Beranda blog Halaman 644

Hidayatullah Depok Gelar Muharram Education Fair 2014

brosur-mef 2014 hidayatullah depokHidayatullah.or.id — Momentum hijrah diperingati sebagai sebuah aktifitas yang menghasilkan perubahan dari sebuah keadaan awal menuju sebuah keadaan yang lebih baik. Bidang Pendidikan merupakan hal mendasar yang paling berperan dalam perubahan itu.

Dalam rangka mengusung semangat berhijrah, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok kembali menggelar Muharram Education Fair 2014 yang diselenggarakan di kampus Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Kebon Duren, Kota Depok ini.

“Pesantren Hidayatullah Depok sebagai sebuah lembaga yang memiliki mainstream pendidikan, dakwah, dan sosial senantiasa menjadikan momen hijrah sebagai show window bagi masyarakat terhadap aspirasi di bidang pendidikan, dakwan dan sosial,” demikian rilis panitia dterima Hidayatullah.or.id, Kamis (16/10/2014).

Kegiatan Muharram Education Fair 2014 (MEF) yang rencananya akan dimerihkan oleh peserta dari berbagai sekolah di Kota Depok ini mengusung tema “Momentum Hijrah upaya mewujudkan Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid”.

MEF 2014 ini, panitia menerangkan, terselengara atas kerjasama Departemen Pendidikan Hidayatullah Depok (PD2HD) dengan Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok ini akan dilaksanakan pada Sabtu-Ahad, 08-09 November 2014/ 15-16 Muharram 1436 H mendatang.

MEF 2014 digelar bertepatan dengan menyongsong Tahun Baru Islam 1436 Hijriyah. Untuk itu, kegiatan ke-2 ini mengajak kepada eleman pendidikan TK-SD-SMP-SMA di kota Depok untuk memeriahkan acara ini dengan menjadi peserta berbagai lomba yang akan digelar. Apresiasi terhadap kualitas pendidikan diantaranya dilakukan dalam bentuk lomba-lomba maupun pameran dan pentas seni.

Harapan pada kegiatan ini, MEF ke-2 dapat dilkuti oleh peserta yang lebih banyak, dari sekolah yang berasal dari Wilayah Depok, Cibinong dan sekitarnya, sehinga lebih meriah dan semarak. Tahun lalu acara ini mendulang peserta hingga ratusan orang. Diharapkan tahun ini semakin bertambah.

Kegiatan IMF ke-2 ini kembali akan dibuka oleh Wali Kota Depok Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail. MEF 2014 mengusung semangat pemberdayaan kompetensi, mengasah kualitas, dan menstimulasi peserta didik untuk terus bertumbuh dalam cakrawala keilmuan yang memadai.

“Diharapkan dengan kegiatan ini akan mendorong peserta dan siswa untuk semakin giat berlatih dan belajar dalam bingkai kebersamaan dengan mematrikan spirit saling asah, asih, dan asuh,” harapnya.

Adapun untuk pendaftaran lomba dan informasi lebih lanjut tentang acara ini, silahkan mengubungi sekretariat panitia Bapak Iwan Ruswanda: 081281789679, Bapak Sulung Fatrangga: 085285719414, dan Bapak Khumaini: 081366554740. (khm/ybh)

Ini Tindakan yang Dilarang Dilakukan Ormas Sesuai UU

0
Ormas menolak pengesahan RUU Ormas yang dinilai mengancam kebebasan berserikat / ist
Ormas menolak pengesahan RUU Ormas yang dinilai mengancam kebebasan berserikat / ist

Hidayatullah.or.id — Dalam penjelasannya Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Rabu (15/10/2014) kemarin menyampaikan tindakan yang tak boleh dilakukan organisasi masyarakat atau ormas. Bila melanggar ketentuan dari undang-undang tersebut makan sanksi mengancam.

 

“Bahwa kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” tulis Divisi Humas Polri dalam rilisnya dikutip media.

