Beranda blog Halaman 76

Santri Hidayatullah Surabaya Radinka Darrien Wakili Indonesia di Forum Diplomasi Pelajar Asia

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Bangkok tak hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga panggung diplomasi internasional bagi para pelajar muda Asia. Salah satunya adalah Radinka Darrien Nurawan, santri kelas 11 Boarding SMA Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, yang menjadi delegasi Indonesia dalam forum Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 2025.

Selain sebagai simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, forum AYIMUN juga merupakan medan latihan generasi muda global untuk mengasah diplomasi, berpikir kritis, dan public speaking terkait isu-isu strategis seperti perubahan iklim, HAM, dan perdamaian dunia.

Tahun ini, forum tersebut mengusung tema “Maintaining a Legacy of Peace in Turbulent Times.”

Radinka melaju ke Bangkok melalui serangkaian seleksi ketat mulai dari wawancara, penyusunan position paper, dan simulasi sidang.

“Radinka berhasil menjadi bagian dari delegasi Indonesia untuk mewakili suara pelajar Muslim Indonesia dalam forum global tersebut,” ungkap rilis resmi sekolah.

Ustadz Santoso, S.Si., Kepala SMA Luqman Al Hakim Surabaya, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, keikutsertaa Radinka menjadi inspirasi bagi santri lainnya untuk terus meningkatkan kualitas diri, tidak hanya dalam akademik dan tahfizh, tetapi juga dalam ajang nasional maupun internasional.

“Kami bangga dengan semangat dan dedikasi Radinka. Ini bukti bahwa santri tidak hanya unggul dalam aspek keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Radinka membawa semangat rahmatan lil ‘alamin ke forum dunia.

Tak hanya menjadi ajang prestasi, terang Santoso, keikutsertaan ini juga menegaskan misi besar sekolah dalam mencetak generasi yang tangguh secara spiritual, unggul secara akademik, dan siap tampil di pentas dunia.

Program Boarding School serta kurikulum integratif menjadi pondasi Radinka dan rekan-rekannya untuk berpikir global tanpa kehilangan identitas keislaman.

Selama beberapa hari ke depan, Radinka akan terlibat dalam forum diskusi intensif, negosiasi multinasional, hingga diplomasi pemuda lintas negara di Bangkok.

Dari kampus pesantren ke meja-meja diplomasi internasional, langkah Radinka menjadi teladan nyata bahwa santri hari ini bisa menjadi pemimpin dunia esok hari.

Qur’an Camp Balikpapan Menyalakan Semangat Da’i Muda dari Pesisir

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Di balik keheningan fajar pesisir Balikpapan, gema lantunan ayat suci berpadu dengan debur ombak Pantai Teritip.

Di tempat itulah, 20 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menjalani Qur’an Camp, program pembinaan karakter yang digelar awal Juli 2025 di Rumah Qur’an Abdul Azis.

Bukan sekadar program hafalan, Qur’an Camp dirancang sebagai proses pembentukan karakter da’i muda dengan pendekatan spiritual yang menyeluruh.

Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Muhammad Zaim Azhar, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah ruang hidup untuk membentuk karakter da’i muda dengan fondasi spiritual yang kuat.

Selama dua hari, para peserta menjalani aktivitas yang berpola terstruktur namun penuh refleksi.

Kegiatan dimulai sejak sebelum fajar dengan shalat lail dan tadabbur Al-Qur’an, kemudian berlanjut dengan senam ringan dan futsal santai di pagi hari. Puncaknya adalah sesi setoran hafalan dan talaqqi, lalu ditutup dengan khataman Al-Qur’an secara kolektif.

Salah satu sesi utama bertajuk “Menjadi Generasi Qur’ani” dirancang untuk memantik kesadaran spiritual peserta.

Dalam sesi ini, mahasiswa diajak bukan hanya untuk mendengarkan materi, tapi juga merenung dan menggali makna hidup berporoskan wahyu.

“Program ini menjadi wasilah menyalakan semangat Al-Qur’an di dada para mahasiswa,” ungkap Zaim. Ia menambahkan bahwa Qur’an Camp adalah investasi jangka panjang untuk masa depan dakwah dan pendidikan Islam di Kalimantan Timur.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kalimantan Timur. Kepala Divisi Prodaya BMH Kaltim, Achmad Rifa’i, menilai bahwa pendekatan seperti ini menunjukkan sinergi positif antara pembinaan karakter dan kedekatan dengan alam.

“Qur’an Camp menjadi bukti nyata bahwa pendekatan spiritual dalam pendidikan karakter dapat berjalan harmonis dengan aktivitas sosial dan alam terbuka,” ujar Rifa’i.

Menurut Rifa’i, di tengah modernisasi dan kompleksitas zaman, kegiatan seperti ini menjadi alternatif pendidikan yang tidak hanya menumbuhkan intelektualitas, tetapi juga membentuk jiwa-jiwa berkarakter Qur’ani yang siap mengabdi bagi masyarakat.*/

Mengapa Tidur Disebut Tanda Kebesaran Allah?

