Beranda blog Halaman 71

Kolaborasi Kemanusiaan Hidayatullah Bersama Lintas Sektor Mengalir di Padang

0

PADANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kebencanaan yang kembali menguji solidaritas sosial di Indonesia, berbagai elemen masyarakat berpadu dalam kekuatan kolaborasi sebagai bagian dari karakter kebangsaan.

Bagi organisasi massa Islam seperti Hidayatullah, yang telah memasuki usia setengah abad kedua, kontribusi dalam pemulihan bencana bukan sekadar kegiatan insidental, tetapi komitmen jangka panjang terhadap kepentingan publik.

Hal itu disampaikan Korlap Tim Siaga Bencana Hidayatullah Sumbar yang juga Kepala BMH Sumatera Barat, Prawira Dijaya Marpaung, saat Baitul Maal Hidayatullah (BMH), DPW Hidayatullah Sumbar, bersama Higive, Nine to Nine Dental Center, dan Lingkaran Peduli Indonesia (LPI) melakukan aksi kemanusiaan pascabanjir di Kota Padang, Rabu, 12 Jumadil Akhir 1447 (3/12/2025).

Kolaborasi lintas lembaga itu hadir di tengah wilayah yang masih diselimuti sisa lumpur dan aktivitas warga yang belum sepenuhnya kembali normal.

Tim gabungan bergerak dari rumah ke rumah untuk memastikan bantuan yang disalurkan benar-benar menjangkau warga dengan kebutuhan paling mendesak.

Bantuan utama yang diberikan berupa ratusan paket nasi bungkus hangat, diserahkan langsung kepada warga yang dapurnya masih belum berfungsi akibat kerusakan pascabanjir. Selain pangan, tim membawa paket sandang berisi pakaian layak pakai dan handuk bersih.

Selama penyaluran bantuan, para relawan tidak hanya datang sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai pendengar bagi warga yang membutuhkan ruang untuk menceritakan kondisi mereka.

Proses dialog ini menjadi bahan pemetaan untuk merumuskan bantuan lanjutan beberapa hari ke depan, terutama bagi keluarga yang kehilangan barang-barang vital.

Prawira menegaskan bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan secara parsial. “Kami menyaksikan langsung kondisi yang memprihatinkan. Banyak warga kehilangan barang penting dan akses terhadap kebutuhan dasar masih sangat terbatas. Karena itu, sinergi antarlembaga harus terus diperkuat agar beban masyarakat dapat berkurang secara bertahap,” ujarnya.

Aksi kemanusiaan ini juga diperkuat dukungan dari sektor usaha, salah satunya Hotel Musafir Inn Padang, yang menegaskan komitmennya untuk tetap terlibat dalam program kemanusiaan sesuai kapasitasnya.

Prawira Marpaung menambahkan, gerakan kolaboratif ini direncanakan terus berjalan dan beradaptasi dengan kebutuhan warga hingga Kota Padang benar-benar pulih.

Longsor dan Banjir Sumatera Utara, Santri Hidayatullah Bergerak di Tengah Bencana

0

TAPANULI (Hidayatullah.or.id) — Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, meninggalkan dampak yang masih berat hingga awal Desember 2025.

Kondisi logistik yang terbatas dan jalur transportasi yang terputus membuat penanganan darurat berjalan lambat. Dalam situasi itu, dua pesantren Hidayatullah yang turut terdampak menjadi pusat aktivitas kemanusiaan yang digerakkan oleh para santri dan relawan.

Koordinator Lapangan Tim Siaga Bencana Hidayatullah, Tafdhil Umam, menjelaskan bahwa di tengah kondisi darurat, santri dari Pondok Pesantren Darul Ma’rifah dan Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange ikut terlibat aktif membantu warga terdampak.

“Akses menuju pondok yang terdampak langsung di Tapteng belum tembus via Tarutung,” ujarnya, menggambarkan hambatan yang dihadapi di lapangan. Meski demikian, para santri tetap bergerak bersama relawan untuk mempercepat proses pemulihan awal.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah telah mendirikan dua posko utama, yaitu di Ponpes Darul Ma’rifah AMD-Kalangan dan di Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange. Kedua pesantren tersebut berada pada wilayah yang mengalami kerusakan berat.

Di Sipange, setengah bangunan pondok hancur akibat tertimbun lumpur tebal dan batu-batu besar. Sementara itu, di Darul Ma’rifah, aliran listrik padam total dan persediaan logistik menipis sehingga aktivitas penanganan darurat perlu dilakukan dengan sumber daya yang terbatas.

Santri putri Darul Ma’rifah membantu menyediakan kebutuhan makan para pengungsi dan relawan dengan mengelola dapur darurat. Di sisi lain, santri dari Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange bekerja bersama tim SAR Hidayatullah, BMH, PosDai, dan relawan gabungan untuk membersihkan area pesantren, membuka akses jalan, serta menata kembali fasilitas umum yang terdampak.

Tantangan logistik menjadi hambatan utama dalam proses penanganan. Menurut Tafdhil, kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi mencakup air bersih, sembako, genset, selimut, LPG, makanan siap saji, terpal, Starlink, serta perlengkapan mandi.

Selain itu, kondisi pasokan BBM juga sangat terbatas, sementara ATM dan layanan perbankan belum beroperasi di wilayah terdampak. Untuk mendapatkan sinyal komunikasi dan membeli kebutuhan dasar, relawan harus menempuh perjalanan hingga tujuh jam pulang-pergi.