Dijelaskan, bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat, setiap orang wajib menghormati hak asasi dan kebebasan orang lain dalam rangka tertib hukum serta menciptakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pernyataan dalam konsideran UU No 17 Tahun 2013 tersebut secara jelas menyatakan tentang dasar-dasar yang harus dipatuhi dalam menyampaikan pendapat, termasuk Ormas. Pasal 59 ayat 2 undang – undang nomor No 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan menjelaskan bahwa ormas dilarang:

  • a. Melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan;
  • b. Melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia;
  • c. Melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  • d. Melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; atau
  • e. Melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan.

Mencermati ketentuan dalam pasal 59 tersebut di atas, bagi Ormas yang melakukan pelanggaran terhadap larangan tersebut disebutkan akan diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 60 sampai dengan pasal 78 UU no 17 tahun 2013.

Dalam rangka mendukung kepentingan pemerintah dalam memberikan sanksi terhadap Ormas, fakta- fakta di lapangan yang telah dicatat oleh kepolisian dan berbagai keputusan Pengadilan tentang pelanggaran yang telah dilakukan oleh ormas dapat dijadikan referensi, demikian rilis Divisi Humas Polri. (dtc/hio).

Buletin Hidayatullah Edisi Oktober 2014

cover Hidayatullah Newsletter Oktober 2014BELIAU heran ada dai yang berkata belum sempat berdakwah karena sibuk membenahi kampus. Lalu, bagaimana seharusnya?. Inilah sedikit oleh-oleh dari acara Marhalah Ula di Talawar.

________
Organisasi perburuhan internasional PBB (ILO) merinci permintaan tenaga kerja profesional naik 41% atau sekitar 14 juta pada tahun 2015. Apa kaitannya dengan ormas Hidayatullah?

________
Pemuda dan mahasiswa Hidayatullah tulang punggung pergerakan dan dinamisasi Hidayatullah. Ketahuilah harapan para orangtua.

________
Diharapkan kelak Hidayatullah akan melahirkan lebih banyak lagi orang yang ‘Alim, ‘Abid, dan Mujahid.

Dan masih banyak lagi berita lainnya. Semua terangkum dalam Buletin Hidayatullah edisi Oktober 2014 ini.

________
BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome atau Baidu Sparkketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH OKTOBER 2014

 

 

 

SNW Basic Training Syabab Hidayatullah

0

BERITA TERKAIT: PP Syabab Hidayatullah Gelar SNW Basic Training

 

[youtube width=”100%” height=”338″ src=”pIAeLNZSHs4″][/youtube]

Materi “Pacaran Sehat” Paradoks

Inilah konten yang berisi materi "pacaran sehat" di buku terbitan Kemendikbud / net
Inilah konten yang berisi materi “pacaran sehat” di buku terbitan Kemendikbud / net

Hidayatullah.or.id -– Buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan bagi siswa SMA/MA/SMK kelas XI, semester 1 yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI, dari segi pemikiran buku “Pacaran Sehat” beserta gambar ilustrasinya merupakan sesuatu yang bersifat paradoks.

Materi yang terdapat pada halaman 128-129 itu seakan mengajarkan siswa untuk pacaran. Sementara pada ruang yang sama dalam buku itu dengan jelas menayangkan gambar seorang gadis berbusana muslimah dengan pemuda berbaju koko.

Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Ketua Departemen Pendidikan Pimpinan Pusat Hidayatullah, Ali Imron, M.Ag kepada Hidayatullah.com, saat dikonfirmasi terkait dengan beredarnya buku “Pacaran Sehat”, Ahad (12/10/2014) sore.

“Mungkin Pak Nuh juga tidak sempat mempelajari buku itu secara detail,” ujar Imron.

Pasalnya, dalam sambutan, Imron mengungkapkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menginginkan adanya perubahan yang signifikan untuk generasi 100 tahun ke depan. Tetapi justru kasus seperti ini yang terjadi saat ini.

