Beranda blog Halaman 690

Kelahiran dan Masa Remaja

0

Ust Abdullah Sa'idMuhsin Kahar dilahirkan tepat pada hari proklamasi kemerdekaan R.I. Jum’at, 17 Agustus 1945 di sebuah desa bernama Lamatti Rilau, salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Letaknya berada pada ketinggian sehingga dari desa ini dapat terlihat jelas hamparan pulau-pulau yang ada di perairan Teluk Bone. Terutama Pulau-pulau Sembilan yang terdiri dari Pulau Kambuno, Pulau Liang-Liang, Pulau Burung Lohe, Pulau Batang Lampe, Pulau Kodingareng, Pulau Katindoang,  Pulau Kanalo Satu, Pulau Kanalo Dua dan Pulau Larearea.
Pemandangan ke arah hamparan pulau-pulau inilah yang membuat perasaan agak terbuka atas keterpencilan kampung ini.

Pada saat kelahirannya, ayahnya, Kyai Abdul Kahar Syuaib menjabat sebagai Imam di Kampung Lamatti yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Panreng (dalam bahasa setempat panreng berarti kuburan). Karena ayahnya seorang ulama yang kharismatik di tempat itu, sehingga keluarganya mendapat tempat tersendiri dimata masyarakat. Ayahnya lebih populer dikalangan masyarakat dengan sebutan Puang Imang,[1] karena cukup lama menjadi imam di kampung itu.

Nama Muhsin Kahar berubah menjadi Abdullah Said pada saat menjadi buronan sehubungan dengan Peristiwa pengganyangan perjudian di Makassar yang disebut lotto (lotre totalisator) yang dia dalangi pada  Hari Kamis 28 Agustus 1969.

Ayahnya tiga kali nikah tapi tidak dengan memadu, menghasilkan 12 orang anak. Ibu Muhsin Kahar bernama Aisyah, lebih dikenal dengan panggilan Puang Ica.  Merupakan istri terakhir dinikahi setelah istri pertama dan kedua meninggal dunia. Puang Ica melahirkan empat orang anak semuanya laki-laki: Junaid Kahar (Puang Juna), Lukmanul Hakim Kahar (Puang Luke’)[2], Muhsin Kahar (Puang Esseng) dan As’ad Kahar (Puang Sade’).

Dari istri pertama, Nafisah  lahir dua orang anak: Asiah Kahar, meninggal dalam usia 3 tahun  dan Muhammad Djamil Kahar (Puang Milu).

Dari istri kedua, Bun-yamin (Puang Bune), lahir Zubair Kahar (Puang Bere’), Juhaefah Kahar (Puang Efah), Radhiyah Kahar (Puang Radi), Maryam Kahar (Puang Mari’), Hamdanah Kahar (Puang  ‘Ndah) dan Sitti Zulaiha Kahar (Puang Itti).

Ketika masih dalam kandungan sempat menjadi bahan perbincangan dikalangan keluarga. Karena usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun sang anak belum juga lahir. Hanya ayahnya yang selalu mengingatkan sang ibu agar tetap bersabar menunggu kelahirannya sampai kapanpun yang dikehendaki oleh Allah SWT. Pendapat itu diperkuat oleh pamannya, sorang ulama , K.H. Hasan Syuaib, Kadhi Bulo-Bulo di Sinjai, ayah kandung K.H.Ahmad Marzuki Hasan yang populer dengan sebutan Kali Cambang. Sejak usia kandungan itu memasuki tahun kedua timbul tanggapan miring bahwa mungkin yang dikandung itu bukan manusia. Mungkin buaya atau entah apa. Sang ayah marah besar kalau mendengar tanggapan miring seperti itu. Karena ada keyakinan dalam hati sang ayah bahwa anak yang dikandung itu kelak akan jadi orang hebat, sebagaimana halnya Imam Syafi’i  yang juga lama dalam kandungan.

Akhirnya bayi yang tadinya mencurigakan itu lahir juga dalam keadaan normal dan sehat layaknya bayi-bayi  pada umumnya di sebuah rumah di Kampung Panreng. Kampung yang juga tempat kelahiran beberapa orang yang tergolong tokoh seperti K.H.Ahmad Marzuki Hasan, mantan Kepala Kementerian (KpK)  Dalam  Negeri dan KpK Penerangan – DI/TII dibawah pimpinan  Abdul Qahhar Mudzakkar,  mantan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara, Pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa-Maros  Sulsel. Juga kampung kelahiran Drs. H. Muhammad Suyuthi PaE, mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulsel, dosen senior IAIN Alauddin Makassar. Dan juga kampung kelahiran seorang mantan pejabat pusat Departemen Perhubungan, Ir. H. Andi Sulthan Said, yang menyelesikan pendidikannya di Jepang kemudian menjadi  Direktur Utama (Dirut) BKI (Badan Klasifikasi Indonesia).

Pada saat kelahirannya kampung ini masih sangat ketinggalan dari segi pembangunan fisik. Jalanan dari kampung ini menuju ibu kota kabupaten jauh dari apa yang terlihat sekarang, yang sudah beraspal dengan kendaraan sepeda motor dan kendaraan roda empat yang tidak putus-putusnya. Waktu itu orang-orang kampung yang ingin berkunjung  ke kota kabupaten umumnya berjalan kaki, paling banter menggunakan sepeda engkol atau menunggang kuda. Sehingga jarak yang begitu dekat, empat kilometer,  harus ditempuh dengan waktu yang cukup lama.

Kota Sinjai yang merupakan ibukota Kabupaten Sinjai sendiri masih sangat jauh tertinggal dibanding kota-kota lain di Indonesia. Penerangan listriknya yang dikelola oleh MPS (maskapai perusahaan sejenis), masih redup-redup. Bahkan hingga akhir tahun enampuluhan Sinjai masih tergolong daerah yang sangat tertinggal. Dalam sebuah majalah terbitan ibu kota pernah memuat sebuah iklan yang mempromosikan salah satu jenis obat yakni salonpas, berbunyi, “Dikenal mulai dari Jakarta sampai Sinjai”. Ini menggambarkan betapa tertinggalnya Kabupaten Sinjai.

