosa dokter terserang penyakit pengapuran sendi (osteoarthritis) dan pengeroposan tulang (osteoporosis).

“(Sejak itu Bapak) mulai keluar-masuk rumah sakit, namun masih bisa beraktifitas. Akhir 2014 hingga saat ini hanya beraktifitas di tempat tidur,” ujar Miftahussalam kepada media ini, akhir April 2015.

Trainer Handal
Semasa hidupnya, Ustadz Karim adalah trainer Gerakan Nasional Dakwah Mengajar Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) yang digagas oleh Hidayatullah untuk mencanangkan pemberantasan buta huruf aksara Al Qur’an. Ia dikenal sebagai pemateri yang energik, dengan gayanya yang menggebu-gebu dan selalu menyentak jamaah.

Dai berdarah Makassar ini, menurut anggota Dewan Syura Hidayatullah Ustadz Akib Junaid, adalah salah satu pelopor di mimbar. Ia tak pernah surut oleh jauhnya jarak dan beratnya medan dakwah, meskipun di suatu tempat jamaah ceramahnya sedikit.

“Beliau adalah ‘lokomotif’ yang menarik sekian banyak ‘gerbong’ ke Hidayatullah, khususnya dari daerah Jeneponto, Sulawesi Selatan,” ungkapnya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Rabu (24/06/2015) pagi.

Ustadz Karim, tambahnya, pernah ditugaskan berdakwah dan silaturahim ke berbagai wilayah, termasuk Papua dan negeri jiran, Malaysia.

Segenap jamaah ormas ini pun, di Indonesia dan luar negeri, menyampaikan doa dan ucapan belasungkawa atas kepergian sang ustadz.

“Selamat jalan Ayahanda. Semoga keluarga besar yang ditinggal tetap kuat, tabah, dan sabar,” tulis Hasan Al-Banna, pengurus Pimpinan Wilayah Syabab Hidayatullah Kaltim, dalam komentarnya di media sosial.

“Semoga segala amalnya diterima oleh Allah dan dimasukkan ke surga-Nya,” tulis Darmansyah, pengurus Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau.

“Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia,” tambah Irsyad, santri yang tengah kuliah di Sudan, mengutip sebuah doa.

Selasa malam, jenazah disemayamkan di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Gunung Tembak, Balikpapan Timur.

Kontributor media ini di Balikpapan, Masykur, melaporkan, Rabu pagi, suasana duka tampak di persemayaman. Berbagai kendaraan pelayat berjajar di depan kediaman almarhum, sementara tamu yang tumpah ruah harus bergantian masuk rumah.

“Jamaah terus berdatangan dari Samarinda, Penajam Paser Utara, Balikpapan, dan lain-lain,” lapornya menyebut sejumlah kota di Kaltim binaan Ustadz Karim.

Jenazah diagendakan dishalatkan usai Zhuhur di Masjid ar-Riyadh, lalu dimakamkan di pemakaman samping pesantren. Almarhum meninggalkan seorang istri (Armilah DK), 8 anak, dan 12 cucu. (skr/hio)

Pemkab Deli Serdang Sambangi Pesantren Hidayatullah

choirul anamHidayatullah.or.id — Menyambut Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang ke-69 tanggal 1 Juli 2015. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang melakukan anjangsana ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, belum lama ini.

Rombongan Tim 1 yang juga merupakana jajaran pejabat Pemkab mengunjungi Pesantren Hidayatullah Desa Bandar Labuhan Kecamatan Tanjung Morawa, Selasa (16/6/2015) lalu yang dipimpin Ketua TP PKK Kabupaten Deli Serdang Hj Yunita Ashari Tambunan didampingi Ketua GOPTKI Asdiana Zainuddin.

Selain itu, hadir juga Kadis Sosial Drs Raslan Sitompul, Kadis Tenaga Kerja dan Taransmigrasi Jonas Damanik SH, Kaban Ketahanan Pagan Rosita Siregar SE, Kabag Kesra H Gustur Siregar SE, Kabid Yan Informasi Dinas Infokom Sarjan SSos, Camat Tanjung Morawa H Timur Tumanggor SSos MAP beserta Muspika.

