Beranda blog Halaman 75

Munas XI MUI, Naspi Arsyad Tekankan Pentingnya Peran Ulama Menjawab Tantangan Kesejahteraan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, Kamis, 29 Jumadil Awal 1447 (20/11/2025).

Di sela-sela kehadirannya, KH. Naspi Arsyad menyampaikan apresiasinya atas berlangsungnya agenda nasional yang mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Umat” tersebut.

Menurutnya, forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kontribusi ulama dalam dinamika kehidupan berbangsa dan beragama serta wadah penting dalam memetakan arah peran ulama di tengah tuntutan zaman.

Dalam keterangannya, ia menyatakan bahwa kehadiran MUI dalam perjalanan bangsa telah menjadi pijakan moral dan keagamaan yang berpengaruh. Karena itu, terselenggaranya Munas XI menjadi ruang pembaruan yang perlu disyukuri.

“Atas nama Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengucapkan selamat atas terselenggaranya Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia yg ke-11 di Jakarta,” ujar KH. Naspi Arsyad kepada media ini.

Naspi melihat tema besar Munas XI memiliki relevansi kuat dengan tantangan yang dihadapi umat. Tema kemandirian dan kesejahteraan, katanya, merupakan kebutuhan mendasar yang harus ditopang peran ulama secara lebih komprehensif.

Menurutnya, tidak semua kalangan ulama menempatkan isu kemandirian dan kesejahteraan sebagai fokus dalam kiprah keagamaan. Padahal, sejarah mencatat bahwa ulama Nusantara sejak masa awal memainkan peran signifikan dalam pemberdayaan umat melalui pendidikan, ekonomi, dan solidaritas sosial.

“Hidayatullah mengapresiasi tema yang diangkat. Tema kemandirian dan kesejahteraan bukanlah tema populer di kalangan beberapa ulama meski, secara historis, keduanya sangat menyatu dalam menyatu dalam peran-peran keulamaan,” katanya.

KH. Naspi Arsyad menilai, tema yang dipilih MUI juga memperlihatkan upaya mempertemukan kembali dimensi spiritual ulama dengan kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, ada kecenderungan sebagian aktivitas keulamaan yang lebih menonjolkan aspek ibadah mahdhah, sementara persoalan kemandirian ekonomi dan penyejahteraan umat seakan menjadi wilayah terpisah.

Melalui tema Munas XI, lanjut Naspi, terjadi dorongan untuk menjembatani kesenjangan tersebut sehingga ulama dapat tampil sebagai pemimpin moral sekaligus penggerak sosial.

“Kami memahami bahwa tema ini ingin lebih merekatkan antara eksistensi ulama sebagai payung umat dengan kebutuhan mendasar manusia yaitu kemandirian dan kesejahteraan yang seakan terpisah dengan kekhusyuan sebagian ulama dengan tema tema mahdhah semisal shalat, haji, dan sebagainya,” terang Naspi.

Dengan demikian, Munas XI MUI dipandang Naspi sebagai momentum penting untuk menyegarkan kembali pemahaman mengenai tanggung jawab ulama dalam konteks sosial modern. Menurutnya, rekonstruksi peran ulama merupakan langkah strategis agar kepemimpinan keagamaan dapat menjawab problematika kontemporer, terutama terkait pemberdayaan umat.

Dalam pandangan KH. Naspi Arsyad, ulama tidak hanya dituntut menyampaikan tuntunan ibadah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif umat menuju kemandirian. Kemandirian yang dimaksud meliputi aspek spiritual, intelektual, sosial, dan ekonomi sehingga umat tidak hanya menjadi objek, tetapi aktor dalam perbaikan kehidupan.

“Dengan merekonstruksi lebih utuh peran ulama maka umat akan semakin tercerahkan dan tersantuni sehingga eksistensi ulama di hati umat juga akan semakin mengkristal,” tegasnya.

Naspi menambahkan, momentum Munas MUI kali ini juga sebagai kesempatan memperkokoh visi ulama Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, perubahan sosial, dan kebutuhan umat yang semakin kompleks.

KHUTBAH JUM’AT Dua Do’a Penjaga Hati dan Jalan Menuju Husnul Khatimah

0

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,

Setiap kita mendambakan akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah, sebuah penutup hidup yang menjadi pintu menuju rahmat dan surga Allah.

Namun, husnul khatimah tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Ia bukan keberuntungan, bukan hadiah yang turun tanpa sebab, melainkan buah dari iman yang dijaga dan amal yang dilakukan secara istiqomah.

Istiqomah berarti terus beriman, terus beramal, terus berjalan dalam ketaatan tanpa putus meski berat.

Karena sesungguhnya istiqomah adalah mahkota bagi orang-orang yang teguh, dan salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada hamba yang dicintai-Nya.

Karena beratnya istiqomah, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada kita doa-doa khusus agar hati ini tidak tergelincir.

Doa Pertama: Ya Muqallibal Qulub

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada satu kisah agung yang diriwayatkan dari Sahabat Syahr bin Hawsyab. Suatu ketika ia bertanya kepada Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah SAW:

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

“Wahai Ummul Mukminin, apa doa yang paling sering dipanjatkan Rasulullah SAW ketika beliau berada di sisimu?”

Pertanyaan sederhana, namun penuh makna. Ia ingin mengetahui apa yang menjadi perhatian utama seorang Nabi, manusia terbaik, maksum, yang hatinya dijaga Allah.

