Beranda blog Halaman 660

Ketum Paparkan Konsepsi dan Isu Peradaban di NTB

0

Hidayatullah.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr H. Abdul Mannan hadir sebagai pembicara pada seminar nasional tentang peradaban di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), akhir Januari (24/01/2014) lalu. Abdul menjadi narasumber berdampingan dengan Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi, MA.

Abdul Mannan memaparkan tentang konsepsi peradaban Islam di hadapan tokoh dan akademisi di di Mataram ini. Acara seminar yang dihadiri juga alim ulama dan pimpinan ormas se-NTB itu terselenggara atas inisasi PW Hidayatullah NTB.

Bersamaan dengan itu, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah NTB menggelar juga kegiatan launching program Da’i Membangun Negeri dengan mengusung tema “Memabangun Peradaban Islam & Membangun NTB menuju Masyarakat NTB Beriman dan Berdaya Saing”.

Seminar ini di mulai dengan launching program Dai Membangun Negeri yang diresmikan langsung Oleh DR. TGB. Zainul Majdi, MA dengan mengalungkan sorban kepada dua perwakilan da’I yaitu Ustadz Sudirman Ustadz Akbar.

Gubernur Zainul Majdi dalam pemaparannya, mengharapkan agar acara ini menjadi wadah bagi seluruh ormas Islam di NTB sehingga bisa bersinergi antara Hidayatullah dengan NW (Nahdatul Wathon) dan lain sebagainya.

“Karena setiap ormas memiliki kekurangan dan kelebihan,” ujar. DR.TGB. Zainul Majdi, Lc, MA selaku narasumber.

Bertempat di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB, hadir sedikitnya 450 peserta dari kalangan alim ulama, pimpinan ormas-ormas Islam, OKP, akdemisi, pelanggan majalah suara Hidayatullah dan masyarakat umum.

“Kegiatan berlansung sangat luar biasa, sehingga puluhan peserta tidakkebagian kursi, karena panitia hanya menyediakan 300 Kursi. Acara ini cukup memberikan pencerahan sesuai tema yang dibahas,” ujar Abdullah, salah seorang peserta.

“Semoga kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah ke depan,” harap Ustadz Ismuji, S.Pd.I selalu Ketua PW Hidayatullah NTB penyelenggara acara ini. (pwntb/hio)

 

Hadirin serius menyimak pemaparan narasumber
Hadirin serius menyimak pemaparan narasumber
Alim ulama dan pimpinan ormas serta OKP hadir juga dalam seminar ini
Alim ulama dan pimpinan ormas serta OKP hadir juga dalam seminar ini
Seminar berlangsung di Gedung Sangkareang, Komplek Kantor Gubernut
Seminar berlangsung di Gedung Sangkareang, Komplek Kantor Gubernut
Gubernur NTB Zainul Majdi resmikan program "Dai Membangun Negeri" dengan menyematkan sorban ke pundak dai.
Gubernur NTB Zainul Majdi resmikan program “Dai Membangun Negeri” dengan menyematkan sorban ke pundak dai.
Seminar nasional peradaban Islam dihadiri oleh tokoh akademisi
Seminar nasional peradaban Islam dihadiri oleh tokoh akademisi

Hidayatullah dan Ormas Islam Terus Bantu Korban Bencana

Pengungsi korban bencana Sinabung / net
Pengungsi korban bencana Sinabung / net

Hidayatullah.or.id — Hampir semua organisasi masyarakat (ormas) Islam turut memberikan bantuan bagi korban bencana yang sejak beberapa pekan ini melanda Tanah Air. Tak hanya memberikan bantuan kebutuhan harian, sejumlah ormas Islam bahkan memberikan bantuan jangka panjang.

Lembaga kemanusiaan dan amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH), misalnya. Hingga kini, lembaga yang bernaung di bawah organisasi Hidayatullah itu terus melakukan sejumlah aksi sosial di beberapa daerah di Indonesia.

Khusus untuk korban bencana Gunung Sinabung di Sumatra Utara, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) memfokuskan bantuan pada trauma healing terhadap anak-anak.

“Kami memiliki posko khusus trauma healing di Desa Logomba, Brastagi, Sinabung,” jelas Kepala Departemen Komunikasi dan Marketing BMH, Rama Wijaya, belum lama ini. “Sebab, anak-anaklah yang paling merasakan bencana Sinabung yang sudah berbulan-bulan.”

Selain itu, kata Rama, anak-anak korban Sinabung seperti tersandera di tempat pengungsian. Mereka tidak bisa pulang dan tak bisa sekolah karena rumah dan sekolah mereka rusak atau belum berfungsi. BMH memandang trauma healing ini sebagai pendekatan efektif terhadap anak-anak korban bencana.

