Beranda blog Halaman 670

Fa Tabayyanuu!

ist / net
ist / net

SALAH satu penyakit kronis manusia adalah tergesa-gesa, dan itu pasti ditegakkan di atas pondasi kemalasan untuk berpikir serta menimbang secara jernih.

Paling tidak, dua kali Allah memperingatkan kita dari sifat buruk tersebut. Dalam surah Al-Isra’ ayat 11, Allah berfirman:

“Manusia memohon untuk suatu keburukan sebagaimana ia memohon untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”

Di lain tempat, dalam surah Al-Anbiya’ ayat 37, Allah juga berfirman:

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

Di zaman kita, fenomena ketergesaan itu sangat kentara; terlebih ketika teknologi informasi memungkinkan siapa saja untuk menulis apa saja, dan – di saat bersamaan – dia juga bisa menyebarkan apa saja yang dia copy-paste dari siapa saja. Pemilu dan kampanye adalah ladang pembuktian ketergesaan itu.

Betapa banyak berita berseliweran di sekitar kita, tanpa bisa diverifikasi sumber dan asal-muasalnya. Hanya dengan mengetikkan beberapa huruf, maka jutaan entri informasi akan tersaji dalam hitungan detik. Akan tetapi, apakah semua itu valid dan bisa dipercaya?

Sedih, sebab antar sesama muslim saling serang, bahkan berani mengkafirkan satu sama lain, hanya bermodalkan informasi-informasi yang tidak bisa diverifikasi validitasnya.

Ngeri, sebab banyak orang sepertinya tidak peduli perihal kebenaran informasi yang ia sebarkan – seringkali – secara berantai dari satu akun ke akun lain, dari satu nomer hp ke nomer lain. Benar-benar tidak bertanggung jawab!

Sekarang, saya baru mengerti mengapa Imam Bukhari mengaku hafal 300.000 hadits, akan tetapi yang dimasukkan ke dalam kitab Shahih-nya hanya berkisar 7.500. Imam Ahmad bahkan menghafal 1.000.000 riwayat, namun Musnad-nya hanya memuat sekitar 27.600. Kemana yang lain? Ya, mereka menyaring dan memilihnya. Mana yang tidak bisa dipercaya dibuang, dan mana yang dapat dipegangi dilestarikan.

Saya juga teringat bagaimana seorang Qadhi Baghdad dan ulama’ besar yang memiliki pengetahuan teramat luas, yakni Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, justru dicap sebagai pendusta dalam periwayatan hadits. Ilmunya sangat mengagumkan, sampai-sampai diperlukan 120 ekor unta untuk mengangkut buku-buku dari perpustakaan pribadinya!

Menurut Imam adz-Dzahabi, al-Waqidi dianggap dha’if (lemah) dalam periwayatan hadits bukan karena sengaja berbohong, tapi karena tidak berhati-hati dan tidak memilah sumber-sumbernya alias dicampur begitu saja. Umat harus dilindungi dari orang-orang seperti ini, yang serampangan mengumbar informasi, sehingga para ulama’ pun menolak riwayat-riwayat yang diceritakannya.

Betapa bertanggungjawabnya mereka! Andai mereka berlaku asal-asalan seperti kita dewasa ini, yang gemar meneruskan segala informasi tanpa ditimbang sedikit pun, pasti kaum muslimin telah tersesat sejak lama. Untung saja generasi mereka dilahirkan lebih dahulu, sehingga agama kita terlindungi. Andai generasi kita yang tampil sebelum mereka, kemurnian Islam pasti tinggal cerita tanpa bukti.

Inilah yang membedakan generasi kita dengan mereka. Ketika Allah berfirman “fa tabayyanuu…”, generasi Imam Ahmad dan Imam Bukhari patuh, lalu menyeleksi setiap informasi yang mereka terima sebelum diteruskan kepada orang lain. Allah pun memberkahi mereka dengan kejayaan dan keselamatan.

Firman itu masih bergema sampai sekarang, namun kita pura-pura tuli dari seruannya. Kita langsung mengobral apa saja yang kita dengar, baca, ketahui; tanpa melalui saringan maupun verifikasi, bahkan tidak juga dipikirkan barang sedikit pun! Maka, sudah semestinya bila Allah menghukum kita dengan kegoncangan, carut-marut, dan kehilangan arah tujuan!

