Beranda blog Halaman 670

Pusat Peradaban Islam dan Masjid Sriwijaya Segera Hadir di Sumsel

Maket Masjid Sriwijaya dan Pusat Peradaban Islam
Maket Masjid Sriwijaya dan Pusat Peradaban Islam

Hidayatullah.or.id — Setelah cukup lama tertunda rencana pembangunan masjid Sriwijaya akhirnya segera terealisasi. Ketua Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya Zamzami Achmad mengungkapkan rencana tersebut.

“Kami dari yayasan sudah bertemu langsung Gubernur Sumatera Selatan Bapak Alex Noerdin dan meminta gubernur menjadi pemimpin atau menjadi panglima dalam pembangunan Masjid Sriwijaya,” jelas Zamzami, belum lama ini dikutip Republika.

Dipilihnya Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin sebagai ketua pembangunan, menurut dia, merupakan hasil rapat terbatas pengurus pembangunan Masjid Sriwijaya 21 Desember 2013 di Hotel Borobudur Jakarta dan disetujui Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya (YWMS) Prof Jimly Asshiddiqie.

Menurut Zamzami pembangunan Masjid Sriwijaya membutuhkan dana yang sangat besar mencapai Rp 1,2 triliun. Dana untuk pembangunannya menurut mantan Ketua DPRD Sumsel berasal dari sejumlah donatur.

Di antara para donatur itu beberapa BUMN yang sudah menyatakan komitmennya untuk merealisasikan masjid yang akan dibangun di atas lahan seluas 15 hektar.

Gubernur Alex Noerdin menyatakan siap dan akan segera merealisasikan pembangunan Masjid Sriwijaya di kawasan Jakabaring. “Ini sebuah Kehormatan besar dan tanggung jawab untuk dapat menyelesaikan pembangunan Mesjid Sriwijaya,” ujarnya.

Menurut Alex, Sumatera Selatan sudah terbiasa dengan proyek besar dan tentunya tantangan besar, seperti menyelenggarakan SEA Games dengan persiapan hanya 11 bulan dan juga Islamic Solidarity Games dengan persiapan hanya dua bulan,” katanya.

Ia akan segera mengambil langkah menyelesaikan proyek tersebut. ”Saya menginstruksikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Selatanl Rizal Abdulah sebagai ketua pelaksana bersama pelaksana tugas Sekretaris Daerah Mukti Sulaiman sebagai penanggung jawab harian,” ujar Alex Noerdin.

Ia optimistis daerah ini segera memiliki salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Menurut Alex Noerdin untuk pembangunan masjid megah yang diberi nama Masjid Raya Sriwijaya dan pusat peradaban Islam di Indonesia tersebut membutuhkan dana Rp 1,2 triliun.

“Haji Alex Noerdin yakin dengan dukungan semua pihak dan kerja sama pembangunan Masjid Sriwijaya ini akan dapat selesaikan dengan baik,” kata mantan Bupati Musi Banyuasin (Muba).

Diantara bantuan dana pembangunan Masjid Sriwijaya yang sudah diterima berasal dari PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) yang disampaikan Direktur Utama Musthofa kepada Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya pada awal September 2013 lalu. PT Pusri menyerahkan bantuan kepada Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya sebesar Rp 450 juta.

Untuk merealisasikan Masjid Sriwijaya, Alex Noerdin, tak segan meminta bantuan kepada perusahaan-perusahaan besar yang ada di Sumatera Selatan untuk menyisihkan dananya.

”Semua ini kita lakukan, Untuk mempercepat pembangunan masjid yang akan menjadi kebanggaan rakyat di bumi Sriwijaya. Ini kita lakukan demi rakyat. Kalau untuk rakyat Sumsel tidak ada yang tidak bisa kita lakukan,’’ katanya. (hio/rep)

Ratusan Remaja Hidayatullah Batam Ikut Mabit

0
Sejumlah peserta Mabit tampak lesehan di depan gedung sekolah
Sejumlah peserta Mabit tampak lesehan di depan gedung sekolah

Hidayatullah.com — Memanfaatkan waktu liburan sekolah, sebanyak 200 orang santri putri dari SMP Islam Lukman Hakim 02 Tanjung Uncang dan SMP Islam Lukman Hakim Batu Aji Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) pada hari Kamis-Jum’at, 30-31 Januari 2014 lalu.