Selain melakukan dialog dan berkeliling, dalam kunjungannya tim juga menyerahkan bantuan berbagai macam jenis sembako dan bantuan uang tunai pribadi Ny Hj Yunita Ashari Tambunan untuk para santri dibina di sini khususnya kalangan yatim dan dhuafa yang ditampung secara gratis mulai dari pendididikan dan biaya hidup lainnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Deli Sedang Ny Yunita Ashari dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga melihat anak-anak panti asuhan yang menunjukkan kesungguhannya menimba ilmu sebagaimana layaknya di sekolah lainnya.

“Tentu kesunguhan ini akan menjadi modal bagi masa depan anak-anak generasi penerus bangsa,” kata Yunita.

Karenanya, tegas dia, Pemkab Deli Serdang terus berupaya memberi dukungan dan menjalin silaturrahmi dengan seluruh Panti Asuhan yang ada di daerah tersebut.

Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam menyampaikan terimakasih atas kunjungan Bhakti Sosial Pemkab Deli Serdang yang akan merayakan Hari jadinya yang ke 69.

“Diharapkan ini dapat menjadi pendorong semangat untuk memajukan dunia pendidikan lewat Panti Asuhan dan kami menyatakan siap mendukung Konsep Cerdas Deli Serdang dalam upaya melahirkan anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia,” kata Choirul Anam. (kab/ybh)

Rutan Klas IIA Kebanyakan Penghuni, Tarawih Bergiliran

0
Tempat sholat tarawih dikala terang hari / kp
Tempat sholat tarawih dikala terang hari / kp

Hidayatullah.or.id — Seperti masyarakat umumnya, para warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIA Samarinda, juga menjalankan ibadah saat Ramadan. Berbagai persiapan dilakukan untuk menjalankan kegiatan di bulan penuh berkah tersebut.

Diantaranya adalah salat tarawih. Bukan perkara mudah mempersiapkan salat tarawih untuk para warga binaan, apalagi di penjara berkapasitas 350 orang, namun dihuni 980 orang.

Walhasil, sistem giliran diberlakukan agar semua warga binaan yang beragama Islam, bisa melaksanakan salat tarawih.

“Masjid dan lapangan yang kami miliki menampung 350- 400 orang. Jadi, kami gilir yang salat hari pertama siapa, hari kedua, dan hari berikutnya,” ujar Kepala Rutan Klas IIA Samarinda, Nurwulanhadi Prakoso.

Nurwulanhadi mengaku, mengeluarkan tahanan sebanyak itu dalam satu waktu tentu sangat mengkhawatirkan.

Oleh karenanya, kata dia, tiga staf administrasi yang terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan diperbantukan, mengawasi pelaksanaan salat tarawih secara bergiliran tiap malamnya.

Selain itu, pegawai yang berdomisili di sekitar rutan juga dianjurkan salat tarawih di masjid rutan. Sehingga, dapat membantu pengawasan warga binaan. Sebab, dengan 20 sipir laki-laki yang terbagi dalam 4 sif dan 6 sipir perempuan yang dibagi dalam 3 sif, dianggap kurang memadai mengawasi 400 warga binaan yang sedang salat dan lebih dari 500 warga binaan dalam tahanan.

Pada Ramadhan ini Rutan menyediakan masjid dan tenda untuk jamaah laki-laki. Sedangkan jamaah perempuan ditempatkan terpisah di ruang besuk tahanan.

“Saya juga salat tarawih di sini. Masalah imam dan penceramah, kami sudah bekerja sama dengan Baznas dan Pesantren Hidayatullah,” imbuhnya dikutip harian lokal Kaltim Post, kemarin.

Selain tarawih, kegiatan rutin adalah membaca Alquran. Pihak rutan telah memilih 10 warga binaan yang dinilai memiliki kemampuan mengaji. Sebab, bacaan Alquran mereka akan diperdengarkan ke masyarakat dengan pengeras suara.

Bagi warga binaan yang nonmuslim dan tidak berpuasa, pihak rutan tetap mempersiapkan makan pagi dan siang selama Ramadan. Nurwulanhadi menyebut, ada sekitar 40 warga binaan nonmuslim di rutan. (nyc/er/ybh)

Terlindungi: Ruhiyah Mujahid Dakwah

Konten ini dilindungi dengan sandi. Masukkan sandi Anda di sini untuk menampilkannya.

