Beranda blog Halaman 667

Bupati Mateng: Hidayatullah Berperan Nyata dalam Pembangunan Daerah

0
Hidayatullah bersama seluruh SKPD - khitanan massal
Acara khitanan massal di hari jadi Kabupaten Mateng

HIDORID — Bupati Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, Dr. Junda Maulana, M.Si mengatakan peran Hidayatullah sangat penting dalam pembangunan daerah di wilayah yang dipimpinnya itu. Ia menegaskan, keterlibatan Hidayatullah di Mateng merupakan kerja nyata Hidayatullah sebagai ormas Islam nasional dalam mengambil peran pembangunan daerah yang masih muda ini.

Hal itu dikatakan Junda Maulana dalam sambutannya di acara syukuran hari jadi Mamuju Tengah di hadapan ratusan hadirin di Mamuju Tengah, Ahad (15/12/2013) lalu.

Dengan setengah berseloroh, bupati yang aktif mengikuti kajian rutin malam Jumat di Masjid Al-Maulana Balaikota Mamuju Tengah ini mengatakan kalau khitanan massal yang digelar tahun ini sukses, pihaknya akan mengadakan nikah massal pada syukuran hari jadi kabupaten Mamuju Tengah yang ke-2 mendengar. Mendengar itu sontak hadirin riuh rendah.

Sekedar diketahui, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) selama 2 hari lalu, Sabtu dan Ahad (14-15 Desember 2013) menyelenggarakan acara syukuran setahun berdirinya kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Barat itu. Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Mateng dipercaya pemerintah setempat menjadi panitia utama acara ini. Selain menggelar kegiatan silaturrahim antar warga, pidato resmi, digelar juga acara khitanan ratusan anak.

Dalam pembukaan kegiatan khitanan massal, bupati Junda Maulana menyampaikan rasa syukurnya terhadap semangat panitia mengadakan layanan ke masyarakat.

“Sejujurnya saya sempat ragu karena faktor anggaran yang minim juga waktu yang semakin mepet, tapi karena teman–teman tetap bersemangat maka saya ikut optimis,” paparnya.

Dalam sambutannya Bupati Mamuju Tengah DR. Junda Maulana, M.Si. menjelaskan dengan menggunakan istilah syukuran, bukan ulang tahun hari jadi, bertujuan agar seremoni acara dan kepemimpinannya di Mamujuu Tengah senantiasa berjalan dengan nuansa relijius sebagai bekal menciptakan kabupaten yang maju, mandiri, unggul, bermartabat, dan berbasis kemandirian masyarakat.

Kepala Bagian Bina Progran dan Kesra Mateng, Sakaria K, S.Ag, yang juga sekretaris kepanitiaan acara ini, mengatakan kepanitiaan yang diketuai oleh PD Hidayatullah Mateng ini melibatkan seluruh satuan kerja perangkat daerah Mateng.

“Alhamdulillah kami ikut lega dengan suksesnya acara yang minim anggaran ini sekaligus bangga dengan kerja teman-teman Hidayatullah khususnya yang telah bekerja dengan tulus,” kata Sakaria.

Dikatakan Sakaria, selain khitanan massal, masuk juga dalam rangkaian acara syukuran hari jadi Mateng lomba cipta lagu Hymne Mateng, lomba logo kabupaten, kerja bakti bersama di Pasar Topoyo, jalan sehat keluarga, dan tabligh akbar yang diisi oleh Ketua Bidang Pengkaderan dan Organisasi Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Barat, Abdurrahman Hasan, bertempat di Masjid Raya Topoyo, Mateng.

Puncak acara syukuran ini dilakukan di Terminal Benteng Kayu Mangiwang Tobadak bersama seluruh jajaran pemerintahan dan lapisan masyarakat pada tanggal 14 Desember bertepatan dengan setahun disahkannya kabupaten di Gedung DPR/MPR RI di Jakarta.

