Beranda blog Halaman 70

Penguatan Visi Pendidikan Al-Qur’an Bersanad di Kampus Ummulqura Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Awal tahun pelajaran di lingkungan pendidikan putri Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, ditandai dengan pelaksanaan kegiatan penguatan visi keilmuan dan spiritualitas para pendidik melalui program Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Bersanad. Kegiatan ini menghadirkan Imam Masjid Ar Riyadh Kampus Ummulqura Hidayatullah, Ust. H. Muhammad Baharun Musaddad, Lc., sebagai narasumber utama.

Seluruh jajaran dewan guru dari unit pendidikan KB-RA, MI Raadhiyatan Mardhiyyah, hingga Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) mengikuti kegiatan ini dalam suasana khidmat dan reflektif.

Dalam taujihnya, Ustadz Baharun mengajak para pendidik untuk merenungi makna mendalam dari QS Ali Imran ayat 35–39 sebagai fondasi visi pendidikan Islam.

“Ibunda Maryam sudah berdoa bahkan sejak anaknya masih dalam kandungan. Ketika lahir, doanya justru dilanjutkan untuk keturunan berikutnya. Inilah amanah yang sedang dititipkan kepada para guru hari ini,” ujar Ustadz Baharun, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 10 Shafar 1447 H (4/8/2025).

Ia menekankan bahwa guru dalam Islam bukan sekadar pengajar, melainkan juga pelanjut doa orang tua. Ia mencontohkan peran Nabi Zakaria yang bukan hanya mengasuh dan mengajarkan ilmu kepada Maryam, tetapi juga membimbing secara spiritual.

“Ketika Zakaria telah mendidik Maryam dengan penuh kesungguhan, Allah hadiahkan anaknya sendiri yaitu Yahya, seorang nabi. Ini pesan penting bahwa siapa yang mendidik anak orang lain dengan sungguh-sungguh, bisa jadi Allah akan mendidik anaknya dengan cara yang luar biasa di antaranya dengan menghadirkan guru terbaik untuknya,” lanjutnya.

Mengenai pelaksanaan program LPQ bersanad, Ustadz Baharun menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kualitas waktu dalam pengajaran Al-Qur’an. Ia mengkritisi praktik menjadikan kegiatan Qur’ani sebagai pengisi waktu sisa.

“Jangan berikan waktu sisa untuk Al-Qur’an. Karena hasilnya pun hanya sisa-sisa. Mengajar Al-Qur’an harus dalam kondisi terbaik, bukan saat guru dan murid sudah lelah,” tegasnya.

Ia juga memperingatkan risiko menganggap remeh kesalahan bacaan huruf hijaiyah dalam pembelajaran dasar anak.

“Bagaimana jika dia bawa kesalahan itu sampai ke kuburan?,” tanyanya retoris, menyampaikan urgensi ketelitian dalam mengajarkan bacaan Al-Qur’an.

Ustadz Baharun turut menyampaikan sebuah kisah inspiratif dari Ustadzah Aida Musaddad, Kepala Sekolah Taud Saqu Bogor. Seorang syeikh, kata beliau, meminta agar semua surah Al-Qur’an diajarkan kepada anaknya kecuali Al-Fatihah. Ketika ditanya alasannya, sang syeikh menjawab, “Ia ingin pahala al-Fatihah itu berasal langsung dari dirinya.”

Mengakhiri taujihnya, Ustadz Baharun menyampaikan pesan motivasional kepada para pendidik Al-Qur’an.

“Bayangkan, betapa banyak anak yang membaca Al-Fatihah hari ini, dan siapa yang pertama kali mengajarkannya? Itulah jejak amal seorang guru Quran,” tutupnya.

Kegiatan ini, jelas panitia penyelenggara, menjadi pembuka yang sarat nilai spiritual dan metodologis dalam menyambut tahun ajaran baru, sekaligus menguatkan komitmen para pendidik di lingkungan Kampus Ummulqura terhadap tanggung jawab besar mereka sebagai penjaga warisan Al-Qur’an.

Pengabdian Total Kepada Allah sebagai Inti Kepemimpinan Mukmin

0
Rapat Pleno Laporan & Evaluasi Program Kerja Semester I Tahun 2025 YPPH Balikpapan di Gunung Tembak, Balikpapan [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad, menegaskan bahwa hakikat kehidupan seorang mukmin adalah pengabdian total kepada Allah. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi akhir hari pertama Rapat Pleno Evaluasi Program Kerja Semester I 2025 di Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, direportase Senin, 10 Shafar 1447 (4/8/2025).

“Karenanya, jika jati diri kita adalah pengabdian, maka tidak ada masalah dalam hidup orang beriman. Yang sering menghambat penugasan justru kekhawatiran berlebihan: mampukah membiayai anak, mencukupi kebutuhan, dan sebagainya,” ungkapnya di hadapan para peserta pleno.