Ummu Salamah pun menjawab:

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Doa yang paling sering dibaca Nabi SAW adalah: Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik — Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Sahabat tidak berhenti sampai di situ; ia ingin tahu mengapa doa tersebut begitu sering dibaca. Ummu Salamah pun bertanya kepada Rasulullah SAW, dan beliau menjawab:

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang pun anak Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Siapa yang Allah kehendaki, Dia teguhkan. Dan siapa yang Dia kehendaki, Dia sesatkan.”

Subhanallah… Nabi yang maksum saja masih memohon keteguhan hati. Bagaimana dengan kita—umatnya, manusia biasa yang imannya naik turun, sering lalai, sering lemah, sering tergoda? Bukankah kita jauh lebih butuh untuk memohon agar hati ini tetap teguh?

Doa Kedua: Rabbana La Tuzigh Qulubana

Doa berikutnya diajarkan langsung oleh Allah melalui Al-Qur’an. Mu’adz bin Mu’adz membacakan ayat agung dalam Surah Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)

Selain sebagai sebuah lafas doa, ayat ini adalah pengakuan bahwa hati manusia begitu rapuh.

Betapa banyak orang yang dulunya shalat, puasa, bahkan haji, namun tergelincir perlahan—oleh lingkungan, pekerjaan, pergaulan, godaan, hingga akhirnya hilang dari jalan iman. Nau’dzu billahi min dzalik.

Allah tahu kelemahan kita. Karena itu Dia mengajarkan doa agar kita diselamatkan dari penyimpangan setelah mendapat petunjuk.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Rasulullah SAW juga menegaskan satu kaidah penting tentang amal yang dicintai Allah. Dari Aisyah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Mengapa amal sedikit tapi rutin lebih dicintai Allah? Karena istiqomah melahirkan karakter. Ia membentuk keteguhan, kesabaran, dan penghambaan yang tulus.

Amal yang dilakukan terus-menerus menunjukkan bahwa iman telah meresap hingga menjadi gaya hidup, bukan emosi sesaat.

Istiqomah itu tidak mudah. Tetapi dari istiqomah-lah terbit cahaya iman yang stabil, akhlak yang lembut, dan jiwa yang tenang.

Setiap kita ingin dicintai Allah. Maka salah satu jalannya adalah memiliki amal yang rutin seperti wirid pagi dan sore, bacaan Al-Qur’an harian, sedekah setiap pagi, shalat sunnah rawatib, puasa Senin–Kamis, atau amalan lain yang kita mampu jaga.

Yang penting bukan besar atau kecilnya, tetapi rutinitas dan keikhlasannya.

Namun, ada satu hal penting lagi, yaitu hidup berjamaah dan berada dalam kepemimpinan umat. Tanpa jamaah, kita mudah goyah.

Tanpa saudara yang mengingatkan, kita mudah lalai. Tanpa pemimpin yang membimbing, kita mudah terseret arus dunia.

Jamaah atau komunitas ini adalah tempat kita saling menegur, saling menguatkan, saling mengingatkan ketika futur, ketika malas, ketika iman turun. Inilah cara paling kuat menjaga istiqomah.

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين، محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Hadirin yang dirahmati Allah,

Istiqomah bukan sekadar kemampuan pribadi, tetapi karunia besar dari Allah. Karena itu, jangan berhenti memohon, jangan berhenti berdoa.

Mari kita berupaya mengamalkan dua doa agung tadi setiap selesai shalat, dan pada waktu-waktu mustajab. Sertakan diri kita dalam amal jamaah, perkuat hubungan dengan sesama, dan rutinkan ibadah yang mampu kita teruskan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang teguh, yang istiqomah hingga akhir, dan dikumpulkan dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك، ولا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا، وهب لنا من لدنك رحمة، إنك أنت الوهاب. اللهم اجعلنا من عبادك الصالحين، وثبت أقدامنا على طاعتك حتى نلقاك وأنت راضٍ عنا

عباد الله،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدْكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Hidayatullah Perkuat Literasi Kesehatan di Kalangan Santriwati Lewat Edukasi Reproduksi

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat kesadaran kesehatan di kalangan generasi muda, Pondok Pesantren Ashabul Kahfi Putri Bekasi menjadi tuan rumah kegiatan edukasi dan penyuluhan kesehatan bagi para santriwati, Rabu, 28 Jumadil Awal 1447 (19/11/2025). Program ini terlaksana atas kolaborasi antara Departemen Sosial DPP Hidayatullah, PT DMS, dan pihak pesantren.

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah, Imron Faizin, menegaskan bahwa peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat merupakan bagian penting dari misi sosial lembaganya.

“Departemen Sosial DPP Hidayatullah berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat, terutama di kalangan remaja putri. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan di masa depan,” ujarnya.

Menurut Imron, pesantren memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai hidup sehat di kalangan generasi muda. Melalui kegiatan edukatif yang bersifat aplikatif, para santriwati diharapkan tidak hanya memahami aspek spiritual, tetapi juga mampu mengelola kesehatan diri sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan keimanan. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya Hidayatullah membangun masyarakat madani yang sehat, berdaya, dan berpengetahuan.

Edukasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut berfokus pada kesehatan remaja putri, termasuk pemahaman tentang pubertas, siklus haid, dan pentingnya menjaga kebersihan serta kesehatan reproduksi.

Materi ini dirancang agar mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari para santriwati. Sebanyak 53 santriwati dan 10 pengasuh mengikuti kegiatan ini dengan antusias, menunjukkan tingginya minat terhadap isu kesehatan di lingkungan pesantren.

