YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) kembali menggelar Silaturrahim Akbar Nasional Jamaah Ngaos (Ngaji Online Subuh) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPV), Jl. Kaliurang KM 12,5 Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu, 8 Jumadil Akhir 1447 (29/11/2025).
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Muhammad Syakir Syafi’i, yang memberikan apresiasi terhadap upaya PosDai dalam menggerakkan pembelajaran Islam secara konsisten di kalangan masyarakat, terutama melalui media daring yang menjangkau lintas usia dan wilayah.
Ketua PosDai Yogyakarta, Ustadz Mansur Abu Gaza, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Silaturrahim Akbar ini merupakan kegiatan kedua yang diselenggarakan secara nasional.
Mansur menyebutkan, kegiatan kali ini diikuti oleh 430 jamaah dari berbagai daerah. Program Ngaos sudah berjalan selama lima tahun dan berharap dapat terus menghadirkan maslahat serta memberikan kontribusi yang luas bagi kemajuan dakwah Islamiyah di tanah air, khususnya di Yogyakarta.
Program Ngaos (Ngaji Online Subuh) yang dirintis oleh PosDai sejak lima tahun lalu kini telah berkembang menjadi gerakan literasi Al-Qur’an yang adaptif terhadap teknologi. Program ini mempertemukan jamaah dari berbagai kalangan untuk belajar dan memperdalam pemahaman Al-Qur’an secara daring, dengan semangat kebersamaan dan pembinaan ruhiyah yang berkelanjutan.
Silaturrahim Akbar Nasional kali ini menghadirkan beberapa narasumber utama, di antaranya Ustadz Muhammad Nur Islam, Ustadz Makruf, dan Ustadz Muhammad Haris. Acara dimulai sejak dini hari dengan rangkaian kegiatan antara lain tahajjud berjamaah, taushiyah pagi, senam kebersamaan, dan diakhiri dengan puncak acara yang menampilkan capaian hasil belajar para kafilah.
Puncak acara menjadi sorotan tersendiri karena memperlihatkan hasil pembelajaran dari para peserta Ngaos yang menampilkan bacaan tahsin dan tahfizh Al-Qur’an. Menariknya, sebagian besar peserta merupakan jamaah berusia lanjut, di atas 60 tahun, yang tetap menunjukkan semangat tinggi dalam menuntut ilmu dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, para peserta juga berbagi pengalaman tentang perjalanan mereka mengikuti program Ngaos secara daring. Banyak di antara mereka yang mengaku bahwa program ini menjadi wadah penting untuk menjaga kedisiplinan beribadah, memperkuat ikatan sosial antarjamaah, serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di tengah kesibukan dunia.
Dengan terselenggaranya Silaturrahim Akbar Nasional ini, PosDai berharap gerakan Ngaos terus berkembang menjadi model pembelajaran Al-Qur’an berbasis komunitas yang inklusif, inspiratif, dan berorientasi pada pemberdayaan umat. Selain memperkuat ukhuwah Islamiyah, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperluas jejaring dakwah yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat di seluruh Indonesia.
SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Pergantian kepemimpinan dalam sebuah organisasi merupakan momentum strategis untuk memperkuat arah gerak dan efektivitas program. Hal ini pula yang mewarnai dinamika Hidayatullah Maluku Utara setelah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menetapkan struktur kepemimpinan baru untuk periode 2025–2030. Dalam kerangka penguatan tata organisasi, komitmen kolaboratif dari jajaran pengurus menjadi landasan penting bagi konsolidasi program di seluruh wilayah.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang baru ditetapkan, Ust. Drs. Nasri Bukhari, M.Pd.I, menegaskan kesiapan untuk bekerja bersama seluruh elemen organisasi. Ia menyatakan siap berkolaborasi dengan seluruh struktur organisasi untuk memastikan program kerja dapat berjalan efektif.
Penetapan Ust. Nasri Bukhari sebagai Ketua DPW serta H. Riyadi Poniman, SHI sebagai Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dilakukan secara resmi melalui Muswil yang digelar di Ternate pada Senin, 10 Jumadil Akhir 1447 (1/12/2025).
Pada kesempatan itu, pimpinan musyawarah membacakan Surat Keputusan DPP Hidayatullah sebelum keduanya dikukuhkan secara langsung oleh perwakilan DPP. Pengukuhan ini sekaligus menjadi penanda dimulainya masa kepemimpinan baru untuk lima tahun mendatang.
Acara Muswil berlangsung dengan melibatkan jajaran Dewan Murabbi, pengurus wilayah, serta delegasi dari seluruh daerah di Maluku Utara. Suasana musyawarah berjalan tertib dan penuh ukhuwah, menggambarkan kedewasaan organisasi dalam mengelola dinamika internal. Rangkaian sidang berjalan dinamis dan tetap menjunjung prinsip musyawarah sebagai landasan pengambilan keputusan organisasi.
