Beranda blog Halaman 71

Pemimpin Umum Hidayatullah Tekankan Nilai Sedekah dalam Gerakan Menanam

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ada banyak alasan untuk menanam pohon atau merawat tanaman. Mulai dari hobi, hiburan di waktu senggang, hingga ingin mendapatkan penghasilan tambahan.

Rupanya Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad juga punya mindset tersendiri soal menanam. Apa itu? Niatkan bersedekah.

Menurutnya, Nabi telah mengajarkan begitu. Kalau seseorang menanam satu buah atau satu pohon, lalu dimakan oleh manusia atau binatang, itu jadi sedekah.

“Jadi itu spiritnya kalau saya menanam,” ucap Ustadz Abdurrahman yang memang dikenal hobi berkebun dan beternak ini.

Jelang Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah 2025 yang salah satunya juga mengusung tema lingkungan hijau, Ustadz Abdurrahman mengajak seluruh kader dan anggota Hidayatullah untuk memulai gerakan ini.

“Pokoknya dimana-mana saya anjurkan menanam. Menanam saja menanam. Karena bersedekah kita itu,” jelasnya di hadapan peserta Rapat Pleno Evaluasi dan Laporan Program Semester I YPPH Balikpapan beberapa waktu lalu, direportase Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

“Saya tanam pokoknya apa aja. Dapat bibit kelapa tanam kelapa. Ketemu batang singkong, ditanam juga. Bibit buah matoa saya tanam. Tanam elai juga, itu alhamdulillah berbuah semua,” ucapnya.

Saking perhatiannya urusan tanam-menanam ini, tak segan ia melarang anak-anak dan keluarganya membuang biji buah yang dimakan.

“Pelihara nangka juga. Kadang bilang, jangan buang bijinya ya. Padahal saya tidak (terlalu) makan nangka. Baik buah nangka atau sayur nangka,” lanjutnya.

Selain semangat bersedekah, kegemaran menanam pohon dan merawat lingkungan diakui sebagai hasil didikan ayahnya. Sejak kecil, almarhum H. Muhammad ayahnya mengajarinya hidup mandiri dan bekerja keras di kebun.

“Ayah saya yang ajari menanam. Kalau pulang (ke Sulawesi Selatan) langsung ke kebun saya,” ucapnya. Di sana, Pemimpin Umum Hidayatullah juga menyebut punya kebun yang berisi pohon buah-buahan dan tanaman lainnya.

Diketahui, Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan tengah menggencarkan program Hi-Farm yang fokus pada usaha peternakan sapi dan domba serta penanaman kelapa sawit.

Beberapa hari lalu, juga diadakan penanaman bibit perdana kelapa sawit yang langsung dihadiri dan didoakan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah.

“Nabi mengatakan, siapa yang menanam satu biji atau satu pohon, dan dimakan oleh manusia, dan dimakan oleh binatang atau burung-burung, maka menjadi shadaqah baginya,” terangnya tentang keutamaan menanam pohon dan menjaga lingkungan.

“Dengan ucapan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ kita mulai menanam pohon ini,” ujarnya lantas memasukkan bibit pohon sawit ke dalam lubang yang telah dipersiapkan.

Kick Off NGL 2025, Ketum Hidayatullah Dorong Lahirnya Pemimpin Muslim Profetik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., menyampaikan sambutan dalam acara Kick Off NextGen Leader (NGL) Nasional 2025 yang berlangsung di Audotorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara yang digelar Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) bekerjasama dengan Universitas Yarsi ini mengangkat tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Dalam sambutannya, Nashirul Haq menekankan pentingnya proses pembentukan karakter kepemimpinan melalui tempaan tantangan dan rintangan, bukan sekadar status sosial atau latar belakang pendidikan.

“Pemimpin itu tidak dilahirkan dari ruang-ruang kelas semata. Ia lahir dari tempaan kehidupan, dari tantangan, dari rintangan, dari pengabdian, dari jatuh bangun dalam menjalani amanah,” tegasnya di hadapan ratusan mahasiswa dan peserta kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa karakter kepemimpinan yang ideal adalah gabungan integritas dan

“Kriteria pemimpin menurut Al Qur’an ada dua, pertama, kuat dan amanah. Kuat, artinya memiliki kompetensi, kuat mental, kuat berpikir, kuat bekerja. Amanah maksudnya memiliki integritas.”

Di hadapan peserta yang merupakan mahasiswa dari berbagai kampus dan utusan lembaga kepemudaan, Nashirul juga menyampaikan enam aspek yang harus diperkuat oleh generasi muda jika ingin berperan sebagai pemimpin bangsa ke depan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah menguraikan konsep tarbiyah meliputi aspek spiritual (ruhiyah), intelektual (‘aqliyah), fisik (jismiyah), sosial (ijtimaiyah) dan kepemimpinan (idariyah).