Perwakilan pengurus Yayasan Ashabul Kahfi Bekasi, Ustadz Syukur, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada PT DMS dan Departemen Sosial DPP Hidayatullah atas dukungan yang telah diberikan. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran kesehatan reproduksi di kalangan remaja putri,” ujarnya.

Dukungan dari pihak swasta juga terlihat melalui partisipasi PT DMS. Perwakilan perusahaan, Bu Uning, menyampaikan bahwa keterlibatan mereka dalam kegiatan sosial pendidikan merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk ikut berperan dalam pembangunan masyarakat yang lebih sehat.

“Alhamdulillah, kami sangat senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kami berharap pengetahuan yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi para santriwati dan membantu mereka menjaga kesehatan mereka,” tuturnya.

Kegiatan ditutup dengan pembagian produk herbal dari PT DMS berupa suplemen alami untuk membantu mengatasi nyeri haid.

Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berarti dalam mendukung kesehatan santriwati, sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya perawatan tubuh secara alami dan berkelanjutan.

Naspi Arsyad Terima Silaturrahim DPP Partai Gema Bangsa, Tekankan Politik Berkeadaban

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Naspi Arsyad, Lc., menerima kunjungan silaturrahim Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gema Bangsa yang diterima di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu (19/11/2025).

Kedatangan rombongan Partai Gema Bangsa dipimpin Ketua Umum Ahmad Rofiq, didampingi Muhammad Sopiyan selaku Sekretaris Jenderal, Ratih Purnamasari Bendahara Umum, Abd. Khaliq Ahmad Wakil Ketua Umum, dan Joko Kanigoro dan Nurmala sebagai Waketum.

Selain itu, dari DPP Partai Gema Bangsa juga hadir dr Yandra Doni Ketua Bidang Politik, Moh Shofan Ketua Bidang Keagamaan, Ike Julies Tiati Ketua Bidang Digital, Komunikasi dan Media, serta Denny Adin Ketua Bidang Sosial dan Kebencanaan. Turut hadir pula Hasan Asy’ari Wasekjen OKK, Ayun Sri Damayanti Wahyuni Wasekjen Bidang Media, dan Ade Wardhana selaku Ketua DPW Partai Gema Bangsa Jawa Barat.

Dari Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ketua Umum KH. Naspi Arsyad didampingi Bendahara Umum Suwito Fattah, Wakil Sekretaris Jenderal Muhammad Isnaini, Ketua Bidang Tarbiyah Muzakkir Usman, dan Ketua Departemen Kesehatan Muhammad Ihsan Taufik.

Dalam pengantar dialog, Ahmad Rofiq memperkenalkan struktur partainya dan orientasi politik yang sedang dibangun. Ia menekankan bahwa Partai Gema Bangsa bergerak sebagai partai modern yang mengedepankan komunikasi langsung dengan tokoh-tokoh bangsa melalui jalur silaturahmi. Baginya, percakapan yang terbuka mampu menyuburkan gagasan kebangsaan yang konstruktif.

“Dengan silaturahmi seperti ini komunikasi akan mulai terbangun sehingga mampu meyakinkan tokoh atau ulama terhadap gagasan partai yang berujung pada penerimaan masyarakat terhadap Partai Gema Bangsa,” ujarnya.

Rofiq menambahkan bahwa partainya terus menghimpun masukan sebagai fondasi kebijakan yang berpihak pada kemandirian bangsa. Ia menilai bahwa aspirasi ulama dan tokoh nasional menjadi bahan penting untuk merumuskan arah pembangunan yang mengangkat taraf ekonomi masyarakat.

“Smangat silaturahmi tokoh merupakan modal utama partai untuk dapat diterima dan mendapatkan perhatian publik,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Abd. Khaliq Ahmad, menguatkan pesan tersebut dengan menegaskan komitmen inklusivitas partainya. Ia menilai bahwa pertemuan dengan Hidayatullah merupakan bagian dari penghargaan terhadap ormas yang selama ini berkiprah dalam dakwah di seluruh pelosok negeri.

“Ormas ini telah berhasil menjadi juru dakwah hampir di semua pelosok negeri, ia telah mengirimkan dai-dai di tempat-tempat yang terisolir di seluruh Indonesia,” kata Abd. Khaliq.

Dalam suasana yang hangat dan dialogis, KH. Naspi Arsyad memberikan penghargaan terhadap inisiatif komunikasi politik Partai Gema Bangsa. Ia menyambut baik silaturahmi tersebut sebagai upaya memperkuat bangunan kebangsaan melalui jalur komunikasi terbuka.

Dalam keterangannya, Naspi menegaskan karakter Hidayatullah sebagai organisasi dakwah yang tidak terlibat politik praktis namun tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan kebangsaan.

“Hidayatullah tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, namun kami mendorong semua elemen, termasuk partai politik, untuk memperjuangkan politik Pancasila yang adiluhung dan berkeadaban demi kebaikan bangsa,” katanya.

Naspi menambahkan, politik yang luhur adalah politik yang menegakkan nilai, menjaga martabat bangsa, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat.

Dalam pada itu, ia menegaskan posisi Hidayatullah dalam lanskap kebangsaan sebagai mitra etis yang menjaga keseimbangan antara dakwah, moralitas publik, dan kepentingan nasional.

Relevansi Ilmu dan Strong Leadership dalam Dinamika Peradaban Islam

0

ADA salah satu pernyataan reflektif yang disampaikan Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, dalam taushiyah subuh pada Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, Senin, 26 Jumadil Awal 1447 (17/11/2025): “Basis kejayaan sebuah peradaban adalah ilmu dan kepemimpinan.”

