Beranda blog Halaman 669

Sidang Pleno Hidayatullah Agendakan Fokus Pengembangan SDM

Suasana saat rapat komisi Sidang Pleno berlangsung (FOTO: Mahladi)

Suasana saat rapat komisi Sidang Pleno berlangsung (FOTO: Mahladi)

HIDORID — Pimpinan Pusat (PP) dan Dewan Syura Hidayatullah menggelar Sidang Pleno selama 4 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat. Acara dibuka pada hari Rabu lalu dan rencanannya ditutup Sabtu (23/11/2013) esok.

Tema besar yang diangkat dalam Sidang Pleno Hidayatullah ini adalah “Memperkokoh Jamaah Membangun Peradaban Islam”. Sidang pleno ini sendiri adalah gaweannya PP Hidayatullah di setiap akhir tahun untuk evaluasi program dan perencanaan program setahun mendatang.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu ‘Ala Abdullah, mengatakan tema memperkokoh jamaah membangun peradaban Islam menjadi bahasan utama dalam pleno kali ini dalam kaitannya dengan program PP Hidayatullah setahun mendatang yang akan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pleno ini mengagendakan fokus peningkatan sumber daya manusia setahun mendatang yang mainstreamnya adalah tarbiyah dan dakwah,” kata Ir Abu ‘Ala Abdullah kepada media ini disela-sela acara sidang, Jum’at (22/11/2013).

Selain itu, lanjut Abu, tradisi hidup berkampus atau lebih populer saat ini “Hidayatullah Back to Campus”, juga menjadi bahan fokus kajian. Ia menjelaskan, hidup berkampus meskipun tidak tinggal di dalam kampus adalah follow up dari Piagam Gunung Tembak yang diterbitkan pada acara Silatnas Hidayatullah di Balikpapan, Juni 2013 lalu. .

“Pada prinsipnya seluruh jamaah Hidayatullah harus berkampus dalam arti melaksanakan kultur kultur yang ada di kampus,” jelasnya.

Selain itu, Ustadz Abu menerangkan, kampus setiap Pesantren Hidayatullah adalah swaka generasi dan miniatur peradaban Islam. Sehingga hal hal pokok yang kaitannya dengan masalah syariah, ibadah, dan muamalah, harus mencerminkan nilai nilai dasar kampus itu walaupun tinggalnya tidak di dalam kampus.

“Menjalankan kultur pesantren di mana pun berada baik di tengah masyarakat dan di dalam rutinitas pekerjaannya,” pungkas pria yang selalu ramah ini. (ybh/hio)

Hidayatullah Akan Terbitkan Panduan Praktis untuk Profesional

HIDORID — Meski pembekalan kepada kader Hidayatullah telah rutin dilaksanakan melalui program pelatihan kaderisasi berenjang (marhalah), namun ha itu dinilai tidak cukup. Untuk itu, Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah akan menerbitkan buku panduan praktis hidup keseharian untuk jamaah dan kader khususnya untuk kalangan profesional.

Hal tersebut disampaikan Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu ‘Ala Abdullah, terkait dengan perkembangan organisasi baik dari aspek kuantitas serta menilik kompleksitas amanah diemban warga Hidayatullah yang mendesak diadakannya tuntunan keseharian ukuran saku sebagai panduan aktifitas sehari-hari.

“Buku panduan praktis hidup berkampus menjadi gagasan agar bisa dibawa kader ke mana mana. Isinya mengenai bagaimana sih seharusnya kultur jamaah Hidayatullah,” kata Abu ‘Ala Abdullah kepada media ini disela-sela acara Rapat Pleno PP dan Dewan Syuro Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (22/11/2013).

Abu menjelaskan, meskipun konsepnya buku panduan praktis, namun buku ini akan ditulis dengan tidak menghilangkan kandungan ideologis dan filosofisnya.

Buku panduan ini dianggap penting sebab tidak selalu iman itu di atas. Iman bersifat fluktuatif. Sehingga Abu berharap buku panduan yang juga berisi kumpulan amalan harian ini menjadi bekal setiap kader di mana pun berada.

Abu menerangkan, sebagai organisasi terbuka, Hidayatullah bukan lagi semata pondok pesantren, lembaga penyantunan sosial, dakwah, dan layanan pendidikan publik. Namun Hidayatullah telah menjelma sebagai swaka generasi umat serta terbuka bagi mereka yang mengidamkan budaya hidup berdasarkan tuntunan agama Islam.