Ustaz Abdurrahman menukil ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Anbiya ayat 73 sebagai pijakan utama konsep kepemimpinan dalam Islam. Ayat tersebut berbunyi, “Dan Kami jadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk melakukan kebaikan, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”

Ia menyampaikan rasa syukur atas nikmat kesehatan, lahir dan batin, yang menjadi bekal utama untuk beribadah, belajar, bekerja, dan memimpin.

Dalam sesi tersebut, ia juga menceritakan bahwa dirinya sempat berada di Kampus Hidayatullah Madinatul Izzah Mubarak, Lamatanre, Kabupaten Pinrang, dalam rangka menghadiri kegiatan Semarak Muharram serta peletakan batu pertama Masjid As-Salam Lamatanre.

“Saya bersyukur dalam kegiatan peresmian masjid tersebut, seluruh pembimbing dan istri mereka hadir, menandakan ruh perjuangan yang masih menyala,” ujarnya.

Meski kondisi fisik tidak sepenuhnya fit, Ustaz Abdurrahman tetap mengunjungi empat titik pembangunan kampus Hidayatullah di Sulawesi Selatan, yakni Parepare, Lamatanre, Pinrang, dan Parengki, sebagai bentuk pendampingan dan peneguhan semangat kaderisasi.

Dalam konteks pendidikan dan dakwah, ia menegaskan pentingnya adab dalam diri guru dan muballigh. “Adab bukan sekadar ucapan sopan seperti ‘tabe’ tabe’’, tetapi perilaku yang berdiri di atas kebenaran, kebermanfaatan, dan keihsanan,” ucapnya.

Ia kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Bukhari, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Menurutnya, pengabdian harus dimulai dari keteladanan. Ruh ilmu, amal, dan kepemimpinan bertumpu pada keteladanan yang nyata.

“Saya jaga ruh saya. Saya membaca, bekerja, dan mengontrol kerja teman-teman. Apa lagi yang bisa diperlihatkan, kecuali bahwa di sini ada orang yang bekerja, berpikir, dan beribadah,” jelasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen lembaga untuk tidak sekadar fokus mengejar prestasi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan kebersihan dalam lingkungan kampus dan asrama. “Kalau sudah ada uswah dan qudwah, barulah kita pantas mengundang orang datang ke tempat kita,” pungkasnya.

Prof Jimly Asshiddiqie Berikan Motivasi di Forum NGL Nasional 2025 Gerakan Mahasiswa Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pakar Hukum Tata Negara Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., menyampaikan orasi ilmiah dalam kegiatan seminar dan pembukaan Next Gen Leaders (NGL) Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) yang berlangsung di Audotorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Mengangkat tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari 33 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dalam orasinya, Prof. Jimly memberikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah, khususnya dalam bidang dakwah.

“Kita bersyukur kepada Allah karena ada Hidayatullah yang melakukan dakwah di daerah pedalaman, pinggiran, dan perbatasan,” ujar Prof. Jimly, yang mengulang kalimat ini beberapa kali sebagai bentuk penegasan.

Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI) pertama ini juga mengutip kaidah fikih “Mala yatimmul wajib illa bihi fa huwa wajibun”, yang bermakna bahwa sesuatu yang menjadi sarana terlaksananya kewajiban, maka hukumnya pun menjadi wajib.

Ia mengaitkan prinsip ini dengan keberadaan Hidayatullah yang mewakili umat dalam menjangkau wilayah-wilayah yang kurang tersentuh oleh dakwah.

“Hidayatullah telah mewakili kita menunaikan kewajiban dakwah di wilayah yang kurang mendapatkan perhatian,” imbuhnya, mencontohkan Papua sebagai salah satu daerah yang dimaksud.

Lebih lanjut, Prof. Jimly mendorong organisasi masyarakat (ormas) Islam untuk tetap fokus pada peran strategis dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keumatan.

“Ormas jangan berorientasi politik,” tegas Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.

Menurutnya, salah satu fondasi penting kemajuan peradaban Islam adalah kemandirian ekonomi. Ia menyebut bahwa Hidayatullah memiliki potensi besar untuk memperkuat aspek ini dalam rangka menopang visi peradaban umat.

“Hidayatullah perlu melakukan gerakan ekonomi untuk kemajuan peradaban,” ujar Ketua Dewan Penasehat ICMI periode 2021–2026 itu.

Dalam konteks sejarah, Prof. Jimly mencontohkan peran tokoh-tokoh Islam seperti Khadijah dan para sahabat Nabi SAW yang menjadi pengusaha dan turut mendorong pertumbuhan dakwah Islam.