Selain di Sinabung, BMH juga memberikan bantuan ke lokasi bencana lain di Indonesia, seperti banjir di Jabodetabek, Jawa Tengah, dan banjir bandang di Sulawesi Utara.

Di Jakarta, BMH membuka tiga posko di daerah Pejaten, Penjaringan, dan Kampung Pulo. Selain memberikan bantuan logistik, BMH juga membangun mushala darurat.

Untuk korban banjir bandang Manado, BMH bersama dai Hidayatullah setempat bahu-membahu membersihkan lebih dari 10 masjid yang sempat rusak akibat digenangi air.

“Kita berikan bantuan perangkat masjid, seperti sajadah dan sound system agar aktivitas ibadah tetap berjalan,” ujar Rama.

Ormas Islam Al-Irsyad Islamiyyah juga memandang bantuan jangka panjang bagi korban bencana merupakan hal krusial.

“Seperti, bantuan Al-Irsyad tahun-tahun sebelumnya. Insya Allah, kita akan melakukan bedah rumah bagi sejumlah warga yang rumahnya mengalami kerusakan,” kata Sekjen Pimpinan Pusat (PP) Al-Irysyad Said Awod Sungkar.

Said menegaskan, program bedah rumah bagi korban bencana ini rutin dijalankan Al-Irsyad. Walaupun tidak semua korban bencana dibantu program bedah rumah, Al-Irsyad berupaya banyak meringankan korban bencana di sejumlah tempat di Tanah Air.

Dalam menjalankan bantuan bedah rumah, sambung Said, Al-Irsyad biasanya bekerja sama dengan Kementerian Sosial.

Di samping itu, kata Said, pihaknya tetap memberikan bantuan harian kepada setiap posko korban bencana. Bentuknya, antara lain, makanan siap santap, pakaian ganti, hingga obat-obatan dan dokter lapangan.

“Yang paling penting adalah tindakan cepat dari emergency release Al-Irsyad. Untuk Jakarta, ada tiga posko pusat bantuan Al-Irsyad, yaitu di Kampung Melayu, Kampung Pulo, dan Bidara Cina.” (rep/hio)

Masyarakat Tobadak Sulbar Rasakan Manfaat Grand MBA

Acara yang digelar 2 hari dianggap tidak cukup, akhirnya acara ditambah lagi usai Zuhur meski acara sudah ditutup.
Acara yang digelar 2 hari dianggap tidak cukup, akhirnya acara ditambah lagi usai Zuhur meski acara sudah ditutup.

Hidayatullah.or.id — Masyarakat di Topoyo, Tobadak, dan sekitarnya di Sulawesi Barat, mengaku merasakan kemudahan mempelajari Al Qur’an dengan metode Grand MBA. Metode ini sendiri merupakan program dakwah unggulan yang terus digulirkan Departemen Dakwah PP Hidayatullah untuk dimanfaatkan masyarakat secara luas.

Pengurus Hidayatullah Kabupaten Mamuju Tengah dengan program unggulannya Gerakan Dasar Mengajar Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) berkolaborasi dengan Gerakan Bebas Buta Aksara A-Qur’an (GBBAQ) dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tobadak menyeleneggarakan Pelatihan Cara Cepat Membaca Al-Qur’an Sistem 8 Jam.

Sebagaimana direncanakannya awal Januari lalu, pelatihan yang dilakukan selama tiga hari itu dimulai Jumat tanggal 31 Januari hingga tanggal 2 Februari bertempat di Masjid Markabul Jannah di desa Mahahe.

Peserta yang rata-rata pengurus masjid yang tersebar di 8 desa dalam wilayah kecamatan Tobadak hadir dalam pelatihan tersebut.

“Kegiatan ini dilakukan semata-mata karena keprihatinan kami KUA dan teman-teman di Hidayatullah melihat kondisi masjid dan kepengurusannya yang membutuhkan sedikit sentuhan metode yang menarik,” kata Fakhruddin, M.Ag, ketua KUA kecamatan Tobadak saat memberikan sambutan.

Kepanitiaannyapun sederhana, jamaah masjid Markabul Jannah menalangi makanan ringan dan air mineral gelas. Publikasi dilakukan oleh staf KUA dan dai-dai serta simpatisan Hidayatullah yang berada di 8 desa, mulai dari desa Tobadak yang berada di poros provinsi hingga desa Sejati yang berbatasan dengan hutan lindung.