Kegiatan dua sekolah yang menjadi binaan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau ini menggunakan tempat di lapangan olahraga SMP Islam Lukman Hakim 02 Tanjung Uncang, Batam.

Acara yang dibuka pada hari Kamis sore ini dibuka oleh Kepala Departemen Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Sumarno, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, Sumarno mengatakan, kegitan Mabit ini diadakan untuk mempererat silaturahim antara keluarga besar Hidayatullah terutama yang berada di kampus Batu Aji dan Tanjung Uncang.

“Sekaligus juga dalam rangka memperkenalkan dan mempromosikan pembukaan SMA Islam Lukman Hakim 02 khusus putri di kampus Tanjung Uncang,” ujar Sumarno yang juga Kepala SMP Islam Lukman Hakim 02 Tanjung Uncang.

Usai pembukaan, para santri menjalankan shalat Maghrib berjamaah yang dilanjutkan dengan kegiatan mengulang hafalan al-Qur’an dan shalat Isya berjamaah.

Setelah makan malam, para santri langsung dihidangkan dengan materi yang diisi oleh Ustadz Ahmad T Darussalam dari Tsabit Media Kreatif. Ustadz Ahmad yang dikenal sebagai trainer di kalangan remaja dan pemuda Batam ini menyajikan Zero Motivation Training.

“Pelatihan ini akan mengantarkan peserta untuk memahami materi 7 Kunci Mencetak Muslim Sejati, 7 Pintu Membentuk Mukmin Bermutu, dan 7 Prasyarat Menjadi SuperMuslim,” ujar pria kelahiran Bandung, Jawa Barat yang pernah berguru kepada KH Abdullah Gymnastiar ini.

Namun, tambah Ustadz Ahmad, karena terbatasnya waktu tak semua materi akan disampaikan dalam kesempatan ini.

Selain itu, kegiatan yang dipandu oleh para ustadzah dan mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Batam ini akan melaksanakan shalat Lail berjamaah dan tesmental para santri putri.

“Di pagi hari para santri akan mengikuti kegiatan senam dan juga permainan,” jelas Sumarno. Insya Allah, katanya, acara akan berakhir pada hari Jum’at pukul 10 pagi.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur mengatakan bahwa setiap kegiatan pesantren selalu diarahkan kepada proses pengkaderan.
Dengan itu, katanya, Hidayatullah memiliki kader-kader yang berkualitas. “Termasuk melalui program Mabit ini, sehingga para santri kian terbiasa untuk menghidupkan shalat Lail dalam kesehariannya,” ujar pria yang kerap disapa Ustadz Jamal.* (ad/hio)

Hidayatullah Tarakan Bangun Asrama untuk Putri

Warga masyarakat, pembina, pengasuh, dan santri bekerjabakti bersama
Warga masyarakat, pembina, pengasuh, dan santri bekerjabakti bersama
Pondasi asrama
Pondasi asrama

Hidayatullah.com — Karena kian memludaknya jumlah santri khususnya putri, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tarakan akhirnya menambah lokal asrama.

Hidayatullah Tarakan sendiri saat ini memiliki 2 kampus yakni di Gunung Lingkas dan di bilangan Kuburan Cina. Asrama untuk putri ini didirikan di Kampus Gunung Lingkas, sementara kampus Kuburan Cina menjadi pusat kerajinan dan budidaya tambak untuk warga. Serta diselenggarakan pula layanan pendidikan tingkat PAUD dan TK.

Warga bersama-sama dengan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Tarakan, Ahad lalu, melakukan pengecoran pondasi dasar Asrama Putri ini. Terlihat orangtua, remaja maupun anak-anak turun bersama-sama dalam menyelesaikan pengecoran pondasi dasar Asrama Putri tersebut.

FOTO/TEKS: Muhammad Naim

Ketum Paparkan Konsepsi dan Isu Peradaban di NTB

0

Hidayatullah.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr H. Abdul Mannan hadir sebagai pembicara pada seminar nasional tentang peradaban di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), akhir Januari (24/01/2014) lalu. Abdul menjadi narasumber berdampingan dengan Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi, MA.

