Beranda blog Halaman 661

Grand MBA Tawarkan Metode Pembelajaran Al Qur’an Secara Tuntas

0

Hidayatullah.or.id — Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Instruktur Nasional Grand MBA Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” kata Muhdi Tranajaya ditemui Hidayatullah.or.id di kantornya, ditulis Kamis (30/01/2013).

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Muhdi.

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Muhdi menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas Ustaz Muhdi.

Menurut Muhdi, maraknya metode pembelajaran Qur’an dengan metode cepat salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang mau serba cepat, terutama Ini akibat dari pola hidup atau pola pikir yang sebetulnya dipengaruhi oleh materialisme.

“Jadi, ketika orang menawarkan sesuatu, itu langsung, berapa kali pertemuan, berapa harganya, berapa lama, ditanya langsung bisa nggak. Begitu,” ujarnya.

Belajar dari fenomena tersebut, para dai dan guru ngaji juga ingin mensiasati kondisi masyarakat yang demikian tadi. Maka mereka juga ingin melakukan pendekatan bagaimana metode pembelajaran Al Qur’an itu mereka bisa diterima.

“Metode pembelajaran Al Quran cepat sebenarnya hanya sebagai tahap awal agar masyarakat bisa lebih mengenal Quran lebih dekat, bisa timbul rasa suka, rasa cinta, terhadap Qur’an. Sehingga mereka meneruskan pelajaran Al Qur’an sampai mencapai target yang ideal,” kata pria lulusan LIPIA Jakarta ini.

Ia menjelaskan bahwa metode cepat membaca Qur’an itu yang ditawarkan saat ini sepenuhnya masih parsial. Sebab Al Qur’an itu bukan hanya membaca, tapi ada tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diikuti dengan baik.

Al Qur’an memang bahasa Arab tetapi memiliki cara membaca yang khusus yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Yang membedakan adalah kaidah tajwid. Yaitu tentang bagaimana cara mengucapkan huruf huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhraj dan shifatnya.

Kemudian selanjutnya, jelas Muhdi, mempelajari makna dan tata bahasa Al Qur’an dari setiap ayat dan bagaimana cara mengamalkannya.

Tidak cukup sampai di situ, kalau mau jadi ulama dan ingin memahami betul-betul Al Qur’an maka seseorang harus mempelajari apa yang disebut dengan ilmu keindahan bahasa atau dalam bahasa Arab disebut ilmu Balaghah. Balaghah adalah ilmu untuk merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna Al Qur’an.

“Jadi Al Qur’an itu sangat indah dan maknanya sangat dalam. Kemudian barulah dia akan sampai pada hakikat tartil. Hakikat tartil itu adalah keselaran antara lisan yang fasih, hati yang penuh iman dan akal yang mengambil pelajaran serta fisik yang ingin segera mengamalkan Al Qur’an,” tandasnya.(ybh/hio)

Hidayatullah Medan Terima Hibah Tanah untuk Pesantren

0
Kerjabakti santri di tanah hibah
Kerjabakti santri di tanah hibah

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, mendapat hibah tanah seluas 800m2 di bilangan Mareland Medan, kurang lebih berjarak 40 km dari Kampus Utama Tanjung Morawa.

Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Ustadz Choirul Anam, mengatakan hibah tanah tersebut berasal dari seorang dermawan Muslim di kota tersebut bernama H. Mintar Sandi. Ia adalah seorang simpatisan dan donatur tetap Pesantren Hidayatullah Medan yang sehari- harinya bekerja sebagai nahkoda kapal angkutan barang dan batubara.

Sudah lama Haji Mintar ingin menghibahkan tanah tersebut untuk pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang menyantuni dan memberikan layanan pendidikan cuma cuma untuk ratusan anak tidak mampu ini.

“Letaknya cukup strategis, di daerah yang sudah masuk dalam rencana pengembangan kota, dikelilingi kampung–kampung yang padat penduduk dan mayoritas adalah kaum muslimin,” kata Choirul Anam dalam keterangannya pada Hidayatullah.or.id, ditulis Selasa (28/01/2014).

Beliau menambahkan, di tanah hibah tersebut belum berdiri lembaga pendidikan Islam yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Sehingga ke depan, kata dia, di lokasi ini akan didirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Apalagi saat penyerahan lahan tersebut Bapak kepala desanya mengatakan sangat menunggu kehadiran Pesantren Hidayatullah di sana,” ujar Anam.