Sebanyak 40 peserta yang hadir juga mendapatkan materi Up-grading (pembekalan) Pengurus Masjid yang dibawakan oleh Ustadz Muhammad Bashori, ketua Dewan Pimpinan Hidayatullah daerah Kabupaten Mamuju Tengah terkait dengan kondisi pengelolaan masjid yang belum maksimal.

Dikatakan Bashori, salah satu faktor enggannya masyarakat shalat berjamaah di masjid selain belum memahami keutamaannya juga kondisi (pengurus) masjid yang belum menjamin kenyamanan dan keamanan jamaahnya.

“Coba kalau tamannya asri, tempat wudhu dan toiletnya bersih, ruangannya bersih dan sejuk ditambah lagi ada diskusi-diskusi ringan tentang ilmu agama setiap selesai waktu sholat. Jamaah akan merasa betah sholat berjamaah di masjid,” imbuh Bashori.

Selain pembekalan pengurus masjid, materi inti Grand MBA dalam program bebas buta aksara KUA Tobadak ini mengundang ustadz Habibi Nursalam pembina Hidayatullah Mamuju Utara yang membawakan materi qiraah (bacaan).

Adapun untuk metode pembelajaran dengan sesi khas micro teching-nya Ustadz Anwar Baits, S.Pd. yang juga sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat itu menempati hari ketiga atau terakhir.

Namun karena merasa belum puas, peserta meminta perpanjangan waktu hingga 2 jam setelah shalat dhuhur untuk melanjutkan materi agar lebih tuntas.

“Menarik sekali, materi Grand MBA sangat mudah dan terbuka untuk kita berinprofisasi metode,” tukas Ahmad Fadli, S.Pd. peserta yang berprofesi guru di Pesantren Al-Ikhwan kecamatan Topoyo ini. (hio.ybh)

Patung Yesus Disebut Sebagai Bukti Peradaban Papua

Warga mengamati patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, yang menghadap ke Kota Manokwari, Papua Barat, Minggu (19/1). Patung Yesus setinggi 30 meter sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, dan agama di Papua, yang dimulai pada 5 Februari 1855 oleh dua pendeta Kristen, Ottow dan Geisher. [SP/Roberth Vanwi]
Warga mengamati patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, yang menghadap ke Kota Manokwari, Papua Barat, Minggu (19/1). Patung Yesus setinggi 30 meter sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, dan agama di Papua, yang dimulai pada 5 Februari 1855 oleh dua pendeta Kristen, Ottow dan Geisher. [SP/Roberth Vanwi]
Hidayatullah.or.id — Patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat, dengan 30 meter didirikan sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, agama di Papua.

Patung itu berdiri tegak di Pulau Mansinam dan untuk ke sana menggunakan perahu motor dengan membayar Rp 10.000 sekali jalan. Pengunjung juga harus jalan kaki 1 jam untuk sampai ke puncak.

Pulau Mansinam adalah pulau yang terletak di Teluk Doreri, sebelah selatan Kota Manokwari, dengan luas 410,97 Ha.

Pulau Mansinam merupakan titik penting pekerjaan zending (misi) di Tanah Papua. Di Pulau ini, tepatnya 5 Februari 1855, dua orang zendeling-werklieden (utusan tukang) dari Jerman, C.W. Ottow dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Papua.

Dikutip dari Suara Pembaruan (SP), media milik Grup Lippo, yang mengunjungi Pulau Mansinam, Minggu (19/1) pagi, banyak warga Manokwari ke pulau tersebut untuk melihat Patung Yesus, yang direncakan akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Februari 2014 besok.

Pulau Mansinam memiliki nilai sejarah tinggi buat orang Papua, teristimewa umat kristiani warga Gereja Kristen Injil di Tanah Papua. Dari pulau ini, untuk pertama kali injil diwartakan ke seluruh pelosok tanah Papua.

Wakil Ketua DPR Papua Barat, Demianus Jimy Idje kepada SP, mengatakan Presiden ke enam yaitu Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan Patung Yesus.

“Karena SBY terus memperkokoh Mansinam sebagai pusat peradaban orang Papua, oleh karena itu Presiden sudah di mintai Gubernur Papua Barat atau sinode untuk meresmikan karya monumental di Bumi Papua,” ujarnya dikutip Suara Pembaruan.

Kata dia, Pulau Mansinam telah dikembangan sebagai situs peradaban rakyat Papua, situs ini akan terintegrasi dengan pembangunan fasilitas peribadatan yang lain.

