Beranda blog Halaman 69

Hidayatullah Masuki 50 Tahun Kedua, Gorontalo Perkuat Arah Dakwah Wilayah

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Gorontalo periode 2025–2030 resmi digelar sebagai tindak lanjut dari rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Provinsi Gorontalo. Kegiatan yang berlangsung pada awal Desember di Asrama Haji Gorontalo ini menandai fase baru konsolidasi kelembagaan dan gerakan dakwah di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Serambi Madinah.

Seluruh pengurus yang dikukuhkan telah mengucapkan ikrar kesetiaan sebagai bentuk penerimaan formal atas amanah organisasi.

Adpaun Pengurus DPW Hidayatullah Gorontalo 2026-2030 yakni Ketua Syafruddin, Sekertaris Syaiful Yusuf, Bendahara Walimin Bombang, dibantu oleh sejumlah departemen yaitu Kadep Perkaderan dan Pembinaan Anggota Risman, Kadep Pendidikan Saharuddin, Kadep Dakwah & Pelayanan Umat Ismail Busa, Kadep Organisasi Khusnul Aqibah, dan Kadep Ekonomi Wahyuddin.

Pelaksanaan Muswil yang dipimpin oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menghadirkan arah kebijakan strategis nasional yang dipaparkan oleh Ketua DPP Hidayatullah, Syaefullah Hamid, selaku pendamping Muswil.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa jalan dakwah menuntut kesungguhan spiritual, komitmen sosial, serta ketahanan mental yang harus dimiliki setiap dai. Menurutnya, tantangan dakwah bukan sekadar hambatan, tetapi justru menjadi pendorong bagi para dai untuk menetapkan diri dalam barisan ad-daa’i ilallaah.

Syaefullah menjelaskan dua dimensi fundamental yang harus dikawal para pemimpin dakwah, yaitu kemampuan bersikap superior dalam menghadapi tantangan dan keharusan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa tanpa kedua aspek tersebut, dakwah tidak dapat melampaui batas retorika dan berpotensi menjauh dari keteladanan dakwah Rasulullah SAW. Penekanannya ini juga disertai pengingat mengenai modal perjuangan generasi awal Hidayatullah, yakni kesederhanaan, keikhlasan, dan kekuatan ibadah, terutama shalat Tahajjud, yang dilandaskan pada kekokohan mental dan keluasan pengaruh dakwah.

Ia menambahkan bahwa spirit kesederhanaan memungkinkan para dai memberikan perubahan berarti meskipun bekerja dengan fasilitas terbatas atau tanpa pendidikan akademik tinggi. Menurutnya, nilai tersebut berperan penting dalam menjaga gerakan dakwah tetap kuat, rendah hati, serta terhindar dari sikap thagha’.

Dalam arahan tertulis Ketua Umum DPP Hidayatullah yang dibacakannya, Syaefullah menyampaikan bahwa Hidayatullah kini memasuki 50 tahun kedua perjalanan dakwahnya, serta telah memiliki 38 DPW aktif di seluruh Indonesia. Capaian ini digambarkan sebagai indikator kontribusi organisasi dalam memperkuat NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Ia juga menyebut bahwa orientasi dakwah Hidayatullah selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama dalam memperkuat harmoni sosial, lingkungan, dan keagamaan.

Menutup rangkaian kegiatan, Ketua DWW Hidayatullah Gorontalo, Drs. Abu Bakar Muis, menyampaikan pesan kepada jajaran pengurus baru mengenai pentingnya fondasi spiritual dalam menjalankan amanah dakwah.

Ia menegaskan bahwa menjadi pejuang dakwah tidak cukup hanya dengan semangat, kesehatan, dan kecerdasan, meskipun ketiganya merupakan unsur penting. Menurutnya, seluruh aspek tersebut harus disempurnakan dengan kematangan spiritual agar setiap langkah pengurus memiliki bobot keikhlasan, kesabaran, dan ketahanan menghadapi tantangan masa depan.

Pelantikan DPW Hidayatullah Gorontalo ini diharapkan dia semakin memperkuat peran organisasi dalam mencetak kader yang unggul secara intelektual, fisik, dan spiritual. Upaya tersebut, Abu menambahkan, sejalan dengan Manhaj Gerakan Sistematika Wahyu yang menjadi rujukan pembinaan kaderisasi Hidayatullah di seluruh Indonesia.

MEDIA RELEASE: Liga Muslim Dunia dan Indovest Global Pratama Luncurkan Program Kemanusiaan 2026 untuk 12.000 Penerima Manfaat di Daerah yang Sulit Akses Pelayanan Kesehatan

0

Jakarta, 7 Desember 2025 — Liga Muslim Dunia (Rabithah al-‘Alam al-Islami) yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Syekh Dr. Mohammad bin Abdulkarim Al-Issa, secara resmi menandatangani Surat Perintah Kerja dengan PT Indovest Global Pratama untuk melaksanakan program kemanusiaan kesehatan terstruktur sepanjang tahun 2026 di berbagai wilayah Indonesia yang masih memiliki akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan yang memadai—baik di remote area maupun kawasan padat penduduk.