Nashirul menggarisbawahi pentingnya aspek kepemimpinan. “Berbagai potensi yang dimiliki tidak dapat dioptimalkan tanpa adanya kepemimpinan dan manajemen yang baik.” Tegasnya.

Lebih lanjut, Nashirul mendorong mahasiswa untuk aktif menumbuhkan kepedulian sosial. “Interaksi sosial menumbuhkan tanggung jawab keumatan,” tegasnya.

Dalam bagian akhir sambutannya, Ketua Umum Hidayatullah mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kegiatan Next Gen Leaders (NGL) sebagai momentum peningkatan kualitas diri sebagai mahasiswa.

Acara Kick Off NGL 2025 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional sebagai pembicara antara lain: Dr. H. Zulkifli Hasan (Menteri Koordinator Bidang Pangan), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Cendekiawan Muslim, Ketua Mahkamah Konstitusi periode pertama, dan Prof. Dr. Fasli Jalal (Rektor Universitas YARSI Jakarta).

Para peserta terdiri dari delegasi mahasiswa dan pemuda dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pengkaderan kepemimpinan strategis yang bertujuan membentuk generasi Muslim yang profetik dan berdaya saing global.

Dialog Peradaban Refleksi Sejarah dan Penguatan Aqidah untuk Peradaban Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perwakilan pengurus Hidayatullah dari wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten mengikuti Dialog Peradaban bertajuk “Refleksi Sejarah dan Penguatan Aqidah dalam Membangun Peradaban Islam”, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara ini digelar di Aula Orny Loebis Pusat Dakwah Hidayatullah menghadirkan empat narasumber utama dari Dewan Pengurus Pusat dan Majelis Syura Hidayatullah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan arah perjuangan organisasi menuju fase baru kaderisasi dan dakwah. Turut hadir sebagai narasumber KH. Abdurrahman Muhammad, KH. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, KH. Hamim Thohari, dan KH. Nursyamsa Hadis.

Sesi pertama membahas urgensi transisi organisasi. Ia mengingatkan peserta agar siap mengelola perubahan yang terus berlangsung dalam tubuh organisasi.

“Perkembangan Hidayatullah menuntut kesiapan struktur dan kader dalam menjemput fase baru perjuangan dakwah. Ini bagian dari sunnatullah perjuangan,” ujar Nursyamsa di hadapan peserta.

Berikutnya, narasumber memaparkan sejarah kaderisasi dan perlunya evaluasi sistem tarbiyah. Menurutnya, perjuangan organisasi tak lepas dari konsistensi membina generasi.

“Kita harus belajar dari jejak para kader pendahulu. Dari situ kita perbaiki karakter, militansi, dan sistem pembinaan yang ada,” terang Abdul Aziz yang juga anggota DPD RI 3 periode ini.

Paparan berikutnya dalam nuansa reflektif yang menyoroti arah perjuangan organisasi dari kacamata Al-Qur’an.

Narasumber mengutip pertanyaan filosofis dalam Surah At-Takwir (81):26, “Maka ke mana kamu akan pergi?”, yang dijawab oleh semangat Nabi Ibrahim dalam Surah As-Saffat (37):99–100: menuju Rabb dan memohon generasi yang shalih.

Hamim mengajak kader untuk terus menegaskan arah gerak perjuangan dalam bingkai misi profetik, termasuk menjadikan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah mendatang sebagai momentum refleksi bersama.

“Munas Hidayatullah adalah arena muhasabah nasional untuk memastikan bahwa jalan yang kita lewati adalah jalan yang benar. Sedangkan jalan yang akan kita tempuh ke depan adalah jalan yang efektif dan efisien,” pesannya.

Sesi terakhir digelar dialog interaktif dan menjawab berbagai pertanyaan peserta. Diskusi ini membahas tantangan aktual, mulai dari reformasi struktur internal hingga peran strategis kader dalam peta dakwah nasional dan global.

Seluruh sesi berjalan dinamis. Peserta aktif bertanya dan memberikan catatan. Kehadiran tokoh senior dalam forum ini memberikan penguatan ideologis dan strategi pergerakan yang lebih terarah.

Kick Off NGL Nasional 2025, Pemerintah Dorong Mahasiswa Ambil Peran Strategis Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menegaskan pentingnya peran generasi muda terutama mahasiswa dalam mendukung agenda nasional ketahanan pangan dan hilirisasi industri dalam sambutannya pada acara Kick Off NextGen Leader (NGL) Nasional 2025 yang digelar di Auditorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara gelaran Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) bekerjasama dengan Universitas Yarsi tersebut mengusung tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045” dan dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi termasuk dari luar Jakarta. Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi penguatan kepemimpinan generasi muda Muslim dalam mendukung agenda pembangunan nasional.

Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah memprioritaskan dua agenda besar dalam sektor pangan, yaitu penguatan ketahanan pangan nasional dan percepatan hilirisasi komoditas strategis.

“Ketahanan pangan tidak hanya soal mencukupi kebutuhan konsumsi. Ini tentang bagaimana kita memperkuat produksi lokal, distribusi, hingga akses yang merata di seluruh wilayah. Hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya kita sendiri,” ujar Zulkifli Hasan.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan sistem pertanian terpadu berbasis komunitas, peningkatan kapasitas petani milenial, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung ekosistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan. Upaya tersebut, menurut Zulkifli, memerlukan dukungan dari generasi muda yang inovatif dan berdaya saing.

“Kita butuh anak-anak muda seperti kalian yang bisa menjawab tantangan zaman. Harus terus belajar, berinovasi, dan jangan minder. Kalau gigih, kalian pasti bisa sampai ke puncak,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu Zulkifli Hasan membagikan kisah masa mudanya pada tahun 1984. Ia mengisahkan bagaimana dirinya memulai usaha dagang hingga merambah pasar internasional, termasuk ke Tiongkok dan Vietnam.

Ia menekankan bahwa latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk berkontribusi dalam birokrasi maupun kenegaraan, selama seseorang memiliki semangat belajar dan pantang menyerah.

“Saya hanya lulusan PGA, belajar umum dan agama. Tapi saya bisa masuk ke birokrasi dan dunia kenegaraan sampai hari ini karena saya terus belajar dan tidak menyerah,” tuturnya.

Menurutnya, pendidikan profetik yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kepemimpinan, dan teknologi sangat relevan untuk mendorong transformasi sosial menuju visi Indonesia Emas 2045.

Acara NGL Nasional 2025 ini juga diisi dengan peluncuran program leadership training mahasiswa berbasis nilai-nilai Islam progresif, serta rangkaian pelatihan dan pendampingan kepemudaan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan.

Acara NGL Nasional 2025 ini turut diisi oleh berbagai sesi seminar dan talkshow kebangsaan yang menghadirkan tokoh , pemimpin lembaga, dan pengusaha. Berikut daftar narasumber yang hadir:

Sesi Kick Off NGL 2025 (07.30–12.00 WIB)

  • Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. – Menteri Koordinator Bidang Pangan RI
  • Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A. – Ulama dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah
  • Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D. – Rektor Universitas YARSI, Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI 2010–2011
  • Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H. – Pakar Hukum Tata Negara, Ketua MK RI 2003–2008

Seminar Kebangsaan (13.00–15.30 WIB)

  • Putri Zulkifli Hasan – Wakil Ketua Komisi XII DPR RI
  • Rizki Ulfahadi, S.Ag. – Ketua Umum PP GMH
  • Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. – DPR RI 2004–2019, Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah
  • Teguh Anantawikrama – Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia

Talkshow Inspiratif (15.30–17.00 WIB)

  • Dr. (c). drh. Hj. Evalinda Amir, M.Sos. – Founder & Owner D’BestO Fried Chicken
  • Dr. Ir. Audy Joinaldy, M.Sc. – Wakil Gubernur Sumatera Barat 2021–2024
  • Grani Ayuningtyas Harmani – Analis Literasi dan Edukasi Keuangan OJK

Acara ini terbuka untuk umum secara gratis dan diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai wilayah. Peserta mendapatkan fasilitas berupa seminar kit, makan siang, sertifikat, serta kesempatan meraih doorprize jutaan rupiah.

Program Next Gen Leader 2025 diinisiasi oleh Gerakan Mahasiswa Hidayatullah bekerja sama dengan Universitas YARSI dan berbagai lembaga mitra seperti BMH, Koperasi Syariah Hidayatullah, Pesmadai, dan D’BestO.

Mengokohkan Eksistensi Hidayatullah di Era Kontemporer

0

SEBAGAI organisasi Islam, Hidayatullah dengan pengarusutamaan gerakan pada bidang pendidikan dan dakwah, telah menunjukkan eksistensinya secara progresif dalam dinamika pembangunan masyarakat Indonesia.

Di tengah gelombang perubahan sosial dan teknologi yang mengiringi era kontemporer, tantangan bagi organisasi Islam tidak lagi sekadar mempertahankan idealisme, melainkan bagaimana menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan transformasional yang menjawab kebutuhan zaman.