Pernyataan tersebut merupakan sebuah tesis historis mengenai fondasi bangunan peradaban yang selalu berulang sepanjang sejarah manusia.

Dua pilar utama ini, ilmu dan kepemimpinan, merupakan fondasi struktural yang menentukan apakah suatu peradaban dapat tumbuh, bertahan, atau runtuh. Dalam konteks dunia global saat ini, keduanya tampak begitu jelas dalam dominasi peradaban Barat.

Sementara itu, dunia Islam menghadapi tantangan besar dalam merawat kedua pilar tersebut agar mampu kembali berkontribusi bagi pembangunan peradaban yang bermartabat. Melalui tinjauan historis, kita dapat memahami dinamika peradaban melalui dua kata kunci ini.

Pada masa modern, peradaban Barat mendominasi lanskap global karena kemampuannya mengembangkan tradisi filsafat, sains, dan penelitian modern secara berkelanjutan. Kemajuan teknologi yang dihasilkan menjadi fondasi kekuatan politik, ekonomi, militer, serta sosial budaya Barat.

Hingga kini, Barat menjadi kiblat dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, negara-negara Barat juga berhasil memainkan peran penting dalam kepemimpinan internasional melalui penguatan sistem politik dan institusi global yang berbasis nilai-nilai demokrasi liberal.

Struktur kekuasaan global yang mereka bentuk membuat banyak negara di kawasan Timur berada dalam posisi yang harus menyesuaikan diri dengan standar dan kepentingan Barat.

Terjebak Romantisme Kejayaan Masa Lalu

Berbeda dengan kondisi tersebut, peradaban Islam pada masa kini berada pada posisi yang kurang kompetitif dibandingkan peradaban modern Barat. Salah satu faktor utama adalah perkembangan ilmu pengetahuan yang belum sepenuhnya matang, belum terarah, dan belum memiliki kerangka epistemologis yang solid.

Di beberapa konteks, diskursus keilmuan masih terjebak pada romantisme kejayaan masa lalu sehingga pembaruan metodologis dan tradisi riset belum berkembang optimal. Secara epistemologis, dunia Islam menghadapi persoalan ketidakjelasan arah, integrasi keilmuan yang belum menyatu, dan orientasi yang belum terbangun secara kuat.

Di tingkat kepemimpinan global, umat Islam juga menghadapi tantangan fragmentasi. Batas-batas nasional membuat potensi kolektif umat tidak terkonsolidasi. Sebagian kepemimpinan internal umat pun menghadapi degradasi kualitas, baik dari sisi integritas, kapasitas, maupun visi peradaban. Ini melemahkan daya dorong kemajuan umat Islam secara keseluruhan.

Padahal, peradaban Islam pada masa Rasulullah dan para sahabat telah memberi model terbaik mengenai bagaimana ilmu dan kepemimpinan menjadi kunci kejayaan. Sejarah Islam awal tidak hanya menampilkan kesalehan spiritual, tetapi juga kemampuan membangun fondasi intelektual dan kepemimpinan yang kokoh.

Untuk memahami hal ini, metafora pertumbuhan bambu moso (phyllostachys edulis) sering digunakan dalam kajian manajemen dan pengembangan sumber daya manusia.

Tumbuhan ini mengalami fase pertumbuhan akar yang intensif selama bertahun tahun sebelum memperlihatkan perkembangan signifikan di permukaan. Pola tersebut adalah penegasan pentingnya foundation building sebelum memasuki fase ekspansi struktural.

Dalam sejarah Islam, periode Makkiyah merupakan fase pembentukan pondasi epistemologis dan spiritual bagi proyek peradaban Islam. Fase ini bersifat supra struktur, yakni pembangunan akar sebelum struktur dan infra struktur dakwah berkembang.

Pada periode Makkiyah, Rasulullah membangun tauhid sebagai akar epistemologis ilmu dan spiritualitas sebagai prioritas strategis, sebagaimana akar bambu moso yang tumbuh diam namun menentukan kekuatan pertumbuhan berikutnya.

Penegasan ini semakin kuat ketika kita melihat Wahyu pertama, lima ayat awal Surah al-‘Alaq. Ayat-ayat tersebut menanamkan fondasi epistemologi keilmuan Islam: bahwa al-‘ilm harus berakar pada kesadaran ketuhanan, pengakuan bahwa Allah adalah sumber ilmu, dan bahwa kemampuan intelektual manusia hanya bisa berkembang melalui proses pembelajaran yang selalu bergantung kepada-Nya.

Seluruh surat dan ayat Makkiyah meneguhkan fondasi tauhid. Selama 13 tahun dakwah belum menunjukkan kebesaran struktural, namun dalam 10 tahun setelah hijrah Rasulullah mampu membangun peradaban yang tumbuh sangat cepat.

Pilar kedua kejayaan adalah kepemimpinan yang kuat (strong leadership). Pada fase Makkiyah, Rasulullah memimpin dalam kondisi serba terbatas: kekuatan sosial, ekonomi, dan politik hampir tidak ada; pengikut sedikit; serta tekanan dari elit Quraisy sangat kuat. Dalam teori kepemimpinan modern, ini sebanding dengan foundational leadership, yakni kepemimpinan yang memfokuskan diri pada pembentukan karakter, visi, dan integritas sebelum membangun struktur kekuasaan.