KETIKA membaca surah Ar-Rum ayat 23, “Dan diantara ayat-ayat-Nya adalah tidur kalian pada waktu malam dan siang”, tiba-tiba terpikir kenapa tidur disebut sebagai salah satu ayat Allah?

Apa sih istimewanya tidur? Bukankah kita semua biasa tidur setiap hari, dan sepertinya tidak ada yang penting untuk dipikirkan?

Kami putuskan untuk mencari tahu. Kami mulai dengan literatur Barat, Encyclopaedia Britannica (2009 Ultimater Reference Suite, CD-ROM). Sekedar ingin tahu apa kata mereka. Banyak hal telah mereka selidiki dengan seksama, dan mungkin tidur (sleep) termasuk di dalamnya.

Tapi, kami tertegun-tegun membaca ulasan para ahli psikologi Barat yang dirangkum oleh David Foulkes (Georgia Mental Health Institute, Atlanta) dan Rosalind D. Cartwright (Rush-Presbyterian St. Luke’s Medical Center, Chicago).

Ternyata, sampai sekarang belum ada satu kata sepakat di antara para ahli tentang apa dan bagaimana tidur itu sesungguhnya.

Dalam entri “sleep”, mereka menulis, “Tidak ada kriteria tunggal dan bisa diterima secara sempurna tentang tidur. Tidur didefinisikan melalui observasi-konvergen yang memenuhi sejumlah kriteria gerak, saraf, dan fisiologis berbeda.

Terkadang, satu atau lebih dari kriteria ini bisa absen selama tidur atau hadir ketika terjaga, bahkan dalam sejumlah kasus para pengamat selalu mendapati kesulitan kecil untuk memilah kedua kondisi tersebut.”

Dengan kata lain, tidur dimengerti sebagai pengalaman umum yang gejala-gejalanya diketahui semua orang. Namun, tidur bukan sesuatu yang mudah dijelaskan, tidak juga bisa disederhanakan dalam rumusan ringkas.

Ada gejala tidur yang bisa didapati ketika seseorang terjaga, begitu pula sebaliknya ada gejala terjaga yang didapati ketika tidur. Banyak misteri yang tidak bisa dijelaskan oleh psikologi.

Kecewa dengan itu, kami baru menyadari mengapa psikologi gagal menyingkapnya, ketika menemui fakta bahwa psikologi adalah ilmu yang aneh. Ia membahas jiwa (psyche), namun di saat bersamaan ia menolak mempercayai metafisika atau hal-hal gaib.

Padahal, hakikat jiwa itu gaib dan tidur adalah fenomena jiwa. Itulah alasan mengapa orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan selalu mengalami gangguan atau masalah pada tidurnya, entah yang biasa seperti stres maupun yang parah seperti depresi dan gila.

Meski demikian, ternyata para ulama muslim sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu ‘tidur’. Mereka hanya mengulas keajaiban-keajaibannya, seperti memulihkan keletihan, menyembuhkan sakit, merehatkan hati, juga menginteraksikan kita selangkah lebih dekat dengan alam ruh dan malaikat.

Ternyata tidur benar-benar tidak terpahami dengan gampang, padahal kita semua terbiasa mengalaminya. Maha Benar Allah bahwa tidur adalah salah satu ayat-Nya. Dan, tidak pernah ada yang remeh di dalamnya (lihat: Tafsir Ibn Katsir, VI/309-310, penjelasan QS. Ar-Rum: 22-23).

Para ulama muslim memandang tidur sebagai cara Allah menyadarkan kita tentang realitas jiwa atau ruh, yang tidak mudah dijelaskan itu.

Bagaimana pun, ruh adalah rahasia Allah. Sangat sedikit yang dibagikan-Nya untuk kita. Tidur adalah jalan untuk mendekatkan pemahaman kita terhadap kepastian kebangkitan kembali setelah mati, juga pertanggungjawaban amal di akhirat kelak.

Allah berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85).

Dalam surah lain, Allah berfirman:

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60).

Juga firman-Nya yang lain:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42).

Kami kemudian mendapati anekdot dalam Tarikh Islam (V/286, tahqiq: Basysyar) karya Al-Hafizh adz-Dzahabi, pada biografi teolog Mu’tazilah termasyhur, Abu Ma’n Tsumamah bin Asyras an-Numairi al-Bashri.

Suatu ketika, ia keluar dari Bashrah hendak menemui khalifah al-Ma’mun di Baghdad. Di perjalanan ia melihat seorang gila yang diikat.

Setelah dekat, si gila itu mendahului bertanya, “Siapa namamu?” “Tsumamah,” jawabnya. “Si teolog itu?” tanyanya lagi. “Ya.”

Terjadilah dialog diantara mereka, sampai akhirnya si gila itu bertanya, “Beritahu aku, kapan seseorang merasakan lezatnya tidur?”