Namun bagaimanapun tertinggalnya dari segi pembangunan fisik tapi maraknya kehidupan beragama patut dibanggakan. Orang tuanya sendiri sebagai ulama di kampung itu sekaligus sebagai imam di Tingkat Distrik (kecamatan sekarang) memiliki banyak murid yang belajar padanya. Demikian pula di kota Sinjai ada dua ulama besar, K.H.Muhammad Thahir yang menjadi kadhi di Balangnipa yang dikenal dengan sebutan Kali Thahirong dan K.H. Hasan yang menjabat sebagai Kadhi Bula-Bulo yang dikenal dengan sebutan Kali Cambang. Kondisi ini sangat menolong pertumbuhan spritual Muhsin kecil. Sehingga ketertinggalan yang dialami kampungnya serta daerah Sinjai pada umumnya baginya mengandung hikmah yang besar.  Karena dengan demikian involusi moral yang terjadi di kota-kota besar tidak sempat merembes ke daerah ini. Terhambat oleh transportasi yang belum lancar, disebabkan jalanan belum licin, jembatan banyak mengalami kerusakan. Apalagi memang kendaraan waktu itu masih dapat dihitung jari. Bacaan-bacaan yang dapat merusak moral anak belum banyak dikenal masyarakat. Pemilik pesawat radio saja  masih sangat terbatas, disebabkan tingkat perekonomian masih sangat rendah.

Untuk pendidikan dasarnya dia sangat tertolong dengan adanya Sekolah Dasar yang waktu itu bernama Sekolah Rakyat didirikan di kampungnya. Di sekolah itulah dia belajar. Namun hanya sampai kelas III, dari tahun 1952 hingga 1954 karena  terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya yang tercinta itu mengikuti sang ayah yang pindah ke Makassar.
Ketika itu kondisi keamanan di Sinjai semakin mencekam.  Apalagi dengan terbunuhnya seorang anggota polisi yang ditengarai pembunuhnya adalah Zubair Kahar, komandan pemberontak yang saudara kandung Muhsin Kahar.  Ayahnya setiap saat mendapat panggilan untuk diinterogasi sehubungan dengan pembunuhan yang dihubungkan dengan anak kandungnya itu. Itu yang membuat sang ayah merasa terusik sehingga tidak betah lagi tinggal di kampung, memilih hijrah ke Makassar untuk mencari ketenangan.

[1] Panggilan kehormatan kepada Imam di kampung.
[2] Menurut kebiasaan orang Bugis nama-nama selalu disingkatkan atau membuat nama singaktan  untuk   memudahkan panggailan.

Mencetak Kader Militan

0
Oleh Dr Abdul Mannan Rausulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) menyadari bahwa tali persaudaraan yang terjalin kuat antara ia dan para sahabat sangat dibutuhkan agar perjuangan menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) bisa berhasil. Oleh karena itu, sejak awal Rasul SAW telah menempa para sahabat lewat Daurah al Arqam.

Jiwa-jiwa militan yang lahir dari daurah itu tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Puncak pengorbanan itu terjadi ketika mereka diperintahkan hijrah ke Madinah.
Keluhuran peradaban Islam kemudian menjadi kekuatan politik yang mampu menundukkan tirani Roma dan Persia. Militansi tidak lahir tanpa proses.
Dalam sudut pandang menejemen strategi sumber daya manusia, militansi hanya akan diperoleh melalui keseriusan seseorang menjalankan amanah secara baik.
Kemampuan teknis menejerial dapat diperoleh melalui pembelajaran yang intensif. Kemampuan analisis dan berpikir strategis hanya dapat diperoleh melalui pengalaman empiris dan interaksi dengan para ahli.

Adapun kemampuan mental dan spiritual hanya dapat diperoleh melalui berbagai rintangan dan pemahaman terhadap visi. Pemahaman ini terefleksi dari idealisme yang lahir dari pandangan hidup.

Kekuatan intelektual, mental, dan spiritual para pelaku sejarah penegakan peradaban Islam angkatan pertama lahir dari pandangan hidup Islam. Pada saat itu Al-Qur’an dan As-Sunnah memang menjadi sumber utama dalam berpikir dan beraksi.

Kemampuan generasi pertama dalam mencerna Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah bulat tanpa resistensi. Wahyu Allah SWT merupakan kebenaran mutlak. Begitu pula segala apa yang datangnya dari Rasulullah SAW.

Maka, tak heran jika tegaknya peradaban Islam kala itu berlangsung sangat cepat dan mencengangkan. Mengapa demikian? Karena menejemen yang diterapkan Rasulullah SAW adalah komando yang dinamis.

Bagaimana dengan Hidayatullah? Setelah Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dipanggil oleh Allah `SWT, generasi pelanjut mencoba berkreasi untuk mewujudkan pola kepemimpinan Hidayatullah dengan sistem terbuka, yaitu organisasi massa yang berbasis kader.

Delapan tahun berlalu, hasil rekrutmen kader tidak signifikan. Masa ini adalah masa transisi yang sangat menggoncangkan dan menggelisahkan. Tak sedikit pertanyaan dengan nada sangat sinis dan pesimis mengemuka.

Masa transisi juga melahirkan banyak faksi pemikiran yang mendistorsi ajaran Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai manhaj tarbiyah dan harakah jihadiyah.

Konflik yang dipicu oleh distorsi ideologi dan materi (ekonomi) harus segera dipangkas. Jika tidak, akan menjadi virus ganas yang melumpuhkan dan mematikan eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi harakah jihadiyah. Di sinilah kepemimpinan imamah jama’ah diuji ketangguhannya.

Menurut rumus menejemen strategis, jika kondisi organisasi seperti ini, maka solusi yang diperlukan adalah tampilnya jiwa kepemimpinan yang penuh komitmen dan berani.

Inspirasi segar dan dinamis yang memancar dari jiwa seorang pemimpin akan menciptakan energi baru bagi seluruh lini komando untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Transfer energi kepada orang-orang di sekitar akan melahirkan gebrakan karya nyata yang berdimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan yang hakekatnya adalah mengangkat reputasi organisasi.