Sebagai Ketua DMW, H. Riyadi Poniman, SHI menyampaikan arah kebijakan pembinaan kader sebagai salah satu fokus utama kepemimpinannya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat manhaj tarbiyah sebagai basis pembentukan karakter dan kompetensi kader.
Riyadi juga menyampaikan perlunya peningkatan kualitas pembinaan secara menyeluruh agar seluruh struktur wilayah memiliki ketangguhan yang sama dalam mengelola dakwah dan kegiatan organisasi.
Sementara itu, Ust. Nasri Bukhari sebagai Ketua DPW memaparkan tiga fokus strategis kepengurusan ke depan, yaitu pengembangan lembaga pendidikan, peningkatan kapasitas dai, dan penguatan program ekonomi umat. Pengembangan lembaga pendidikan diposisikan sebagai pilar utama dalam mencetak generasi yang memiliki komitmen keislaman dan keindonesiaan.
Adapun peningkatan kapasitas dai diarahkan untuk memperluas jangkauan dakwah di wilayah kepulauan Maluku Utara yang memiliki karakter geografis beragam. Selain itu, program ekonomi umat diorientasikan untuk memperkuat kemandirian masyarakat dan organisasi melalui aktivitas produktif yang terarah.
Sementara itu Ketua DPP Hidayatullah Ust Drs Wahyu Rahman, MM., yang mendampingi Muswil Malut ini menekankan bahwa kolaborasi menjadi penting dalam konteks implementasi program kerja.
Dengan struktur wilayah yang luas, kata Wahyu, efektivitas koordinasi antarlembaga sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan program yang telah digariskan. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat konsolidasi internal dan memastikan keberlanjutan program dakwah, sosial, serta pendidikan di tingkat daerah.
Ia juga menyampaikan harapan semoga penetapan kepemimpinan baru ini semakin meneguhkan ikhtiar perluasan jangkauan dakwah di Maluku Utara.
“Dengan perpaduan antara penguatan pembinaan kader oleh DMW dan fokus program strategis oleh DPW, gerakan berkhidmat untuk umat ini diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.
Wahyu menambahkan, wilayah Maluku Utara yang memiliki tantangan geografis dan sosial tersendiri sehingga membutuhkan pendekatan dakwah serta pembinaan yang konsisten dan terkoordinasi.
“Sekaligus menjadi titik awal periode kepengurusan berjalan ini untuk memperkuat konsolidasi organisasi dan meningkatkan kontribusi dalam pembangunan khususnya di bidang sumber daya insani di wilayah kepulauan ini,” tandasnya.
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Upaya penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada kecepatan respons, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan kepedulian di tengah warga yang terdampak, demikian yang diupayakan Tim Siaga Kebencanaan Hidayatullah di Kampung Baru, Kota Medan.
Kehadiran para relawan dari SAR Hidayatullah, TASK Hidayatullah, dan Baitulmaal Hidayatullah (BMH) bukan hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga dukungan moral bagi warga yang sedang berjuang bangkit akibat banjir besar di bantaran Sungai Deli.
Salah satu tim relawan yang juga Kepala Perwakilan BMH Sumut, Muhammad Nuh, mengaku terharu melihat ketabahan dan sambutan masyarakat yang tetap ramah meski berada dalam situasi sulit.
Menurutnya, bantuan yang disalurkan diharapkan dapat sedikit meringankan beban para penyintas yang masih berupaya memulihkan kehidupan mereka pascabanjir.
Ia menambahkan harapan agar pemerintah setempat memberikan perhatian lebih terhadap renovasi rumah warga yang mengalami kerusakan paling parah agar dapat kembali ditempati secara layak.
Aksi penyaluran bantuan yang dilakukan pada Sabtu (29/11/2025), tersebut dimulai dengan perjalanan menuju Kampung Baru, salah satu titik paling terdampak banjir di kawasan bantaran Sungai Deli. Tim relawan menghadapi kendala sejak memasuki kawasan permukiman.
Akses lorong menuju lokasi sempat terhambat karena dipenuhi becak warga yang diparkir di tepi jalan sebagai bentuk penyelamatan alat mata pencaharian dari rendaman air. Meskipun demikian, relawan tetap melanjutkan perjalanan dan menyesuaikan metode distribusi bantuan.
Karena mobilisasi kendaraan menjadi terbatas, bantuan berupa nasi bungkus dan air mineral dialihkan menggunakan sepeda motor warga. Sebagian bantuan lainnya dipanggul langsung oleh relawan yang berjalan kaki menuju titik distribusi. Adaptasi ini memastikan bahwa bantuan tetap dapat menjangkau warga tanpa mengurangi kualitas layanan kemanusiaan yang diberikan.