Pilgub Kepri, Jamaluddin Nur Imbau Pilih yang Taat Agama

0

jamaluddin nurHidayatullah.or.id — Semakin intensnya pergerakan politik bakal calon gubernur Kepulauan Riau (Kepri) menjelang dimulainya tahapan pilkada 2015 mengundang perhatian pelbagai pihak. Diharapkan agar Kepri ke depan dipimpin oleh orang yang tepat, sehingga mampu membawa kesejahteraan lahir maupun batin.

Salah satu tokoh agama Kepri yang juga Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepri Ustadz Jamaluddin Nur, berharap pemimpin Kepri periode mendatang memiliki karakter kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan keagamaan dan harapan masyarakat.

“Yaitu pemimpin yang berpengalaman, juga merakyat, memahami nilai-nilai keagamaan dan kedaerahan, serta bersikap adil dan jujur,” katanya dikutip laman Indopolitika, Selasa (16/6/2015).

Menurutnya, karakter kepemimpinan tersebut penting karena akan menentukan masa depan Kepri. Apalagi Kepri identik dengan masyarakat Melayu yang memiliki kebudayaan khas dan kaya kearifan lokal.

“Tugas pemimpin itu bukan hanya memerintah, tapi juga sebagai panutan masyarakat. Perilaku seorang pemimpin akan jadi cerminan dan diikuti oleh masyarakat,” ungkapnya.

Karena itu, lanjutnya, sudah semestinya seorang pemimpin memiliki keshalehan pribadi dan keshalehan sosial yang menginspirasi masyarakat. Dan semua itu dapat dilihat dari rekam jejak dan perilaku sehari-harinya.

“Pemimpin yang religius, taat beragama, akan menginsipirasi masyarakatnya menjadi religius. Sebaliknya, pemimpin yang tidak patuh pada agama, jarang ke masjid, jarang shalat, sulit membawa masyarakat ke jalan keselamatan,” urainya.

Ia menjelaskan, nilai-nilai agama ibarat perisai yang melindungi pemimpin dari perilaku yang merugikan masyarakat. Perilaku seperti korupsi, misalnya, tidak akan terjadi jika pemimpin memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Demikian pula, sambungnya, perhatian terhadap sesama tidak akan pernah surut bila kesadaran sosial-keagamaannya kuat.

Selain itu, ia juga berharap pemimpin Kepri memberi perhatian pada masalah moral masyarakat serta terhadap lembaga-lembaga yang konsen mendidik generasi yang berakhlak mulia.

“Selama ini perhatian pemerintah provinsi terhadap pendidikan keagamaan, madrasah, termasuk masjid sudah tinggi. Hanya tinggal dipertahankan dan ditingkatkan,” pintanya.

Ia mengharapkan perhatian itu tetap berlanjut, sehingga lembaga-lembaga keagamaan punya peran yang lebih strategis dalam memajukan umat di Kepri. “Tentu saja tanpa menafikan agama-agama lain,” tandasnya.

Saat ini, pergerakan para bakal calon kandidat gubernur dan wakil gubernur Kepri sudah mulai marak di berbagai daerah kota/kabupaten. Atribut bakal calon bertebaran, terutama di jalan-jalan raya.

Prediksi banyak pengamat, pilgub Kepri 9 Desember mendatang akan diikuti dua pasangan calon yang sama-sama kuat. (ybh/hio)

Memaksimalkan Ramadhan dengan Intenstitas Ibadah

0

abu ala abdullahhHidayatullah.or.id — Sekjen PP Hidayatullah, Ir Abu A’la Abdullah, mendorong kader dan jamaah Hidayatullah memaksimalkan betul momentum bulan suci Ramadhan dengan intensitas ibadah untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya.

Kesempatan Ramadhan kali ini harus benar-benar dimanfaatkan. Beliau mengimbau kader dan jamaah Hidayatullah harus khatam membaca Al-Qur’an minimal 1 kali, sangat dianjurkan lebih dari itu.

“Hendaknya ditargetkan pula untuk menamatkan membaca terjemahannya (Al-Qur’an, red),” kata beliau kepada media ini.

Selain itu, kader juga hendaknya menghidupkan shalat tarawih. Bagi santri tingkat pelajar (SD/SMP) dianjurkan mengikuti shalat Tarawih berjamaah di masjid. Sementara santri dewasa dan bapak-bapak warga ditekankan shalat Tahajjud di malam hari.