_________

[*] Alimin Mukhtar,  Kamis, 21 Sya’ban 1435 H

 

 

Hidayatullah Nunukan Terima Anugerah Adiwiyata

penerima adiwiyata nunukanHidayatullah.or.id — Atas kepedulian dan aksi nyata terhadap lingkungan hidup, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan, Kalimantan Timur, mendapatkan penghargaan Anugerah Adiwiyata dari Pemerintah Kabupaten Nunukan. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Bupati Nunukan Drs. H. Basri saat peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, Senin (16/06/2014) lalu.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati untuk meningkatkan kesadaran manusia dalam mengambil tindakan positif terhadap dunia yang semakin rusak. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Seduania Tahun 2014 di Kabupaten Nunukan dilaksanakan pada hari ini senin (16/06/2014). Kegiatan yang berlangsung sekita pukul 06.00 Wita tersebut dilaksanakan di halaman di Kantor Gabungan Dinas I Setkab. Nunukan Jl. Ujang Dewa Sedadap.

Hadir pada acara tersebut Bupati Nunukan, Wakil Bupati Nunukan, Unsur FKPD Nunukan, perwakilan dari Pesantren Hidayatullah Nunukan, beserta seluruh Kepala SKPD Kabupaten Nunukan.

Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan H.M. Shaberah,S.Ag. MM, Kasubag TU Kementerian Agama Kabupaten Nunukan Hamzah,S.Ag, dan Humas Kementerian Agama Kabupaten Nunukan Sayid Abdullah, SH sebagai petugas pembacaan do’a pada kegiatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2014 Tingkat Kabupaten Nunukan ini.

Peringatan ini juga dihadiri oleh siswa siswi dari sekolah-sekolah yang ada di Nunukan dan para perwakilan Sekolah penerima Adiwiyata Tingkat Kabupaten Nunukan Tahun2014.

Selain Kegiatan Seremoni Peringatan Hari Lingkungan Hidup, Panitia Penyelenggara Kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Nunukan (BLHD) Juga mengadakan jalan santai bersih-bersih Pantai Ecing Nunukan yang merupakan salah satu tempat Pariwisata andalan masyarakat Nunukan yang ada di Kecamatan Nunukan Selatan.

Dalam kegiatan tersebut Pemerintah Kabupaten Nunukan menyerahkan penghargaan Adiwiyata Tahun 2014 kepada Pesantren Hidayatullah yang dinilai memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian Lingkungan di Tingkat Kabupaten Nunukan.

Tahun ini seleksi Adiwiyata bagi sekolah ada 21 yang berhak menerima untuk tingkat Kabupaten, diantara 21 sekolah tersebut 11 diantaranya ikut seleksi ditingkat Provinsi dan 2 Sekolah di Tingkat Nasional.

Pada tanggal 5 Juni 2014 lalu Pemerintah RI menyerahkan Piagam sertifikat Adipura Kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan yang langsung di terima oleh Bupati Nunukan di Jakarta. Sementara pada bulan November nanti akan diadakan penilaian Tingkat nasional, sertifikat tersebut diberikan Pemerintah Pusat, sebagai penghargaan Kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan yang turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian Lingkungan di Daerah Kabupaten Nunukan.

Dalam sambutannya Bupati Nunukan Drs.H. Basri mengajak seluruh masyarakat Nunukan dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup ini.

“Jangan melihat terlalu jauh, lihat dulu di sekitar kita. Kebersihan itu dimulai dari diri, keluarga, lingkungan sekitar rumah kita, dan kantor kita. Baru setelah itu kita melihat keluar,” kata Basri.

Bupati juga menyampaikan bahwa Kebersihan itu ada di dalam hati kita, karena Kebersihan adalah sebagian dari Iman, ujarnya. (hum/hio)

BUMN Dukung Desa Berbasis Pesantren Hidayatullah

Salah satu sudut desa Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan / HIO
Salah satu sudut desa Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan / HIO

Hidayatullah.or.id — Dalam upaya menjalin kerjasama dan menjalankan program BUMN Membangun Desa yang diintruksikan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan sekitar dua tahun lalu, Direktur Utama PT. BUMN Hijau Lestari I Ir. Ali Rahman bersama Assisten Manager wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur Didi Suhayadi dan Staf Pengembangan Bisnis Nurdin Hardiansyah berkunjung ke Kantor Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jalan Mulawarman, Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kalimantan Timur, Senin, 10 Maret 2014 lalu.

Sekitar pukul 10.00 WIB rombongan PT. BUMN Hijau LestariI tiba di lokasi. Para pengurus menyambut dengan hangat serta menyampaikan penuh rasa syukur atas kunjungan dan silaturahmi Ali Rahman beserta tim.