Dalam konteks ini, Hidayatullah tampil dengan manhaj nabawi sebagai salah satu jatidiri kader sebagai landasan gerakan, serta berperan aktif dalam membangun peradaban Islam melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial serta kegiatan-kegiatan lainnya.

Perkembangan Historis dan Identitas Gerakan

Didirikan pada tahun 1973 di Balikpapan oleh Ustadz Abdullah Said, Hidayatullah tumbuh dari gerakan dakwah lokal menjadi organisasi nasional yang menjangkau hampir seluruh pelosok Indonesia.

Hingga Juni 2025, menurut Samsuddin sebagai Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah, jumlah jaringan secara nasional ada 2.698 titik, belum termasuk pondok pesantren dan institusi pendidikan, BMH, BTH, retail dan klinik.

Hidayatullah mengusung semangat perubahan berbasis tauhid, tarbiyah, dan taklim. Manhaj Nabawi, yaitu metode perjuangan yang meneladani Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat madani, menjadi pemandu manhaji pergerakan Hidayatullah.

Dinamika Tantangan Era Kontemporer

Era kontemporer yang disebut dalam teori kepemimpinan Warren Bennis dan Burt Nanus, penulis buku Leaders: The Strategies for Taking Charge, sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), menuntut organisasi Islam bersikap responsif terhadap perubahan.

Digitalisasi, pluralisme budaya, serta gaya hidup modern yang cenderung individualis dan hedonis menjadi ujian bagi eksistensi Hidayatullah.

Di sisi internal, tuntutan terhadap profesionalisasi organisasi, rekrutmen anggota, efektivitas kaderisasi, dan transparansi pengelolaan menjadi prioritas yang tak terelakkan.

Sedangkan di sisi eksternal, Hidayatullah perlu hadir sebagai solusi di tengah kegelisahan spiritual masyarakat urban maupun pedesaan.

Strategi dan Inovasi Organisasi

Guna mengokohkan eksistensi yang berkelanjutan, Hidayatullah perlu mengadopsi pendekatan adaptif yang tetap berpijak pada nilai-nilai jatidirinya. Strateginya meliputi, Pertama, konsolidasi struktur organisasi dan penguatan identitas jamaah.

Konsolidasi struktur organisasi sangat penting karena menyangkut efektivitas pencapaian visi misi, memperkokoh kekuatan internal, dan ketahanan menghadapi tantangan zaman.

Jadi, konsolidasi tidak dimaksudkan menegasikan tokoh-tokoh lintas generasi. Konsolidasi struktur dimaksudkan memudahkan koordinasi dan pelaksanaan kegiatan, setiap bagian organisasi tahu peran dan tanggung jawabnya sehingga tidak ada tumpang tindih.

Kedua, digitalisasi tarbiyah dan dakwah melalui platform media sosial dan e-learning. Ketiga, pengembangan lembaga pendidikan berbasis kurikulum integratif antara ilmu umum dan ilmu syar’i.

Keempat, inisiatif pemberdayaan ekonomi umat seperti koperasi, fundraising mandiri, dan program kemanusiaan. Dan, Kelima, pengembangan Majelis Qur’an dan Rumah Qur’an Hidayatullah sebagai embrio kebangkitan masyarakat berbasis nilai-nilai Islam.

Eksistensi Hidayatullah di era kontemporer bukanlah sekadar mempertahankan eksistensi fisik kelembagaan, melainkan merumuskan secara tepat makna gerakan Islam yang relevan dengan zaman.

Dengan berpegang pada manhaj nabawi dan semangat transformasi, pergerakan Hidayatullah dengan mainstream tarbiyah dan dakwah memiliki potensi besar untuk menjadi arus utama dalam pembangunan peradaban Islam di Indonesia.

Itulah pentingnya Hidayatullah memperhatikan akar sejarah awal kebangkitannya yang bisa menjadi modal menjawab tantangan masa kini tanpa mengabaikan urgensinya inovasi yang berpijak pada iman, ilmu, dan amal yang pantang menyerah. Tiga elemen yang menjadi warna khas kader Hidayatullah dalam berkontribusi membangun bangsa.

*) Nursyamsa Hadis, penulis Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah. Tulisan ini diolah penulis dari berbagai sumber.

Pramuka Hidayatullah Siap Gelar ISCH III, Kwarda Kaltim Beri Masukan Strategis

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Kalimantan Timur menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Perkemahan Pramuka Islam Nasional ke-3 Hidayatullah (Islamic Scout Camp of Hidayatullah / ISCH III) yang akan digelar pada 21–24 Agustus 2025 mendatang.