Abdul Mannan memaparkan tentang konsepsi peradaban Islam di hadapan tokoh dan akademisi di di Mataram ini. Acara seminar yang dihadiri juga alim ulama dan pimpinan ormas se-NTB itu terselenggara atas inisasi PW Hidayatullah NTB.

Bersamaan dengan itu, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah NTB menggelar juga kegiatan launching program Da’i Membangun Negeri dengan mengusung tema “Memabangun Peradaban Islam & Membangun NTB menuju Masyarakat NTB Beriman dan Berdaya Saing”.

Seminar ini di mulai dengan launching program Dai Membangun Negeri yang diresmikan langsung Oleh DR. TGB. Zainul Majdi, MA dengan mengalungkan sorban kepada dua perwakilan da’I yaitu Ustadz Sudirman Ustadz Akbar.

Gubernur Zainul Majdi dalam pemaparannya, mengharapkan agar acara ini menjadi wadah bagi seluruh ormas Islam di NTB sehingga bisa bersinergi antara Hidayatullah dengan NW (Nahdatul Wathon) dan lain sebagainya.

“Karena setiap ormas memiliki kekurangan dan kelebihan,” ujar. DR.TGB. Zainul Majdi, Lc, MA selaku narasumber.

Bertempat di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB, hadir sedikitnya 450 peserta dari kalangan alim ulama, pimpinan ormas-ormas Islam, OKP, akdemisi, pelanggan majalah suara Hidayatullah dan masyarakat umum.

“Kegiatan berlansung sangat luar biasa, sehingga puluhan peserta tidakkebagian kursi, karena panitia hanya menyediakan 300 Kursi. Acara ini cukup memberikan pencerahan sesuai tema yang dibahas,” ujar Abdullah, salah seorang peserta.

“Semoga kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah ke depan,” harap Ustadz Ismuji, S.Pd.I selalu Ketua PW Hidayatullah NTB penyelenggara acara ini. (pwntb/hio)

 

Hadirin serius menyimak pemaparan narasumber
Hadirin serius menyimak pemaparan narasumber
Alim ulama dan pimpinan ormas serta OKP hadir juga dalam seminar ini
Alim ulama dan pimpinan ormas serta OKP hadir juga dalam seminar ini
Seminar berlangsung di Gedung Sangkareang, Komplek Kantor Gubernut
Seminar berlangsung di Gedung Sangkareang, Komplek Kantor Gubernut
Gubernur NTB Zainul Majdi resmikan program "Dai Membangun Negeri" dengan menyematkan sorban ke pundak dai.
Gubernur NTB Zainul Majdi resmikan program “Dai Membangun Negeri” dengan menyematkan sorban ke pundak dai.
Seminar nasional peradaban Islam dihadiri oleh tokoh akademisi
Seminar nasional peradaban Islam dihadiri oleh tokoh akademisi

Hidayatullah dan Ormas Islam Terus Bantu Korban Bencana

Pengungsi korban bencana Sinabung / net
Pengungsi korban bencana Sinabung / net

Hidayatullah.or.id — Hampir semua organisasi masyarakat (ormas) Islam turut memberikan bantuan bagi korban bencana yang sejak beberapa pekan ini melanda Tanah Air. Tak hanya memberikan bantuan kebutuhan harian, sejumlah ormas Islam bahkan memberikan bantuan jangka panjang.

Lembaga kemanusiaan dan amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH), misalnya. Hingga kini, lembaga yang bernaung di bawah organisasi Hidayatullah itu terus melakukan sejumlah aksi sosial di beberapa daerah di Indonesia.

Khusus untuk korban bencana Gunung Sinabung di Sumatra Utara, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) memfokuskan bantuan pada trauma healing terhadap anak-anak.

“Kami memiliki posko khusus trauma healing di Desa Logomba, Brastagi, Sinabung,” jelas Kepala Departemen Komunikasi dan Marketing BMH, Rama Wijaya, belum lama ini. “Sebab, anak-anaklah yang paling merasakan bencana Sinabung yang sudah berbulan-bulan.”

Selain itu, kata Rama, anak-anak korban Sinabung seperti tersandera di tempat pengungsian. Mereka tidak bisa pulang dan tak bisa sekolah karena rumah dan sekolah mereka rusak atau belum berfungsi. BMH memandang trauma healing ini sebagai pendekatan efektif terhadap anak-anak korban bencana.