Rombongan PT. BUMN Hijau Lestrai I diajak ruang aula/pertemuan Pondok Pesantren Hidayatullah untuk berdialog bersama dengan sejumlah pengurus pesantren. Pondok Pesantren Hidayatullah sendiri merupakan salah satu pondok pesantren besar di Indonesia yang memiliki kurang lebih 300 cabang yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

“Kami mengapresiasi konsen Hidayatullah pada lingkungan dan penghijauan yang sangat baik dan sudah digeluti sejak lama, terbukti dengan penghargaan Kalpataru yang diraih Pesantren Hidayatullah pada tahun 1984,” kata Dirut PT BUMN Hijau Lestari I Ir Ali Rahman dalam kesempatan tersebut.

Salah satu pengurus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Ustadz Nasrullah dalam sambutannya mengatakan Pesantren Hidayatullah sering mendapatkan perhatian dari pemerintah terutama yang berkaitan dengan lingkungan.

“Seperti Kementerian Agama, Kementerian Kehutanan mereka pernah berkunjung ke Ponpes Hidayatullah,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Hidayatulah yang berlokasi di desa bilangan Gunung Tembak ini memiliki luas kurang lebih 100 ha, sebagian besar lahan sudah digunakan untuk fasilitas pendidikan dan sarana ibadah, kolam, dan sisanya masih berupa lahan kosong yang siap dikerjasamakan dengan PT. BUMN Hijau Lestari I.

“Kami sangat bersyukur dan ini karunia yang sangat besar, yang dilatarbelakangi oleh kunjungan Bapak Dahlan Iskan Menteri BUMN yang langsung merespon harapan kami ditempat ini,” kata Nashrul.

“Semoga ini menjadi amal jariyah bagi beliau, bapak yang mendampinginya dan satu bentuk perhatian kita kepada lingkungan,” tambahnya.

Dalam Program BUMN Membangun Desa berbasis Pondok Pesantren, PT. BUMN Hijau Lestari I sudah bekerjasama kurang lebih dengan 50 pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dalam sambutannya Ir.Ali Rahman mengungkapkan bahwa masalah lingkungan menjdi masalah kita semua tidak bisa diselesaikan dengan proyek-proyek dan cara seperti biasa.

“Kami mencoba mengembangkan konsep Agrosilvopastoral yaitu mengkombinasikan antara peternakan, kehutanan, dan perkebunan. Karena sejatinya berbicara Sumber Daya Alam (SDA) adalah integrasi dari tiga komponen tadi,” tutur Ali Rahman.

Dengan banyaknya kontribusi penghijauan dari berbagai pihak atau kalangan masyarakat, semoga negeri ini tetap hijau dan lestari, demikian harap Ali Rahman. (ybh/hio)

Syabab Hidayatullah Sebagai Gerakan Moral Bangsa

0

Baca berita terkait: Syabab Harus Mempelopori Gerakan Moral Bangsa

[youtube width=”600″ height=”338″ src=”eqSTKadcDVQ”][/youtube]

Nikah Mubarokah di Sempaja

0

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda bekerjasama dengan Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Samarinda, Kalimantan Timur, menggelar helatan akbar pernikahan mubarokah (Walimatul ‘Ursy) sebanyak 14 pasang santri. Acara ini berlangsung semarak dan hikmad di komplek Kampus Hidayatullah Sempaja, Samarinda. Berikut ini beberapa oleh-olehnya:

FOTO/ TEKS: Yacong B. Halike Maringngerang

 

Mempelai wanita ditempatkan di lokasi undangan wanita. Acara khas Hidayatullah ini memang sengaja memisahkan undangan antara laki dan perempuan agar tak terjadi ikhtilath / YBH
Mempelai wanita ditempatkan di lokasi undangan wanita. Acara khas Hidayatullah ini memang sengaja memisahkan undangan antara laki dan perempuan agar tak terjadi ikhtilath / YBH
Peserta nikah mubarak pria / YBH
Peserta nikah mubarak pria / YBH
Detik detik jelang acara ijab qabul.  / YBH
Detik detik jelang acara ijab qabul. / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH

Karena Mereka Tidak Mengerti

bersujud pada Allah TaalaMANUSIA, karena kebodohan dan pikiran dangkal, atau tumpukan dosa dan propaganda jahat, acapkali membenci apa yang sebetulnya baik baginya. Ada banyak kisah yang bisa kita ceritakan, dari zaman terkini sampai terkuno.

