Beranda blog Halaman 669

Alhamdulillah, Banyak Pesantren Bangun Sekolah Umum

0
Mirza Lumicisi , santri Ponpes Hidayatullah Medan asal Australia. Hidayatullah Medan menyelenggarakan pendidikan boarding school dengan ratusan santri / IST/CHA
Mirza Lumicisi , santri Ponpes Hidayatullah Medan asal Australia. Hidayatullah Medan menyelenggarakan pendidikan boarding school dengan ratusan santri / IST/CHA

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren yang di dalamnya ada sekolah umum prospeknya semakin bagus. Dari segi moral para siswa sekolah umum yang di pondok pesantren (ponpes) bagus karena mereka belajar selama 24 jam dan ini akan bersaing dengan madrasah.

Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama DIY Bardan, Senin (10/2) lalu. Dari segi kualitas, tambahnya, tentu juga akan bagus karena siswa tinggal di ponpes, sehingga banyak waktu untuk belajar Al-Qur’an maupun pelajaran umum.

Menurut Bardan, ponpes yang ada sekolah umum ditangani oleh dua kementerian yakni Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga dana untuk sarana fisik lebih banyak daripada madrasah.

“Ponpes yang mendirikan sekolah umum dalam hal pendanaan dikeroyok oleh dua kementerian,” kata Bardan dikutip Republika.

Di DIY sendiri kata dia jumlah Ponpes yang mendirikan sekolah umum pun semakin banyak. Memang sudah ada beberapa Ponpes yang sejak lama mendirikan sekolah umum, tetapi belum sebanyak sekarang dan biasanya masih berupa embrio seperti sekolah kecil yang muridnya di bawah 20 orang atau mendirikan kejar paket A dan B.

Saat ini di DIY ada sekitar 254 Ponpes. Jumlah Ponpes yang di mendirikan sekolah umum ada sekitar 15 Ponpes, kata dia. Ponpes yang mendirikan sekolah umum antara lain: di Ponpes Al-Munawir ada SMP dan SMK, di Ponpes Al-Furqon ada SMK, di Ponpes Darul Qur’an ada SMA, Ponpes Al-Hikmah di Playen Gunung Kidul. (rep/hio)

Hidayatullah Kepri Lantik 4 Pimpinan Cabang

0
Ketua PW Hidayatullah Kepri, Jamaluddin Noer, melantik 4 piminan cabang baru wilayah Kepri
Ketua PW Hidayatullah Kepri, Jamaluddin Noer, melantik 4 piminan cabang baru wilayah Kepri / ANCHA

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) melantik sebanyak 4 Pimpinan Cabang yang ada di Kota Batam, antara lain PC Hidayatullah Batu Aji, PC Hidayatullah Sagulung, PC Hidayatullah Sai Beduk, dan PC Hidayatullah Sekupang.

Pelantikan itu digelar bertepatan dengan penutupan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kepulauan Riau yang digelar selama 2 hari secara intensif di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Batam, Kepri (08-09/02/2014).

Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepri, Ustadz Jamaluddin Noer, mendampingi Ketua PP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, melakukan pelantikan pengurus baru tersebut yang berlangsung sederhana dan khidmat.

Ustadz Jamaluddin Noer kepada para pengurus PC baru rintisan tersebut berpesan untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dalam rangka mengejawantah nilai nilai dakwah Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.

“Hidayatullah hadir untuk menyelesaikan masalah umat dan pejuang Hidayatullah adalah tetap pejuang sampai kapan pun,” kata Ustadz Jamaluddin dalam sambutannya.

Sementara Ketua PP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim yang menutup secara resmi kegiatan Rakerwil ini juga memberikan apresiasi kepada PD Hidayatullah Batam yang telah merintis pimpinan cabang di sekitar Kota Batam itu. (ak/hio)

Laznas BMH Serahkan Motor untuk Dai Pedalaman

0
Ustadz Ahmad Syakir bersama sejumlah santrinya di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam / JULES
Ustadz Ahmad Syakir bersama sejumlah santrinya di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam / JULES

Hidayatullah.or.id — Mobilitas para dai di pedalaman nusantara cukup tinggi. Kebutuhan alat transportasi pun sangat mendesak guna menopang kesuksesan dakwah tersebut.