Transfer nilai spiritual dan intetelektual dapat dilakukan melalui berbagai sarana, seperti pendidikan klasikal yang berkualitas, training singkat, diskusi formal atau informal.

Inilah yang harus menjadi fokus kerja organisasi seperti dahulu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau memulai tugasnya dari dunia pendidikan dan dakwah. Wallahu a’lam.

*Sahid November 2008

Benturan Peradaban

0
Oleh Dr Abdul Mannan
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah Peradaban Yunani telah ada sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi we sallam (SAW) mengajarkan Islam kepada umat manusia. Peradaban ini mengajarkan kepada manusia agar mendewakan dirinya sendiri. Akibatnya, manusia senantiasa menomorsatukan akal dan meyakini kebenaran empiris. Ini semua melahirkan pandangan hidup (world view) yang berdasar pada materialisme dan pragmatisme.

Ada dua peradaban yang berakar pada materialisme, yaitu komunis (Timur) dan kapitalis (Barat). Uniknya, sejak awal kedua peradaban ini senantiasa berbenturan. Yang satu menggunakan sistem ekonomi sentralisasi (komando), yang lain menggunakan sistem individu (swasta). Benturan ini berakhir dengan kemenangan kapitalis.
Selanjutnya, setelah komunis dapat ditundukkan, rival kapitalis beralih kepada agama. Tentu saja agama yang memiliki doktrin kontra terhadap ketidakadilan adalah Islam. Sehingga Islam saat ini menjadi target operasi kaum kapitalis agar lenyap dari permukaan bumi.

Islam turun di tengah peradaban paganis dan disambut secara pro dan kontra. Mereka yang pro merasa dirinya memperoleh solusi kehidupan yang dinantikan. Para budak bisa merdeka. Masyarakat yang tertindas bisa memperoleh keadilan. Kaum proletar dan birokrat merasakan kebersamaan.
Adapun bagi yang kontra, merasa bahwa status quonya mulai terancam, kekayaannya akan terbagikan, kebebasan berperilaku akan terkekang. Akibatnya, benturan psikologis dan fisik terjadi di tengah masyarakat Arab jahiliyah sebagai penolakan terhadap Islam yang membawa ajaran tauhid.
Konflik ini tak akan berakhir.
Dan, di setiap masa akan muncul motor penggerak para penggilas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Pada masa Rasulullah SAW kita mengenal trio Abu: Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sofyan. Ketiganya senantiasa menciptakan konflik antara penganut ajaran Islam dengan masyarakat paganis.
Padanan trio tersebut pada abad ini adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Mereka telah bersekutu untuk menghadapi negara berkembang yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Afghanistan, Iraq, dan negara-negara teluk lainnya.
Apakah arogansi ketiga kekuatan tersebut akan terus kita biarkan tanpa perlawanan? Tentu saja tidak! Umat Islam yang masih kuat akidahnya pasti melawan dengan segala kekuatan yang ada. Banyaknya “bom bunuh diri” merupakan indikator perlawanan tersebut.
Mati syahid, bagi seorang Mukmin, adalah harapan. Sebab, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Kehidupai akhiratlah yang dituju.
Keyakinan semacam ini paradoks dengan keyakinan kaum kafir yang menginginkan kehidupan dunia. Akibatnya kematian menjadi sangat menakutkan. Hati dan jiwa senantiasa resah.
Strategi meminimalkan benturan, salah satunya, adalah hijrah. Ini dilakukan apabila kaum kuffar sudah melakukan penyiksaan terhadap kaum Muslim. Ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW saat hijrah ke Habasyah.
Strategi lainnya adalah terus berdakwah mengajak mereka ke jalan Islam seraya berdoa kepada Allah SWT mereka diberi hidayah. Rasulullah SAW sendiri beberapa kali berkirim surat kepada raja-raja di sekitar Jazirah arab agar mau memeluk Islam.
Saat ini pun tak salah bila kita berkirim surat kepada penguasa negara adidaya agar mau memeluk Islam. Ini pernah dilakukan oleh Imam Khomeini yang berkirim surat kepada Gorbachev, atau Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang berkirim surat kepada George Walker Bush.
Jangan pula lupa pada kekuatan doa. Ucapkanlah saat sujud, baik dalam shalat fardhu atau sunnat, utamanya Tahajjud, fardiyah atau jama’i, agar umat Islam berada pada posisi yang kuat sebagai mana dulu pada masa Rasululah SAW dan para sahabat.*

*Sahid Oktober 2008

Pikiran Dr Abdul Mannan untuk Baitul Maal Hidayatullah

0
Oleh Dr Abdul  Mannan*
 SUDAH jamak diketahui bahwa sumber dana hampir semua organisasi sosial berasal dari publik. Hanya sebagian kecil berasal dari mereka sendiri.
Dalam pandangan ekonomi publik, bertambahnya lembaga sosial di tengah masyarakat akan mengurangi’ pendapatan mereka. Jika lembaga sosial tak ingin menjadi beban masyarakat, mereka harus mampu memberikan kompensasi yang seimbang.

Misalnya, produk yang ditawarkan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Berikan pula informasi yang jelas dan mudah diakses. Sebab, harus disadari bahwa informasi merupakan kekuatan yang menentukan maju—mundurnya suatu lembaga.

Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merupakan bagian dari organisasi massa (ormas) Hidayatullah yang bertugas mengoleksi dana masyarakat untuk kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah. Cita-cita mereka adalah menjadi organisasi terdepan di antara organisasi sejenis.

Agar menang dalam persaingan, BMH perlu berpikir ekstra, kerja keras, dan kerja cerdas. Mereka harus mampu mengeluarkan produk yang bisa memberi kepuasan kepada para donaturnya. Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan sapi perahan saja.

BMH juga harus merujuk kepada strategi tujuh komponen bauran pasar agar mampu memenangkan persaingan. Ketujuh komponen —yang biasa disingkat 7P- itu adalah produk (product) , harga (price), tempat (place), promosi (promotion), pegawai (personnel), prosedur (procedure), dan penampilan fisik (phisycal evidence).