Meskipun lahan ini hanya 800m2, namun di kanan kiri masih banyak tersedia lahan kosong yang siap dijual.

Pihaknya berharap ada kaum muslimin yang berkenan membantu pengembangannya yang masih sangat memungkinkan untuk diperluas sehingga memenuhi target luasan minimal sebuah kampus pendidikan yang memadai yaitu 10 ha.

“Lahannya sangat subur sehingga untuk sementara bisa diberdayakan dengan tanaman produktif seperti jagung dan penanaman Ubi mukibat,” pungkas Anam yang ikut bekerja bakti bersama santrinya di lokasi ini Ahad lalu. (ybh/hio)

IMS Resmikan Klinik Kesehatan Dhuafa di Bojong Kulur

Peresmian klinik IMS Bojong
Peresmian klinik IMS Bojong

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal dan memperbanyak penerima manfaat pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak mampu, Islamic Medical Service (IMS), selaku lembaga kemanusiaan nasional dibidang kesehatan di bawah koordinasi ormas Hidayatullah pada 26 Januari 2014 lalu meresmikan klinik di wilayah Bojong Kulur Bogor, Jawa Barat.

Selain peresmian klinik, IMS juga membagikan kartu berobat gratis untuk 250 KK masyarakat dan acara pengobatan gratis untuk 150 masyarakat tidak mampu berupa pelayanan kesehatan umum dan gigi.

Kartu berobat gratis yang diterima oleh masyarakat berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang setelah hasil evaluasi tim IMS. Dengan fasilitas kartu berobat gratis yang diberikan oleh IMS, mayarakat dapat memanfaatkan fasilitas berobat di klinik IMS.

Acara peresmian klinik sekaligus cabang IMS Bogor ini dihadiri oleh beberapa pimpinan lembaga dan tokoh masyarakat. Kegiatan terasa sangat istimewa karena pada peresmiannya, IMS kedatangan Pimpinan Umum Ormas Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad dan beberapa tokoh Hidayatullah lainnya.

Selain itu hadir pula  Direktur Utama IMS Drg. Fathul Adhim, Direktur Pusat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Drs Wahyu Rahman serta para tokoh  masyarakat di wilayah cabang IMS Bojong Kulur Bogor.

“Semoga dengan pendirian cabang ini masyarakat bisa terbantukan khususnya masyarakat tidak mampu yang berada di Desa Bojong Kulur ini dan IMS bisa terus tumbuh diberbagai daerah menjadi sebuah lembaga kemanusiaan yang menolong orang banyak,” kata Direktur Utama IMS, Fathul Adhim saat memberi sambutan.

IMS mengajak semua pihak baik instansi maupun perorangan untuk berkerjasama dalam membantu masyarakat tidak mampu khusunya di bidang kesehatan dengan pendirian klinik, rumah sakit dan kegiatan mobile lainnya di berbagai wilayah. (rp/hio)

Kitab Almarhum KH Sahal Dikaji Ulama Timur Tengah

0
Mantan Ketum MUI Almarhum KH Sahal Mahfudz
Mantan Ketum MUI Almarhum KH Sahal Mahfudz

Hidayatullah.or.id — Kiai Sahal Mahfudh, salah seorang ulama kharismatik yang dimiliki Indonesia tidak hanya kesohor di dalam negeri. Di Timur Tengah, wilayah para nabi yang memiliki banyak ulama, nama Rais Am PBNU KHM Ahmad Sahal Mahfudh itu juga tidak asing.

Pria yang karib disapa Mbah Sahal ini dikenal lewat karyanya, kitab Thariqathul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan dicetak pertama oleh penerbit Dianatama Surabaya pada tahun 2000/1421 H.

Sebagai ulama yang mendalami ilmu tentang hukum Islam, kitab tersebut berisi 460 halaman yang mengupas ilmu Ushul Fiqih. Mbah Sahal menguraikan kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Abu Zakaria Al-Anshari.

Ketua Pengelola Perpustakaan PBNU, Syatiri Ahmad kepada NU Online mengatakan kitab karya Mbah Sahal menjadi sumber referensi utama di salah satu universitas di Timur Tengah.
“Selain patut diapresiasi, perihal ini juga dapat mendorong para kiai di Indonesia untuk lebih produktif dalam menulis kitab,” tambah Syatiri dikutip NU Online.

Masih dengan sumber NU Online, Biro Kerja Sama Beasiswa Timur Tengah PBNU, Ahmad Ridho mengatakan kitab Mbah Sahal ini dikaji di Universitas Jamiatul Quranul Karim, Sudan.