Untuk memastikan pelaksanaan yang efektif, Indovest bekerja sama dengan dua lembaga kemanusiaan kesehatan berpengalaman:
• Islamic Medical Service (IMS) – Hidayatullah
• Al Irsyad

Menjangkau Mereka yang Paling Sulit Mendapatkan Layanan Kesehatan

Di balik kemajuan kota-kota besar, jutaan masyarakat Indonesia masih hidup di daerah yang sulit dijangkau, minim fasilitas kesehatan, dan jauh dari akses layanan dasar yang layak.
Banyak warga harus berjalan berjam-jam hanya untuk mendapatkan pemeriksaan sederhana. Sebagian bahkan belum pernah tersentuh layanan medis sama sekali.

Program bakti sosial ini dirancang untuk menjangkau 15 titik prioritas, menghadirkan layanan kesehatan gratis mulai dari pemeriksaan umum, layanan gigi, skrining penyakit kronis, edukasi kesehatan ibu-anak, hingga pengoperasian klinik keliling.
Setiap kegiatan ditargetkan melayani 500 penerima manfaat per titik, dengan dukungan dokter, paramedis, tenaga logistik, serta paket bantuan kesehatan bagi masyarakat.

Dengan desain ini, total penerima manfaat program selama tahun 2026 ditargetkan mencapai 12.000 orang.

Pesan dari Indovest

Perwakilan Indovest, Ali Said Badeges, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial:

“Ini adalah langkah konkret untuk memastikan bantuan internasional benar-benar sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan. Kita ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari hak dasar kesehatan hanya karena mereka tinggal di wilayah yang sulit akses pelayanan kesehatan yang memadai.”

Kontak Informasi & Kolaborasi

Sekretariat Bersama – Yayasan Islamic Medical Service (IMS)
Jl. Bekasi Timur IV No.130, Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur
Telepon/WhatsApp: +62 813-3456-2043 (Ridho)

Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah Pesan Perkuat Layanan Relawan dan Pulihkan Fungsi Masjid Pascabencana

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Tohari, M.Si, turun langsung ke Medan, Sumatera Utara, pada Rabu, 19 Jumadil Akhir 1447 (10/12/2025). Ia menemui penyintas bencana banjir longsor dan memberi penguatan moral kepada tim kemanusiaan Hidayatullah yang tengah menangani respons darurat atas banjir yang melanda berbagai wilayah.

Tim tersebut terdiri dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), SAR Hidayatullah, Pos Dai, serta jaringan relawan lain yang selama ini menjadi ujung tombak aksi tanggap bencana. Kunjungan ini dilakukan dalam konteks kebutuhan umat dan bangsa atas penanganan bencana yang cepat, terukur, dan berorientasi pada pemulihan sosial.

Setibanya di Medan, KH Hamim didampingi oleh dai tangguh Ust. Ali Ibrahim serta Ketua Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Nasional Hidayatullah, Murdianto. Pendampingan tersebut memungkinkan proses observasi lapangan berlangsung komprehensif, termasuk pemetaan tingkat kerusakan dan analisis kebutuhan warga terdampak.

Rangkaian peninjauan kemudian dilanjutkan ke beberapa titik banjir lain yang tersebar dari Medan hingga Langkat dan Aceh Tamiang. Mobilitas ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh wilayah terdampak memperoleh perhatian proporsional, sejalan dengan prinsip keadilan pelayanan sosial dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Dalam suasana lapangan yang menunjukkan tingginya dampak banjir terhadap kehidupan masyarakat, Hamim Tohari menyampaikan arahan langsung kepada para relawan. Ia menekankan pentingnya memastikan proses respons darurat berjalan dengan etos kerja yang kuat dan terstruktur.

“Tidak boleh warga merasa tidak ada saudara yang benar-benar membantu. Sekecil apapun keseriusan kita untuk mereka adalah kebaikan yang tak akan pernah bisa dihapus oleh waktu,” pesannya.

Selain menekankan pentingnya kerja keras dan konsistensi pelayanan, Hamim Tohari juga memberikan perhatian pada aspek spiritual masyarakat. Ia menjelaskan urgensi pemulihan ruang-ruang sosial keagamaan sebagai bagian dari rekonstruksi kehidupan warga pascabencana.

Dia menjelaskan, rumah ibadah sebagai pusat kegiatan sosial dan pemulihan fasilitas masjid berkontribusi pada kestabilan psikologis dan sosial warga. Karena itu, ia memberikan arahan agar pemulihan spiritual menjadi bagian dari prioritas pemulihan dini. “Benahi masjid-masjid yang ada, sebisa mungkin dapat segera berfungsi dengan baik,” katanya.

Kiai Hamim berharap, respons bencana di Sumatera Utara dan wilayah sekitarnya dapat berjalan lebih terarah, seraya menegaskan berbagai upaya yang dilakukan menegaskan peran Hidayatullah dalam kerja-kerja kemanusiaan yang bersifat universal dan konstruktif bagi pemulihan masyarakat.

KHUTBAH JUM’AT: Berbekallah untuk Kehidupan yang Abadi

0

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Dari berbagai macam urusan dan persoalan yang menyibukkan manusia, ada satu hal yang hendaknya kita benar-benar memperhitungkannya yaitu tentang nasib kita nanti dalam kehidupan sesudah mati. Apakah kita akan selamat atau celaka.

