Beranda blog Halaman 661

Puluhan Dai Hidayatullah Nusantara Ikuti Psikotest

Pembukaan acara Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun  Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat / SKR
Pembukaan acara Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat / SKR

Hidayatullah.or.id — Sebanyak 60 dai utusan Pengurus Wikayah (PW) Hidayatullah se-Indonesia mengikuti Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat. Pelatihan yang berlangsung di Aula Hidayatullah Training Center (HiTC) ini digelar selama lima hari ini dibuka pada Rabu, 17 Jumadil Akhir 1435 H (16/4/2014) malam.

Kamis (17/4/2014) paginya, para peserta pelatihan langsung mengikuti tes psikologi (psikotest) yang ditangani empat orang tenaga ahli dari lembaga resmi yang telah dikontrak. Pantauan hidayatullah.com di tempat acara, para dai dibagi dalam dua ruangan berbeda.

Direktur HiTC Ir Khairil Baits mengatakan, pelatihan tersebut merupakan upaya peningkatan kualitas para dai Indonesia. Dari sini mereka diharapkan memahami dan memiliki tiga kompetensi.

Pertama, kata Khairil, pemahaman dan penerapan kandungan al-Qur’an sebagai pedoman beragama. Kedua, pemahaman terhadap manajemen bermasyarakat dan berorganisasi. Ketiga, kemampuan mewujudkan agenda-agenda dakwah yang telah dicanangkan.

“Inilah yang menjadi tugas utama kita,” ujar Khairil dalam sambutannya pada malam pembukaan acara di aula Pesantren Hidayatullah Depok.

Khairil mengatakan, HiTC akan terus melakukan berbagai program-program pelatihan para dai. Dengan begitu, diharapkan mereka terus beregenerasi.

Bertolak dari Al-Qur’an

Pelatihan ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah. Dalam sambutannya, Abu A’la mengatakan, ide pelaksanaan pelatihan tersebut bertolak dari al-Qur’an Surat al-Anfal ayat 60.

Dalam ayat tersebut, jelasnya, terdapat perintah untuk mempersiapkan segala kemampuan untuk menghadapi orang-orang kafir.

“Jadi kita (para dai. Red) harus selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang besar,” ujar Abu A’la, yang hadir mewakili Ketua Umum Dr Abdul Mannan.

Di antara kemampuan yang harus dipersiapkan itu, menurutnya, adalah spiritual, intelektual, dan profesionalisme. Kesemua itu harus terpenuhi oleh para dai secara menyeluruh.

Abu A’la mengatakan, ada alasan tersendiri dipilihnya pesantren sebagai lokasi pelatihan. Dulu, acara-acara serupa sering diadakan di luar pesantren. Namun rupanya suasananya tidak kondusif bagi para dai.

“Dulu sering, (tapi) shalat berjamaahnya tidak bisa tenang, acaranya juga tidak tenang. Sehingga kembali ke markas perjuangan kita yaitu kampus (pesantren. Red),” jelasnya.

Abu A’la mengatakan, dia pernah berdiskusi dengan seorang tokoh nasional. Dari diskusi tersebut, dihasilkan rumusan aspek-aspek penting dalam perjuangan. Yaitu ide, konsep, jaringan, dan teknologi. Para dai pun ditantang untuk memenuhi semua aspek tersebut.

“Kita ditantang dan memang tidak gampang. Mudah-mudahan teman-teman peserta (pelatihan) semuanya menjadi peserta yang terbaik dalam segala aspek dalam perjuangan,” pungkas Abu A’la, lantas membuka pelatihan tersebut dengan basmalah diiringi takbir.

Usai acara pembukaan, acara langsung beranjak ke materi pertama dengan tema “Budaya Organisasi Imamah”. Materi ini dibawakan oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad, dengan pembawa acara Ketua Departemen Perkaderan Ir Ahkam Sumadiana.

Ustadz Abdurrahman mengatakan, dalam Islam terdapat budaya kepemimpinan. Seorang pemimpin Islam, ujarnya, harus bisa mempengaruhi jamaahnya, serta rajin-rajin keluyuran memantau kondisi umat.

“Kita ini sebagai pemimpin semua, bagaimana kita memiliki budaya (keluyuran) itu,” pesannya.