Setibanya di lokasi, tim disambut oleh Ibu Puput, Pengurus Rumah Qur’an setempat. Sambutan hangat dari warga yang tengah diliputi aktivitas pembersihan lumpur dan penataan ulang perabotan rumah menandai tingginya tingkat penerimaan masyarakat terhadap bantuan. Senyum warga tetap tampak meskipun mereka sedang berada dalam situasi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih.
Distribusi bantuan dilakukan melalui dua mekanisme. Sebagian warga datang ke sekitar Rumah Qur’an Uwo Puput untuk mengambil bantuan, sementara sebagian lainnya menerima bantuan melalui skema door-to-door, di mana relawan mengantarkan langsung ke rumah warga. Cara ini dinilai lebih efektif mengingat kondisi permukiman yang masih menyisakan lumpur dan genangan di beberapa titik.
Dalam kesempatan itu, Bu Puput menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan. Ia menuturkan bahwa selama beberapa hari terakhir, banyak warga tidak dapat bekerja akibat kondisi banjir dan kerusakan rumah yang ditimbulkan.
Selain itu, Bu Puput turut mengungkapkan pengalaman dramatis saat banjir menerjang. Ia menggambarkan bagaimana air naik begitu cepat hingga mencapai atap rumah. Arus deras menyebabkan Tim SAR kesulitan mendekat menggunakan perahu karet.
Dalam kondisi terdesak, ia dan keluarganya merakit batang kayu dan pohon pisang yang hanyut sebagai alat pelampung darurat. Dengan bergantung pada kabel telepon yang melintang di atas aliran banjir, mereka akhirnya berhasil menyelamatkan diri bersama beberapa tetangga.
YOGYAKATA (Hidayatullah.or.id) — Suasana haru menyelimuti kediaman ulama yang juga Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta, KH Muhammad Jazir ASP, ketika Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., datang menjenguknya pada Ahad, 09 Jumadil Akhir 1447 (30/11/2025).
Kunjungan itu dilakukan bersama sejumlah pengurus Hidayatullah dari Yogyakarta, sekaligus menjadi kali pertama Naspi menginjakkan kaki di rumah tokoh masjid Jogokariyan tersebut.
Setibanya di kediaman Kiai Jazir, Naspi mendapati suasana penuh ketenangan. Meskipun kondisi kesehatan ulama tersebut belum sepenuhnya stabil, setiap kali mata beliau terbuka, nasihat-nasihat lembut dan kata-kata bijak tetap mengalir, seolah memperlihatkan bahwa cahaya dakwah tak pernah padam dari dirinya.
Dalam suasana yang penuh ketulusan itu, Naspi mengungkapkan bahwa pertemuannya dengan Kiai Jazir merupakan pengalaman pertama secara langsung. Ia tidak menutupi bahwa secara personal, dirinya belum pernah berinteraksi sebelumnya. Namun, nama besar Kiai Jazir telah lama hidup dalam rekam jejak para pecinta masjid dan pegiat Al-Qur’an.
“Bahkan saat menjenguk beliau di rumah asrinya di Jogokaryan, itulah pertemuan pertama kami secara langsung. Namun nama besarnya tidak luput dari benak kami. Yah, siapapun yang mengaku cinta masjid, pegiat al Qur’an, pasti mengenal beliau,” kata Naspi.
Ia melanjutkan bahwa keberangkatan dirinya dari Jakarta menuju Yogyakarta adalah panggilan hati. Jarak 600 kilometer ditempuhnya dengan semangat, terinspirasi oleh kecintaan Kiai Jazir kepada masjid dan Al-Qur’an—nilai yang juga menjadi teladan para pemimpin Hidayatullah.
“Sosok pecinta masjid dan al Qur’an yang membuat saya melalap jarak 600 kilo meter dengan semangat. Teringat akhlak Rais ‘Aam Hidayatullah yang sangat mencintai dua hal ini,” katanya.
Kunjungan tersebut tidak hanya membawa rasa hormat, tetapi juga doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Naspi menyampaikan bahwa kiprah Kiai Jazir dalam memakmurkan masjid dan menghidupkan dakwah Al-Qur’an sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Semangat beliau telah menjadi inspirasi bagi ribuan takmir masjid dari seluruh penjuru negeri.
“Doa kesembuhan mengalir lirih buat Kiai Jasir. Kita masih butuh semangat beliau dalam memakmurkan masjid dan mencerahkan Indonesia dengan al Qur’an. Kecintaan dan semangat yang menjadi pemantik nama Masjid Jogokaryan menjulang dan mendorong ribuan takmir masjid belajar darinya,” harapnya.
Di penghujung kunjungannya, Naspi memanjatkan doa khusus agar Allah SWT memberikan kesembuhan, kekuatan, dan perlindungan kepada Kiai Jazir. Bagi Naspi, warisan kecintaan terhadap masjid dan Al-Qur’an harus terus dijaga melalui generasi penerus.