Mungkin karena tidak segera dijawab, si gila itu menjawabnya sendiri, “Jika kaukatakan ‘sebelum ia tidur’ maka kamu keliru sebab ia masih terjaga. Jika kaukatakan ‘ketika tidur’ maka kamu salah total sebab ia tidak sadar. Jika kaukatakan ‘setelah tidur’ maka ia telah keluar darinya dan sesuatu yang sudah tidak ada itu tidak bisa lagi dia rasakan.”

Tsumamah hanya diam terpana, tidak tahu harus bicara apa.

Sungguh benar jika tidur adalah salah satu ayat-Nya, petunjuk menuju pengakuan akan keberadaan dan kuasa-Nya.

Sayangnya, betapa banyak ayat-ayat Allah yang tidak kita sadari, apalagi kita renungi.

Pantas bila Allah berfirman, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling darinya.” (QS. Yusuf: 105).

Ya Allah, ampuni kami! Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zhalim. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur.

Ketua MPR Ajak Pemuda Hidayatullah Jadi Solusi bagi Umat dan Bangsa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani menerima audiensi Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah di Gedung Nusantara III, Jakarta, Kamis, 14 Muharram 1447 (10/7/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Muzani mengajak Pemuda Hidayatullah terus menjadi solusi bagi umat dan bangsa. Ia mengapresiasi konsistensi Pemuda Hidayatullah dalam kontribusinya di bidang dakwah dan pendidikan untuk pembangunan sumberdaya manusia.

“Sebagai subordinat Hidayatullah yang bergerak dalam pembangunan masyarakat melalui dakwah dan pendidikan, Pemuda Hidayatullah harus terus menekuni apa yang selama ini telah dilakukan,” ungkap Muzani.

Ia menekankan pentingnya organisasi kepemudaan sebagai ruang belajar dan latihan memimpin, serta sarana pembentukan karakter generasi muda.

“Organisasi kepemudaan adalah tempat latihan memimpin dan menyelesaikan masalah orang,” tegasnya.

Ahmad Muzani juga mengajak Pemuda Hidayatullah untuk mengelola organisasi dengan maksimal agar menjadi bekal penting dalam mengemban tanggung jawab lebih besar ke depan. “Banyak berpikir, terus latihan menyelesaikan masalah orang lain, dan yang terpenting harus banyak baca,” pesannya.

Dalam forum tersebut, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, menyampaikan maksud pertemuan adalah sebagai ajang silaturrahim sekaligus menggali inspirasi dari kiprah Ahmad Muzani yang telah lama berperan aktif di tingkat nasional.

“Kami juga sebenarnya sudah banyak membaca dan mengenal tentang Ahmad Muzani, justru kami yang belum dikenal,” ujar Rasfiuddin dengan nada berseloroh.

Rasfiuddin menyampaikan bahwa pihaknya juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan organisasi Pemuda Hidayatullah lebih jauh serta melaporkan sejumlah program dan kegiatan yang telah dijalankan.

Ia juga menyampaikan agenda Milad Pemuda Hidayatullah ke-25 yang akan diselenggarakan pada bulan Juli ini serta memberikan cinderamata berupa buku karya PP Pemuda Hidayatullah yang memuat pemikiran dan saran menuju Indonesia Emas 2045.

Rasfiuddin menyampaikan harapan agar program-program besar pemerintah seperti kedaulatan pangan, pengentasan kemiskinan, pemerataan pembangunan, pemajuan pendidikan, dan pembangunan generasi muda dapat terus dikawal agar sejalan dengan visi pembangunan nasional yang berpihak kepada rakyat.

[KHUTBAH JUM’AT] Momentum Muhasabah, Menyelami Hakikat Waktu dan Penyesalan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang dengan kasih sayang-Nya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan hingga hari ini.

Kita memohon kepada-Nya agar hati ini tetap lembut dalam menerima kebenaran, dan tidak menjadi keras karena lalai dalam memperhatikan waktu yang terus menyusut.

Betapa sering kita terlena dalam rutinitas duniawi hingga lupa bahwa hidup ini fana, dan bahwa setiap perjalanan pasti akan sampai pada akhirnya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, teladan utama yang menggunakan waktunya untuk menegakkan keadilan, menyebarkan kasih sayang, dan memperbaiki umat manusia.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa meneladani beliau dalam kesungguhan, ketulusan, dan pengorbanan, terlebih dalam memaknai waktu sebagai amanah besar yang kelak akan ditanya di hadapan Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Perputaran waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, kita telah berada di pertengahan bulan Muharram 1447 Hijriyah.

Padahal kenangan tahun 1446 H masih terasa begitu segar dalam ingatan, seolah baru kemarin. Namun kini tahun itu telah berlalu, dan tidak akan pernah kembali lagi.

Begitulah sifat waktu. Ia terus berjalan, tidak menunggu, tidak menoleh ke belakang. Sekali berlalu, ia tak dapat diputar ulang. Imam Asy-Syafi’i pernah mengingatkan:

الْوَقْتُ سَيْفٌ فَإِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلْتَهَا بِالْحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak menggunakannya (dengan baik), maka ia akan menebasmu. Dan dirimu, jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam kebatilan.”