Masih dari sumber yang sama, disebutkan bahwa pengembangan kawasan ini akan diarahkan sebagai pusat wisata budaya dan religi. Beberapa infrastruktur yang akan dibangun untuk mendukung kegiatan yaitu pembangunan jalan lingkar, pembangunan kantor Badan Pengelola Situs Mansinam , pembangunan gereja dan pembangunan museum.

Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2013 telah mencantumkan ruas jalan Lingkar Mansinam sebagai salah satu ruas yang akan dibangun dengan dana direktif presiden.

“Pembangunan ruas ini diharapkan dapat menjadi jalan lingkar yang akan menghubungkan seluruh pulau. Disamping itu pembangunan jalan lingkar ini dapat juga dijadikan sebagai wisata bagi pejalan kaki dan jalur sepeda,” ujarnya.

Selain itu juga untuk mempertahankan eksistensi orang Doreri sebagai pemilik dari pulau ini, rumah-rumah mereka akan dibangun dengan arsitektur yang bagus, namun tidak mengilangkan nilai-nilai arsitektur lokal suku Doreri.

Ia pun berharap gereja sebagai corong harus mewartakan juga kebaikan kebaikan negara terhadap orang Papua.

“Jangan selalu mengkampanyekan hal hal yang negatif, Ini adalah bukti nyata negara serius memperhatikan Papua,” ujarnya.

Ia pun berharap segera akan ada sosialisasi Pulau Mansinam sebagai tempat kunjungan wisata rohani Yoas Raweyai (19) warga Manokwari yang sedang mengunjungi Pulau Mansinam mengatakan, bangga dan senang dengan berdirnya patung Yesus.

“Senang dan bangga ada patung Yesus dan pembangunan lain di pulau ini. Mudah mudahan semakin banyak orang berkunjung ke Pulau ini sebagai tempat tujuan wisata rohani,” ujarnya. (sp/hio/sld)

Al Qur’an Tidak Bisa Dipelajari Secara Otodidak

Anak-anak mengaji al Qur'an / Skr
Anak-anak mengaji al Qur’an / Skr

Hidayatullah.or.id — Al Qur’an adalah mukjizat yang didalamnya terkandung hukum, sejarah, dan firman Allah Subhanahu Wata’ala yang harus diimani. Sehingga Al Qur’an adalah himpunan ilmu yang tak bisa dipelajari dengan cara otodidak atau belajar sendiri.

Instruktur Nasional Grand MBA, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan bahwa Al Qur’an sarat dengan banyak hal ihwal yang mendalam dan terkesan rumit tapi sesungguhnya sangat mudah jika kita ingin mempelajarinya. Namun sebagaimana bahasa, Al Qur’an tidak bisa dipelajari tanpa ada guru yang mengajarkan.

“Belajar Al Qur’an itu seperti belajar bahasa. Mempelajari suatu bahasa itu harus ada yang mencontohkan, harus ada guru, dan ada yang kompeten mempraktikkan,” kata Muhdi Tranajaya ditemui hidayatullah.or.id di kantornya, (20/02/2013).

Dalam bahasa Jawa misalnya, menurut Muhdi, tidak bisa orang belajar bahasa Jawa secara otodidak. Diperlukan guru yang bisa bahasa Jawa. Karena di dalam bahasa itu ada hal hal yang memang harus dicontohkan baru dapat diketahui cara mengucapkannya.

Muhdi mencontohkan, dalam bahasa Jawa misalkan, ada kata “loro” yang artinya dua dan “loro” yang artinya sakit, keduanya jelas memiliki cara dan bunyi pengucapan yang berbeda walau sama secara teks. Ada Juga kata mendem (mengubur) dan mendem (mabuk), serupa tapi tak sama.

“Sama tulisan, beda penyebutan, dan itu beda artinya. Jadi untuk mengetahuinya tidak bisa otodidak, harus mendengar melihat bagaimana sih caranya. Begitulah Al Qur’an,” katanya.

Dalam bahasa apapun, kesalahan mengucapkan bisa menyebabkan salah dimaknai. Kondisi serupa akan berakibat fatal apabila terjadi dalam melafazkan Al Qur’an.

“Ini menjadi lebih penting ketika kita belajar bahasa Al Qur’an yang di dalamnya ada hal hal yang harus diimani, ada hukum, ada sejarah, dan Al Qur’an itu adalah firman Allah Subhahanu Wata’ala yang diturunkan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar,” imbuh Muhdi.

“Di sinilah mengapa belajar Al Qur’an, tajwid, dan tahsin itu menjadi sangat penting,” tambahnya.