Banyak santri yang masuk pesantren dengan setengah dipaksa orangtuanya. Pada awal tahun ajaran baru, hampir setiap hari mereka menangis, dengan berbagai alasan. Setiap kali hari kunjungan orangtua tiba, mereka hanya punya satu permintaan: “pindah!”.

Tapi, setelah hari-hari yang penuh keluhan itu mereka lalui, dengan segala lika-liku dan perjuangan semua pihak, mereka pun bertahan di Pesantren sampai enam tahun, mulai SMP sampai SMA.

Sebagian malah ingin tetap di Pesantren saja, meski belum ada Perguruan Tinggi tempat mereka belajar. Ada juga yang kemudian menikah dan secara sukarela memilih untuk mengabdikan diri di tempat yang dulu mereka benci itu.

Saya bertanya kepada anak-anak itu, “Kenapa dulu menangis dan tidak mau di Pesantren?” Mereka hanya tertawa, tersipu-sipu malu. Ya, menertawakan dan malu pada kepicikan dirinya sendiri, tapi sekaligus bersyukur ada orang-orang yang sangat peduli pada kebaikan mereka dan dengan teguh mempertahankan cita-cita itu, meski mereka tidak paham bahkan sangat jengkel.

Begitulah mestinya keteguhan para dai, guru, dan orangtua; seteguh para Rasul dalam meyakinkan kaumnya. Sungguh, kebanyakan anak-anak dan umat tidak mengerti apa yang mestinya baik bagi mereka, sehingga memusuhi para penyerunya dengan sengit.

Tidakkah kita mengingat Umar bin Khatthab dan permusuhannya kepada Islam? Bagaimana dengan Khalid bin Walid, pemimpin pasukan berkuda Quraisy yang menghancurkan barisan para Sahabat dalam Perang Uhud? Lihatlah Amr bin Ash yang dengan segala cara merayu Najasyi agar mengusir Ja’far bin Abi Thalib dan para Sahabat yang berhijrah ke Habasyah!

Tapi, itu sebelum mereka mengenal kebaikan Islam. Setelah hatinya terbuka, tiba-tiba mereka menjadi bagian dari para pembela Islam yang paling mengesankan dalam sejarah. Umar bin Khatthab, jangan tanya lagi apa prestasinya, terlalu banyak untuk diceritakan. Khalid bin Walid, panglima yang melalui kepemimpinannya Allah memulai penjungkiran Kekaisaran Persia. Amr bin Ash, melaluinya garnisun-garnisun Romawi di Mesir dan Alexandria dihancurkan, dan tidak pernah tegak kembali.

Begitulah, terkadang diperlukan upaya ekstra untuk membuat manusia dapat mencicipi kebaikan Islam. Mereka mungkin akan melawan, marah, memusuhi, benci, dan kitalah yang harus bersabar. Mereka hanya tidak mengerti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجِبَ اللَّهُ مِنْ قَوْمٍ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ فِي السَّلَاسِلِ

Artinya: “Allah merasa takjub kepada orang-orang yang masuk surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.” (Riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah).

عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ

Artinya: “Tuhan kita merasa takjub terhadap kaum yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah).

اِسْتَضْحَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ : عَجِبْتُ لِأَقْوَامٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ وَهُمْ كَارِهُونَ

Artinya: Nabi tertawa, lalu ditanyakan, “Apa yang membuat Anda tertawa?” Beliau menjawab, “Saya merasa takjub kepada kaum-kaum yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai, padahal sebenarnya mereka sangat tidak mau.” (Riwayat Thabrani dalam al-Kabir, dari Abu Umamah).

ضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ : أَلَا تَسْأَلُوْنِي مِمَّ ضَحِكْتُ؟ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ مِمَّ ضَحِكْتَ؟ قَالَ : رَأَيْتُ نَاسًا يُسَاقُوْنَ إِلَى الجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ . قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ : قُوْمٌ مِنَ الْعَجَمِ يَسْبِيْهِمُ الْمُهَاجِرُوْنَ فَيُدْخِلُوْنَهُمْ فِي الْإِسْلَامِ

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa kemudian bersabda: ‘Tidakkah kalian bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?’ Para Sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa Anda tertawa?” Beliau menjawab: ‘Aku melihat sekelompok orang yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.’ Para Sahabat bertanya lagi: ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka?’ Beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang non-Arab yang ditawan kaum Muhajirin (dalam peperangan), lalu dibuat masuk Islam.’” (Riwayat Thabrani, dari Abu Thufail).

Siapkah Anda membawakan Islam kepada orang-orang yang tidak tidak mengerti itu dan bersabar menggiring mereka ke surga, meski mereka tidak mau dan sangat keberatan?