“Secara umum konsep buku itu yang bertanggung jawab adalah Kemendikbud, di mana dalam Kemendikbud ada bagian Dikdasmen yang bertanggung jawab untuk proses penerbitan,” kata Imron.

Sementara itu, lanjut Imron, sepertinya ada indikasi orang-orang dalam yang sengaja ingin mengacaukan persoalan itu. Dan itu tidak mungkin terjadi tanpa disengaja.

“Ada unsur aspek kesengajaan yang memang dilakukan untuk mengaburkan, bahkan itu mempermainkan simbol-simbol keislaman. Masak ada pacaran sehat dengan menampilkan simbol-simbol keislaman, padahal jelas dalam Islam tidak dianjurkan untuk berpacaran,” tegas Imron.

Imron menyebutkan, Kemendikbud harus menarik semua buku yang telah terbit dan beredar, ini terkait gelombang protes dari berbagai ormas Islam yang meminta Kemendikbud menarik buku itu. (hic/hio)

Syabab dan Peradaban Islam

0
Oleh Dr H Abdul Mannan*
Oleh Dr H Abdul Mannan*

DI ANTARA sejumlah organisasi pemuda Islam di Tanah Air, Syabab Hidayatullah adalah yang termuda. Namun, bukan berarti organisasi ini tak memiliki kekuatan politik sama sekali.

Syabab Hidayatullah, sebagai organisasi otonom, telah menempatkan kader–kadernya di seluruh Nusantara, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Jumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ada 172 buah. Bahkan, ada juga di Timor Leste.

Syabab Hidayatullah adalah wadah generasi pelanjut misi organisasi massa Hidayatullah, yaitu memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.

Organisasi ini bukanlah underbouw dari partai politik, meski para anggotanya diperkenankan untuk memilih partai yang relevan dengan visi organisasi induknya.

Kebijakan politik Syabab Hidayatullah sejalan dengan kebijakan politik organisasi induknya, yaitu menjaga integrasi bangsa yang saat ini terancam mengalami disintegrasi.

Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.

Itulah sebabnya wawasan teritorial keindonesiaan menjadi salah satu doktrin bagi kader Syabab Hidayatullah. Sebab, lahan dakwah paling subur untuk menanam benih akidah Islamiyah adalah masyarakat Indonesia. Sehingga, sifat akomodatif yang non-partisan menjadi arus utama Syabab dan organisasi massa Hidayatullah saat ini.

Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader–kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual.

Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.

Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat.

Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.

Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.

Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami dimanapun mereka berada.

Kini, Syabab Hidayatullah diharapkan bisa mengambil posisi terdepan dalam menyukseskan Gerakan Nasional Mengajar-Belajar al-Qur`an (Gran MBA). Gerakan ini menjadi andalan bagi organisasi massa Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam.

Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur`ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

Selanjutnya, mari kita bangun tekad bersama untuk mencerdaskan bangsa melalui dakwah. Jangan merasa ragu untuk berkorban apa saja demi tegaknya Islam di bumi Allah SWT ini. Wallahu a’lam.*

___________________
DR ABDUL MANNAN, SE, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini telah dimuat di majalah Hidayatullah edisi Agustus 2008.

Hidayatullah Sesalkan Buku “Pacaran Sehat”

Sampul buku Penjaskes "pacaran sehat" terbitan Kemendikbud / net
Sampul buku Penjaskes “pacaran sehat” terbitan Kemendikbud / net

Hidayatullah.com -– Ketua Departemen Pendidikan Pimpinan Pusat Hidayatullah, Ali Imron, M.Ag mengatakan, secara khusus Departemen Pendidikan PP Hidayatullah sudah bisa mengendalikan kasus beredarnya Buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan bagi siswa SMA/MA/SMK kelas XI yang berisi ilustrasi “Pacaran Sehat”.

Dia pun menyesalkan beredarnya buku panduan pendidikan jasmani dan kesehatan yang dinilai naif tersebut. Dari awal hingga saat ini internal Hidayatullah tidak menggunakan buku panduan Penjaskes yang dibuat Kemendikbud tersebut.

