Beranda blog Halaman 688

LANUD Apresiasi Ponpes Hidayatullah Timikia

0

Menyambut Hari Bakti TNI Angkatan Udara yang ke–66, Lanud Timika melaksanakan anjangsana silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Desa Kadung Jaya, Kabupaten Timika, Papua, Jum’at (26/7/2013) lalu.

Komandan Lanud Timika Letkol Pnb M. Tonny Haryono yang didampingi ketua PIA Ardya Garini Cab 20 beserta pengurus dan perwira Lanud Timika dalam sambutannya mengatakan bahwa maksud dan tujuan kegiatan ini adalah bersilaturahmi serta memberikan tali asih berupa sembako dan bahan bangunan untuk membantu pembangunan mesjid yang ada di pondok pesantren tersebut.

Dalam anjangsana dengan penuh keakraban tersebut Lanud Timika menyumbangkan sembako beras 320 kg, semen 100 sak, besi 139 dan 8 kubik kayu.

“Hal ini semata-mata kami lakukan untuk berbagi rasa dan memberkan dorongan moril terhadap masyarakat Timika,” kata Dan Lanud Letkol Tonny Haryono.

Kunjungan silaturrahim itu juga dalam rangkaian menyongsong peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke -66 yang jatuh pada tanggal 29 Juli 2013.

Oleh karena itu Dan Lanud berharap apa yang pihaknya berikan ini jangan dilihat dari segi materi, tetapi lebih di maknai sebagai upaya untuk mempererat ikatan tali kesetiakawanan sosial dan rasa kekeluargaan.

Karyawan TCM Jalin Ukhuwah dengan Santri Ponpes Hidayatullah Melak

0

PT Trubaindo Coal Mining (TCM) melakukan kegiatan buka puasa bersama Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur, dengan masyarakat sekitar di Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini dipelopori oleh karyawan-karyawan muslim yang memiliki keinginan dan semangat untuk membangun ukhuwah dan silaturahim dengan masyarakat muslim di sekitar operasi perusahaan.

Acara buka puasa bersama dimulai dengan silaturahmi, shalawat bersama dilanjutkan dengan pembacaan doa buka puasa. Tepat jam 18.29 WITA buka puasa diawali dengan makanan ringan berupa kue dan minuman dilanjutkan dengan shalat magrib. Setelah shalat magrib, barulah dilakukan acara makan bersama sebagai wujud keakraban karyawan dengan santri Pesantren Hidayatullah Melak dan masyarakat Muara Lawa.

Selain acara buka bersama, karyawan PT TCM diwakili oleh manajemen, Wuryadi, Administration Mine Manager dan Kolonel Haryata, Security Manager menyerahkan bantuan kepada Pondok Pesantren Hidayatullah di Kecamatan Melak.

Bantuan yang diserahkan berupa 100 paket berbuka puasa, paket Al Quran dan Parcel untuk anak yatim dan pengasuh di ketiga insitusi pendidikan tersebut.

Mengoptimalkan Hari-hari Terakhir Bulan Ramadhan

0

HIDORID — Di Indonesia, di setiap bulan Ramadhan, ada tradisi yang telah menjadi budaya sebagian besar masyarakat Muslim Indonesia, yaitu ngabuburit. Ngabuburit adalah istilah untuk bersantai dan buang waktu menjelang berbuka.

 

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”YRYH1Rk9N_w”][/youtube]

BERITA FOTO: Indahnya Berbuka Puasa di Bandar Labuhan

0

Tampak sejumlah santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Desa Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, sedang menanti detik-detik berbuka puasa seraya tetap melafazkan zikir dan baca qur’an.

Di kampus asri (Islamic Green Village) atas prakarsa umat ini kini menampung ratusan santri putri dan putri dari tingkat MI, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Sebagian besar dari mereka adalah santri dari kalangan yang tidak berkecukupan. Di sini mereka nyantri dan dididik menjadi generasi bangsa kelak dengan biaya gratis. Dukungan dan partisipasi umat senantiasa dinantikan.

 

Indahnya Berbuka Puasa di Bandar Labuhan 1 GE DIGITAL CAMERA Indahnya Berbuka Puasa di Bandar Labuhan 4

Belajar dari Spirit Mandiri Pesantren Hidayatullah

SALAH satu pesantren yang cabangnya banyak di Indonesia yaitu Pesantren Hidayatullah. Kantor pusatnya di Gunung Tembak Balikpapan. Waktu saya berkunjung ke sana tahun 2005 lalu, pengurus pesantren bercerita bagaimana mereka mengembangkan cabangnya sampai berjumlah ratusan dan tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua.