Air mineral di posko utama tersisa hanya beberapa dus dalam kemasan gelas, jumlah yang diperkirakan tidak mencukupi kebutuhan dua hari untuk relawan dan warga yang berada di lokasi. Akses menuju Sipange pun masih harus dilalui dengan tingkat kewaspadaan tinggi karena sebagian jalur masih tergenang air cukup dalam.

Pada awal bencana, infrastruktur di Tapanuli Selatan lumpuh, listrik padam total, dan jaringan komunikasi hanya tersedia di titik-titik tertentu yang berjarak jauh dari lokasi posko. Beberapa desa bahkan belum dapat dijangkau karena akses jalan tertutup lumpur dan material longsor.

Saat ini dilaporkan hampir 200 warga mengungsi di sekitar lingkungan dua pesantren tersebut, dengan sekitar 70 kepala keluarga bertahan di Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange dan lebih dari 125 kepala keluarga berada di Pondok Pesantren Darul Ma’rifah. Kondisi ini menuntut percepatan distribusi bantuan agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.

Sementara itu, laporan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh pada Selasa, 2 Desember 2025 pukul 20.00 WIB melaporkan jangkauan dampak yang meluas di berbagai wilayah. Dari total 6.497 gampong, sebanyak 3.310 gampong terdampak dengan jumlah 229.767 kepala keluarga atau 1.452.185 jiwa. Sebanyak 249 orang dilaporkan meninggal dunia dan 227 orang masih hilang. Selain itu, 1.435 warga mengalami luka ringan dan 403 luka berat, dengan 828 titik pengungsian yang menampung 660.642 jiwa.

Kerusakan fasilitas umum meliputi 138 kantor, 51 tempat ibadah, 201 sekolah, dan 4 pondok pesantren. Kerusakan infrastruktur jalan mencapai 302 titik, sementara 152 jembatan mengalami kerusakan. Kondisi ini memperkuat urgensi suplai logistik tambahan, terutama air bersih, makanan pokok, dan peralatan penerangan, untuk memastikan kelangsungan operasi penyelamatan di wilayah terdampak.

Pesantren Hidayatullah di Tapanuli Terdampak Banjir Bandang, Relawan Berjuang di Akses Terputus

0
ist – tapteng

TAPTENG (Hidayatullah.or.id) — Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan pada awal November 2025 menimbulkan kerusakan parah di sejumlah titik, termasuk fasilitas pendidikan dan dakwah Pesantren Hidayatullah.

Laporan lapangan menyebutkan bahwa dua pondok pesantren milik Hidayatullah menjadi lokasi terdampak signifikan. Tim relawan yang berada di lokasi menggambarkan situasi yang masih sulit dipulihkan akibat akses yang terputus, komunikasi yang terbatas, serta kondisi medan yang tertutup lumpur dan material longsoran.

Korlap Tim Siaga Kebencanan Hidayatullah, Tafdhilul Umam, menjelaskan bahwa salah satu lokasi terdampak, Pondok Pesantren Tahfidz Agrowisata Hidayatullah Sipange, mengalami kerusakan berat. Setengah bagian bangunan pesantren yang sehari-hari digunakan santri untuk menghafal Al-Quran terkubur tanah dan lumpur tebal.

Batu-batu besar juga tampak berserakan di area lingkungan pondok. Ia melaporkan bahwa akses utama menuju pesantren dari arah Tarutung masih terputus total. “Saat ini, akses menuju pondok yang terdampak banjir secara langsung di Tapteng belum tembus via Tarutung,” ujarnya. Tafdhil menambahkan bahwa jalur yang dapat dilalui adalah rute alternatif melalui Subulussalam–Aceh Singkil.

Kondisi di lapangan semakin menantang karena genangan air masih menghalangi jalur masuk. Sinyal komunikasi juga belum pulih sepenuhnya, dan jaringan listrik masih padam. Relawan yang berada di lokasi berjumlah 17 orang dengan pembagian tugas yang terstruktur. Tim pertama yang terdiri dari sepuluh relawan dipimpin Syukran untuk melakukan pembersihan lumpur di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Tim kedua beranggotakan dua orang membantu upaya pencarian korban bersama Basarnas di wilayah Aek Boktar. Sementara lima relawan di tim ketiga bertugas mengamankan pasokan bahan bakar di SPBU guna memenuhi kebutuhan operasional pembersihan dan logistik.

Dua posko bantuan telah didirikan meski akses menuju lokasi terdampak masih sulit ditembus. Relawan yang terlibat berasal dari berbagai unsur, yaitu BMH, SAR Hidayatullah, Pos Dai Sumut, FOZ Sumut, SYP Sahabat Yatim Pedalaman, serta DPW Hidayatullah Riau.

Menurut Tafdhil, posko terus melakukan koordinasi untuk menilai prioritas kebutuhan warga. Ia menyebutkan bahwa dapur umum direncanakan untuk didirikan dalam beberapa hari mendatang. Namun, rencana tersebut belum direalisasikan karena pasokan bahan pokok masih sangat terbatas.

Jumlah warga terdampak di sekitar kedua pesantren tersebut dilaporkan hampir mencapai 200 orang. Di Pesantren Tahfidz Agrowisata terdapat 70 kepala keluarga, sementara di Pesantren Darul Ma’rifah lebih dari 125 kepala keluarga terdampak. Banyak di antara mereka merupakan masyarakat sekitar yang rumahnya ikut terendam atau tertimbun lumpur akibat banjir bandang tersebut. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar menjadi semakin mendesak dan memerlukan penanganan segera.

Tafdhil menjelaskan bahwa kebutuhan paling urgen saat ini meliputi air bersih, sembako, genset, selimut, LPG, makanan siap saji, terpal, perangkat komunikasi seperti Starlink, serta perlengkapan mandi. Kebutuhan tersebut dibutuhkan untuk mendukung fase pemulihan awal sebelum dilakukan langkah-langkah lanjutan terkait rehabilitasi fasilitas pendidikan dan pemukiman warga.