Salah seorang peserta khitan, Saiful Anwar, siswa kelas 4 di Madrasah Ibtidaiyah Irvanurrahman Tanakayang, ini mengaku pemotongan beberapa inci kulit luar kelaminnya itu merupakan peristiwa yang tidak bisa ia lupakan dalam hidupnya.

Bersama 156 anak lainnya siang itu ia mengikuti khitanan massal yang diadakan PD Hidayatullah dan Pemkab Mateng dalam Syukuran Hari Jadi yang pertama kabupaten ini. Anwar diantar kedua orangtuanya beserta kedua adiknya itu mengandarai sepeda motor Honda Win dari Desa Tanakayang tempat tinggalnya, salah satu desa binaan Hidayatullah Mateng yang berjarak 30 kilometer dari tempat kegiatan.

Beberapa peserta lain juga diantar orangtua atau keluarga lain, ada juga yang dijemput dengan ambulance panitia. Menempati dua ruang kelas SD Ngapaboa dengan tim medis sekitar 40 orang yang didatangkan dari kecamatan Karossa, kecamatan Tobadak, Topoyo, Pangale dan kecamatan Budong-Budong, acara khitanan itu berjalan lancar. (bas/ybh/hio)

Kerjasama BMH, Bank Papua, dan Hidayatullah Jayapura Khitan Seratusan Anak

0
Sejumlah peserta khitan dan berfoto dengan manajemen
Sejumlah peserta khitan dan berfoto dengan manajemen

HIDORID — Baitul Maal Hidayatullah (BMH), didukung oleh Bank Papua dan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, menyelenggarakan khitanan massal bagi seratus orang anak Jayapura, Ahad (15/12/2013) lalu.

Khitanan massal ini melibatkan sedikitnya 10 orang tenaga medis terlatih dari Rumah Sakit (RS) Yowari Sentani. Majelis Taklim Bank Papua adalah sebagai sponsor utama kegiatan ini bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah dan Pesantren Hidayatullah Cabang Jayapura.
Khitanan massal ini diikuti oleh sedikitnya 120 anak yatim dan dhuafa di Masjid Darussalam Tanah Hitam, Jayapura.

Dalam acara tersebut Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Papua Ustadz Nur Fatahuddin sekaligus mewakili BMH Jayapura menyampaikan program khitanan massal ini berkerjasa dengan Bank Papua ini tepat sasaran dan menyentuh. Tepat sasaran, jelasnya karena memang betul-betul dibutuhkan orang-orang atau anak-anak yatim dan dhuafa di berbagai wilayah seperti di Jayapura ini.

“Menyentuh karena bisa diharapkan mungkin ada dari beberapa bapak-bapak atau ibu-ibu yang ingin mengkhitan anak-anaknya tetapi terkendala dengan masalah dana,” kata Ustadz Fatahuddin.

Sementara, Ketua Majelis Taklim Bank Papua, Bapak Sanusi, selaku pihak sponsor utama kegiatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan empati pihaknya dari manajemen Bank Papua dan disokong sepenuhnya direksi serta segenap jajaran Bank Papua untuk melakukan bhakti terhadap anak negri.
“Khususnya untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu dan ingin berkhitan namun terkendala biaya,” ujar Sanusi. Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan sosial ini diharapkan dapat berkesinambungan kedepannya. (Ahmad Muslim, Hidayatullah Jayapura)

Program Pendidikan Usia Dini Hidayatullah Pamekasan Diminati Masyarakat

Kegiatan PAUD Hidayatullah Pamekasan
Kegiatan PAUD Hidayatullah Pamekasan

HIDORID — Lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Kabupaten Pamekasan, Madura, mendapat apresiasi dari masyarakat karena dianggap ikut membantu mengentaskan minimalnya layanan program pendidikan anak usia dini di daerah tersebut.

