Beranda blog Halaman 72

Musyawarah, Mujahadah, dan Munajat Jadi Fondasi Kepemimpinan Muslimat Hidayatullah

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah, mujahadah, dan munajat menjadi tiga kata kunci yang mengemuka dalam Musyawarah Wilayah ke-III Muslimat Hidayatullah (Mushida) Banten. Konsep yang disingkat sebagai “3M” tersebut disampaikan sebagai penegasan arah kepemimpinan dan kerja organisasi ke depan, sekaligus menjadi refleksi atas tanggung jawab kolektif muslimah dalam mengelola amanah dakwah dan keluarga.

Penekanan tersebut mengemuka dalam forum musyawarah yang berlangsung selama dua hari dan dihadiri unsur pengurus wilayah serta peserta undangan.

Musyawarah Wilayah ke-III Mushida Banten diselenggarakan di Salsabila Tahfidz Boarding School, Serang, Banten, pada 28–29 Rajab 1447 H atau bertepatan dengan 17–18 Januari 2026, dengan mengangkat tema “Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas”. Forum ini menjadi wadah evaluasi sekaligus penetapan arah kebijakan organisasi muslimah di tingkat wilayah.

Sebagai forum tertinggi di tingkat wilayah, Musyawarah Wilayah memiliki posisi strategis dalam siklus organisasi. Agenda utamanya meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban Pengurus Wilayah kepada Pengurus Pusat, pemilihan serta penetapan kepengurusan baru, dan perumusan sejumlah keputusan organisasi yang akan menjadi acuan kerja lima tahun mendatang. Musyawarah Wilayah diselenggarakan secara periodik setiap lima tahun sebagai bagian dari mekanisme organisasi yang berjenjang.

Dalam forum tersebut, ditetapkan Dra. Muthmainnah, M.Pd., sebagai Ketua Majelis Murabbiyah Wilayah Mushida Banten untuk periode 2025–2030. Selain itu, Mar’atuss Sa’adah ditetapkan sebagai Ketua Pengurus Wilayah Mushida Banten pada periode yang sama. Penetapan ini menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan yang berlangsung melalui mekanisme musyawarah.

Ketua Pengurus Wilayah Mushida Banten terpilih, Mar’atus Sa’adah, dalam sambutannya menekankan pentingnya menghidupkan semangat 3M dalam kepengurusan. Menurutnya, musyawarah merupakan syariat Islam yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berfungsi memperkuat sistem organisasi melalui kebijakan yang terarah, terstandar, dan terintegrasi. Ia menyampaikan harapan agar prinsip ini terus dijaga dan dikembangkan dalam kerja-kerja organisasi ke depan.

Ia juga menyoroti mujahadah sebagai unsur kedua dalam 3M. Mujahadah dimaknai dia sebagai kesungguhan dalam menjalankan peran, khususnya peran muslimah yang seringkali tampak sederhana, namun memiliki dampak luas dalam pembentukan individu dan keluarga. Kesungguhan tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam membangun peradaban Islam dari lingkup paling dasar.

Adapun munajat ditempatkan sebagai unsur penutup dalam rangkaian ikhtiar. Setelah upaya dan kerja dilakukan secara maksimal, hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Pendekatan ini dipandang sebagai bentuk kesadaran spiritual dalam mengemban amanah organisasi. Ia menyampaikan keyakinan bahwa pertolongan akan datang ketika prinsip-prinsip tersebut dijalankan secara konsisten.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Banten, Ust. Dr. Ahmad Sudjaib, menyampaikan taushiyah yang menyoroti dinamika antara idealisme dan realitas dalam pelaksanaan program. Ia menyebut bahwa pragmatisme kerap muncul sebagai respons atas berbagai hambatan yang dihadapi organisasi.

Menurutnya, agar idealisme dan realitas tidak saling berbenturan, diperlukan kemampuan menurunkan ekspektasi dan mengelola ego. Ia juga mengingatkan agar muslimah tidak mudah terbawa perasaan dalam menjalankan amanah, karena hal tersebut dapat memengaruhi keikhlasan.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan memiliki dimensi amar ma’ruf nahi munkar dan merupakan bagian dari tugas kenabian. Oleh karena itu, kepemimpinan tidak diposisikan sebagai jabatan yang dikejar atau dibanggakan.

Ust. Dr. Ahmad Sudjaib lantas mengutip Surah Al-Hajj ayat 41 yang menegaskan karakter kepemimpinan yang berorientasi pada ibadah, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral, dengan kesadaran bahwa seluruh urusan akan kembali kepada Allah.

Hidayatullah Tegaskan Dakwah yang Hidup dan Keberlanjutan Pembinaan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Perkaderan Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pada Sabtu, 28 Rajab 1447 (17/1/2025). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh jajaran pengelola perkaderan dari berbagai wilayah.

Rakornas digelar sebagai tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, sekaligus menjadi forum penguatan arah dan konsolidasi program perkaderan di tingkat nasional.

Rakornas dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan, Ust. H. Dr. Abdul Ghofar Hadi. Dalam pengantarnya, ia menegaskan pentingnya kesiapan struktural dan konseptual seluruh jajaran perkaderan wilayah dalam mengemban amanah organisasi. Menurutnya, perkaderan menempati posisi strategis karena menyangkut keberlanjutan dakwah dan pembinaan umat secara sistematis.

Ghofar menjelaskan bahwa Rakornas bertujuan memperjelas desain dan teknis pelaksanaan program perkaderan yang telah disusun oleh DPP. Dengan kejelasan tersebut, para kepala departemen perkaderan di tingkat wilayah diharapkan dapat mengimplementasikan program secara lebih terarah, terukur, dan selaras dengan kebijakan nasional organisasi.