Awal Februari ini, Lembaga Amil Zakat Nasionall Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menyalurkan bantuan berupa satu unit sepeda motor kepada Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam.

Tim ekspedisi mendapat sambutan hangat dari keluarga besar pesantren. Apalagi, jarak tempuh cukup jauh. Kesempatan tersebut juga dijadikan sebagai momentum mempererat tali silaturahim.

Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Ustaz Ahmad Syakir mengatakan, Pesantren binaan ormas Islam Hidayatullah ini sebenarnya dirintis awal 2005. Ketika itu, santri tetap di pesantren yang berdiri di tanah seluas 1.200 meter persegi itu masih sedikit.

Bahkan, aktivitas pesantren sempat mati suri. Akan tetapi, akhirnya bangkit kembali dan terus berkembang. “Sudah ada santri yang menetap 24 jam,” kata dia.

Meski jumlahnya belum signifikan, 18 santri tersebut tetap fokus menghafal Alquran dan bersekolah formal. Keseimbangan ini perlu agar santri mampu unggul dalam dua hal sekaligus, yaitu agama dan umum.

Dia bertutur suka duka mengelola pesantren. Pengalaman yang paling berkesan ialah membongkar asrama yang semipermanen hingga menyerupai shelter, terutama ketika hujan akan turun.

Genangan air mengepung pesantren. “Dan atap selalu bocor,” tutur dai asal Balikpapan ini. Syakir berterima kasih kepada para donatur atas wakaf motor yang diberikan kepadanya. “Semoga Allah SWT membalas dengan kebaikan,” tutur dia. (rep/hio)

Hidayatullah Kepri Lakukan Percepatan Kaderisasi

Suasana Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau di Aula Hidayatullah Batam / ANCHA
Suasana Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau di Aula Hidayatullah Batam / ANCHA

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah Batam yang ditunjuk sebagai salah satu kampus utama akan terus melakukan percepatan dalam berbagai bidang. Antara lain peningkatan kader dan pembangunan sarana pendukung. Demikian salah satu rekomendasi Rakerwil Hidayatullah Kepulauan Riau, belum lama ini.

Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kepulauan Riau menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di yang digelar selama 2 hari secara intensif di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Batam, Kepri (08-09/02/2014).

Acara yang mengusung tema “Spirit Kepemimpinan, Menuju Standarisasi dan Sentralisasi Organisasi” ini dihadiri oleh perwakilan dari Pimpinan Pusat, pengurus Pimpinan Wilayah Kepri, dan perwakilan Pimpinan Daerah se-Kepulauan Riau.

Acara tahunan ini mengagendakan sosialisasi hasil-hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakorwil) Hidayatullah yang di gelar belum lama ini.

Dalam acara pembukaan, Ustadz Fathul Adhim yang mewakili Pimpinan Pusat Hidayatullah mengatakan, Rakerwil ini harus memberikan hasil yang lebih baik dalam menjalankan program dakwah.

“Terlebih Hidayatullah Kepulauan Riau ini merupakan proyek nasional setelah ditunjuknya Kampus Hidayatullah di Batam sebagai salah satu dari tujuh kampus utama Hidayatullah,” papar Fathul Adhim.

Selain Hidayatullah Batam, yang juga ditunjuk sebagai kampus utama, yaitu: Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Medan, Hidayatullah Depok, dan Hidayatullah Timika.

Dalam kegiatan ini juga dipaparkan Laporan Pertanggungjawaban PW Hidayatullah Kepri yang disampaikan oleh Ustadz H Jamaluddin Nur selaku ketua.

Dalam laporan itu, Ustadz Jamal mengatakan, Hidayatullah Batam yang ditunjuk sebagai salah satu kampus utama ini terus melakukan percepatan dalam berbagai bidang. Antara lain, tambah Ustadz Jamal, peningkatan kader dan pembangunan sarana pendukung.

Katanya di hadapan peserta Rakerwil, Hidayatullah jangan pernah lelah berbuat demi tegaknya Islam di tengah umat. Konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) yang dimiliki Hidayatullah, papar Ustadz Jamal, harus dapat dijabarkan dalam bukti nyata di lapangan dakwah.

“Semangat perjuangan kader Hidayatullah harus mengacu pada manhaj SNW yang di jabarkan melalui 5 strategi akselerasi, yaitu akselerasi intelektual, spiritual, sosial, kepemimpinan, dan finansial,” tegas Ustadz Jamal yang mengaku Hidayatullah kembali dipercaya pemerintah berupa pembangunan sarana pendidikan untuk kampus Hidayatullah di Batu Aji dan Tanjung Uncang.

Di akhir acara, Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepri melantik 4 Pimpinan Cabang yang ada di Kota Batam, antara lain PC Hidayatullah Batu Aji, PC Hidayatullah Sagulung, PC Hidayatullah Sai Beduk, dan PC Hidayatullah Sekupang. Kepada pimpinan cabang yang baru, Ustadz Jamal berpesan, “Hidayatullah hadir untuk menyelesaikan masalah umat dan pejuang Hidayatullah adalah tetap pejuang sampai kapan pun.”

Ustadz Fathul Adhim yang menutup secara resmi kegiatan Rakerwil ini juga memberikan apresiasi kepada PD Hidayatullah Batam yang telah merintis pimpinan cabang di sekitar Kota Batam. (ak/hio)

Buletin Hidayatullahh Edisi Februari 2013

buletin hidayatullah FEBruari 2013BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH FEBRUARI 2013

 

Hidayatullah Cirebon Gelar Pelatihan “Dai Membangun Negeri”

Sejumlah peserta berfoto bersama disela-sela acara pelatihan / IAZ
Sejumlah peserta berfoto bersama disela-sela acara pelatihan / IAZ

Hidayatullah.or.id — Bertempat di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Cirebon, Jawa Barat, PD Hidayatullah Cirebon bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Cirebon mengadakan pelatihan dai dengan tema “Dai Membangun Negeri: Optimalisasi Dakwah dan Pemberdayaan Dai, belum lama ini (1-2/02/2014).

Training ini diikuti oleh para dai muda dari kalangan pengurus dan takmir masjid, mahasiswa, dan aktivis dakwah di kampus maupun masyarakat umum.

Dalam acara ini tampil sebagai pembicara utama yaitu Ustadz Ahmad Yani, MA selaku Ketua Islamic Center Kota Cirebon, Ustadz Dedi Ahyadi, Lc sebagai dai dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Yani Nurdani Suwita Sastra, Apt (Herbalis), Ismail Abu Zahfa(Kepala BMH Cabang Cirebon), dan Ustadz Sigit Setiawan, MA selalu pendiri Hidayatullah Cirebon.

Pada pelatihan tersebut Ustadz Ahmad Yani menyampaikan pentingnya peran dai berbasis masjid. Sementara Sigit Setiawan membagikan pengalamannya dalam berdakwah, khususnya perjalanan dakwah sampai berdirinya Pesantren Hidayatullah Cirebon.

Sementara itu, Ustadz Yani Nurdani memberikan materi pentingnya seorang dai memiliki jiwa enterpreneur yang andal sehingga mampu hidup secara mandiri. Materi terakhir disampaikan oleh Dedi Ahyadi yang mengupas tuntas problematika dalam berdakwah. Serta ditutup dengan pemaparan Kepala BMH Cirebon Ismail Abu Zahfa, yang menyampaikan mudahnya belajar dan menerjemahkan Al-Qur’an dengan metode Grand MBA (Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an) yang digagas oleh PP Hidayatullah.

“Sengaja acara ini didesain agar para peserta bisa menginap, agar peserta juga bisa menikmati sholat lail bersama dan merasakan nikmatnya hidup berjamaah,” kata Ismail selaku panitia pelaksana.

Ia menambahkan, harapan dari acara ini mudah mudahan peserta dapat lebih optimal dalam melakukan dakwah di masyarakat dan mampu memberdayakan, baik dai itu sendiri maupun masyarakat secara umum.

Ke depan, katanya, setelah acara ini selesai peserta diharapkan ada pertemuan setiap bulan sekali untuk mempertajam dan memperkuat dasar-dasar berdakwah bagi seorang dai. (hio/bmh)

Dewan Syura Dorong Kader Hidayatullah Hafal Qur’an

Siswa SMP Lukman Al Hakim Putri Hidayatullah Surabaya mengikuti ujian terbuka Tahfidzul Qur'an
Siswa SMP Lukman Al Hakim Putri Hidayatullah Surabaya mengikuti ujian terbuka Tahfidzul Qur’an

Hidayatullah.or.id — Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari mendorong kepada semua kader dan jamaah Hidayatullah untuk selalu mempelajari Al Qur’an, menghafal, dan mengamalkannya.

“Hafalkan al-Qur’an, kita mengharapkan santri-santri kita sekarang menjadi pecinta dan hafal al-Qur’an, dan antumlah (kalian) yang akan menjadi musyrif-musyrif mereka, maka sudah menjadi rumus bahwa seorang musyrif harus terlebih dahulu hapal al-Qur’an,” pesan beliau saat bersilaturrahim dengan santri Hidayatullah yang menuntut ilmu di Makkah Al Mukarramah disela-sela umroh beliau, belum lama ini.

Kata Hamim yang lebih karib disapa dengan ustadz ini, yang sudah selesai hapalannya, dilanjutkan dengan mengambil sanad hapalan dari para Ulama Huffadz. Ini supaya ada pertanggungjawaban dari hapalannya tersebut.

“Kita butuh para santri yang bisa mengimami kita dengan sanad tersambung pada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam,” kata Ustadz Hamim.

Santri sekolah Tahfidzul Qur'an Ahlus Shuffah Hidayatullah Balikpapan tampak sedang serius membaca Qur'an
Santri sekolah Tahfidzul Qur’an Ahlus Shuffah Hidayatullah Balikpapan tampak sedang serius membaca Qur’an

Selain itu, beliau juga mendorong para generasi muda Hidayatullah untuk senantiasa memperkuat budaya keilmuan dan mempertahankan budaya dasar yang telah ada.

Sebab, Hidayatullah akan membutuhkan ulama yang banyak ke depannya, tapi bukan sembarang ulama, melainkan ulama yang Robbany, yang bisa mengamalkan apa yang dia tahu secara hikmah.

“Maksimalkan waktu yang ada dalam menuntut ilmu, jangan kecewakan orang-orang tua yang menanti kalian di sana,” ujar beliau berpesan. (hio/mdh)

“Kader Harus Shalat Berjamaah di Manapun Berada”

Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH Hamim Thohari
Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH Hamim Thohari

Hidayatullah.or.id — Bagaimana pun kondisinya, kader dan jamaah Hidayatullah harus menyegerakan sholat ketika panggilan azan berkumandang. Dan, kader Hidayatullah harus melaksanakan sholat berjamaah di masjid di mana pun.

Demikian ditegaskan Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari saat bersilaturrahim dengan mahasiswa Inddonesia di Makkah Al Mukarromah dalam sebuah kesempatan umroh beliau, belum lama ini.

“Perhatikan ibadah Antum (kalian), terutama sholat lima waktu berjamaah. Kultur kita di Hidayatullah adalah komitmen kuat dalam menjaga sholat berjamaah di masjid,” pesan beliau.

Beliau menyatakan agar budaya shalat berjamaah ini jangan sampai lebur, apalagi pada diri kader-kader muda yang ada di sini (Makkah).

Tanpa komitmen yang sudah menjadi budaya kebaikan ini, kita tidak ada bedanya dengan yang lainnya.

“Santri Hidayatullah itu menjaga sholat lima waktunya berjamaah, kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun,” tegas beliau.

Ustadz Hamim menuturkan bahwa masa untuk merintis telah berlalu seperti yanng telah dilalui oleh para pendahulu dakwah Hidayatullah. Sekarang kampus-kampus Hidayatullah berdiri di mana-mana dan sebagian besar telah mendirikan sekolah-sekolah.

“Sekarang tiba masa Antum untuk mengisi kampus-kampus tersebut dengan ilmu, tiba masa kalian untuk melanjutkan bangunan peradaban,” ujarnya.

“Pastikan dalam diri Antum bahwa Antum adalah kader. Mencari kader dari luar itu banyak, tapi kita menginginkan kader yang dilahirkan dari rahim perjuangan, dari rahim Hidayatullah,” lanjutnya.

Hal itu bukanlah sebagai bentuk fanatisme golongan, tapi ada nilai-nilai dasar yang telah Antum serap yang belum diserap oleh yang lain, dan itu modal besar dalam sebuah gerakan perjuangan Islam.

“Terakhir, apa kalian sudah siap dipanggil untuk menikah,” tandasnya disambut senyum malu-malu mahasiswa-mahasiswa di Universsitas Islam Madinah tersbeut. (hio/mdh)

Jadi Wartawan Tidak Mudah, Inilah Syaratnya

0
Sejumlah peserta pelatihan jurnalsitik berfoto bersama narasumber / CHA
Sejumlah peserta pelatihan jurnalsitik berfoto bersama narasumber / CHA

Hidayatullah.com — Legislator DPR RI Meutya Viada Hafid melatih tekhnik jurnalistik para santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu, ditulis Jum’at (07/02/2014). Dalam kesempatan itu dia mendorong santri Hidayatullah menjadi jurnalis muda yang handal.

Mantan wartawan yang pernah disandera saat invasi Irak ini membeberkan beberapa hal yang harus dimiliki seorang wartawan dan calon wartawan.

Untuk menjadi jurnalis professional harus memiliki beberapa keterampilan, seperti memiliki kemampuan menulis, keterampilan berkomunikasi, memiliki kreativitas, memiliki keterampilan mempengaruhi, keterampilan mendengarkan, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta kemampuan public speaking.

“Orang yang tidak memiliki keterampilan menulis tidak akan bisa menjadi jurnalis. Keterampilan menulis harus di asah terus-menerus. Latihan dengan menulis buku harian pribadi. Maka ketika sudah terbiasa menulis jurnal pribadi maka insya Allah sudah tidak ada kendala yang berat untuk menjadi jurnalis,” kata Meutya dihadapan ratusan santri peserta pelatihan.

Seorang jurnalis atau calon jurnalis harus juga memiliki keterampilan berkomunikasi, karena akan bertemu dengan berbagai macam orang, dari berbagai latar belakan sosial dan budaya serta dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari abang becak, tukang sayur sampai pejabat tinggi negara bahkan pejabat tinggi dunia.

“Karenanya pendekatan komunikasinya pun tentunya berbeda-beda. Karenanya dibutuhkan keterampilan berkomunikasi yang baik,” jelas dia.

Seorang jurnalis juga Kreatif, karena di era sekarang media massa jumlahnya sangat banyak tidak seperti pada era-era sebelumnya dimana jumlah media masih terbatas. Karenanya, kata Meutya, terkadang kita melihat beberapa media mengangkat obyek berita yang sama, tetapi cara penyajiannya yang berbeda-beda.

“Disini yang dituntut dari seorang jurnalis adalah kreatifitas untuk membuat sebuah berita menjadi menarik dan memancing serta mendorong masyarakat untuk mengetahuinya dan memilih mengikuti berita yang disiarkan atau ditulis dimedia. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas yang super,” kata Meutya yang pernah menjadi wartawan dan host di sejumlah televisi swasta ini.

Wartawan dituntut untuk memiliki keterampilan mempengaruhi orang lain, agar mau mengikuti berita yang sampaikan, baik itu dengan cara melihatnya, seperti tanyangan televisi, atau mendengarnya seperti siaran radio, ataupun membacanya melalui Koran, majalah dan media online atau social media di internet.

Selain itu, seorang jurnalis harus kepo, atau memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu yang tinggi. Istilah “KEPO” atau Knowing Every Particular Object itu sendiri biasa diartikan negative, mau tahu aja.

“Tetapi memang seorang wartawan itu harus kepo, tetapi yang terarah, tidak semua mau ditahu dan dipedulikan secara berlebihan, kecuali jika hal itu penting untuk diketahui,” imbuh dia.

Selain itu, kata Meutya, terkadang seorang wartawan harus membawa kamera sendiri, mengambil gambar sendiri, meng-editnya sendiri dan menulis beritanya sendiri bahkan dia sendiri juga yang harus siaran di media. Karenanya terkadang sebuah perusahaan media, terutama televisi, akan menggunakan orang yang memiliki multi talenta dan bisa multi-fungsi, terutama jika ingin melakukan liputan yang jauh, seperti diluar negeri dan membutuhkan biaya yang tidak murah dan membutuhkan penghematan biaya, mulai dari ongkos perjalanan, biaya penginapan di hotel dan sebagainya. “Itulah yang disebut dengan istialah Video-Journalis,” sebutnya.

Selanjutnya, seorang jurnalis juga harus menjaga sikap professional sebagai seorang jurnalis, misalnya harus membuka identitas diri dihadapan narasumber. Misalnya ketika jurnalis sedang mau mewancarai seseorang yang sedang dilanda musibah, bencana alam, atau sedang dirundung duka, maka seorang jurnalis harus memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara.

“Harus tunjukkan empati terlebih dahulu. Jangan membuat narasumber yang sedang berduka itu menjadi tersinggung apalagi marah karena ulah jurnalis yang secara tiba-tiba mewancarainya, terburu-buru karena alasan mengejar deadline,” ingat dia.

Lebih dari itu semua, seorang jurnalis haram hukumnya menyuap dalam menggali informasi tidak juga disuap. Ditegaskan dia, seorang wartawan tidak boleh meminta-minta uang untuk membuat dan memuat sebuah berita, juga tidak boleh memberi uang untuk membeli berita. Tidak boleh menyuap untuk membeli informasi.

“Tidak boleh pula melakukan rekayasa untuk melakukan pengambilan, pemuatan ataupun penyiaran gambar, foto dan suara, tidak boleh mencampur aduk antara fakta dan opini, juga harus menghormati azaz praduga tak bersalah,” pungkasnya. (cha/hio)

Santri Hidayatullah Didorong Tekuni Citizen Journalism

Meutya Hafid saat mengisi pelatihan jurnalistik di Ponpes Hiadyatullah Medan / CHA
Meutya Hafid saat mengisi pelatihan jurnalistik di Ponpes Hiadyatullah Medan / CHA

Hidayatullah.or.id — Berita yang mengandung fitnah itu seringkali berdampak luas. Berita fitnah tidak mencerdaskan bangsa tetapi justru malah membodohi bangsa. Sehingga penting bagi kaum muda Muslim untuk terjun ke kancah jurnalistik atau lebih dari itu menekuni citizen journalism.

Demikian dikatakan mantan wartawan perang Irak Meutya Viada Hafid saat melatih tekhnik jurnalistik para santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu, ditulis Jum’at (07/02/2014).

Disinilah, kata Meutya, pentingnya generasi muda Islam khususnya santri Hidayatullah untuk menguasai jurnalistik agar jangan non-muslim saja yang menguasainya, sehingga diperlukan keseriusan mencetak jurnalis muda muslim untuk menguasai Media.

“Hari ini kita menyaksikan bahwa perusahaan-perusahaan media lebih banyak dimiliki oleh kalangan non-muslim sehingga pemberitaan-pemberitaan yang ada, misalnya mengenai terorisme cenderung mendiskreditkan Islam,” kata mantan wartawan sejumlah televisis swasta ini.

Oleh karena itu, menurut Meutya, ummat Islam harus menguasai media supaya pemberitaan tentang Islam menjadi berimbang dan jangan sampai kita tidak perduli sama sekali, imbuhnya.

Dalam pelatihan yang dihadiri sedikitnya 200 santri Hidayatullah Medan ini Meutya Hafid membawakan materi dengan suasana belajar yang santai, fun, dan penuh canda. Dalam kegiatan itu Meutya Hafid juga menjelaskan tentang arti dan seluk beluk Jurnalistik dikaitkan dengan sejumlah pengalaman dia selama menjadi pewarta nasional dan luar negeri.

“Seorang jurnalis adalah seseorang yang secara teratur menulis berita berupa laporan yang kemudian dimuat di Media massa. Jika ada yang mengaku sebagai jurnalis tetapi tidak pernah melihat tulisannya dimuat di media, berarti dia adalah bohong,” kata Meutya.

Kendati demikian, Meutya menegaskan bahwa saat ini telah berkembang tradisi baru dalam dunia pewartaan yakni Citizen Journalism atau jurnalisme warga, yang memungkinkan siapa saja untuk menjadi jurnalis non mainstream.

Citizen Jourlaism menurut Meutya ke depan menjadi penting. Ia mencontohkan, kita sering melihat ada berita televisi kiriman dari warga. Sehingga ia memandang kedepan mungkin semua stasiun televisi harus punya kanal Citizen Journalizm, kolom atau rubrik yang diberikan kepada pemirsa atau pembaca untuk memberikan beritanya, karena kedepan masyarakat ingin berbicara, urun rembug ikut serta untuk memberikan informasi.

“Hal ini penting karena bisa menjembatani keterbatasan jurnalis dalam meliput semua kejadian atau peristiwa yang sewaktu–waktu terjadi diluar dugaan, prediksi dan jangkauan wartawan,” terangnya yang mengenakan jilbab merah jambu.

Disamping itu hal, kata dia, ini bisa menghindari sentralistik dalam pemberitaan, misalnya setiap hari yang ada hanya berita tentang banjir yang melanda Jakarta saja. Padahal wilayah Indonesia ini luas. Maka harus ada warga yang bisa merekam kejadian-kejadian di sekelilingnya dan mengirimkannya kepada media untuk diberitakan.

Soal liputan peran penting jurnalisme warga, Meutya mencontohkan ketika terjadi tsunami di Aceh. Pada saat awal terjadinya, tak seorangpun dari kalangan wartawan yang hadir di sana. Karena sesungguhnya tak satupun wartawan yang bisa memprediksi sebuah kejadian bencana seperti itu.

Kata Meutya, jurnalisme warga itu terjadi karena ada warga yang bukan berprofesi sebagai wartawan, namun karena memiliki kepekaan terhadap peristiwa yang ada dilingkungannya, dia memiliki insting kewartawanan, kemudian merekam peristiwa-peristiwa penting yang disaksikannya, kemudian melaui bantuan wartawan atau membawanya sendiri ke media untuk disebarluaskan, maka itulah yang disebut Citizen Jurnalizm.

“Maka sebenarnya citizen journalism itu penting kita miliki juga untuk merekam peristiwa diluar jangkauan para wartawan dan itu sangat berguna bagi masyarakat dan membantu tugas para wartawan dan media,” tukasnya. (cha/hio)