Ia juga menyinggung fenomena global seperti bersyahadat massal di Filipina serta perkembangan Islam di berbagai negara termasuk Eropa sebagai indikator gelombang kembalinya masyarakat dunia kepada Islam.

“Di Filipina terjadi proses bersyahadat ramai-ramai sebanyak 50 orang. Ini gelombang baru di seluruh dunia,” jelasnya.

Mengakhiri orasinya, Prof. Jimly mengajak mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas intelektual, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saya belajar dari madrasah yang tidak dikenal bisa menjadi pendiri Mahkamah Konstitusi,” tuturnya, memberi motivasi kepada para peserta NGL.

Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber, antara lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Rektor Universitas YARSI dan Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI 2010–2011 Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D., Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., Ketua Umum Pengurus Pusat GMH Rizki Ulfahadi, S.Ag.

Berikutnya hadir sebagai narasumber seminar Anggota DPR RI 2004–2019 dan Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Teguh Anantawikrama, Wakil Gubernur Sumatera Barat 2021–2024 Dr. Ir. Audy Joinaldy, M.Sc., Analis Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Grani Ayuningtyas Harmani, dan Founder & Owner D’BestO Fried Chicken Dr. (c). drh. Hj. Evalinda Amir, M.Sos.

Kunjungan Wilayah PP Mushida Gelar Konsolidasi Dakwah dan Ukhuwah di Sumatera Utara

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) melakukan kunjungan wilayah ke Sumatera Utara pada Jumat, 7 Shafar 1447 (1/8/2025), sebagai bagian dari program nasional penguatan organisasi.

Kegiatan hari pertama ini dipusatkan di Kota Medan dan diikuti oleh perwakilan pengurus daerah dari Berastagi, Batubara, Deli Serdang, Sibolga, Mandailing Natal, hingga Nias.

Dua pengurus pusat yang hadir dalam kunjungan ini adalah Neny Setiawati, Ketua Bidang Pelayanan Umat, dan Sudaryani, Ketua Departemen Dakwah. Keduanya memimpin langsung forum brainstorming dan rapat koordinasi yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 17.00 WIB.

Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi Organisasi dan Spirit Juang dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah” yang menjadi bingkai utama seluruh rangkaian acara.

Ketua PW Mushida Sumut, Mujiatun, mengapresiasi perhatian PP terhadap wilayah. “Saya sangat bahagia saat teman-teman di PP mau bersilaturahim dengan kami di sini walaupun banyak sekali kekurangan yang ada di tempat ini,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari pengurus pusat. Dalam paparannya, Sudaryani menegaskan kembali misi Mushida sebagai organisasi pendukung (orpen) dakwah Hidayatullah.

“Kita harus mampu mengembangkan dakwah islamiyah dan menguatkan peran aktif Mushida sebagai orpen itu sendiri dalam kancah kehidupan domestik rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” jelasnya.

Neny Setiawati turut menekankan pentingnya ketahanan keluarga dan sinergi antarorganisasi kewanitaan.

Pada kesempatan itu Neny mendorong keterlibatan Mushida di forum-forum keislaman tingkat provinsi sebagai bentuk kolaborasi strategis dalam semangat pelayanan umat dan penguatan ukhuwah islamiyah.

Selain monitoring dan evaluasi program, kegiatan ini juga diisi taujih, diskusi terbuka, serta sesi tanya jawab terkait tantangan pelaksanaan program di daerah. Suasana forum menjadi ruang aman bagi petugas daerah untuk menyampaikan kendala, masukan, dan harapan.

“Saya berharap silaturahim selalu terjaga antar pusat, wilayah, dan daerah. Bagaimana visi misi sinergi dan semangat kita sebagai Mushida tetap satu dan beriringan,” ujar Ummi Haya, pengurus PD Mushida Mandailing Natal.

Menko Pangan Paparkan Strategi Reformasi dan Kedaulatan Pangan di NGL Nasional 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan menyampaikan materi dalam seminar dan pembukaan Next Gen Leaders (NGL) Nasional 2025 yang berlangsung di Audotorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara yang digelar Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) bekerjasama dengan Universitas Yarsi ini mengangkat tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Menko Zulkifli Hasan mendorong para mahasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan agar bisa menguasai dunia. Banyak negara yang berhasil mengembangkan teknologi di berbagai bidang seperti pertanian. “Itu karena mereka serius belajar,” ujarnya.

“Kita harus mengejar ketertinggalan dari negara maju seperti India,” lanjut mantan Ketua MPR RI ini menegaskan.

Pada kesempatan itu Zulkifli Hasan juga menyoroti masih lemahnya penelitian di bidang sains dan teknologi. “Yang diteliti malah toleransi beragama. Padahal kita butuh penelitian bibit unggul seperti padi dan kopi,” ujarnya.