“Kita ingin menegaskan kepada seluruh kepala departemen perkaderan wilayah agar mudah dalam menerapkan program yang telah disiapkan oleh DPP,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Ghofar menekankan bahwa perkaderan tidak dapat dipahami sebatas agenda administratif atau teknis organisasi belaka. Lebih dari itu, perkaderan menurutnya merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, serta orientasi jangka panjang. Karena itu, seluruh prosesnya perlu dilandasi kesadaran dakwah dan tanggung jawab keumatan.

Tiga Tugas Pokok Perkaderan

Lebih lanjut, Ghofar menguraikan tiga tugas pokok perkaderan yang harus dipahami dan dijalankan oleh seluruh wilayah, yakni rekrutmen, pembinaan anggota, dan kaderisasi.

Ketiga aspek tersebut dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan gerakan. Rekrutmen diarahkan untuk menjangkau individu-individu yang memiliki keinginan untuk berubah dan bertumbuh ke arah yang lebih baik. Pembinaan berfungsi menguatkan pemahaman, sikap, dan praktik keislaman anggota, sementara kaderisasi memastikan keberlanjutan kepemimpinan dan visi perjuangan organisasi.

Dalam konteks dakwah nasional, Ghofar menyoroti masih luasnya medan pengabdian umat Islam di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa masih banyak masyarakat Muslim yang belum memiliki kemampuan dasar membaca Al-Qur’an.

Ia menyebutkan angka sekitar 150 juta Muslim di Indonesia yang memerlukan pendampingan agar dapat merasakan ajaran Islam secara lebih dekat dan substantif. “Mereka perlu kita ajak agar dapat merasakan nikmat Islam secara langsung,” katanya.

Dalam keterangannya, ia juga menukil temuan Kementerian Agama Republik Indonesia yang merilis hasil Asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2025.

Berdasarkan asesmen tersebut, sebanyak 58,26 persen guru Pendidikan Agama Islam tingkat SD di Indonesia dinyatakan belum fasih membaca Al-Qur’an dan masih berada pada kategori dasar. Data ini diperoleh dari asesmen terhadap 160.143 guru PAI SD dan SDLB di seluruh Indonesia melalui aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama (SIAGA) Kementerian Agama.

Menurut Ghofar, temuan tersebut menunjukkan tantangan pembinaan umat yang masih besar. Jika pada level pendidik agama masih ditemukan keterbatasan dalam kemampuan membaca Al-Qur’an, maka kondisi masyarakat secara umum memerlukan perhatian yang lebih serius.

Oleh karena itu, Ghofar menegaskan pentingnya memperkuat kerja-kerja pembinaan umat dengan pendekatan yang mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman hidup.

Lebih lanjut, Ghofar menekankan bahwa mengajak dan membimbing masyarakat merupakan tugas mulia yang melekat pada kerja perkaderan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada pemenuhan struktur organisasi semata, melainkan harus melahirkan semangat dakwah yang hidup.

Ia menjelaskan, perkaderan sebagai pekerjaan strategis untuk menghadirkan Islam secara nyata, sehingga masyarakat dapat merasakan keindahan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. “Kita punya tugas mengajak orang lain, agar mereka juga bisa merasakan keindahan nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Dia berharap Rakornas Bidang Perkaderan Nasional ini menjadi peneguh komitmen bersama seluruh jajaran untuk menjalankan amanah perkaderan secara konsisten. Melalui forum ini, diharapkan terbangun kesiapan kolektif dalam menggerakkan program pembinaan yang berakar pada nilai keislaman dan selaras dengan semangat keindonesiaan, sehingga dakwah dapat terus tumbuh dan memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Relawan Kemanusiaan Tembus Air Tinggi Demi Sepiring Harapan bagi Warga Mintobasuki

0

PATI (Hidayatullah.or.id) — Perjuangan tim kemanusiaan menembus Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi gambaran nyata beratnya kondisi banjir yang masih melanda kawasan tersebut. Debit air yang belum surut membuat akses darat tidak memungkinkan untuk dilalui. Dalam situasi itu, relawan terpaksa menggunakan perahu guna menjangkau rumah-rumah warga. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang menahan lapar di tengah bencana yang sedang berlangsung.

Upaya tersebut dilakukan oleh relawan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah bersama SAR Hidayatullah dalam kegiatan penyaluran bantuan makan siang gratis bagi warga terdampak banjir, Jumat, 27 Rajab 1447 (16/01/26). Dengan perahu bermesin, relawan menyusuri genangan air yang mencapai ketinggian dada orang dewasa. Deru mesin perahu terdengar di antara rumah-rumah yang sebagian besar masih dikepung air.

Aksi kemanusiaan ini merupakan bagian dari respon BMH terhadap bencana banjir yang melanda wilayah Pantai Utara Jawa. Dokumentasi singkat yang beredar memperlihatkan situasi lapangan saat bantuan diserahkan langsung kepada warga. Ekspresi syukur dan senyum penerima bantuan terekam jelas ketika makanan diterima di depan rumah masing-masing.

Koordinator Unit Layanan Zakat Kabupaten Kudus, Eko Kusniyanto, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan dilakukan secara serentak di beberapa lokasi terdampak. Menurutnya, tim bergerak sejak pagi dengan membagi wilayah kerja agar distribusi dapat menjangkau lebih banyak warga.