“Warga Hidayatullah berbeda-beda latar belakang, ada dai, ada guru, ada tukang bangunan, pengusaha, karyawan, dan juga profesional, yang kesemuanya bermuara pada satu tujuan yaitu bersama-sama membangun peradaban Islam,” tandas Abu. (ybh/hio)

Membangun Kampus-kampus Informal Hidayatullah

Wahyu Rahman (batik merah) bersama Ketua MUI Kota Cirebon

Wahyu Rahman (batik merah) bersama Ketua MUI Kota Cirebon

HIDORID — Dinamika Hidayatullah sebagai sebuah organisasi massa senantiasa berbenah. Keniscyaan itu didorong salah satunya oleh terus bekembangnya kuantitas kader. Kondisi ini memungkinkan warga Hidayatullah di mana pun untuk membagun kampus-kampus informal.

“Kampus yang ada saat ini adalah kampus formal. Namun sesungguhnya kampus-kampus informal sangat mungkin kita wujudkan lewat kemampuan seorang dai,” kata Ketua PP Hidayatullah Wahyu Rahman ditemui media ini disela-sela acara Sidang Pleno PP dan Dewan Syura Hidayatullah di Depok, Jawa Barat, Kamis (21/11/2013).

Kampus informal ini disebut dia sebagai ejawantah dari spirit Piagam Gunung Tembak yang diluncurkan Juni 2013 lalu. Jadi, tegas Wahyu, kampus-kampus informal ini bisa dan memungkinkan dibangun di mana saja sesuai dengan kemampuan setiap warga dan dai Hidayatullah.

Kata Wahyu, di mana pun berada setiap kader harus memiliki halaqah taklim dan aktif membangun silaturrahim kepada siapa pun, jika tinggal dekat pondok agar mengusahakan untuk shalat berjamaah di pesantren serta membuat komunitas “hidup berkampus” di mana dia berada. Inilah, kata Wahyu, yang dinamakan kampus-kampus informal itu.

“Kader itu harus bisa memberikan pengaruh, membentuk arus bukan ikut arus. Kader Hidayatullah sebagai dai harus mampu membuat pengaruh terhadap lingkungannya sehingga di mana pun ia berada akan tercipta lingkungan dan kultur berkampus itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini kampus-kampus formal Pesantren Hidayatullah lebih menekankan untuk pengelolaan pendidikan sebagai layanan publik untuk umat. Sehingga orang orang yang hidup di kampus sejatinya berhubungan dengan pendidikan, apakah dia pengasuh, guru, kepala sekolah.

Selebihnya itu, karena memang tempanya terbatas, Wahyu mengusulkan agar warga tinggalnya di dekat dekat kampus yang tetap menjalankan pola kepesantrenan dan budaya hidup berkampus, di mana halaqah taklim salah satu arusnya.

“Solusi untuk menjaga kultur dakwah, kita harus membuat suatu lingkungan yang mana tata kehidupannya itu dikelola dengan ala kepesantrenan,” tandasnya. (ybh/hio)

Warga Hidayatullah Harus Beri Manfaat dalam Kehidupan

Kegiatan taklim di Masjid Ummul Quro, Hidayatullah Depok

Kegiatan taklim di Masjid Ummul Quro, Hidayatullah Depok

HIDORID — Warga Hidayatullah harus punya dampak manfaat di mana pun mereka berada. Dengan memberi manfaat kelak ia akan menjadi Muslim yang membanggakan serta kehidupannya harus semakin efektif dari waktu ke waktu.

Demikian disarikan dari tausiyah Shubuh yang disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah Drs Abdul Rahman di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (21/11/2013).

Warga Hidayatullah pun, diimbau beliau untuk semakin mengefektifkan keberadaannya di ormas tersebut dalam rangka memberi manfaat kepada komunitas di mana ia berada.

“Kalau ada orang Hidayatullah yang tidak semakin efektif, itu patut dipertanyakan,” kata pria asal Surabaya, Jawa Timur ini.

Jika sudah begitu, Abdur Rahman meyakini, umat Islam akan bangga menawarkan solusi mengatasi permasalahan bangsa Indonesia dan dunia.

Lebih jauh ia menerangkan, kehidupan dunia saat ini semakin memusingkan banyak kalangan. Berbagai kemelut, masalah dan carut marut yang terjadi, tidak mampu diatasi dengan sistem buatan manusia.

Menurut Abdur Rahman, mulai Presiden SBY, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), para pejabat lain, hingga Amerika Serikat dan Barat secara umum saat ini tak mampu memberikan solusi yang efektif kepada dunia.