“Semoga Allah segerakan kesembuhan beliau, menjaga kesehatannya dan mewariskan kepada kita semangat dan kecintaan terhadap masjid serta al Qur’an seperti beliau. Allahumma Amin yaa Rabbal ‘Alamin,” imbuhnya mendoakan.
Kunjungan ini menegaskan kembali pentingnya peran ulama dalam membangun spiritualitas umat serta wujud penghormatan terhadap seorang sosok yang telah menanamkan tonggak penting bagi gerakan memakmurkan masjid dan memperindah kehidupan masyarakat dengan cahaya Al-Qur’an.
PADANG (Hidayatullah.or.id) — Respon cepat terhadap bencana menjadi salah satu indikator penting kesiapsiagaan lembaga kemanusiaan dalam melindungi kelompok rentan. Pada momentum inilah distribusi bantuan berupaya memastikan perlindungan sosial menjangkau warga yang mengalami hambatan fisik maupun akses.
Prinsip tersebut menjadi dasar pelaksanaan penyaluran bantuan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sumatera Barat, khususnya saat ini menghadapi bencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di provinsi tersebut.
Kepala BMH Sumatera Barat, Prawira Dijaya, menegaskan bahwa distribusi bantuan dilakukan dengan memprioritaskan para penyintas yang rentan, termasuk para lanjut usia yang kesulitan mengakses lokasi distribusi umum.
“Ini adalah bentuk kepedulian BMH untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang diuji. Semoga bantuan ini dapat menjadi penguat bagi mereka di tengah kondisi sulit,” ujarnya dalam keterangannya, Sabtu, 8 Jumadil Akhir 1447 (29/11/2025).
Merespons musibah banjir longsor yang menjangkau tiga provinsi yang terdampak Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, BMH Perwakilan Sumbar segera mengerahkan tim untuk menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan pokok kepada warga terdampak.
Bencana banjir dan longsor di sejumlah titik permukiman telah memaksa warga mengungsi ataupun bertahan di rumah dengan kondisi terbatas. Dalam situasi tersebut, BMH mengupayakan distribusi yang bersifat jemput bola agar penerima manfaat tidak terbebani oleh hambatan geografis maupun kondisi kesehatan.
Pelaksanaan distribusi dilakukan oleh tim BMH yang berkolaborasi dengan Search & Rescue (SAR) Hidayatullah. Tim gabungan bergerak menyambangi rumah-rumah warga, termasuk wilayah yang sulit dijangkau, serta posko pengungsian yang menjadi tempat berlindung sementara bagi sebagian penyintas.
Paket bantuan yang diberikan meliputi berbagai kebutuhan mendesak seperti selimut, popok bayi, obat-obatan, peralatan mandi, pakaian layak pakai, serta kebutuhan konsumsi lainnya. Pemenuhan kategori barang ini disesuaikan dengan kondisi umum penyintas pascabencana, di mana kebutuhan dasar seperti perlindungan dari hawa dingin, sanitasi, obat ringan, dan konsumsi menjadi sangat penting pada masa-masa awal pasca-evakuasi.
Selain distribusi barang kebutuhan pokok, BMH melalui jejaring relawannya juga melakukan pemantauan langsung di lapangan termasuk di Sumut dan Aceh. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan perkembangan kondisi warga serta mengidentifikasi kebutuhan lanjutan yang berpotensi muncul seiring durasi masa tanggap darurat.
Dalam pelaksanaan aksi kemanusiaan ini, BMH juga membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan mengajak para dermawan untuk mendukung keberlanjutan bantuan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Program kesehatan terpadu bertajuk Health Journey Edisi Jawa resmi dimulai Islamic Medical Service (IMS) bersama Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) di RW 07 Cipinang Besar Utara (CBU), Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu, 8 Jumadil Akhir 1447 (29/11/2025).
Pelaksanaan perdana ini berlangsung sejak pagi hingga siang hari dan mencatat pelayanan kepada 110 warga, meliputi 100 pasien pengobatan umum serta 10 peserta layanan hapus tato gratis. Kegiatan ini menjadi titik awal rangkaian agenda kesehatan yang akan berlanjut ke beberapa kota besar di Pulau Jawa hingga 10 Desember 2025.
Dalam konteks wilayah perkotaan padat seperti CBU, program layanan dasar kesehatan memiliki fungsi strategis. Banyak warga, terutama lansia, menghadapi hambatan akses karena faktor ekonomi, jarak, dan pengetahuan kesehatan yang terbatas.
Baksos kesehatan yang digelar IMS dan MTT ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pemeriksaan dasar seperti cek gula darah, asam urat, kolesterol, konsultasi dokter, dan pemberian obat. Layanan hapus tato yang disediakan turut menambah jangkauan manfaat program, terutama bagi warga yang ingin memulai fase hidup baru.