Pria yang karib disapa Zulhas ini memberi motivasi mahasiswa agar optimis meraih kesuksesan. “Saya lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA) bisa jadi Menteri, Ketua MPR, dan ketua umum partai. Apalagi saudara-saudara ini mahasiswa, yang penting gigih dan tidak minder,” ucapnya.

Menko Zulhas yang menegaskan dirinya merasa senang membantu Presiden Prabowo itu mengajak hadirin mengawal program pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. “Kita doakan Pak Prabowo agar tetap kuat dan tidak capek,” katanya.

Zulhas juga menguraikan langkah-langkah Presiden Prabowo dalam melakukan perbaikan sistem politik, pendidikan, ketahanan pangan dan berbagai bidang lainnya. “Pak Prabowo sedang melakukan reform, pembenahan,” imbuhnya.

Di bidang pangan, selaku Zulkifli Hasan berkisah ketika diminta Presiden untuk mewujudkan kemandirian pangan dalam tempo yang cepat yaitu 2 tahun. Ia pun meminta Presiden agar mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres).

Menko yang juga Ketua Umum DPP PAN itu menceritakan tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan kemandirian pangan yang menjadi tekad Presiden Prabowo.

Ia mencontohkan sulitnya para petani di desa mendapatkan pupuk karena panjangnya jalur yang dilewati sehingga harga menjadi mahal.

“Potong rantai yang panjang agar desa berdaya. Maka lahirlah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” kisahnya.

Hadir menyambut dan mendampingi Menko Bidang Pangan itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, Rektor Universitas YARSI Jakarta Prof. Dr. Fasli Jalal, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Rizki Ulfahadi, serta sejumlah pengurus Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah.

Spirit Madinah di Balik Lahirnya Ma’had Tahfizhul Qur’an Ahlus Shuffah Balikpapan

0
Rombongan peserta Rapat Koordinasi Nasional dan Pembekalan Dewan Murabbi Hidayatullah se-Indonesia berfoto bareng Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad di depan Masjid Al Huffaz Tahfidz Ahlus Shuffah, Gunung Binjai, Balikpapan, Kaltim, Rabu (09/02/2022). [Foto: Dok. Ahlus Shuffah/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Hampir setiap tahun ajaran baru, Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah menjadi sekolah favorit bagi para orang tua yang ingin mendaftarkan anak-anaknya menjadi penghafal al-Qur’an.

Tapi, tahukah Anda, bagaimana kisah di balik cikal bakal pendirian bumi penghafal al-Qur’an yang tepat berada di tengah perkebunan karet di Gunung Binjai, Balikpapan tersebut?

Iya, sudah jadi rahasia umum, sejumlah keputusan dan kebijakan besar Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad, seringkali tak lepas dari inspirasi yang didapat di Tanah Haram (kota Makkah dan Madinah).

Salah satunya tak lain adalah pendirian Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah yang beralamat di jalan Gunung Binjai RT. 16 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Ini ada yang prinsip. Hidayatullah sudah berazzam harus dihadirkan lembaga tahfizh al-Qur’an. Jadi begitu pulang dari Makkah, langsung bikin lembaga tahfizh di kakinya masjid (beranda selatan masjid ar-Riyadh), langsung tancap pakai beko, tidak pakai waktu lagi langsung bikin,” ucap ustadz Abdurrahman dalam satu kesempatan wawancara, beberapa waktu lalu.

Dikisahkan, beberapa kali bolak-balik ibadah umrah dan haji, Pemimpin Umum Hidayatullah terus merenung hingga akhirnya menemukan satu inspirasi besar. Bahwa seluruh interaksi dengan al-Qur’an, membaca, menghafal dan mempelajarinya, bagian utama atau inti daripada perjuangan dakwah Islam.

Apalagi secara historis, tegasnya, sejak awal pendirian Hidayatullah, kegiatan tahfizh atau keberadaan santri yang fokus menghafal al-Qur’an sudah ada sejak dahulu.

“Itu saya tangkap di Makkah. Saya katakan harus kembalikan spirit tahfizh yang pernah ada di Gunung Tembak. Maka saya secepat-cepatnya itu bikin dulu di samping wc di bawah (selatan) ar-Riyadh. Tancap langsung apa namanya itu (kayu balok) ulin-ulin,” lanjutnya menceritakan secara kronologis.

Singkat cerita, Ustadz Kaspan lalu ditunjuk sebagai ketua Ma’had Tahfizh yang belakangan populer dengan sapaan mudir (direktur). Masih terinspirasi dari Tanah Haram, disepakati namanya Ahlus Shuffah.

Sebagaimana para sahabat Ahlus Shuffah yang berdiam di masjid Nabawi Madinah, santri-santri Ahlus Shuffah di Gunung Tembak juga asyik menempati “emperan””” masjid ar-Riyadh.