Selain di Sinabung, BMH juga memberikan bantuan ke lokasi bencana lain di Indonesia, seperti banjir di Jabodetabek, Jawa Tengah, dan banjir bandang di Sulawesi Utara.

Di Jakarta, BMH membuka tiga posko di daerah Pejaten, Penjaringan, dan Kampung Pulo. Selain memberikan bantuan logistik, BMH juga membangun mushala darurat.

Untuk korban banjir bandang Manado, BMH bersama dai Hidayatullah setempat bahu-membahu membersihkan lebih dari 10 masjid yang sempat rusak akibat digenangi air.

“Kita berikan bantuan perangkat masjid, seperti sajadah dan sound system agar aktivitas ibadah tetap berjalan,” ujar Rama.

Ormas Islam Al-Irsyad Islamiyyah juga memandang bantuan jangka panjang bagi korban bencana merupakan hal krusial.

“Seperti, bantuan Al-Irsyad tahun-tahun sebelumnya. Insya Allah, kita akan melakukan bedah rumah bagi sejumlah warga yang rumahnya mengalami kerusakan,” kata Sekjen Pimpinan Pusat (PP) Al-Irysyad Said Awod Sungkar.

Said menegaskan, program bedah rumah bagi korban bencana ini rutin dijalankan Al-Irsyad. Walaupun tidak semua korban bencana dibantu program bedah rumah, Al-Irsyad berupaya banyak meringankan korban bencana di sejumlah tempat di Tanah Air.

Dalam menjalankan bantuan bedah rumah, sambung Said, Al-Irsyad biasanya bekerja sama dengan Kementerian Sosial.

Di samping itu, kata Said, pihaknya tetap memberikan bantuan harian kepada setiap posko korban bencana. Bentuknya, antara lain, makanan siap santap, pakaian ganti, hingga obat-obatan dan dokter lapangan.

“Yang paling penting adalah tindakan cepat dari emergency release Al-Irsyad. Untuk Jakarta, ada tiga posko pusat bantuan Al-Irsyad, yaitu di Kampung Melayu, Kampung Pulo, dan Bidara Cina.” (rep/hio)

Masyarakat Tobadak Sulbar Rasakan Manfaat Grand MBA

Acara yang digelar 2 hari dianggap tidak cukup, akhirnya acara ditambah lagi usai Zuhur meski acara sudah ditutup.
Acara yang digelar 2 hari dianggap tidak cukup, akhirnya acara ditambah lagi usai Zuhur meski acara sudah ditutup.

Hidayatullah.or.id — Masyarakat di Topoyo, Tobadak, dan sekitarnya di Sulawesi Barat, mengaku merasakan kemudahan mempelajari Al Qur’an dengan metode Grand MBA. Metode ini sendiri merupakan program dakwah unggulan yang terus digulirkan Departemen Dakwah PP Hidayatullah untuk dimanfaatkan masyarakat secara luas.

Pengurus Hidayatullah Kabupaten Mamuju Tengah dengan program unggulannya Gerakan Dasar Mengajar Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) berkolaborasi dengan Gerakan Bebas Buta Aksara A-Qur’an (GBBAQ) dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tobadak menyeleneggarakan Pelatihan Cara Cepat Membaca Al-Qur’an Sistem 8 Jam.

Sebagaimana direncanakannya awal Januari lalu, pelatihan yang dilakukan selama tiga hari itu dimulai Jumat tanggal 31 Januari hingga tanggal 2 Februari bertempat di Masjid Markabul Jannah di desa Mahahe.

Peserta yang rata-rata pengurus masjid yang tersebar di 8 desa dalam wilayah kecamatan Tobadak hadir dalam pelatihan tersebut.

“Kegiatan ini dilakukan semata-mata karena keprihatinan kami KUA dan teman-teman di Hidayatullah melihat kondisi masjid dan kepengurusannya yang membutuhkan sedikit sentuhan metode yang menarik,” kata Fakhruddin, M.Ag, ketua KUA kecamatan Tobadak saat memberikan sambutan.