Meski menjadi bahan kajian di Sudan, namun kitab karya Mbah Sahal kurang begitu dikenal di Indonesia. Hanya beberapa pesantren yang mengkajinya, seperti Pesantren Benda Brebes.

Menurut Syatiri, tidak dikenalnya kitab kuning tersebut karena keterbatasan jumlah cetak kitab. Selain itu, kurangnya sosialisasi dari pihak penerbit dan ketertutupan pesantren di Indonesia dalam menerima karya-karya ulama Nusantara.

Seperti diberitakan, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz, meninggal dunia pukul 01.05 WIB dini hari tadi, Jumat 24 Januari 2014 lalu. KH Sahal wafat dalam usia 78 tahun.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam keterangan persnya, mengatakan almarhum Kiai Sahal adalah sosok ulama panutan umat yang bersahaja, tegas namun tetap santun, serta mewarisi gaya kepemimpinan yang kharismatik.

“Kita selalu merindukan ulama bersahaja seperti beliau,” tandasnya. (nu/hio)

KPK Sindir Muslim dan Ustadz Rajin Shalat tapi Tetap Korupsi dan Lalaikan Anak Yatim

0
Koruptor / IST
Koruptor / IST

Hidayatullah.or.id — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyatakan bahwa kebanyakan koruptor di Indonesia beragama Islam. Ia menyindir orang-orang yang beribadah, namun masih tetap melakukan korupsi.

“Banyak koruptor di Indonesia dari kalangan Islam. Karena Islam menjadi mayoritas,” kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas dikutip Republika, belum lama ini.

Busyro menyindir orang-orang yang beribadah seperti shalat namun tetap melakukan korupsi. Padahal, ketika sedang shalat itu, mereka telah diancam oleh tuhan.

Misalnya, ia mencontohkan, ada ayat dari surat pendek yang dibaca ketika shalat, yaitu ‘fawailul lil musholin’ atau maka celakalah bagi orang yang tidak shalat. Yaitu, orang yang lalai dari shalatnya.

Mereka lalai telah mendustakan agama dengan melalaikan anak yatim dan orang miskin. Anak yatim dan orang miskin itu merupakan simbol kelompok lemah, kata Busyro mengutip Alquran, surat Al Maun.

Menurut Busyro, berdasarkan penjelasan ayat itu, ada orang yang shalat namun tidak berpihak pada anak yatim dan orang miskin. Sikap mereka itu sudah diancam Allah SWT.

“Nah ini sekarang malah ada orang yang shalat namun korupsi, menjarah, mencuri. Ini lebih fatal. Shalat yang dikerjakan orang seperti itu tidak memiliki efek sosial,” katanya.

Busyro Muqoddas juga mengaku heran dengan seorang yang dipanggil ustadz tapi pribadinya tidak mencerminkan sebagai seorang ustadz. Sehingga, panggilan ustadz mengalami penurunan makna.

Padahal, seorang ustadz adalah orang yang memiliki pengetahuan tinggi dan akhlak baik. Kenyataannya, banyak orang dipanggil ustaz namun tidak mencerminkan akhlaknya seperti ustadz. Dalam bahasa Indonesia, ustadz definisinya berarti guru agama.

“Contoh saja itu beberapa orang yang disebut ustadz, (Muqoddas menyebut nama seorang pentolan partai yang kini ditahan KPK), siapa lagi, Fathanah?” ujar Busyro saat menghadiri seminar anti korupsi di Yogyakarta, hari ini.

Busyro mengatakan, ia tidak mau dipanggil ustadz oleh teman-temannya. Karena seorang ustadz punya tanggung jawab besar terhadap agama. Suatu hari, Busyro pernah dipanggil ustadz oleh beberapa anggota DPR, tapi ia menolaknya.

“Saya sampai enggak mau dipanggil ustadz, soalnya di Jakarta itu kadang-kadang sebutan ustadz itu untuk melecehkan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, dalam beberapa sadapan KPK, Busyro kerap mendengar sandi-sandi yang menggunakan sebutan ustadz dalam pembagian jatah hasil korupsi.

“Lima persen jangan diganggu, itu buat ustadz, yang lima persen lagi buat pesantren,” seloroh Busyro. (rep/wpc/hio)

Walikota Depok Serukan Tegakkan Peradaban Islam dengan Akhlak Mulia

Walikota Depok Nurmahmudi Ismail membuka acara training Posdai
Walikota Depok Nurmahmudi Ismail membuka acara training Posdai

Hidayatullah.or.id — Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) Hidayatullah menggelar kegiatan pelatihan kepemimpinan dan motivasi untuk pemuda-pemudi se-Jabodetabek selama 2 hari di Gedung Pusdiklat Komplek Ponpes Hidayatullah Depok, Sabtu-Ahad (25-26/01/2014).