Ketua RW 07 CBU, Tuhu Priyatomo, menyampaikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan kegiatan di wilayahnya. “Tentunya dengan adanya baksos kesehatan ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Cipinang Besar Utara, masyarakat yang mayoritas lansia dengan segala bentuk keluhannya bisa melakukan berobat gratis pada kali ini,” ujarnya. Ia menambahkan rasa terima kasih kepada IMS dan MTT dengan harapan kegiatan serupa dapat berlanjut pada kesempatan berikutnya.
Dari sisi penerima manfaat, warga menunjukkan antusiasme tinggi. Agung, salah satu peserta layanan, menyampaikan pengalamannya. “Alhamdulillah, saya merasa sangat terbantu. Saya bisa periksa kolesterol dan konsultasi keluhan saya tanpa harus mikir biaya. Pelayanan dokter dan timnya sangat ramah, dan kami juga dapat susu serta sereal,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Direktur IMS, Utar Rahmat Wijaya, menekankan makna strategis kolaborasi lintas lembaga. Ia menyatakan bahwa kesehatan adalah investasi sosial yang mendukung produktivitas masyarakat.
“IMS meyakini bahwa kesehatan adalah investasi kebaikan dan kunci produktivitas umat. Melalui program Health Journey ini, kami tidak hanya ingin memberikan pengobatan kuratif, tetapi juga promotif dan preventif,” jelasnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada MTT sebagai sponsor utama kegiatan.
Program Health Journey Edisi Jawa merupakan model pelayanan kesehatan bergerak yang dirancang untuk menjangkau komunitas urban di beberapa daerah. Setelah Jakarta Timur, program akan melanjutkan perjalanannya ke Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Setiap kunjungan disiapkan untuk memberikan layanan kesehatan dasar serta edukasi perlindungan diri bagi masyarakat.
Seluruh peserta kegiatan juga menerima nutrisi tambahan berupa susu dan sereal untuk mendukung pemulihan pasca pelayanan. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan komprehensif yang tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga memperhatikan pemenuhan gizi dasar warga. Program perdana di Jakarta Timur sekaligus menjadi model pelaksanaan bagi kota-kota berikutnya sehingga manfaat yang diberikan dapat diperluas secara bertahap.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengisi taushiyah dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Hotel Grand Dafam Jakarta, Jum’at, 7 Jumadil Akhir 1447 (28/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan urgensi syura sebagai fondasi kepemimpinan beradab dan sistem pengokoh gerakan dakwah.
Rais ‘Aam menyampaikan bahwa syura dalam Islam bukanlah sekadar mekanisme teknis pengambilan keputusan, melainkan sistem yang memiliki nilai ibadah.
“Syura adalah satu sistem yang sangat agung dalam agama Islam. Ia merupakan turunan dari munajat, karena tidak ada satu pun solusi kehidupan kecuali berasal dari Allah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa syura berfungsi sebagai pertahanan dan benteng muroqobah, menjaga kesadaran kolektif agar setiap keputusan dilandasi ketakwaan dan ketundukan. Menguatkan pesan tersebut, beliau mengutip firman Allah surah Ali Imran ayat 160: “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu”.
Rais ‘Aam juga menekankan adab penting dalam syura untuk mendengar dan menghargai setiap masukan. “Jangan menyepelekan syura. Dengarkan dan terima masukan meskipun ia datang dari orang yang mungkin berada di bawah kita,” ujarnya.
KH Abdurrahman melanjutkan, semakin banyak orang berkumpul dalam syura, semakin banyak pula kebaikan yang Allah hadirkan melalui mereka. Jika satu orang datang dengan satu kebaikan, maka ratusan peserta syura membawa beragam kebaikan, hikmah, dan potensi solusi.
Dalam tausyiah yang berlangsung penuh kekhidmatan itu, dia menegaskan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim adalah pengabdian. Karena itu, tegasnya, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi organisatoris, tetapi amanah uluhiyyah dan rabbaniyyah, yakni sebagai beban keilmuan, keikhlasan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Kepemimpinan itu amanah yang bersumber dari Allah. Bukan ambisi, bukan pencapaian personal, tetapi penugasan Ilahi untuk mengelola kebaikan,” ucapnya.
Menutup tausyiahnya, Rais Aam Hidayatullah memberikan pesan agar para peserta tidak melupakan amalan-amalan yang menjadi penguat ruhiyah. “Jangan lupa tilawah Al-Qur’an dan berinfak,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa seluruh kebaikan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupan berada dalam cakupan ilmu Allah yang Maha Meliputi.
KH Abdurrahman menyampaikan harapan besar bahwa Munas Mushida ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang kuat ruhiyahnya, matang syuronya, dan kokoh komitmennya terhadap dakwah.