“SBY pusing, KPK pusing, yang lain-lain pusing, banyak yang korupsi mau ditangkapi semua, tapi penjaranya nggak cukup,” ujarnya di depan ratusan santri dan para ustadz Pesantren Hidayatullah.

Kepusingan ini, jelasnya, salah satunya disebabkan aturan dan perundang-undangan dunia secara umum yang cenderung mengikuti kemauan Syetan.

Dikatakan dia, Syetan diturunkan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai penguji manusia. Makhluk terlaknat ini menyihir manusia untuk tidak menjalankan sistem Al-Qur’an. Syetan dinilai menggunakan berbagai sarana untuk memuluskan langkahnya.

“(Misalnya) HP (handphone. Red) dijadikan syetan untuk menyihir manusia. (Begitu pula) wanita, dan lain-lain sebagainya,” jelasnya.

Abdur Rahman mengatakan, solusi untuk mengatasi sihiran syetan dan kegalauan tingkat dunia adalah dengan kembali kepada sistem yang dibuat Allah melalui wahyu-Nya.

Kitab Al-Qur’an, kata dia, harus dibumikan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini. Sehingga manusia sepatutnya fokus menjalani perintah Allah.

“Tidak ada urusan yang lebih penting daripada urusan dengan Allah,” tegasnya.

Seorang Mukmin pun, lanjutnya, tidak menjadikan dunia sebagai sesuatu yang melenakan dari mengurus agama Allah.

Kehadiran Abdur Rahman di Depok dalam rangka mengikuti pertemuan segenap jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah yang berlangsung di Cilodong sejak Rabu (20/11/2013) kemarin.* (Skr aljihad)

Kuliah Dai Mandiri Hidayatullah Kembali Digelar di Kaltim

Sejumlah peserta pelatihan dai berfoto bersama
Sejumlah peserta pelatihan dai berfoto bersama
Pembukaan KDM TD di Samarinda
Pembukaan KDM TD di Samarinda

HIDORID — Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kalimantan Timur kembali menyelenggarakan kelas Kuliah Dai Mandiri Tadribut Duat (KDM-TD) di Kota Samarinda, Kaltim. Program yang didukung oleh Majelis Taklim Telkomsel (MTT) dan Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) akan berlangsung selama setahun tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Ketua Departemen Dakwah PP Hidayatullah Shohibul Anwar saat membuka dan meresmikan dimulainya program KDM ini, mengatakan program ini digelar dalam rangka memvitalisasi peran dai di masyarakat sebagai penggerak pembangunan umat. Dengan bekal kecakapan ilmu dan kompetensi diri yang baik sebagai dai, diharapkan umat lebih tercerahkan.

Program yang diselenggarakan PW Hidayatullah Kalimantan Timur ini diselenggarakan di Kota Samarinda kalimantan timur dan diikuti oleh 30 calon dai yang siap dikirim keberbagai daerah tugas setelah mengikuti proses penggemblengan selama satu tahun.

Peresmian program lanjutan KDM-TD tersebut juga dibarengan dengan kegiatan Pelatihan Dai se-Kalimantan Timur dan Selatan (6–11/10/2013) lalu yang didukung oleh Majelis Taklim Telkomsel, Keluarga Muslim Menara Jamsostek (KMMJ) Jakarta, dan Dewan Kemakmuran Masjid Bakrie Tower Jakarta. Bertema “Bersama Dai Membangun Negeri”, acara ini juga diisi dengan Training of Trainer (TOT) Super Life Revolution. Acara ini diikuti puluhan peserta yang merupakan dai utusan dari kabupaten – kabupaten yang ada di Kalimantan Timur dan beberapa dari Kalimantan Selatan. (pos/hio)

BERITA FOTO: Abdul Mannan Buka Sidang Pleno PP dan Majelis Syura Hidayatullah

0
Ketum PP Hidayatullah buka sidang pleno
Ketum PP Hidayatullah buka sidang pleno

Ketua Umum PP Hidayatullah Dr H. Abdul Mannan membuka secara resmi acara Sidang Pleno PP Hidayatullah dan Majelis Syura Hidayatullah bertempat di Gedung Hidayatullah Training Center, Kampus Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (20/11/2013) pagi. Acara ini berlangsung mulai hari ini, Rabu (20/11/2013) sampai hari Sabtu (23/11/2013) mendatang. (mah/hio)

 

 

Hidayatullah Yogyakarta Raih 19 Piala dari POSPEDA Sleman

0
Para juara dengan tropi kebanggaannya

Para juara dengan tropi kebanggaannya

HIDORID — Haris Sunandar tersenyum bahagia. Kalimat tahmid beberapa kali terapal dari mulutnya.