Kini Pesantren Hidayatullah Pamekasan telah menyelenggarakan program pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK-TPA Ya Bunayya. Keberadaannya sangat dirasakan penting bagi masyarakat sekitar. Manfaat langsung diterima masyakarat setempat seperti kegiatan mengaji majelis taklim, sekolah usia dini, dengan guru-guru yang kompeten dan penuh dedikasi pada anak didiknya.

“Alhamdulillah, sangat membantu dan perlu terus dikembangkan,” kata Abdul, salah seorang warga. Namun sumber air rupanya menjadi kendala yang cukup krusial di TK-TPA Ya Bunayya Komplek Pesantren Hidayatullah Pakemasan ini.

Bila ada yang mengatakan, air adalah sumber kehidupan. Maka sudah pasti jawabannya benar. Air adalah alat untuk bersuci bagi umat Islam yang sangat dibutuhkan. Kebutuhan akan air juga dirasakan oleh para murid dan ustadzah di lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TK-TPA) Ya Bunayya Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tersebut.

Aliran air yang jernih dan mudah didapat sudah lama diimpikan oleh para santri yang belajar di taman pendidikan tersebut. Hal yang sama juga dirasakan oleh ustadzah-ustadzah yang mengajarinya.

“Mereka sudah lama merasa kesusahan mendapatkan air dengan aliran yang mudah dijangkau,” kata Kepala Cabang BMH Pamekasan, Ahmadi. Alhamdulillah, beberapa waktu lalu BMH yang didukung oleh masyarakat dan donatur, menyerahkan bantuan serapan air seperti tandon ke pengelola pesantren.

“Alhamdulillah, kami atas nama guru-guru TK-TPA Ya Bunayya mengucapkan terimakasih kepada BMH atas bantuan tandon air ini. Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik lagi,” tutur Ustadzah Anik Kusumawati selaku kepala sekolah. (hid/pem/hio)

Masjid At Taqwa Hidayatullah Madiun Selesai Dibangun

Masjid At Taqwa Hidayatullah Madiun
Masjid At Taqwa Hidayatullah Madiun

HIDORID — Alhamdulillah, atas Rahmat dan kasih sayang-Nya, pembangunan Masjid At Taqwa Komplek Putri Pesantren Hidayatullah Madiun, Jawa Timur, telah selesai dibangun. Kini masjid ini telah disemarakkan dengan berbagai kegiatan keagamaan untuk warga pesantren dan kerap dimanfaatkan masyarakat umum untuk kegiatan pengajian keislaman dan sejenisnya.

Beberapa waktu lalu, Selasa (03/12/2013), Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Madiun menerima kunjungan dari staf Kementrian Dalam Negri Arab Saudi selaku donatur utama pembangunan Rumah Imam dan Masjid At Taqwa yang telah selesai pembangunnanya ini.

Salah seorang panitia pembangunan masjid, WJ. H. Kasnoto, mengatakan sejak awal selesainya pembangunan Masjid At Taqwa ini sudah digunakan untuk kegiatan idadah dan dakwah serta kajian-kajian Islam.

Pada kunjungan pertama ini tampak para tamu senang dan akrab dengan warga dan pengurus pondok, walaupun kunjungan kali ini sangatlah singkat. Dalam kesempatan itu pula juga disampaikan singkat pesan-kesan oleh salah seorang wakil tamu. Melalui tenaga interpreter, staf Kementerian Dalam Negeri Saudi Arabia ini menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap supaya Masjid At Taqwa dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan ibadah yang sesuai sunnah-sunnah Rasul dan majelis taklim ilmu.

Pada kesempatan ini pula Para tamu juga memberikan sumbangan tunai untuk warga fakir miskin yang disaksikan kepala lurah setempat dan para undangan yang hadir. Sebelum pamit para tamu berkesempatan berfoto bersama dengan Lurah Mojorejo, pengurus pondok dan tamu undangan. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat suasana pondok Pesantren putri Hidayatullah Madiun walaupun hanya sekilas saja.

“Kunjungannya sangat singkat karena sedikitnya waktu kunjungan dan banyaknya tempat yang harus dikunjungi. Namun Insya Allah, semoga Allah Ta’ala meridhoi, Aamiin,” ujar Kasnoto. (ybh/hio)

BEM STIEHID Ajak Masyarakat Waspada Korupsi dan Seks Bebas

Sebagian massa BEM STIEHID
Sebagian massa BEM STIEHID

HIDORID — Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (BEM STIEHID) Kota Depok, Jawa Barat, menggelar unjuk rasa dan aksi damai di depan Balaikota Depok, Jalan Margonda Raya, beberapa waktu lalu (09/12/2013). Aksi yang bertepatan dengan Hari Antikorupsi ini diimulai sekitar pukul 13.30 WIB.

Dalam aksinya pengunjuk rasa membawa berbagai atribut yang berisi pesan damai dan ajakan untuk membangun Indonesia dengan moralitas, intelektual, dan kejujuran. BEM STIEHID mendesak dilakukannya pemberantasan korupsi dengan berbagai bentuknya.

Ratusan mahasiswa ini juga menyampaikan keprihatinan terhadap laju penularan HIV/AIDS di dunia serta mengecam upaya kampanye seks bebas dengan program bagi-bagi kondom di Indonesia.

BEM STIE menuntut pemerintah menghentikan langkah-langkah penanggulangan AIDS yang bertentangan dengan syariah Islam seperti legalisasi seks bebas dengan program pekan kondom. Pihaknya juga mendesak Polri untuk tak melarang Polwan berjilbab serta memperingati hari anti Kopupsi.

Ketua BEM STIEHID Achmad Sodikin, menjelaskan dipilihnya Balaikota Depok sebagai pusat aksi, lantaran tempat tersebut merupakan pusat pemerintahan di Kota Depok. Aksi aksi long march ratusan massa ini dimulai dari Jalan Margonda Raya Komplek Pesona Khayangan hingga Polres dan menuju ke Balaikota Depok. Aksi tersebut sempat membuat arus lalu lintas di Jalan Margonda macet. Ratusan aparat turut menjaga aksi damai itu.

Sepanjang aksi, selain menyerukan mengenai bahaya HIV/AIDS, mereka juga membawa poster dan spanduk yang isinya berkisar mengenai bahaya virus HIV/AIDS. Salah satu poster bertuliskan,”Awas Virus AIDS Menyerang Generasi Kita.”

“Kami memanfaatkan momen Hari Anti Korupsi untuk turun ke jalan, mengingatkan masyarakat dan pemerintah akan bahaya laten korupsi, bahaya program legalitas seks terselubung, yang kesemuanyan rentan menghancurkan karakter bangsa ini,” kata Ketua BEM STIEHID, Sodikin, disela aksi. (ybh/hio)

Dai Hidayatullah Bertugas di Pangkalanbun Meninggal Dunia

Pekuburan muslim / IST
Pekuburan muslim / IST

HIDORID — Innalillahi wainnailaihiroji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, salah seorang kader Hidayatullah, Ustadz Tajuddin di Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Sabtu sore, 12/2/1435H (14/12/2013) lalu. Keluarga besar Hidayatullah berduka atas wafatnya salah satu tenaga dai muda yang telah malang melintang membina umat di wilayah Kalimantan Tengah itu.

Almarhum Tajuddin adalah alumni Madrasah Aliyah Radhiyatan Mardiyah (MA-RM) Putra Gunung Tembak, Balikpapan, juga menantu dari pembimbing Hidayatullah Ustadz Abdul Qadir Jaelani.

Semasa hidup beliau adalah pimpinan Pesantren Hidayatullah Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Info terakhir, sebelumnya beliau menderita sakit ginjal.

“(Beliau) berpulang ke Rahmatullah jam 17.00 WITA tanggal 14 Desember di Balikpapan. Mohon doanya semoga beliau diterima segala amal ibadahnya dan ditempatkan di Syurga. Aamiiin ya rabbal ‘alamin!” ujar Yauma, adik ipar almarhum dalam pesan singkatnya sebagaimana dikutip Muhammad Abdus Syakur, jurnalis nasional Hidayatullah Media di Jakarta, Sabtu lalu.

Syakur yang mengaku sangat mengenal almarhum, mengatakan pribadi Bang Tajuddin di mata dia adalah sosok yang baik, ramah, dan murah senyum. Sebagai mantan tetangga mertuanya, pewarta sekaligus fotografer ini sangat merasa kehilangan.

“Ya Allah, berikan ketabahan kepada anak-istri dan segenap keluarganya. Ya Allah, jadikan kepergiannya sebagai pelajaran berharga bagi kami yang masih hidup. Allahumma aammiiin,” lirihnya. * (hio/yb)

Kampus Utama Hidayatullah Medan Kini Bina 500 Lebih Santri

0

Kampus Utama Hidayatullah Medan Kini Bina 500 Lebih SantriHIDORID — Pasca penunjukan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Sumatera Utara menjadi Kampus Utama diantara 300 cabang Hidayatullah di seluruh Indonesia, Hidayatullah Medan terus berbenah dalam kiprah dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat.

Akhir tahun 2013 ini adalah tahun ketiga perjalanan Hidayatullah Medan sebagai Kampus Utama. Amanah yang melekat di pudak pengurus mengharuskan mereka untuk terus memberikan karya terbaik untuk umat. Termasuk diantaranya Pondok Pesantren Hidayatullah Medan telah menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) tahunan untuk menyusun Program Tahun 2013–2014. Raker berlangsung selama 3 hari mulai hari belum lama ini.

Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam, menjelaskan, selama 3 hari para pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan membahas program kerja tahunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2014, baik menyangkut bidang dakwah, sosial, pendidikan, pengembangan sarana serta strategi penggalian dana umat untuk.

Disamping itu juga, kata Choirul, banyak program pengembangan sarana dan prasarana yang harus segera diwujudkan dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan perkembangan. Dimana jumlah santri terus meningkat hingga sekarang sudah mencapai angka 520 orang. “Tentu hal ini membutuhkan kerja maksimal dan peran semua pihak,” kata Choirul.

Rapat berlangsung begitu padat, sehingga tidak ada waktu longgar, kecuali waktu shalat serta makan saja. Peserta dibatasi hanya pengurus yayasan serta bagian keputrian. Tujuan pembatasan peserta ini adalah agar kegiatan pembelajaran bagi santri tetap bisa berjalan, karena para guru tidak ikut dalam rapat.

Rapat maraton itu juga untuk mengefektifkan waktu karena masukan masukan dari guru bisa diwakili oleh bagian pendidikan serta kepala sekolah. Kegiatan ini disatukan dengan acara pelantikan Dewan Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.

“Inti dari program satu tahun kedepan adalah bagaimana meningkatkan kualitas output pendidikan, bagaimana menarik minat masyarakat lebih besar lagi untuk mendidik anaknya di pesantren ini, meningkatkan layanan bagi santri baik dari sisi kesejahteraan, pendidikan dan pembinaan mental spiritual atau kemampuan ‘Ulumuddin,” imbuh Choirul Anam. (ybh/hio)

Memaknai Hidup dalam Bernegara

0
Oleh Dr H Abdul Mannan
Oleh Dr H Abdul Mannan

KETIKA kita bisa membaca dan belajar dari setiap peristiwa hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah.

Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai peristiwa yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar. Semoga kita menjadi orang yang beruntung dan berguna bagi sesama.

Bagi orang yang memahami tentang hidup dan kehidupan pasti selalu membiasakan introspeksi diri, dan merefleksikan keyakinan untuk kemaslahatan bersama.

Tetapi, bagi orang yang belum memahami tentang hidup dan kehidupan secara benar niscaya alam pikirannya diliputi oleh butir–butir pemikiran teror dan horor. Apakah mereka itu orang terpelajar atau tidak. Sebab, belum tentu orang terpelajar dapat memaknai hidupnya. Karena memaknai hidup berkaitan dengan nilai dan kualitas kemanusiaan.

Wilayah kemanusiaan dalam kehidupan sangat luas. Mulai dari sisi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Semua aktivitas hidup dan kehidupan yang terekspresikan dalam ranah kemasyarakatan tidaklah terlepas dari ikatan norma-norma. Norma kehidupan yang lahir dari adat istiadat atau agama adalah nilai luhur suatu masyarakat atau bangsa.

Pancasila dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah satu wujud dalamnya pemikiran para pendiri negara Indonesia yang kita cintai ini. Sila pertama ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia diikat oleh ikatan religi sebagai dasar moral.

Sila pertama Pancasila inilah dasar pemerintah bersama rakyat Indonesia yang tidak menghendaki tumbuhnya ideologi komunis, yang menafikan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Peristiwa Madiun tahun 1948, peristiwa Gestapu 1965, adalah bukti bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia komitmen terhadap sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan, zaman regim orde baru, Pancasila dijadikan doktrin dengan nama “Hari Kesaktian Pancasila”, yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Bagi kita yang berpikir wawas diri, penuh kekhawatiran, jika ikatan nasional yang kita beri nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jadi berkeping atau disintegrasi. Tidak ada seorang pun yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita boleh menyusun strategi antisipatif sebagai upaya manusia untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Musibah yang selalu ditakuti oleh orang yang wawas diri terhadap kebangsaan adalah jika terjadi disintegrasi bangsa dan negara. Wawasan kebangsaan ini tentu memiliki berbagai alasan. Sebagai contoh terpisahnya Timor Timur menjadi negara Timor Leste. Pemerintah Indonesia telah menumpahkan anggaran tahunan untuk membangun sarana dan prasarana di Timor Timur, namun akhirnya investasi pembangunan itu lepas dan merdeka.

Boleh jadi kesatuan NKRI masih utuh, namun nasionalisme generasi muda anak bangsa sudah tergerus oleh liberalisasi ideologi. Bagaimana tidak. Anak para pejabat dan orang kaya di negeri ini banyak mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka tidak banyak mengenal ajaran Pancasila sebagai asas berbangsa. Mungkin saja mereka mendapatkan materi ajar tentang Pancasila secara teori.

Tapi, penghayatan Pancasila sebagai asas hidup dan kehidupan berbangsa tidaklah mendalam. Sebagai pengalaman, pendidikan P4 pada zaman regim Orde Baru yang telah menelan biaya besar dan bersifat intstruktif, hasilnya adalah masih banyak pejabat yang korupsi.

Pertanyaannya adalah apa jaminannya NKRI akan tetap utuh jika generasi pelanjut kepemimpinan bangsa ini tidak paham dan menghayati ajaran Pancasila? Strategi apa yang digunakan oleh Pemerintah dalam mengantisipasi terjadinya degradasi ideologi Pancasila?

Pertanyaan–pertanyaan tersebut sengaja kita sampaikan pada hari Kesaktian Pancasia ini agar kita dapat berintrospeksi yang lebih dalam lagi tentang nasib NKRI kedepan.*

DR. ABDUL MANNAN, MM, Penulis adalah Ketua Umum PP Hidayatullah

Syabab Hidayatulah Makassar Dituntut Terus Tingkatkan Komitmen Dakwah

syahid makassaerHIDORID — Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) Ustadz Abdul Majid, SH, mengingatkan para pemuda Islam untuk meningkatkan komitmen di jalan dakwah seraya senantiasa menjaga hati agar tak mudah dengki dan tersinggung.

“Hendaknya Syabab (pemuda. Red) atau kader itu harus memiliki komitmen, karena komitmen itu penting dan itu yang mahal,” ujarnya saat memberi taushiah pada pada acara silaturrahim dan Malam Bina Taqwa (Mabit) Pemuda Hidayatullah Makkassar di pantai daerah Tanjung Bayang, Makassar, Ahad (12/12/2013).

Ustadz Abdul Madjid yang juga merupakan orang tua Syabab Hidayatullah Makassar berpesan agar mereka meningkatkan komitmen dakwah.

Dia mengatakan, kader itu jangan mudah tersinggung. Dia pun menyampaikan pesan agar Syabab Hidayatullah terus melakukan perbaikan baik secara internal maupun eksternal.

Syabab Hidayatullah Makassar mengadakan program Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) di tepi pantai daerah Tanjung Bayang, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Ahad-Senin, 27-28 Muharram 1435 H (1-2/12/2013). Tujuannya meningkatan komitmen dakwah organisasi kepemudaan tersebut.

Kegiatan ini diikuti sekitar 30 anggota Syabab Hidayatullah dan beberapa ustadz, serta pengurus inti Hidayatullah Makassar dan Sulsel. Di antaranya Ketua PW Hidayatullah Sulsel Ustadz Ir H Abdul Majid, Ketua Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar Sultan, Ketua Yayasan Al-Islam Hidayatullah Makassar Baharuddin Jabbar, dan beberapa pengurus Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Agenda mabit kali ini yaitu diskusi terbuka bersama para ustadz dan orang tua, tudang sipulung (kumpul bersama), shalat lail dan bakar-bakar ikan.

Kegiatan yang dimulai Ahad (01/11/2013) sore dan berakhir Senin (02/11/2013) ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah sesama pemuda Hidayatullah yang tersebar di Sulsel khususnya Makassar. Juga bersama para ustadz dan orang tua yang ada di sana. */Ahmad Sabil, Syabab Hidayatullah Makassar

Siswa SD Hidayatullah Surabaya Belajar Matematika Sambil Berdagang

0

sd ihHIDORID — Matematika sering diidentikkan dengan njelimet dan membingungkan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi siswa kelas 2 SD Integral Luqman al Hakim Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Mereka terlihat menikmati belajar matematika sambil berdagang yang di gelar di playground SD Islam di kawasan Kejawan Putih, Tambak, Mulyorejo, Jumat (6/12/2013) hari ini.

Para siswa ini dikenalkan nilai uang sambil jual beli. Banyak barang yang mencoba dipasarkan siswa. Mulai kebutuhan pangan hingga keperluan belajar.

Wildan Irawan contohnya, ia tampak sibuk menyiapkan dagangan rautan, pensil, penggaris untuk dijajakan. Bahkan siswa kelas 2 ini juga kreatif membuat produk hasil kreasinya. “Saya juga bikin kertas lipat Wildan. Harganya 500 dapat 5 buah,” katanya.

Lain halnya dengan Annisa Anjani, siswi imut ini sibuk mencari kembalian. Ia juga berdagang alat tulis. “Penghapus ini harganya 2000 rupiah, uangnya 5000 rupiah, berarti kembaliannya 3000 rupiah,” katanya sambil menghitung uang.

Menurut Irawati, guru kelas 2, kegiatan pembelajaran real ini agar proses pembelajaran matematika lebih mudah dipahami oleh siswa. “Tidak hanya proses pengenalan nilai uang saja yang didapat, tapi banyak pengetahuan lain,” jelasnya.

Irawati menyebut, teknik marketing, komunikasi, bahasa, dan yang penting berjualan sesuai syariah juga ditanamkan. Ia berharap dengan proses pembelajaran seperti ini, siswa akan bisa mengaplikasikan pada pelejaran di kelas. (sur/ybh/hio)