Hidup ini singkat. Kita akan mati dan sesudahnya akan memasuki kehidupan yang abadi. Pada akhirnya kita akan berada dalam salah satu dari dua kondisi yang sangat ekstrim. Apakah kita akan selamat, dimasukkan Allah ke dalam surga, merasakan kebahagiaan yang abadi selamanya tanpa batas.

Atau celaka, masuk ke dalam neraka untuk merasakan penderitaan yang abadi, selamanya tanpa batas. Tidak ada urusan yang lebih penting dari itu. Tidak ada persoalan yang lebih serius dari itu.

Sekali waktu berkunjunglah ke kuburan dan perhatikan yang tertulis di batu nisan. Ada nama, tanggal lahir dan tanggal kematian. Itulah umurnya di dunia.

Perhatikan kembali kapan ia meninggal, sudah berapa lama ia dikubur. Ada yang sudah puluhan tahun, ratusan tahun, bahkan ribuan tahun. Mereka hidup di alam kubur jauh lebih lama daripada usia hidupnya di dunia.

Ada yang baru sehari dikuburkan, tetapi ia tidak tahu berapa puluh, ratus, ribu tahun lagi ia harus menunggu sampai kiamat tiba.

Dan, tibanya hari kiamat bukan akhir, tetapi fase kehidupan berikutnya. Alam kubur hanya pengantar untuk memasuki kehidupan akhirat yang abadi.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala

Coba kita renungkan, seratus tahun atau dua ratus tahun yang akan datang kita akan menjadi orang yang dilupakan, sendiri dalam kesepian di alam kubur.

Tidak ada lagi manusia di permukaan bumi yang masih mengingat kita. Tidak ada lagi anak, cucu, dan keturunan kita yang mengirimkan doa ampunan untuk kita.

Keluarga kita, anak, cucu, teman-teman dan para tetangga mereka juga sedang meratapi nasib yang sama di alam kubur. Rumah, tanah, dan semua aset yang dulu kita miliki sudah berpindah tangan ke pemilik baru yang bahkan sama sekali tidak mengenal kita.

Mereka tidak peduli bagaimana dulu kita berjuang untuk mendapatkannya. Apa yang dulu kita banggakan dan kita kenang sebagai prestasi dengan mudah mereka membuang dan mencampakknya. Pada saat itu mungkin kita sedang menyesali segala kesibukan yang kita jalani hari ini.

Karena itu, sebelum semuanya terjadi, hendaknya kita merenungkan kembali kehidupan kita hari ini agar tidak menyesali kehidupan kita nanti. Inilah kesempatan untuk menentukan nasib kita di akhirat.

Di dunia inilah segala sesuatunya harus kita siapkan. Kehidupan akhirat sepenuhnya tergantung bagaimana kita menjalani kehidupan dunia ini. Hidup ibarat sebuah perjalanan, maka berbekallah.

Kalau hendak pergi sehari, setidaknya kita siapkan bekal untuk keperluan perjalanan sehari. Kalau kita hendak pergi sepekan, siapkan bekal untuk perjalanan sepekan.

Kalau kita hendak pergi sebulan, siapkan bekal untuk perjalanan sebulan. Kekurangan bekal akan membuat kita mengalami kesulitan dalam perjalanan.

Tetapi ada yang lebih berat lagi, kalau kita salah memilih bekal. Apa yang kita anggap bekal justru menjadi beban yang memberatkan perjalanan. Maka berbekallah, dan pandai-pandailah memilih bekal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah Ayat 197:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”

Perjalanan ke akhirat bukan perjalanan sehari atau dua hari, bukan sebulan atau dua bulan, tetapi perjalanan untuk selamanya tanpa pernah kembali lagi dalam kehidupan dunia.

Maka sejatinya dunia ini hanyalah tempat mencari bekal untuk kehidupan yang abadi. Jika kita menginginkan kehidupan dunia maka kita mencarinya di dunia ini.

Jika kita menginginkan kehidupan akhirat, maka kita harus mencarinya di dunia ini. Semuanya harus kita siapkan saat ini, di dunia ini. Tidak ada lagi kesempatan di akhirat nanti.

Maka kita harus memastikan bahwa semua yang kita miliki dan semua usaha dan jerih payah kita akan menjadi bekal untuk perjalanan akhirat.

Harta yang kita miliki yang kita mendapatkannya dengan susah payah, penuh resiko, pengorbanan, dan perjuangan jangan sampai menjadi beban akhirat.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala

Harta memang akan kita tinggal di dunia ketika mati tetapi jangan sampai sia-sia. Jauh lebih baik kita mati meninggalkan harta yang berguna bagi yang hidup dan menjadi kendaraan yang mengantarkan kita ke surga dibandingkan jika kita mati meninggalkan utang yang menyusahkan yang hidup dan memberatkan pengadilan akhirat.

Maka hendaknya kita mempertanyakan kembali, harta kita bekal atau beban akhirat? Kita hitung kembali dengan jujur, kita audit ulang, bahkan berulang-ulang, dari mana kita mendapatkannya dan ke mana kita membelanjakannya.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).