Dukungan ini disampaikan secara langsung oleh Ketua Kwarda Kalimantan Timur, Kak H. Fachruddin Djaprie, dalam pertemuan resmi bersama Panitia Pelaksana ISCH III di Kantor Kwarda, Samarinda, pada Senin siang, 3 Shafar 1447 (28/7/2025).

“Secara umum kami menyambut baik ISCH III,” ujarnya di hadapan jajaran pengurus Kwarda dan tamu dari Sako Pramuka Hidayatullah, dikutip dari laman ummulqurahidayatullah.id.

Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Kwarda Kalimantan Timur, Kak Prof. Dr. Ir. H. M. Aswin, M.M., menegaskan pentingnya dukungan terhadap kegiatan kepramukaan yang berbasis nilai-nilai spiritual. “Jambore Islamic (ISCH) yang ketiga ini, sangat bagus sekali dan kita dukung,” tegasnya.

Pada audiensi tersebut, Ketua Panitia ISCH III, Kak Abdul Malik Najamuddin, memaparkan beberapa konsep utama kegiatan. Di antaranya adalah penguatan spiritualitas dan pendekatan ramah lingkungan dalam pelaksanaan kegiatan perkemahan.

“Kami juga ingin menekankan pentingnya ketahanan pangan berbasis pesantren sebagai bagian dari program kemandirian,” kata Kak Malik.

Konsep tersebut diapresiasi oleh Ketua Kwarda. “Mudah-mudahan Hidayatullah menjadi salah satu lumbung yang men-support Kaltim,” kata Kak Fachruddin. Ia juga menyampaikan harapan atas kesuksesan pelaksanaan kegiatan nasional ini.

Turut hadir dalam pertemuan itu, antara lain Anggota Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas) Sako Pramuka Hidayatullah, Supriadi, serta pengurus panitia ISCH III lainnya, seperti Sukman (Sekretaris), Hamimal Mustofa Rizki (Bendahara), Imam Muhammad (Ketua Humas), dan Muhammad Abdus Syakur (Ketua Media Center).

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh semangat kebersamaan. Sejumlah pengurus Kwarda Kaltim turut memberikan arahan dan masukan teknis maupun strategis demi mendukung pelaksanaan ISCH III.

Selain membahas agenda Jambore, audiensi juga menjadi ajang penguatan sinergi antara Pramuka dan lembaga pendidikan berbasis keislaman.

MUI dan ARIBP Gelar Aksi “Bersatu Padu Selamatkan Gaza” pada 3 Agustus di Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) akan menggelar aksi akbar bertajuk “Bersatu Padu Selamatkan Gaza” mulai pukul 06.00 WIB di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025).

Aksi ini dirancang sebagai bentuk solidaritas atas tragedi kemanusiaan yang terus menimpa warga sipil di Gaza, Palestina.

Diperkirakan ratusan ribu warga dari berbagai latar belakang masyarakat Indonesia akan hadir dalam aksi tersebut. Agenda utama mencakup orasi kemanusiaan, doa bersama lintas elemen, pembacaan pernyataan sikap, serta penggalangan dana yang akan difokuskan untuk bantuan pangan dan medis ke Gaza.

Sebagai bagian dari rangkaian persiapan, konsolidasi akbar telah dilakukan sebelumnya oleh jaringan ormas lintas usia dan sektor. Konsolidasi tersebut berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Jakarta Timur, pada Rabu, 30 Juli 2025, dan dihadiri oleh berbagai elemen aktivis, organisasi kepemudaan, serta kemahasiswaan yang turut mendukung agenda solidaritas ini.

Panitia mengimbau seluruh peserta untuk menjaga ketertiban, membawa atribut dukungan Palestina, serta menjadikan aksi ini sebagai bentuk unjuk kekuatan moral dan kepedulian Indonesia terhadap penjajahan dan genosida yang berlangsung di abad modern.

Aksi ini merupakan respons terhadap kondisi darurat di Gaza yang saat ini tengah mengalami pembantaian bersenjata dan blokade total. Situasi tersebut telah menyebabkan kelaparan massal dan jatuhnya korban jiwa secara tragis, termasuk di antaranya anak-anak dan perempuan.

Menurut keterangan yang dihimpun dari panitia, tokoh-tokoh publik yang dijadwalkan hadir meliputi para ulama, da’i nasional, aktivis kemanusiaan, perwakilan ormas, hingga sejumlah artis.

Mereka akan menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan kepada publik dalam rangka membangun kesadaran kolektif terhadap penderitaan yang dialami rakyat Palestina.

Kegiatan ini terbuka untuk seluruh kalangan masyarakat dan bertujuan membangkitkan kepedulian publik nasional.