“Jika tidak mampu karena ada halangan dan kendala lainnya, diusahakan dilakukan di awal malam,” ujarnya.

Pada bulan Ramadhan ini kader juga dianjurkan untuk terus membangun tradisi infak/ sedekah salah satunya dengan berbagi makanan buka puasa dan sahur kepada yang membutuhkan.

Terakhir beliau juga mendorong kader untuk selalu mendoakan kaum muslimin di mana saja berada agar selalu dalam lindungan dan hidayah-Nya, mendoakan saudara seiman kita, mendoakan sesama jamaah kita, mendoakan perhimpunan Hidayatullah sebagai wadah perjuangan menggapai kemuliaan-Nya, dan mendoakan kemaslahatan untuk bangsa Indonesia.

“(Serta) mendoakan kerabat dan keluarga terdekat kita,” imbuhnya.

Berdasarkan keputusan Dewan Syura PP Hidayatullah, dalam penentuan awal Ramadhan 1436, ormas Hidayatullah mengikuti keputusan resmi pemerintah Republik Indonesia (RI) sebagaimana tahu-tahun sebelumnya.

Keikutsertaan Hidayatullah dengan pemerintah atas alasan yang kuat. Yaitu karena pemerintah didukung oleh mayoritas umat Islam, dan penggunaan teknologi tinggi dalam penentuan posisi bulan (hilal).

Karenanya, disampaikan bahwa Hidayatullah mengikuti keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama yang telah menetapkan bahwa awal Ramadhan tahun 1436H/2015M adalah jatuh pada hari Kamis, 18 Juni 2015.

Hidayatullah berharap dengan hasil keputusan ini mudah-mudahan seluruh umat Islam dalam mengawali puasa bisa dilakukan serentak. Dengan ini pula sekaligus menjadi cerminan bahwa kebersamaan umat Islam di Indonesia terus bisa dibangun dari waktu ke waktu sehingga berbagai persoalan bisa disikapi dan didalami secara bersama-sama. (ybh/hio)

Semarak Ramadhan Muslimat Hidayatullah Denpasar Bali

image001Hidayatullah.or.id — Beragam cara umat Islam dalam mengekspresikan suka citanya menyambut bulan suci ramadhan. Seperti beberapa hari yang lalu, Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (PD Mushida) Bali menyemarakkan Ramadhan dengan menggelar baksos, sejak beberapa hari menjelang memasuki bulan suci ini.

Dengan mengusung tema “Satu langkah kecil dengan kepedulian yang besar, Nikmatnya berbagi, indahnya silaturahim, Tingkatkan Ukhuwah untuk kemaslahatan bersama”, acara ini dihadiri ratusan undangan.

Acara yang terselenggara di Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar ini berlangsung selama 4 hari. Beragam lomba bagi anak-anak juga diadakan untuk memeriahkan gelaran Pengurus Wilayah Mushida Bali dalam kepengurusan pertama ini.

Diantaranya lomba yang digelar adalah menggambar dengan tema Ramadhan ceria, lomba mewarnai, serta lomba Hafalan surah pendek dan lomba adzan.

Ketua Panitia, Evi Syamsiyah yang ditemui diakhir acara dengan penuh syukur memuji kepada Allah atas perkenan-Nya, sehingga gelaran lomba Mushida Bali yang pertama ini sukses.

“Semoga kregiatan seperti ini lebih menjadi pemicu semangat untuk beraksi di masa mendatang,” katanya.

Evi berharap kedepannya acara ini dapat digelar lebih baik lagi. Pihaknya juga menyampaikan ucapakn terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah banyak membantu mensukseskan acara tersebut.

Gelaran baksos kali ini, Mushida Bali menggandeng BMH dan didukung oleh Yayasan Al-Islam Pesantren Hidayatullah Denpasar.

Rangkaian acara Mushida berbagi ini diakhiri dengan anjangsana ke pesantren Hidayatullah Tabanan untuk menyerahkan bantuan paket 50 Sembako dan peralatan sekolah.