Kepanitiaannyapun sederhana, jamaah masjid Markabul Jannah menalangi makanan ringan dan air mineral gelas. Publikasi dilakukan oleh staf KUA dan dai-dai serta simpatisan Hidayatullah yang berada di 8 desa, mulai dari desa Tobadak yang berada di poros provinsi hingga desa Sejati yang berbatasan dengan hutan lindung.

Sebanyak 40 peserta yang hadir juga mendapatkan materi Up-grading (pembekalan) Pengurus Masjid yang dibawakan oleh Ustadz Muhammad Bashori, ketua Dewan Pimpinan Hidayatullah daerah Kabupaten Mamuju Tengah terkait dengan kondisi pengelolaan masjid yang belum maksimal.

Dikatakan Bashori, salah satu faktor enggannya masyarakat shalat berjamaah di masjid selain belum memahami keutamaannya juga kondisi (pengurus) masjid yang belum menjamin kenyamanan dan keamanan jamaahnya.

“Coba kalau tamannya asri, tempat wudhu dan toiletnya bersih, ruangannya bersih dan sejuk ditambah lagi ada diskusi-diskusi ringan tentang ilmu agama setiap selesai waktu sholat. Jamaah akan merasa betah sholat berjamaah di masjid,” imbuh Bashori.

Selain pembekalan pengurus masjid, materi inti Grand MBA dalam program bebas buta aksara KUA Tobadak ini mengundang ustadz Habibi Nursalam pembina Hidayatullah Mamuju Utara yang membawakan materi qiraah (bacaan).

Adapun untuk metode pembelajaran dengan sesi khas micro teching-nya Ustadz Anwar Baits, S.Pd. yang juga sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat itu menempati hari ketiga atau terakhir.

Namun karena merasa belum puas, peserta meminta perpanjangan waktu hingga 2 jam setelah shalat dhuhur untuk melanjutkan materi agar lebih tuntas.

“Menarik sekali, materi Grand MBA sangat mudah dan terbuka untuk kita berinprofisasi metode,” tukas Ahmad Fadli, S.Pd. peserta yang berprofesi guru di Pesantren Al-Ikhwan kecamatan Topoyo ini. (hio.ybh)

Patung Yesus Disebut Sebagai Bukti Peradaban Papua

Warga mengamati patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, yang menghadap ke Kota Manokwari, Papua Barat, Minggu (19/1). Patung Yesus setinggi 30 meter sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, dan agama di Papua, yang dimulai pada 5 Februari 1855 oleh dua pendeta Kristen, Ottow dan Geisher. [SP/Roberth Vanwi]
Warga mengamati patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, yang menghadap ke Kota Manokwari, Papua Barat, Minggu (19/1). Patung Yesus setinggi 30 meter sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, dan agama di Papua, yang dimulai pada 5 Februari 1855 oleh dua pendeta Kristen, Ottow dan Geisher. [SP/Roberth Vanwi]
Hidayatullah.or.id — Patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat, dengan 30 meter didirikan sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, agama di Papua.

Patung itu berdiri tegak di Pulau Mansinam dan untuk ke sana menggunakan perahu motor dengan membayar Rp 10.000 sekali jalan. Pengunjung juga harus jalan kaki 1 jam untuk sampai ke puncak.

Pulau Mansinam adalah pulau yang terletak di Teluk Doreri, sebelah selatan Kota Manokwari, dengan luas 410,97 Ha.

Pulau Mansinam merupakan titik penting pekerjaan zending (misi) di Tanah Papua. Di Pulau ini, tepatnya 5 Februari 1855, dua orang zendeling-werklieden (utusan tukang) dari Jerman, C.W. Ottow dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Papua.

Dikutip dari Suara Pembaruan (SP), media milik Grup Lippo, yang mengunjungi Pulau Mansinam, Minggu (19/1) pagi, banyak warga Manokwari ke pulau tersebut untuk melihat Patung Yesus, yang direncakan akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Februari 2014 besok.

Pulau Mansinam memiliki nilai sejarah tinggi buat orang Papua, teristimewa umat kristiani warga Gereja Kristen Injil di Tanah Papua. Dari pulau ini, untuk pertama kali injil diwartakan ke seluruh pelosok tanah Papua.