Menurut Muhdi banyaknya lembaga atau pribadi yang menawarkan metode atau sistem membaca Al Qur’an dengan cepat hanyalah sebagai pintu masuk saja untuk menggugah kesadaran bahwa ternyata Al Qur’an itu memang mudah dipelajari sehingga orang tertarik belajar.

Ketika seseorang sudah tertarik belajar, maka dia tidak akan berhenti belajar karena sudah timbul rasa suka dan cinta. Setelah itu, belajar Al Qur’an tidak bisa secara instan. Terutama yang tidak bisa instan itu adalah sifat dan makhraj huruf.

“Harus berlatih, apalagi yang notabene di Indonesia, sukunya beragam, bahasa beragam, itu tidak bisa instan. Karena karakter bahasa Arab itu berbeda dengan bahasa lainnya,” tandasnya. (ybh/hio)

Budaya Korupsi Hasil Produk Pendidikan Sekuler

Kajian Sabtu awal bulan di Ponpes Hidayatullah Depok, Jawa Barat / Skr aljihad
Kajian Sabtu awal bulan di Ponpes Hidayatullah Depok, Jawa Barat / Skr aljihad

Hidayatullah.or.id -– Pendidikan integral harus dibangun berdasarkan tauhid dan moral. Berbeda dengan pendidikan sekuler, yang tidak dibangun atas kedua nilai tersebut. Dampak buruk pendidikan sekuler seperti yang terjadi di negeri ini.

Demikian salah satu kesimpulan dari penyampaian Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Hidayatullah Dr Abdul Mannan saat mengisi Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 30 Rabiul Awal 1435 H (1/2/2014).

“Korupsi (adalah) produk pendidikan sekuler, karenanya nilai moral ini basis penting (dalam pendidikan),” ujarnya di depan ratusan hadirin usai shalat Shubuh berjamaah, mencontohkan dampak pendidikan sekuler.

Pada kajian dua pekanan tersebut, Mannan mengangkat tema “Al-’Alaq: Dasar Konsep Pendidikan Integral”. Dia mengatakan, semua materi dalam pendidikan integral berbasis tauhid harus diarahkan menuju iman kepada Allah.

Dalam praktiknya pun demikian. Misalnya, kata dia, saat mengajar di sebuah universitas pascasarjana, Mannan menekankan para mahasiswanya akan pentingnya shalat berjamaah.

Begitu tiba waktu shalat, lanjutnya, Mannan menghentikan sementara kegiatan kuliah, lalu mengajak mahasiswanya untuk ke masjid. Bahkan, katanya, shalat berjamaah mempengaruhi nilai mata kuliah mereka.

Mannan menyinggung lembaga pendidikan yang menggunakan jargon integral, namun masih belum Islami secara praktik. Dalam hal sederhana, misalnya, campur-baurnya para penjemput murid di depan sekolah, antara penjemput laki-laki dan wanita.

“(Atau) tukang ojek perempuan bonceng anak laki-laki,” tambahnya.

Mannan mengatakan, pesan inti dari wahyu pertama, Surat al-’Alaq 1-5, adalah kesadaran bertauhid. Wahyu ini pun menjadi landasan dalam pendidikan integral, sehingga, segenap komponen dalam pendidikan mesti paham akan pesan-pesan al-’Alaq.

“Mengantarkan semua anak didik mendeklarasikan kalimat falsafah hidup, (yaitu) Laailaha illallaah, Muhammadur Rasulullah,” jelasnya.

Hakikat Ilmu

Kesimpulan lainnya yang disampaikan Mannan bahwa para pendidik sepatutnya memiliki tauhid yang super. Sehingga mereka mampu mengantarkan anak-anak didik bertauhid dengan benar. Para pendidik pun harus dikontrol, bukan cuma anak didiknya yang dikontrol.

Mannan juga menjelaskan hakikat ilmu dalam Islam. Menurutnya, dalam mencari proses kebenaran mutlak harus dipandu oleh al-Qur’an, dengan bukti-bukti yang telah dialami para nabi dan rasul.

“Ini baru lurus. Kalau nggak ada panduannya, nggak bisa,” imbuhnya.

Sebab, ujarnya, di atas ilmu ada yang lebih berilmu, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.* (Skr aljihad)

Marak Bencana Alam, Hidayatullah Peduli Tanggap Nasional

Tim HPBN di Sinabung / FOTO: BMH
Tim HPBN di Sinabung / FOTO: BMH

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah Peduli Bencana Nusantara (HPBN) hingga hari ini masih bertahan di lokasi bencana Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Selain mendirikan posko, team yang terdiri dari relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), SAR Hidayatullah, dan Islamic Medical Service (IMS) ikut membantu evakuasi dan rehabilitasi korban.