Hadir dalam acara tersebut, Ibu Fatma Zakaria, selaku Ketua PW Mushida Bali, memberi apresiasi dan rasa kagum atas antusiasme panitia, peserta, dan seluruh elemen yang terlibat dalam aksi Mushida Bali dalam menyambut Ramadhan tahun ini.

“Saya secara pribadi bersyukur kepada Allah. Alhamdulillah, berkat ridho Allah dan kerjasama yang baik, gelaran program divisi sosial Mushida Bali ini berjalan dengan sukses. Semoga ke depan lebih baik lagi,” tuturnya. (Yusran Yauma)

Kampus Hidayatullah Sorong, Pemuda Didorong Giat Menulis

kemenpora hidayatullah ppauaHidayatullah.or.id — Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementrian Pemuda dan Olahraga Yuni Poerwanti menegaskan bahwa para pemuda perlu membekali diri dengan keterampilan jurnalisme warga (citizen journalism) sebagai sumber informasi alternatif bagi masyarakat.

Pelatihan yang dihadiri sekitar 250 pemuda dari berbagai organisasi itu diselenggarakan oleh Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PP PON) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong.

“Para pemuda jangan tidur dan harus bisa menuangkan pikiran dan ide-ide dalam bentuk tulisan untuk diinformasikan ke masyarakat melalui berbagai bentuk saluran media, salah satunya jurnalisme warga,” kata Yuni saat membuka Pelatihan Jurnalisme Warga yang berlangsung di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah di Kecamatan Mayamuk, Kabupaten Sorong, Inggu (14/6) kemarin.

Menurut Yuni yang didampingi Kepala PP PON Teguh Raharjo dan pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Sudirman Hambal, melalui pelatihan jurnalisme warga tersebut para pemuda diharapkan mempunyai keterampilan untuk mengelola informasi di lingkungan sekitarnya, tanpa harus menjadi reporter profesional.

Selain para pemuda dari Kabupaten Sorong, pelatihan dengan nara sumber Dadan Ramdani dari Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara (LPJA) Jakarta itu juga diikuti sekitar 25 peserta Ekspedisi Nusantara Jaya yang kebetulan sedang merapat di Sorong.

“Melihat kemajuan teknologi informasi sekarang ini, jurnalisme warga memang sangat pas untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam mengelola informasi yang ada di sekitar mereka dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Yuni.

Hasan Basri, mahasiswa asal Universitas Muhammadiyah Sorong mengakui bahwa ia memang sangat meminati bidang jurnalistik, tapi belum mendapatkan kesempatan untuk mendalaminya secara lebih mendalam.

“Saya senang sekali mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini yang meski hanya ketrampilan dasar, tapi setidaknya bisa menambah wawasan saya mengenai seluk beluk dunia jurnalistik,” kata Hasan.

Tapi Hasan Basri yang juga aktif dalam sebuah lembaga swadaya masyarakat di Sorong itu menyampaikan kegalauannya dengan kehidupan pers di Tanah Air yang menurutnya lebih menampilkan kepentingan pihakk tertentu, terutama media elektronik.

“Saya sering bingung dan tidak tahu harus mempercayai yang mana kalau menyimak berita dari berbagai media, terutama televisi, Yang satu lebih membela habis-habisan salah satu pihak, demikian pula dengan media lainnya,” katanya.

Fakhtur, peserta lainnya dari Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sorong juga mempertanyakan independensi media massa, terutama yang dikuasai oleh pemilik modal sehingga ia memilih untuk mencari informasi melalui media alternatif yang berasal dari media sosial.

Selain pelatihan jurnalisme media, juga digelar Kepelatihan Kepemimpinan dengan nara sumber Muhammad Akbar Satrio, Ketua Al Azhar Youth Leadership Institute (AYLI) Jakarta.

Meski pelatihan tersebut digelar di lokasi yang cukup jauh dari pusat Kota Sorong, para peserta tampak bersemangat dan banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, baik mengenai masalah kepemimpinan para elit politik maupun seputar kondisi media massa di Tanah Air. (bsc/hio)

Bumi Tahfidz Gunung Binjai Wisuda Penghafal Quran

bumi tahfidz hidayatullah gunung binjai balikpapanHidayatullah.or.id — Menyambut bulan Ramadhan sebanyak 200 orang santri mengikuti wisuda hafalan yang diadakan oleh Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah, Bumi Tahfidz Gunung Binjai Hidayatullah Balikpapan hari Ahad, 7 Juni 2015 lalu.