Kepemimpinan Rasulullah tidak dibangun melalui koersifitas atau otoritarianisme, tetapi melalui moral authority dan keteladanan. Model ini dalam studi kontemporer dikenal sebagai transformational leadership, yaitu kepemimpinan yang mengubah nilai dan orientasi pengikut sehingga mereka rela memberikan pengorbanan demi misi bersama. Reputasi sebagai al-Amin sebelum kenabian menjadi modal sosial yang sangat kuat, sementara praktik kepemimpinan partisipatif Rasulullah membangun kepercayaan dan menumbuhkan loyalitas kolektif.

Dalam konteks kekinian, aktualisasi transformational leadership menuntut pemimpin yang tidak hanya memiliki otoritas struktural, tetapi juga otoritas moral.

Di tengah disrupsi teknologi dan kompleksitas sosial, pemimpin transformatif menggerakkan perubahan dengan membangun kepercayaan, menumbuhkan motivasi intrinsik, dan menghidupkan budaya inovasi dalam organisasi.

Dari sini, jelas bahwa ilmu dan kepemimpinan tidak hanya menentukan kelangsungan peradaban, tetapi juga menentukan arah perjalanan suatu bangsa dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Hidayatullah Apresiasi 113 Tahun Kiprah Muhammadiyah Memajukan Kesejahteraan Bangsa

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan apresiasi atas perjalanan panjang Muhammadiyah yang pada tahun ini genap berusia 113 tahun. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah telah dikenal luas melalui gerakan dakwah, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Kiprah tersebut dinilai memberi kontribusi besar bagi perkembangan umat, kesejahteraan, dan kemajuan bangsa selama lebih dari satu abad.

Dalam keterangan yang disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, usia 113 tahun dipandang bukan sekadar capaian waktu. Ia menggarisbawahi bahwa rentang tersebut mencerminkan perjalanan historis dan konsistensi Muhammadiyah dalam melayani umat, mendidik bangsa, serta memperluas pengabdian sosial.

Sebelum memberikan doa dan harapan, Naspi terlebih dahulu menegaskan makna usia panjang Muhammadiyah dalam konteks perjalanan bangsa.

“Selamat milad untuk Muhammadiyah yang ke 113. Atas nama keluarga besar Hidayatullah turut bersyukur atas usia ke-113 Muhammadiyah. Suatu angka yang tidak sekadar menunjukkan berapa lama Muhammadiyah membersamai negara dan umat ini, tapi juga orkestrasi pengabdian dan ketulusan mengabdi yang mengukuhkan Muhammadiyah sebagai bagian utama dari perjalanan bangsa ini,” ujar Naspi usai menghadiri Puncak Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah berlangsung di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Selasa, 27 Jumadil Awal 1447 (18/11/2025).

Menurut Naspi, pengalaman panjang Muhammadiyah memainkan peran strategis dalam pembangunan nasional yang mencerminkan model keteladanan yang berakar pada tradisi ilmu, kepedulian sosial, dan komitmen kebangsaan. Ia menegaskan bahwa aspek-aspek tersebut menjadi rujukan berharga bagi organisasi lain, khususnya generasi ormas yang lebih muda.

Naspi menyinggung peran Hidayatullah yang juga terus belajar dari praktik-praktik baik yang telah ditunjukkan Muhammadiyah, termasuk dari ormas Islam lain di Indonesia. Ia menekankan pentingnya proses saling belajar antarorganisasi agar kontribusi keumatan semakin berkualitas.

“Sebagai Ormas yang lebih muda, Hidayatullah banyak belajar kepada Muhammadiyah sebagaimana Hidayatullah juga belajar dari ormas lain semisal Nahdlatul Ulama dan lainnya,” tambahnya.

Dengan demikian, terang Naspi, relasi antarormas tidak hanya dipahami sebagai ruang kerja bersama, tetapi juga sebagai ruang pertumbuhan dan penguatan kapasitas kolektif.

Ia menyampaikan harapan agar seluruh organisasi Islam dapat terus memaksimalkan kontribusinya bagi negeri, sejalan dengan tema Milad Muhammadiyah ke-113 yaitu “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Tema tersebut dinilai relevan dengan konteks sosial nasional yang memerlukan kolaborasi lintas lembaga dalam memperkuat kesejahteraan publik, peningkatan mutu pendidikan, serta pengembangan gerakan sosial yang berkelanjutan.

Naspi Arsyad menyampaikan doa dan ajakan agar sinergi antarormas Islam terus diperkuat. Ia menekankan bahwa langkah bersama merupakan kebutuhan strategis dalam membangun peradaban yang lebih baik dan memperluas dampak positif bagi masyarakat.

Dia menegaskan posisi penting sinergi dan kolaborasi sebagai modal sosial bangsa. Dalam konteks keindonesiaan yang plural dan dinamis, pesan tersebut menempatkan peran organisasi Islam sebagai mitra strategis dalam membangun tatanan masyarakat yang inklusif, berpengetahuan, dan berdaya.

“Semoga seluruh Ormas Islam terus bersinergi, menyatukan langkah sehingga dapat berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsa dan negara ini, sebagaimana tema milad Muhammadiyah ke-113, Memajukan Kesejahteraan Bangsa,” harapnya.

Bangun Budaya Kinerja, IPQI Tekankan Pentingnya OKR di Orientasi Pengurus Hidayatullah

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, menghadirkan sesi khusus mengenai pentingnya manajemen perencanaan strategis. Materi tersebut disampaikan oleh Konsultan Manajemen Bisnis dan Spesialis Produktivitas dari Indonesia Productivity & Quality Institute (IPQI), Tengku Shahindra, dalam kelas bertema “Objectives and Key Results (OKR)” yang diikuti oleh para pengurus tingkat pusat dari berbagai lini.