“Alhamdulillah, hari ini kami menyalurkan 1.000 bungkus makan siang gratis,” ujar Eko saat ditemui di lokasi kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa sebelum menuju Kabupaten Pati, tim terlebih dahulu menyisir wilayah terdampak banjir di Kabupaten Kudus. Desa Temulus dan Desa Bulung Kulon di Kecamatan Mejobo menjadi titik awal distribusi, sebelum relawan bergerak ke wilayah lain yang juga mengalami genangan cukup parah.

Sementara itu, kondisi di Kabupaten Pati disebut lebih menantang. Koordinator ULZ Pati, Mochammad Bahri, menjelaskan bahwa Desa Mintobasuki merupakan salah satu wilayah dengan akses paling sulit akibat tingginya permukaan air. Penggunaan perahu menjadi satu-satunya pilihan agar bantuan tetap dapat disalurkan langsung ke warga.

Bahri menegaskan bahwa prioritas utama tim adalah memastikan kebutuhan makan warga tetap terpenuhi. Setiap rumah yang dapat dijangkau didatangi satu per satu, dengan mempertimbangkan keselamatan relawan dan efektivitas distribusi.

Kehadiran relawan disambut haru oleh warga. Salah satunya Khoirul Umam, warga Desa Mintobasuki, yang mengaku tersentuh melihat para relawan datang di tengah kondisi banjir. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diberikan.

“Terima kasih atas kepedulian BMH dan SAR Hidayatullah. Kami hanya bisa berdoa semoga BMH terus maju dan selalu peduli kepada kami,” ucap Khoirul.

Program penyaluran makanan ini menjadi bagian dari pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat. BMH menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan bantuan langsung bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau.

Eko Kusniyanto menambahkan bahwa bantuan sederhana seperti satu kotak nasi memiliki makna besar bagi warga yang tengah berada dalam situasi darurat. Menurutnya, dukungan publik menjadi elemen penting agar program kemanusiaan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih luas.

Menuju Tata Kelola Terpadu, Rakornas PTH 2026 Satukan Arah Perguruan Tinggi Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) memasuki fase konsolidasi nasional melalui pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional Pimpinan Perguruan Tinggi Hidayatullah (Rakornas PTH) Tahun 2026 yang digelar di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini resmi dibuka pada Kamis, 26 Rajab 1447 (15/1/2026) dan menjadi forum koordinasi nasional pertama yang secara khusus mempertemukan para pimpinan PTH dalam satu meja strategis.

Rakornas PTH 2026 diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Forum ini disebut sebagai ruang konsolidasi tata kelola, penguatan mutu akademik, pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta penyelarasan program kerja Dikti Litbang dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing kampus.

Ketua Departemen Dikti Litbang DPP Hidayatullah, Muhammad Saddam, M.Ak., menjelaskan bahwa Rakornas ini menjadi titik awal penting dalam membangun peta bersama pengembangan PTH secara nasional.

Dikti Litbang DPP Hidayatullah menerangkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan konsolidasi dan sinkronisasi kebijakan pendidikan tinggi di lingkungan Hidayatullah serta untuk memperkuat arah kebijakan mutu, standardisasi, dan akselerasi program kerja Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan.

Rakornas ini mengusung tema “Konsolidasi PTH dan Akselerasi Mutu: Laporan Kinerja, Standardisasi Sistem, dan Kolaborasi Global”. Tema tersebut mencerminkan fokus utama kegiatan, yakni penyusunan baseline capaian, tantangan, dan kebutuhan penguatan dari sembilan PTH yang berada di bawah naungan Hidayatullah.

Seluruh pimpinan kampus memaparkan laporan kinerja lima tahunan, mencakup data program studi, mahasiswa, dosen, akreditasi, sistem penjaminan mutu internal, implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education, serta capaian penelitian.

Dikti Litbang juga menekankan bahwa Rakornas PTH 2026 memiliki beberapa tujuan strategis. Di antaranya adalah memperoleh arahan langsung dari Ketua DPP Bidang Pendidikan, memvalidasi laporan kinerja PTH sebagai dasar perencanaan bersama, serta menyelaraskan program kerja Dikti Litbang Tahun 2026 dengan kebutuhan riil kampus. Forum ini juga diarahkan untuk merumuskan rekomendasi dan rencana aksi bersama yang akan menjadi pedoman implementasi selama tahun berjalan.

Agenda Rakornas

Agenda Rakornas berlangsung secara terstruktur. Hari pertama diisi dengan pembukaan resmi, arahan pimpinan pusat, serta presentasi laporan perkembangan seluruh PTH, mulai dari STAI Luqman Al Hakim Surabaya, STIS Hidayatullah Balikpapan, STIE Hidayatullah Depok, STT STIKMA Internasional, Institut Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIA), STIT Mumtaz Karimun, STIT Samarinda, STIQ Ash Shiddiq Medan, hingga STIT Al Bayan Makassar.

Pada sesi-sesi berikutnya, Ketua Departemen Dikti Litbang DPP Hidayatullah memimpin pembahasan program kerja Dikti Litbang, konsolidasi strategi penerimaan mahasiswa baru 2026, hibah penelitian, serta rekomendasi pedoman organisasi terkait pengelolaan pendidikan tinggi.

Forum Rakornas juga menjadi wadah penguatan jejaring internasional melalui kunjungan kerja ke Kedutaan Besar Turki dan Malaysia. Agenda ini bertujuan menjajaki peluang kolaborasi global di bidang akademik, riset, dan pengembangan kelembagaan. Hasil kunjungan tersebut direncanakan akan dirangkum dalam bentuk peluang kerja sama, penunjukan penanggung jawab tindak lanjut, serta rencana implementasi konkret.