Allah berfirman, “Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah!” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).

Wallahu a’lam.

______________
ALIMIN MUKHTAR, penulis adalah alumni STAIL Hidayatullah Surabaya dan saat ini pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.

Rakornas Dorong Penerapan Pendidikan Berbasis Tauhid

rakornas pendidikan hidayatullah surabaya 2 rakornas pendidikan hidayatullah surabayaHidayatullah.or.id — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah Dr. H. Abdul Mannan, mengingatkan kepada penyelenggara pendidikan di Hidayatullah untuk menginternalisasi spirit Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai manhaj (konsep) gerakan ormas Hidayatullah.

Demikian ditegaskan Dr H Abdul Mannan saat menyampaikan pengarahan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah di Surabaya, beberapa hari lalu (05/06/2014).

Proses internalisasi tersebut yang berbasis pada Tauhidullah (mengesahkan Allah), tegas beliau, hendaknya dibarengi dengan upaya transformasi nilai kepada seluruh khalayak peserta didik.

“Pendidikan Hidayatullah di tengah dinamika globalisasi saat ini harus segera berbenah dengan spirit SNW. SNW melahirkan konsep komando, sehingga setiap kader harus sam’an wa to’atan,” kata beliau saat menyampaikan pengarahan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah di Surabaya, beberapa hari lalu (05/06/2014).

Imbauan itu ditegaskan Ketua Umum Hidayatullah dalam sesi pembahasan tema “Pendidikan Integral Hidayatullah sebagai Rekayasa Masa Depan” di arena acara Rakornas Pendidikan Hidayatullah berlangsung di Surabaya selama 3 hari.

Beliau menyatakan bahwa pendidikan Hidayatullah harus melakukan standarisasi berbagai aspek meliputi standar Sumber Daya Manusia (SDM), standardisasi Manajemen, dan standardisasi kurikulum.

“Standarisasi ini kemudian disusul dengan sentralisasi sistem organisasi Sehingga setiap kebijakan dapat diterapkan secara menyeluruh,” terangnya.

Ketua Umum juga menerangkan bahwa segala aktivitas yang tidak dilandasi oleh pemikiran ontologis adalah rapuh. Untuk itu dalam mekanisme pendidikan di Hidayatullah, guru sekaligus berperan sebagai pendidik serta pengayom yang dituntut harus punya hipotesa untuk menganalisis setiap problem edukasi yang bersifat konkret karena tanpa hipotesa guru akan passif.

“Maka segala aktivitas pendidikan harus berdasarkan Tauhid. Guru harus mengantarkan peserta didiknya untuk mendeklarasikan falsafah hidup,” ungkapnya.

Untuk dapat mengintegrasikan antara upaya transformasi nilai Ilahiyah dengan kecakapan pendidikan maka semua guru harus memiliki Tauhid yang super, sehingga bisa mengantarkan peserta didiknya bertauhid dengan benar dan bisa mengantarkan peserta didiknya untuk memahami manhaj SNW.

Beliau juga mendorong kepada segenap kader dan jamaah Hidayatullah untuk menjadikan diri, keluarga, dan lingkungan sebagai penggerak peradaban Islam karena setiap pendidik adalah mediator ilmu dari Allah untuk ditransfer kepada peserta didik.

Konsolidasikan 50.000 Murid
Rakornas pendidikan Hidayatullah ini diikuti berbagai perwakilan dari beberapa kota besar di Indonesia, termasuk dari Surabaya. Rapat koordinasi nasional Hidayatullah ini satu diantara tujuannya adalahuntuk mengkonsolidasikan sekurangnya 50.000 siswa mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menegah Atas (SMA).

Panitia pelaksana Zainal Mutaqin, mengatakan Selain silaturrahim dengan para kerabat dari seluruh Indonesia. Rakornas ini juga membahas konsolidasi sekaligus bagaimana mewujudkan pendidikan yang bermanfaat bagi generasi mendatang dengan memberikan masukan kepada pemerintah terkait pendidikan yang benar dan bermanfaat.

Hingga saat ini, tambah Zainal Mutaqin, ada sekurangnya 50.000 siswa yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, diantaranya di Surabaya, Jakarta, Balikpapan, Batam dan Depok serta beberapa kota lainnya yang mengikuti pendidikan di lembaga pendidikan Hidayatullah.

Lembaga pendidikan Hidayatullah kata Zainal memang berbeda karena mempraktekkan Pendidikan Integral yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam sekaligus terus menerus melakukan peningkatan pendidikan.

“Oleh karena itu, Rakornas ini juga sebagai satu diantara upaya untuk menjaring aspirasi dari daerah-daerah,” tambah Zainal Mutaqin.

Rakornas yang dibuka pada Kamis (5/6/2014) ini berakhir pada Minggu (8/6/2014) lalu, dengan sejumlah kegiatan yang cukup padat. Mulai dari seminar pendidikan, konsultasi pendidikan, hingga pelatihan-pelatihan.

“Perguruan tinggi Hidayatullah saat ini juga tengah berkembang terus,” pungkas Zainal Mutaqin seperti dikutip harian lokal Suara Surabaya, Sabtu (7/6/2014) lalu. (hio/ybh)

Hidayatullah Kudus Menggelar Acara Targhib Ramadhan

Targhib Ramadhan di Hidayatullah Kudus / KOED
Targhib Ramadhan di Hidayatullah Kudus / KOED

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Kudus, Jawa Tengah, menggelar acara Targhib Ramadhan untuk persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini dibarengi dengan penyerahan bingkisan untuk dai dan bakti sosial donor darah.

Menyambut Ramadhan 1435 Hijriyah, PD Hidyatullah Kudus menyambut kedatangan Ramadhan yang tinggal menghitung hari dengan berbagai kegiatan. Seperti pada Kamis (7/6/2014) lalu digelar Kegiatan dengan tema “Songsong Ramadhan dengan Bersihkan Hati Sehatkan Jasmani”.

Kegiatan yang berlangsung semarak tersebut diisi berbagai acara diantaranya Pengajian Targhib Ramadhan dengan pembicara Ustadz Ir. H. Hanifullah yang merupakan anggota Dewan Syuro Hidayatullah, silaturahmi Da’i se-Kudus dan kegiatan sosial donoor darah.

Acara ini diikuti ratusan jamaah, baik dari internal Hidayatullah kudus maupun tamu undangan para ustadz dari berbagai TPQ dan ta’mir masjid se Kudus.

Acara yang bertempat di Masjid Pondok Pesantren Hidyatullah tersebut sebanyak 50 da’i mendapat bingkisan Peduli da’i dari BMH dan sebanyak 31 orang mengikutikegiatan donor darah.

Ustadz Hanifullah dalam taushiah menyambut Ramadhan mengingatkan kepada hadirin untuk selalu menjaga kesehatan baik fisik maupun mental guna mematangkan diri menghadapi serta menjalani bulan suci Ramadhan dengan amalan dan kegiatan-kegiatan positif.

“Luruskan niat dan tanamkan keyakinan bahwa inilah Ramadhan terakhir kita. Kita harus selalu bermunajat kepada Allah Ta’ala, bahwa Ya Allah sampaikanlah kami pada bulan mulia ini,” kata Hanifullah.

Selain persiapan fisik, beliau juga mendorong kepada hadirin untuk bersama-sama melapangkan dada membuka pintu maaf kepada segenap kaum muslimin serta tak lupa untuk selalu mendoakan umat Muslim lainnya di belahan bumi yang lain. (ybh/hio)

Hidayatullah Sulbar dan Bone Kembangkan Pendidikan Dini

Acara wisuda dan pelepasan di PAUD / TK Hidayatullah Bone / DOK
Acara wisuda dan pelepasan di PAUD / TK Hidayatullah Bone / DOK
Acara wisuda dan pelepasan di PAUD / TK Hidayatullah Mamuju / DOK
Acara wisuda dan pelepasan di PAUD / TK Hidayatullah Mamuju / DOK

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat (PW Hidayatullah Sulbar), Drs. Abu Bakar Muis, mengatakan pihaknya kini sedang mulai mengembangkan layanan pendidikan untuk anak usia dini atau PAUD, selain berkonsetrasi memenuhi permintaan tenaga dai di wilayah tersebut.

Di Sulbar, kata dia, sebanyak 9 pengurus daerah Hidayatullah di provinsi muda tersebut sudah memiliki PAUD yang berada di bawah koordinasi Muslimat Hidayatullah (Mushida) setempat. Diantaranya di Tobadak, Polman, Karema, Baras, Salutalawar, Majene, Mamasa, Mambi, Trailu, dan Todeng.

Pada tanggal 6 Juni 2014 lalu PAUD dan TK Al Furqan Hidayatullah Mamuju melakukan pawai di jalan protokol Kota Mamuju Sulbar. Para peserta didik melakukan kegiatan main peran ini dengan mengenakan pakaian bervariasi.
Selain itu, juga dilakukan Wisuda di PAUD dan TK Nurul Huda Hidayatullah Tarailu, Kabupaten Mamuju yang berjarak tidak kurang 75 km dari utara kota. Pada tanggal 7 Juni 2014 itu ketua PW Hidayatullah Sulbar Abu Bakar Muis menyerahkan hadiah dan ijazah kepada santri sebanyak 20 orang yang tamat tahun ini.

“Kami menganggap PAUD sebagai basis pendidikan kader sehingga kami menargetkan keberadaannya eksis di semua daerah di provinsi Mamuju,” kata Abu Bakar kepada media ini, ditulis Kamis (12/05/2014).

Abu menilai keberadaan PAUD dan kedepannya akan diadakan juga Baby Care sebagai wadah edukasi dan bina kompetensi anak usia dini, sangat penting dan mendorong bertumbuhnya pola edukasi yang terintegrasi.

“Yang mendidik dan mendampingi anak-anak usia dini adalah tenaga yang juga sudah memahami pola pendidikan anak, untuk itu akan dilakukan pembinaan berkelanjutan untuk para pendamping,” ujarnya memungkasi.

Geliat di Hidayatullah Bone

Geliat yang sama ditunjukkan oleh Hidayatullah Bone, Sulawesi Selatan, yang saat ini juga aktif melakukan pengembangan pendidikan anak usia dini. Selain menyelenggarakan pendidikan tingkat pertama dan atas, PAUD juga dibuka oleh Hidayatullah Bone.

Ketua Pimpinan Daerah Hidayatullah Bone, Ustadz Drs. Ismail Muchtar, mengatakan sebagai salah satu amal usaha Hidayatullah adalah bertujuan untuk menyelenggarakan pendidikan Islam dengan sistem integral dalam aspek intelektual, mental spiritual, sehingga dapat melahirkan siswa muslim yang cerdas dan bertakwa.

Untuk itu, aku dia, sangat memerlukan campur tangan Allah subhanahuwata`ala untuk mewujudkan pendidikan Islam yang unggul dan kompetetif sehingga dapat melahirkan generasi rabbani.

“Sehingga semua aspek pendidikan kita perhatikan,” katanya kepada media ini beberapa saat lalu.

Hidayatullah Bone telah beberapa kali melalukan acara kelulusan pesreta didiknya pada program PAUD. Terakhir, digelar acara yang berlangsung pada Ahad tanggal 1 Mei 2014 lalu dihadiri oleh orang tua santri hadir pula Pengawas TK/SD Wilayah V Kecamatan Tanete Riattang Timur, ketua BKPRMI kabupaten Bone dan bapak serta ibu guru Pembina Yayasan Al Fath Hidayatullah Bone.

Acara pembukaan, sambutan-sambutan, penyerahan ijazah TK yaa Bunayya dan TPA Al Hidayah hingga acara doa, tidak ketinggalan tampilan-tampilan hafalan surah pendek, Nasyid, baca puisi dan pidato bahasa Arab oleh adik-adik dari TK/TPA. Hingga acara berlangsung selama 3 jam.

“Hal inilah yang membedakan di tempat ini dengan TK yang lain, bahkan di TK luar pada acara istirahat ditampilkan acara dansa dan menyanyi yang tidak syar`I,” kata Ketua Departemen Pendidikan Hidayatullah Bone, Muhammad Jamil, S.Pd pada saat memberikan sambutan.

Lokasi TK yang menyatu dengan lingkungan pesantren yang asri dan teduh merupakan fasilitas utama yang perlu diutamakan bagi orang tua yang ingin menitipkan anaknya untuk dididik. Seperti inilah gambaran pesantren Hidayatullah Bone yang banyak tumbuh pohon Mangga nan rindang dan aman dari kendaraan umum.

Acara penamatan TK/TPA ini sekaligus diselingi oleh panitia menampilkan para juara PORSENI santri untuk pembagian hadiah dan pembagian brosur penerimaan siswa baru TKIT Yaa Bunayya, SDIT, MTs dan Madrasah Aliyah Al Hikmah kepada hadirin orang tua santri. (ybh/hio)

Syabab Harus Mempelopori Gerakan Moral Bangsa

Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Naspi Arsyad (memakai ID-tag), mendampingi Wakil Gubernur Kaltim, Mukmin Faisyal, saat pembukaan Rakernas Syabab Hidayatullah di Kaltim / HUM
Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Naspi Arsyad (memakai ID-tag), mendampingi Wakil Gubernur Kaltim, Mukmin Faisyal, saat pembukaan Rakernas Syabab Hidayatullah di Kaltim / HUM

Hidayatullah.or.id — Syabab Hidayatullah sebagai organisasi kepemudaan skala nasional harus bisa tampil sebagai soko guru (kekuatan) dan menjadi teladan gerakan moral bagi gerakan pemuda-pemuda lainnya.

Harapan itu disampaikan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur H.M. Mukmin Faisyal HP, SH, MH, saat berpidato membuka acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Syabab Hidayatullah di Kota Balikpapan, Kaltim, Jum’at (06/05/2014) lalu.

“(Syabab Hidayatullah) tidak perlu terlalu terkenal yang penting perilakunya, kelakukannya. Jadi azas kemanfaatan yang lebih penting,” kata Mukmin.

Jangan melakukan yang tidak boleh dilakukan karena kunci kecerdasan adalah meninggalkan hal hal yang tidak boleh kita lakukan, lanjut dia.

Syabab Hidayatullah, terang wagub, harus mempersiapkan diri dalam proses alih generasi organisasi dakwah ini.

Ia juga berpesan untuk terus membangun jalinan kerjasama dan persamaan dalam rangka menghadapi Pilpres 2014.

Kita memiliki kewajiban yang sangat penting untuk menegakkan kedaulatan rakyat, untuk itu kata dia pemilihan ini harus kita sukseskan dengan dilaksanan dengan lebih berkualitas.

Kepada anggota Syabab Hidayatullah, baik di tingkat nasional maupun tingkat daerah, Wagub Mukmin berpesan agar mampu menjadi pelopor pembangunan di negari ini.

Karena itu, Syabab Hidayatullah harap dia harus bisa mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan taat beribadah, sehingga mampu mendukung program kerja pemerintah.

“Saya berharap Syabab Hidayatullah mampu menciptakan SDM yang berkualitas dan terus berupaya menambah wawasan, sehingga dapat memberikan pemikiran yang cerdas bagi pemerintah. Dengan begitu, Syabab Hidayatullah akan ikut menjadi pelopor pembangunan negari ini,” kata Mukmin Faisyal.

Syabab Hidayatullah pun diharapkan dapat meningkatkan keterampilan anggota serta memberikan saran dan kritik membangun bagi pemerintah. Kritik dan saran itu akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan program pembangunan selanjutnya.

“Tantangan masa depan semakin besar. Karena itu, saya berharap Syabab Hidayatullah dapat mempersiapkan semua itu. Mulai dari kualitas pengetahuan hingga peningkatan keimanan. Penting untuk dipahami bahwa untuk menjadi orang sukses, tidak cukup hanya dengan kekuatan, tetapi juga perlu kecerdasan dan keimanan,” jelasnya.

Sebagai organisasi pemuda, Syabab Hidayatullah juga harus peka terhadap persoalan yang terjadi di negara ini. Apalagi, negara ini sering direndahkan oleh negara lain. Karena itu, ke depan pemerintahan di negara ini harus memilih pemimpin yang mampu mempertahankan bangsanya dengan tegas.

Bahkan, jika ada rakyat Indonesia yang dianiaya di negara lain, maka pemimpin harus merasa ini sebuah hinaan yang harus dilawan.

“Ini tantangan kita semua, terutama seluruh anggota Syabab Hidayatullah. Karena itu, saya berharap Syabab Hidayatullah harus mampu menjadi tulang punggung bangsa ini. Bahkan, Hidayatullah harus mampu menciptakan regenerasi di masa yang akan datang,” tegasnya.

Anggota Syabab Hidayatullah harus meningkatkan ilmu setinggi-tingginya agar mampu menjadi generasi muda yang berkualitas dan beriman.

Sebagai organisasi yang berlatarbelakang keagamaan, maka Syabab Hidayatullah harus memiliki etika organisasi yang baik. “Karena itu, Syabab Hidayatullah harus mempu menjadi pelopor pembangunan dan menjadi teladan bagi pemuda-pemuda di negari ini,” jelasnya.

Rakernas ke-V Syabab Hidayatullah yang dibuka oleh Wakil Gubernur, H. Mukmin Faisyal ini mengusung tema Penguatan Eksistensi Syabab Hidayatullah dalam Membangun Indonesia Bermartabat.

Rapat kerja nasional ini berlangsung selama dua hari dan dihadiri oleh 70 orang perwakilan Pemuda Hidayatullah dari tingkat wilayah dan daerah seluruh nusantara. (Masykur)