Dalam pemaparannya, Tengku Shahindra membangun kesadaran peserta mengenai pentingnya tata kelola organisasi yang terarah dan berorientasi hasil. Selain sebagai alat administrasi, ia menekankan bahwa sistem OKR merupakan pendekatan manajerial yang mengubah cara organisasi bergerak, berfikir, dan mengukur dampak.

“OKRs adalah kerangka berpikir kritis dan disiplin berkelanjutan yang berupaya memastikan tim bekerja sama, memfokuskan upaya pada hal yang paling penting untuk memberikan kontribusi terukur yang akan mendorong organisasi maju,” jelas Shahindra.

Ia menjelaskan bahwa OKR membantu organisasi membangun budaya transparansi karena setiap individu mengetahui apa yang sedang dikerjakan tim lain, termasuk bagaimana kontribusi mereka saling berkaitan. Pendekatan ini, jelasnya, memungkinkan pengurus Hidayatullah untuk bergerak lebih sinkron dalam mencapai sasaran besar organisasi lima tahun ke depan.

Materi yang disampaikan tidak berhenti pada teori, melainkan juga mengajak peserta memahami cara merumuskan tujuan strategis yang bersifat kualitatif, menginspirasi, dan terikat waktu.

Tengku Shahindra mencontohkan bagaimana sebuah tujuan utama organisasi dapat diturunkan menjadi tiga hingga lima objective operasional yang kemudian dibuktikan melalui Key Results yang bersifat terukur.

Dalam pemaparannya, ia menggunakan contoh tujuan besar organisasi, antara lain peningkatan kualitas kader, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan etika sosial menuju peradaban madani. Dari tujuan tersebut, ia mendemonstrasikan bagaimana Key Results dapat disusun dalam bentuk indikator pertumbuhan, kinerja, partisipasi, hingga pendapatan fundraising sesuai target kuartalan.

Sesi kemudian beralih kepada penjelasan mengenai praktek terbaik dalam penyusunan OKR. Shahindra menegaskan bahwa setiap objective harus ambisius namun tetap dapat ditindaklanjuti, sementara Key Results harus dapat diukur, objektif, dan cukup menantang.

Ia kembali menekankan prinsip dasar bahwa tujuan dibuat untuk memberi arah, sedangkan Key Results dibuat untuk mengetahui sejauh mana tujuan tersebut tercapai.

Lebih lanjut, ia menguraikan tiga inisiatif besar yang relevan untuk organisasi berbasis dakwah dan pendidikan seperti Hidayatullah. Inisiatif tersebut mencakup penyelenggaraan Madrasah Kader Inti sebagai pusat pembentukan ulama, intelektual, dan aktivis.

Lalu, inisiatif pemberdayaan komunitas berbasis masjid sebagai pusat sosial-ekonomi serta transformasi peradaban melalui literasi dan advokasi nilai-nilai masyarakat madani.

Ketiga inisiatif tersebut, menurutnya, sangat relevan dengan visi Hidayatullah yang ingin membangun masyarakat berkeadaban dan menjunjung etika publik. Dalam hal ini, ia menekankan bahwa OKR memberi ruang bagi organisasi untuk menerjemahkan visi besar ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat dipantau secara berkala.

Pada bagian akhir sesi, Tengku Shahindra memberikan tugas kelompok kepada para peserta. Tugas tersebut meminta setiap tim merancang OKR beserta inisiatif pendukung untuk empat bidang strategis organisasi, yaitu organisasi-administrasi-politik, pendidikan-perkaderan, dakwah-pelayanan umat, serta ekonomi-keuangan.

Ustadz Abdul Latif Usman Paparkan Hikmah Dakwah dan Tantangan Perjuangan Hidayatullah

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah, Ust. H. Abdul Latif Usman, menyampaikan rangkaian kisah perjalanan dakwah, hikmah, serta pengingat mengenai peran besar organisasi dalam membangun umat.

Pesan pesan tersebut disampaikan dalam sesi tausiyah subuh dalam rangkaian Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, Ahad, 25 Jumadil Awal 1447 (16/11/2025).

Abdul Latif Usman menyampaikan refleksi perjalanan dakwahnya selama bertahun-tahun mengabdi dalam gerakan Hidayatullah. Ia menyaji hikmah tentang bagaimana pertolongan Allah hadir dalam keadaan sulit, bahkan dalam situasi yang sukar dijelaskan dengan logika.

Ia menuturkan bahwa pengalaman tersebut membentuk keyakinan mendalam mengenai hubungan antara ikhtiar dakwah dan pertolongan Allah.

Menurutnya, siapa pun yang menolong agama Allah akan mendapatkan jalan keluar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, termasuk dukungan dari banyak pihak. Hal itu mencakup keterlibatan tokoh masyarakat, warga akar rumput, pejabat, serta individu lain yang pada masa perintisan organisasi memberikan bantuan moral maupun material bagi berkembangnya gerakan Hidayatullah hingga hari ini.

Abdul Latif menyampaikan rasa syukur atas perkembangan organisasi dari masa awal berdirinya hingga fase saat ini. Ia menegaskan bahwa momentum pertumbuhan tersebut merupakan buah dari komitmen untuk mengurus dakwah dan melaksanakan tugas kekhalifahan yang diarahkan untuk menyelamatkan manusia, bangsa, dan negara agar tetap berada dalam jalur kebaikan.