Melalui Rakornas PTH 2026, DPP Hidayatullah menargetkan lahirnya beberapa output penting, antara lain laporan kinerja PTH 2020–2025, matriks rencana aksi PTH 2026 per kampus, mekanisme koordinasi dan monitoring nasional, serta Komunike Rakornas PTH 2026 yang memuat keputusan dan rekomendasi strategis.

Ketua Institut Agama Islam Hidayatullah (IAIH) Batam Muhammad Siddik, M.Pd., memandang penting forum ini dalam menguatkan tata kelola lembaga dalam menghadapi tantangan dunia akademik masa depan. “Semoga Rakornas ini menjadi wasilah kebaikan dalam rangka meningkatkan mutu perguruan tinggi Hidayatullah,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Rizky Kurnia Sah, S.HI., M.E., menyebut forum ini sangat bermanfaat dalam memantapkan arah jejaring perguruan tinggi Hidayatullah.

“Gagasan dan ide ide dari forum ini harus diimplementasikan dalam dalam program kerja yang akan dilakukan, apalagi ini juga bagian dari rekomendasi arah straregis Hidayatullah,” katanya.

Rizki pun mengapresiasi STIE Hidayatullah sebagai tuan rumah dengan perkembangan pesatnya kini yang mencerminkan mutu dari kampus yang maju dan unggul serta sedang bertransformasi menjadi Universitas Hidayatullah Internasional (UHI).

Forum Rakornas ini juga menjadi ajang sinergi antara beberapa Departemen DPP Hidayatullah dengan para PTH diantaranya sinergi Departemen SDI, Departemen Rekrutmen, Departemen Pembinaan Anggota, dan Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah dalam rangka sinkronisasi agenda pengkaderan dan pengelolaan SDI Hidayatullah yang lebih koordinatif, sistematis, dan terstruktur.

SAR Hidayatullah Paparkan Tujuh Program Strategis dalam Rakernas 2026

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Alfarobi Nurkarim Enta, memaparkan arah dan kerangka program kerja SAR Hidayatullah dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026. Paparan bertajuk Program SAR Hidayatullah Sinergi dengan Induk tersebut disampaikan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu, 19 Rajab 1447 (14 /1/2026).

Dalam pemaparannya, Alfarobi menegaskan bahwa SAR Hidayatullah merupakan unsur relawan kebencanaan di bawah naungan organisasi Hidayatullah yang berfokus pada penguatan kapasitas mitigasi, respon darurat, serta pemulihan pascabencana.

Selama ini, SAR Hidayatullah aktif terlibat dalam operasi kemanusiaan, evakuasi korban bencana, distribusi logistik, serta pendampingan psikososial di berbagai wilayah Indonesia yang terdampak bencana alam.

Alfarobi menjelaskan bahwa sinergi dengan struktur induk organisasi menjadi kunci penguatan peran SAR Hidayatullah ke depan. Ia memaparkan tujuh program strategis yang akan menjadi pilar kerja nasional.

Program pertama adalah SIGAB atau Sekolah Tanggap, Tangguh, dan Aman Bencana yang berfokus pada edukasi mitigasi bencana seperti banjir, kebakaran, gempa, dan tsunami. Kedua, RAI atau Rangrang Adventure Indonesia sebagai lembaga pelatihan motivasi berbasis kegiatan indoor dan outdoor. Ketiga, Medical First Responder Sarhid Team yang difokuskan pada pelatihan pertolongan pertama bagi relawan.

Program keempat adalah Training Center 40, yakni pembinaan mahasiswa baru dan mahasiswa sebelum penugasan di Perguruan Tinggi Hidayatullah. Kelima, SARHIP atau SAR Hidayatullah Putri sebagai wadah pelatihan kebencanaan bagi pelajar putri dan mahasiswi, dengan fokus trauma healing, posko lansia dan anak, serta dapur umum.

Keenam, SAR Goes to School melalui pengembangan SAR Kids dan SAKA SAR sebagai sarana pengenalan kebencanaan sejak dini. Ketujuh, pembentukan Search and Rescue Unit di setiap daerah melalui komunitas dan relawan lokal yang dibina secara berkala melalui Halaqah Hidayatullah Rescue.

“Kerja SAR tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan visi dakwah dan pengabdian sosial Hidayatullah agar manfaatnya dirasakan lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Alfarobi.

Pria yang biasa disapa Bang Alfa ini menambahkan bahwa penguatan kader, disiplin pelatihan, dan jejaring daerah menjadi fondasi utama membangun SAR Hidayatullah yang profesional sekaligus berkarakter serta menegaskan komitmen untuk terus bertransformasi sebagai kekuatan relawan kebencanaan yang tangguh, terlatih, dan siap bersinergi dalam menjawab tantangan kebencanaan nasional.

Dari Baca Tulis hingga Multimodal Literasi sebagai Nafas Kaderisasi

0

LITERASI memiliki banyak definisi. Akan tetapi unsur-unsur utamanya jelas, antara lain baca, tulis, media, dan penangkapan makna. Unsur-unsur tersebut berpadu dalam proses yang kompleks.

Dalam perkembangan mutakhir, literasi tidak hanya tertuju pada teks dan visual. Sejumlah media lain dianggap sebagai sasaran literasi. Misalkan video dan audio book. Sebuah istilah dikenalkan untuk mewakili media-media non-teks tersebut, yakni teks multimodal.