Berbagai kerja fisik di lapangan menjadi menu wajib bagi mereka, selain menghafal al-Qur’an. Ustadz Kaspan sendiri ditemani oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, sebagai pengasuh yang mendampingi santri di asrama.

Seiring waktu, rupanya Pemimpin Umum Hidayatullah belum puas. Apalagi, sejak awal, inspirasi dan cita-cita yang diboyong dari Madinah tersebut menghendaki adanya lembaga tahfizh terfavorit.

“Pokoknya saya mau bikin tahfizh paling besar. Paling luas arealnya. Kalau bukan di dunia di Indonesia lah, kampusnya paling besar, yah Alhamdulillah,” ucapnya tersenyum penuh optimis.

Lanjut cerita, gayung pun bersambut. Tak lama tersiar informasi, ada orang menawarkan kebun di bilangan Gunung Binjai seluas sepuluh hektar. Belakangan, diketahui namanya Wa Lawang, seorang pegiat berkebun asal Sidrap Sulawesi Selatan.

Tanpa menunda sedikitpun, Ustadz Abdurrahman segera meminta untuk menghubungi si pemilik kebun. Besok paginya, ia juga langsung mengajak Haji Sujaib (bendahara Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan) untuk mengecek lokasi yang dimaksud.

“Ayo Pak Jaib, kita ke sana. Tidak ada jalan waktu itu, cuma jalan kaki saja. Meraba-meraba masuk hutan. Itu pertama, besoknya pergi lagi. Berapa kali ke sana itu, berulang ulang pokoknya. Karena masih hutan,” ucapnya penuh semangat.

Soal urusan keluar masuk hutan, Ustadz Abdurrahman membocorkan sedikit “rahasia” yang dimilikinya. Ilmu tersebut diakuinya didapat dari Ustadz Amin Baharun, sewaktu tugas dakwah di Berau, Kalimantan Timur. “Itu ilmu menguasai wilayah, kita kuasai memang. Jadi langsung naik ke paling atasnya gunung itu dan keliling beberapa kali,” katanya.

Dari beberapa kali survei lapangan, disepakati lokasi tersebut cocok untuk dijadikan sebagai tempat santri menghafal al-Qur’an. “Aih bagus ini tempat, jadi ini insyaAllah,” jelasnya masih dengan semangat yang sama.

Urusan selanjutnya adalah menemui Wak Lawang, tuan tanah berdarah Bugis Rappang (Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan). Dengan perantara kearifan lokal (berbahasa daerah), negosiasi harga dimulai “Jadi uwelli tu dare’ta tapi de’gaga doe,”. Terjemahnya kira-kira, saya jadi ingin membeli kebun Wak, tetapi uangnya tidak ada (belum cukup).

Konon, orang tua ini berniat pulang kampung halaman ke Sulawesi Selatan. Di sisi lain, dana yang tersedia cuma bisa untuk membayar panjar dan selanjutnya mencicil dua tahun. Sedang total biaya 50 juta untuk 10 hektar.

Berikutnya, diadakan peresmian atau peletakan batu pertama untuk pondasi masjid. Masjid berlantai tiga itu sendiri menjadi bangunan pertama dan menempati posisi tertinggi di lokasi Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah.

Sebelum itu, butuh waktu sekitar tiga tahun tanpa henti untuk penataan awal kampus Gunung Binjai dengan menggunakan alat berat. Mulai dari kliring lahan, pembuatan jalan, bendungan, danau, menata bukit, dan sebagainya.

“Pagi-pagi buta sudah berangkat dan sore jelang Maghrib baru pulang. Tentu saya lebih kuat waktu itu karena ada spirit tadi, mau bikin lembaga tahfizh paling besar,” ucapnya menceritakan.

Dikisahkan Ustadz Abdurrahman, orang pertama menyumbang di Gunung Binjai adalah Haji Malik. Sosok dermawan asal Riau itu menyumbang tak kurang dari 50 sak semen untuk pembangunan masjid.

Sedang rumah kayu pertama di Ahlus Shuffah adalah eks rumah Pak Kalu (warga senior Hidayatullah Gunung Tembak) yang dibeli dan dipindahkan ke Gunung Binjai.

“Termasuk yang layak kita doakan selalu adalah sosok orang baik yang telah menyumbang sebagian besar hartanya dan juga kendaraan alat beratnya di Gunung BInjai,” ungkapnya sambil menyebut nama yang dimaksud.

“Pernah Pak haji itu pinjamkan bekonya, di sini buka bungkusnya. Bantuan itu tidak pernah berhenti sampai sekarang ini. Jadi berapa puluh tahun sudah, memakai beko itu,” terangnya mengakhiri tuturnya tentang sekilas sejarah Ahlus Shuffah.