Selain itu, BMH harus selalu belajar kepada manajemen sejenis yang sukses. Belajar kepada manajemen yang sukses berarti ada upaya untuk membangun karakter sukses.

Namun, mengubah karakter agar senantiasa belajar tidaklah ringan. Sebab, ini menyangkut karakter dasar orang yang bersangkutan.

Untuk mengubah sikap mental diperlukan proses kesadaran diri bahwa hidup ini, baik individu maupun kolektif, adalah persaingan yang harus dijawab dengan keunggulan.

Lantas, apa keunggulan BMH, baik secara personal atau kelembagaan, dibanding organisasi sejenis? Kekuatan internal apa yang dapat dipacu untuk mendongkrak posisi BMH?

Pertanyaan—pertanyaan ini harus dijawab tuntas oleh pihak manajemen BMH. Jika tidak, maka dapat dipastikan BMH tidak akan mampu betkompetisi. Ujungnya, mati sebelum bangkit atau hidup segan mati tak mau.

Strategi yang dipakai BMH juga harus mumpuni agar tidak berjalan di tempat atau mati mengenaskan. Strategi tersebut adalah memberdayakan pengurus agar memiliki kemampuan manajerial. Tanpa itu, jangan bermimpi bisa tampil terdepan.

Tolak ukur berhasil tidaknya BMH menjadi lembaga keuangan terdepan adalah seberapa besar dana yang berhasil dikoleksi dari masyarakat. Besarnya dana ini bersifat relatif karena tergantung pada penetapan target. Penetapan target ini harus dikomparasi dengan organisasi sejenis yang lebih tinggi posisinya.

Dengan demikian,kinerja pengurus BMH dapat dievaluasi setiap pekan, bahkan setiap hari. Perlu diketahui bahwa kunci sukses semua pekerjaan adalah terus-menerus memikirkan langkah strategis agar organisasi tidak berjalan ditempat, melainkan maju dengan pesat.

Mencari gagasan-gagasan menarik tak boleh terbatas oleh ruang dan waktu. Jika sikap mental pengurus BMH terikat oleh jam kerja kantor, maka tak ubahnya seperti sikap karyawan atau buruh. Ini merupakan insiden buruk sekaligus virus menuju sukses.

Selain itu, kemampuan manajerial pengurus harus selalu ditingkatkan. Bagaimana cara berkomunikasi dengan pelanggan, cara melayani, strategi pemeliharaan pelanggan, dan bagaimana pula cara mengemas produk agar layak dijual di pasar.

Akhir kata, kita harus mencanangkan tekad bahwa kinerja BMH harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga!

*)Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah >

Syabab dan Peradaban Islam

0
Dr. Abdu Mannan

 Di antara sejumlah organisasi pemuda Islam di Tanah Air, Syabab Hidayatullah adalah yang termuda. Namun, bukan berarti organisasi ini tak memiliki kekuatan politik sama sekali. Syabab Hidayatullah, sebagai organisasi otonom, telah menempatkan kader-kadernya di seluruh Nusantara, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Jumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ada 172 buah. Bahkan, ada jugs di Timor Leste.

Syabab Hidayatullah adalah wadah generasi pelanjut misi organisasi massa Hidayatullah, yaitu memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.

Organisasi ini bukanlah underbouw dari partai politik, meski para anggotanya diperkenankan untuk memilih partai yang relevan dengan visi organisasi induknya.

Kebijakan politik Syabab Hidayatullah sejalan dengan kebijakan politik organisasi induknya, yaitu menjaga integrasi bangsa yang saat ini terancam mengalami disintegrasi. Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.

Itulah sebabnya wawasan teritorial keindonesiaan menjadi salah satu doktrin bagi kader Syabab Hidayatullah. Sebab, lahan dakwah paling subur untuk menanam benih akidah Islamiyah adalah masyarakat Indonesia. Sehingga, sifat akomodatif yang non-partisan menjadi arus utama Syabab dan organisasi massa Hidayatullah saat ini.

Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual. Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.

Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat. Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.

Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.

Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami di manapun mereka berada.

Kini, Syabab Hidayatullah diharapkan bisa mengambil posisi terdepan dalam menyukseskan Gerakan Nasional Mengajar-Belajar al-Qur’an (Gran MBA). Gerakan ini menjadi andalan bagi organisasi massa Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam.
Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur’ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

BERITA FOTO: Presiden SBY Kunjungi Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak

0

Di sela acara peresmian proyek-proyek infrastruktur di Desa Senipah, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara, awal Juli 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongan berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan. SBY didampingi juga oleh sang istri. Presiden dan rombongan melakukan salat Jumat bersama para santri di pesantren.

Kedatangan Presiden SBY dan Ibu Hj. Ani Yudhoyono disambut hangat para santri dan warga. Usai salat Jumat, Presiden SBY dan rombongan melakukan salat jamak qasar, karena perjalanan menuju ke lokasi acara peresmian proyek infrastruktur memakan waktu cukup panjang, dan melewati waktu Ashar. SBY memimpin salat qasar ini.

Pada kesempatan ini, Presiden SBY secara spontan memberi bantuan Rp 200 juta kepada Pondok Pesantren Hidayatullah. Setelah itu, Presiden berdialog sebentar dengan para santri putri.

Sekitar pukul 13.20 WITA (pukul 12.20 WIB), Presiden SBY dan rombongan meninggalkan Pondok Pesantren Hidayatullah, untuk meneruskan perjalanan menuju lokasi acara peresmian proyek-proyek infrastruktur, di desa Senipah, Kabupaten Kutai Kertanegara. Perjalanan dengan mobil ini memakan waktu sekitar dua jam. (pres).

 

presidensby1 presidensby2 presidensby3 presidensby4 presidensby5 presidensby6 presidensby7 presidensby8

Muslimat Hidayatullah dan Peradaban Islam

Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Peran wanita, baik secara pribadi maupun organisasi, tak bisa dipisahkan dari negara. Bila dulu mereka ikut berjuang membebaskan negara penjajah, maka kini mereka berjuang mengisi kemerdekaan.’ Mengingat pentingnya peran wanita dalam sebuah perjuangan, maka Hidayatullah pun memberi wadah bagi kaum Hawa untuk berkiprah. Hanya saja, peran mereka tak sekadar membangun bangsa, lebih dari itu, juga menegakkan Kalimah Tauhid di persada bumi.
Organisasi otonom kaum Hawa di Hidayatullah bernama Muslimat Hidayatullah (Mushida). Organisasi ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal shalih kaum wanita secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 97 bahwa laki-laki dan wanita, memiliki peluang yang sama untuk berbuat shalih dengan ganjaran pahala.
Tujuan lain adalah memberi jenjang karir (carrier path) yang jelas kepada kaum wanita atas perjuangannya sekaligus aktualisasi diri di tengah masyarakat. Seluruh hasil pemikiran akan diakomodasi, didistribusi, dan diaktualisasi menurut kepandaian masing-masing.
Mushida sebagai organisasi yang menginduk kepada Pusat Hidayatullah harus berani tampil beda dalam hal menejemen dari oraganisasi sejenis. Mushida harus bisa meramu program sebagai sarana meretas permasalahan umat. Mushida harus mampu merumuskan agenda kerja berdasarkan skala prioritas: penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak. Klasifikasi kerja seperti ini dibutuhkan mengingat terbatasnya tenaga, biaya, dan waktu yang tersedia.
Namun perlu diingat bahwa proses penentuan skala prioritas tadi harus mengacu pada dua hal yang menjadi strategi perjuangan Hidayatullah, yaitu pendidikan dan dakwah. Harus pula disadari bahwa keberadaan Mushida dalam struktur organisasi Hidayatullah adalah pembantu pimpinan umum dalam melaksanakan tugas-tugas imamah yang berorientasi kepada pelayanan umat secara luas.
Pelayanan umat yang sangat mendesak bagi Mushida adalah menggarap potensi intelektual dan spiritual para pengurus, menggarap pendidikan kiasikal mulai dari tingkat Taman Kanak—kanak, sampai sekolah lanjutan, mengintensifkan dakwah bil-hal melalui majelis taklim, serta mengajar baca tulis al-Qur’an lewat program Gran MBA.
Jangari lupa, Mushida harus mengambil peran dalam membangun peradaban Islam sebagai visi organisasi. Sebab, posisi Mushida dalam pencapaian visi tersebut sangat strategis. Anggota Mushida sejatinya adalah ibu rumah tangga. Di tangan merekalah pendidikan generasi berikutnya diletakkan.
Selama ini Mushida telah menunjukkan peran pentingnya dalam mendampingi para suami menebar dakwah di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari pedalaman Mentawai, Nias, Hulu Mahakam, dan Lembah Baliem Papua.
Mereka terjun ke gelanggang dakwah dengan suka cita. Mereka tak pernah mengeluh mendampingi para mujahid dakwah meski rintangan yang dihadapi luar biasa berat. Mereka menjadi manusia langka di abad ini. Logikanya, kalau bukan mereka yang masuk surga, lalu siapa lagi?
Kita berharap di masa mendatang Mushida bisa lebih meningkatkan kualitas pembinaan spiritual dan intelektual para pengurus dan anggotanya. Ini menjadi modal berinteraksi dengan lingkungan eksternal yang lebih luas.
Cakrawala berpikir harus dibuka. Jangan lagi berpikir eksklusif, asyik dengan dirinya sendiri. Sebab, dinamika eksternal berputar sangat dahsyat. Tuntutan umat kian lama kian kompleks.
Semoga Allah SWT membantu penjuangan kita.

Strategi Perubahan

Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Kita mengenal dua strategi perubahan, Pertama startegi perubahan yang memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan organisasi. Kedua, strategi perubahan yang sifatnya parsial dan teknis.Kedua strategi perubahan tersebut harus kita rumuskan menjadi satu program kerja. Program kerja itulah yang kemudian kita pakai sebagai acuan untuk mencapai visi organisasi.

Lantas, perubahan strategis apa yang mendesak dalam tubuh organisasi Hidayatullah saat ini? Berdasarkan pengamatan selama tujuh tahun terakhir ini, masalah krusial yang perlu segera diatasi adalah konsolidasi. Sedangkan konten penting konsolidasi terdiri atas idiologi, organisasi dan wawasan (tri konsolidasi)

Hampir semua komponen Hidayatullah masih belum matang pemahamannya terhadap ideologi yang berdimensi imamah dan melahirkan budaya sam’an wa tha’atan dan jama’ah (ukhuah). Begitu pula terhadap organisasi Hidayatullah yang sentralistik (komando), belum dimengerti secara baik. Sementara wawasan perjuangan masih banyak diwarnai oleh latar belakang anggota yang berbeda-beda.Tri konsolidasi tersebut menjadi sangat penting karena sangat menentukan maju-mundurnya atau tegak-ambruknya sebuah organisasi. Di sisi lain, perubahan strategis memerlukan konsep dan seni yang kuat, serta dilaksanakn secara bertahap.

Begitu pula nilai idealisme hendaknya tercermin pada sikap setiap pejuang dewasa. Indikatornya adalah tidak berprilaku responsif, bekerja keras dan cerdas dalam menjalankan kebijakan organisasi.

Perubahan strategis cenderung radikal. Sedangkan perubahan operasional hanya bersifat rutinitas, sekedar memelihara keseimbangan organisasi.

Jadi, jika kita hanya melakukan perubahan operasional, kita bakal beku, jenuh, dan semua menjadi tak menarik lagi.

Kita perlu perubahan radikal. Kita perlu mengubah refrensi, kebijakan organisasi, dan mengarahkan semua sumberdaya internal untuk pencapian visi.

Terkait perubahan strategi, pendekatan yang digunakan adalh proaktif, konseptual, sistematis, bertahap dan konsisten, dengan penerapan manajemen 4 co (Commitment, communication, cooperatif, coordination). Kita tak boleh membabi-buta atau mengubah berdasarkan selera pribadi. Kita harus menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang tepat dan proses yang diyakini bisa dilewati secara konsisten.

Kurang “darah segar’ (cash flow) dan “energi” (idealisme, reputasi dan motivasi) akan teratasi jika tri konsolidasi sudah kita lakukan. kondisi krisis yang menerpa Hidayatullah disebabkan tingkat elit organisasi haya melakukan perubahan yang sifatnya operasional. Akibatnya tidak ada kemajuan strategis yang kita capai. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pemimpin yang berani menghadapi semua lapisan organisasi (stakeholders) yang mulai pudar kepercayaannya terhadap organisasi,  berpikir individualis, dan parsial.

organisasipun perlu menerapkan strategi pro aktif (proaktive strategy) sebagai strategi dasar, ditindaklanjuti dengan strategi umum, dijabarkan melalui strategi fungsional.

Adapun fokus kebijakan adalah pendidikan dan dakwah. pendidikan sebagai basis mecetak kader dan dakwah sebagai sarana merekrut teman-teman lama dan sanak saudara untuk bersama-sama membangun jamaah menuju terwujudnya peradaban Islam. Bila seluruh aktifis Hidayatullah mampu menjadi teladan dilingkungannya, tak henti belajar serta mengajarkan Islam, insyaallah cita-cita mulia izul islam wal muslimin akan dapat kita capai. Namun bila dakwah masih diawang-awang, tak ada yang merasa mendapatkan manfaat dari kehadiran kita, maka cita-cita yang hendak kita raih akan kian berada diawang-awang pula.

Suara Hidayatullah edisi  Mei 2008

Negara, Partai dan Syariat Islam

0

Ditulis oleh Ahkam Sumadiana

Fakta sejarah, bahwa Nabi Muhammad  Saw mendirikan Negara Islam di Madinah, warga negaranya terdiri dari  kaum  Muhajirin dari mekkah, dan kaum Anshar  ( penolong ) terdiri atas  suku Aus dan Khajraj di Madinah, Nabi juga mengirim surat kepada dua negara raksasa waktu itu, yaitu kerajaan Persia dan kerajaan Romawi.

Syarat berdirinya suatu Negara

Untuk memutuskan bahwa yang diproklamirkan  Rasulullah adalah sebuah negara maka kita dapat mencermati syarat  berdirinya negara, Sejak masa yang telah lama dan dizaman modern ini telah disepakati, bahwa syarat berdirinya negara harus memiliki:

Adanya wilayah, yaitu daerah dimana kedaulatan dapat berlaku didaerah tersebut.
Ada penduduknya, rakyat yang menjadi penghuni di wilayah kedaulatan tersebut.
Ada undang-undangnya, yaitu suatu peraturan perundang-undangan untuk mengatur kehidupan rakyat dan yang terkait  di wilayah yang berdaulat tersebut.
Ada kepala Negara, yaitu seorang penguasa yang memiliki kekuasaan, untuk melaksanakan jalannya pemerintahan di wilayah yang berdaulat itu.

Apa bila empat syarat tersebut telah disepakati sebagai kebenaran berdirinya suatu negara, maka apa yang dilakukan Nabi Muhammad Saw, saat deklarasi Piagam Madinah pada tahun ke 2 Hijeriah, merupakan proklamasi berdirinya Negara Islam Pertama di dunia. Mengingat telah terpenuhi empat syarat tersebut diatas.

Negara Islam pertama meliputi:

1. Wilayah  Madinah dan sekitarnya.
2. Penduduknya, Kaum Muhajirin, Kaum Anshar, Kaum Yahudi Madinah, dan suku-suku Arab penyembah berhala.
3. Piagam Madinah.
4. Muhammad Saw sebagai kepala Negara, dan kepala pemerintahan.

Mantan menteri agama RI, H, Munawir Sjadzali, M.A dalam buku ” Islam dan Tata Negara” hal. 10 menyatakan bahwa ’ Piagam Madinah adalah konstitusi atau undang-undang dasar bagi Negara Islam yang pertama yang didirikan oleh Nabi di Madinah. Meskipun demikian masih ada yang mengingkarinya sebagai negara Islam (daulah Islamiyah ) dengan alasan tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Partai Pada Masa Rasululah saw

Untuk memahami ada tidaknya Partai  di Zaman Rasulullah Saw, dapat kita perhatikan keterangan berikut;

1.    Hizbun yang berarti golongan, pengikut atau partai jama’nya adalah ahzaab. Dalam al-qur’an bentuk mufrad ada tujuh kata. Dalam bentuk jama’ ada sebelas kata, selain itu ada hizbahu dan hizbaini, masing-masing satu kata. Al-Ahzaab menjadi nama surah dalam Qur’an, mufassir memberi arti golongan-golongan. Dalam sejarah ada perang al-Ahzaab, suatu peperangan yang terjadi di Madinah pada tahun ke 5 Hijeriah, kaum Muslimin diserang oleh musuh yang terdiri dari berbagai golongan, baik yahudi, musyrik maupun jahiliyah, mereka bersatu memerangi kaum muslimin.

2.    Ayat yang mengandung hizbunsebagai mudhaf sedangkan mudhaf ilaihnya adalah Allah sehingga berbunyi ’Hizbullah’ diartikan pengikut Allah, atau Partai Allah, ( Qs, al-Mujadilah : 22 ). Di ayat yang lain Mudhaf ilaihnya adalah Syaithan, sehingga berbunyi ’Hizbusysyaithan’ yang berarti pengikut syaithan, Partai Syaithan. (Qs. Al-Mujadilah : 19 ). Selain itu Hizbun menjadi mudhaf ilaih, dan mudhafnya ’kullun’ yang berbunyi ’kullu hizbin’ yang berarti tiap-tiap golongan (partai) ( Qs. Ar-Rum : 32 ). Dari semua pengertian itu yang dinilai memiliki pengertian positif adalah kata ’ Hizbullah ’ lawan dari kata ’Hizbusysyaithan’.

3.    Awal naskah piagam Madinah sebagai berikut; Artinya; ” Dengan Nama Allah yang Maha pengasih lagi Penyayang, ini adalah naskah dari Muhammad Saw, Nabi yang berada diantara orang-orang mukmin dan muslim,dari Quraisy dan Yasrib ( Muhajirin dan Anshar ), dan orang-orang yang mengikuti mereka, lalu bergabung dengan mereka dan berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka itu ummat yang utuh ( satu) selain manusia (yang lain)”.
(Lihat Ahmad Husnan, Negara dan Partai dlam Perspektif Islam hal. 112-116 ).

Partai Islam

Realitas obyektif, Pada Era  Demokrasi ini, kran untuk didirikan partai bermunculan, berbagai partai Islam dideklarasikan, disamping partai non Islam yang juga dideklarasikan tokoh-tokoh Islam, karena aktivitasnya selama ini memimpin ormas Islam. Akibatnya ummat yang dipimpin atau yang mengenalnya menjadi bingung, terjadilah pro kontra dan ummat Islampun terpecah belah, ukhuah islamiyah juga terkoyak.

Terlepas dari pro kontra dengan pemakaian istilah Islam, maka banyaknya partai Islam sangat disayangkan, terlebih partai non Islam yang didirikan oleh tokoh-tokoh Islam, yang asas dan tujuannya bukan untuk izzul Islam wal Muslimin. Namun dari realitas yang tidak menggembirakan itu kita memiliki harapan besar agar semuanya menyadari akan pentingnya ukhuah Islamiyah, sehingga terjadinya koalisi yang solid dan kuat, bila perlu permanen.

Perlu belajar dari Piagam Madinah, bahwa Rasulullah Saw, selain mewakili  Seluruh kaum Muslimin dalam komunikasi dan diplomasi, bahkan menghadapi serangan musuh-musuhnya, juga untuk menertibkan peraturan dan perundang-undangan yang mencakup seluruh komponen bangsa yang ada di Madinah, dan berlainan agama dan qabilahnya. Dalam hal ini berstatus sebagai kepala Negara. Sehingga tidak perlu ada pihak-pihak yang dipaksa untuk berIslam.

Syariah Islam dan Konsekuensinya

”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS.al-Jaatsiyah : 18 ).

Syari’ah Islam adalah hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudian dikenal dengan hukum Islam. Sedangkan hukum Islam ini terjadi dari dua arah pertama, dari nushush yang belum melibatkan aqal begitu jauh ini disebut Syari’ah Islam. Kedua, keberadaan hukum itu terkandung dalam nushush dan telah melibatkan pemahaman aqal dengan fonis hukum wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Kemudian dikenal dengan hukum Fiqih. Keduanya termasuk pengertian hukum Islam, karena hukum Islam itu cakupannya sangat luas.

Islam Sebagai Agama Wahyu memiliki ketinggian, dan kesempurnaan ajaran dibandingkan dengan ajaran lain, terlebih dengan ajaran produk manusia. Syari’ah Islam merupakan kunci dasar dalam mengatur tata kehudupan manusia, baik dala peribadatan orang-perorang, maupun dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Demikian pula yang berkaitan dengan berbagai aturan hukum baik didunia maupun kehidupan akhirat.

Bagamana Rasulullah memperjuangkan tegaknya syari’ah Islam dalam arti umum dan melaksanakan syari’ah Islam dalam arti khusus, serta bagaimana seharusnya kita berbuat dalam situasi dan kondisi yang berbeda dengan saat Nabi memprjuangkan Syari’ah islam. Hal ini perlu difahami dengan baik, agar adanya pengertian toleransi beragama, tidak sampai menimbulakan pengertian bahwa syari’ah Islam tidak mungkin atau tidak perlu diperjuangkan melalui lembaga negara, atau setidak-tidaknya ada kesan syari’ah Islam tidak usah diperjuangkan pelaksanaanya secara utuh, pemikiran semacam ini tidak bisa dibenarkan. Faktanya Rasulullah sengaja berjuang untuk menegakkan syari’ah Islam secara sempurna. Jangan karena toleransi sehingga kita tidak  berjuang untuk menegakkan syari’ah baik lewat pribadi, keluarga, masyarakat  maupun lembaga negara.  Tanpa mengurangi nilai toleransi, bahwa sesungguhnya ummat Islam adalah penganut agama yang paling toleran di indonesia khususnya, dan internasional umumnya.

Bentuk Cinta kepada Bangsa dan Negara

”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An-Nisaa’ : 58 ).

Amanat yang dibebankan kepada seseorang atau dipercayakan kepadanya, sedangkan amanat ini mencakup hak-hak Allah Swt, dengan berbagai macam kewajiban, juga mencakup hak-hak hamba, yang dipercayakan kepadanya. Karenanya seseorang berkewajiban untuk menunaikan sebaik-baiknya. Barang siapa tidak menunaikan didunia, maka dia akan diberikan hukuman pada hari kiamat.

Sebagai seorang Muslim yang mendapatkan amanah, dari Allah, Ummat,  Bangsa dan Negara, khususnya yang menduduki dibarbagai lembaga strategis mempunyai kewajiban untuk mengajak, menyampaikan, dan menegakkan syari’ah Islam. Apa lagi kalau kita sudah memahami bahwa kekuasaan hukum, yang dibuat oleh lembaga yang lebih tinggi, tidak boleh ditentang oleh lembaga yang lebih rendah, maka untuk memperjuangkan berlakunya Syari’ah Islam, harus ditempuh pemikiran sebagai berikut.

Bila keputusan Gubernur tidak boleh bertentangan dengan keputusan Presiden dan keputusan Presiden tidak boleh bertentangan dengan keputusan lembaga tinggi dan tertinggi negara, maka sudah barang tentu sebagai seorang mu’min juga berpikiran bahwa keputusan lembaga tinggi dan tertinggi negaraa juga tidak boleh bertentangan dengan Aturan yang dibuat Allah Swt dan Rasulullah Saw. Seluruh motivasinya adalah untuk  keselamatan dan kesejahteraan msyarakat baik didunia terlebih diakhirat.