Para ahli memperluas cakupan teks dan aktivitas literasi dikarenakan divergensi media yang cepat. Penggunaan media-media tersebut untuk menyampaikan pesan juga meningkat. Dengan memasukkan berbagai media dalam cakupan teks, semoga pengkajian ilmiah atas aktivitas literasi semakin intensif. Hasilnya masyarakat dapat menggunakan berbagai media untuk bertukar pesan secara efektif.

Kesungguhan para ahli terkait literasi menunjukkan pentingnya literasi dalam kehidupan manusia. Semakin baik literasi suatu komunitas, hampir dapat dipastikan kualitas kehidupan mereka juga semakin baik. Sebaliknya, literasi yang buruk menjadi pertanda buruknya kualitas kehidupan.

Hampir semua kegiatan manusia menggunakan literasi. Salah satunya kegiatan kaderisasi yang dapat dimaknai sebagai “serangkaian upaya untuk mengantarkan seseorang atau sekumpulan orang agar siap mengemban tugas tertentu”.

Kaderisasi tidak dapat dipisahkan dari organisasi, formal ataupun nonformal. Karena dalam kaderisasi, minimal tiga unsur: Pengkader, kader, dan sistem.

Ketiga unsur tersebut perlu berliterasi. Pengkader berliterasi dengan menelaah berbagai bahan kaderisasi serta menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam berbagai bentuk media. Gagasan-gagasan tersebut mencakup sistem dan materi kaderisasi.

Sementara kader berliterasi dengan menelaah pesan-pesan yang dikirimkan lewat berbagai media. Pesan-pesan tersebut utamanya dari pengkader. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan antarkader saling menulis dan menelaah pesan.

Kader juga berliterasi saat merefleksikan hasil belajarnya. Sebelum media elektronik maju, refleksi belajar lebih banyak berbentuk fisik. Sementara saat ini semakin beragam, salah satunya lewat media sosial.

Oleh karena itu hendaklah setiap organisasi memiliki ikhtiar meningkatkan kualitas literasi kadernya. Semoga dengan peningkatan kualitas literasi kader, peningkatan kapasitas berpikir dan bertindak kader mengalami kemajuan. Organisasi terimbas, semakin laju dan progresif.

Aktivitas literasi kader, terutama organisasi Islam, dilegitimasi oleh Al-Qur’an. Bahkan serangkaian ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun memiliki kaitan jelas dengan literasi, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah, yang mengajari dengan pena, yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Terjemah Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)

Dapat dipahami dari serangkaian ayat tersebut bahwa baca dan tulis tidak dapat dipisahkan. Sifatnya saling menguatkan. Ujungnya adalah manusia mengetahui perkara-perkara yang tadinya tidak diketahuinya.

Dalam hal ini dua aktivitas pokok tersebut perlu menjadi sentral aktivitas literasi kader. Kader yang membaca saja tapi tidak menulis, bagaikan makan tapi tidak beraktivitas sehingga lemak menumpuk. Maknanya akal kader mungkin terisi dan terasah, namun bisa kemudian segera tumpul kembali.

Hal ini dikarenakan menulis bisa mengantarkan insan (termasuk kader) menstrukturisasi pemikirannya. Pikirannya relatif lebih rapi setelah menulis. Selain itu menulis mengantarkan insan untuk membuat koneksi antar konsep dan gagasan. Koneksi tersebut, jika terus dilakukan dan dikuatkan, membuka peluang besar lahirnya kreativitas serta inovasi.

Satu perkara penting dalam baca-tulis adalah bismirabbik, menyebut nama Tuhan. Maknanya baca-tulis diarahkan pada pembangunan keyakinan bertuhan, mengenal dan taat kepada Allah ta’ala. Karena keyakinan ini fondasi bagi kehidupan berkualitas manusia.

Perkara penting berikutnya adalah memperluas objek bacaan dengan tetap mempertahankan integrasi yang didasarkan pada keimanan. Sehingga hasil aktivitas literasi memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Pengkader diharapkan menjadi contoh terkait literasi yang luas dan integratif, lalu mengarahkan kader-kadernya untuk melakukan hal yang sama.

Wujud konkritnya adalah pengkader menugaskan kader-kader membaca aneka teks multimodal dengan satu tema. Setelah itu diskusi dilakukan. Pelurusan dapat dilakukan pengkader dalam diskusi, jika diperlukan.

Wujud konkrit lainnya kader mendapatkan tugas menelaah satu dalil dengan sejumlah perspektif, lalu menjelaskan hasil telaahnya di forum diskusi. Berbagai masukan didapatkannya. Kematangan berpikir komunal semoga terbentuk.

Wujud konkrit yang tidak kalah penting adalah bahasa internasional. Minimal kader menguasai bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab diperlukan untuk menelaah sumber-sumber keagamaan yang bersifat primer. Sedangkan bahasa Inggris penting untuk memperluas cakupan sosialisasi.

Sebagai penutup, satu orientasi utama dalam kader berliterasi adalah kekokohan sekaligus kemandirian berpikir. Kader memiliki struktur berpikir yang sistemik dan sistematis. Sehingga perihal makro dan mikro, serta korelasi keduanya dapat dijelaskan kader secara gamblang.

Dengan demikian harapan lahir pengkader baru semakin terbuka. Bahkan tidak mustahil ideolog baru tumbuh. Apalagi basisnya adalah iqro’ bismirabbik.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Kekuatan Kolaborasi Warnai Semarak Diklat Water Rescue SAR Hidayatullah di Raja Ampat

0

​RAJA AMPAT (Hidayatullah.or.id) – Debur ombak Pantai Saleo 2, Raja Ampat, Papua Barat, menjadi saksi bisu lahirnya para pejuang kemanusiaan baru di tanah Papua Barat. Setelah digembleng selama 5 hari penuh sejak 10 Januari lalu, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Water Rescue SAR Hidayatullah Papua Barat resmi berakhir pada Rabu, 25 Rajab 1447 (14/01/2026).