Imron telah melakukan pemantauan dengan menghubungi seluruh pengurus lembaga pendidikan Hidayatullah di berbagai wilayah. Dan ternyata mereka menyatakan tidak menggunakan buku panduan itu.

“Untuk buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan rata-rata Hidayatullah di wilayah tidak memakai,” kata Imron kepada Hidayatullah.com, saat dikonfirmasi terkait dengan beredarnya buku Penjaskes, Ahad (12/10/2014) sore.

Secara umum, Imron menyatakan, kekecewaannya terhadap terbitnya buku Penjaskes yang mengajarkan “Pacaran Sehat” itu. Ternyata buku panduan untuk kurikulum 2013 dari Kemendikbud yang basisnya religius karakter belum bisa diwujudkan sampai sekarang.

“Sangat disayangkan sekali buku panduan seperti itu bisa terbit dan beredar,” kata Imron.

Imron menuturkan, Hidayatullah telah melakukan kerjasama dengan lembaga lain, seperti Jaringan Sekolah Islam Terpadu DKI Jakarta, serta menggandeng Majelis Ulama Indonesia untuk melakukan somasi dan perbaikan buku itu, dan semua telah menyepakatinya.

“Kita sudah kontak-kontakan dengan JSIT DKI Jakarta,” kata Imron. (hic/hio)

Pesantren Hidayatullah Poso Bagikan Daging Kurban

0

hidayatullah poso qurban sapiHidayatullah.or.id — Pondok Pesantren Hidayatullah Cabang Poso, Sulawesi Tengah, turut berbagi kebahagiaan pada hari raya Idul Adha 1435 Hijriyah dengan membagikan daging sapi hewan kurban kepada masyarakat sekitar.

Setelah pelaksanaan Sholat Idul Adha, Minggu (5/10/2014) lalu, warga sekitar dan para pengurus pesantren melakukan pemotongan sapi kurban di kompleks pesantren yang mengasuh ratusan anak yatim piatu itu.

Setidaknya ada tiga ekor sapi dan sejumlah kambing kurban yang diserahkan masyarakat yang di potong di pesantren. Selain itu, qurban-qurban tersebut juga didisitribusikan untuk santri di Pesantren Hidayatullah Poso.

Pimpinan Cabang Hidayatullah Poso, Ustadz Ismail Bonggo, menerangkan, selain untuk anak-anak yatim di pondok, pembagian hewan kurban juga diberikan kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk kebersamaan antara pesantren dan warga yang selama ini terus terjalin.

Salah satu pengasuh Hidayatullah, Yasin, mengatakan, selain memotong tiga ekor sapi kurban, pesantren juga memotong satu ekor kambing kurban. Kata beliau, berkurban hewan kurban dengan niat menjalankan perintah Allah SWT sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. (mts/hio)

Latihan Manasik Kenalkan Ibadah Haji Sejak Usia Dini

Usai berpanas-panas ria, anak dan bunda guru berfoto bersama / ybh
Usai berpanas-panas ria, anak dan bunda guru berfoto bersama / ybh
Suasana manasik haji TKA se-Kota Depok yang digelar di Kampus Pesantren Hidayatullah Depok / ybh
Suasana manasik haji TKA se-Kota Depok yang digelar di Kampus Pesantren Hidayatullah Depok / ybh
Manasik haji TK Ya Bunayya Hidayatullah Surabaya sedang mengelilingi "ka'bah" di lingkungan masjid.
Manasik haji TK Ya Bunayya Hidayatullah Surabaya sedang mengelilingi “ka’bah” di lingkungan masjid.

Hidayatullah.or.id — Lebih dari 500 siswa Taman Kanak-kanak (TK) se Kota Surabaya, mengikuti latihan Manasik Haji sebagai bagian dari memperkenalkan pelajaran Ibadah Haji.