Wakil Ketua DPR Papua Barat, Demianus Jimy Idje kepada SP, mengatakan Presiden ke enam yaitu Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan Patung Yesus.

“Karena SBY terus memperkokoh Mansinam sebagai pusat peradaban orang Papua, oleh karena itu Presiden sudah di mintai Gubernur Papua Barat atau sinode untuk meresmikan karya monumental di Bumi Papua,” ujarnya dikutip Suara Pembaruan.

Kata dia, Pulau Mansinam telah dikembangan sebagai situs peradaban rakyat Papua, situs ini akan terintegrasi dengan pembangunan fasilitas peribadatan yang lain.

Masih dari sumber yang sama, disebutkan bahwa pengembangan kawasan ini akan diarahkan sebagai pusat wisata budaya dan religi. Beberapa infrastruktur yang akan dibangun untuk mendukung kegiatan yaitu pembangunan jalan lingkar, pembangunan kantor Badan Pengelola Situs Mansinam , pembangunan gereja dan pembangunan museum.

Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2013 telah mencantumkan ruas jalan Lingkar Mansinam sebagai salah satu ruas yang akan dibangun dengan dana direktif presiden.

“Pembangunan ruas ini diharapkan dapat menjadi jalan lingkar yang akan menghubungkan seluruh pulau. Disamping itu pembangunan jalan lingkar ini dapat juga dijadikan sebagai wisata bagi pejalan kaki dan jalur sepeda,” ujarnya.

Selain itu juga untuk mempertahankan eksistensi orang Doreri sebagai pemilik dari pulau ini, rumah-rumah mereka akan dibangun dengan arsitektur yang bagus, namun tidak mengilangkan nilai-nilai arsitektur lokal suku Doreri.

Ia pun berharap gereja sebagai corong harus mewartakan juga kebaikan kebaikan negara terhadap orang Papua.

“Jangan selalu mengkampanyekan hal hal yang negatif, Ini adalah bukti nyata negara serius memperhatikan Papua,” ujarnya.

Ia pun berharap segera akan ada sosialisasi Pulau Mansinam sebagai tempat kunjungan wisata rohani Yoas Raweyai (19) warga Manokwari yang sedang mengunjungi Pulau Mansinam mengatakan, bangga dan senang dengan berdirnya patung Yesus.

“Senang dan bangga ada patung Yesus dan pembangunan lain di pulau ini. Mudah mudahan semakin banyak orang berkunjung ke Pulau ini sebagai tempat tujuan wisata rohani,” ujarnya. (sp/hio/sld)

Al Qur’an Tidak Bisa Dipelajari Secara Otodidak

Anak-anak mengaji al Qur'an / Skr
Anak-anak mengaji al Qur’an / Skr

Hidayatullah.or.id — Al Qur’an adalah mukjizat yang didalamnya terkandung hukum, sejarah, dan firman Allah Subhanahu Wata’ala yang harus diimani. Sehingga Al Qur’an adalah himpunan ilmu yang tak bisa dipelajari dengan cara otodidak atau belajar sendiri.

Instruktur Nasional Grand MBA, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan bahwa Al Qur’an sarat dengan banyak hal ihwal yang mendalam dan terkesan rumit tapi sesungguhnya sangat mudah jika kita ingin mempelajarinya. Namun sebagaimana bahasa, Al Qur’an tidak bisa dipelajari tanpa ada guru yang mengajarkan.

“Belajar Al Qur’an itu seperti belajar bahasa. Mempelajari suatu bahasa itu harus ada yang mencontohkan, harus ada guru, dan ada yang kompeten mempraktikkan,” kata Muhdi Tranajaya ditemui hidayatullah.or.id di kantornya, (20/02/2013).

Dalam bahasa Jawa misalnya, menurut Muhdi, tidak bisa orang belajar bahasa Jawa secara otodidak. Diperlukan guru yang bisa bahasa Jawa. Karena di dalam bahasa itu ada hal hal yang memang harus dicontohkan baru dapat diketahui cara mengucapkannya.

Muhdi mencontohkan, dalam bahasa Jawa misalkan, ada kata “loro” yang artinya dua dan “loro” yang artinya sakit, keduanya jelas memiliki cara dan bunyi pengucapan yang berbeda walau sama secara teks. Ada Juga kata mendem (mengubur) dan mendem (mabuk), serupa tapi tak sama.