Sebelum santrinya yang alumni Madrasah Aliyah dikirim ke suatu daerah, mereka terlebih dahulu ditanya, “Apakah kamu yakin Allah ada di mana-mana? Tentu saja jawabannya “yakin”.

Kemudian, ustadznya melanjutkan, “Kamu di sini bisa hidup karena Allah yang memberi rezeki. Nah, Allah di sini dan di manapun itu sama. Jika di sini kamu bisa hidup, maka yakinlah Insya Allah di manapun kamu juga bisa hidup”.

Apa yang terjadi kemudian? Saya pernah bertemu dengan salah seorang santri yang berhasil membuka cabang Pesantren Hidayatullah di Cirebon. Setelah memiliki modal keyakinan yang sangat kuat akan pertolongan Allah maka dia pun berangkat ke Cirebon.

Maka mulailah dia mencari mesjid, ikut membantu mengurus mesjid, lalu berkenalan dengan jamaah. Sampai akhirnya dia dekat dengan seorang jamaah yang punya rumah kosong tidak ada yang urus. Dia pun ditawari tinggal dan mengurus rumah tersebut sambil terus merintis pendirian Pesantren Hidayatullah.

Sampai akhirnya simpatisannya semakin bertambah dan saat saya bertemu, dia sudah diamanahi sebidang tanah yang luas untuk dibangun pesantren di atasnya. Demikian sampai akhirnya pesantren pun berdiri di seluruh Indonesia.

Demikianlah, kekuatan keyakinan akan pertolongan Allah yang terinspirasi dari firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Q.S. Muhammad : 7)

Kekuatan ini memberikan ketenangan, optimisme, pikiran dan perasaan positif dalam menghadapi segala macam tantangan dan hambatan. Namun perlu diingat, mereka tidak hanya mengandalkan keyakinan. Menolong (agama) Allah hendaknya dimaknai secara luas.

Segala aktivitas yang diniatkan untuk menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah (pemimpin) yang rahmatan lil ‘alamin. Bekerja di bidang ekonomi, social, pendidikan dan bidang apa saja asalkan untuk memberi manfaat kepada manusia dan alam semesta juga termasuk bagian dari itu karena dia masuk kategori kerja ibadah. Apalagi dijaga dengan nilai-nilai tauhid, ikhlas, amanah, jujur dan istiqamah.

Apakah keyakinan saja cukup? Ternyata belum. Keyakinan menjadi syarat wajib tapi belum cukup. Agar menjadi cukup dibutuhkan juga ikhtiar, kerja keras yang tak kenal lelah. Dari tanah subur keyakinan akan tumbuh tindakan positif yang selalu siap menghadapi kesulitan bahkan penderitaan demi tercapainya cita-cita dan menjalankan tugas mulia.

Segala kesulitan dan penderitaan dijadikannya pupuk kesabaran untuk mengundang rahmat dan pertolongan dari Allah SWT.  Allah berfirman :

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (Q.S. Al Baqarah : 45)

Rahmat dan pertolongan Allah akan turun kepada mereka yang sabar dan banyak berdo’a melalui shalat yang khusyuk. Khusyuk juga bisa dimaknai dengan focus. Artinya saat mengerjakan sesuatu lakukanlah dengan focus pada target yang ingin dicapai.

Jangan berhenti, bersabarlah sampai engkau meraihnya. Menghadapi segala macam tantangan, hambatan, kesulitan dan penderitaan dalam perjuangan dibutuhkan sandaran yang kuat dan hanya Allah tempat menggantungkan segala sesuatu. Allah berfirman :

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (Q.S. Al Ikhlash : 1-4)

Prinsip sabar dalam berjuang yaitu “gagal ulangi, salah perbaiki, sampai berhasil”. Jika gagal sekali itu belum gagal. Minimal kegagalan itu tujuh kali sebagaimana Siti Hajar yang berlari dari Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali sebelum menemukan air zamzam.

Akhirnya, jika ingin meraih rahmat dan pertolongan Allah dalam hidup ini maka milikilah 4 hal yaitu KIDS yang merupakan singkatan dari Keyakinan, Ikhtiar, Do’a dan Sabar.

Syamril1

Syamril, penulis adalah Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group. Tulisan ini dimuat juga di MediaKalla.

Hidayatullah Berpartisipasi di Helatan Kaltim Summit

Kamis, 25 Juli 2013 11:16

Sebagai bagian dari stakeholder pembangunan di Kaltim, Pondok Pesantren Hidayatullah menilai perlu ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan Kaltim Summit II yang akan dilaksanakan di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, 30-31 Juli 2013.