Guru sebagai Agen Perubahan, Profesi Mulia yang Menuntut Kesungguhan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menjadi guru itu nikmat yang tak terkira. Meski tidak mudah tapi amanahnya sungguh mulia. Itulah hakikat seorang guru. Guru tak cuma bisa mengajarkan ilmu tetapi juga mampu memotivasi sekaligus menginspirasi murid-murid dan orang-orang di sekitarnya.

Demikian kupas tuntas profil guru yang disampaikan oleh Ketua Departemen Pendidikan dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd. dalam acara Training of Trainers (ToT) Excellent School 2025 di Aula Kampus Utama Hidayatullah Depok, Jawa Barat baru-baru ini.

“Bersyukurlah antum sekalian menjadi guru atau terlibat di dunia pendidikan. Guru itu tidak ada bosannya,” ucap Ustadz Nanang yang juga pernah diamanahi Ketua Sekolah Tinggi Teknologi STIKMA Internasional, Malang Jawa Timur.

“Jadi guru nikmat sekali. Bertemu siswa, tersenyum (itu) sedekah sudah. Ketemu teman sesama guru, langsung salaman,” jelasnya, medio Juli 2025 lalu.

Guru disebut Nanang mampu menginspirasi orang lain. Ia bisa membangkitkan motivasi dan memunculkan potensi dalam audiens layaknya membangunkan raksasa tidur.

“Tapi (syaratnya) dalam mengajar guru harus perfect dan bersungguh-sungguh. Ia sudah tahu materi. Sudah kuasai, telah disusun, dibuat, ada peraga, dan sebagainya. Jadi tidak sekadar datang mengajar begitu saja,” terangnya.

Mempertebal motivasi sekaligus tanggung jawab, Nanang menceritakan nasib orang-orang yang bekerja di pabrik tertentu. Pabrik sapu misalnya. Ada orang yang kerjanya memasukkan batang kayu coklat panjang setiap waktu seharian tanpa henti.

Lain lagi di pabrik mie yang pernah dikunjunginya. Di sana ia melihat orang-orang bekerja pagi hingga sore dengan tugas yang bermacam-macam.

“Ada yang ‘cuma’ meluruskan mie pakai kawat besi melengkung. Ada juga tugasnya memasukkan bumbu ke dalam bungkus kecil,” ucapnya sambil bercerita.

“Jadi guru itu nikmat yang patut disyukuri dan dijaga dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan dan sekolah,” jelasnya.

Setidaknya, lanjut Nanang, pekerjaan mulia ini mesti ditopang dengan empat aspek pada diri seorang pendidik. Yakni, aspek spiritual, intelektual, sosial emosional, dan psikomotorik.

“Sekolah unggul itu hasil dari guru-guru luar biasa. Maka pacu diri kalian. Antum ditakdirkan jadi guru jadi pengelola pendidikan, akan menyesal kalau tidak melakukan perubahan. Itulah mengapa disebut agent of change,” tutupnya.

Diketahui, ToT Excellent School diikuti oleh 26 peserta dari Kampus Induk dan Utama Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini merupakan hasil rekomendasi yang digagas di pertemuan Rakornas Hidayatullah di Timika, Papua Tengah, belum lama ini.

Interaksi al-Qur’an antara Generasi Sahabat dan Generasi Modern Menurut Ustadz Baharun

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Apa beda generasi salaf dan zaman sekarang dalam berinteraksi dengan al-Qur’an? Imam Masjid Ar Riyadh Kampus Ummulqura Ponpes Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Muhammad Baharun Musaddad, Lc., mengungkap perbedaan itu seperti dalam kisah sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud Rahimahullah.

Menurut Ustadz Baharun, sapaannya, hal itu tak lain sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud; “Inna shau’ba alaini hifzha alfazh al-Qur’an wa sahula alaini al-amala bihi”.

Yakni, generasi awal di zaman sahabat Nabi begitu dipersulit menghafal al-Qur’an namun dimudahkan dalam mengamalkan nilai dan ajaran al-Qur’an.

Sebaliknya, akan datang generasi setelah sahabat Nabi, mereka dimudahkan menghafal al-Qur’an, tetapi kesulitan mengamalkan al-Qur’an.

“Abdullah bin Mas’ud ini adalah kapten para penghafal al-Qur’an di semua zaman. Pelopor peradaban ilmu di Kufah. Pernah menghafal di daerah Persia,” ucap ustadz Baharun, menjelaskan tokoh yang dimaksud di hadapan para wisudawan, orangtua santri, dan tamu undangan acara Haflatu at-Takharruju Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah Balikpapan, beberapa waktu lalu, direportase Jum’at, 7 Safar 1447 (1/8/2025).