Juga dengan pekerjaan kita. Hendaknya kita merenungkan kembali, apakah pekerjaan kita itu mendekatkan ke surga atau justru akan menjerumuskan kita ke neraka. Hal yang terpenting bukan berapa besar gaji yang kita dapatkan atau berapa besar peluang dan keuntungan dari usaha kita, tetapi halal atau haram.

Kita harus menjadikan pekerjaan itu sebagai sarana ibadah dan amal saleh sehingga setiap tetes keringat dan semua sakit dan lelah dalam bekerja menjadi catatan amal kebaikan yang menambah bekal perjalanan akhirat.

Juga keluarga kita. Anak istri yang menemani kita di dunia mereka juga yang kita harapkan membersamai menjadi keluarga di surga. Jangan sampai anak-anak kita menjadi beban akhirat yang menyeret kita ke neraka.

Kita akan mendidik keluarga kita sebaik-baiknya menjadi keluarga yang tunduk dan taat kepada Allah. Anak-anak yang saleh itulah yang akan mengantarkan kita ke surga.

Dan juga teman-teman kita, saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita. Mereka akan bersaksi tentang kita. Ada saksi memberatkan, ada saksi meringankan.

Maka kita akan bergaul dengan manusia dengan kebaikan-kebaikan, menunaikan apa yang menjadi hak sesama muslim, menghindari segala bentuk kedzaliman agar mereka senantiasa mendoakan kita setelah kematian kita dan di akhirat menjadi saksi atas semua kebaikan kita.

Setiap waktu yang berlalu semakin mendekatkan kita pada batas akhir kehidupan. Kita harus memastikan setiap detiknya menambah produktifitas amal kita.

Jangan sampai kita menyesal di akhirat karena kurangnya bekal kebaikan, apalagi kalau harus ditambah beban tanggung jawab yang memberatkan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Sinergi Pemerintah dan Hidayatullah Dorong Ketahanan Sosial Umat di Nusa Tenggara Timur

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadirkan refleksi mengenai peran ormas keagamaan dalam memperkuat pembangunan sosial di wilayah dengan karakter demografis yang khas.

Dengan komposisi penduduk Muslim yang hanya sekitar 8,09 persen dari total 5,3 juta jiwa, NTT memiliki lanskap dakwah yang menantang sekaligus strategis.

Dalam pembukaan forum resmi tersebut bertempat di Aula El Tari Kupang pada Sabtu, 15 Jumadil Akhir 1447 (6/12/2025), apresiasi disampaikan oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, melalui Asisten III Setda Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT Samuel Halundaka yang mewakilinya.

“Kontribusi Hidayatullah bagi daerah bukan sekadar dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga suprastruktur, yakni pembinaan mental masyarakat agar menjadi kelompok yang kontributif bagi NKRI,” katanya, yang menegaskan posisi Hidayatullah sebagai mitra pembangunan daerah dalam konteks keagamaan maupun sosial.

Kehadiran Hidayatullah di NTT telah berlangsung sejak tahun 1993 dan berkembang menjadi bagian penting dalam ekosistem pendidikan dan dakwah setempat. Kampus Madya Hidayatullah Batakte di Kabupaten Kupang menjadi titik sentral gerakan tersebut.

Berdiri di atas lahan seluas lima hektare, kampus ini berfungsi sebagai pusat pengkaderan dan sekaligus poros pendidikan tauhid di wilayah timur Indonesia. Keberadaan kampus putri yang berjarak sekitar 300 meter serta MI Pemimpin di Kota Kupang memperkuat jaringan pendidikan yang berfokus pada pembinaan akhlak dan kompetensi generasi muda.

Ekspansi pendidikan tidak terbatas pada kawasan Kupang. Hidayatullah juga mengembangkan satuan pendidikan di Pulau Longos (Manggarai Barat) dan Ngada. Sebagian besar kader dari wilayah tersebut sebelumnya ditempa di Kampus Induk Gunung Tembak, Balikpapan, dan kini berperan di berbagai Perguruan Tinggi Hidayatullah di Indonesia. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa penguatan dakwah dan pendidikan berjalan beriringan.

Fokus Strategis Lima Tahun ke Depan

Ketua DPW Hidayatullah NTT, Nurdin Potok, yang kembali terpilih, menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi NTT serta berbagai elemen masyarakat yang telah bersinergi selama ini.

Ia meminta dukungan penuh dari pengurus dan Dewan Murabbi Hidayatullah Wilayah untuk melaksanakan agenda strategis yang telah dirumuskan demi kemajuan dakwah dan pendidikan di NTT.

Dalam keterangannya, Nurdin, menyampaikan Muswil VI Hidayatullah NTT menetapkan fokus strategis lima tahun ke depan, yakni penguatan tarbiyah dan dakwah yang ditopang aktivitas ekonomi mandiri.

Dalam aspek tarbiyah, Kampus Batakte dirancang menjadi sentra pendidikan NTT dengan berbagai program unggulan seperti tahfidz Al-Qur’an, pembelajaran bilingual, penguatan lingkungan bi’ah lughawiyah, serta pengembangan kompetensi sains dan teknologi, terutama di bidang IT.

“Sekolah dasar full day Hidayatullah di seluruh jaringan NTT difungsikan sebagai satelit yang mengirimkan lulusan ke Batakte untuk pendidikan berasrama yang memadukan keilmuan agama dan umum,” katanya.