Pelatihan ini akan berakhir pada Ahad (20/4/2014) mendatang. Pelatihan pertama telah berlangsung pada pertengahan Januari lalu. Para pesertanya adalah perwakilan Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah Hidayatullah se-Tanah Air.* (Skr aljihad)

Ibadah yang Benar Lahirkan Muslim Enerjik lagi Santun

Kaum muslimin melaksanakan sholat hingga ke kapal-kapal nelayan / IST
Kaum muslimin melaksanakan sholat hingga ke kapal-kapal nelayan / IST

Hidayatullah.or.id — Ustadz Ismail Mappiasse mengingatkan bahwa orang yang mengaku Muslim, khususnya bagi kader Hidayatullah, seharusnya tidak mudah mengeluh dan tak pula kikir (pelit). Karena ibadah yang dilakukan seorang Muslim sejatinya menghantarnya menjadi manusia enerjik dan berkarakter mulia.

Sebaliknya, setiap orang yang mengaku Muslim harus selalu bergairah, penuh semangat, santun, serta gemar membantu serta senantiasa menyayangi saudara-saudaranya sesama Muslim dan manusia sekitarnya.

Hal itu disampaikan Ustadz Ismail saat melaporkan perjalanan dakwahnya usai shalat Magrib di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Kamis (17/04/2014) malam. Ismail bersama puluhan dai lainnya sedang mengikuti upgrading dan training kepemimpinan yang digelar di kota ini.

“Kalau masih ada orang Islam yang suka mengeluh, suka sekali menyalahkan, berarti sholatnya belum benar karena itu semua adalah perbuatan keji. Orang yang sholatnya benar tidak akan melakukan kemungkaran,” kata Ustadz Ismail di hadapan para santri dan jamaah.

Secara umum telah dipahami bahwa shalat merupakan ibadah wajib bagi kaum Muslimin 5 waktu dalam sehari. Mengutip ayat Al Qur’an Surah Al Ankabut ayat 45, Ismail menegaskan kembali firman Allah Ta’ala bahwa sesungguhnya shalat adalah pencegah bagi orang beriman dari melakukan keji dan mungkar.

Perbuatan fahisyah dan munkar yang dimaksud ayat tersebut sebagaimana dalam tafsir ulama, jelas Ismail, adalah perbuatan buruk suka mengeluh, sombong, malas, pelit atau sekke’, berzina, berbuat kasar, dengki, marah, membunuh jiwa, dan perbuatan jelek lainnya yang bertentangan dengan fitrah kemanusiawiaan kita.

Namun kenyataannya, ujar Ismail, banyak dari kita kaum Muslimin yang rutin sholat lima waktu tetapi tidak jua ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kondisi ini boleh jadi karena shalat kita bukanlah shalat yang dimaksud yaitu yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

“Sholat tidak berefek karena kita sholat hanya sekedar sholat, tidak mengerti esensi dari ibadah yang dilakukan,” kata Ismail yang pernah menjadi dai di Kapal Pelni selama sebulan lebih berlayar di laut dari satu kota ke wilayah lainnya.

Atas realitas tersebut, Ismail mengingatkan kepada kaum Muslimin khususnya kader Hidayatullah, agar tidak berhenti belajar mendalami segenap ajaran Islam mulai dari masalah ibadah hingga muamalah. Dengan demikian, segala tindak tanduk kita sebagai orang beriman tidak keluar dari koridor yang telah dituntunkan oleh Tuhan.

Ustadz yang saat ini bertugas di Kalimantan Utara ini menambahkan jamaah Hidayatullah harus bersyukur atas anugerah dari-Nya berupa kampus-kampus Hidayatullah sebagai miniuatur peragaan ajaran Islam yang menentramkan.

“Dengan lingkungan islami seperti ini, kita bisa dengan nikmat menjalankan ibadah sholat berjamaah. Kampus yang tersuasana seperti ini menjadi wadah kita untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala, ini yang harus kita syukuri,” tandasnya.

Sekedar diketahui, sebanyak 60 dai utusan Pengurus Wikayah (PW) Hidayatullah se-Indonesia mengikuti Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Pelatihan yang berlangsung di Aula Hidayatullah Training Center (HiTC) ini digelar oleh Departemen Organisasi dan Politik PP Hidayatullah bekerjasama dengan HiTC selama lima hari ini dibuka pada Rabu, 17 Jumadil Akhir 1435 H (16/4/2014) malam. (ybh/hio)

Menegakkan Peradaban Islam Visi Bersama Kaum Muslimin

Umat Islam beribadah di lingkungan Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah / NET
Umat Islam beribadah di lingkungan Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah / NET

Hidayatullah.or.id — Tegaknya kembali peradaban Islam adalah cita cita bersama kaum Muslimin. Demikian yang terungkap dalam acara Silaturahim Dai dan Dalog Peradaban yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Jawa Barat di Mesjid Ponpes Hidayatullah, Kecamatan Padasuka, Kabupaten Bandung, belum lama ini (30/3/2014).