Generasi salaf, kata dosen Pendidikan Ulama Zuama Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (PUZ-STIS) Hidayatullah tersebut, adalah orang-orang yang setiap waktu berinteraksi dengan al-Qur’an.

“Di zaman Nabi belum ada mushaf al-Qur’an. Cuma berpatokan pada hafalan. Meski ada juga yang ditulis sebagian di pelepah kurma atau batu-batuan,” jelas ustadz Baharun.

“Bagaimana tilawahnya, ya dengan menghafal. Jadi tilawah itu maknanya menghafal, bukan cuma membaca saja,” lanjutnya menerangkan kandungan surah al-Jumuah [62] ayat kedua.

Lebih jauh, hingga di zaman khulafa rasyidin sekalipun, para sahabat Nabi tetap berpatokan pada hafalan al-Qur’an. Karena di zaman Abu Bakar, meski sudah ada mushaf tertulis, tetapi itu tidak dibagi. Hanya disimpan di rumah Abu Bakar.

Demikian seterusnya, mushaf itu berpindah disimpan di rumah Hafsah, di zaman Umar bin Khaththab. Bahkan pada masa Usman, mushaf yang tertulis jumlahnya hanya terbatas lima atau enam mushaf saja.

“Ini menunjukkan kalau hafalan al-Qur’an terjaga melalui hafalan-hafalan mereka saja. Jadi kalau ada yang lupa mereka bertanya kepada sebagian mereka yang hafal al-Qur’an,” terang alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Lalu bagaimana dengan generasi masa sekarang? Di zaman modern ini nyaris setiap orang punya mushaf al-Qur’an dalam rumahnya. Setiap orang punya telepon genggam canggih yang di dalamnya mungkin ada aplikasi al-Qur’an. Aplikasinya pun macam-macam. Ada terjemah, ada lafzhiyah (per kata), dan lain-lain.

“Jadi masalahnya tak lain adalah benar sudah membaca bahkan menghafal al-Qur’an, tetapi “yatlu alaihim” itu putus di “wa yuzakkihim” bisa jadi hati sebagian kita tidak benar-benar bersih saat membaca dan menghafal al-Qur’an itu hingga sulit memahami, meyakini, dan mengamalkan ajarannya,” pungkas ustadz Baharun.

Diketahui, Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah ini beralamat di bilangan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan. Memiliki area seluas 60 hektar lebih, Ahlus Shuffah komitmen mengusung visi besar “Melahirkan Kader Hafizh Al-Qur’an Bersanad, Unggul, Amanah, dan Mandiri”.

Program Takhassus SMH Hidayatullah Teritip Ukir Prestasi Sejak Tahun Pertama

0
Kegiatan kerja bakti santri di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan (Foto: Muhammad Abdus Syakur/ LPPH Gutem/MCU)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Usia boleh seumur jagung. Tapi satu persatu prestasi mulai terukir rapi. Itulah capaian membanggakan dan tentunya patut disyukuri dari santri Takhasus Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Raadhiyatan Mardhiyyah Takhassus.

Diluncurkan pada tahun 2024 atau setahun yang lalu sebagai program khusus, namun santri-santrinya sudah menyabet prestasi demi prestasi.

Terbaru, Ananda Rafiif Irfan El Muzakki, santri Takhassus kelas X MA itu berhasil meraih Juara I dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat kota Balikpapan dan selanjutnya akan bertarung di tingkat provinsi Kalimantan Timur.

Hal ini tentu menjadi kesyukuran sekaligus hiburan bagi orangtua yang telah mempercayakan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

“Alhamdulillah, ini menjadi pengalaman pertama kali madrasah kami mengikuti Olimpiade Bahasa Arab dan langsung meraih juara terbaik,” terang Penanggung Jawab SMH Takhassus, Ustadz Nashiruddin Jundi Hasbullah, dalam keterangan diterima media ini, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Tak hanya jago Bahasa Arab, rupanya santri-santri yang memang berkomunikasi aktif dengan Bahasa Arab selama 1×24 jam tersebut juga diantar untuk kian dekat dengan nilai-nilai al-Qur’an.

Sejumlah halaqah tahfizh dan juga muraja’ah (pengulangan hafalan) menjadi menu sehari-hari para santri di masjid.

Tak heran, tak butuh waktu satu tahun, sejumlah santri SMH Takhasus telah menyetorkan bahkan melampaui target hafalan mereka.

“Target hafalan selama tiga tahun adalah lima belas juz al-Qur’an. Tapi selama setahun ini ada beberapa santri sudah menyetor hafalan di atas 10 juz. Sebagian besar telah sampai juz 7 dan 8 dari al-Qur’an,” ucap Nashir.