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Waktu yang terus berlalu ini menuntut kita untuk berhenti sejenak dan merenung. Untuk apa kita hidup?

Apa yang sudah kita lakukan? Untuk itulah muhasabah menjadi penting — sebagai bentuk evaluasi, introspeksi, sekaligus penataan kembali arah hidup.

Muhasabah adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini dengan tegas mengajak kita bukan hanya bertakwa, tetapi juga melihat dan merenungi apa yang telah kita lakukan—untuk masa depan, yakni hari akhir.

Umar bin Khattab, Amirul Mukminin, memberi nasihat tegas:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah sebelum kalian ditimbang, dan bersiaplah menghadapi hari besar ketika amal diperlihatkan”

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Muhasabah adalah jalan menuju perbaikan. Tanpa muhasabah, hidup bisa terus terseret dalam rutinitas tanpa arah.

Muhasabah memanggil kita untuk kembali pada dua identitas utama kita, yaitu sebagai hamba Allah (abdullah) dan wakil Allah di bumi (khalifatullah). Itulah tujuan hidup yang sejati.

Islam menanamkan keyakinan bahwa dunia ini hanyalah sementara. Bahwa akhirat adalah kehidupan yang abadi. Kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan hakiki.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Karena itulah, hidup di dunia ini ibarat masa menanam, dan akhirat adalah masa panen. Jika kita tak menanam kebaikan, bagaimana mungkin berharap menuai kebahagiaan?

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Muhasabah adalah cermin. Ia memperlihatkan noda-noda pada amal kita.

Tanpa cermin, kita mungkin merasa bersih, padahal kenyataannya penuh cela. Tanpa muhasabah, manusia akan berjalan dalam kelalaian, dan akan berakhir pada penyesalan.

Dan penyesalan di akhirat, adalah penyesalan yang tidak berguna. Allah telah mengingatkan kita melalui ayat-ayat-Nya tentang berbagai bentuk penyesalan manusia di hari kiamat:

Pertama, menyesal karena tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balik dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul.’” (QS. Al-Ahzab: 66)

Kedua, menyesal karena menerima catatan amal dari tangan kiri:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ

“Adapun orang yang menerima kitabnya dari sebelah kirinya, dia berkata, ‘Duhai, alangkah baiknya andai aku tidak diberikan kitabku ini.’” (QS. Al-Haqqah: 25)

يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ

“Duhai, andaikan kematian itu mengakhiri segalanya.” (QS. Al-Haqqah: 27)

مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيهْ، هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيهْ

“Hartaku tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah lenyap dariku.” (QS. Al-Haqqah: 28–29)

Ketiga, menyesal karena tidak beramal shalih:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia berkata, ‘Alangkah baiknya andai aku telah mempersiapkan (amal shalih) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 24)

Keempat, menyesal karena salah memilih teman:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلًا

“Celakalah aku, andai aku tidak menjadikan si dia sebagai teman akrabku.” (QS. Al-Furqan: 28)

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي

“Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah Al-Qur’an datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan: 29)

Puncaknya, menyesal karena menjadi manusia—yang menginginkan dirinya dahulu hanya tanah:

إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَاباً قَرِيباً يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَـٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kalian tentang azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh tangannya, dan orang kafir berkata: ‘Andai saja dahulu aku hanyalah tanah.’” (QS. An-Naba: 40)

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Waktu terus berjalan, dan pintu tobat masih terbuka. Mari kita manfaatkan sisa usia ini dengan penuh kesadaran, bukan kelalaian. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad ﷺ kepada Ibnu Umar:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : أخذ رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بمنكبي فقال : كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”

Ibnu Umar lalu menambahkan:

إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك

“Jika engkau berada di sore hari, maka jangan tunggu hingga pagi; dan jika pagi, jangan tunggu sore. Ambillah (peluang) dari sehatmu sebelum sakit, dan dari hidupmu sebelum mati.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita menjadi hamba yang pandai bermuhasabah, sebelum datang masa di mana tak ada lagi waktu untuk kembali.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Rejuvenasi Organisasi Menjaga Semangat Awal, Menjawab Tantangan Zaman

0

SETIAP organisasi, sekuat dan seideal apa pun cita-cita awalnya, pada satu titik akan dihadapkan pada pertanyaan mendasar, apakah semangat awal itu masih hidup? Apakah ia masih berdenyut dalam program, dalam gerak, dalam visi kolektif para anggotanya?

Pertanyaan ini bukan sekadar evaluasi internal, melainkan panggilan sejarah, bahwa, apakah organisasi masih menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat yang terus berubah.