“Sama tulisan, beda penyebutan, dan itu beda artinya. Jadi untuk mengetahuinya tidak bisa otodidak, harus mendengar melihat bagaimana sih caranya. Begitulah Al Qur’an,” katanya.

Dalam bahasa apapun, kesalahan mengucapkan bisa menyebabkan salah dimaknai. Kondisi serupa akan berakibat fatal apabila terjadi dalam melafazkan Al Qur’an.

“Ini menjadi lebih penting ketika kita belajar bahasa Al Qur’an yang di dalamnya ada hal hal yang harus diimani, ada hukum, ada sejarah, dan Al Qur’an itu adalah firman Allah Subhahanu Wata’ala yang diturunkan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar,” imbuh Muhdi.

“Di sinilah mengapa belajar Al Qur’an, tajwid, dan tahsin itu menjadi sangat penting,” tambahnya.

Menurut Muhdi banyaknya lembaga atau pribadi yang menawarkan metode atau sistem membaca Al Qur’an dengan cepat hanyalah sebagai pintu masuk saja untuk menggugah kesadaran bahwa ternyata Al Qur’an itu memang mudah dipelajari sehingga orang tertarik belajar.

Ketika seseorang sudah tertarik belajar, maka dia tidak akan berhenti belajar karena sudah timbul rasa suka dan cinta. Setelah itu, belajar Al Qur’an tidak bisa secara instan. Terutama yang tidak bisa instan itu adalah sifat dan makhraj huruf.

“Harus berlatih, apalagi yang notabene di Indonesia, sukunya beragam, bahasa beragam, itu tidak bisa instan. Karena karakter bahasa Arab itu berbeda dengan bahasa lainnya,” tandasnya. (ybh/hio)

Budaya Korupsi Hasil Produk Pendidikan Sekuler

Kajian Sabtu awal bulan di Ponpes Hidayatullah Depok, Jawa Barat / Skr aljihad
Kajian Sabtu awal bulan di Ponpes Hidayatullah Depok, Jawa Barat / Skr aljihad

Hidayatullah.or.id -– Pendidikan integral harus dibangun berdasarkan tauhid dan moral. Berbeda dengan pendidikan sekuler, yang tidak dibangun atas kedua nilai tersebut. Dampak buruk pendidikan sekuler seperti yang terjadi di negeri ini.

Demikian salah satu kesimpulan dari penyampaian Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Hidayatullah Dr Abdul Mannan saat mengisi Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 30 Rabiul Awal 1435 H (1/2/2014).

“Korupsi (adalah) produk pendidikan sekuler, karenanya nilai moral ini basis penting (dalam pendidikan),” ujarnya di depan ratusan hadirin usai shalat Shubuh berjamaah, mencontohkan dampak pendidikan sekuler.

Pada kajian dua pekanan tersebut, Mannan mengangkat tema “Al-’Alaq: Dasar Konsep Pendidikan Integral”. Dia mengatakan, semua materi dalam pendidikan integral berbasis tauhid harus diarahkan menuju iman kepada Allah.

Dalam praktiknya pun demikian. Misalnya, kata dia, saat mengajar di sebuah universitas pascasarjana, Mannan menekankan para mahasiswanya akan pentingnya shalat berjamaah.

Begitu tiba waktu shalat, lanjutnya, Mannan menghentikan sementara kegiatan kuliah, lalu mengajak mahasiswanya untuk ke masjid. Bahkan, katanya, shalat berjamaah mempengaruhi nilai mata kuliah mereka.

Mannan menyinggung lembaga pendidikan yang menggunakan jargon integral, namun masih belum Islami secara praktik. Dalam hal sederhana, misalnya, campur-baurnya para penjemput murid di depan sekolah, antara penjemput laki-laki dan wanita.

“(Atau) tukang ojek perempuan bonceng anak laki-laki,” tambahnya.

Mannan mengatakan, pesan inti dari wahyu pertama, Surat al-’Alaq 1-5, adalah kesadaran bertauhid. Wahyu ini pun menjadi landasan dalam pendidikan integral, sehingga, segenap komponen dalam pendidikan mesti paham akan pesan-pesan al-’Alaq.