Ia menguraikan capaian struktural Hidayatullah yang telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, keberadaan struktur organisasi yang solid dengan 38 Dewan Pengurus Wilayah (DPW) di tingkat provinsi, 418 Dewan Pengurus Daerah (DPD) di tingkat kabupaten/kota, serta 420 Dewan Pengurus Cabang (DPC) di tingkat kecamatan, merupakan modal besar bagi efektivitas dakwah dan pelayanan umat dan berharap seluruh jaringan tersebut terus diarahkan untuk kepentingan agama dan kebaikan umat.

Dalam konteks amanah besar yang dipikul pengurus pada periode ini, Abdul Latif Usman memberikan penegasan khusus mengenai identitas dan tanggung jawab Hidayatullah.

Ia mengingatkan bahwa pengurus bukan hanya menjalankan fungsi struktural organisasi, tetapi memikul amanah pembinaan umat dan sosial yang memiliki dampak luas.

“Inilah wajah Hidayatullah sesungguhnya, di ruangan ini. Maka bapak bapak sekalian mengemban amanah besar membawa rumah besar ini dalam rangka meraih keberkahan dan ridha-Nya Allah Ta’ala,” tegasnya.

Rumah besar yang dimaksud merujuk pada gerakan dakwah peradaban, pendidikan, dan pembinaan yang telah berkembang secara nasional. Ia juga memberikan peringatan mengenai tantangan yang muncul seiring berkembangnya organisasi.

Ia menegaskan bahwa besarnya jaringan dan keberhasilan gerakan dakwah tidak terlepas dari potensi rintangan, termasuk upaya penyusupan yang bertujuan melemahkan nilai-nilai utama gerakan yang sejak awal menjadi ciri khas Hidayatullah.

Ia menjelaskan bahwa sejarah organisasi menunjukkan pentingnya kewaspadaan kolektif untuk menjaga integritas nilai. Dalam kerangka itu, ia menyampaikan seruan agar seluruh pengurus memperkuat kualitas internal, membangun sinergi, serta meningkatkan kesadaran bersama mengenai tujuan organisasi.

Ia menggarisbawahi pentingnya soliditas dalam menghadapi berbagai dinamika tersebut. Menurutnya, hanya dengan persatuan, kesepahaman, dan penguatan pembinaan, Hidayatullah dapat menjaga keberlanjutannya dalam melayani umat.

LP3H, MES, dan LSH Hidayatullah Gelar Diklat Juleha Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat

0

SUMBA (Hidayatullah.or.od) — Diklat Juru Sembelih Halal (Juleha) kembali menjadi kebutuhan strategis bagi penguatan tata kelola pangan halal di tingkat daerah. Upaya ini terlihat dalam penyelenggaraan Diklat Juru Sembelih Halal Kabupaten Sumbawa Barat yang diselenggarakan pada 15–16 November oleh LP3H Universitas Cordoba bekerja sama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumbawa Barat serta Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa Barat, Wakil Rektor Universitas Cordoba Sumbawa Barat, serta Baznas Sumbawa Barat, dan dihadiri peserta dari berbagai DKM masjid se-Sumbawa Barat, para juru sembelih halal masjid, serta praktisi dari berbagai sektor di Kabupaten Sumbawa Barat.

Penyelenggaraan diklat ini tidak hanya berfungsi sebagai pelatihan teknis, tetapi juga memperkuat ekosistem sertifikasi halal di tingkat lokal. Kehadiran lembaga pendidikan, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat menjadi indikator sinergi dalam memastikan pemenuhan standar penyembelihan yang sesuai syariat dan regulasi nasional. Hal tersebut menjadi penting mengingat meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal, terutama di daerah dengan komunitas keagamaan yang kuat.

Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, sebagai salah satu mitra penyelenggara, menegaskan pentingnya standardisasi juru sembelih halal sebagai bagian dari kualitas pelayanan publik. Ketua LSH Hidayatullah Pusat, H. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., menyampaikan uraian penting mengenai urgensi pelatihan ini.

Nanang menekankan bahwa kompetensi juru sembelih memiliki dampak langsung pada terjaganya kehalalan dan higienitas produk pangan hewani yang dikonsumsi masyarakat luas.

Ia kemudian menjelaskan bahwa penyembelihan halal bukan hanya praktik keagamaan, melainkan sistem yang menuntut pengetahuan, ketelitian, dan prosedur yang benar.

“Penyembelihan halal adalah bagian integral dari rantai pasok halal yang harus dipastikan mutunya. Karena itu, pelatihan seperti ini sangat diperlukan agar para juru sembelih memiliki kompetensi sesuai standar syariat dan mengikuti regulasi nasional yang berlaku,” katanya.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa aspek pembinaan dan sertifikasi harus berjalan beriringan. Sebelum masuk ke kutipan selanjutnya, Nanang menegaskan bahwa model pelatihan terpadu yang melibatkan lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat merupakan bentuk penguatan kelembagaan dalam pengembangan industri halal nasional.

“Sinergi multipihak baik kampus, pemerintah, lembaga keagamaan dan pelaku industri adalah kunci untuk memperkuat ekosistem halal di Indonesia, termasuk di daerah seperti Sumbawa Barat yang memiliki potensi besar dalam pengembangan ternak dan produk pangan,” terangnya.

Nanang pun menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan yang menurutnya menunjukkan komitmen pembinaan sektor pangan hewani yang aman dan halal.