​Berbeda dengan upacara pada umumnya, prosesi penutupan dilakukan langsung di laut. Para peserta yang berasal dari berbagai elemen organisasi berdiri tegap meski dihantam riak gelombang, melambangkan kesiapan mereka menghadapi tantangan bencana di masa depan.

​Kadiv Diklat PP SAR Hidayatullah, Khusnul Aqibah, yang hadir langsung untuk menutup kegiatan, menyampaikan rasa bangganya atas daya juang para peserta.

Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keberhasilan seorang relawan tidak hanya diukur dari kekuatan fisik, tetapi dari kecepatan nurani dalam merespons musibah.

​Senada dengan itu, Rohman, perwakilan instruktur dari Pos Basarnas Raja Ampat, menitipkan pesan mendalam bagi para peserta.

​”Kalian adalah perpanjangan tangan kami di lapangan. Di laut yang luas ini, ketenangan dan teknik yang tepat adalah kunci keselamatan, baik bagi korban maupun bagi diri kalian sendiri,” ujar Rohman saat menyampaikan kesan dan pesannya.

​Keberhasilan diklat ini merupakan buah dari keberagaman. Hal ini terlihat saat penyerahan merchandise kepada perwakilan peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari Garda Bangsa, Pemuda Hidayatullah, hingga semangat muda dari Mahasiswa UNIMUDA dan IAIN Sorong.

Tak ketinggalan, dedikasi dari rekan-rekan RAPI Wilayah 01 Sorong, Tagana, serta komunitas unik Pecinta Kopi Hitam (PKH) turut mewarnai kolaborasi ini.

​Puncak haru terjadi saat pengumuman Peserta Teladan dan Peserta Terbaik. Penghargaan ini bukan sekadar gelar, melainkan simbol dedikasi tertinggi selama mengikuti materi yang menguras fisik dan mental di perairan Raja Ampat.

Sinergi untuk Negeri

Dibalik suksesnya acara yang melibatkan banyak personel ini, terdapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Fadhlurrahman Anshari, selaku Koordinator Penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pemanfaatan bantuan hibah yang tepat sasaran.

​”Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat. Tanpa dukungan hibah tersebut, peningkatan kapasitas relawan ini sulit terwujud seoptimal ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan masyarakat Papua Barat,” tegas Fadhlurrahman.

​Saat matahari mulai bergeser di ufuk Pantai Saleo, para peserta pulang membawa ilmu dan semangat baru.

Kini, Papua Barat memiliki tambahan barisan penyelamat yang siap sedia saat panggilan kemanusiaan memanggil dari tengah lautan.

Penutupan Rakernas 2026, Ketua Umum Hidayatullah Tekankan Kesabaran Mengelola Manusia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menyampaikan sambutan penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu malam, 19 Rajab 1447 (14/1/2026).

Dalam arahannya, Naspi menekankan pentingnya merawat nilai kebaikan, kesabaran, dan soliditas sebagai fondasi utama kepemimpinan dan pengabdian dalam organisasi dakwah.

Naspi melakukan refleksi tentang karakter dasar kader Hidayatullah. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa mereka yang bergabung dalam Hidayatullah pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang memiliki kecenderungan pada kebaikan atau setidaknya keinginan kuat untuk menjadi baik. Nilai inilah, menurutnya, yang harus terus dijaga dan dirawat sebagai ikhtiar jangka panjang.

“Orang yang masuk Hidayatullah itu pasti baik. Kalau bukan orang baik pasti tidak tahan lama,” katanya, setengah berkelakar.

Dari titik itu, Naspi mengajak seluruh peserta Rakernas memahami bahwa tugas kepemimpinan dalam organisasi dakwah tidaklah sederhana. Mengelola manusia, katanya, jauh lebih kompleks dibanding mengelola sistem atau program, karena berhadapan dengan latar belakang, watak, kebiasaan, dan budaya yang beragam. Tantangan ini, menurutnya, adalah bagian tak terpisahkan dari amanah kepemimpinan di semua level.

Ia menjelaskan bahwa para pemimpin struktural, baik di pusat maupun daerah, akan selalu berhadapan dengan dinamika tersebut. Karena itu, kualitas utama yang harus dibangun oleh seorang pemimpin adalah kesabaran dan kelapangan jiwa.

“Tugas berat pemimpin itu adalah karena mengurus orang. Oleh karena itu harus selalu membesarkan hati dan melapangkan jiwa,” katanya.

Naspi juga menyinggung keluhan yang kerap muncul dari sebagian pengurus daerah terkait sumber daya manusia yang dikirim dari perguruan tinggi Hidayatullah. Ia memahami bahwa ekspektasi sering kali tidak sepenuhnya terpenuhi. Namun, ia mengingatkan agar persoalan ini dihadapi dengan kedewasaan dan kesabaran.

Menurutnya, kader yang ditugaskan bukanlah alat atau mesin yang langsung mampu menyesuaikan diri dengan segala tuntutan. Mereka adalah manusia yang memerlukan proses adaptasi, pembinaan, dan pendampingan.

“Mereka yang dikirim ini bukan iron man, yang langsung bisa apapun yang diminta. Perlu proses dan ini butuh kesabaran, kebesaran jiwa, dan doa,” katanya.