“Mengantarkan semua anak didik mendeklarasikan kalimat falsafah hidup, (yaitu) Laailaha illallaah, Muhammadur Rasulullah,” jelasnya.

Hakikat Ilmu

Kesimpulan lainnya yang disampaikan Mannan bahwa para pendidik sepatutnya memiliki tauhid yang super. Sehingga mereka mampu mengantarkan anak-anak didik bertauhid dengan benar. Para pendidik pun harus dikontrol, bukan cuma anak didiknya yang dikontrol.

Mannan juga menjelaskan hakikat ilmu dalam Islam. Menurutnya, dalam mencari proses kebenaran mutlak harus dipandu oleh al-Qur’an, dengan bukti-bukti yang telah dialami para nabi dan rasul.

“Ini baru lurus. Kalau nggak ada panduannya, nggak bisa,” imbuhnya.

Sebab, ujarnya, di atas ilmu ada yang lebih berilmu, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.* (Skr aljihad)

Marak Bencana Alam, Hidayatullah Peduli Tanggap Nasional

Tim HPBN di Sinabung / FOTO: BMH
Tim HPBN di Sinabung / FOTO: BMH

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah Peduli Bencana Nusantara (HPBN) hingga hari ini masih bertahan di lokasi bencana Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Selain mendirikan posko, team yang terdiri dari relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), SAR Hidayatullah, dan Islamic Medical Service (IMS) ikut membantu evakuasi dan rehabilitasi korban.

HPBN masih terus memberikan bantuan ke posko-Posko pengungsi erupsi Sinabung. Bahkan jumlah Posko pun kian diperbanyak seiring dengan bertambahnya jumlah pengungsi.

Untuk kebutuhan logistik, masih banyak Posko pengungsi menggantungkan kebutuhan hidupnya dari bantuan. Namun demikian, masalah tidak hanya pada soal logistik semata. Beberapa pengungsi memerlukan bantuan biaya untuk sekolah anak-anaknya yang sedang belajar di luar Kabupaten Karo.

Pak Ginting misalnya, sejak erupsi gunung Sinabung ia tak bisa lagi bekerja seperti biasa. Akhirnya, tidak ada penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar kebutuhan sekolah anaknya yang sedang belajar di pesantren.

“Saya sudah tidak bisa membayar biaya hidup anak saya yang sekolah di salah satu pesantren yang ada di Medan. Saya sangat berharap kepada BMH agar anak saya bisa dibantu juga,” ujarnya kepada relawan BMH di Sinabung Masdar Ayub.

Trauma Healing

Selain itu BMH juga menggelar berbagai macam kegiatan. Di antaranya memberikan kajian motivasi spiritual di Posko Islamic Center. Hal ini merupakan satu program trauma healing yang diluncurkan BMH agar para pengungsi tidak terguncang kejiwaannya.

Menurut Kepala Cabang BMH Medan kebutuhan para pengungsi sebenarnya bukan soal logistik semata, tetapi juga spiritual.

“Memang banyak hal yang sangat dibutuhkan masyarakat di Posko pengungsian. Akan tetapi dengan motivasi spiritual yang kami laksanakan semoga para pengungsi semakin dekat kepada Allah, sehingga bisa melihat musibah ini sebagai media untuk lebih takwa kepada-Nya,” ujar Ayub.

Untuk itu BMH selalu berusaha memberikan bantuan secara integratif, baik logistik maupun spiritual. Pada saat penyerahan paket bantuan, kepala Cabang BMH Medan, Rahmat Afandi juga menyampaikan kepada seluruh pengungsi untuk bersabar dan berdoa.

Dan mengucapkan terima kasih banyak atas kerjasamanya PT. Ayu Septa Perdana dan Lazis PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara. “Semoga Allah membalas dan memberikan gantinya yang lebih banyak lagi,” kata Rahmat.

Selain bencana Sinabung, HPBN juga menerjunkan tim relawan bekerjasama dengan lembaga amil zakat nasional BMH dan lembaga kesehatan nasional IMS serta team pencarian dan pemulihan (SAR) Hiayatullah ke sejumlah wilayah bencana lainnya seperti banjir Manado, banjir Jabodetabek, Karawang, dan Indramayu. (dbs/hio)