HPBN masih terus memberikan bantuan ke posko-Posko pengungsi erupsi Sinabung. Bahkan jumlah Posko pun kian diperbanyak seiring dengan bertambahnya jumlah pengungsi.

Untuk kebutuhan logistik, masih banyak Posko pengungsi menggantungkan kebutuhan hidupnya dari bantuan. Namun demikian, masalah tidak hanya pada soal logistik semata. Beberapa pengungsi memerlukan bantuan biaya untuk sekolah anak-anaknya yang sedang belajar di luar Kabupaten Karo.

Pak Ginting misalnya, sejak erupsi gunung Sinabung ia tak bisa lagi bekerja seperti biasa. Akhirnya, tidak ada penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar kebutuhan sekolah anaknya yang sedang belajar di pesantren.

“Saya sudah tidak bisa membayar biaya hidup anak saya yang sekolah di salah satu pesantren yang ada di Medan. Saya sangat berharap kepada BMH agar anak saya bisa dibantu juga,” ujarnya kepada relawan BMH di Sinabung Masdar Ayub.

Trauma Healing

Selain itu BMH juga menggelar berbagai macam kegiatan. Di antaranya memberikan kajian motivasi spiritual di Posko Islamic Center. Hal ini merupakan satu program trauma healing yang diluncurkan BMH agar para pengungsi tidak terguncang kejiwaannya.

Menurut Kepala Cabang BMH Medan kebutuhan para pengungsi sebenarnya bukan soal logistik semata, tetapi juga spiritual.

“Memang banyak hal yang sangat dibutuhkan masyarakat di Posko pengungsian. Akan tetapi dengan motivasi spiritual yang kami laksanakan semoga para pengungsi semakin dekat kepada Allah, sehingga bisa melihat musibah ini sebagai media untuk lebih takwa kepada-Nya,” ujar Ayub.

Untuk itu BMH selalu berusaha memberikan bantuan secara integratif, baik logistik maupun spiritual. Pada saat penyerahan paket bantuan, kepala Cabang BMH Medan, Rahmat Afandi juga menyampaikan kepada seluruh pengungsi untuk bersabar dan berdoa.

Dan mengucapkan terima kasih banyak atas kerjasamanya PT. Ayu Septa Perdana dan Lazis PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara. “Semoga Allah membalas dan memberikan gantinya yang lebih banyak lagi,” kata Rahmat.

Selain bencana Sinabung, HPBN juga menerjunkan tim relawan bekerjasama dengan lembaga amil zakat nasional BMH dan lembaga kesehatan nasional IMS serta team pencarian dan pemulihan (SAR) Hiayatullah ke sejumlah wilayah bencana lainnya seperti banjir Manado, banjir Jabodetabek, Karawang, dan Indramayu. (dbs/hio)

Sarana Sederhana Tak Surutkan Semangat Belajar Santri Hidayatullah Kendari

0
Meski masih serba sederhana, santri buktikan diri bisa berprestasi / Thamrin
Meski masih serba sederhana, santri buktikan diri bisa berprestasi / Thamrin

Hidayatullah.or.id — Keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadikan para guru dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari untuk berhenti melakukan aktfitas belajar mengajar. Mereka tetap semangat meskipun dengan sarana belajar yang sangat sederhana.

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang dirintis oleh Ustadz Khairil Baits ini sejak tahun 1993 hingga sekarang masih terus eksis di kota Kendari ini.

Semenjak kehadirannya, menurut Ketua pengurus harian Pesantren Hidayatullah Kendari, Ghiroh Amrullah, Pesantren Hidayatullah telah banyak membantu pendidikan masyarakat dan meringankan beban pemerintah.

“Alhamdulillah santri yang kami bina setiap tahunnya meningkat, saat ini berjumlah 130 santri. Yang terdiri dari 50 santri putra dan 70 santri putri. Mereka tinggal di dalam pondok dan tidak dipungut biaya,” ujar Ghiroh kepada media Sultra di ruang kerjanya kemarin (29/1/2014).

Saat dikonfirmasi mengenai sumber pendanaan pesantren, ia menjelaskan bahwa, sampai saat ini sumber pendanaan Pesantren Hidayatullah masih dari swadaya masyarakat Muslim yang di kumpulkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). Selain itu juga ada amal usaha pesantren seperti peternakan dan koperasi.

Meski dalam kondisi yang masih sangat terbatas, para guru dan santri masih tetap senang dan semangat tinggal dan belajar, karena di pesantren ini selain pelajaran agama yang di ajarkan tapi juga pelajaran Umum.