Untuk diketahui, kurikulum SMH Takhassus ini merupakan hasil adaptasi dari kurikulum Idad Lughawi, program pra-kuliah Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah yang telah berjalan konsisten selama 4 angkatan di Balikpapan dan Yogyakarta.

Beberapa mata kuliah dasar dari tahun pertama PUZ juga diturunkan secara selektif ke tingkat Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah, dengan harapan terjadi akselerasi pembinaan yang terukur dan berkualitas sejak dini, bahkan sebelum memasuki jenjang kuliah.

Mudir Pendidikan Ulama Zuama, Ust. H. Muhammad Dinul Haq, Lc. menegaskan bahwa output yang dituju dari program Takhassus ini adalah lahirnya kader ulama muda yang unggul dalam bahasa Arab, menguasai disiplin ilmu syar’i, hafal minimal 15 juz Al-Quran, dan memiliki jiwa kepemimpinan Islam.

“Inilah model pendidikan kader ulama zuama yang kami siapkan dari bangku MA, dan insyaallah akan terus dikembangkan bertahap ke tingkat MTs dan MI,” ujarnya.

Terakhir, ia memohon doa, saat ini SMH Takhasus yang beralamat di RT. 25 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, ini tengah dipercaya sebagai pilot proyek Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah sebagai sekolah unggul Hidayatullah dengan kekhasan di bidang pengkaderan, hafalan al-Qur’an, serta lingkungan Bahasa (biah lughawiyah).

Kontingen Hidayatullah Gutem Borong Medali di FORNAS VIII dan Ajang Akademik

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80, santri-santri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Balikpapan, tak henti dulang prestasi. Terbaru, mereka berhasil mengharumkan nama madrasah dan kontingen yang diikuti dari arena Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII yang diadakan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tanggal 26-31/7/2025.

Dari berbagai informasi yang dihimpun, FORNAS VIII kali ini mempertandingkan sebanyak 18 cabang olahraga dan diikuti oleh total peserta mencapai lebih dari 18.000 orang dari 38 provinsi di seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah, Fakhirah sudah nyumbang 1 emas ustadzah untuk Kaltim,” ungkap Ustadzah Mujtahidah dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Mujtahidah yang merupakan guru KB-RA menceritakan prestasi muridnya yang kini duduk di kelas I Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Raadhiyatan Mardhiyyah Putri (Sabtu, 26/7/2025).

Fakhirah Nur Afifah yang berasal dari Balikpapan ini berhasil menyabet medali emas dan menyisihkan lawan-lawannya untuk Induk Organisasi Olahraga (Inorga) Panahan kategori Eliminasi Shortbow SD 123 putri jarak 5 meter.

Masih dari arena lapangan Bundar Praya, Lombok, Raniya Kamilah santri kelas I Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Raadhiyatan Mardhiyyah ini juga sukses menyegel medali emas Panahan kategori Kualifikasi Pelajar U18 Putri jarak 20 meter.

Tak ingin kalah, Muhammad Fatih Farhat, lulusan SMH RM Putra, juga berhasil meraih posisi terbaik sebagai Juara Harapan I dalam ajang Horseback Archery (berkuda memanah) kategori Panca Abilasa 90 meter.

Tak henti di prestasi olaharaga dan keterampilan fisik semata, syiar kebahagiaan dan kesyukuran ini juga datang dari ananda Rafiif Irfan El Muzakki (santri SMH Program Takhasus kelas X).

Usai menjuarai Olimpiade Bahasa Arab (OBA) Tingkat Kota Balikpapan, kini ia harus bersiap-siap untuk bertanding kembali di OBA Tingkat Provinsi selanjutnya.

Berikutnya, ada Muhammad Devin Anggara Eril Purwanto, santri SMH RM Putra kelas IX yang berhasil membawa pulang medali perak pada ajang lomba HIMSO (Hidayatullah Mathematis and Sciense) yang diadakan di Surabaya, 22/6/2025 lalu.

Ada pula Hanggar, Ihsan, Hamka dan sejumlah kawan-kawannya. Mereka para santri kelas VIII ini tampil sebagai finalis di kegiatan Final Jenius Science Olympiade 2025 yang diadakan di kampus UIN Yogyakarta, Juni 2025 silam.

Dari putri, rupanya prestasi mereka tak kalah menggembirakan. Untuk OBA misalnya, SMH RM Putri juga berhasil memastikan dua santri untuk melaju ke Tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Yakni, Mafaza Tazkia (MA) dan Aqila Carissa (MTs).

“Alhamdulillah, semuanya menggembirakan dan membahagiakan. Patut disyukuri, karena semua pihak saling support dan beri dukungan, terutama dari para orangtua santri. Terima kasih,” ucap Ustadzah Najmatun Nahdhah, Kepala SMH RM Putri, dihubungi media secara terpisah.*/