“Para pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat, menjaga persatuan umat, serta membawa Mushida ke level kontribusi yang lebih luas bagi bangsa dan peradaban Islam,” harapnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan duka mendalam atas bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh. Musibah berupa banjir bandang, longsor, serta gempa bumi di Aceh menyebabkan kerusakan luas dan gangguan aktivitas masyarakat. Berdasarkan laporan sementara, 116 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara **42 orang lainnya masih dalam proses pencarian di Sumatra Utara .
Sebagai bentuk komitmen dalam dakwah dan pelayanan umat, Hidayatullah melalui Departemen Sosial DPP Hidayatullah langsung mengerahkan Tim Siaga Kebencanaan, yang terdiri atas SAR Hidayatullah, TASK Hidayatullah, dan Baitulmaal Hidayatullah (BMH). Seluruh tim diterjunkan ke daerah terdampak untuk menjalankan respon awal secara cepat dan terkoordinasi.
Adapun langkah tanggap darurat yang dilakukan meliputi evakuasi warga di titik rawan, pengiriman relawan serta logistik darurat berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan perlengkapan dasar. Selain itu, posko bantuan dibuka di sejumlah titik strategis, dan tim melakukan pendataan kebutuhan mendesak untuk tahap penanganan awal hingga pemulihan.
Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa kondisi ini merupakan ujian bagi bangsa sekaligus panggilan untuk bersatu membantu sesama. Ia menyerukan solidaritas publik agar penanganan bencana dapat berjalan lebih cepat.
“Kami mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya kaum Muslimin, untuk memperbanyak doa, meningkatkan empati, dan ikut membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Hidayatullah sebagai civil society akan terus berupaya dengan elemen yang lain untuk terlibat responsif dalam tanggap darurat agar masyarakat terdampak bisa segera mendapatkan bantuan,” ujarnya .
Hidayatullah juga membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk menyalurkan donasi kemanusiaan berupa dana, logistik, maupun tenaga relawan melalui SAR Hidayatullah dan BMH. Organisasi ini menegaskan bahwa sinergi pemerintah, ormas, lembaga sosial, dan masyarakat sangat diperlukan agar penanganan bencana berlangsung cepat dan berkesinambungan .
DPP Hidayatullah menutup pernyataannya dengan doa agar Allah memberikan kekuatan kepada para korban dan memudahkan para relawan yang bertugas di lapangan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) resmi dibuka di Gedung DPR RI, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025) dengan kehadiran pengurus dari 37 provinsi dan ratusan pengurus daerah (PD) yang telah tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Mushida, Ustadzah Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan berbagai refleksi strategis mengenai posisi, peran, dan arah gerakan perempuan dalam organisasi.
Hani memulai sambutannya dengan menyampaikan perkembangan struktur organisasi Mushida yang kini telah hadir di 277 Pengurus Daerah.
Ia menegaskan bahwa kehadiran jaringan yang luas ini memperlihatkan komitmen kuat Muslimat Hidayatullah dalam mengokohkan peran keluarga dan mendukung gerakan induk Hidayatullah.
Hani menyampaikan bahwa identitas Mushida bukanlah organisasi otonom. Ia menekankan bahwa Muslimat Hidayatullah berperan sebagai penopang gerakan dakwah melalui kontribusi perempuan dalam ketahanan keluarga, pendidikan anak, dan pembinaan masyarakat.
“Kami hadir untuk mendampingi para bapak-bapak. Kami adalah organisasi pendukung, bukan organisasi otonom. Kami selalu mendapatkan pengarahan dan pengawalan yang sangat ketat karena kita adalah ummun wa rabbatul bait, ibu dan ratu rumah tangga,” terangnya.
Istilah Arab “ummun wa rabbatul bait” menjadi penegas tesis utama Hani bahwa perempuan memiliki peran fundamental dalam rumah tangga, bukan sebagai subordinat, tetapi sebagai pusat pendidikan moral dan keseimbangan emosional keluarga.
Dia menegaskan peran domestik perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan keluarga sebagai fondasi bangsa.
Hani memperdalam penjelasannya dengan menegaskan bahwa karier bukanlah indikator utama keberdayaan perempuan dalam perspektif Mushida. Ia menekankan bahwa perempuan tetap dapat berkiprah melalui perannya dalam keluarga tanpa kehilangan kontribusi sosial dan keagamaannya.
“Jangan sampai salah itu, biasanya kita jenjang karir yang diinginkan. Kita yakin bahwa berkiprah dalam rumah sebagaimana meneguhkan peran kita dalam ketahanan keluarga bahwa kita menyambung sifat Allah yang Maha Rahim dan itulah muslimat meneruskan melahirkan generasi penerus,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Hani juga menyampaikan rasa terima kasih kepada organisasi induk Hidayatullah yang selama ini memberikan pengarahan dan penjagaan agar Muslimat Hidayatullah tetap bergerak sesuai koridor yang benar. Baginya, pendampingan itu bukan batasan, tetapi bentuk perlindungan nilai dan jati diri organisasi.