Hukum Menegakkan Syariah Islam

”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(Qs. Ali-Imran : 85 ).

Nabi Muhammad Saw, telah menegakkan Syari’ah Islam diseluruh aspek kehidupan, terutama sejak berdirinya negara Islam pertama Madinah, pada tahun ke 2 Hijeriah, diman Nabi sebagai kepala Negaranya. Sampai beliau wafat, dilanjutkan oleh Khulafa’ur- Rasyidin, keberhasilan yang begitu cepat  selain karena semangat yang tinggi, juga karena diperlancar adanya kekuasaan   dalam mengatur kehidupan, melalui pemerintahan dalam kehidupan bernegara dan kekhalifahan.

Kita telah memahami bahwa Syari’ah Islam itu dibebankan kepada setiap mukallaf, juga kepada pemimpin dan setiap orang yang memiliki tanggungjawab, baik berupa lembaga negara atau lainnya, perintah untuk  meneggakkan keadilan, amar ma’ruf nahi mungkar, dan menghukum sesuai dengan hukum Allah, bahkan tentang keputusan perang dan damai. Semua itu sulit diselesaikan, tanpa adanya kekuasaan. Dengan kekuasaan semua itu dapat diselesaikan dengan baik menurut ketentuan hukum.

Tegasnya  Syari’ah Islam  yang dimaksud dalam al-Qur’ah dan as-Sunnah itu, dapat dilaksanakan dengan baik apabila ditangani oleh penguasa. Dengan  demikian ummat Islam hukumnya wajib melaksanakan Syari’ah Islam baik secara perorangan maupun dalam berjama’ah, Rasulullah Saw, dan para shabat-Nya telah melaksanakan dalam kapasitasnya  dan statusnya sebagai kepala negara dan pemerintahan. Wallahu ’Alam.

* Ketua Ketua Departemen Pengkaderan Hidayatullah

Manusia Berkualitas

0

Oleh Dr. H. Abdul Mannan*

 Agar kita bisa memahami secara benar Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai manhaj Hidayatullah, kita perlu mengkajinya secara kritis, menyusun strategi, kemudian merumuskan kebijakan untuk implementasi manhaj tersebut.
Ini butuh manajemen yang baik. Secara kelembagaan, Dewan Pimpinan Pusat(DPP) Hidayatullah berada pada tingkat tertinggi dalam struktur organisasi eksekutif. Karena itu, DPP memiliki peran sebagai pembantu imam (Pimpinan Umum Hidayatullah) dalam proses implementasi Manhaj.
Mengingat beratnya tugas mulia ini, kita harus memiliki semangat belajar sebagai modal kerja cerdas untuk mencapai visi yang telah di tetapkan. kerja cerdas itu hendaknya menjadi etos kita bersama. Kita harus memiliki mental pantang menyerah agar cita-cita membangun peradaban Islam bisa terealisasi.
Meski kondisi kita saat ini secara ekonomi masih terpuruk, tetapi kita harus tetap bersyukur atas tetap terpeliharanya dari sifat khainin khianat) dari perjuangan.
Agar kridibilitas kita tetap terjaga di mata Allah swt, mendapatkan penilaian yang layak sesuai dengan apa yang kita lakukan, maka diperlukan evaluasi kerja secara kuantitatif. Evaluasi kinerja DPP Hidayatullah dilakukan setiap triwulan melalui pleno.
Pleno DPP merupakan moment yang tepat untuk menyatukan pikiran hingga menemukan solusinya. Mengingat peran DPP sebagai eksekutif sangat penting dalam mencapai visi 2010, tentu segala kebijakan mengarah pada upaya untuk mencapai visi tersebut.
Visi itu kita urai dalam berbagai program dan di sinkronkan dengan program tahun berjalan. Oleh karena itu, sinkronisasi program merupakan upaya koordinatif untuk mengoptimalkan sumber kekuatan internal.Adalah pekerjaan yang tidak ringan untuk mewujudkan prinsip manajemen (Koordinasi, Integrasi, sinkronisasi) ditengah kondisi organisasi yang belum eksis ekonominya. Apalagi kebijakan pengabdian ini berdampak pada bisa melemahnya loyalitas terhadap terwujudnya sentralisasi manajemen.

Menurut rumus manajemen, jika kondisi organiusasi seperti ini, maka solusi yang diperlukanadalah tampilnya jiwa kepemimpinan yang penuh komitmen dan berani. Ispirasi segar dan dinamis yang memancar dari jiwa seorang pemimpin akan menciptakan energi baru bagi seluruh lini komando.

Dalam sejarah, langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw agar loyalitas jamaah terhadap komando tetap kental adalah dengan mentransfer energi kepada sahabat-sahabat terdekatnya.

Karena itu, sungguh sangat wajar jika Rasululah saw semasa di mekah (13 Tahun) hanya berkutat pada pendidikan yang berbasisi pada penanaman nilai iman sebagai dasr pijakan aktivitas umat secara individu atau kolektif.

Manusia berkualitas merupakan cikal bakal masyarakat Madinah sebagai pusat peradaban Islam yang di kembangkan keseluruh dunia oleh generasi penerus. Begitu pula jika kita merujuk kepada sistem kepemimpinan Rasulullah saw, tentu saja kita harus memulai dari dunia pendidikan dan dakwah.

Untuk itu, transfer nilai spiritual dan intelektual yang mengejewantah dalam etos kerja sebagai budaya organisasi dapat dilakukan melalui berbagai sarana, seperti pendidikan klasik yang berkualitas, pelatihan, diskusi formal dan informal, serta berbagi even strategis.

Semoga kita mampu membawa organisasi ini berkembang sesuai dengan visinya. Untuk itu, marilah kita tanamkan tekad bersama, membangun umat yang cerdas melalui pendidikan dan dakwah, sehingga ketika saatnya tongkat estafet kepemimpinan sudah harus diserahkan kepada generasi berikutnya, kita tak terlalu sulit menemukan manusia-manusia berkualitas.

*Ketua Umum DPP Hidayatullah