Penyelenggara juga berharap agar aksi ini dapat memberikan tekanan moral kepada pemangku kebijakan di tingkat nasional dan internasional untuk segera menghentikan kekerasan serta mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan.

KHUTBAH JUM’AT Penerapan Nilai Shalat dalam Kehidupan Sehari hari

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengatur kehidupan, yang dengan kasih sayang-Nya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udaranya, berdiri tegak di rumah-Nya, dan merasakan nikmat iman serta Islam.

Betapa agung karunia-Nya, betapa sempurna hikmah-Nya, hingga setiap detik kehidupan ini pun menjadi bukti bahwa kita tidak pernah luput dari pengawasan dan rahmat-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, manusia pilihan, cahaya petunjuk bagi umat manusia yang terbenam dalam kegelapan.

Beliaulah yang mengajarkan kita arti ketundukan yang tulus, kekuatan dalam shalat, serta keteguhan dalam amal. Di tengah kesibukan dunia yang melelahkan dan arus kehidupan yang kian deras, keteladanan beliau adalah kompas penunjuk arah menuju ridha Ilahi.

Jamaah Jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Shalat, sebagai rukun Islam kedua, bukan sekadar ritual penggugur kewajiban. Lebih dari itu, ia adalah fondasi utama bagi pembentukan karakter Muslim yang komprehensif.

Dalam bingkai Ahlussunah Wal Jama’ah, implementasi nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebuah keniscayaan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Koneksi antara shalat dan etos kerja seorang mukmin dapat dilihat dari nilai muraqabah yang ditanamkan.

Shalat yang dikerjakan dengan penuh kesadaran menumbuhkan perasaan senantiasa diawasi oleh Allah SWT, Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Perasaan inilah yang menjadi kontrol konstruktif dalam setiap langkah kehidupan seorang mukmin, termasuk dalam etos kerjanya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Dengan mental muraqabah yang terinternalisasi dari shalat, seorang mukmin sejati akan termotivasi untuk selalu memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya.

Ia bertindak dengan disiplin tinggi layaknya shalat yang terikat waktu, menghargai waktu karena setiap detik adalah amanah, serta senantiasa memperhitungkan efektivitas dan efisiensi dalam setiap tindakan.

Segala bentuk kemubaziran dihindari karena dianggap sebagai bagian dari langkah syaitan yang merugikan, sebagaimana shalat mengajarkan kesederhanaan dan keberkahan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Yang Pertama, shalat adalah pondasi utama amalan dan basis nilai kehidupan. Perintah shalat ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk menegakkan shalat, melainkan juga menjelaskan dampak transformatifnya.

Para ulama menjelaskan bahwa menegakkan shalat bukan sekadar menjalankan gerakan dan bacaan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Lebih dari itu, menegakkan shalat menuntut kehadiran hati, penghayatan, dan tadabbur (perenungan) terhadap setiap bacaannya. Puncaknya, seluruh nilai-nilai dari bacaan shalat tersebut harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Urgensi shalat diperkuat dengan statusnya sebagai ibadah paling utama bagi setiap mukmin, bukan sekadar rutinitas.

Shalat menuntut fokus dan kesungguhan karena kelak di Hari Kiamat, shalat akan menjadi amalan pertama yang dihisab di hadapan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ”

(Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya.) (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah r.a.)

Hadits ini menegaskan, jika shalat seorang hamba diterima, seluruh amalannya akan diterima; sebaliknya, jika shalatnya tertolak, maka seluruh amalannya pun akan ditolak.

Dari sini, jelas bahwa seluruh aktivitas dan perbuatan manusia di dunia ini sangat bergantung pada kualitas shalatnya. Ini berarti, nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan shalat harus menjadi basis nilai yang mewarnai setiap aspek kehidupan seorang mukmin.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Yang Kedua, shalat sebagai bingkai produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan.

Ketika gambaran aktivitas seorang mukmin terbingkai oleh keimanan dan keyakinan kepada Allah, ia pasti akan menjadi pribadi yang produktif dan senantiasa melakukan kerja-kerja konstruktif di berbagai bidang yang ia geluti.

Mari kita ambil contoh konkret di beberapa ranah kehidupan. Dalam dunia pendidikan, misalnya.

Ketika seorang mukmin yang berprofesi sebagai pendidik menegakkan shalat dan kemudian terjun dalam dunia pendidikan, ia tidak hanya menjalankan kewajiban ritual, melainkan menerjemahkan seluruh nilai shalat ke dalam setiap helaan napas proses pengajarannya.

Ini adalah wujud integrasi iman dalam profesi, sebuah manifestasi nyata dari ketakwaan. Bagi pendidik Muslim, bacaan “Allahu Akbar!” saat takbiratul ihram adalah fondasi yang menancap kuat di hati.