Pertanyaan semacam ini mengemuka dalam banyak forum musyawarah dan pertemuan strategis, termasuk dalam agenda besar seperti Musyawarah Nasional (Munas) yang akan digelar oleh Hidayatullah pada Oktober mendatang. Namun, maknanya melampaui sekat organisasi tertentu. Ini adalah isu universal yang relevan bagi setiap lembaga yang bercita-cita membawa perubahan sosial.

Apa Itu Rejuvenasi Organisasi?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rejuvenasi diartikan sebagai peremajaan. Dalam dunia medis, istilah ini sering merujuk pada proses mengembalikan vitalitas kulit agar tampak muda kembali.

Dalam dunia organisasi, maknanya serupa, yakni, sebuah proses penyegaran visi, nilai, sistem, dan struktur untuk memastikan organisasi tetap hidup, menarik, dan produktif.

Rejuvenasi bukan hanya soal mengganti pengurus atau membuat slogan baru, tapi bagaimana organisasi menemukan kembali jiwanya, ruh perjuangannya, lalu menyelaraskannya dengan konteks zaman.

Setiap organisasi yang hidup pasti mengalami siklus dinamika: semangat awal yang menyala, program yang mulai rutin, ritme yang cenderung mekanis, lalu stagnasi visi. Dari sini, rejuvenasi menjadi keniscayaan. Ia adalah jalan menuju relevansi baru.

Pilar-Pilar Rejuvenasi Organisasi

Dalam diskusi-diskusi strategis, baik dalam organisasi keagamaan, pendidikan, kemasyarakatan, maupun bisnis, setidaknya ada delapan aspek penting yang sering muncul sebagai indikator utama kebutuhan peremajaan organisasi.

1. Reformulasi Visi dan Misi

Visi adalah arah jangka panjang, misi adalah cara mencapainya. Dalam perspektif Simon Sinek, penulis buku Start With Why, visi menjawab “mengapa” organisasi ini ada, sedangkan misi menjawab “bagaimana”.

Visi yang kabur atau terlalu abstrak akan sulit ditransformasikan menjadi gerakan nyata. Maka, mereformulasi visi bukan berarti mengubah cita-cita, tetapi menyederhanakannya agar membumi dan menggerakkan.

Banyak organisasi sukses menggunakan narasi yang sederhana tapi kuat. Lembaga pendidikan yang menjanjikan “membentuk manusia berakhlak dan mandiri” misalnya, lebih mudah dipahami publik daripada jargon akademis yang kaku.

Dalam sebuah forum kecil bernama “Halaqah Sulthan” yang rutin mengaji dan berdiskusi setiap pekan beberapa waktu lalu, bahkan muncul usulan, organisasi dakwah mesti lebih membumi dengan mengusung visi seperti “bahagia di dunia dan masuk surga”—sebuah frasa sederhana, namun menyentuh spiritual dan rasional publik sekaligus.

2. Penguatan Sumber Daya Insani

Setiap perubahan butuh pelaku yang siap. Maka, investasi pada manusia adalah investasi strategis. Organisasi perlu mendorong kader mudanya untuk belajar, mengambil beasiswa, mengasah kompetensi, dan memahami konteks. Ini bukan hanya untuk regenerasi, tapi memastikan organisasi tidak mengalami apa yang disebut dengan brain drain—kehilangan potensi terbaiknya karena tidak dipersiapkan.

3. Pengembangan Pelayanan Masyarakat

Organisasi apa pun, apalagi yang berbasis sosial atau keagamaan, hidup dari kebermanfaatannya. Maka, program-program pelayanan—dari pendidikan, bantuan kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial—perlu diperkuat. Di era digital, pelayanan juga harus tertransformasi. Teknologi bukan musuh, melainkan alat untuk efisiensi dan perluasan jangkauan.

4. Kolaborasi dan Kemitraan

Rejuvenasi organisasi juga mensyaratkan keterbukaan. Zaman ini bukan lagi soal siapa yang paling mandiri, tapi siapa yang paling mampu bersinergi. Lembaga yang menjalin kemitraan strategis akan lebih tahan terhadap krisis, memiliki pembiayaan lebih beragam, dan mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Contoh sederhana: penyelenggaraan pendidikan gratis berbasis kolaborasi antara organisasi dan mitra filantropi memungkinkan ribuan anak muda mendapatkan akses belajar yang bermutu. Kolaborasi bukan hanya soal teknis, tapi memperluas ekosistem perjuangan.

5. Diversifikasi Pendanaan

Organisasi memerlukan sumber daya untuk bergerak. Ketergantungan pada satu model pendanaan membuat organisasi rentan. Maka, banyak organisasi sosial kini mengembangkan sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, atau properti syariah sebagai sumber dana mandiri. Hal ini memberikan ruang lebih luas untuk tetap independen dalam bersikap terhadap isu publik.

6. Evaluasi Dampak Sosial

Sering kali, keberhasilan organisasi diukur dari jumlah cabang, banyaknya kader, atau data kuantitatif lainnya. Tapi keberhasilan sejati adalah seberapa besar dampaknya terhadap masyarakat. Apakah program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan umat? Apakah masyarakat merasa tertolong, tercerahkan, atau justru merasa terasing?