“Maka terima kasih lagi kepada induk Hidayatullah yang sudah mengawal kami agar tidak melenceng dari qodratinya. Karena, kalau ibu-ibu dikasih peluang, itu juga bisa lebih melejit daripada bapak-bapak,” katanya.
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Setelah menekankan hubungan internal organisasi, Hani mengalihkan fokus kepada pentingnya sinergi dengan negara, terutama dalam isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Ia menyebut bahwa Mushida aktif memberikan pelayanan dan masukan kepada masyarakat, namun memerlukan dukungan pemerintah agar program dapat berjalan lebih luas dan efektif.
“Kami memberikan masukan dan pelayanan di masyarakat. Maka sinergi Muslimat Hidayatullah adalah kami butuh dukungan pemerintah yang dalam hal ini Kemen PPPA,” katanya.
Dalam bagian penutup sambutannya, Hani menyoroti simbolisme tempat berlangsungnya Munas, yaitu Gedung DPR RI. Ia memandang bahwa forum ini membawa harapan agar doa dan aspirasi para perempuan Muslim sampai kepada para pemangku kebijakan di republik ini. Hani kemudian membacakan doa yang lazim dipanjatkan dalam berbagai majelis Mushida.
“Semoga doa para ibu-ibu yang datang dari jauh sampai ke ‘arasy untuk para pengambil kebijakan yang ada di tempat ini yang biasanya kami bacakan di setiap akhir majelis: Allahumma laa tusallith ‘alaina bidzunuubinaa—man laa yakhaafuKa walaa yarhamunaa. Ya Allah janganlah berikan kepada kami pemimpin yang tidak menyayangi kami,” katanya.
Hani kemudian menjelaskan bahwa kepemimpinan yang dimaksud bukan hanya pemimpin negara, tetapi juga pemimpin di semua lini kehidupan.
“Pemimpin di sini bukan hanya pemimpin negara tapi juga pemimpin dalam semua lini termasuk organisasi terutama dalam memimpin diri sendiri,” katanya.
Sebagai penutup, Hani menegaskan komitmen Mushida bahwa seluruh hasil Munas akan dijadikan sarana memperkuat dakwah dan kontribusi bagi bangsa.
Pada pembukaan Munas VI Mushida itu Hani juga menegaskan kembali peran perempuan sebagai pilar keluarga, mitra negara, dan penopang gerakan dakwah.
“Semoga kita bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia ini. Kami yang ada di sini akan membawa pulang seluruh yang didapatkan dalam Munas kali ini semata untuk li i’lai kalimatillah hiyal ulya,” tandasnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Serap Aspirasi Masyarakat yang digelar oleh MPR RI bersama Dr. Al Muzzammil Yusuf salah satu agenda dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).
Anggota Komisi XIII DPR RI, Al Muzzammil Yusuf, tampil sebagai narasumber dan menguraikan peran fundamental Empat Pilar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, serta relevansinya dengan kontribusi ormas Islam, termasuk Hidayatullah.
Pada awal pemaparannya, Al Muzzammil menegaskan kembali empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menjelaskan bahwa keempat pilar ini merupakan fondasi bangsa yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia dalam kerangka hukum dan kehidupan nasional.
“Undang Undang Dasar 1945 jika diringkas maka isinya ada lima yaitu konsep negara demokrasi, konsep negara hukum, konsep SDM unggul, konsep pengelolaan sumber daya alam kita yang kaya, dan konsep untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.
Al Muzzammil menegaskan bahwa UUD 1945 memberikan kerangka legal bagi sistem demokrasi Indonesia. Ia menjelaskan perubahan mendasar yang terjadi pasca reformasi terkait pelaksanaan kedaulatan rakyat.
“Negara demokrasi itu ada pasalnya yaitu Pasal 1 ayat 2 berbunyi ‘kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang undang dasar’. Dulu hal ini dilaksanakan oleh MPR RI. Setelah reformasi, dilaksanakan menurut undang undang dasar dan inilah yang mengubah MPR tidak lagi menjadi Lembaga tertinggi negara,” jelasnya.
Penataan kelembagaan negara dalam demokrasi modern, jelasnya, menempatkan seluruh lembaga negara dalam posisi sejajar dengan mandat masing-masing.
“MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi tapi menjadi lembaga negara. Jadi MPR, DPR, DPD, Presiden, BPK, MA, MK, KY, dan lainnya itu semua sejajar. Dan ada satu kedaulatan rakyat yang tidak diambil oleh MPR yaitu memilih presiden. Sekarang diserahkan ke rakyat dengan pemilihan langsung. Inilah ciri negara demokrasi,” terangnya.