Di ranah dakwah, kerja sama dengan PosDai menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pembinaan di pulau-pulau dan daerah pelosok. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan akidah keluarga Muslim sekaligus menghadirkan pendampingan spiritual bagi masyarakat minoritas.

“Dakwah yang dijalankan bukan hanya menghadirkan pengajaran, tetapi juga membangun daya tahan umat dalam menghadapi dinamika sosial zaman,” terangnya.

Hidayatullah NTT juga memperkuat orientasi ekonomi sebagai penopang kemandirian gerakan. Pemanfaatan lahan kampus untuk ketahanan pangan menjadi salah satu langkah yang selaras dengan kebijakan pemerintah daerah. Gubernur NTT sebelumnya memberikan dukungan terhadap Balai Latihan Kerja (BLK) komunitas yang fokus pada pengolahan hasil pertanian.

Inisiatif tersebut mendorong tumbuhnya jiwa wirausaha para kader serta menempatkan kampus sebagai creative hub dalam pengembangan komoditas lokal seperti kopi dan keripik. Kekayaan laut Kupang juga dipandang sebagai potensi strategis untuk memperkuat ekonomi umat melalui sektor perikanan.

Dari tingkat pusat, DPP Hidayatullah melalui Muzakkir yang mendampingi rangkaian Muswil ini menegaskan komitmen organisasi untuk memperkuat sinergi dengan seluruh elemen keummatan dan pemerintah dalam membangun peradaban nasional.

Ia menekankan bahwa masyarakat yang tercerahkan spiritualnya dan memperoleh pendidikan yang bermutu dapat tampil menjadi pemikir strategis bagi Indonesia Emas 2045.

Muzakkir juga mengingatkan pentingnya ukhuwah internal dan silaturahim eksternal sebagai fondasi keberlanjutan program organisasi di NTT.

Selain itu, peran Baitul Maal Hidayatullah (BMH) disebutkan sangat signifikan dalam mendukung pendidikan dan dakwah, terutama melalui penyediaan beasiswa dan pembangunan infrastruktur pendidikan. Program pengiriman dai pedalaman juga menjadi prioritas agar pertumbuhan dakwah terus meningkat di wilayah NTT.

Upaya tersebut dinilai sebagai langkah penting untuk mendukung pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan suprastruktur masyarakat.

Pentingnya Kebersamaan dan Akhlak sebagai Ruh Kepemimpinan

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Pergantian peran dalam organisasi merupakan momentum peneguhan kembali standar kebaikan yang diharapkan lahir dari pribadi-pribadi yang berkhidmat. Demikian benang merah sambutan KH Hamim Thohari dalam acara seremoni serah terima jabatan Ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan yang berlangsung pada Selasa, 18 Jumadil Akhir 1447 (9/12/2025).

KH Hamim Thohari menegaskan bahwa akhlak merupakan ruh sekaligus ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah maupun manusia. “Akhlak inilah yang menjadi ruh dan standar kebaikan di hadapan Allah dan manusia,” ujarnya dalam sambutan.

Penegasan itu mewarnai refleksi Kiai Hamim atas satu dekade dirinya memimpin Pembina Kampus Utama Medan. Ia menyampaikan bahwa masa tugasnya telah mencapai saat yang tepat untuk digantikan sebagai bagian dari proses peremajaan kepemimpinan organisasi.

“Sepuluh tahun saya bertugas sebagai ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan, akhirnya harus berganti sebagai wujud rejuvinasi,” ungkapnya. Proses regenerasi itu, menurutnya, merupakan konsekuensi alamiah sebagaimana pergiliran waktu yang terus berjalan.

Dalam sambutannya, Hamim menggambarkan pergantian sebagai keniscayaan yang telah ditetapkan dalam sunnatullah. Ia mencontohkan perubahan siang dan malam, bergantinya hari, pekan, bulan, dan tahun.

Setiap struktur organisasi, menurutnya, dituntut untuk siap menghadapi perubahan dan menerima transisi sebagai bagian dari dinamika kelembagaan yang sehat.

Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas kiprah tiga ketua kepengurusan yang selama masa jabatannya telah menjalankan amanah dengan capaian masing-masing, yakni Ustadz Khairul Anam, Ustadz Ali Akbar, dan Ustadz Subur Pramudya.

Pada kesempatan itu, Hamim yang kini diamanahi sebagai Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah ini menyampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf atas segala kekurangan selama masa kepemimpinannya.

Sebagai pesan penting kepada seluruh jajaran, Hamim menegaskan bahwa setiap amanah organisasi harus dipahami sebagai ruang pengabdian yang saling melengkapi, layaknya anggota tubuh yang memiliki peran vital masing-masing.

Ia menekankan kesiapsiagaan untuk ditempatkan pada posisi apa pun demi kemaslahatan kerja-kerja kelembagaan. Nilai kebersamaan ini, menurutnya, hanya dapat hidup bila ditopang oleh akhlak yang baik, meneladani sifat-sifat Allah dan Rasulullah.

Pada bagian akhir acara, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi selaku Ketua Pembina yang baru menyampaikan permohonan dukungan dari seluruh peserta yang hadir.