Hal itu diungkapkan Ketua Bidang Keuangan DPP Hidayatullah Ustad Asih Subagya yang didampingi Pembina SAR Hidayatullah Ustad Supriyadi dan Ketua PW Hidayatullah Kaltim Ustad Hamzah Akbar saat melakukan pertemuan dengan Pelaksanan Tugas Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (23/7).

“Ada kesamaan pemikiran antara Hidayatullah dengan Pemprov Kaltim, terutama untuk transformasi ekonomi setelah era migas dan batu bara, dengan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas lewat pengembangan sektor pendidikan, dan pengembangan ekonomi melalui energi terbarukan,” ujar Asih.

Asih mengungkapkan, saat ini Pemprov Kaltim telah mempersiapkan SDM berkualitas dalam jangka panjang dengan baik melalui program Beasiswa Kaltim Cemerlang, yang diberikan bagi putra-putri Kaltim, termasuk santri dan santriwati Ponpes Hidayatullah di Kaltim.

Menurut dia, Hidayatullah memiliki banyak model pendidikan, mulai dari pendidikan gratis maupun berbayar. Hal itu dikembangkan melalui konsep boarding school yang juga menjadi program utama di sekolah-sekolah unggulan di Kaltim.

Selain itu, juga disampaikan pemikiran terkait transformasi ekonomi setelah migas dan batu bara dengan mengarah pada pengembangan agroindustri. Demikian halnya untuk ketahanan energi melalui pemanfaatan energi biomassa.

Sementara, Pelaksana Tugas Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian Hidayatullah terhadap program pembangunan di Kaltim, khususnya dalam rangka penyusunan Visi Kaltim Maju 2030 yang memang membutuhkan saran dan masukan dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan di Kaltim.

“Transformasi ekonomi setelah migas dan batu bara telah lama menjadi pemikiran masyarakat Kaltim. Oleh karena itu, gubernur mengusung Visi Kaltim 2013 dengan tujuan utama, yaitu mewujudkan Kaltim sebagai pusat agroindustri dan energi terkemuka. Yang artinya, perlunya melakukan pengembangan sektor ekonomi unggulan berbasis SDA terbarukan dan tetap mengelola SDA tak terbarukan namun lebih fokus pada produk hilirnya,” kata Rusmadi.

Rusmadi menambahkan pada pelaksanaan Kaltim Summit II 2013 akan diprioritaskan pembicara-pembicara dari luar Pemprov, terutama untuk mencari masukan dalam merumuskan Visi Kaltim Maju 2030 “Pertumbuhan Kaltim Hijau yang Berkeadilan dan Berkelanjutan”.

“Kita inginkan pemikiran-pemikiran outsidedari seluruh pemangku kepentingan di Kaltim, baik dari kalangan pemuda, pengusaha, pendidikan, kesehatan, keagamaan  dan lainnya. Jadi semua pihak bisa berpartisipasi untuk menyumbangkan ide dan saran terkait Visi Kaltim Maju 2030,” tambahnya. (prov/hio)

Kejari Sambangi Hidayatullah Tanjung Selor

Di bulan Suci Ramadhan tahun ini, Kejaksaan Negeri Tanjung Selor, Bulungan, Kaltim, menggelar beberapa rangkaian kegiatan sosial yang dilaksanakan selama sepekan sejak awal minggu lalu. Salah satu kegiatannya adalah anjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah di kota tersebut.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Tanjung Selor, Regie Komara, menjelaskan, kegiatan itu bagian dari rangkaian kegiatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-53.

“Selain bersih-bersih tempat ibadah di Pesantren, kita juga memberi bantuan paket sembako yang diserahkan untuk para santri,” jelasnya. Kejari juga melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Telabang Bangsa di Tanjung Selor.

“Berbagai perlombaan bernuansa Islami kita gelar pula,” ujarnya. Yakni lomba hafalan doa sehari-hari kategori anak. Selain itu, lomba adzan untuk kalangan anak-anak dan lingkup Pegawai Kejari Tanjung Selor. Khusus untuk perempuan pihaknya mengadakan lomba hafalan Qur’an Surat pendek.

Ditegaskannya, kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan saat Ramadhan. Namun sebelumnya juga pernah melakukan kegiatan bakti sosial serupa yang dihelat setiap tahun. Puncak kegiatan diisi buka puasa bersama di kantor Kejari.

“Rencananya kita akan mengundang sejumlah Pondok Pesantren dan komponen masyarakat di Bulungan. Sekaligus memberi bantuan pendidikan serta Al’quran,” jelasnya.