Kebahagiaan itu membuncah sesaat setelah santri asal Banyuwangi, Jawa Timur itu mengalahkan lawanya dalam lomba Pencak Silat tingkat Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren (POSPEDA) Kabupaten, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama 6-7 November.

Santri Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Yogyakarta yang berbadan tinggi besar ini berhasil meraup poin cukup telak setelah beberapa tinjunya mengenai tepat di dada lawan.

“Alhamdulillah, akhirnya juara satu juga,” tuturnya semringah.

Senada yang dirasakan  Muhammad Rizki. Santri kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hidayatullah itu juga melenggang mulus ke tingkat final setelah memukul mundur beberapa lawan dari pesantren lain.

Di tingkat final itu, santri asal Lampung yang baru pertama kali ikut lomba itu bisa menggondol juara satu di cabang Pencak Silat.

Tidak hanya di cabang olah raga bela diri yang diadakan selama dua hari di daerah komplek Bupati Sleman. Para santri pesantren yang terletak di dusun Balong, Donoharjo, Sleman itu juga berhasil memborong sekitar 19 piala dari berbagai cabang olah raga dan seni. Seperti: bola voli, bulu tangkis, tolak peluru, lari, cipta puisi, dan pidato bahasa Inggris. Rata-rata santri merebut juara satu, dua, dan tiga.

Kejuaaran paling seru diraih saat mengikuti lomba bulu tangkis. Maklum, para lawan dari pesantren lain memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap enteng.

Bahkan, salah satu musuh di lini single, Fikri, harus berhadapan dengan lawan dari Muhammad Boarding School (MBS) yang pernah masuk tingkat provinsi.

Kendati begitu tidak membuat santri asal kota Gudek ini keder. Dia tampil maksimal dengan smash–smash menukik. Dia bahkan bertahan main hingga tiga set.

Namun akhirnya dia harus mengakui kemampuan lawannya yang berada satu tingkat di atasnya.

“Meski kecil, tapi kemampuan lawan saya tadi luar biasa. Dia pantas jadi juara satu,” ujarnya.

Sedangkan di jalur perseorangan ganda putra yang diwakili Fiqi Setiadi dan Ahmad Fuadi berhasil merebut juara satu.

Untuk merebut peringkat ini, mereka harus menyisihkan lawan dari pesantren lain.

Untung saja, kemampuan dua pebulu tangkis Hidayatullah ini bisa mengalahkan mereka. Dengan tidak mendapat perlawanan cukup sengit, mereka dengan mudah bisa menggondol medali juara satu.

Sementara, untuk kompetisi cipta puisi juara satu diraih Aziz. Dia mengangkat tema masalah korupsi. Tema itu sengaja diambilnya sebagai kritik dan ekspresi kebencian pada korupsi yang seperti lingkaran setan yang tak pernah berakhir di negeri ini.

“Semoga bisa menjadi otokritik bangsa ini,” terangnya.

Mengkritisi terorisme, pidato bahasa Inggris (English speech contest) juara ketiga diraih oleh Faza Auliya Rabbi.

Faza mengangkat tema peran pesantren dalam menanggulangi terorisme. Tema ini adalah salah satu dari empat pilihan panitia.

Dalam materi ceramahnya, santri asal Jawa Timur ini melihat terorisme dalam skala global.

Katanya, isu terorisme yang terjadi di dalam negeri tidak serta merta terjadi begitu saja, melainkan efek dari politik global.

“The terrorism issue happened because of the clash of civilization between west and Islam as Samul P Huntington said in his book,” katanya.

Dia merujuk pada tesis ilmuan politik dari Harvard University, Samuel P Huntington dalam bukunya, “The Clash of Civilization and the Remarking of World Order”.

Dalam buku yang pernah menggoncang perpolitikan Barat itu disebut bahwa satu-satunya ancaman peradaban Barat adalah Islam.

Adapaun konflik kapitalis-Barat versus Marxis-Komunis hanya konflik sesaat. Berbeda dengan Islam yang memiliki konsep dan nilai peradaban yang jelas dan mengakar.

Buktinya, pasca tragedi September 2001 runtuhnya World Trade Center (WTC), Amerika Serikat melakukan kebijakan politik luar negeri apa yang disebut ‘war on terrorism.’