Kerusakan yang dialami dua pondok pesantren tersebut terjadi dalam konteks bencana yang lebih luas di wilayah Aceh dan sekitarnya. Data sementara dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh mencatat bahwa hingga Selasa malam, 2 Desember 2025, sebanyak 3.310 gampong dari total 6.497 gampong terdampak langsung bencana hidrometeorologi. Laporan pada pukul 20.00 WIB menunjukkan bahwa bencana ini memengaruhi 229.767 kepala keluarga atau 1.452.185 jiwa di 18 kabupaten/kota dan 229 kecamatan.

Korban jiwa juga terus diperbarui. Hingga pukul 19.37 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 249 orang, sementara 227 orang masih dinyatakan hilang. Data tersebut menunjukkan skala bencana yang luas dan perlunya mobilisasi bantuan lintas wilayah.

Strategi Baru Kaderisasi untuk Peradaban dan Songsong Tantangan Keindonesiaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pembahasan mengenai masa depan organisasi dan penguatan sumber daya manusia kembali menjadi fokus dalam rapat rutin kaderisasi Hidayatullah yang digelar di Jakarta pada Selasa, 11 Jumadil Akhir 1447 (2/11/ 2025).

Pada kesempatan itu, Ketua Pimpinan Majelis Syura (PMS) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, mengingatkan bahwa bidang kaderisasi merupakan jantung gerakan organisasi.

Ia menegaskan kaderisasi sebagai pilar strategis dalam upaya menjaga kesinambungan dakwah, membangun ekosistem kepemimpinan, serta memperkuat kontribusi umat terhadap peradaban Islam dan keindonesiaan di masa depan.

Dalam dialog bersama Ketua Bidang Kaderisasi DPP Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, Hamim menyampaikan bahwa kualitas kaderisasi akan menentukan wajah organisasi dua puluh tahun ke depan.

Ia mengingatkan perlunya keseriusan penuh dalam mengelola dan memperbarui pendekatan kaderisasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman. “Saya kira, kalau bidang ini gagal, maka dua puluh tahun lagi kita tinggal nama,” ujarnya.

Peringatan tersebut disampaikan Hamim sebagai dorongan agar seluruh elemen kaderisasi memahami bahwa keberlanjutan gerakan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan organisasi menyiapkan generasi penerus yang kompeten dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua Departemen Pembinaan Anggota, Iwan Abdullah, serta Ketua Departemen Rekrutmen, Imam Nawawi. Ketiganya bersama PMS membahas sistematisasi, sinergi, serta penyempurnaan sentuhan personal dalam pembinaan kader. Pertemuan ini diposisikan sebagai titik balik penting untuk memperkuat arah kaderisasi dalam dua dekade mendatang.

Abdul Ghofar menekankan pentingnya ekosistem yang saling terhubung antara departemen. Ia menegaskan bahwa tiga departemen utama—rekruitmen, pembinaan anggota, dan kaderisasi—harus berjalan sinergis dan saling mempengaruhi. Ekosistem yang terkoordinasi dinilai dia sebagai syarat agar proses kaderisasi berjalan efektif, terukur, dan mampu menjawab kompleksitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Dalam penguatan lini rekrutmen, Imam Nawawi melaporkan bahwa pihaknya telah menyiapkan tim khusus yang akan fokus menyasar mahasiswa dan komunitas pemuda. Langkah ini dipandang strategis untuk mendekatkan nilai dakwah dan pembinaan kader kepada generasi muda melalui bahasa komunikasi yang lebih relevan.

“Kami akan menguatkan Training Bina Aqidah dan Super Life Revolution (SLR), serta menyapa dan menguatkan ketersambungan dengan alumni yang lulus lima tahun lalu namun belum tertangani,” ujarnya. Imam juga menyampaikan bahwa pola halaqah dan Daurah Marhalah Ula (DMU) akan ditingkatkan agar mampu menjangkau lebih banyak potensi kader.

Sementara itu, Iwan Abdullah melalui Departemen Pembinaan Anggota mengambil peran strategis dalam pengelolaan ribuan wali murid sekolah dan Rumah Qur’an. Pendekatan pembinaan akan dirancang lebih simpel dan membumi, sehingga proses menjadi kader dapat berjalan lebih inklusif dan tidak kaku.

Dalam konteks keindonesiaan, Hamim menyoroti bahwa masyarakat Indonesia memiliki kebutuhan dasar untuk berkumpul, berjamaah, dan memiliki komunitas. Ia memberikan ilustrasi bahwa berbagai kelompok atau aliran, termasuk yang dipandang tidak lazim, mampu bertahan dan berkembang karena berhasil memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kalau mereka laku dan banyak pendukungnya, apa kita enggak bisa. Jadi kembali kepada kita sebagai ‘pemasar’ lembaga ini,” ujarnya. Hamim menegaskan bahwa organisasi perlu menggunakan pendekatan lebih baik, lebih cepat, dan lebih sistematis dalam membina kedekatan dengan masyarakat.

Hamim juga menekankan perlunya meninggalkan cara-cara manual yang rentan menghambat percepatan gerakan. Ia meminta agar setiap aktivitas kaderisasi dan pembinaan didokumentasikan dengan baik agar menjadi bagian dari sistem yang dapat dievaluasi dan dikembangkan.

Sebagai tindak lanjut konkret, ia mendorong untuk menyisir ulang seluruh jaringan dan kontak yang ada. Tujuannya adalah membangun forum silaturahmi akbar, serupa dengan momentum Syawalan di Jakarta, yang dapat menjadi rumah pulang bagi jaringan kader dan alumni yang tersebar.

Melalui penguatan sistem kaderisasi, Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk menjaga kesinambungan gerakan, memperkokoh kontribusi umat, dan merawat nilai-nilai kebangsaan yang menjadi landasan kehidupan bernegara.

Syura adalah Benteng Pertahanan Moral Bangsa dan Keluarga

0
ist – musyawarah-dalam-islam-syura

RAIS ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menegaskan dalam Musyawarah Nasional Muslimat Hidayatullah ke VI, salah satunya tentang urgensi syura dalam Islam.

Syura atau musyawarah adalah bagian penting dalam kepemimpinan. Inilah menjadi benteng pertahanan untuk menjaga moral masyarakat. Allah sendiri menegaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an di antaranya surat Ali Imron ayat 159 yang secara eksplisit memerintahkan untuk syura kepada Rasulullah dan orang-orang beriman

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Artinya:

Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah bertekad bulat, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ibn Katsir menegaskan: jika Rasul yang mendapat wahyu saja diperintahkan bermusyawarah, maka umat lebih pantas menjadikannya prinsip hidup. Ayat ini menunjukkan bahwa syura bagian dari akhlak kepemimpinan, bukan karena Nabi membutuhkan pendapat sahabat, tetapi agar umat belajar adab, kebersamaan, dan partisipasi.

Syura diabadikan menjadi nama surat al Qur’an yang ke 42, ini tanda besarnya kedudukan syura. Diabadikannya “Asy-Syura (الشورى)” sebagai nama surat menunjukkan bahwa syura adalah prinsip agung, pilar syariat, dan identitas moral umat Islam, bukan kebetulan.

Penamaan surat ini menunjukkan bahwa syura bukan hanya prinsip teknis pengambilan keputusan, tetapi pilar peradaban Islam, sehingga Allah mengabadikannya sebagai tema pokok sebuah surat Makkiyah yang penting. Syura bukan hanya metode berpikir, tetapi benteng yang menjaga kejernihan niat, kebersamaan jamaah, dan keutuhan perjuangan.

Rasulullah ﷺ sebagai uswatun hasanah bukan hanya mengajarkan syura secara lisan, tetapi menjadikannya praktik kepemimpinan yang hidup. Padahal beliau adalah manusia paling mulia, paling bijaksana, dan maksum terjaga dari kesalahan. Namun justru karena kemuliaan itulah beliau menunjukkan bahwa syura adalah prinsip abadi dalam memimpin, bukan sekadar kebutuhan teknis atau kompromi sosial.

Dalam shirah Nabawiyah, Nabi ﷺ menerima masukan sahabat dalam musyawarah terkait strategi Perang Uhud, pembangunan parit (Khandaq), penentuan tawanan Badar, pengelolaan urusan keluarga dan negara. Rasulullah tidak membungkam pendapat, tidak menutup ruang kritik, dan tidak mengklaim kepemilikan tunggal atas kebenaran.

Rasulullah ﷺ adalah pemimpin maksum yang tetap mengambil syura, agar umat memahami bahwa kepemimpinan yang benar bukan bertumpu pada kesempurnaan individu, tetapi pada kebersamaan, adab, dan keterhubungan batin dengan Allah.

Dalam kepemimpinan negara ataupun organisasi, musyawarah adalah benteng moral. Syura adalah syariat dari Allah dan sunnah yang dilaksanakan oleh Rasulullah. Maka jangan beralasan untuk tidak hadir dalam undangan musyawarah atau rapat karena itu bagian penting dalam moral kepemimpinan.

Seorang pemimpin juga jangan meniadakan musyawarah, karena pemikiran banyak orang tentu lebih baik daripada pemikiran sendiri. Apalagi seorang pemimpin hanya manusia biasa, terbatas pengetahuan, keahlian dan pengalamannya.

Salah satu bukti bahwa syura itu bersifat menyeluruh meliputi urusan negara hingga urusan domestik yang paling kecil adalah bahwa Al-Qur’an memerintahkan musyawarah dalam hal penyusuan anak, sebuah isu rumah tangga yang sangat personal. Sebagaimana Allah jelaskan dalam  QS. Al-Baqarah: 233

فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالٗا عَن تَرَاضٖ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٖ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۗ

Artinya:

Jika keduanya (ayah dan ibu) ingin menyapih (anak) dengan kerelaan di antara keduanya dan dengan permusyawaratan di antara mereka, maka tidak ada dosa atas keduanya.”

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai penyapihan (kapan anak berhenti menyusu) harus didasarkan pada kerelaan dan musyawarah antara suami dan istri. Ini luar biasa, karena penyapihan adalah urusan sangat pribadi, terkait kesehatan anak, menyangkut kapasitas ibu dan memerlukan pertimbangan bersama. Namun Al-Qur’an tetap menegaskan musyawarah.

Syura adalah standar moral keluarga. Tafsir al-Tabari menyebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa keluarga Muslim tidak boleh memakai otoritarianisme, tetapi dialog, persetujuan, dan kesepakatan batin. Musyawarah menjadi mekanisme dalam keluarga untuk menghindari ketegangan, menjaga keharmonisan dan memastikan keputusan yang terbaik bagi anak.

Salah satu indikator keluarga bahagia adalah adanya musyawarah atau dialog dalam keluarga. Dalam syura ada ketenangan, ketentraman dan penghormatan kepada pasangan dan anggota keluarga.

Sebaliknya keluarga biasanya akan berantakan atau putus di tengah jalan ketika tidak ada musyawarah di dalamnya sehingga sering terjadi perselisihan, pertengkaran, kesalahpahaman yang terus menerus. Inilah yang menjadi sebab pertama perceraian akhir-akhir ini

Jika urusan sekecil penyusuan saja harus dimusyawarahkan, apalagi urusan besar. Ini adalah kaidah tarbawi penting yang Ulama mengambil istinbat: bahwa jika syura diwajibkan untuk perkara kecil, maka syura lebih wajib lagi untuk perkara besar dalam masyarakat dan negara.

*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Serukan Penegakan Ekologi, Pemuda Hidayatullah Minta Negara Tegas Tangani Akar Masalah Banjir

0
Banjir bandang yang menghanyutkan tumpukukan kayu gelondongan di wilayah Padang, Sumatera Barat, menjadi sorotan publik hingga mancanegara (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, mengeluarkan pernyataan terkait bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada November 2025.

Dalam keterangan, ia meminta pemerintah membentuk satuan tugas khusus untuk mengusut secara komprehensif penyebab bencana tersebut, yang telah menimbulkan korban meninggal dalam jumlah besar dan kerusakan luas.

Rasfiuddin menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada tahapan respons darurat semata, tetapi harus mencakup investigasi mendalam mengenai penyebab strukturalnya.

“Pemuda Hidayatullah meminta pemerintah menurunkan tim satgas khusus untuk mengusut tegas penyebab musibah banjir di Sumatera. Kita tidak boleh hanya sibuk pada penanganan akhir. Pertanyaan besarnya adalah apa sebenarnya yang menjadi penyebab luasnya dampak bencana yang terjadi sekarang ini,” kata Rasfiuddin dalam keterangannya, Selasa, 11 Jumadil Akhir 1447 (2/12/2025).

Ia menyampaikan bahwa pemetaan faktor penyebab harus dilakukan secara ilmiah dan multi-dimensi, mengingat beberapa indikasi di lapangan menunjukkan adanya kerusakan ekosistem yang serius. “Apakah ini murni bencana alam, atau memang dampak dari deforestasi hutan?” lanjutnya.

Rasfiuddin merujuk pada fenomena yang banyak disorot publik, termasuk beredarnya video gelondongan kayu berukuran besar yang hanyut terbawa arus banjir yang memberikan indikasi kuat adanya aktivitas pembalakan liar dalam skala signifikan.

Permintaan investigasi tersebut bukan tanpa alasan. Data terbaru menunjukkan bahwa hutan Sumatera terus mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan. Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa dalam rentang 2000–2023, Sumatera kehilangan lebih dari 7,5 juta hektare hutan, menjadikannya salah satu pulau dengan tingkat deforestasi tercepat di Indonesia.

Pada 2023 saja, hilangnya tutupan hutan alam di Sumatera mencapai lebih dari 37.000 hektare (Global Forest Watch, 2024). Deforestasi tersebut sebagian besar dipicu pembalakan liar, ekspansi perkebunan, dan pertambangan ilegal—semuanya memperburuk risiko banjir bandang, longsor, dan kerusakan ekosistem sungai.

Dari perspektif ekologi, kerusakan hutan menghilangkan fungsi-fungsi lingkungan yang sangat vital. Hutan tropis di Sumatera berfungsi sebagai penyangga air (water catchment), penstabil tanah, dan regulator iklim mikro. Ketika tutupan hutan hilang, limpasan permukaan meningkat secara cepat, sehingga intensitas banjir menjadi berlipat ganda meskipun curah hujan tidak ekstrem.

Pada saat bersamaan, sedimen tanah yang longsor menutup badan sungai, memperparah arus banjir dan memperluas area terdampak. Pemodelan hidrologi yang dilakukan konsorsium akademik pada 2023 juga menegaskan bahwa deforestasi sebesar 10 persen di daerah aliran sungai dapat meningkatkan risiko banjir hingga 30 persen.

Pemuda Hidayatullah menilai pembentukan satgas lintas kementerian menjadi urgensi nasional. Satgas tersebut dinilai perlu melibatkan unsur ahli kehutanan, hidrologi, geologi, serta aparat penegak hukum sehingga investigasi penyebab bencana dapat dilakukan menyeluruh dan adil.

Rasfiuddin menyampaikan bahwa pembalakan liar dan penambangan ilegal harus menjadi fokus pengusutan. “Maraknya penambangan ilegal dan aktivitas ilegal logging kemungkinan besar menjadi sumber kerusakan hutan secara masif. Hutan yang seharusnya menjadi rumah air tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat berhak mengetahui akar persoalan sehingga kebijakan yang diambil pemerintah dapat mencegah berulangnya bencana serupa. Menurutnya, pemulihan ekologis tidak boleh hanya menjadi wacana, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk penegakan hukum, rehabilitasi daerah aliran sungai, dan pembatasan ekspansi industri ekstraktif yang merusak keseimbangan lingkungan.

Ia pun menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan baik negara, dunia usaha, masyarakat sipil, dan komunitas lokal, bergerak bersama menjaga sisa hutan Sumatera sebagai warisan ekologis bangsa.

Rasfiuddin menegaskan bahwa krisis lingkungan di Sumatera adalah peringatan keras bahwa kerusakan ekologis tidak lagi bersifat lokal, tetapi berdampak nasional dan antargenerasi.

Posko Hangat Hidayatullah Sumbar Hadirkan Harapan di Tengah Lumpur Banjir Koto Tuo

0

PADANG (Hidayatullah.or.id) — Suasana pascabanjir di Koto Tuo, Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, masih menyisakan rasa dingin dan lumpur pekat yang menempel di setiap sudut permukiman. Warga yang sejak pagi membersihkan rumah tampak lelah, namun tetap mempertahankan harapan agar kondisi segera pulih.

Dalam situasi inilah, Posko Hangat yang dibangun Tim Siaga Kebencanaan Hidayatullah Sumatera Barat menjadi ruang jeda bagi warga dan relawan. Posko tersebut dikoordinasikan oleh gabungan unsur Laznas BMH, SAR Hidayatullah, Task Hidayatullah, dan PosDai yang memilih SMP Negeri 44 Padang sebagai titik layanan.

Kepala BMH Sumatera Barat, Prawira Dijaya Marpaung, yang memimpin tim siaga gabungan, menegaskan komitmen mereka dalam mendampingi masyarakat sejak hari pertama posko dibuka. Ia menyampaikan bahwa pelayanan posko akan terus berjalan selama warga dan relawan membutuhkannya.

“Posko ini hadir dengan misi sederhana namun vital: mengembalikan energi dan harapan,” ujarnya. Namun, ia juga menekankan bahwa upaya penanggulangan bencana membutuhkan gotong royong agar dapat berjalan berkelanjutan. Komitmen itu menjadi pijakan utama bagi seluruh relawan yang bertugas di lapangan.

Di tengah aktivitas pembersihan rumah dan jalan yang masih dipenuhi lumpur, Posko Hangat menjadi tempat yang membawa napas baru. Di posko itu tidak hanya tersedia makanan dan minuman hangat, tetapi juga ruang untuk merilekskan tubuh dan pikiran sementara sebelum kembali menghadapi situasi pascabanjir. Aroma kopi yang tersaji setiap waktu mengundang siapa saja yang kelelahan untuk berhenti sejenak.

Layanan posko tidak terbatas bagi warga yang kehilangan kemampuan memasak karena dapur mereka terendam lumpur. Relawan yang sepanjang hari bekerja membersihkan material banjir juga datang untuk beristirahat. Perbedaan peran seketika hilang ketika mereka berkumpul di bawah tenda sederhana, duduk bersama, dan saling menguatkan.

Salah seorang warga yang rumahnya terdampak menyebutkan bahwa posko ini sangat membantunya. “Kami belum bisa masak, rumah masih berantakan. Di sini bisa minum hangat dan makan,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Hingga 2 Desember, aktivitas di Posko Hangat tidak pernah berhenti. Data lapangan menunjukkan sejumlah layanan yang telah disalurkan kepada masyarakat. Sebanyak 200 porsi makanan siap saji dibagikan kepada warga dan relawan. Selain itu, 150 gelas kopi hangat disajikan sebagai pengusir dingin.

Posko juga menyediakan 50 mie seduh kemasan sebagai pangan cepat, serta 50 paket alat kebersihan untuk mendukung masyarakat membersihkan rumah mereka. Penyaluran air minum dan kebutuhan darurat lainnya terus dilakukan mengikuti permintaan dan kondisi lapangan.

Bagi relawan yang bertugas di berbagai sudut lokasi banjir, posko menjadi tempat singgah sebelum kembali melanjutkan pekerjaan. Mereka datang, meluruskan kaki, menyeduh kopi, dan mengisi ulang tenaga. Kehadiran posko memberi pengaruh langsung terhadap stamina para relawan, terutama ketika harus bekerja dalam kondisi cuaca yang tidak menentu dan medan yang berat.

Tim Siaga Kebencanaan Hidayatullah menegaskan bahwa keberlanjutan pelayanan posko bergantung pada kekuatan kolaborasi. Dalam keterangan yang disampaikan, Prawira menyebutkan bahwa gotong royong adalah bagian penting dari upaya pemulihan bencana di Koto Tuo.

Ia mengajak seluruh pihak agar turut mendukung layanan posko ini. Warga, lembaga pemerintah, CSR perusahaan, maupun individu yang ingin berpartisipasi disebut sebagai bagian dari rantai kebaikan yang sangat dinanti.

“Mari dukung terus Posko Hangat BMH. Salurkan kepedulian, hangatkan saudara kita,” tutupnya.

Mahasiswa STIS Hidayatullah Ikuti Pelatihan Bela Negara, Bentuk Baru Pengabdian Pemuda

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Program Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Kesadaran Bela Negara yang digelar Badan Kesbangpol Kota Balikpapan pada pertengahan November 2025 menghadirkan dinamika baru bagi para peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat.

Di antara mereka, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah memaknai kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran sosial sekaligus bagian dari kontribusi pemuda dalam menjaga stabilitas bangsa.

Pelatihan tersebut menjadi sarana pembentukan perspektif baru mengenai peran generasi muda dalam menghadapi tantangan kebangsaan yang terus berkembang.

Mahasiswa STIS Hidayatullah, Habib, yang mengikuti program ini, mengemukakan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengalaman bermakna bagi dirinya dan rekan-rekannya.

“Alhamdulillah, semangat. Ini pengalaman baru yang bermanfaat buat kami sebagai mahasiswa sebagai generasi muda penerus perjuangan,” ujarnya.

Dia merasa senang sebab sebagai kalangan muda ia tidak hanya menjadi penerima informasi mengenai bela negara, tetapi turut berperan aktif dalam proses pembentukan karakter dan kesadaran berbangsa. Pengalaman yang diperoleh selama pelatihan memberikan kontribusi terhadap pemahaman mereka mengenai tanggung jawab sosial di lingkungan masing-masing.

Partisipasi mahasiswa STIS Hidayatullah sejalan dengan moto warga Kota Balikpapan, “Balikpapan Kujaga Kubangun dan Kubela”, yang menekankan nilai pengabdian terhadap daerah dan negara.

Keterlibatan tiga mahasiswa STIS Hidayatullah dalam program tersebut mencerminkan komitmen lembaga pendidikan untuk berkontribusi pada penguatan ketahanan sosial serta kesadaran bela negara di tingkat lokal.

Program ini juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi berbagai bentuk ancaman nontradisional.

Kegiatan yang diadakan selama sepekan ini berlangsung pada 14–20 November 2025, bertempat di Markas Komando Depo Pendidikan dan Kejuruan (Mako Dodikjur) Rindam VI Mulawarman, Manggar Baru, Balikpapan Timur.

Acara resmi dibuka oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Balikpapan, Sutadi, yang menegaskan bahwa ancaman terhadap negara saat ini tidak lagi berbentuk serangan fisik semata.

Ia menyampaikan bahwa ancaman modern meliputi disinformasi, radikalisme, polarisasi sosial, serta intoleransi yang dapat merusak persatuan bangsa. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa masyarakat adalah garda terdepan dalam menghadapi berbagai dinamika tersebut.

“Bela negara bisa dilakukan melalui banyak cara, seperti menjaga persatuan, mematuhi hukum, termasuk melawan segala bentuk ujaran kebencian dan intoleransi yang bisa memecah belah bangsa,” ungkap Sutadi.

Sutadi menekankan pemahaman bahwa bela negara tidak terbatas pada latihan fisik, melainkan mencakup ketahanan mental dan kemampuan menyaring informasi.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai bela negara harus hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya sebatas teori. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi contoh dan agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Materi pelatihan mencakup wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, pembentukan karakter, ketahanan mental, kemampuan dasar bela negara, serta peran masyarakat dalam menjaga stabilitas daerah.

Perubahan bentuk pelatihan yang tidak lagi terfokus pada baris-berbaris semata menunjukkan bahwa bela negara kini diposisikan sebagai gerakan sosial yang tumbuh dari kesadaran masyarakat.

Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat peran mereka sebagai penggerak ketahanan sosial.

Melalui agenda ini, Habib dan rekannya dari STIS Hidayatullah serta peserta lainnya memperoleh kesempatan untuk memahami dinamika kebangsaan dari perspektif praktis. Pengalaman yang mereka dapatkan tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga memperkaya pemahaman mengenai bagaimana nilai bela negara dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Longsor Sipange Tapteng, Ketabahan dan Keselamatan yang Menembus Hening

0
Pesantren Darussa’adah Sipange Purba, Tukka, Tapanuli Tengah, yang terdampak banjir longsor

HUJAN tak berhenti turun sejak Selasa pagi, 25 November 2025. Langit tak memberi jeda sedikit pun, dan tetesan yang semula terdengar biasa berubah menjadi ancaman ketika air mulai meninggi, melewati batas yang semestinya.

Dari Sipange, kabar demi kabar mengalir melalui pesan keluarga. Awal yang masih bisa diikuti: hujan tak berhenti, air naik cepat, arus deras menghantam tanah coklat desa itu dengan kasar.

Dari arah atas, tanah-tanah menjulang mulai meluruh, jatuh tanpa ampun, menyapa kandang ternak dan asrama santri Pesantren Darussa’adah Sipange Purba, Tukka, Tapanuli Tengah (Tapteng).

Lalu, satu per satu, hal penting ikut tumbang. Listrik padam, internet goyah, dan akhirnya jaringan benar-benar lumpuh. Hening. Tidak ada kabar lanjutan.

Huft. Rasanya kacau balau. Pesan yang selalu ditunggu tiba-tiba berhenti. Umi Elly berada sendiri di rumah. Komunikasi terputus total. Sementara abah, yang sedang dalam perjalanan pulang dari Dumai, terjebak di jalur lintas yang juga tertutup tanah longsor. Situasi itu… sulit dibayangkan. Menyesakkan.

Namun justru dari mereka yang berada dalam keadaan paling genting, ketabahan itu muncul. Di tengah kondisi mencekam, mereka yang di Sipange tetap menyampaikan pesan menenangkan: “Semua akan baik-baik saja.”

Pesan singkat itu terasa seperti pegangan di tengah gelap, menghadirkan secercah ketenangan di saat informasi lain benar-benar berhenti.

Keputusan berat akhirnya diambil. Karena jalan dan jembatan rusak parah, perjalanan pulang harus ditempuh dengan kombinasi naik motor dan berjalan kaki.

Biasanya, perjalanan pulang memakan waktu tiga jam dengan motor. Kali ini, jalur yang mereka tempuh bukan lagi sekadar perjalanan pulang tetapi misi penyelamatan keluarga dan santri di Sipange, melewati rute yang berubah drastis akibat longsor.

Di setiap langkah, ada hikmah yang terhampar. Longsor yang menghancurkan bukan hanya menjadi kabar duka, tetapi tadabbur alam yang memaksa manusia menundukkan kepala: betapa rapuhnya kita di hadapan kuasa hujan dan bumi yang digerakkan oleh-Nya.

Hari berganti. Pesan-pesan WhatsApp yang terus dikirim sejak 25 November hanya bercentang satu, diam seperti menghilang.

Hingga akhirnya, pada 1 Desember 2025, tanda biru itu muncul. Kabar yang ditunggu-tunggu pecah menembus layar: mereka selamat. Lega tak terbendung.

Tim abah yang nekat berjalan kaki dari Padangsidempuan menuju Sibolga pun akhirnya tiba dengan selamat di Pondok Pesantren Agrowisata Sipange.

Warga dan para santri dinyatakan aman. Namun pemandangan di sana memukul hati: asrama dan kandang ternak porak poranda, luluh lantak disapa tanah longsor.

Di balik kerusakan yang tersisa, terselip rasa syukur—nyawa masih Allah selamatkan. Bumi bisa diperbaiki, bangunan bisa dibangun kembali. Tapi jiwa-jiwa yang selamat, itulah anugerah terbesar.

Bencana membawa duka, tetapi juga membuka ruang bagi kebersamaan, keberanian, dan keikhlasan untuk saling menguatkan. Sipange mungkin runtuh sebagian, namun semangat mereka tidak.

Tampak kawasan utama Pesantren Darussa’adah Sipange Purba, Tukka, Tapanuli Tengah, sebelum kejadian bencana/ Dok. Hidayatullah Sumut)

(Kiriman dari Ustadzah Siti Iffah, guru di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang Kaltim yang rumah orangtuanya terdampak banjir longsor di Sipange, Tapanuli Tengah)

Gunung Tembak dan Nilai Hidup yang Menempa Ketua Umum Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kunjungan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Naspi Arsyad, Lc., ke Kampus Induk Gunung Tembak, Balikpapan, medio November 2025 lalu, menghadirkan ruang refleksi mengenai arah pendidikan dan peran nilai dalam pembentukan karakter santri.

Di tengah suasana pertemuan malam hari bersama para pegiat media sosial yang merupakan lulusan pesantren, ia menegaskan bahwa urusan pendidikan tidak cukup diukur dari pelayanan dan fasilitas semata, tetapi terletak pada nilai yang ditransformasikan para pendidik kepada santri.

“Ini harus jadi evaluasi pendidikan Hidayatullah sekarang dalam mendidik dan melahirkan generasi pelanjut perjuangan dakwah Islam,” ujarnya, menekankan pentingnya aspek nilai sebagai inti proses pendidikan.

Pertemuan yang berlangsung hangat di Kedai Rabiul, sebuah pusat kuliner tidak jauh dari kawasan pesantren Gunung Tembak, menjadi momen berbagi cerita tentang perjalanan masa muda sang ketua umum.

Meski memikul amanah baru memimpin organisasi pusat, KH. Naspi tetap menunjukkan kepribadian yang akrab dengan lingkungan pesantren, termasuk kebiasaannya bercengkerama, menyapa siapa saja, serta menyelipkan humor dalam percakapan. Malam itu, ia kembali mengisahkan perjalanan nyantrinya yang menjadi bagian penting pembentukan dirinya.

Dalam perbincangan tersebut, KH. Naspi menirukan cerita lama keluarga dan tetangga di kampungnya di Sulawesi Selatan. Ia mengenang bagaimana orang-orang sempat mempertanyakan keputusannya merantau jauh untuk belajar agama di Gunung Tembak.

“Jadi ada keluarga yang bertanya, eh kemae Naspi (kemana Naspi)?”

Oh, lampai pesantreng, di Balikpapang (Oh, dia pergi (mondok) di pesantren, di Balikpapan),” ucapnya menirukan sebuah dialog dengan logat Makassar, Sulawesi Selatan (14/11/2025).

Ia melanjutkan cerita tentang tetangga yang heran karena mendengar bahwa ia bukan hanya belajar agama, tetapi juga sering mencangkul, berkebun, hingga membantu bertukang saat pembangunan gedung-gedung pesantren.

Kisah itu menimbulkan keheranan tersendiri, mengingat keluarganya yang dikenal sebagai keluarga terpandang di kampung. Ayahnya, yang akrab disapa Dg. Lalang, dianggap memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan ternama.

“Di kampung itu, asumsinya kalau bertani atau berkebun itu pekerjaan ekonomi menengah ke bawah biasanya,” ujarnya, menggambarkan perspektif yang berkembang di lingkungan kampungnya.

Karena itu, ketika kabar menyebar bahwa ia turut melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, muncul pertanyaan besar dari tetangga mengenai apa sebenarnya yang dipelajari di pesantren Balikpapan.

Cerita tersebut justru memunculkan perhatian luas di kampungnya. Ia menjelaskan bahwa pengalaman mondoknya sempat menjadi bahan pembicaraan, bahkan “viral” dalam istilah masa kini.

Keputusan anak Dg. Lalang untuk menempuh pendidikan di pesantren ternyata mendorong beberapa kerabat, keluarga, dan tetangga untuk ikut menyekolahkan anak mereka ke pesantren Hidayatullah di Balikpapan. Naspi mengenang bagaimana sebagian orang tua kemudian menggunakan keteguhan dirinya sebagai contoh untuk memotivasi anak yang merasa tidak betah.

“Eh, kamu tidak malukah, anaknya Dg. Lalang saja bisa bertahan, masak kamu tidak bisa bersabar,” ucapnya sambil tersenyum mengenang kejadian itu.

Bagi Ketua Umum DPP Hidayatullah tersebut, perjalanan masa nyantri memberikan pelajaran mendalam tentang pentingnya keteladanan dan nilai. Dalam pertemuan itu, ia menegaskan kembali bahwa pendidikan di pesantren semestinya berorientasi pada pembentukan karakter dan pembiasaan, bukan semata pada fasilitas atau layanan.

Ia menyampaikan bahwa penguatan values menjadi bagian utama dalam mencetak generasi pelanjut perjuangan dakwah, terlebih di era ketika informasi cepat beredar dan kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan sangat dipengaruhi kualitas keteladanan.

“Termasuk soal membangun kepercayaan publik dan peranan media sekarang,” ungkapnya menutup percakapan dengan para pegiat media sosial yang juga berprofesi sebagai guru dan dai.