Dia menekankan pentingnya kolaborasi lembaga filantropi dalam mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dasar umat.

“Diklat ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kompetensi juru sembelih halal, meningkatkan kualitas pelayanan masjid, serta mendukung arus besar pembangunan ekosistem halal nasional demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa,” tandas Nanang yang didampingi Ust. H. Muhammad Syarif, S.Pd.I., selaku tim LSH Hidayatullah Pusat yang menjadi salah satu instruktur dalam diklat ini.

KH Hamim Thohari Tekankan Empat Nilai pada Orientasi Pengurus Tingkat Pusat

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH Hamim Thohari, membuka secara resmi Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 yang digelar di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 24 Jumadil Awal 1447 (15/11/2025).

Dalam sambutannya, Hamim menguraikan empat nilai yang ia sebut sebagai fondasi perjuangan agar sebuah gerakan kebaikan dapat terus bertumbuh lintas waktu. Empat nilai dimaksud adalah tahu, mau, mampu, dan waktu.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan kerangka berpikir yang dapat diterapkan secara universal, baik dalam konteks penguatan organisasi Islam maupun dalam upaya merespons kebutuhan umat dan bangsa.

Ia menjelaskan bahwa sebuah gerakan atau individu harus terlebih dahulu memahami tujuan dan orientasi dari setiap tindakan yang dijalankan. “Orang yang berdaya adalah orang yang tahu apa yang dikerjakannya,” katanya menekankan.

KH Hamim melanjutkan pada nilai kedua yaitu kemauan. Ia menekankan bahwa mengetahui saja tidak cukup jika tidak diikuti oleh kesiapan dan kemauan untuk bertindak. Menurutnya, banyak individu yang memiliki pemahaman, namun tidak menunjukkan keberanian untuk melakukan tindakan nyata.

“Tidak sekedar tahu, tapi juga mau. Betapa banyak orang yang tahu, tapi tidak mau melakukan,” ungkapnya.

Pada bagian ini, Hamim mengajak seluruh pengurus untuk menggabungkan dua nilai tersebut agar mampu menjalankan amanah organisasi dengan arah yang jelas. Ia menegaskan korelasi keduanya sebagai elemen dasar yang saling melengkapi dalam proses perubahan.

“Kita ingin tidak sekedar tahu tapi tahu dan mau. Sehingga orientasi ini diharapkan bisa menghantarkan kita ke tujuan,” imbuhnya.

Berikutnya, KH Hamim beralih pada nilai ketiga dan keempat, yaitu mampu dan waktu. Ia menegaskan bahwa setelah seseorang atau organisasi mengetahui dan menginginkan suatu tujuan, maka keduanya harus diikuti oleh kemampuan dalam melaksanakan program serta kesiapan menyediakan waktu untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat.

Dalam penjelasannya, KH Hamim menekankan bahwa kemampuan dan alokasi waktu adalah tuntutan utama bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam pembangunan Islam. “Jadi kita harus tahu, mau, mampu, dan ada waktu untuk Islam,” tekannya.

Dia menekankan bahwa perjuangan tidak hanya ditopang oleh wawasan dan niat, tetapi juga oleh kapasitas teknis serta dedikasi waktu. Khusus bagi pengurus pusat, nilai tersebut dinilai krusial mengingat visi Hidayatullah untuk berkontribusi dalam pembangunan peradaban Islam yang membawa maslahat luas bagi kehidupan masyarakat.

Meneguhkan Kesepahaman

Setelah menguraikan empat nilai perjuangan tersebut, KH Hamim menyoroti pentingnya keselarasan dalam tata kelola organisasi. Forum orientasi ini, menurutnya, merupakan ruang konsolidasi penting untuk membangun kesamaan perspektif di antara unsur Dewan Pengurus Pusat, Dewan Muzakarah, Dewan Murabbi Pusat, Majelis Penasehat, serta Pimpinan Majelis Syura.

Ia mengingatkan bahwa kesepahaman antara pihak yang mengawasi dan pihak yang diawasi merupakan unsur penting dalam menjaga ketertiban dan keharmonisan jalannya organisasi.

“Antara yang diawasi dan mengawasi harus memiliki pemahaman dan ukuran yang sama. Harus ada kesepahaman agar tidak terjadi misinterpretasi dalam tata kelola organisasi,” ujarnya.

KH Hamim kemudian menambahkan bahwa keharmonisan organisasi tidak hanya dibangun melalui aturan dan prosedur, tetapi juga melalui hubungan yang baik dan komunikasi yang berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya kedekatan emosional dan intensitas komunikasi dalam memastikan roda organisasi berjalan efektif sesuai arah kebijakan yang telah dirumuskan.

“Harus ada chemistry yang sama, saling bertemu. Dengan begitu akan enak ini perjalanan,” katanya.

KH Hamim juga memberi penguatan kepada seluruh pengurus agar memaksimalkan potensi yang ada dalam diri maupun dalam lingkungan organisasi. Ia menyampaikan bahwa potensi besar yang dimiliki kepengurusan periode ini harus diolah dengan ilmu agar organisasi dapat melakukan percepatan gerakan secara sistematis.

Ia memantik komitmen bagi seluruh pengurus Hidayatullah periode 2025–2030 untuk merumuskan program-program yang terstruktur, responsif terhadap kebutuhan umat dan bangsa, serta sejalan dengan tujuan besar pembangunan peradaban Islam.

“Dengan potensi luar biasa yang ada ini kita lakukan percepatan dengan ilmu, ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa,” katanya.