Prinsip ini berarti dalam mengajar, fokus utama adalah membesarkan Allah SWT, bukan diri sendiri atau hal duniawi.

Dengan demikian, pendidik akan membimbing murid-murid untuk meyakini bahwa hanya Allah yang Maha Besar, Maha Kuasa, dan satu-satunya yang patut disembah, bukan sekadar hafalan, melainkan penanaman akidah yang kokoh.

Implikasi dari “mengingat Allah lebih besar” harus termanifestasi dalam setiap aktivitas di kelas. Membesarkan Allah menjadi tujuan utama dari setiap materi, metode, dan interaksi.

Ilmu pengetahuan, seni, dan keterampilan diajarkan sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah, mensyukuri nikmat-Nya, dan beribadah kepada-Nya.

Hasilnya adalah lahirnya generasi yang tidak hanya ahli dan kompeten, tetapi juga memiliki karakter mulia sebagai pribadi yang takut kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan menyembah-Nya semata. Mereka adalah insan-insan yang ilmu dan akhlaknya selaras, menjadikan setiap pencapaian sebagai pengabdian kepada Sang Pencipta.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Dalam di dunia ekonomi dan bisnis juga begitu. Di dunia ekonomi dan bisnis, seorang mukmin, baik sebagai ahli ekonomi maupun pengusaha, yang mengaplikasikan prinsip shalat akan senantiasa menunjukkan kerendahan hati dan jauh dari kesombongan, bahkan ketika mencapai puncak kesuksesan dan bergelimang harta.

Keyakinan teguh bahwa kebesaran sejati hanya milik Allah mencegahnya dari ujub (kagum pada diri sendiri) atau merasa diri paling hebat.

Sikap sombong ini bertolak belakang dengan esensi shalat, yang mengajarkan kerendahan hati dan kepasrahan total di hadapan Allah.

Setiap gerakan shalat, terutama sujud, menekankan ketidakberdayaan kita di hadapan Sang Pencipta, mengajarkan bahwa semua pencapaian adalah anugerah-Nya. Dengan demikian, kesuksesan justru akan membuatnya semakin bersyukur dan tawadhu’ (rendah hati).

Begitu pula dalam dunia politik dan kepemimpinan. Bagi politisi atau pemimpin, kesadaran sebagai hamba Allah yang menginternalisasi nilai shalat membentuk prinsip hidup yang mengagungkan kebesaran-Nya. Dengan begitu, jabatan setinggi apa pun tidak akan menjadikannya sombong.

Shalat, melalui takbiratul ihram “Allahu Akbar”, meniadakan segala kesombongan. Ini mengingatkan pemimpin bahwa hanya Allah yang patut diagungkan, menumbuhkan tawadhu’ (kerendahan hati) mendalam.

Dengan begitu, kepemimpinan bukan lagi tentang kebanggaan diri dan aksi aksi tak terpuji seperti korupsi, melainkan amanah besar yang diemban penuh tanggung jawab, semata demi mencari rida Allah. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Nilai yang Ketiga, adalah menginternalisasi seluruh nilai shalat. Ini baru satu nilai shalat: takbiratul ihram, sebuah pengagungan yang mengikis kesombongan dan menancapkan kebesaran Allah.

Bayangkan, bagaimana jika seluruh nilai bacaan shalat, dari takbir pembuka hingga salam penutup, khususnya Ummul Kitab (Al-Fatihah), berhasil diinternalisasikan dan diimplementasikan secara menyeluruh dalam hidup kita?

Niscaya, setiap aspek kehidupan Muslim akan sempurna terwarnai nilai-nilai Islam. Cara kita bekerja, berinteraksi, memimpin, dan mengelola keuangan, semuanya akan memancarkan cahaya shalat. Hasilnya, seorang mukmin akan bersinar dengan akhlak Qur’ani yang termanifestasi nyata di setiap ranah kehidupan.

Melalui internalisasi shalat yang utuh ini, kehidupan mulia akan terwujud kembali di masyarakat, persis seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW di Madinah, sebuah komunitas Muslim yang berjamaah dan berkepemimpinan. Inilah visi hidup yang dibangun di atas fondasi ibadah sejati.

Seorang mukmin yang teguh berpegang pada prinsip Ahlussunah Wal Jama’ah akan senantiasa meraih keselarasan dan keseimbangan sempurna antara kehidupan dunia dan akhirat.

Hal ini terwujud karena ia mampu menginternalisasi dan menerapkan seluruh kandungan nilai dalam shalat ke setiap aspek kehidupannya.