Menurut ayah 7 anak yang biasa disapa Aba Ipul ini, santrinya pernah meraih juara satu dan dua dalam lomba Bahasa Inggris dan Bahasa Arab tigkat kota yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Kendari.

Dengan capaian prestasi itu membuat para guru dan santri semakin sungguh-sungguh dalam belajar, sekalipun tempat belajarnya di gode-gode yang hanya melantai dan cuma pakai meja kecil tanpa kursi. Tidak sebagaimana sekolah pada umumnya.

Kebanyakan para santri, kata suami Irmayani ini, datang dari kalangan menengah ke bawah dan sebagian orangtuanya bekerja sebagai nelayan dan petani, serta ada juga yang sudah yatim piatu.

Mereka datang dari berbagai daerah khususnya wilayah Sultra. Harapannya, kelak anak-anak itu akan menjadi contoh minimal dilingkungan kelurganya dan memiliki Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama.

Oleh karena itu, para pengurus bertekad akan membebaskan lahan di sekitar pesantren yang belum dibebaskan dan membuat tempat belajar yang lebih permanen. Sehingga dengan adanya sarana yang bagus para santri semakin semangat lagi dalam menuntut ilmu di pesantren ini.

Kini, pengurus sedang menggagas pembangunana gedung pesantren tahfidz atau pesantren penghafal Al-Quran di Nanga-Nanga, sebagai pengembangan Pesantren Hidayatullah Kendari ke depan dan rencananya pesantren yang di bangun tersebut, untuk para santri yang ingin menghafal Al-Quran dan tidak di pungut biaya bagi kalangan yang tidak mampu.

Ghiroh sangat berharap semoga ada di antara umat Islam yang ikut andil dalam pembebasan lahan dan pembangunan gedung pesantren penghafal quran tersebut, yang saat ini telah selesai pemancangan tiang.

“Mari berlomba–lomba dalam kebaikan, semoga Allah SWT menggantinya dengan pahala surga, Aamiin,” harapnya.(knc/hio)

Manfaatkan Majelis Maulid Nabi untuk Raih Ilmu dan Eratkan Silaturrahim

0
Suasana Maulid Nabi di Kantor Kemenag Bintan / Kemenag
Suasana Maulid Nabi di Kantor Kemenag Bintan / Kemenag

Hidayatullah.or.id — Berbicara di hadapan jamaah acara Maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di Majsid Al Muhajirin, Komplek Kantor Kemenag Bintan, Riau, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan, Ustadz Maidin, berpesan agar kaum Muslimin menjadikan majelis maulid Nabi sebagai wadah untuk menuntut ilmu dan membangun silaturrahim.

Maidin mengatakan, tujuan utama dari peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah mempertemukan seluruh umat Islam dalam sebuah kegiatan yang di dalamnya terdapat majlis ilmu yang bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang agama Islam.

“Mungkin sebagian dari saudara-saudara kita ada yang menganggap peringatan semacam maulid Nabi ini sebagai perbuatan yang mengada-ngada. Namun, tujuan kegiatan ini jelas untuk mempererat ukhuwah Islamiyah serta merupakan sebuah majelis yang di dalamnya terdapat banyak ilmu agama yang disampaikan,” tutur Maidin saat memberi taushiah dalam acara maulid yang diikuti seluruh pejabat dan pegawai Kemenag Bintan Jum’at pekan lalu, ditulis Kamis (30/01/204).

Lebih lanjut, pimpinan Pondok pesantren Hidayatullah Bintan ini mengharapkan agar seluruh umat Islam bisa mengamalkan sunnah Nabi SAW.

“Mari kita berusaha untuk selalu mengamalkan sunnah baginda Rasul SAW. Mungkin kita tidak mampu untuk mengikuti seutuhnya sunnah baginda, akan tetapi setidaknya kita selalu berusaha untuk menjalankan setiap sunnahnya,” terang ustad Maidin.

Seraya juga mengatakan mengatakan bahwa salah satu sunnah nabi adalah membangun silaturrahim dengan segenap manusia tanpa pandang bulu dari kelompok mana pun dari ummat ini serta kewajiban shalat berjamaah di masjid, dan hal itu dilakukan oleh Nabi Muhammad setiap hari, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun.

Selanjutnya acara maulid Nabi ini ditutup dengan doa yang juga dipandu oleh ustadz Maidin. Setelahnya, para hadirin disuguhkan dengan makanan yang telah disediakan oleh pengurus mushalla.