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pemuda dari unsur remaja masjid dan mahasiswa dari di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Acara yang bertajuk “Meraih Bahagia Hakiki” ini menghadirkan trainer andal dari tim Super Live Revolution (SLR) sehingga membuat peserta tampak mengikuti acara dengan seksama.

Sementara itu, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang hadir membuka acara ini, berpesan kepada peserta untuk membangun peradaban Islam pertama-tama dengan akhlak mulia.

Untuk membangun peradaban Islam, kata dia, harus diidentifikasi berbagai unsur, problema, serta tantangan yang dihadapi. Ketiga hal ini berlaku bagi umat Islam di Indonesia, di antaranya terkait masalah kejujuran. Misalnya budaya menyontek yang masih subur di dunia pendidikan.

Menurut Nur Mahmudi, membicarakan masalah jujur itu penting. Namun, mengaplikasikan kejujuran dalam keseharian itu tidak mudah. Ambil contoh saat ujian di sekolah atau perguruan tinggi (PT), selalu ada peserta didik yang menyontek.

“Mengimplementasikan akan sekolahan kita tidak akan ada satu pun murid yang tidak nyontek, untuk mewujudkan di tempat perkuliahan kita tidak ada satu pun mahasiswa yang tidak nyontek, (itu) tidak gampang,” ujarnya di depan 40-an mahasiswa-mahasiswi dari berbagai PT se-Jabodebek.

Di tengah penyampaiannya pada acara gelaran Pos Dai Hidayatullah itu, Nur Mahmudi bertanya kepada sebagian peserta, apakah di PT mereka ada mahasiswa yang menyontek? Semua yang ditanya mengiyakan.

Nur Mahmudi mengatakan, Islam membangun dan mewarnai peradaban dunia hingga sekitar tahun 1900. Setelah itu, perlahan-lahan mengalami penurunan dalam berbagai aspek. Kini saatnya umat Islam khususnya di Indonesia berkompetensi membangun kembali tatanan peradaban yang benar.

Berbagai unsur dalam peradaban saat ini lebih banyak diperbincangkan. Namun, menurutnya, letak problemnya bagaimana menarik masyarakat untuk mengamalkan hal itu.

Inilah yang menjadi tantangan, lanjutnya, apakah kaum Muslimin di Indonesia ini juga akan menjadi salah satu pionir pembangunan peradaban. (Skr aljihad)

Anggota Hidayatullah Harus Aktif Ajarkan Grand MBA

Hidayatullah.or.id — Instruktur Program Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad mengatakan jamaah dan kader Hidayatullah harus belajar metode Grand MBA dan mengajarkannya kepada masyarakat.

“Ini harus, karena orang Hidayatullah yang tidak mengajar ngaji berarti bukan kader. Pengkaderan yang dilalui santri mulai fase yatim (berasrama) sampai berkhadijah (menikah) akan percuma kalau dia tidak bisa ngaji dan mengajarkan,” kata Ustadz Muhdi kepada media ini beberapa waktu lalu.

Kader Hidayatullah harus bisa mengaji dan mengajarkannya. Sebab, tegas Muhdi, itulah tujuan utama pola kaderisasi Hidayatullah dilakukan yakni bagaimana mendakwahkan Al Qur’an kepada segenap manusia.

Muhdi menjelaskan, Grand MBA adalah sistem atau metode pembelajaran Al Qur’an yang mengajak kaum Muslimin untuk lebih akrab dengan Qur’an dan lebih merasakan nikmat mempelajarinya.

Ada 3 (tiga) paket utama yang ditawarkan Grand MBA. Pertama, paket cara cepat membaca Al Qur’an metode 8 jam. Paket pertama ini diperuntukkan bagi masyarakat yang sama sekali belum mengenal huruf Arab. Paket ini dapat diselesaikan dalam 8 kali pertemuan dengan durasi setiap pertemuan 1 jam.