Lengkap dengan pakaian Ihram, anak-anak TK se Kota Surabaya, Sidoarjo dan Bangkalan Madura, Rabu (8/10/2014) mengikuti latihan Manasik Haji, sebagai bagian untuk belajar dan sekaligus memperkenalkan Ibadah Haji dengan segala kelengkapan tahapan-tahapannya.

Mulai dari pembagian kelompok terbang (kloter) karena Ibadah Haji memang tidak hanya dijalankan umat muslim di Indonesia saja, tetapi juga diikuti ribuan umat muslim lainnya dari berbagai negara lain di dunia. Kloter-kloter itu kemudian ditandai dengan bendera dari masing-masing negara.

Tidak hanya melengkapi diri dengan mengenakan pakaian Ihram, peserta latihan Manasik Haji yang digelar di kompleks Pesantren Hidayatullah Surabaya, kawasan Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo Surabaya, juga diajak mengenal tahapan-tahapan pelaksanaan Ibadah Haji.

“Anak-anak memang diperkenalkan dengan tahapan-tahapan dalam Ibadah Haji. Mulai dari Sa’i (lari kecil), Tawaf (mengelilingi Ka’bah), melempar Jumrah (melempar batu), membayar Dam (memotong hewan kurban) hingga memotong rambut bagi laki-laki dilakukan bocah-bocah tersebut. Bahkan mereka juga diperkenalkan dengan Kloter,” terang Yeni ketua panitia Latihan Manasik Haji dikutip laman suara surabaya, Rabu (8/10/2014).

Dan untuk memberikan kesan atau gambaran visual bagaimana Ibadah Haji dijalankan, di lokasi latihan Manasik Haji, dilengkapi berbagai replika.

Diantaranya replika Kabah, gurun pasir, serta pedagang kambing untuk visualisasi membayar Dam. “Diharapkan anak-anak memiliki bayangan bagaimana Ibadah Haji itu dijalankan,” pungkas Yeni.

Selain di Surabaya, Pondok TK Yaa Bunayaa Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, menjadi tuan rumah manasik haji yang diikuti belasan lembaga pendidikan TK/TPA se-Kota Depok. Kegiatan manasik ini digelar di lapangan utama kampus pesantren.

Ketua Departemen Pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok (DP2HD), Iwan Ruswanda, S.Ag, dalam kesempatan memberikan sambutan acara tersebut, mengemukakan pendidikan agama bagi anak-anak usia dini seperti penyelenggaraan haji adalah merupakan tahap edukasi yang sangat baik.

Selain mereka bertemu dengan teman teman baru, para peserta manasik TKA TPA ini juga akan mengalami sendiri bagaimana suasana haji di Baitullah. Sehingga tuntunan dan pendampingan bagi anak-anak usia ini harus tetap terperhatikan agar anak-anak bisa memahami betul hikmah ibadah haji, demikian kata Iwan.
Tak lupa pada kesempatan yang dihadiri juga oleh orangtua wali siswa tersebut, Iwan Ruswanda, menyampaikan kegiatan dan amal-amal usaha Pesantren Hidayatullah Depok yang kini menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat Baby House, Paud, TK, hingga perguruan tinggi dan ma’had Aly.

“Pesantren Hidayatullah Depok adalah kampus terpadu yang di dalamnya kita ingin membangun miniatur peradaban Islam dengan mewajibkan kepada semua warganya shalat berjamaah di masjid dan menjunjung tinggi ukhuwah islamiyah dan berahlak mulia,” kata Iwan.

Iwan Ruswanda yang merupakan pakar pendidikan di DP2HD Pesantren Hidayatullah Depok ini menerangkan bahwa Pesantren Hidayatullah mengusung dan akan terus mengembangkan pendidikan berbasis Tauhid yang selama ini menjadi mainsteram pendidikan di Hidayatullah. Dia juga mengaku bersyukur karena semangat tersebur mulai diadopsi oleh lembaga pendidikan lainnya. (ybh/hio)

Sebuah Refleksi Level Cinta

cintaADALAH hal yang alamiah, manakala seseorang diliputi rasa cinta, maka pengorbanan atas nama cinta menjadi sebuah kewajaran bahkan kewajiban. Rumus cinta memang sederhana: Tiada cinta tanpa pengorbanan. Tapi daya ledaknya luar biasa.