Ia menggarisbawahi bahwa kerja organisasi yang efektif hanya dapat dicapai melalui kekompakan, kesungguhan, dan kolaborasi lintas peran. Tanpa itu semua, dia menegaskan, tugas sekecil apa pun sulit diselesaikan dengan optimal.

Perjalanan Sunyi Para Penghafal Al-Qur’an dan Harga Sebuah Keteguhan

0

ADA satu kebahagiaan yang hanya dipahami oleh para penghafal al-Qur’an; kebahagiaan ketika dirinya bisa setoran hafalan dalam satu kali duduk, lancar sesuai target.

Aaaa … rasanya… segala susahnya, nangisnya, ngantuknya, malasnya, dan semua yang sebelumnya terasa berat, seketika hilang tak berbekas.

Perjalanan para penghafal Al-Qur’an itu sangat panjang dan tidak mudah. Itulah mungkin yang kurasakan. Meski statusnya masih pemula.

Tepatnya, sebagai orang yang masih berjuang mempertahankan nikmat pernah diberi kemampuan menghafal al-Qur’an. Itulah diriku sebenarnya.

Kini aku berdiri sebagai guru tahfidz al-Qur’an. Dari sini, aku seolah sedang melihat kembali diriku sendiri melalui murid-muridku.

Aku mulai menghafal al-Qur’an sejak sekolah di tingkat SMP, dan hingga SMA aku masih berada di perjalanan itu. Enam tahun bukan waktu yang sebentar.

Pernah suatu ketika aku bertekad untuk tidak menyelesaikan hafalanku. Bukan tanpa alasan. Sudah terbayang betapa beratnya muraja’ah juz sebanyak itu. Rutinitas para penghafal Qur’an yang juga harus belajar di sekolah menjadi makanan sehari-hari kami sebagai santri.

Bangun shalat tahajjud, menghafal, halaqah Shubuh, setoran ziyadah, piket asrama, berangkat sekolah, belajar hingga jam dua siang, jeda sebentar hanya untuk shalat Dzuhur, lanjut belajar hingga shalat Ashar, halaqah Ashar, setoran muraja’ah, piket sore, shalat Maghrib, halaqah Maghrib, hafalan bi an-nadzhar, shalat Isya, belajar malam, halaqah persiapan ziyadah, tidur, lalu kembali bangun pukul tiga.

Begitulah rutinitas kami; padat, melelahkan, tapi sungguh penuh makna.

Kadang kami mengaji di kelas saat pelajaran siang. Rasanya lebih sibuk menatap mushaf daripada menyimak penjelasan guru. Diakui itu salah juga dilema. Pilihan kami sulit. Sore hari wajib setoran muraja’ah. Jika tidak lancar, harus mengulang kembali. Sedang mengulang itu berarti menambah tekanan bagi diri sendiri.

Namun ada satu momen paling indah; saat menghafal di waktu tahajud. Membaca surat cinta-Nya di tengah malam ketika dunia sunyi. Shalat tahajud sambil muraja’ah menjadi tantangan yang justru menumbuhkan kenikmatan tersendiri.

Teringat kalimat hikmah yang selalu terpatri di hati:

“Aib bagi seorang penghafal al-Qur’an jika ia tidak menyetorkan hafalannya kepada Dzat yang menurunkan al-Qur’an pada sepertiga malamnya.”

Kalau dulu aku berada di posisi mereka. Kini, murid-muridkulah yang sedang menjalani semua itu. Aku menyaksikan, menikmati sekaligus mendukung perjuangan mereka, jatuh-bangun mereka, seraya melihat potret diriku sendiri di masa lalu.

Namun perjalanan tahfidz bukan hanya tentang target dunia. Tidak berhenti pada jumlah juz, lancar atau tidaknya setoran, atau nilai ujian semata. Di balik setiap ayat yang mereka pegang erat, ada nilai akhirat yang jauh lebih besar.

Ada janji Allah yang nyata tentang kemuliaan, tentang masa depan yang diberkahi, tentang hidup yang dijaga oleh ayat-ayat yang mereka simpan dalam dada.

Hari-hari ini, mereka para santri tengah menghadapi ujian hafalan. Satu evaluasi yang mengukur seberapa kuat hafalan itu bertahan, seberapa dalam ayat-ayat itu mengakar, dan seberapa besar kesungguhan mereka menjaga amanah kalamullah.

Semangat, para pejuang al-Qur’an!

Teruslah melangkah. Ini adalah kepingan mozaik sekaligus perjalanan panjang menuju gelar kemuliaan di sisi Allah. Sebagai keluarga Allah dan sebagai penjaga wahyu-Nya. Sebab setiap lelah akan berubah menjadi cahaya.

*) Irfatunnazhifah, penulis guru tahfizh al-Qur’an putri Pesantren Hidayatullah Bontang Kalimantan Timur

Komitmen Literasi, Jihad Jurnalistik Hadapi Tantangan Baru dalam Dakwah Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., memberikan sambutan dalam Focus Group Discussion (FGD) Kemediaan yang digelar di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 17 Jumadil Akhir 1447 (8/12/2025).

Acara yang diinisiasi oleh Kelompok Media Hidayatullah ini menjadi ruang refleksi strategis tentang masa depan media dakwah di era disrupsi informasi.

Dalam sambutannya, Naspi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini, yang ia sebut sebagai momentum penting dalam penguatan ekosistem media Hidayatullah sebagai saluran dakwah penyinar umat. Ia menegaskan bahwa forum pemikiran semacam ini perlu menjadi tradisi intelektual yang terus berlanjut dalam lingkungan Hidayatullah.

“Ini adalah FGD pertama di periode ini, ini kita utamakan karena sangat penting” katanya.

Naspi kemudian menguraikan tantangan yang dihadapi media dakwah hari ini. Menurutnya, perjuangan jurnalistik yang sejak awal menjadi salah satu pilar gerakan Hidayatullah menghadapi medan yang semakin berat. Era digital melahirkan arus informasi yang masif, kompetitif, dan tidak selalu berorientasi pada nilai.

“Kita sangat yakin bahwa jihad jurnalistik menemui titik tantangan yang lebih berat dari era sebelumnya,” katanya.

Tantangan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari kondisi internal umat. Naspi menekankan bahwa komitmen literasi tidak boleh melemah, sebab melemahnya literasi berarti melemahnya kemampuan umat untuk memahami, mengkritisi, dan menyebarkan kebenaran dalam bingkai dakwah.

“Kita juga harus akui, komitmen literasi kita menurun seiring dengan massifnya transformasi digital,” katanya.

Dalam konteks itu, media dakwah dituntut untuk bekerja lebih kreatif dan lebih kuat dalam konten, distribusi, dan edukasi. Kompetisi dengan beragam produk jurnalistik di pasar informasi menjadi perhatian utama.

“Saingan produk jurnalistik banyak, sementara minat baca kader juga harus diperkuat, agar lebih kuat dan tinggi,” katanya.

Ia menekankan bahwa keberlanjutan media Hidayatullah bukan hanya tentang mempertahankan sebuah institusi, tetapi tentang menjaga salah satu warisan terbesar pendiri gerakan, Ustadz Abdullah Said, yang menempatkan dakwah tulisan sebagai sarana membangun peradaban Islam.

“Mudah-mudahan pertemuan ini memberikan solusi yang mencerahkan agar salah satu warisan terbesar Ustadz Abdullah Said ini tetap eksis,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Naspi menegaskan bahwa hasil FGD tidak akan berhenti pada diskusi semata. Ia menyampaikan bahwa gagasan dan rumusan yang lahir dari forum ini akan menjadi bahan strategis dalam pertemuan tingkat nasional berikutnya.

“Hasil dari FGD ini akan jadi amunisi untuk dialog di agenda Rakernas,” katanya.

Mushida Mantapkan Langkah Dakwah dan Ketahanan Keluarga pada Periode Baru

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menggelar silaturrahim di Kantor Pengurus Pusat Mushida, Jalan Cipinang Cempdak, Otista, Polinia, Jakarta, Selasa, 18 Jumadil Akhir 1447 (9/12/2025).

Pada momentum ini, Ketua Umum Pengurus Pusat Mushida, Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd, dalam sambutannya menempatkan dimensi spiritual sebagai fondasi utama kesinambungan gerak organisasi.

“Pertolongan dan ridho Allah adalah harapan utama dalam setiap langkah melanjutkan perjuangan dalam berorganisasi,” ujarnya, menegaskan bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai melalui ketaatan dan keikhlasan dalam memikul amanah.

Hani Akbar menyampaikan rasa syukur atas tuntasnya amanah 2020–2025 serta menjelaskan bahwa penetapan pengurus dilakukan melalui proses syura yang menempatkan musyawarah sebagai prinsip etis dan organisatoris.

“Alhamdulillah kita berhasil menyelesaikan amanah periode 2020–2025 dengan husnul khatimah,” ungkapnya. Ia berharap seluruh jajaran yang baru dikukuhkan dapat menjalankan tugas secara profesional dan tetap berpegang pada nilai-nilai dakwah.

Sebelumnya, Ketua Majelis Mudzakarah Muslimat Hidayatullah, Kurnia Irawati, S.Ag., menyampaikan tausiyah mengenai pentingnya keyakinan kepada pertolongan Allah dalam setiap langkah perjuangan.

Ia menegaskan bahwa sejarah menunjukkan bagaimana kekuatan menjadi berlipat ganda ketika perjuangan dilakukan di jalan yang benar.

“Pertolongan Allah pasti datang. Maka bercita-citalah lebih tinggi,” pesannya. Ia mengingatkan bahwa seorang muslimah tidak perlu gentar selama berada dalam barisan perjuangan yang lurus. “Percayalah kepada janji-Nya,” tambahnya.

Penguatan dimensi moral dan spiritual tersebut diperluas oleh Anggota Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Ir. Emi Pitoyanti, yang mengingatkan pentingnya kerendahan hati dalam menerima amanah. Menurutnya, setiap tanggung jawab yang diberikan merupakan bagian dari ketetapan Allah dan harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.

“Takdir Allah tidak pernah salah, termasuk amanah yang kini dipikul oleh para pengurus. Amanah yang diberikan wajib kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Maka lakukan dengan profesional,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar kepengurusan yang baru dapat semakin solid dan saling menguatkan. “Bismillah, semoga Pengurus Tingkat Pusat Muslimat Hidayatullah semakin kompak dan solid,” tuturnya.