Jum’at (24/1) pekan lalu, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bintan mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H. Kegiatan ini dilaksanakan di mushalla Al Muhajirin Kantor Kemenag Bintan dan diikuti oleh seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan Kantor Kemenag Bintan.

Acara dimulai dengan bacaan barzanji bersama yang dipandu oleh Drs. H. Ahmad Husen, Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Bintan. Suasana menjadi lebih khidmat mengingat seluruh hadirin membaca kitab barzanji secara bergantian.

Acara selanjutnya, pengukuhan pengurus mushalla al Muhajirin Kantor Kemenag Bintan oleh Kepala Kantor Kemenag Bintan. Dalam pengarahannya, Kepala Kantor Kemenag Bintan Drs. H. Erizal, MH mengucapkan selamat kepada pengurus mushalla yang baru dikukuhkan.

Erizal berharap agar pengurus mushalla dapat menghidupkan mushalla al Muhajirin dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Selanjutnya Kankemenag mengungkapkan peringatan maulid Nabi ini bukan sekedar ceremony. Namun tujuan memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW ini dalam rangka memantapkan keinginan untuk selalu menauladani baginda Rasul SAW serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

“Spirit untuk mengetahui sejarah Nabi inilah yang paling perlu kita ambil dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Kepala Kankemenag Bintan seraya mengungkapkan sejarah Nabi Muhammad dapat dilihat dalam untaian-untaian kata pada kitab al-barzanji yang telah dibacakan di awal kegiatan ini.

Kepala Kankemenag Bintan ini menambahkan, seluruh aspek kehidupan pada diri Rasulullah itu harus diteladani, karena Muhammad merupakan uswatun hasanah, yakni suri tauladan yang paling baik. (kem/hio)

Grand MBA Tawarkan Metode Pembelajaran Al Qur’an Secara Tuntas

0

Hidayatullah.or.id — Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Instruktur Nasional Grand MBA Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” kata Muhdi Tranajaya ditemui Hidayatullah.or.id di kantornya, ditulis Kamis (30/01/2013).

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Muhdi.

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Muhdi menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas Ustaz Muhdi.

Menurut Muhdi, maraknya metode pembelajaran Qur’an dengan metode cepat salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang mau serba cepat, terutama Ini akibat dari pola hidup atau pola pikir yang sebetulnya dipengaruhi oleh materialisme.

“Jadi, ketika orang menawarkan sesuatu, itu langsung, berapa kali pertemuan, berapa harganya, berapa lama, ditanya langsung bisa nggak. Begitu,” ujarnya.

Belajar dari fenomena tersebut, para dai dan guru ngaji juga ingin mensiasati kondisi masyarakat yang demikian tadi. Maka mereka juga ingin melakukan pendekatan bagaimana metode pembelajaran Al Qur’an itu mereka bisa diterima.

“Metode pembelajaran Al Quran cepat sebenarnya hanya sebagai tahap awal agar masyarakat bisa lebih mengenal Quran lebih dekat, bisa timbul rasa suka, rasa cinta, terhadap Qur’an. Sehingga mereka meneruskan pelajaran Al Qur’an sampai mencapai target yang ideal,” kata pria lulusan LIPIA Jakarta ini.

Ia menjelaskan bahwa metode cepat membaca Qur’an itu yang ditawarkan saat ini sepenuhnya masih parsial. Sebab Al Qur’an itu bukan hanya membaca, tapi ada tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diikuti dengan baik.

Al Qur’an memang bahasa Arab tetapi memiliki cara membaca yang khusus yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Yang membedakan adalah kaidah tajwid. Yaitu tentang bagaimana cara mengucapkan huruf huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhraj dan shifatnya.

Kemudian selanjutnya, jelas Muhdi, mempelajari makna dan tata bahasa Al Qur’an dari setiap ayat dan bagaimana cara mengamalkannya.

Tidak cukup sampai di situ, kalau mau jadi ulama dan ingin memahami betul-betul Al Qur’an maka seseorang harus mempelajari apa yang disebut dengan ilmu keindahan bahasa atau dalam bahasa Arab disebut ilmu Balaghah. Balaghah adalah ilmu untuk merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna Al Qur’an.

“Jadi Al Qur’an itu sangat indah dan maknanya sangat dalam. Kemudian barulah dia akan sampai pada hakikat tartil. Hakikat tartil itu adalah keselaran antara lisan yang fasih, hati yang penuh iman dan akal yang mengambil pelajaran serta fisik yang ingin segera mengamalkan Al Qur’an,” tandasnya.(ybh/hio)