Maka, evaluasi dampak sosial harus menjadi kebiasaan. Tidak hanya agar program tetap tepat sasaran, tapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban moral kepada publik.

7. Restrukturisasi Lembaga

Struktur organisasi bukan warisan abadi. Ia harus adaptif terhadap perubahan zaman. Restrukturisasi bukan hal tabu, tetapi wujud keberanian untuk memperbaiki cara kerja, menata ulang lembaga, dan memangkas birokrasi yang tidak fungsional. Proses ini bisa mencakup penyesuaian tugas, efisiensi jabatan, hingga penyelarasan unit yang ada agar tetap relevan.

8. Regenerasi dan Rekrutmen Generasi Muda

Generasi muda adalah denyut masa depan organisasi. Jika mereka tidak dilibatkan hari ini, organisasi akan kehilangan relevansi esok hari. Tapi keterlibatan ini harus dibarengi dengan proses kaderisasi yang tidak hanya administratif, tapi membentuk karakter, wawasan, dan militansi.

Dalam banyak organisasi, halaqah, pelatihan intensif, mentoring, dan pengalaman lapangan menjadi medium penting dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan.

Rejuvenasi Adalah Tajdid

Dalam khazanah Islam, rejuvenasi identik dengan tajdid—pembaruan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat Islam, setiap seratus tahun, seseorang yang memperbarui bagi mereka ajaran agama mereka.” (HR Abu Daud)

Pembaruan adalah bagian dari sunnatullah. Ia bukan pengkhianatan terhadap masa lalu, melainkan kesetiaan terhadap ruh awal perjuangan.

Maka, dalam kerangka ini, rejuvenasi organisasi adalah momentum untuk memperbarui niat, menyusun kembali strategi, dan memperluas manfaat sosial.

Setiap organisasi yang ingin bertahan dan memberi dampak harus memiliki keberanian untuk berubah. Bukan ‘berubah’ demi berubah, tetapi berubah demi menyelamatkan makna.

Rejuvenasi bukan proyek elite, tetapi tugas kolektif. Ia harus menjadi gerakan bersama yang lahir dari refleksi, dipandu oleh nilai, dan didorong oleh cinta kepada umat.

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Pesantren Al Ikhlas Taliwang IIBS Gandeng LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Sembelih Halal di KSB

SUMBAWA BARAT (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat pemahaman dan keterampilan praktis dalam penyembelihan halal, Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang International Islamic Boarding School (IIBS) menggelar pelatihan khusus bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah.

Kegiatan diagendakan berlangsung selama dua hari di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat, Selasa-Rabu, 12-13 Muharram 1447 (8-9/7/2025).

Pelatihan tersebut menghadirkan dua narasumber utama dari LSH Hidayatullah, yakni H. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., Ketua LSH Hidayatullah Pusat dan pakar sembelih halal nasional, serta H. Kholid Zuhri, M.Pd., Ketua LSH Hidayatullah NTB.

Keduanyamemberikan materi mendalam dan praktik lapangan tentang kaidah penyembelihan sesuai syariat Islam yang ilmiah dan profesional.

Nanang Hanani dalam pemaparannya menekankan pentingnya literasi halal sebagai bagian dari tanggung jawab keislaman di era modern.

“Pelatihan ini bukan hanya soal teknik menyembelih, tetapi membangun kesadaran tentang amanah besar umat Islam dalam menjaga makanan yang dikonsumsi tetap thayyib dan halal,” ungkapnya.

Pelatihan ini diikuti oleh para santri, pengasuh, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan di bidang sembelih halal. Materi yang diberikan mencakup teori fiqh penyembelihan, praktik langsung penyembelihan ayam, hingga pengetahuan seputar syarat alat, hewan, dan proses sesuai ketentuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Fatwa DSN.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang IIBS, Dr. Lalu Mujahid Imaduddin, SH.I., M.Ag., menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari pendidikan integral di pesantren yang menggabungkan nilai-nilai agama, keterampilan hidup, dan kesadaran sosial.

“Kami ingin santri tidak hanya alim secara ilmu, tapi juga kompeten dan siap berkontribusi langsung dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang penting seperti halal food,”* jelasnya.

Dr. Mujahid juga menekankan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam perlu terus berinovasi dan membuka diri terhadap perkembangan isu-isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan umat.

Kerja sama antara Al Ikhlas Taliwang IIBS dan LSH Hidayatullah ini menjadi bagian dari gerakan nasional edukasi sembelih halal yang diusung oleh LSH sejak 2019.

Pesantren Al Ikhlas Taliwang yang dikenal sebagai sekolah berasrama bertaraf internasional terus mengembangkan pendekatan pendidikan yang menyentuh langsung kebutuhan umat.

Pelatihan Juru Sembelih Halal ini merupakan bagian dari program penguatan literasi halal yang menjadi prioritas lembaga pendidikan Islam masa kini.

Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia yang memiliki peran strategis dalam ekosistem halal global.

LSH Hidayatullah sendiri merupakan lembaga yang aktif dalam pelatihan, edukasi, dan sertifikasi sembelih halal di berbagai wilayah Indonesia. Fokusnya adalah membina SDM halal yang tidak hanya paham secara teknis, tetapi juga menghayati nilai ibadah dan etika dalam setiap prosesnya.

Dalam rangkaian acara ini, dilangsungkan pula penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang IIBS dan LSH Hidayatullah. Kerja sama ini bertujuan memperkuat sinergi dalam pengembangan edukasi halal yang menyasar pelajar, santri, dan masyarakat luas.*/

Khitan Berkah dan Ketika Tangan-Tangan Peduli Menjahit Harapan Anak Negeri

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 50 anak dari keluarga yatim dan dhuafa di Kota Balikpapan mengikuti program Khitan Berkah Nusantara, yang diselenggarakan pada akhir pekan lalu, 11 Muharam 1447 (6/7/2025).

Tawa ceria menggema di ruang tunggu Klinik Cahaya Syifa, tempat digelarnya kegiatan tersebut. Tidak hanya menjalani khitan, para peserta juga memperoleh berbagai bentuk perhatian yang menegaskan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.

Program ini merupakan hasil kerja sama antara Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kalimantan Timur dengan Klinik Cahaya Syifa yang berlokasi di Jl. Soekarno Hatta KM. 4, Batu Ampar, Balikpapan Utara. Khitan massal ini diperuntukkan bagi anak-anak usia 5 hingga 12 tahun dari keluarga kurang mampu.

“Bagi sebagian masyarakat, khitan itu mudah. Tapi bagi banyak keluarga, ini justru jadi tantangan berat. Melalui Khitan Berkah ini, kami ingin membantu mereka agar anak-anak tetap bisa menjalankan ibadah dengan sempurna tanpa tekanan ekonomi,” ujar Achmad Rifai, S.Pd.I., Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Kaltim.

Dengan pendampingan tenaga medis profesional, kegiatan ini juga dilengkapi edukasi kesehatan bagi peserta. Selain itu, anak-anak menerima bingkisan berupa sarung, peci, snack, uang saku, serta konsumsi untuk mereka dan pendamping.

Bagi keluarga dhuafa, prosesi khitan sering kali menjadi beban finansial. Karena itu, inisiatif ini disambut dengan antusias oleh para orang tua.

“Alhamdulillah, anak-anak merasa bahagia bisa dikhitan bersama teman-temannya. Orang tua lega dan bersyukur. Terima kasih untuk semua donatur dan pihak yang sudah peduli,” kata Rifai.

Kebersamaan dalam program ini menumbuhkan rasa dihargai di kalangan peserta. Anak-anak yang hadir tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga pengalaman sosial yang menyenangkan dan mendidik.

Terselenggaranya kegiatan ini juga tak lepas dari dukungan berbagai pihak: donatur, relawan, tenaga medis, hingga pengelola klinik yang ikut berkontribusi secara aktif.

Di tengah kesederhanaan, acara ini membawa kebahagiaan yang nyata. Program ini tidak hanya menjadi sarana menjalankan sunnah, tetapi juga media memperkuat solidaritas dan harapan bagi masa depan anak-anak.

Setiap tindakan kecil, mulai dari prosedur medis hingga pemberian bingkisan, menjadi jalinan makna dalam proses membentuk generasi yang lebih sehat dan percaya diri.*/

BMH Sultra Terima Penghargaan Kemenag atas Komitmen Pemberdayaan Umat

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Kolaborasi kebaikan antara lembaga zakat dan instansi pemerintah kembali membuahkan hasil positif. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara secara resmi menganugerahkan Piagam Penghargaan kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Tenggara pada Kamis, 9 Muharram 1447 (4/7/2025).

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprah aktif BMH dalam menggerakkan zakat secara nyata dan berdampak di tengah masyarakat.

Penyerahan piagam tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Sultra, H. Muhamad Saleh, S.Ag., M.Pd.I., kepada Ketua BMH Sultra, Armin.

Dalam prosesi yang berlangsung penuh kehangatan tersebut, penghargaan ini dipandang sebagai hasil dari sinergi yang terus dibangun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum dhuafa dan mustahik, di wilayah Sulawesi Tenggara.

“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkontribusi lebih baik lagi,” ungkap Armin dengan rasa syukur.

Sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) yang aktif di berbagai wilayah Indonesia, BMH telah mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat kurang mampu.

Di Sulawesi Tenggara sendiri, peran BMH tidak hanya terbatas pada penyaluran zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga pada penguatan komunitas dan pemberdayaan ekonomi umat melalui pendekatan kolaboratif dengan berbagai pihak.

BMH dikenal mengedepankan prinsip amanah dan profesionalisme dalam pengelolaan dana zakat. Hal ini menjadi landasan utama kepercayaan masyarakat serta institusi pemerintah dalam mendukung program-program kebaikan yang digagas.