Dalam diskusi bertajuk “Bersama Da’i Membangun Peradaban Islam” tersebut, salah seorang Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah Ustadz Naspi Arsyad, Lc, yang hadir sebagai pemateri tersebut menyatakan bahwa tegaknya peradaban Islam adalah solusi atas keterpurukan umat Islam hari ini.

Karena itu, lanjut Naspi, menegakkan peradaban mulia ini harus diupayakan secara bersama-sama. “Mereka yang mengupayakan ini mesti memiliki kesamaan visi dan cita cita,” katanya.

Menengok realitas, dia juga menambahkan bahwa saat ini sudah sangat banyak umat Islam yang meninginkan tegaknya peradaban yang dibangun dengan syariat Islam. Hanya persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dihimpun dalam satu visi yang sama.

Sementara itu pembicara lain dari ormas Dewan Syura Pimpinan Pusat Persatuan Umat Islam (PUI) Ustadz Nazar Haris, menekankan pentingnya keberadaan pemimpin tunggal di tengah kaum Muslimin sebagai penggerak peradaban Islam.

“Jujur saja, sekarang ini umat Islam tak punya pemimpin yang sesuai dengan kepemimpinan Rasulullah. Padahal, untuk melakukan perubahan tingkat dunia seperti yang dibutuhkan saat ini, kita butuh pemimpin,” tegasnya.

Menanggapi topik yang disampaikan dalam dialog tersebut, Ustadz Eri Taufik Abdul Karim dari Lajnah Faaliyah DPD I HTI Jawa Barat yang turut hadir dalam forum tersebut menyatakan, bahwa upaya untuk menegakkan peradaban Islam harus berangkat dari persepsi yang sama tentang peradaban Islam.

“Peradaban Islam dicirikan dengan kehidupan bermasyarakat yang didalamnya tegak berbagai pemikiran, aturan hidup, dan berbagai produk yang lahir dari Islam,” katanya.

Kemudian dia menambahkan, kehidupan yang mencirikan keberadaan peradaban Islam hanya bisa muncul tatkala umat Islam mampu menegakkan Khilafah. Maka dari itu, Erik menyimpulkan bahwa umat Islam mesti menyamakan visi dan cita citanya untuk menegkkan Khilafah.

“Khilafah yang akan mengemban pemikiran Islam dan menerapkan Syariat Islam secara sempurna bagi seluruh umat manusia,” ujarnya menyimpulkan.

Acara yang dihadiri oleh sekira seratus peserta ini sendiri dimulai sejak sekitar pukul sembilan dan berakhir sekitar dzuhur. (pr/hio)

Bersilaturrahim ke Kampus Hidayatullah Holtekamp Papua

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah telah hadir di Papua sejak puluhan tahun lalu dirintis oleh kader-kader awal santri Allahuyarham Abdullah Said, khususnya di ibu Kota Provinsi Papua, Jayapura. Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura beralamat lengkap Jalan Kelapa Dua, Entrop, Holtekamp, Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Kode pos 99224.

Selain menyelenggarakan kegiatan kepesantrenanan, Hidayatullah Jayapura juga aktif melakukan pembinaan umat melalui dakwah dan pendidikan. Pembinaan yang dilakukan tidak lepas dari dukungan unsur pemerintah setempat dalam rangka membangun wilayah ini dengan semangat kebhinnekaan.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) juga telah hadir di kota ini dan secara rutin menggelar kegiatan sosial dengan bekerjasama dengan semua elemen masyarakat seperti dengan Bank Papua, instansi pemerintah, dan lembaga swasta dan perusahaan.

Seperti pada akhir 2013 lalu, BMH Jayalura didukung oleh Bank Papua dan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, menyelenggarakan khitanan massal bagi seratus orang anak Jayapura. Khitanan massal ini melibatkan sedikitnya 10 orang tenaga medis terlatih dari Rumah Sakit (RS) Yowari Sentani. Khitanan massal ini diikuti oleh sedikitnya 120 anak yatim dan dhuafa di Masjid Darussalam Tanah Hitam, Jayapura.

Selain itu, Hidayatullah Jayapura juga kerap menjadi tuan rumah kegiatan-kegiatan keorganisasian Hidayatullah di provinsi ini. Hal ini mengingat kemudahan akses dan letak geografisnya yang relatif mudah dijangkau oleh petugas Hidayatullah di daerah lainnya. Berikut ini beberapa album kampus dan kegiatan di Kampus Hidayatullah Jayapura: 

Sudut komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST
Sudut komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST
Kegiatan sosial Laznas BMH Jayapura / IST
Kegiatan sosial Laznas BMH Jayapura / IST
Peserta Pandu Hidayatullah se-Papua hadir di Kampus Hidayatullah Jayapura dengan menghadirkan pelatih dari kepolisian setempat /IST
Peserta Pandu Hidayatullah se-Papua hadir di Kampus Hidayatullah Jayapura dengan menghadirkan pelatih dari kepolisian setempat /IST
Kampus Hidayatullah Jayapura menjadi tuan rumah kegiatan Pandu Hidayatullah / IST
Kampus Hidayatullah Jayapura menjadi tuan rumah kegiatan Pandu Hidayatullah / IST
Tampak bangunan representatif di komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST
Tampak bangunan representatif di komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST
Lapangan komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST
Lapangan komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST

 

LPPPM STIS Hidayatullah Mengkaji Ekonomi Syariah

Logo Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur
Logo Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur

Hidayatullah.or.id — Dampak buruk paham ekonomi materialisme dan kapitalisme bukan lagi sekedar isapan jempol di tengah masyarakat. Hari ini seolah-olah umat Islam tak berdaya sama sekali di hadapan kekuatan cakar sistem ribawi.

Itulah fenomena sosial yang menjadi pengantar dalam kegiatan diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat (LPPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, Balikpapan, Sabtu, 12 April 2014, lalu.

“Di mana-mana ada praktik riba. Kini setiap saat riba itu menghantui kita dalam segala aspek dan transaksi keuangan kita. Inilah fitnah akhir zaman yang harus kita hadapi bersama,” tegas Direktur Baitul Mal wat Tamwil (BMT) Umat Mandiri Balikpapan, Rohyadi.

Dalam kesempatan diskusi kali ini, LPPPM STIS Hidayatullah menggandeng BMT Umat Mandiri dengan tema pembahasan “Harapan dan Tantangan BMT Sebagai Lembaga Keuangan Syariah”.

Dijelaskan Rohyadi, bagi orang beriman, tentu tak bijak jika hanya menyesali nasib lalu berpasrah diri tanpa berbuat. Termasuk dalam menyikapi persoalan ekonomi umat Islam sekarang ini.

Menurut Rohyadi, hendaknya kondisi itu ditangkap sebagai tantangan dan peluang untuk mensosialisasikan tuntunan syariat Islam dalam hal ekonomi dan keuangan.

“Inilah peluang yang paling baik untuk mengembalikan umat Islam kepada ajaran agamanya,” ujar Rohyadi.

Saat ini, jelas Rohyadi, masyarakat tidak perlu lagi diberitahu tentang bobroknya praktik riba itu karena mereka sudah merasakannya sendiri dampak buruknya secara langsung.

Dalam presentasi di hadapan peserta diskusi, Rohyadi juga mengurai panjang lebar tentang perbedaan mendasar dalam beberapa akad yang dipakai. Antara praktik transaksi riba dan transaksi syar’i menurut syariat Islam.

“Terkesan sama, sebab terkadang perbedaan di antara praktik keduanya sangat tipis. Namun ketimpangan itu jadi sangat terasa jika langsung berhadapan dengan kasus di lapangan,” terang pria yang mengaku banyak mendapatkan ilmu dari praktik langsung di lapangan.

Belajar pada Masa Lalu

Lebih jauh Rohyadi mengajak mencermati krisis keuangan yang menimpa negeri ini tahun 1997 silam. Saat itu, jelas dia, bank-bank syariah tetap mampu survive meski diterpa badai moneter. Sedang di saat yang sama, pemandangan berbeda melanda bank-bank konvensional.

Ibarat anak tangga yang roboh, satu persatu bank-bank yang menganut paham keuangan ribawi tersebut bertumbangan dan terkena likuidasi. Salah satu faktornya, karena lembaga keuangan syariah tak mengenal unsur ribawi dalam pengelolaannya.

Untuk itu, menurut Rohyadi, BMT Umat Mandiri yang dipimpinnya hadir di tengah masyarakat. Berangkat dari keprihatinan terhadap nasib masyarakat kecil yang banyak terjerat dengan cengkeraman para cukong dan rentenir. Oleh masyarakat, kelompok seperti ini biasa dikenal dengan istilah Pegel. Singkatan dari Pengusaha Golongan Ekonomi Lemah.

“Biasanya orang-orang tersebut susah dalam berurusan dengan bank,” papar Rohyadi. Selain itu, menurut temuan Rohyadi, antusiasme masyarakat terhadap prinsip ekonomi syariah juga sangat tinggi.

Tentu dengan catatan, ghirah dan kepercayaan itu terbayar dengan pengelolaan yang baik dan amanah. “Tinggal kita bagaimana menjawab kepercayaan tersebut,” ucap pria kelahiran Subang, Jawa Barat ini.

Berbasis Masjid

Berdiri sejak akhir 2006, dalam perjalanannya hingga kini BMT Umat Mandiri memiliki aset sebesar 2,8 Milyar. “Dulu modal awalnya hanya Rp. 4.500.000. Itupun hasil dari patungan sepuluh orang,” ungkap Rohyadi.

Setelah itu, BMT mendapat suntikan pinjaman dana segar dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebesar Rp. 45.000.000. Dengan modal tersebut, BMT Umat Mandiri terus bermujahadah melayani kebutuhan masyarakat dengan berbagai macam program yang ada.

Di antara program unggulan BMT Umat Mandiri adalah KUM3, yaitu Kelompok Usaha Mandiri Menengah berbasis Masjid. Hingga sekarang, BMT memiliki tujuh masjid binaan yang tersebar di kawasan pinggiran kota Balikpapan. Sebut saja misalnya, mushalla al-Hikmah, Gunung Bubukan, masjid An-Nur, Aji Raden, dan masjid Mikrajul Mukminin, Gunung Bakaran.

Rata-rata dalam setiap masjid, terdiri dari 15-20 orang. Oleh BMT, setiap orang lalu mendapat tunjangan sebesar Rp. 2.000.000 sebagai modal usaha. Dengan kegiatan berbasis masjid, selain membantu dari sisi ekonomi, program tersebut juga diharapkan bisa memberikan pencerahan ruhiyah untuk beribadah lebih baik lagi.

“Untuk menjalin ukhuwah, kami juga mengadakan rihlah setahun sekali dengan mengajak seluruh sahabat dan kerabat yang lain,” ucap Rohyadi.

Bernaung di bawah ormas Hidayatullah, BMT Umat Mandiri yang bernomor SIUP 00431/17-05/SIUP/PK/VII/2007 terus melakukan berbagai pembinaan dan pemberdayaan masyarakat secara luas di wilayah tempatnya berkedudukan ini.

Selain bermitra dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), BMT Umat Mandiri juga tercatat memiliki mitra dengan beberapa lembaga keuangan yang lain. Termasuk dalam program KUM3 di atas, BMT mendapat bantuan hibah sebesar Rp. 250.000.000 dari Baitul Maal Muamalat (BMM).

“Kami terus berupaya menjalin kerjasama dengan seluruh elemen masyarakat dan wadah ekonomi keumatan yang ada. Sebab semua ini adalah dari, oleh dan milik umat semata,” pungkas Rohyadi semangat.

Diskusi ilmiah yang diselenggarakan LPPPM STIS Hidayatullah ini berlangsung hangat diikuti oleh mahasiswa dan staf akademik. Kegiatan yang dilakukan rutin ini sebagai upaya membangun kultur ilmiah civitas guna menawarkan solusi atas berbagai problematika umat dewasa ini. */ Masykur Abu Jaulah

Tumbuhkan Etos Kemandirian Santri Melalui Pelatihan

Kreatifitas di dtand Bazaar SMP Putri Hidayatullah Tanjung Uncang / ITGB
Kreatifitas di dtand Bazaar SMP Putri Hidayatullah Tanjung Uncang / ITGB
Stand Bazaar SMP Putri Hidayatullah Tanjung Uncang / ITGB
Stand Bazaar SMP Putri Hidayatullah Tanjung Uncang / ITGB

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka menanamkan etos kemandirian dan berwirausaha bagi santriwati, Hidayatullah Islamic Boarding School Tanjung Uncang Batam belum lama ini menyelenggarakan kegiatan bazar santri sebagai bentuk latihan (training) rutin bagi santri untuk membangun kultur mandiri.
Acara yang berlangsung semarak dirangkai dengan penerimaan raport UTS Genap tahun pelajaran 2013/2014 untuk tingkat SD dan SMP Hidayatullah Tanjung Uncang.

Kegiatan Bazar yang digelar di teras sekolah ini diikuti oleh seluruh santriwati dan mahasantri Hidayatullah Islamic Boarding School Tanjung Uncang yang terbagi dalam 14 stand.

Kepala sekolah Ustadz Sumarno M.Pd.I dalam sambutannya di hadapan orangtua santri dan ratusan hadirin mengatakan bahwa kegiatan bazar ini sebagai upaya dalam menubuhkan jiwa kewirausahaan dan kemandirian pada diri anak didik, karena kekuatan ekonomi merupakan salah satu elemen dari kekuatan umat Islam.

“Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setahun dua kali, dan jualan yang mereka jajakan murni karya para santri,” kata Sumarno dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, ditulis Senin (14/04/2014)

Walaupun dalam kondisi hujan mengguyur sekitar wilayah Tanjung Uncang, tidak menyurutkan semangat para santri untuk mengikuti kegiatan ini dan menjajakan dagangannya baik kepada sesama santri maupun pengunjung stand yang mayoritas adalah orang tua dan wali santri serta masyarakat sekitar. Adapuan jenis dagangan yang ada bervariasi mulai dari makanan, minuman dan busana muslimah, pernak-pernik kebutuhan keseharian lainnya.

Dalam bazar ini harga yang ditawarkan oleh masing-masing stand beragam, untuk makanan dan minuman mulai dari Rp. 1.000 hingga Rp. 10.000, sedangkan untuk busana muslimah dan perangkat kebutuhan primer mulai dari Rp. 75.000 hingga Rp. 100.000. (yhb/hio)

Hidayatullah Harap Parlemen Semakin Baik dan Amanah

Ketua Umum PP Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM
Ketua Umum PP Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM

Hidayatullah.or.id — Salah satu organisasi massa (ormas) Islam, Hidayatullah, sangat mencermati pelaksanaan Pemilu Legeslatif (Pileg) 2014. Hidayatullah berharap, para caleg terpilih dapat mewujudkan suasana baru di DPR.

Ketua umum PP Hidayatullah KH. DR. Abdul Mannan menegaskan, para caleg terpilih harus bisa mengubah citra DPR RI yang sudah lekat dengan skandal korupsi dan kejahatan lainya.

“Hendaknya para caleg terpilih pemilu Legislatif 2014 dapat melaksanakan amanat rakyat secara konsekuen, jangan pernah menghianati kepercayaan rakyat,” tutur Abdul Manan dikutip Harian Republika, Kamis (10/4/2014) lalu.

Ia pun mengkritisi sistem demokrasi di Indonesia yang masih memiliki banyak kelemahan.

“Saya saja tidak kenal satu pun caleg yang akan dipilih saat memilih di tempat pemungutan Suara (TPS). Jadi mencoblos gambar partai politik saja,” ujarnya.

Untuk menjamin pemerintahan yang efektif dan efisien, menurutnya, seharusnya ada sinergi dan kerja sama antara pihak pemerintah, lembaga legislatif, dan merangklul lembaga atau ormas kemasyarakatan sebagai bagian dari instrumen penting pembangunan.

“Kalau kedua lembaga itu tidak berkerja sama, pemerintah akan berjalan tersendat-sendat dan tidak efektif,” tandasnya. (hio/rep)

Urgensi Tarbiyah Ruhiyah dalam Perjuangan Islam

View Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok jelang fajar / IST
View Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok jelang fajar / IST

Hidayatullah.or.id — Menghadapi problematika umat yang begitu kompleks sekarang ini tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik dan intlektual saja, tapi dibutuhkan kekuatan ruhiyah (spiritual).

Demikian ditegaskan Sekjen PP Hidayatullah, Abu A’la Abdullah, saat menyampaikan materi dalam acara Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quro Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu.

Abu Al’a menjelaskan sesunguhnya tarbiyah ruhiyah bukan ibadah yang berdiri sendiri, tetapi merupakan rangkaian dari amaliyyah meliputi kekuatan aqidah sebagai inti “kekuatan” bagi seorang muslim.

Rangkaian itu selanjutnya adalah perpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan bertauhid, bersyariah, berakhlaq, serta memperkuat kualitas dan kuantitas sholat, tilawah dan zdikir.

“Tapi ternyata untuk memaksimalkan amal-amal tersebut sangat berat, karena memang manusia memiliki sifat-sifat yang Allah takdirkan pada setiap individu seperti sifat tamak, jahula (bodoh), sifat isti’jal (tergesa-gesa), lemah, dan dzholim,” imbuhnya.

Realitasnya tugas sebagai khalifah (khaliifatullah) dan hamba Allah (Abdullah) adalah pekerjaan yang teramat berat. Maka untuk menjalankannya perlu solusinya diantranya.

“Pertama, memperkuat tauhid karena hakikat tauhid adalah al-ikhlas. Kedua adalah memahami Al-Qur’an dan as-sunnah. Ketiga adalah kuantitas dan kualitas ibadah terbaik,” terangnya di hadapan ratusan jamaah.

Di akhir pembahasannya, pria kalem yang biasa disapa Ustadz Abu mengajak untuk melakukan perenungan. Kenapa Indonesia yang mayoritas muslim tidak bisa bersatu. Korupsi dan pezinahan merajalela. Dan, kenapa di Negeri yang secara geografis sangat subur ini tidak jua sejahtera.

“Jawabannya sederhana. Karena tidak menjalankan Al-Qur’an dan sunnah dengan baik”, tukas Ustadz Abu.

Beliau menerangkan, salah satu cara untuk meningkatkan kualitas ruhiyyah perlunya “design” suasana praktis untuk membuat “benteng” ruhiyyah agar tetap terjaga yaitu melalui lingkungan yang Islami, bergaul dengan orang-orang yang baik, baik kulturnya, juga baik sistem pendidikannya.

Bagi yang berada “zona nyaman” seperti telah berprofesi dengan gaji yang cukup, tempat tinggal yang aman dan nyaman, untuk tetap melakukan dakwah dengan fantasiru fil ardh yakni keluar dari kenyamanan karena kenyamanan biasanya melalaikan sehinga malas untuk taqarub kepada Allah.

“Dengan adanya kecemasan terhadap kondisi umat maka akan timbul rasa tidak nyaman, dengan begitu insya Allah akan ada upaya keras dan terus menerus untuk berusaha dan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian kondisi ruhiyah meningkat,” tandasnya. /* Lalu Mabrul

Hidayatullah Kolaka Hadirkan Kampung Arab English Camp

Rombongan peserta Arab English Camp Hidayatullaj Kolaka saat roadshow ke wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya / HKL
Rombongan peserta Arab English Camp Hidayatullaj Kolaka saat roadshow ke wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya / HKL
Sejumlah peserta program Arab English Camp berfoto di Kampus Hidayatullah Kolaka
Sejumlah peserta program Arab English Camp berfoto di Kampus Hidayatullah Kolaka

Hidayatullah.or.id — Berita gembira buat warga Hidayatullah berdomisi di Sulawesi Tenggara dan sekitarnya yang ingin mahir bahasa asing. Pasalnya, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Kolaka, Sulawesi Tenggara, memiliki tempat khusus yang sangat strategis dan fokus dalam mempelajari Bahasa Arab dan Inggris yang disebut Kampung.

Program ini digagas dan dirintis oleh Ustadz Alfitrah Piama, Lc, yang sekaligus menjadi Direktur Camp. Program ini terbilang unggul karena didukung dengan SDM yang luar biasa, juga sarana dan prasarana yang memadai seperti menggunakan kurikulum LIPIA dan Kampung Inggris Pare.

Tenaga pengajarnya berasal dari alumni LIPIA dan Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur, serta berada di atas lokasi seluas 8 hektar. Nama lembaga ini adalah Hidayatullah Arabic & English Camp.

“Alhamdulillah, sekarang ini Hidayatullah Arabic English Camp sudah memasuki angkatan kedua,” kata Alfitrah kepada Hidayatullah.or.id, Kamis (10/04/2014).
Alfitrah menjelaskan, peserta didik di periode pertama berjumlah peserta 45 orang dan angkatan kedua 78 orang. Mereka semua adalah utusan Hidayatullah dari setiap daerah di Sulawesi Tenggara.

Selama lima hari lalu dari tanggal 2-7 April 2014, rombongan Hidayatullah Arabic & English Camp mengadakan tour ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan untuk mensosialisasikan program ini karena Insya Allah bulan depan, Mei 2014, akan dibuka lagi untuk periode ketiga.

Dijelaskan Alfitra, lama pendidikan program bahasa ini selama 3 bulan dan terbuka untuk semua kader Hidayatullah khususnya Indonesia Timur. Pihaknya menargetkan peserta periode ketiga 80 orang yaitu 40 peserta untuk Arabic Camp dan 40 untuk English Camp.

Camp ini didirikan tahun 2013, termasuk salah satu program unggulan Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sultra, dan merupakan amal usaha Departemen Pendidikan Wilayah Hidayatullah Sultra bekerja sama dengan Hidayatullah Kabupaten Kolaka.

Tujuan Camp ini didirikan adalah untuk mencetak ribuan kader Hidayatullah untuk mampu menguasai Bahasa Arab dan Inggris dengan sistem cepat.

Direktur Camp Ustadz Alfitrah Piama, Lc sendiri adalah pengajar bahasa Arab dan Inggris yang sangat mumpuni dan telah lama malang melintang di dunia kependidikan bahasa. Alfitrah adalah alumni LIPIA Jakarta dan lulusan Kampung English Pare, Kendiri.

Sebagai pengajar, Alfitrah yang diamanahi memimpin program bahasa ini pernah juga mengajar di TEST English School Pare serta perintis model pendidikan Arab & English untuk Boarding School di dua cabang Hidayatullah di Bogor.
Dia menargetkan semua kader Hidayatullah bisa Berbahasa Arab dan Inggris. Adapun beberapa kelebihan bergabung di Hidayatullah Arabic dan English Camp adalah tenaga pengajarnya alumni dari LIPIA dan Kampung English Pare, menggunakan kurikulum LIPIA dan Kampung English Pare, Arabic dan English Area yang paling ketat, disiplin, dan sangat luas.

Selain itu, sistem belajar alam sehingga suasana pembelajaran sangat menyenangkan. Jangka waktu belajar hanya 3 bulan, setelah itu bisa langsung mengajar Arab dan Inggris di kampus Hidayatulah masing-masing. Sistem pembelajarannya lebih banyak menggunakan multimedia di dalam pembelajaran (menggunakan LCD) dan praktik di lapangan.

“Dan tentu saja kultur Hidayatullah tetap kuat dan terjaga karena tenaga pengajar adalah kader-kader Hidayatullah,” tandas Alfitrah. (ybh/hio)

Asrama Santri Hidayatullah Tanjung Selor Diresmikan

Asrama santri Ponpes Hidayatullah Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan / RTK
Asrama santri Ponpes Hidayatullah Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan / RTK

Hidayatullah.or.id — Pembangunan asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah telah rampung akhir Maret lalu, sehingga April ini sudah bisa diresmikan. Bahkan, sudah dijadwalkan oleh pihak ponpes yang berada di Jalan Jelarai Selor ini untuk diresmikan langsung Bupati Bulungan H. Budiman Arifin.

Pimpinan Ponpes Hidayatullah Nur Yahya Asa mengatakan, bangunan yang terdiri dari enam kamar dan bisa menampung sekitar 70 santri itu merupakan bantuan sepenuhnya dari Pemkab Bulungan dengan anggaran sebesar Rp 1,850 miliar.
Oleh karena itu, pihak ponpes sangat berharap bupati bisa meresmikan langsung di awal April ini.

Yahya sendiri berharap dengan rampungnya pembangunan asrama yang dikerjakan sejak 2012 itu bisa memberikan pelayanan dan pengawasan yang lebih maksimal terhadap para santri, karena juga akan dilengkapi langsung dengan tim pengasuh. Berbeda dengan asrama yang ada sekarang terpisah-pisah sehingga pengawasan tidak bisa maksimal.

Disamping itu, kata dia, asrama yang lama juga sudah tidak layak lagi sehingga perlu adanya asrama yang lebih representatif apalagi Tanjung Selor saat ini sudah menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Utara dan keberadaan pondok pesantren yang dipimpinnya ini berada di sekitar jalan protokol.

“Jadi perlu dibangun yang refresentatif. Santri yang tinggal di asrama saat ini ada sekitar 60 santri. Tahun ajaran baru nanti kami akan menerima lagi sekitar 45 santri,” kata Yahya.

Dia melanjutkan untuk tahun ini, pihak pesantren sedang berfokus untuk melakukan rekonstruksi masjid yang rutin digunakan santri dan warga masyarakat untuk kegiatan kepesantrenan dan shalat berjamaah. Karena, keberadaan mushalla yang ada sekarang ini dianggap sudah tidak refrsentatif lagi terutama dari segi daya tampung. (rdt/hio)