Pada akhirnya, dengan konsistensi ini, Islam kaaffah akan terwujud dengan sempurna dalam diri dan lingkungannya. Wallahu A’lam bis shawab.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Kelaparan Rakyat Gaza Kian Mengerikan, WHO dan WFP Peringatkan Ambang Kehancuran Gizi

Nur Abu Sel’a, seorang anak berusia 10 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Deir al-Balah, Gaza tengah, meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan formula nutrisi medis. Krisis kemanusiaan yang parah di Gaza disebabkan oleh blokade penjajah ‘Israel’ terhadap Gaza dan penutupan pelintasan, 27 Juli 2025. [Ashraf Amra – Anadolu Agency]

BAITUL MAQDIS (Hidayatullah.or.id) — Enam warga Gaza, termasuk dua anak, dilaporkan kembali meninggal akibat kelaparan, menurut Kementerian Kesehatan Palestina seperti dilansir Anadolu Agency. Dengan penambahan ini, jumlah korban gugur akibat kelaparan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai 133 jiwa, termasuk 87 anak-anak.

“Angka-angka ini mencerminkan dampak bencana dari blokade ‘Israel’ yang terus berlanjut, ditambah blokade pengiriman makanan dan bantuan ke Gaza,” kata pernyataan resmi Kementerian Kesehatan.

Salah satu korban adalah Zainab Abu Haleeb, bayi lima bulan yang wafat akibat kekurangan gizi di Rumah Sakit Nasser. “Tiga bulan di rumah sakit, dan inilah takdir untuk saya, dia sudah meninggal,” kata ibunya, Israa Abu Haleeb, dalam kondisi pilu.

World Food Programme (WFP) mencatat bahwa satu dari tiga warga Gaza telah berhari-hari tidak makan, dengan hampir 500.000 orang berada dalam kondisi bencana kelaparan.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa lebih dari 20 persen perempuan hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi.

Falestine Ahmed, seorang ibu asal Gaza, menyatakan kepada Al Jazeera, “Dulu berat badan saya 57 kg, sekarang berat badan saya 42 kg, dan baik putra saya maupun saya telah didiagnosis kekurangan gizi parah.”

Kelaparan ini diperparah oleh blokade 18 tahun yang diberlakukan oleh ‘Israel’, yang diperketat sejak 2 Maret 2025 dengan menutup seluruh pelintasan bantuan.

Sejak 7 Oktober 2023, serangan ‘Israel’ menyebabkan lebih dari 59.700 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, kehilangan nyawa.

Hidayatullah terus menyerukan bantuan untuk Gaza, Baitul Maqdis, Palestina. Apapun yang kita mampu, bantu Gaza. Kirimkan doa, suarakan kebenaran, salurkan bantuan, dan terus peduli.

Pemuda Hidayatullah Gagas Aksi “Geber Masjid” untuk Rawat Fungsi Sosial Masjid

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Bengkulu menggelar aksi sosial bertajuk Geber Masjid (Gerak Besamo Bersih Masjid) yang dipusatkan di Masjid Al-Hikmah, RT 31, Kelurahan Sawah Lebar, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, pada Selasa, 4 Shafar 1447 (29/7/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolektif dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat.

Ketua Pemuda Hidayatullah Bengkulu, Ahlun Nazir, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut lahir dari semangat kolaborasi antara pemuda, masyarakat, dan lembaga sosial.

“Kegiatan ini perlu terus dilanjutkan, karena kebersihan sebagian dari iman, dan masyarakat antusias dengan perhatian langsung pada masjid mereka,” kata Ahlun dalam keterangannya, Rabu.

Program Geber Masjid tidak hanya menyasar kebersihan fisik bangunan masjid, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga ruang ibadah dan publik secara berkelanjutan.

“Program ini secara langsung ingin menghadirkan kesadaran bahwa kebersihan, memakmurkan masjid, dan lingkungan adalah hal mendasar yang perlu dirawat bersama secara berkelanjutan,” tambah Ahlun Nazir.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) turut mendukung program ini.

Kepala BMH Perwakilan Bengkulu, Hendrianto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut akan menyasar sejumlah titik masjid yang selama ini menjadi bagian dari pembinaan rutin.

“Alhamdulillah hari ini kami bersama Pemuda Hidayatullah dan jamaah masjid menggelar aksi bersih-bersih masjid di Bengkulu. Insha Allah, kami targetkan 10 masjid yang menjadi titik pembinaan selama ini,” ujarnya.

Selain membersihkan area dalam dan luar masjid, para relawan juga memperbaiki fasilitas tempat wudhu dan halaman masjid untuk meningkatkan kenyamanan jamaah.