Penghargaan dari Kanwil Kemenag Sultra ini menjadi bukti konkret bahwa pengelolaan zakat yang strategis dan akuntabel mampu menghasilkan dampak yang dirasakan oleh masyarakat.

“Inilah bukti bahwa sinergi mampu menghadirkan perubahan,” ujar Armin.

Melalui penghargaan ini, BMH Sultra berkomitmen untuk terus memperluas jaringan kebaikan dan meningkatkan kualitas program pemberdayaan. Sinergi dengan Kemenag dan berbagai elemen masyarakat akan terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem zakat yang lebih inklusif dan produktif.

“Dan, BMH siap melangkah lebih jauh untuk memuliakan sesama,” tegas Armin, menutup keterangannya.

Piagam penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi formal, tetapi juga simbol penting bahwa kerja-kerja kemanusiaan berbasis zakat memerlukan dukungan bersama.

Dalam konteks pembangunan nasional, zakat memiliki potensi besar sebagai instrumen ekonomi yang mampu mengurangi kemiskinan dan ketimpangan sosial secara berkelanjutan.

Kegiatan ini sekaligus menandai pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mengembangkan sistem zakat nasional.

Wisuda Sarjana Ilmu Tarbiyah, Ketum Hidayatullah Tekankan Pendidikan Harus Dimulai dari Iman dan Adab

KARIMUN (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun menggelar Wisuda Sarjana Strata-1 Angkatan VI bertempat di Gedung Nasional Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, pada Ahad, 11 Muharam 1447 (6/7/2025).

Acara akademik tahunan ini dihadiri oleh para anggota Dewan Senat, civitas akademika, wisudawan, serta tamu undangan.

Momen sakral tersebut pula dihadiri Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., M.A., yang menyampaikan orasi ilmiah bertema tarbiyah sebagai jalan membangun peradaban Islam.

Dalam pidatonya, Nashirul Haq menekankan makna fundamental tarbiyah sebagai misi utama kenabian Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Ia menjelaskan bahwa tarbiyah tidak sekadar pendidikan formal, tetapi merupakan proses integral dalam membentuk pribadi muslim secara menyeluruh.

“Tarbiyah adalah proses pembentukan pribadi muslim yang utuh dalam semua aspek yang meliputi spiritual, intelektual, jasmani, sosial dan kepemimpinan,” papar Nashirul di hadapan para sarjana program studi Manajemen Pendidikan Islam.

Menurutnya, membangun peradaban yang tangguh harus diawali dengan membangun manusia melalui pendidikan ruhani dan intelektual yang bersumber dari wahyu.

Nashirul menyitir perjalanan dakwah Nabi Muhammad yang mendidik para sahabat hingga menjadi generasi unggul penyebar Islam ke berbagai belahan dunia.

“Hasil tarbiyah Rasulullah itulah yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru, hingga sampai di Nusantara ini, bahkan ada sahabat Nabi yang berdakwah ke negeri China,” jelasnya.

Dalam pesannya kepada para wisudawan, Nashirul menekankan tiga peran strategis yang harus dijalankan oleh seorang sarjana tarbiyah, yaitu, Pertama, menanamkan nilai dan adab. Kedua, mengajarkan ilmu; dan Ketiga, membekali keterampilan praktis agar dapat menghasilkan karya yang bermanfaat.

Semangat Kemerdekaan Indonesia Raya

Masih dalam pidatonya yang mengutip semangat kemerdekaan bangsa, pada kesempatan itu Nashirul mengingatkan kembali pesan para pendiri republik sebagaimana dalam lirik lagu “Indonesia Raya”.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,” seru Nashirul, menegaskan pentingnya keseimbangan pembangunan spiritual dan fisik dalam pendidikan nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 secara eksplisit menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai landasan awal sebelum kompetensi teknis dan sosial lainnya.

“Ini menunjukkan bahwa iman menjadi pondasi dalam pengembangan ilmu dan teknologi,” tegasnya.

Tak ketinggalan, Nashirul mengkritik warisan sekularisasi ilmu yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum, yang menurutnya telah menjadikan umat Islam tertinggal secara sosial, ekonomi, dan intelektual.

“Strategi penjajah Belanda dahulu tetap memberi kebebasan kepada rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim untuk melakukan ibadah ritual, namun dicegah belajar politik dan ekonomi,” ujarnya mengingatkan.

Dengan mengakhiri orasinya, Nashirul Haq mengajak para sarjana baru untuk menjadi bagian dari transformasi pendidikan yang menyatukan nilai spiritual, keilmuan, dan keterampilan demi membangun bangsa yang beradab dan bermartabat.

Acara Wisuda yang digelar bertepatan hari Asyura, 10 Muharram 1447 itu dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh antara lain Bupati Karimun H. Ing Iskandarsyah, Kepala Kantor Kementerian Agama Drs. H. Riadul Afkar, Kapolres, dan sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi.