Beranda blog Halaman 666

Dai Harus Mampu “Diagnosis” Problematika Keumatan

Rakerwil dan Upgrading Dai oleh PW Hidayatullah Sumsel / QAA
Rakerwil dan Upgrading Dai oleh PW Hidayatullah Sumsel / QAA

Hidayatullah.or.id — Seorang juru dakwah (dai) atau muballig dituntut harus memampu melakukan diagnosa terhadap banyak problematika yang dihadapi umat dewasa ini.

Zaman makin berkembang, sehingga dinamika masalah keummatan pun bisa semakin kompleks. Dari kemampuan “diagnosa” yang dilakukan, diharapkan dai dapat memerankan fungsinya dengan baik sebagai pengabdi umat.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Shohibul Anwar, saat memberikan materi pada acara Upgrading Dai dalam rangkaian acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel), beberapa waktu lalu, (03/03/2014).

Acara Rakerwil Hidayatullah Sumsel ini dirangkai dengan pembekalan para Dai Hidayatullah yang dikemas dalam acara “Up Grading Da’i Hidayatullah” yang dipandu oleh Ustadz Shohibul Anwar. Materi yang disampaikan berkaitan dengan fiqh dakwah dan dinamikanya diikuti oleh para peserta Rakerwil dengan penuh antusias.

Diharapkan dengan adanya “Up Grading Dai” ini, para dai Hidayatullah dapat menempatkan dirinya secara bijak di tengah kemajemukan ummat Islam, mampu “mendiagnosis” problematika ummat sekaligus menjadi “problem solver”nya.

“Dan mampu mentranformasikan kondisi ummat menjadi lebih baik dalam hal ibadah, tata perilaku, dan keilmuan,” kata Ustadz Shohibul Anwar dalam pemaparannya.

Sementara itu, Kepala Departemen Informasi dan Humas PW Hidayatullah Sumsel, Qosim Abu Azyz, menyampaikan bahwa Keberhasilan sebuah organisasi dapat dilihat dari indikator sejauh mana program kerja yang telah disusun pada tahun tertentu dapat berhasil dilaksanakan.

Oleh karenanya, kata Qosim, perlu diadakan evaluasi program-program kerja yang telah disusun guna mengukur tingkat keberhasilan. Untuk itulah, PW Hidayatullah Sumatera Selatan menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil), sebagai sebuah forum tahunan untuk mengevaluasi programm kerja tahun sebelumnya sekaligus menyusun program kerja untuk setahun yang akan datang.

Acara Pembukaan Rakerwil berlangsung secara sederhana dan penuh hikmah, bertempat di Aula Pesantren Hidayatullah Sumsel, Rambutan, Kabupaten Banyuasin, tanggal 3 Maret 2014. Dibuka secara resmi oleh Ustadz Shohibul Anwar, Ketua Departemen Dakwah Pimpinan Pusat Hidayatullah dan Ketua Pos Dai Hidayatullah.

Rakerwil ini dihadiri oleh utusan dari 4 pengurus daerah di kabupaten kota di Sumsel yakni Kota Palembang, Banyuasin, Lahat, dan Musi Rawas, di samping unsur dari Pengurus Wilayah sendiri dan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Sebelumya, sebagai rangkaian acara Rakerwil juga dilaksanakan traning Super Life Revolution yang diadakan oleh PW Hidayatullah Sumsel bekerjasama dengan Badan Dakwah Islam (BDI) Refinery Unit III Pertamina Plaju bagi para karyawan Pertamina dan masyarakat umum bertempat di Gedung Ogan Kompleks Pertamina RU III Plaju, Kota Palembang pada tanggal 2 Maret 2014.

Acara training untuk karyawan tersebut berlangsung menarik dengan antusiasme peserta. Bertindak sebagai pemateri Ustadz Shohibul Anwar, traning yang berlangsung secara selama 2 (dua) jam tersebut mampu mengajak para peserta untuk mendefinisikan tujuan hidup manusia guna menggapai bahagia tanpa batas. Traning Super Life Revolution juga diadakan bagi para ibu-ibu Muslimat Hidayatullah Sumsel pada hari yang sama. (hio/ybh)

Naspi Arsyad Ketua Umum Syabab Hidayatullah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad / NHM
Ketua Umum Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad / NHM

Hidayatullah.or.id — Musyawarah Nasional (Munas) V Syabab Hidayatullah yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat, selama 3 hari (28 Februari – 2 Maret) sukses digelar. Munas ini memutuskan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Syabab Hidayatullah diamanahkan kepada Naspi Arsyad, Lc.

Munas Syabab Hidayatullah yang digelar di Gedung HITC, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, mengusung tema “Transformasi Idealisme Gerakan Pemuda Menuju Indonesia Bermartabat”, ini berlangsung alot. Kendati suasana “panas” acapkali menyeruak di arena sidang, suasana tetap berlangsung tertib penuh keakraban.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad dalam pidato pelantikannya menuturkan bahwa ia sangat berat menerima amanah ini. Jika bisa menolak, ia mengatakan pasti akan menolak.

Namun bagaimana pun, kata alumni Universitas Islam Madinah (UIM) ini, sebagai kader ia mengaku harus mengikuti garis komando yang telah menjadi kultur lembaga ini.

“Mohon doa dan dukungan dari kita semua. Kalau saya dilihat keliru atau salah mohon diingatkan. Mari bersama-sama kita memikul amanah ini,” katanya seraya menyebutkan amanah ini sebagai wadah berproses untuk menjadi lebih baik.

Sementara itu, di sela-sela kesibukannya, Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad hadir dan bersilaturrahim dengan peserta musyawarah. Pada kesempatan tersebut, beliau sempat memberi tauhsiah setelah beberapa waktu sebelumnya baru tiba dari Kota Bontang, Kalimantan Timur.

“Saya bersemangat untuk hadir, bukan hanya karena wujud apresiasi orangtua kepada anak, tapi ini wujud syukur pada Allah. Sebab Hidayatullah ke depan ada di tangan anak-anak muda hari ini,” kata pimpinan membuka ceramahnya.

Beliau mendorong kader muda Hidayatullah senantiasa membangun tradisi ibadah dan berfikir. Tradisi berfikir, terangnya, adalah membangun budaya beriqra’ dan haus akan ilmu pengetahuan yang ditopang dengan ibadah intensif. Perintah beriqra’, jelas beliau, merupakan doktrin yang dimiliki generasi Hidayatullah.

“Saya rindu ingin melihat wajah wajah generasi muda Hidayatullah yang akan bergerak lebih baik, penuh semangat, lebih profesional. Memang itu harus dilakukan. Karena karakter zaman ini secara aksiomatik harus seperti itu,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM, mengingatkan Syabab Hidayatullah untuk tidak terjebak pada pragmatisme dan praktik-praktik gelap demokrasi. Abdul menegaskan bahwa Hidayatullah harus menjaga kultur sentralisasi komando (Sam’an Wa Tho’atan) sebagaimana dipraktikkan oleh pendahulu yang terbukti telah mengantar organisasi ini terus bertumbuh dan berwibawa.

Rekrutmen kader tidak akan efektif kalau syabab tidak efektif dan efesien. Abdul mengimbau, semua potensi harus diakomodir dan dimaksimalkan. Nasib 5 sampai 10 tahun Hidayatullah ke depan ditentukan oleh pemuda Hidayatullah.

“Hidayatullah butuh kader pelopor sekaligus penggerak sebagai kekuatan inti organisasi dan umat. Semua adalah perjalanan untuk mendapatkan bentuk yang terbaik dengan melibatkan segala potensi syabab menuju gerbang keridhaan Allah Ta’ala,” tandasnya.

Ketua Panitia Munas V Syabab Hidayatullah, Rahmat Ilahi Hadits, mengatakan helatan musyawarah dan silaturrahim nasional ini adalah sekaligus sebagai momentum rekonstruksi dan revitalisasi gerakan Syabab Hidayatullah. Momentum Munas kali ini diharapkan menjadi ruang resolusi dan identifikasi dari berbagai problem yang dihadapi gerakan kepemudaan yang telah memasuki usia satu dekade lebih ini.

“Pemuda tidak berfokus pada alasan karena sudah pasti alasan itu selalu benar. Tapi pemuda selalu fokus pada solusi, walaupun solusi tidak selalu benar,” tandas Rahmat.

Musyawarah Nasional Syabab Hidayatullah ini terselenggara atas dukungan banyak pihak diantaranya PP Hidayatullah, Laznas BMH, HiTC, Mushida, Yayasan Marhamah Hidayatullah Depok, PT Totalindo Rekayasa Telematika, dan lain-lain.* (ybh/hio)

Provinsi Papua Masih Butuh Banyak Tenaga Kader

Ustadz Usman Palese bersilaturrahim dengan kader di Kampus Hidayatullah Sorong / MIFTAH
Pendahulu Hidayatullah, Ustadz Usman Palese, saat bersilaturrahim dengan kader di Kampus Hidayatullah Sorong / MIFTAH
Pimpinan Daerah Hidayatullah Provinsi Papua berfoto bersama usai Rakerwil / MUSLIM
Pimpinan Daerah Hidayatullah Provinsi Papua berfoto bersama usai Rakerwil / MUSLIM

Hidayatullah.or.id — Provinsi Papua memiliki letak geografis yang relatif sangat luas. Untuk itu, Hidayatullah terus turut serta mendukung program pembangunan yang digalakkan pemerintah di wilayah ini.

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Provinsi Papua, Fatahuddin Amin, mengatakan Hidayatullah yang konsen di bidang dakwah, sosial, dan pendidikan, aktif mengembangkan sayapnya di daerah lainnya agar masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan bimbingan agama dan layanan pendidikan dan sosial.

“Kami membutuhkan banyak tenaga kader yang siap mengabdi di wilayah ini guna memberikan pelayanan dakwah dan pembinaan umat melalui pendidikan dan sosial,” kata Fatahuddin disela acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Papua berlangsung di Kabupaten Mimika, belum lama ini.

Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua menggelar Rapat Kerja Wilayah di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Kabupaten Mimika, Papua (21-23/02/2014) lalu.

Dalam kegiatan Rakerwil ini PW Hidayatullah Papua menyampaikan laporan dan program kerja yang disampaikan Nur Fatahuddin Amin selaku ketua.

Dalam laporan itu Ustadz Nur Fatahuddin menyampaikan keinginannya kepada Pimpinan Pusat Hidayatullah agar dapat mengirimkan tenaga kadernya mengingat Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas di wilayah kerja Hidayatullah Papua dan akan dibukanya cabang-cabang Hidayatullah baru yang sudah siap lahannya.

“Lahan sudah siap, tapi kami belum memiliki SDM yang dapat ditugaskan di sana seperti di Kabupaten Puncak Wamena, Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Keppi,” kata Fatahuddin.

Rakerwil yang mengusung tema “Revitalisasi Organisasi Menuju Standarisasi dan Sentralisasi” ini dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Pusat (PP) yakni Drs H. Wahyu Rahman, juga unsur Pengurus Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua, dan perwakilan Pimpinan Daerah (PD) se-Provinsi Papua yang terdiri dari Pimpinan Daerah Hidayatullah Timika sebagai tuan rumah, PD Hidayatullah Sentani, PD Hidayatullah Kerom, PD Hidayatullah Serui, PD Hidayatullah Nabire, PD Hidayatullah Biak, PD Hidayatullah Merauke, dan PD Hidayatullah Buvendigul.

Acara tahunan ini mengagendakan sosialisasi hasil-hasil Rapat Kordinasi Nasional Hidayatullah yang digelar di pertengahan bulan Januari lalu. Acara ini juga dihadiri oleh salah satu pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Ustadz Usman Palese.

Dalam ceramahnya Ustadz Usman sangat terharu karena setelah 41 tahun Pesantren Hidayatullah berkembang atau lebih tepatnya berdiri pada tahun 1973 di seluruh penjuru Indonesia, baru kali pertama ini beliau menginjakan kaki di bumi Papua dan melihat secara langsung perkembangan Hidayatullah yang berada di Bumi Cendarawsih ini.

Tanpa melewatkan kesempatan yang ada, Ustadz Usman Palese juga bersilaturrahim mengunjungi beberapa Cabang Hidayatullah di Papua seperti Hidayatullah Timika di mana acara Rakerwil berlangsung, Hidayatullah Jayapura, Hidayatullah Manokwari, dan Hidayatullah Sorong.

Sementara itu, dalam acara pembukaan, Wahyu Rahman mewakili Pimpinan Pusat menyampaikan, bahwa revitalisasi dan sentralisasi merupakan penguatan manhaj, konsep dan ibadah. Sedangkan standarisasi dalam konsep Hidayatullah adalah menstandarkan aspek pendidikan, ibadah dan konsep pemahaman dalam Hidayatullah yang lebih kita kenal dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

“Sistem standarisasi ini kita gunakan karena kita menggunakan konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu yang ditujukan pada garis komando Imamah Jama’ah. Jadi, standarisasi dan sentralisasi dalam konsep Hidayatullah adalah Konsep Imamah Jama’ah,” papar Drs. Wahyu Rahman.

Ustadz Wahyu Rahman yang menutup secara resmi kegiatan Rakerwil ini juga memberikan apresiasi kepada PW Hidayatullah Papua yang telah melebarkan sayap dakwahnya dan membuka beberapa cabang di Wilayah Papua. (Akhmad Muslimin, Hidayatulah Jayapura)

Hidayatullah Tanjab Barat Gelar Seminar Peradaban

Seminar diikuti ratusan peserta ini hadirkan pemicara Drs.H. Tasyrif Amin M.Pd dari Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah dan Drs H M Mursyid Sonsang selalu Ketua PWI Jambi
Kegiatan seminar merupakan rangkaian dari acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Jambi / JMLS
Ketua PP Hidayatullah, Tasyrif Amin, menyerahkan wakaf Qur'an Hidayatullah Tanjab Barat
Ketua PP Hidayatullah, Tasyrif Amin, menyerahkan wakaf Qur’an Hidayatullah Tanjab Barat
Penyerahahan secara simbolis wakaf Qur'an untuk masyarakat
Penyerahahan secara simbolis wakaf Qur’an untuk masyarakat

Hidayatullah.or.id — Bertempat di Gedung Pintar Anggrek Kualatungkal, Minggu (23/2) lalu, Dewan Pimpinan (DPD) Hidayatullah Tanjab Barat menggelar kegiatan Seminar Peradaban Islam dengan tema, “Pendidikan Karakter, Solusi Kemerosotan Moral Bangsa, membangun Indonesia Bermartabat”.

Dalam seminar yang diikuti oleh ratusan peserta ini menghadirkan pemicara Drs.H. Tasrif Amin M.Pd dari Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah dan Drs H M Mursyid Sonsang selalu Ketua PWI Jambi yang juga praktisi pendidikan di kota itu.

Pada acara ini turut hadir Kabag Administrasi Pembangunan Tanjab Barat, Muhammad Shaleh, Ketua KNPI Tanjab Barat, dan ratusan undangan lainnya.

Para serta yang mayoritas mahasiwa, para guru dan perwakilan organisai kepemudaan, ini sangat antusias mengikuti kegiatan seminar sejak dipaparkan pemateri pertama dan kedua. Peserta menyimak dengan seksama.

Usai pemaparan materi, pertanyaan bertubi dilontarkan diantaranya tentang keboborkan moral anak muda yang ditimbulkan dari pengaruh lingkungan. Pemateri menjawab dengan tangkas setiap pertanyaan yang diajukan. Tanggapan hadirin sebagian besar mengaku khawatir dengan fenomena kenakalan remaja, sehingga berharap dari sini mendapatkan pencerahan edukatik.

“Di rumah mereka terlihat santun dan sopan, tapi di luar dan setelah bergaul dengan lingkungan moralnya jadi rusak. Karena diantaranya pengaruh media,” ujar Endang, salah satu perserta dari STAI An- Nadwah ini.

Dalam dialog tersebut mayoritas peserta dalam gelaran seminar yang berlangsung sejak 09.30 hingga 12.00 WIB itu, berharap agar Hidayatullah bisa menjadi terus berperan dan memberikan kontribusi dalam pembangungan Tanjab Barat.

Hal senada disampaikan oleh Kabag Administrai Pembangunan Tanjab Barat M. Saleh. Saleh mengatakan pihaknya bersama DPD Hidayatullah Tanjab melalui acara acara seperti ini akan terus bersinergi dengan program pemerintah dalam mengatasi kemerosotan moral bangsa.

“Kegiatan seminar peradaban Islam dengan tema pendidikan karakrer dan program wakaf sejuta Al Qura’n oleh DPD Hidayatullah ini sejalan dengan program pemerintah dalam mengatasi kemerosotan moral dan pemberantasan buta aksara, ” paparnya.

Sementara itu Ketua DPD Hidayatullah Tanjab Barat, Ustadz Jumalis S. Ag, menyampaikan ratusan peserta yang ikut dalam seminar ini merupakan bukti keseriusan para generasi muda untuk turut mencari solusi mengatasi kemerosotan moral saat ini. Pemkab, kata Jumalis, harus tanggap dan peduli mendukung permasalahan ini.

“Ini salah satu bukti, bahwa para generasi muda turut peduli mengatasi krisis moral yang dialami masyarakat selevel mereka. Pemkab Tanjab Barat harus mendukung program ini nyata di lapangan dan berkesinambungan, “harapnya.

Ketua dan sekretaris KNPI yang hadir pada acara tersebut juga menyampaikan pihaknya siap bergandengan dengan Hidayatullah dalam menjalankan kegiatan sosial kemasyarakatan terutama mengatasi krisis dan kemerosotan moral ini.

“Kami ke depan siap bermitra dalam kegiatan sosial dengan DPD Hidayatullah Tanjab Barat,” papar wanita pengurus KNPI Tanjab Barat Berjilbab ini di sela acara seminar.

Selain menggelar acara seminar, DPD Hidayatullah Tanjab Barat menjadi tuan rumah gelaran Rapat Kerja Wilayah (Rakewil) Hidayatullah Provinsi Jambi. Rakerwil ini diadakan di gedung yang sama di Rumag Pintar Anggrek yang dikiikuti para pengurus PD Hidayatullah se-Provinsi Jambi. (fth/hio).

Tangguh, Annisa Sulbar “On” Sejak Jam 3 Dini Hari!

Sejumlah Annisa Hidayatullah Sulbar tampak bersiap mengikuti pembukaan acara training dan outbond / BAS
Sejumlah Annisa Hidayatullah Sulbar tampak bersiap mengikuti pembukaan acara training dan outbond / BAS

Hidayatullah.or.id — Menyadari beratnya orangtua memberikan pendidikan yang baik, juga mengimbangi pengawasan kepada anak putrinya yang juga harus bisa memberikan solusi terhadap kesalahan yang dilakukan remaja putrinya.

Upaya meningkatkan kualitas keilmuan remaja putri dan sadar akan sisi negatifnya efek era globalisasi, Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Departemen An-Nisa Sulawesi Barat mengadakan Training An-Nisa Angkatan ke-2.

Bertempat di Aula SMP Integral Al-Furqan Hidayatullah Mamuju, sebanyak 65 remaja putri serius mengikuti pembukaan acara pada Jumat, 28 Februari pukul 16.00 WITA.

Departemen Annisa PP Mushida sendiri adalah departemen otonom yang dibentuk Mushida Pusat yang bertanggungjawab membina dan melakukan kaderisasi kepada para santri SMA dan tingkat SMA.

Sebagaimana dituturkan Ketua Departemen An-Nisa Wilayah Sulbar, Mukarromah, S.Pd.I, acara yang pernah dilakukan awal tahun lalu ini diadakan dengan semangat yang tinggi pengurus dan beberapa jamaah.

“Kami tidak mengirimkan proposal ke pihak manapun, selain kontribusi jamaah juga partisipasi dari peserta,“ imbuh Mukarromah.

Acara yang dikemas apik dan menyenangkan ini menghadirkan pemateri lokal yang terlatih dan berpengalaman diantaranya Mastah Ahmad, S.Ag., Hamriani, S.Ag., Halijah, S.Pd.I, Delta Al-Qurnia dan Salmah, S.Pd.I. Juga ikut urun sukses ketua Mushida Sulbar, Jumriah, SE.

Selain materi-materi keilmuan keislaman yang disajikan pada indoor di kampus kota, belajar dari pengalaman acara tahun lalu pihak panitia banyak menyajikan materi di luar ruangan (outdoor).

Lebih jauh Mukarromah menjelaskan, dengan outbond dapat merefleksikan semua materi melalui latihan, game, mental, emosi serta kepemimpian hingga kelak generasi yang ditempa pada An-Nisa memiliki pribadi yang tangguh.

Mengaminkan maksud ketua departemen An-nisa, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulbar, Drs. Abu Bakar Muis, saat memberikan arahan dalam pembukaan mengatakan bahwa melalui kaum wanita yang militan aqidahnyalah yang akan melahirkan generasi yang baik.

“Wanita yang siap ditugaskan ke manapun meski ke daerah yang tandus sebagaimana kepribadian Siti Hawa yang tabah ketika di ‘SK’-kan ke tempat tak bertuan,” imbuh Abu Bakar Muis.

Sejalan dengan semangatnya yang mengusung tema “Hidupkan Ghiroh An-Nisa dengan Full Ethnic Islamic”, acara ini digelar selama tiga hari mulai hari Jumat sampai Ahad.

Acara ini berlansung semarak dengan sejumlah permainan outdoor. Selain memanfaatkan hulu Kali Mamuju, panitia juga memfungsikan kampus Salutalawar yang berjarak sekira 15 kilometer dari kampus kota Mamuju untuk sesi game dan beberapa materi outbond lainnya.

Hal ini, kata Mukarromah, dimaksudkan agar peserta memahami semua materi yang diberikan dan dapat berinteraksi dengan orang dan lingkungannya serta yang utama agar memiliki semangat juang yang tinggi.

“Wajar kalau target panitia begitu idealis, karena peserta sudah “on” sejak pukul 3 dini hari dengan melakukan tahajjud yang disambung dengan shalat shubuh dan tadarrus bersama,” tandas Mukarromah seraya menambahkan bahwa tradisi on sejak dini hari ini harus menjadi kultur setiap kader Annisa.(bashori/hio)

Sidang Alot, Ustadz Rahman: “Peras Pikiran untuk Kemajuan Syabab”

Sejumlah peserta berfoto bersama dengan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad / HIO
Sejumlah peserta berfoto bersama dengan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad / HIO

Hidayatullah.or.id — Musyawarah Nasional (Munas) V Syabab Hidayatullah yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat, berlangsung alot. Hujan interupsi pun tak terelakkan. Kendati suasana “panas” acapkali menyeruak di arena sidang hingga malam ini, suasana tetap berlangsung tertib dan penuh kekeluargaan.

Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad pada Ahad (02/03/2014) sore tadi menyempatkan hadir dan bersilaturrahim dengan peserta musyawarah di arena sidang. Pada kesempatan tersebut, beliau menyempatkan memberi tauhsiah setelah beberapa waktu lalu baru tiba dari Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Dalam taushihnya beliau mendorong kader kader muda Hidayatullah khususnya peserta musyawarah untuk senantiasa membangun tradisi berfikir. Tradisi berfikir, terang beliau, adalah membangun budaya baca (iqra’), menelaah, dan haus akan ilmu pengetahuan.

“Jangan pernah berhenti berfikir dan selalu menambah ilmu. Ini perintah beriqra’. Doktrin ini hanya dimiliki generasi Hidayatullah. Kita harus memberikan loyalitas tinggi untuk istiqamah di jalan dakwah ini,” imbau beliau.

Ustadz Rahman menegaskan bahwa dalam mengarungi dakwah menyebarkan iman Tauhid ini mengharuskan kader untuk harus mampu menyisihkan banyak gangguan dan halangan-halangan.

“Kalau kita berhenti berfikir untuk kepentingan umat ini maka kita akan larut dengan pemikiran pemikiran lain yang ada. Maka, selalu harus ada patokan yang pasti agar kita tidak terjerumus,” ujarnya.

Ketua Panitia Pengara Munas V Syabab Suhardi yang mendampingi Ustadz Rahman sempat berseloroh kepada beliau bahwa sidang sampai sore ini masih berlangsung alot seraya meminta beliau mendoakan agar Munas ini tetap berlangsung lancar hingga selesai.

“Pokoknya peras semua pikiran dan gagasannya untuk kemajuan Syabab Hidayatullah,” jawab Ustadz Rahman tersenyum sambil tangannya mempraktikkan gerakan memeras pakaian. Hadirin menyambutnya dengan pekikan takbir, Allaahu Akbar!

Musyawarah Nasional (Munas) ke-V di Depok ini mengusung tema ‘Transformasi Idealisme Gerakan Pemuda Menuju Indonesia Bermartabat’. Dihadiri oleh perwakilan pengurus wilayah dan daerah Syabab Hidayatullah seluruh Indonesia.

Musyawarah berlangsung tertib dengan penuh kekeluargaan meski kerap dihiasi adu argumentasi dan interupsi seperti saat sidang komisi. Arena sidang juga kerap dihiasi kelakar segar dari peserta diantaranya dari PW Hidayatullah Sulawesi Utara yang diwakili Bachar Majid Yohannes, Mursyid dari PW Kaltim, Taufik dari PD Malinau, dan banyak peserta munas lainnya.

JIka tak ada aral melintang, dijadwalkan musyawarah nasional ini akan ditutup malam ini sekaligus pelantikan kepengurusan baru Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah. (hio/ybh)

Pemuda Hidayatullah Didorong Contoh Tradisi PII

Suasana pembukaan Munas V Syabab Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat / HIO
Suasana pembukaan Munas V Syabab Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat / HIO

Hidayatullah.or.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM, mendorong Syabab (pemuda) Hidayatullah untuk belajar pola gerakan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).

Abdul Mannan menilai, sebagai organisasi kepemudaan yang sarat dinamika, konsistensi PII dalam tradisi spiritualisasi, kaderisasi, dan intelektualisasi patut dijadikan sebagai contoh yang baik bagi gerakan Syabab Hidayatullah pada kepengurusan selanjutnya.

“Motivasi dan gerakan organisasi PII harus digelorakan Syabab Hidayatullah,” kata Abdul Mannan saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) V Syabab Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (28/02/2014).

PII, menurut Abdul, patut ditelaah dan dicontoh karena dalam perjalanannya terbilang sukses melakukan suksesi kaderisasi terbukti salah satunya sebanyak 28 menteri kabinet Presiden SBY merupakan alumni PII. Tak sedikit kader PII menjadi tokoh penting dan berpengaruh.

Proses pendidikan PII, menurut Abdul, tidak semata menciptakan manusia sosial tetapi juga melahirkan kader yang berorientasi pada nilai-nilai Islam. Proses pendidikan dan pola gerakan organisasi PII bertujuan menciptakan manusia yang baik atau manusia terpelajar.

“Intelektualisasi dan spiritualisasi di PII itu berkelanjutan, ini layak menjadi contoh untuk model pergerakan Syabab Hidayatullah ke depan,” pesannya.

Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa visi Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam. Membangun masyarakat berperadaban adalah membentuk manusia yang berilmu pengetahuan alias manusia beradab.

Sebagaimana PII, Abdul menilai konsep kaderisasi Syabab Hidayatullah harus diproyeksikan kepada kemampuan kader mentransformasi kultur Hidayatullah dengan jalan terlibat aktif dalam menjawab tantangan dan memecahkan problematika yang dihadapi oleh organisasi, bangsa Indonesia, dan umat manusia.

Hidayatullah dituntut untuk melakukan upaya regenerasi secara terus menerus. Sebab, terang Abdul, tidak mungkin amanah kepemimpinan ini terus dipangku oleh yang sudah tua. Sehingga beliau mendorong agar Syabab Hidayatullah harus mampu mendesain kader yang dipersiapkan mengemban tugas masa depan dengan kemampuan, kualitas, dan kualifikasi tertentu.

“Hidayatullah membutuhkan kader pelopor sekaligus penggerak sebagai kekuatan inti organisasi dan umat Islam untuk menegakkan peradaban Islam,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Munas V Syabab Hidayatullah, Rahmat Ilahi Hadits, dalam sambutannya mengatakan helatan musyawarah dan silaturrahim nasional ini adalah sekaligus sebagai momentum rekonstruksi dan revitalisasi gerakan Syabab Hidayatullah.

Meski diakui sempat mengalami sejumlah dinamika internal sehingga membuat pergerakannya terkesan stagnan, Rahmat menegaskan bahwa perjuangan Syabab Hidayatullah belum berakhir.

Rahmat menuturkan pekerjaan rumah kita bersama untuk senantiasa menggairahkan gerakan Syabab Hidayatullah. Berbagai keterbatasan tidak menyurutkan langkah syabab untuk terus bergerak.

Saat ini, kata Rahmat, Syabab Hidayatullah masih terus melakukan perbaikan perbaikan. Momentum Munas kali ini diharapkan Rahmat menjadi ruang resolusi dan identifikasi dari berbagai problem yang dihadapi gerakan kepemudaan yang telah memasuki usia satu dekade lebih ini.

“Pemuda tidak berfokus pada alasan karena sudah pasti alasan itu selalu benar. Tapi pemuda selalu fokus pada solusi, walaupun solusi tidak selalu benar,” tandasnya.

Musyawarah Nasional Syabab Hidayatullah ini terselenggara atas dukungan banyak pihak diantaranya PP Hidayatullah, Laznas BMH, HiTC, Mushida, Yayasan Marhamah Hidayatullah Depok, PT Totalindo Rekayasa Telematika, dan lain-lain.*

MUI Disudutkan, Hidayatullah Ingatkan Umat Berintrospeksi

Sertifikat halal di salah satu produk konsumsi / net
Sertifikat halal di salah satu produk konsumsi / net

Hidayatullah.or.id — Menyikapi laporan yang menyebutkan ada petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menjadi calo sertifikasi halal untuk lembaga sertifikat halal luar negeri, ormas Hidayatullah mengingatkan bahwa selalu saja ada pihak-pihak tertentu dan kaum sekuler yang tidak senang jika Islam diberi peran yang lebih besar.

“Ketahuilah bahwa kebencian yang disembunyikan dalam hati mereka itu jauh lebih dahsyat dari pada yang ditulis dan diucapkan,” kata Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari kepada Hidayatullah.com, Kamis (27/02/2014).

Kata Hamim, gerombolan phobia ini tidak rela jika Islam diberi peran yang lebih besar lagi. Apalagi setelah bank syari’ah, lalu ada sertifikasi makanan dan minuman syari’ah, dan sebentar lagi obat-obatan syari’ah dengan label halal.

Kendati demikian, menurut Hamim, adanya tudingan sumir terhadap lembaga yang memawadahi komponen umat Islam Indonesia tersebut harus dijadikan sebagai bahan instropeksi diri.

“Kita harus koreksi diri kenapa tuduhan keji itu sampai dialamatkan kepada MUI. Jangan emosi, dan jangan terburu-buru menyalahkan pihak lain,” katanya.

Ia melanjutkan, umat Islam harus didewasakan dan dicerahkan, agar mereka bisa membedakan mana masalah Islam dan mana masalahnya “oknum” yang mengaku sebagai pemimpin islam.

“Kita harus mati-matian membela islam, tapi jangan sampai kita menjadi korbannya “oknum” yang membawa nama Islam,” terang Hamim.

Menurut Hamim, MUI harus segera menyatakan sikap. Apabila ternyata “oknum” yang dicurigai tersebut “bersih”, lakukan hak jawab. Kalau perlu ambil langkah untuk mensomasi, imbuhnya.

“Kalau diyakini bahwa berita tersebut bohong atau fitnah, ambil langkah hukum,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, petinggi Majelis Ulama Indonesia ditengarai memainkan izin pemberian sertifikat halal di Australia dan negara lain. Hal itu mencuat dari laporan Majalah Tempo yang terbit pekan ini.

Tempo mengklaim memiliki sejumlah bukti adanya setoran-setoran yang dikirim terkait dengan pemberian lisensi untuk perusahaan di Australia. Lisensi ini digunakan oleh perusahaan lokal Australia untuk memberi label halal bagi produk yang dijual di Indonesia.

Ketua Halal Certification Authority yang berbasis di Sydney, Mohamed El-Mouelhy, seperti dikutip Tempo, menuturkan siapa saja yang ingin mendapatkan lisensi itu harus membayar sejumlah uang ke MUI. Tak hanya membayar “donasi”, para pengusaha halal ini juga wajib membiayai perjalanan pejabat-pejabat MUI dan rombongan mereka ke Australia.

“Saya harus membayar semuanya mulai dari makan, pesawat, hotel, dan uang saku,” katanya seperti dikutip majalah Tempo.

Tempo menulis, walaupun sudah membayari “pelesiran para pejabat MUI”, El-Mouelhy tetap tak mendapatkan lisensi halal. Ia juga mengaku tak pernah dikabari soal alasan MUI tak menerbitkan lisensi itu. Padahal sebelumnya ia adalah pemegang lisensi halal untuk produk yang diekspor ke Indonesia.

Menanggapi hal itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyampaikan sikap mengenai proses sertifikasi halal dan pengakuan lembaga sertifikasi halal luar negeri. MUI menegaskan bahwa pembiayaan sertifikasi halal ditetapkan berdasarkan suatu pedoman yang sudah sangat jelas, sehingga tidak dimungkinkan adanya pembiayaan lain yang tidak jelas (invisibility cost).

Menteri BUMN Semangati Santri Hidayatullah Balikpapan

KOPIAH PINJAMAN: Di depan ratusan santri Ponpes Hidayatullah, Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan motivasi / NUTRICAHYO/KP
KOPIAH PINJAMAN: Di depan ratusan santri Ponpes Hidayatullah, Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan motivasi / NUTRICAHYO/KP

Hidayatullah.or.id — Kalimantan Timur selalu punya tempat spesial di hati Dahlan Iskan. Karena itu, dia kerap meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan banyak elemen di daerah ini.

Akhir pekan lalu (22/2), di sela-sela mengikuti Debat Bernegara Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menyempatkan diri menyambangi Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan.

Sosok ahlan Iskan selalu jadi buah bibir masyarakat. Dialah menteri di kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kerap membuat aksi berbeda dan jauh dari kesan formal dunia birokrasi. “Pejabat koboi”, itulah julukannya.

Dan, terungkap bahwa dia pernah menolak jadi Menteri BUMN saat diminta oleh SBY. “Saya menolak ketika Pak Presiden meminta saya. Tapi, saya selalu dipanggil dan seolah ‘dipaksa’ untuk mau jadi menteri,” cerita Dahlan di hadapan ratusan santri.

Dahlan akhirnya bersedia, dengan catatan, tak mau mengambil gaji menteri. Sama seperti dia menolak fasilitas saat menjabat direktur utama PT PLN.
Presiden SBY setuju. Dia pun lantas diangkat menjadi Menteri BUMN pada kesempatan reshuffle 19 Oktober 2011 lalu, menggantikan Mustafa Abubakar.

Alasan mengapa tak mau digaji, karena Dahlan sudah bertekad ingin menjalani sisa hidup untuk tidak mau lagi berbisnis. Pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini hanya mau mengurus delapan madrasah milik dia dan keluarganya. Bicara penghasilan, Dahlan sudah memiliki 207 perusahaan media yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Saya memang sudah berjanji dengan diri saya, tak mau ambil gaji Menteri BUMN, termasuk dirut PLN waktu itu. Juga enggak mau memakai mobil dan rumah dinas. Semua aktivitas selama ini menggunakan dana pribadi saya,” ungkap Dahlan. Mendengar penuturan ini, pekik takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar diserukan ratusan santri yang menggema di Masjid Hidayatullah.

Dahlan yang datang ke Ponpes Hidayatullah bersama istri tercinta Hj Nafsiah Sabri, ditemani sejumlah pimpinan koran di bawah naungan Jawa Pos Group, termasuk CEO Kaltim Post Group H Ivan Firdaus dan jajaran pengurus Relawan Demi Indonesia (ReDI).

Ia diterima Pimpinan Ponpes dan Yayasan Hidayatullah, H Zainuddin Mussadad. “Selamat datang Ustaz Dahlan Iskan di Ponpes Hidayatullah. Suatu kehormatan Pak Ustaz Dahlan dapat berkunjung ke pesantren yang punya ratusan cabang se-Indonesia ini,” sambut Zainuddin.

Mendengar dirinya dipanggil “ustaz”, Dahlan seketika meminjam kopiah warna putih milik salah satu jamaah. Sebelumnya, Dahlan juga menjadi imam salat Zuhur berjamaah. “Karena saya dipanggil ustaz, maka saya buru-buru pinjam kopiah putih ini,” kelakarnya, disambut tawa jamaah.

Banyak inspirasi dari Dahlan menjadi bahan motivasi ratusan santri dan ustaz di Ponpes Hidayatullah. Terutama, kisah saat dirinya menderita kanker hati. Pria yang pernah menjadi reporter surat kabar kecil di Samarinda ini mengaku saat itu hanya pasrah serta tawakal ketika divonis dokter usianya tinggal enam bulan.

“Semua dokter dalam dan luar negeri sudah memvonis saya, tidak mungkin punya usia panjang. Tapi, sebagai hamba yang memiliki Tuhan, saya harus melakukan ikhtiar. Caranya, ya, operasi ganti hati,” ceritanya.

Waktu sudah berkurang tinggal lima bulan, tetapi belum juga mendapatkan hati yang baik. Ada hati orang yang meninggal, tapi tidak cocok jenis darah, urutan saraf, dan lainnya. Dan, ketika “usianya” tinggal empat bulan, ada hati anak muda yang meninggal didonorkan kepada dirinya. Alhamdulillah, semuanya cocok. Mulai darah, susunan saraf, maupun karakteristik hati itu sendiri.

“Setelah operasi ganti hati, Allah ternyata menakdirkan umur saya tidak selesai, dan masih bisa berdiri hingga sampai ke Ponpes Hidayatullah ini,” kata Dahlan, disambut senyum semringah seluruh santri.

Karena Tuhan menakdirkan usia Dahlan masih ada, dia ingin mensyukuri tambahan umur itu. “Saya berkeliling dan bertanya ke sejumlah ustaz dan ulama, bagaimana rasa syukur yang paling baik itu. Ternyata, hampir semua jawaban menyebutkan harus kerja, kerja, kerja dengan baik dan jujur. Maka itulah yang saya lakukan untuk bangsa dan negara ini. Makanya saya tidak mau mengambil gaji dan menikmati fasilitas negara,” ujarnya.

Menurut Dahlan, siapa pun sekarang harus kerja giat dan jujur. Tak perlu malu atau takut hanya karena pendidikan formal rendah. Memang, ilmu berguna, tapi yang paling penting adalah kerja dengan ikhlas, ditambah nilai-nilai kejujuran.

“Saya ini lulusan (madrasah) aliyah (setingkat SLTA, Red) dan pernah jadi dirut PLN. Dan, satu-satunya dirut PLN lulusan aliyah. Sekarang jadi Menteri BUMN, mungkin ini satu-satunya lulusan aliyah yang jadi menteri. Nah, sekarang jadi capres. Nanti kalau jadi presiden, merupakan satu-satunya presiden yang lulusan aliyah,” kata Dahlan yang diaminkan seluruh santri, undangan, dan ustaz yang memenuhi masjid.

Dalam posisi sekarang sebagai capres pun sebenarnya, Dahlan ibarat sedang “menjemput takdir”. Takdir itu bisa saja datang, bisa juga tidak.

“Saya tetap berupaya dan berusaha. Nah, takdir itu yang menentukan adalah Allah. Makanya saya sebut menjemput takdir. Kalau jadi presiden saya ingin mengabdi ke negara. Kalau tidak jadi, ya, tidak apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum dan mengakhiri pertemuan di Hidayatullah dengan saling bersilaturahmi. ([email protected]/zal/k8)

Hidayatullah Uncang Tuan Rumah Kemah Pramuka

Bari berbaris di Kampus II Hidayatullah Tanjung Uncang, Riau / HTU
Bari berbaris di Kampus II Hidayatullah Tanjung Uncang, Riau / HTU
Peserta kemah sedikit kewalahan mendirikan tenda karena angin yang bertiup berarak-arak / HTU
Peserta kemah sedikit kewalahan mendirikan tenda karena angin yang bertiup berarak-arak / HTU

Hidayatullah.or.id — Untuk yang pertama kali Kampus 2 Hidayatullah Tanjung Uncang menjadi tuan rumah acara Perkemahan siswa-siswi SD Islam Integral Luqman Al Hakim kampus 1 Batu Aji Batam.

Acara yang digelar pada hari sabtu hingga Ahad (22-23/2/2014) lalu itu diikuti oleh 330 siswa-siswi kelas 5 dan 6 SD.

Tepat pulul 14.00 wib siswa datang dengan diantar oleh orangtua masing-masing, dilanjutkan dengan mendirikan tenda oleh masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok didampingi oleh 1 orang pendamping dari siswa SMA Integral Hidayatullah Batam.

Lokasi pendirian tenda antara siswa laki-laki dan perempuan terpisah. Angin yang berhembus kencang membuat kesulitan bagi siwa sehingga perlu sedikit tenaga ekstra untuk medirikan tenda.

Acara pembukaan dimulai setalah melaksanakan shalat Ashar dan bertindak sebagai pembina upacara adalah Ustadz Sumarno, kepala bidang pendidikan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam.

Dalam kesempatan tersebut Sumarno menyampaikan bahwa Kegiatan ini bertujuan menjalin tali silaturrahim serta memberikan pembinaan kemandirian dan mental bagi siswa.

Ustadz Sumarno memberikan taushiah pentingnya ikatan persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah. Untuk itu, ia menerangkan, sebagai anak didik dari Pesantren Hidayatullah, para peserta didik ini harus menjaga akhlak dan hubungan yang baik kepada siapa pun dan di mana pun.

“Jadikan kegiatan ini sebagai wadah tafakkur bahwa betapa pentingnya saling tolong menolong dan hidup bersama dalam satu ikatan persaudaraan,” pesan Ustadz Sumarno kepada pesrta kemah.

Ia mendorong agar kegiatan kemah seperti ini kelak dapat menjadi kegiatan nasional untuk anak-anak usia sekolah dasar di sekolah-sekolah ormas Hidayatullah. Selain harapannya akan membentuk karakter anak menjadi berjiwa sosial, juga diharapkan menjadi wadah silaturrahim anak-anak Indonesia.

Usai pembukaan dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, wirid, makan malam dan shalat Isya berjamaah serta beberapa kegiatan sambil membuat api unggun dilapangan utama.

Tepat pulul 03.30 siswa bangunkan dari tidurnya untuk melaksnakan shalat tahajjud secara berjamaah dan shalat shubuh.

Usai shalat shubuh siwa melaksanakan senam pagi, sarapan dan kegiatan jelajah hutan sesuai dengan kelompoknya.

Kegiatan yang berakhir pada hari Ahad pukul 10.00 wib siswa bergegas untuk pulang yang dijemput oleh orangtua masing-masing. (ybh/hio)