Silaturahmi ini dihadiri oleh 26 peserta dan menjadi forum untuk merapikan struktur serta memperkuat arah kerja kepengurusan. Setelah sesi tausiyah dan arahan pimpinan, acara dilanjutkan dengan serah terima amanah sebagai simbol transisi kepemimpinan yang tertib.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar kepengurusan baru mampu menjalankan peran strategisnya dalam memperluas dakwah, membangun ketahanan keluarga, serta meningkatkan kontribusi sosial Muslimat Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Hidayatullah Tegaskan Pentingnya Penerapan Syariat dalam Penyembelihan Hewan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa tugas penyelia halal khususnya pada lingkup penyembelihan hewan bukan hanya memastikan prosedur halal, tetapi juga bagian dari perjuangan aqidah melawan nilai-nilai yang bertentangan dengan syariat.

“Peradaban halal adalah bagian dari keteguhan umat Islam dalam menjaga identitas dan ibadahnya,” kata KH Naspi saat berdialog dalam forum konsultatif dengan Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, Nanang Hanani, beserta jajarannya di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 17 Jumadil Akhir 1447 (8/12/2025).

KH Naspi menekankan bahwa lembaga penyembelihan halal memegang misi besar dalam melawan berbagai penyimpangan dan praktik tidak syar’i yang dapat merusak kehalalan konsumsi umat.

Pertemuan ini membahas pentingnya peningkatan kualitas layanan sembelihan halal, termasuk penguatan nilai spiritual dan standar syariat dalam setiap prosesnya.

Naspi menegaskan bahwa LSH Hidayatullah harus menjadi lembaga yang benar-benar menghadirkan nilai tambah bagi umat. Menurutnya, lembaga ini bukan hanya menjalankan fungsi teknis penyembelihan, tetapi juga membawa misi dakwah, etika, dan peradaban halal.

Ia mengarahkan dengan mendorong agar LSH Hidayatullah tampil di masyarakat dengan ciri khas yang kuat, yaitu layanan bernilai ibadah dan keikhlasan.

“Berikan benefit yang berbeda kepada masyarakat. Berikan nilai lebih dalam penyembelihan seperti lakukan shalat dua rakaat, membaca 1 juz dulu, atau putarkan murattal Al Qur’an ke hewan sebelum disembelih,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa praktik-praktik spiritual semacam ini telah menjadi tradisi ulama terdahulu sebagai bentuk permohonan pertolongan Allah dan penjagaan niat sebelum melaksanakan amal besar. Hal ini, jelasnya, rangkaian dari budaya keilmuan Islam yang menempatkan keberkahan sebagai tujuan utama.

Ia mencontohkan. Imam Bukhari, sebelum menuliskan satu hadis dalam kitabnya, selalu melaksanakan shalat istikharah dua rakaat untuk memohon petunjuk Allah. Begitu pula pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dikenal dengan disiplin ibadahnya yang kuat.

“Ustadz Abdullah Said itu tidak mengizinkan ada khatib keluar dari kampus kalau malamnya tidak shalat tahajjud,” katanya.

Melanjutkan arahannya, Naspi menekankan bahwa penyembelihan halal bukan sekadar proses teknis, melainkan tanggung jawab moral dan keagamaan. Ia mengingatkan bahwa apa yang dikonsumsi umat sangat menentukan kualitas spiritual dan kesehatannya, sehingga seluruh tahapan penyembelihan harus memenuhi syarat syariat.

“Ada haknya umat Islam yang tidak tertunaikan kalau kita tidak serius dalam mengurusi ini. Adalah hak umat Islam mendapatkan kualitas daging yang baik dan halal dimana ini harus dipastikan dari rangkaian prosesnya hingga dikonsumsi,” katanya.

Hidayatullah melalui LSH, lanjut Naspi, adalah upaya sungguh sungguh untuk memperkuat ekosistem peradaban halal di Indonesia, mulai dari tata kelola penyembelihan hingga pemahaman masyarakat.

“LSH Hidayatullah diharapkan menjadi garda depan dalam memastikan bahwa kehalalan adalah nilai yang dijalankan secara menyeluruh,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LSH Hidayatullah Pusat, Nanang Hanani, menyampaikan laporan perkembangan lembaganya. Saat ini, dia menyebutkan, jaringan struktural LSH Hidayatullah telah hadir di 30 provinsi di Indonesia.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa LSH terus menggelar pelatihan sembelih halal di berbagai daerah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai etika dan prosedur penyembelihan yang sesuai syariat.

Nanang menekankan pentingnya memperlakukan hewan sembelihan dengan penuh kasih sayang, ketenangan, dan penghormatan.

“Tugas LSH Hidayatullah terus mencerahkan masyarakat tentang bagaimana memperlakukan hewan sembelihan, bagaimana memperhatikan kesejahteraan hewan, bagaimana merobohkan hewan dengan cinta,” katanya.

Ia melanjutkan dengan ungkapan yang menggambarkan prinsip dasar etika penyembelihan Islam. “Muliakan, senangkan, nyamankan, tenangkan hewannya, maka tajamkan pisaumu,” katanya.

Nanang menambahkan bahwa LSH Hidayatullah saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku saku pintar tentang sembelih halal sebagai panduan praktis bagi masyarakat dan juru sembelih.