Paket kedua, bimbingan tahsin dan tadwid. Paket ini merupakan kelanjutan dari paket baca atau dapat juga diikuti oleh mereka yang sudah bisa membaca Al Qur’an, namun masih memiliki kesulitan dalam melafadzkan huruf huruf hijaiyah. Paket ini juga disarankan bagi mereka yang masih kesulitan dalam menerapkan kaidah kaidah tajwid mengingat huruf huruf hijaiyah memiliki karakteristik pengucapan yang sama sekali berbeda dengan huruf huruf Indonesia.
Paket ketiga, adalah paket terjemah. Pada paket ini peserta diantar untuk menggali pemahaman yang dalam tentang al Qur’an. Setiap kata diuraikan dari makna dan tata bahasanya. Paket ini tidak hanya membahas al Qur’an dari sisi tata bahasanya saja namun juga dilengkapi dengan pembahasan tafsir dan tadabbur.

“Semua kader harus mempelajari ini dan mulai mengajarkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Majelis Taklim Hidayatullah yang dibuka bekerjsama dengan masjid-masjid atau mushallah di setiap wilayah,” pungkasnya.(ybh/hio)

Cetak Dai Leader, HiTC Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Peserta leadership training
Peserta leadership training

Hidayatullah.or.id — Kebutuhan akan dai di pedalaman negeri ini memang tidak dapat dipungkiri. Jutaan umat manusia sangat membutuhkan pencerahan dari para dai. Kiprahnya sungguh menjadi dambaan bagi setiap jiwa yang membutuhkan kedamaian akan hadirnya Islam sebagai Rahmatan lil ‘Aalamiin.

Menyadari hal itu, Pengurus Pusat Hidayatullah melalui lembaga Hidayatullah Training Center (HiTC) bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menggelar pelatihan dai selama enam hari.

Perwakilan dai Hidayatullah dari seluruh Indonesia setingkat pengurus wilayah Hidayatullah yang ada di ibukota propinsi berkumpul bersama selama hampir sepekan itu, dengan menyongsong tekad bersama menuju kearah yang lebih baik lagi dalam membina masyarakat.

Acara dilaksanakan pada tanggal 17 hingga 22 Januari 2014 itu dihadiri oleh beberapa pengurus pusat Hidayatullah seperti Ketua umum DR. H. Abdul Mannan dan pimpinan umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad.

Dalam sambutannya Ketua Umum PP Hidayatullah DR. H. Abdul Mannan mengatakan, dalam dunia dakwah, keberadaan seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang mutlak adanya. Sehingga diharapkan akan lahir dai sekaligus leader di masyarakat.

“Kepemimpinan bukan hanya menjadi bahan diskusi, melainkan harus jelas adanya. Untuk itu, pemimpin harus disiapkan sejak dini guna untuk melanjutkan organisasi dakwah di masa yang akan datang,” katanya.

Sementara itu, Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad mengatakan, mewujudkan peradaban Islam harus didukung dengan peradaban madani, dan salah satu indikator peradaban madani itu adalah adanya perpustakaan yang menjadi pusat penelitian dan ilmu pengetahuan sumber daya manusia.

“Karena dasar seorang pemimpin itu adalah dia harus memiliki karakter iqro’ (pembelajar) terhadapa kuasa Allah yang ada di hamparan bumi ini,” kata beliau.

Diadakannya pelatihan kepimimpinan angkatan pertama ini, ditanggapi dengan perasaan yang memuaskan bagi para peserta training. “Kesan yang kami peroleh selama mengikuti pelatihan kepemimpinan ini hanya satu kata, luar biasa,” ujar ustad Amun Rowi, dai Hidayatullah asal Jawa Timur.

Baginya, banyak hal yang didapatkan selama mengikuti training ini, selain pengetahuan yang baru yang tentu pasti didapat, pelatihan ini menjadi inspirasi bagi para dai untuk lebih menggiatkan dakwah di daerah-daerah. Pasalnya, banyak sekali materi dakwah yang didapat dari para instruktur yang sangat akurat, relevan, ilmiah dan banyak hal-hal lainnya. (bmh/hio)

Membangun Peradaban Islam, Pelestarian Budaya Jadi Kebutuhan

IST
IST

Hidayatullah.or.id — Pelestarian budaya Islam sudah menjadi kebutuhan. Itu bisa digunakan secara bersama-sama untuk membangun peradaban Islam di seluruh dunia.

“Jika dimanfaatkan, ini akan mencegah upaya pelemahan terhadap umat Islam yang datang dari segala arah,” kata Direktur Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) Abdul Aziz Othman Altwaijri pada acara Konferensi Khusus Menteri Kebudayaan Negara-Negara Islam di Madinah, Arab Saudi, Selasa (22/1).