Semangat Pengabdian kepada Agama

Lebih lanjut, Naspi mengingatkan agar hasil Rakernas tidak berhenti di tingkat pusat, tetapi benar-benar diturunkan dan diimplementasikan hingga ke wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Ia menekankan bahwa seluruh kerja organisasi harus dilandasi semangat pengabdian kepada agama dan bangsa.

Ia juga menekankan pentingnya kesederhanaan dan fokus dalam penyusunan program kerja. Menurutnya, program yang sedikit tetapi berjalan efektif jauh lebih bernilai daripada banyak program yang tidak terlaksana.

“Tiga program kerja saja cukup, yang penting jalan dan efektif. DPP memaklumi jika ada program kerja yang tidak berjalan maksimal, tapi ini jangan jadi legitimasi untuk tidak melakukan apa-apa,” imbuhnya.

Selain internal organisasi, Naspi menaruh perhatian besar pada pentingnya membangun jejaring eksternal. Ia mendorong para pengurus untuk memperkuat silaturrahim dengan berbagai elemen umat, tokoh masyarakat, dan pemangku kebijakan di daerah.

“Ketemu tokoh dan perbanyak jaringan. Harus punya koneksi dan konfidensi serta harus mampu membangun komunikasi yang selevel dengan pemimpin pemerintah daerah,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan komunikasi yang setara dan berwibawa menjadi syarat penting agar dakwah dan pengabdian Hidayatullah dapat diterima dan berdampak lebih luas di masyarakat.

Menutup pidato sambutannya, Naspi menegaskan kembali pentingnya menjaga kekompakan, soliditas, dan solidaritas di seluruh jajaran organisasi. Tanpa kerja sama yang tulus dan sinergis, kesepakatan yang telah dirumuskan dalam Rakernas tidak akan pernah terwujud.

“Apa yang telah kita sepakati tidak akan terwujud jika tidak ada kerjasama. Mari memaksimalkan potensi para kader yang ada di lingkup amanahnya masing-masing,” tandasnya.

Peran Penting Murabbi dan Seruan Menjaga Identitas di Tengah Kemajuan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd., menekankan bahwa visi peradaban tidak akan hidup tanpa ruh keberislaman yang menjadi napas gerakan. Menurutnya, kemajuan lahiriah yang dicapai organisasi harus selalu ditimbang dengan kekokohan identitas dan energi ruhani agar gerakan tidak kehilangan arah.

“Jangan sampai kemajuan lahiriyah yang ada membuat kehilangan identitas dan kehilangan energi,” kata Tasyrif Amin pada sesi Taujih Kelembagaan dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, selepas shalat subuh, Selasa, 19 Rajab 1447 (14/1/2026).

Ia menegaskan bahwa visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam menuntut kesiapan kader untuk memahami, mengilmui, dan mentransmisikan nilai-nilai inti gerakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Dalam konteks menjaga energi gerakan, Tasyrif Amin mengingatkan kembali tradisi dasar dalam Islam yang telah diwariskan Nabi Muhammad SAW, yakni halaqah. Ia menyebut halaqah sebagai instrumen pencerahan paling efektif dalam membentuk kepribadian, pemahaman, dan komitmen perjuangan.

“Halaqah harus menjadi lokomotif gerakan,” katanya.

Menurutnya, halaqah selain sebagai forum belajar rutin juga menjadi ruang pembentukan ruhiyah dan intelektual yang menjaga kesinambungan dakwah. Tanpa tradisi halaqah yang hidup, gerakan berisiko mengalami kekosongan makna meskipun tampak aktif secara struktural.

Lebih lanjut, Tasyrif Amin menyoroti posisi Hidayatullah sebagai gerakan yang membawa nilai-nilai Qur’ani. Ia menilai bahwa secara konseptual, nilai tersebut sangat layak dikenal luas oleh umat. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak pihak belum memahami secara utuh konsep Hidayatullah.

“Kenapa orang gamang dengan konsep Hidayatullah karena bisa jadi konsep ini tidak kita jurubicarai,” terangnya.

Oleh karena itu, Tasyrif mengingatkan agar kader dan pengurus tidak terjebak dalam aktivitas internal semata. Menurutnya, konsep yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan kehilangan daya pengaruhnya, betapapun kuat landasan ideologinya.

Tasyrif Amin mendorong agar kader Hidayatullah berani keluar dari zona internal dan tampil di ruang publik sebagai pembawa gagasan. Ia menekankan bahwa umat membutuhkan figur yang mampu menjelaskan arah dan menawarkan pencerahan.

“Umat ini mencari figur. Harus ada figur yang tampil di etalase umat melalui dakwah yang menerangi jalan umat,” katanya.

Dalam kerangka itu, ia menegaskan bahwa pengurus struktural, termasuk di tingkat DPD dan DPW, sejatinya memikul peran murabbi. Murabbi, menurutnya, bukan hanya pembina internal, tetapi figur publik yang merepresentasikan nilai dan konsep Hidayatullah.

“Murabbi adalah juru bicara peradaban. Tidak mungkin mengajak orang kalau tidak ada figur dan power yang muncul dengan spiritual, akhlak, dan kemampuan menjadi juru bicara peradaban,” katanya mengingatkan.

Tasyrif Amin kemudian menegaskan bahwa Islam sebagai ajaran universal yang diturunkan untuk seluruh alam. Karena itu, kader Hidayatullah dituntut menjadi transformator gagasan Islam, menerjemahkan nilai luhur Al-Qur’an agar dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

“Konsep ini untuk masyarakat secara universal. Kita harus hadir membawa Al Qur’an menjadi jalan pencerahan bagi umat manusia,” katanya.

Dalam penutup taujihnya, Tasyrif Amin menekankan pentingnya implementasi nilai Qur’ani secara menyeluruh. Ia menyebut bahwa konsep sistematika wahyu tidak boleh berhenti sebagai teori, tetapi harus termanifestasi dalam kehidupan nyata.

“Manifestasi Al Qur’an melalui konsep sistematika wahyu harus terejawantah secara pribadi, keluarga, komunitas, dan masyarakat,” katanya.

Dia menambahkan, para pemimpin Hidayatullah pada semua level struktural harus memahami konsep dan berjuang menegakkan konsep ini pada diri, keluarga, dan komunitas.

Dukungan Rumah hingga Air Bersih, Pemulihan Pascabencana Kampung Rel Berjalan Bertahap

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Depot air minum yang dikelola dengan melibatkan Pengurus Musholla menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana di Kampung Rel, Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.

Selama masa pemulihan, fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia air minum layak konsumsi, tetapi juga menjadi pusat distribusi galon air bersih bagi warga terdampak melalui armada khusus yang dioperasikan secara terkoordinasi.

Inisiatif tersebut berjalan beriringan dengan penyerahan 18 unit rumah hasil rehabilitasi yang dilaksanakan oleh Laznas Baitulmaal Hidayatullah (BMH).

Rumah-rumah tersebut diserahkan kepada 18 kepala keluarga dalam sebuah rangkaian kegiatan tasyakuran dan doa bersama yang berlangsung pada Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2026). Acara ini dihadiri ratusan warga Kampung Rel serta sejumlah perwakilan BMH dan tokoh masyarakat.

Program rehabilitasi hunian ini merupakan bagian dari skema Recycle House digulirkan BMH yang dirancang untuk mempercepat pemulihan tempat tinggal warga pascabencana.

BMH menargetkan penyelesaian rehabilitasi 100 unit rumah sebelum memasuki bulan Ramadhan. Namun, rumah yang telah rampung secara teknis diserahkan lebih awal agar dapat segera ditempati kembali oleh warga yang selama ini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Direktur Program dan Pendayagunaan BMH, Syamsuddin, menyampaikan bahwa percepatan penyerahan rumah merupakan bagian dari strategi pemulihan berbasis kebutuhan riil warga.

“Kami berharap warga yang selama ini tinggal di pengungsian bisa segera kembali ke rumah masing-masing dan menjalani aktivitas secara lebih layak,” ujarnya dalam sambutan kegiatan tersebut.

Selain hunian, kebutuhan dasar lainnya juga menjadi perhatian utama. Dalam kesempatan yang sama, BMH menyerahkan satu unit mesin filterisasi air bersih yang difungsikan sebagai depot air minum bagi warga.

Pengelolaan depot ini dipercayakan kepada Pengurus Musholla setempat, yang sejak fase pemulihan awal telah aktif membantu warga dengan mendistribusikan galon air bersih menggunakan armada khusus ke rumah-rumah dan titik-titik hunian sementara.

Pelibatan pengurus Musholla dinilai penting karena mereka memiliki kedekatan sosial dengan warga dan memahami kondisi lapangan secara langsung. Skema ini memungkinkan distribusi air minum dilakukan secara lebih tertib dan merata, terutama bagi keluarga lansia dan warga dengan keterbatasan mobilitas.

Rangkaian kegiatan pemulihan juga dilengkapi dengan Lapak Bahagia, yakni layanan distribusi kebutuhan prioritas warga berupa paket sembako dan pakaian layak pakai. Bantuan ini disalurkan untuk mendukung keberlangsungan hidup warga yang masih dalam tahap penyesuaian pascabencana.

Syamsuddin menjelaskan bahwa pendekatan pemulihan yang dijalankan BMH tidak berdiri sendiri. “Alhamdulillah, program-program ini berjalan secara paralel dan kolaboratif dengan berbagai pihak, dengan tujuan mendorong transformasi sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat pascabencana,” katanya.

Apresiasi terhadap program tersebut disampaikan oleh Jamal, tokoh masyarakat Kampung Rel yang juga menjabat sebagai imam Musholla. Ia menyatakan bahwa sejak masa tanggap darurat hingga fase pemulihan, kehadiran BMH dirasakan konsisten. “Atas nama pribadi dan masyarakat Kampung Rel, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan,” ujarnya.

Menurut Jamal, program yang dijalankan dirancang dengan melibatkan partisipasi warga sehingga selaras dengan kebutuhan lapangan. “Kami melihat langsung bahwa setiap program direncanakan dengan baik, melibatkan masyarakat, dan terasa tepat sasaran,” tambahnya.

Suasana haru turut mewarnai kegiatan ketika salah satu penerima manfaat, pasangan lansia yang dikenal sebagai Kakek Nasib dan istrinya, menerima simbolis kunci rumah hasil rehabilitasi. Keduanya tampak tidak kuasa menahan air mata saat rumah yang telah lama ditinggalkan akhirnya dapat ditempati kembali.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa kembali ke rumah sendiri dan tidak harus tinggal di tenda pengungsian lagi. Terima kasih kepada BMH dan semua orang baik yang telah membantu. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih besar,” ucap Kakek Nasib.

Kegiatan ini menandai satu fase penting dalam proses pemulihan Kampung Rel, di mana penyediaan hunian, akses air bersih, dan pemenuhan kebutuhan dasar dijalankan secara terpadu untuk mendukung keberlanjutan kehidupan warga terdampak.