Uniknya, para santri tahfidz tersebut diwisuda dengan tingkatan yang berbeda-beda, sesuai dengan capaian target hafalan mereka.

“Inti dari kegiatan ini adalah memberi apresiasi kepada para santri agar lebih giat lagi dalam menghafal al-Qur’an,” ucap Kaspan, Direktur Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah.

Kegiatan berlangsung di lokasi “Bumi Tahfidz Gunung Binjai”, Balikpapan dan dihadiri oleh orangtua/ wali santri, pengurus Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Hidayatullah, serta sejumlah tokoh masyarakat dalam jajaran Musyawarah Pemerintah Kecamatan (Muspika) Balikpapan Timur.

Menurut Kaspan, peserta wisuda tahfidz tersebut memiliki ragam hafalan sesuai dengan tingkatannya. Di antaranya, sebanyak 7 orang santri berhak wisuda dengan hafalan 30 juz secara sempurna.

Selebihnya ada 10 orang yang menghafal 25 juz, 20 orang untuk hafalan 20 juz, 15 santri sebanyak 15 juz, dan 50 santri untuk hafalan 10 juz. Terakhir, ada 70 santri bagi wisuda hafalan 5 juz.

Bagi Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah, perayaan wisuda tersebut adalah hal bersejarah dan monumental. Berdiri sejak tahun 2005, Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah, sesuai namanya, benar-benar hanya “menumpang” di beranda masjid ar-Riyadh, Pesantren Hidayatullah, Balikpapan.

Selanjutnya, belasan santri awal itu mengikuti proses pembelajaran dengan segala keterbatasan dana dan fasilitas yang ada. Hingga akhirnya kini mereka memiliki lokasi baru di Bumi Tahfidz Gunung Binjai, Balikpapan.

Dalam sambutan mewakili Yayasan Pesantren Hidayatullah, Zainuddin Musaddad mengingatkan agar

para santri senantiasa bersyukur dengan mengisi setiap hari bersama hafalan al-Qur’an.
Di hadapan para tamu dan undangan, Zainuddin juga menceritakan filosofi dibalik nama lokasi Gunung Binjai yang digelari “Bumi Tahfidz” tersebut.

Menurutnya, nama “Bumi Tahfidz” itu disemati secara langsung oleh KH. Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Pesantren Hidayatullah.

“Sejak awal lokasi hutan ini dibuka, KH. Abdurrahman sudah bertekad menjadikan lokasi ini sebagai tempat menghafal al-Qur’an,” papar Zainuddin menjelaskan.

Pimpinan Umum Hidayatullah, lanjut Zainuddin, ingin agar siapapun yang tinggal di lokasi tersebut harus bercita-cita menjadi penghafal al-Qur’an. Baik itu santri penghafal ataupun warga Hidayatullah, semuanya harus bertekad menghafal dan mengamalkan al-Qur’an,” terang Zainuddin kembali.

Untuk diketahui, “Bumi Tahfidz Gunung Binjai” yang kini menjadi lokasi baru Ma’had Tahfidz Ahlush Shuffah dulunya adalah hutan belantara yang terletak di ujung timur Balikpapan.

Lokasi tersebut berjarak sekitar 7 kilometer dari kampus Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak Balikpapan. Jalanan yang sebagian masih berbatu dan tak mulus menjadi tantangan tersendiri menuju ke kampus baru Ma’had Tahfidz Ahlush Shuffah tersebut. Belum lagi kiri kanan jalan yang masih berupa hutan dan hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon karet milik penduduk di sekitar lokasi itu.

Terakhir, Kaspan berharap, semoga pembangunan asrama dan ruang kelas santri tahfidz bisa segera direalisasikan dalam waktu dekat. Mengingat, hingga saat ini fasilitas yang tersedia baru berupa bangunan masjid.

“Yang tersedia baru masjid saja, belum ada asrama dan kelas. Jadinya masjid ini juga merangkap sebagai asrama dan kelas sekaligus,” ujar Kaspan berharap.

“Tentunya tak lupa kami juga berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang selama ini telah berkenan mendukung program mulia ini,” pungkas Kaspan mengakhiri.*/Masykur Abu Jaulah