Berkaitan puncak peringatan Hari Bhakti Adhyaksa, jajaran Kejari menggelar upacara di halaman Kantor Kejaksaan, dipimpin langsung Kajari Tanjung Selor, Dwi Setyo Budi Utomo. Dalam upacara tersebut, melalui sambutan Jaksa Agung Basrief Arief yang dibacakan Kajari menegaskan, melalui perintah hariannya  agar dapat menjaga diri terutama institusi kejaksaan. Karena sikap dan perilaku aparat kejaksaan dapat mempengaruhi citra keluarga dan kejaksaan.

“Aparat kejaksaan diharapkan senantiasa mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan,” ujarnya.  Aparat kejaksaan juga dituntut mempersiapkan diri menyongsong penyelenggaraan Pemilu 2014. (kk/hio)

Ramadhan, Momentum Tepat Kelola Hawa Nafsu Menuju Taqwa

Ibadah Ramadhan adalah momentum yang terbaik untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Sebab, inti Ramadhan bukan terletak pada lapar dan dahaga. Melainkan pada terkendali atau tidaknya iman seseorang.

“Jika iman seseorang semakin menghujam ke dalam hati, insya Allah hawa nafsu akan terkendali. Sebaliknya, jika tidak, maka hawa nafsu akan berkuasa,” demikian taushiah Ketua Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah Ustadz Drs. Tasryf Amin, M.Pd.I dalam kuliah singkatnya di Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, belum lama ini.

Oleh karena itu, pesan Ustadz Tasryf, kita harus memperbanyak ketaatan, utamanya di Bulan Ramadhan ini.

“Karena dengan ketaatan itulah iman akan dominan. Dan, mari kita jauhi kemaksiatan. Karena kemaksiatan itulah yang menyebabkan iman dikuasai hawa nafsu. Imam Ghazali mengatakan bahwa, iman itu bertambah dan berkurang,” paparnya.

Di akhir pemaparannya, Ustadz yang juga menjadi dewan pembina Pesantren Hidayatullah Batam ini menghimbau jamaah untuk terus-menerus meningkatkan kualitas ketaatan yang dilakukan selama Ramadhan.

“Mari kita perbaiki sholat kita, tahajud kita, tarawih kita. Dan, mari kita jauhkan kemaksiatan dalam kehidupan kita. Insya Allah, puasa tahun ini akan benar-benar mengantarkan kita menjadi sosok pemenang, yaitu manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya,” tutupnya.

Keluarga Besar PMII Gelar Bukber di Hidayatullah Tjilik Riwut

Organisasi yang berada di bawah Nahdlatul Ulama (NU), Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kota Palangkaraya bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggelar buka puasa bersama (bukber) di Masjid As-Salam, Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Danau Rangas, Tjilik Riwut, Km6,5, Palangkaraya, beberapa waktu lalu (20/7)/2013.

Bukber yang dirangkai dengan kegiatan temu kangen tersebut dihadiri Pembina IKA-PMII Kota H Bambang Suryadi dan Ketua IKA-PMII Kalteng H Awaludin Noor itu. Selain untuk menjalin silaturahmi juga bertujuan meningkatkan rasa simpati dan empati terhadap kondisi sosial masyarakat terutama anak-anak yatim piatu yang dibina Panti Asuhan Darul Tazkiah. Panti asuhan ini sebagai salah satu unit yang dikelola Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tjilik Riwut.

Sebagai Dewan Pembina IKA-PMII Kota, Bambang meminta antara IKA-PMII dan PMII Kota tetap selalu membina jalinan informasi dengan selalu berkoordinasi dalam setiap kegiatan agar terarah dan berjalan dengan baik, terutama dalam moment-moment penting bagi umat Islam, seperti bulan Ramadhan ini.

“Saya sangat mendukung sekali kegiatan seperti ini, saya harap antara IKA-PMII dan PMII selalu ada jalinan kebersamaan,” kata Bambang.

Sementara Ketua IKA-PMII Kota, Elly Saputra mengungkapkan IKA-PMII Kota baru terbentuk akhir Juni lalu, dan buka puasa bersama ini merupakan kali pertama kegiatan yang dilakukan.

Sebagai sarjana yang dulunya ketika mahasiswa tergabung dalam PMII, Elly menyadari bahwa PMII yang dibentuk oleh Nahdathul Ulama (NU) tetap berpegang pada pola pikir organisasi kemasyarakatan yang didirikan oleh Hadratussyekh H Hasyim Asyari tersebut.

“Tetapi PMII yang menginginkan kebebasan berpendapat secara keorganisasian sehingga independent dan terlepas dari kebijakan NU,” kata Elly seraya menambahkan bahwa semua itu sebagai wujud dari pola pikir IKA-PMII pula.

Elly juga menegaskan, sebagai organisasi yang beranggotakan intelektual yang berasal dari PMII, maka IKA-PMII tetap akan berpikiran kritis dalam menanggapi seluruh proses pembangunan baik di pemerintahan maupun di masyarakat.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Palangkaraya,  Ustaz Muhammad Robi’in, menginformasikan bahwa saat ini di Panti Asuhan Darul Tazkiah yang dibinanya terdapat 64 anak yatim piatu yang semua menjalani pendidikan dari taman kanak-kanak hingga bangku kuliah.

Diterangkan pula di Ponpes Hidayatullah tersebut terdapat sekolah dasar terpadu dengan 30-an guru, dan mereka semua bekerja dengan ikhlas mengharap ridho Allah SWT sehingga bekerja tanpa digaji.

“Alhamdulillah saat ini kami dapat terus melaksanakan kegiatan belajar baik tingkat TK maupun sekolah dasarnya. Termasuk saat ini dilakukan pembangunan Masjid As-Salam. Dalam pembangunan ini kami tidak mengharap atau meminta kepada siapapun, kami hanya meminta kepada Allah SWT,” kata Robi’in.

Dalam kegiatan buka puasa bersama itu, tausiyah disampaikan Ustaz Syamsul Bahri yang menggugah kader PMII dan anggota IKA-PMII untuk menumbuhkan rasa empati, sehingga makna puasa di bulan Ramadan ini dapat dilaksanakan dengan tepat.

Dalam kesempatan itu, IKA-PMII juga memberikan kenang-kenangan kepada pihak pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah yang disampaikan oleh Ketua IKA-PMII Kalteng Awaludin Noor.

Tak Ada Televisi, Koran Jadi Pusat Informasi

SEHARI semalam “nyantri” di Ponpes Hidayatullah, Kaltim Post merasakan suasana kekeluargaan yang Islami kental terasa. Apalagi dengan intensitas ibadah yang lebih tinggi dari hari biasa.

Ditambah lingkungan pesantren yang asri dengan rimbun pepohonan serta danau yang tenang, menjadikan suasana lebih nyaman. Diakui media yang terbesar di Kalimantan Timur ini, keberadaan mereka sehari semalam di Kampus Hidayatullah Balikpapan bagai sedang melakukan kunjungan wisata religi.

Hal itu diulas panjang lebar media ini beberapa waktu lalu dalam sebuah tulisan berseri bertajuk “Ramadhan di Kota Santri”.

Bendahara Ponpes Hidayatullah Balikpapan, Achmad Sujaib, mengatakan di rumah warga di kompleks pesantren, tak ada televisi. Bagi warga pesantren, televisi termasuk barang yang banyak mudaratnya. Agar tak ketinggalan informasi, warga dan santri di ponpes selalu mengikuti pemberitaan di media massa. Biasa didapatkan dari koran atau majalah.

Di luar kegiatan akademisi, satu yang identik dari ponpes ini adalah rutin menggelar nikah massal bagi santri yang sudah memasuki usia dewasa dan ingin segera berkeluarga. Prosedur nikah massal ini sangat ketat. Kedua calon pasangan tidak boleh bertemu sebelum akad nikah.

Pemilihan jodoh dilakukan dengan mengisi formulir kesediaan untuk menikah, kemudian berkonsultasi dengan pihak panitia untuk mencari kecocokan kriteria calon pasangan hidup.

Peserta cukup menyerahkan Rp 2 juta. Jumlah itu sudah termasuk mahar, pakaian masing-masing kedua mempelai, pengurusan surat-surat administrasi ke Kantor Urusan Agama (KUA), dan konsumsi pembinaan pranikah peserta selama 15 hari.

Ada 800-an santri putra dan putri di Ponpes yang terletak di bilangan Gunung Tembak, Balikpapan, ini. Jumlah  terbanyak santri putri sekira 450 orang, sisanya santri putra. Mereka terpisah asrama dan tidak pernah ketemu satu sama lain. Kecuali ada acara besar yang diadakan ponpes, itupun mereka dipisahkan dengan hijab yang menjadi pembatas.

Masih dalam ulasan media tersebut, Pesantren yang bernaung di bawah Yayasan Hidayatullah ini juga punya gerai Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Santri yang ditunjuk, biasanya aliyah dan mahasiswa, turun ke kota untuk menggalang dana dari masyarakat yang peduli, baik secara door to door maupun dengan membuka gerai pelayanan. (kp/hio)