Materi pidato Faza bernuansa analisa-kritis dan boleh dibilang cukup berbeda dari mainstream sudut pandang peserta lainnya.

Karena itu, santri yang akrab disapa Faza ini tidak begitu yakin jika masuk tiga besar.

“Alhamdulillah, ternyata bisa masuk tiga besar juga. Nggak nyangka,” ujarnya.

Setelah usai lomba, para santri dan juga supporter yang sengaja dibawa dari Pesantren untuk memeriahkan jalanya lomba pulang bareng naik mobil pick up.

Selama di perjalanan mereka tampak gembira sambil mengangkat tropi mereka.*/kiriman Syaiful Anshor (Yogjakarta)

“Back to Campus”, Hidayatullah Perkuat Miniatur Peradaban

0
Acara focus group discussion tema

Acara focus group discussion tema “Back to Campus”

HIDORID — Memperluas jaringan dakwah Islam, satu program bernama “Hidayatullah Back to Campus” akan diluncurkan. Salah satu tujuannya menguatkan miniatur peradaban Islam yang telah dibangun ormas ini melalui ratusan pesantrennya.

Sebagai awal, digelar Sarasehan Dakwah di Aula
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Depok, Jawa Barat, Selasa, 15 Muharram 1435 H (19/11/2013). Dalam acara ini, berlangsung diskusi terkait program tersebut.

Pembicara pertama, Staf Program Persaudaraan Dai Indonesia (Pos Dai) Muhammad Suhael. Dalam
paparannya mengatakan, metode dakwah dalam
program tersebut harus benar, sesuai ajaran
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dari program ini, dia berharap, Hidayatullah mampu merekrut dan membina kader-kader dari kalangan akademisi. Dari situ akan lahir para dai yang siap diterjunkan di mana saja.

Pembicara kedua, Ketua Umum PP Syabab
Hidayatullah, Musliadi, melontarkan masukan.
Sebelum fokus pada “back to campus”, Hidayatullah harus sudah siap dengan infrastrukturnya, seperti pengadaan asrama mahasiswa dan penunjukan murabbi. Musliadi juga mengusulkan, agar kampus internal milik lembaga ini dijadikan sebagai kampus wisata religi. Salah satu tujuannya untuk menarik perhatian bagi mahasiswa binaan nantinya.

“Dakwah itu perlu trik, tidak dengan apa adanya.
Sesuatu (dakwah, Red) yang dikelola dengan apa
adanya akan menghasilkan orang yang apa adanya juga,” dalihnya.

Syabab Hidayatullah pun, imbuhnya, siap mendukung program “Hidayatullah Back to Campus”. “Ayo kita jalan sama-sama,” tandasnya.

Gerakan Ideologis
Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat PP Hidayatullah Drs Tasyrif Amin mengatakan,
Hidayatullah merupakan gerakan ideologis berbasis pesantren.

“Disinilah terperaga Islam secara kultural. Tapi harus dipahami bahwa di perguruan tinggi hari ini banyak orang bingung setelah mendapat kajian dari mana- mana,” ujarnya, seraya menguatkan bahwa Hidayatullah jangan membuat arus peradaban Islam di lingkup pesantren saja.

Sementara Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah
(Mushida), Reni Susilowati menyampaikan,
pengkaderan dan pembinaan mahasiswa maupun
mahasiswi harus dikerjakan secara serius.

“Secara empiris, orang-orang yang hadir di sini adalah hasil dari rekrutmen di kampus-kampus (PT),” lanjutnya.

Salah seorang panitia inti acara sarasehan Naspi
Arsyad, mengatakan, program ini melibatkan berbagai instrumen internal Hidayatullah.

“(Tujuan acara ini) menyatukan persepsi, tentang
keinginan dakwah ke kampus-kampus perguruan
tinggi ini. Diharapkan agar kiranya dari sarasehan ini, ada kelompok kerja (pokja) yang menggodok ini,” terang Naspi.

Sarasehan ini dihadiri sejumlah pengurus PP
Hidayatullah, termasuk Ustadz Ahkam Sumadiana dan Ustadz Khairil Baits. Keduanya mendukung penuh program dakwah “back to campus”.

Program tersebut disinergikan pula dengan Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Jabodebek, Hidayatullah Training Center (HiTC), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIEHID. Skr aljihad

Dakwah di Kampus Harus Tetap Waspadai Isu Liberalisme

HIDORID — Meski isu liberalisme belakangan ini agak surut, namun tetap perlu diwaspadai dan dihadang. Gerakan dakwah Islam di berbagai kampus perguruan tinggi (PT) sepatutnya tetap mencermati hal ini.