Menurut Abdul Aziz, jika seluruh negara yang memiliki warisan budaya Islam bersatu dan dikembangkan, maka ini akan membangun umat muslim dari keterpurukan. “Tentunya, dengan bantuan dan bimbingan Allah,” katanya.

Jika umat Islam bersatu untuk mewariskan budaya-budayanya, maka ini menjadi cara yang efektif untuk mencapai kemajuan budaya. Hal tersebut sangat diperlukan untuk pembangunan yang lebih besar dalam bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan teknologi.

Karena itu, Abdul Aziz meminta, setiap negara yang memiliki penduduk Islam, harus memanfaatkan semua potensi warisan budaya yang ada. Ini merupakan tugas mulia untuk meneruskan regenerasi keislaman pada generasi yang akan datang.

Puluhan menteri dan wakil pemerintah bidang kebudayaan negara berpenduduk mayoritas muslim menghadiri konferensi internasional tentang kebudayaan Islam di Madinah, Arab Saudi, Selasa (21/1) hingga Rabu (22/1).

Mereka saling berbagi pengalaman dan pandangan tentang kebudayaan Islam pada acara yang diselenggarakan oleh ISESCO untuk kedelapan kalinya tersebut.

ISESCO adalah organisasi yang memberikan perhatian pada bidang pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, dan merupakan salah satu badan khusus di bawah Sekjen Organisasi Kerjasama Islam (OKI). (rep/hio)

Hidayatullah Bukan Gerakan Radikalisme dan Kontra Negara!

umat Islam / IST
umat Islam / IST

Hidayatullah.or.id — Sekitar satu dasawarsa lalu nama Hidayatullah sempat mencuat secara nasional hanya karena pemberitaan miring media. Tanpa verifikasi dan upaya validasi, media mengaitkan-ngaitkan Hidayatullah dengan gerakan radikalisme.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh dengan asumsi sumir tersebut. Termasuk adanya tudingan Hidayatullah sebagai gerakan kontra negara.

“Tuduhan seperti itu sama sekali tidak benar dan tidak berdasar,” tegas Ketua Pimpinan Pusat Hidayatullah, Ir Ahkam Sumadiana, di sela-sela acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2014 dan Leadership Training Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, ditulis Rabu (22/01/2014).

Hidayatullah itu mengikuti pemahaman siapa, itu yang harus dipahami. Ahkam menjelaskan Hidayatullah mengikuti pemahaman Salaf. Salaf itu sendiri masuk dalam lingkup Ahlus Sunnah Waljamaah atau Sunni. Pemahaman Hidayatullah adalah Ahlus Sunnah. Sementara pemahaman Ahlus Sunnah itu, tegas Ahkam, tidak menempatkan sistem berbenturan dengan sistem.

“Metodologi Hidayatullah seperti petani. Kita fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Misi kita menegakkan syariah Islam sembari semua orang diajak dengan dakwah. Kalau ada yang bertanya, sampai kapan berdakwah, ya sampai menerima syariat Islam. Bahkan negara ini,” kata beliau.

Lebih lanjut kata Ahkam, Hidayatullah bersikap dengan negara itu dalam rangka mendakwahi, baik secara strukrural maupun secara personal. Itulah peran Hidayatullah dalam membangun umat dan bangsa dengan mainstream pendidikan dan dakwah.

Ulama-ulama klasik pun menempuh hal serupa terhadap negara dan umat di sekitarnya, mereka mendakwahi dengan penuh kesantunan sampai terwujud tataran hidup yang Islami. Maka kalau ada stigma Hidayatullah sebagai gerakan subversif melawan negara, itu sama sekali tidak berdasar, tegas dia.

“Garis besar haluan organisasi Hidayatullah adalah dakwah dengan metode manhaj nubuwwah yang direfleksikan dengan Sistematika nuzulnya wahyu (SNW) yang juga menjadi pemahaman salaf,” terang Ahkam.

Ahkam menerangkan bahwa semua orang di dunia wajib didakwahi dan dakwah Hidayatulkah sendiri itu dilakukan secara bertahap. Dakwah Hidayatullah untuk sekarang ini menurut dia baru dominan ke internal. Internal itu, jika mengacu pada manhaj SNW, orang Hidayatullah harus memperbaiki ilmunya dulu, memperbaiki kafaah, dan itu prosesnya panjang itu.

“Setelah ilmunya punya, pemahamannya jadi, baru al Qolam itu pelaksanaan Qur’an, Quranisasi,” tandasnya. (ybh/hio)