Karena sistem demokrasi berbasis representasi politik, menurutnya, partai politik menjadi aktor utama dalam proses pemilihan pemimpin.
“Negara demokrasi menjadikan partai politik sebagai pilar, karena untuk terpilih menjadi eksekutif-legislatif harus menggunakan kendaraan partai politik.”
Ia kemudian membedakan peran partai politik dengan ormas Islam seperti Hidayatullah, NU, dan Muhammadiyah:
“Ormas seperti Hidayatullah, NU, Muhammadiyah, dan lain lain itu sebagai ormas karena itu tidak bisa berkompetisi di demokrasi. Sama dengan kampus, seribu professor yang paling pandai di Indonesia tidak bisa berkumpul memutuskan seratus dari kami harus masuk DPR-MPR.”
Ia menegaskan hubungan langsung antara kualitas parpol dan kualitas lembaga negara. “Baik buruknya partai politik adalah baik buruknya DPR dan eksekutif,” katanya.
Konsep Negara Hukum
Setelah membahas demokrasi, Al Muzzammil mendalami konsep negara hukum sebagai penyangga demokrasi agar tidak berubah menjadi negara kekuasaan.
“Negara demokrasi harus dikawal dengan konsep negara hukum, kalau tidak akan menjadi ‘machtstaat’ atau negara kekuasaan. Dengan dikawal hukum, kita menjadi negara yang berdasarkan hukum, rechtsstaat. Politik yang dikawal oleh hukum,” jelasnya.
Mengenai ciri negara hukum, ia menggarisbawahi prinsip yang harus dijunjung tinggi. “Ciri negara hukum yang ideal adalah supremasi hukum. Hukum di atas semua manusia. Konsekwensinya adalah manusia semua setara di hadapan hukum, karena itu ada praduga tak bersalah,” terangnya.
Dalam bagian lanjutan paparannya, Al Muzzammil Yusuf menggeser fokus pembahasan dari prinsip-prinsip dasar negara hukum menuju hubungan langsung antara konstitusi dan peran strategis organisasi kemasyarakatan, khususnya ormas pendidikan dan dakwah seperti Hidayatullah.
Ia menilai bahwa konstitusi Indonesia tidak hanya memberikan kerangka bagi penyelenggaraan negara, tetapi juga membuka ruang luas bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional. Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami UUD 1945 bukan sekadar sebagai dokumen hukum, tetapi sebagai pedoman kolaboratif antara negara dan masyarakat sipil.
Di titik inilah Al Muzzammil menyoroti Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 sebagai pasal yang sangat relevan bagi ormas Islam. Pasal tersebut menyatakan bahwa negara wajib menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang bertujuan meningkatkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, serta kecerdasan bangsa.
Bagi Al Muzzammil, mandat besar ini tidak mungkin dijalankan pemerintah sendiri. Dibutuhkan kontribusi masyarakat, terutama lembaga dakwah dan pendidikan yang memiliki jaringan luas dan kapasitas pembinaan yang kuat.
“UUD Pasal 31 ayat 3 tidak bisa dijalankan hanya oleh pemerintah. Terimakasih Hidayatullah yang telah membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa. UUD Pasal 31 ayat 3 inilah tafsir dari Sila pertama Pancasila,” katanya.
Berperan Lebih Luas
Al Muzzammil mengajak para kader organisasi Hidayatullah untuk tidak berhenti pada peran sosial-keagamaan saja. Menurutnya, Hidayatullah dengan kekuatan jaringan, kualitas SDM, dan konsistensi perjuangannya memiliki potensi besar untuk berperan lebih dalam ranah pengambilan keputusan negara.
Ia menawarkan perspektif bahwa transformasi bangsa tidak hanya dibangun dari bawah melalui infrastruktur politik yakni ormas dan lembaga masyarakat tetapi juga dari tingkat suprastruktur, tempat kebijakan formal dirumuskan dan ditetapkan.
“Artinya, kader Hidayatullah ditunggu di suprastruktur politik yang mewarnai infrastruktur politik. Saat ini sudah di infrastruktur tapi belum di suprastruktur,” selorohnya setengah bercanda.
Pada kesempatan itu Al Muzzammil memberikan apresiasi yang meneguhkan terhadap perjalanan panjang Hidayatullah. Ia melihat konsistensi gerakan, keseriusan dalam dakwah, dan kontribusi pendidikan sebagai modal sosial yang penting dan layak diakui. Bagi Al Muzzammil, keteguhan gerakan ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga fondasi bagi peran lebih besar di masa mendatang.
“Saya ikuti Hidayatullah dalam perjalanannya tidak ada yang aneh aneh, pesantrennya, majalahnya, gerakannya, semua insya Allah shirathal mustaqim sesuai dengan niat pendirinya yang ikhlas berjuang dari Kalimantan,” katanya.