Demikian salah satu intisari pesan yang disampaikan Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat PP Hidayatullah Drs Tasyrif Amin pada acara Sarasehan Dakwah “Hidayatullah Back to Campus” di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 15 Muharram 1435 H (19/11/2013) pagi.

Tasyrif mengatakan, ormas Islam harus terjun
menghadang pemikiran kebebasan beragama di
berbagai PT. Program “back to campus” dinilai salah
satu usaha ke arah situ.

Tasyrif pun siap bahkan menawarkan diri untuk
diterjunkan langsung, termasuk di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang selama dikenal “sarangnya pemikir liberal”.

Menurutnya, berdakwah di PT ini tidak lagi dengan
metode kajian kitab. Tapi dengan metode lain yang
mampu melawan pemikiran kebebasan beragama.

“Bagaimana meruntuhkan dikotomi ilmu yang
melahirkan orang-orang liberal,” ujarnya.

Tasyrif mengatakan, gerakan dakwah di PT harus
menyesuaikan kondisi kampus masing-masing. Hal ini guna memuluskan pembangunan peradaban Islam.

Dia juga mengimbau, segenap institusi internal
Hidayatullah harus bersinergi dalam program dakwah tersebut.

“Inti acara ini bagaimana sinergi langkah untuk
membangun dakwah di kampus-kampus perguruan
tinggi,” ujar Naspi Arsyad, salah seorang panitia
kepada Hidayatullah.com di sela-sela acara yang
diikuti setidaknya 17 orang pemangku kepentingan
itu. (Skr aljihad)

Indonesia Butuh Banyak Dai untuk Pembangunan Umat

HIDORID — Negara Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas semakin membutuhkan partisipasi sentral para dai dalam perannya sebagai informal leader di masyarakat guna untuk menggerakkan pembangunan umat dan bangsa.

Demikian benang merah taushiah disampaikan Ketua PP Hidayatullah Naspi Arsyad saat bersilaturrahim dengan mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Depok, Jawa Barat, Ahad (17/11/2013) sore.

Kepada para calon dai dan guru agama yang tergabung dalam Mahasiswa Hidayatullah LIPIA Jakarta (el-MAHALLI) tersebut, Naspi berharap mereka sejak dini mempersiapkan diri untuk mengemban tugas dakwah.

Pada kesempatan silaturrahim yang berlangsung hangat itu, Naspi juga menyampaikan harapan besar umat kepada belasan anggota el-MAHALLI yang hadir. Bahwa mereka telah dinanti perannya di berbagai daerah se-Indonesia yang masih kekurangan dai kompeten seperti alumnus LIPIA.

Mereka juga diimbau untuk mulai membiasakan diri ceramah, karena seorang akademis tak cukup memiliki ilmu. Namun juga harus memiliki kecakapan menyampaikan ilmu yang dimiliki kepada umat.

“Kekurangan yang ada bisa dijadikan sebagai tantangan, bahwa di situlah jihadnya kalian. Dakwah itu dibutuhkan pada saat terjadinya ketidakstabilan. Ketika ada keterbatasan di Hidayatullah, jadikan itu asbab bagi kita untuk melakukan dakwah,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu para mahasiswa diimbau untuk meluruskan niat dalam melakukan aktifitas dakwahnya kelak, sebab dakwah adalah jalan pilihan yang tidak ringan dilalui.

Naspi pun berbagi pengalamannya selama ini. Dia mengungkap, penghasilannya sebagai seorang pengurus pesantren di Depok sudah habis di tiap awal-awal bulan. Namun kenyataannya, dia dan rekan-rekannya di pesantren tetap eksis hingga saat ini.

Saat masih di Pesantren Hidayatullah Balikpapan pun, tuturnya, dia pernah mendapat natura Rp 450 ribu per bulan. Walau segitu, dia masih bisa terbang ke Jakarta biasanya sekali sebulan untuk memenuhi panggilan dakwah.

Seringnya dia bolak-balik Jakarta-Balikpapan PP, lanjutnya, membuat kawan-kawan Naspi di luar pesantren heran. Mereka tidak percaya jika dia hanya mendapat natura bulanan tak sampai setengah juta rupiah.

“Jangan menghitung dengan otak, tapi dengan iman. Orang beriman itu apa yang di tangannya tidak dilihat seperti itu, karena apa yang ada di tangan Allah lebih besar,” pesan mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur ini. (Skr aljihad)