Lalu, pengorbanan manakah yang akan mampu melahirkan cinta sejati? Dan sebaliknya, cinta seperti apakah yang mampu melahirkan pengorbanan dengan nilai tertinggi, suci nan abadi?.

Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya, Cinta dalam Pandangan Islam, menyebutkan bahwa cinta dapat dibagi menjadi 3 tingkatan. Ketiga tingkatan itu adalah cinta tingkat rendah, cinta tingkat menengah, dan cinta tingkat tinggi. Mari kita bahas.

Pertama, adalah cinta terendah yang meliputi cinta 3 “ta”, yaitu cinta terhadap harta, tahta, dan wanita (pria buat wanita) yang didasari oleh tuntutan hawa nafsu semata.

Adapun praktek cinta terendah yang masuk dalam golongan ini adalah orang yang menghalalkan segala cara dalam mendapatkannya dan menghalalkan semua hukum dalam memanfaatkannya. Contohnya, seorang pejabat yang menyelewengkan harta kekayaan negara untuk memenuhi permintaan dan mengambil hati kekasih gelapnya.

Kedua, cinta tingkat menengah yakni cinta terhadap sesama ciptaan Allah Ta’ala. Cinta kedua ini bersifat horizontal di mana seseorang mencintai sesama manusia dan rasa kasihnya terhadap alam semesta dan segala isinya. Cinta kepada kedua orangtua, saudara, keluarga, sahabat, tetangga, dan lain sebagainya.

Dalam kesehariannya, cinta ini merupakan refleksi dari kekuatan hati nurani yang kemudian dijalankan sesuai dengan landasan-landasan syariat Islam. Cinta kasih seorang ibu merupakan contoh konkret dari cinta kedua ini. Rasa itu tergambar dalam pengorbanan seorang ibu untuk menjaga, mendidik, mengasuh, dan mengasihi belahan jiwanya sejak dari masih dalam kandungan hingga si anak mampu hidup mandiri.

Dan, ketiga, cinta tingkat tertinggi. Yakni kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt berfirman :

Katakanlah; “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At-Taubah 24)

Pengorbanan yang terlahir dari cinta tertinggi ini juga tidak tanggung-tanggung. Contoh ini datang dari Bapak Nabi-Nabi (Abul Anbiya), Khalil Allah, Nabiyullah Ibrahim As. Pengorbanan yang sangat fenomenal.

Saking fenomenalnya, maka Allah Ta’ala mengapresiasi pengorbanan figur Ibrahim dengan sebuah peringatan yang selalu dirayakan tiap tahun dan disambut gembira oleh seluruh umat Islam sesaentro jagad raya, Hari Raya Idul Adha.

Betapa tidak, seorang ayah yang begitu mendambakan hadirnya seorang buah hati justru diharuskan untuk ridho “menghabisi’ anaknya sendiri. Nabi Ibrahim yang sudah bepuluh tahun menikah dengan Siti Sarah tidak kunjung mendapatkan keturunan hingga usia mereka mulai menapaki masa-masa senja.

Tetapi, rencana Allah berkata lain. Ternyata, Ismail sang dambaan hati lahir dari isteri kedua, Siti Hajar. Berpuluh tahun menunggu masa-masa indah, Nabi Ibrahim justru mendapatkan perintah untuk meninggalkan anaknya di sebuah lembah Bakkah yang jangankan susah, tanda-tanda kehidupan pun tidak ada di sana.

Dengan perasaan setengah hidup Sarah yang ditinggalkan Ibrahim mencari cara untuk menghidupkan Ismail kecil. Sehingga datang jua mukjizat berupa air zam zam, air berkah nan suci.

Pengorbanan Nabi Ibrahim tidak cukup sampai di situ. Ketika Ismail sudah menginjak masa remaja, masa-masa ketika di mana seorang anak laki-laki terlihat gagah perkasa, Nabi Ibrahim harus ikhlas kehilangan belahan jiwanya berkat mimpi yang ia dapatkan. Mimpi yang menjadi peringatan tanda perintah dari Allah Azza Wajalla atas rasul pembawa risalah-Nya.

Maka, tatkala mimpi dan perintah “gila” ini ia sampaikan kepada Ismail, apakah Ismail lantas menolaknya mentah-mentah? Tidak, justru ia jawab dengan tenang:

“Wahai ayahku kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 102).

Tatkala Nabi Ibrahim sudah benar-benar ikhlas menyembelih anaknya, pisau yang tidak mampu merobek sedikit pun kulit Ismail itu ternyata menjadi akhir ujian kepada kedua Nabi Allah tersebut. Mereka lulus dari ujian besar itu lalu Allah menganugerahkan domba besar kepada keduanya untuk dijadikan kurban.

Allahu Akbar! Sungguh mulianya pengorbanan yang tidak kenal batas cinta tersebut.

Pertanyaannya sekarang, maka benarkah kita cinta kepada Allah Ta’ala sebagaimana cinta Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam kepada-Nya? Kalau iya, lalu apakah pengorbanan yang telah kita lakukan sebagai bukti ketulusan cinta kita kepada Allah Robbul Izzati?.

Memang benar, jika pengorbanan kita tidak akan setinggi Nabi Ibrahim. Harta yang kita miliki tidak sebanding dengan harta yang telah diinfakkan Ummul Mukminin, Khadijah Binti Khuwailid, untuk bantu menghidupkan dakwah Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam.

Dan, mungkin air mata kita belum pernah mengalir sepertimana Khadijah menangis sambil berkata kepada Rasulullah:

“Suamiku, tiba-tiba saja aku teringat bahwa seluruh harta kekayaan yang kumiliki sudah habis. Tidak ada lagi yang bisa aku persembahkan sebagai infak di jalan Allah, padahal dakwahmu belum lagi selesai. Itu yang membuatkan sangat sedih …”

“Karena itu wahai suamiku, aku punya sebuah pinta untukmu. Kelak aku akan wafat dan ruh-ku kembali kepada Allah Ta’ala. Dan di dalam tanah yang akan tersisa dari jasadku hanyalah tulang-belulang belaka. Jika pada saat itu engkau membutuhkan sebuah rakit, untuk menyeberangkan dakwahmu ke negeri nun jauh di sana, maka galilah kembali kuburku, dan rangkailah sebuah rakit dari tulang-belulangku yang tersisa …”

Bahkan, mungkin kita juga belum sanggup untuk mempertaruhkan nyawa sebagaimana Ali Bin Abi Thalib pernah melakukannya di malam Rasulullah meninggalkan Mekah bersama Abu bakar As Siddiq.

Tapi, harapan itu selalu ada. Perjuangan yang sungguh-sungguh dalam mengemban amanah dakwah merupakan jalan yang tepat untuk kita menyalurkan pengorbanan yang sebesar-besarnya pula demi satu cinta, lillahi ta’ala. Menyebarluaskan ajaran agama Allah kepada seluruh umat manusia sebagai kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin.

Terus berfikir, bekerja, dan berkarya demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Menghujamkan semangat membangun peradaban Islam sebagai implementasi iman dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsih), keluarga, dan seluruh masyarakat dunia. Berat, memang, tapi sangat mulia!

Sebagai bahan muhasabah, mari kembali kita bertanya pada diri sendiri. Apakah benar kita cinta kepada Allah Ta’ala? Kalau sungguh rasa itu bisa dikatakan cinta, maka apakah sudah ada pengorbananmu yang dapat kau andalkan sebagai jawaban atas cinta itu dihadapan-Nya kelak? Hmmm… Tepuk dada, tanya selera!. []

_____________
Mazlis Mustofa 2MAZLIS BM, SE, penulis adalah Ketua PW Syabab Hidayatullah Jabodebek