Beranda blog Halaman 75

Musim Dingin, Laznas BMH – PT Indo Anata Kirim Selimut untuk Anak dan Lansia Gaza

GAZA (Hidayatullah.or.id) — Penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama PT Indo Anata Development ke Gaza Utara difokuskan untuk melindungi anak-anak, lansia, dan kaum ibu di tengah musim dingin ekstrem. Kehadiran ratusan selimut hangat diharapkan mampu mencegah risiko hipotermia yang mengancam para pengungsi yang kini bertahan di tenda-tenda darurat dengan perlindungan terbatas.

Upaya ini menjadi respons atas kondisi cuaca yang semakin memburuk dan berdampak langsung pada keselamatan kelompok paling rentan. Musim dingin yang melanda Gaza Utara membawa konsekuensi serius bagi warga sipil, khususnya mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan.

Penurunan suhu secara signifikan memperberat situasi pengungsian, di mana banyak keluarga terpaksa bertahan dalam hunian sementara berbahan tipis dan tidak memadai untuk menahan dingin. Dalam kondisi demikian, ancaman gangguan kesehatan meningkat, mulai dari hipotermia hingga penyakit akibat paparan suhu rendah dalam waktu lama.

Menanggapi situasi tersebut, BMH menyalurkan bantuan selimut musim dingin kepada keluarga pengungsi di wilayah Gaza Utara. Distribusi dilakukan melalui jaringan relawan kemanusiaan yang menjangkau titik-titik pengungsian. Program ini sebagai langkah proteksi dasar untuk menjaga ketahanan fisik para penyintas, terutama anak-anak, orang lanjut usia, dan ibu yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap cuaca ekstrem.

Fokus perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan bantuan. Anak-anak dan lansia diketahui memiliki kemampuan adaptasi tubuh yang lebih terbatas terhadap suhu dingin, sementara kaum ibu sering kali memikul beban ganda dalam memastikan keberlangsungan hidup keluarga di pengungsian. Oleh karena itu, kehadiran selimut hangat diposisikan sebagai kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda.

Selain berfungsi sebagai pelindung dari udara dingin, selimut juga diharapkan dapat meminimalkan risiko penyakit yang kerap muncul selama musim dingin, seperti infeksi saluran pernapasan dan penurunan daya tahan tubuh.

Realisasi program kemanusiaan ini terlaksana melalui sinergi antara BMH dan mitra strategis dari sektor swasta. Seluruh bantuan selimut musim dingin tersebut merupakan amanah dari PT Indo Anata Development, yang menyalurkan dukungannya melalui BMH.

Direktur Utama BMH, Supendi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa dukungan tersebut memiliki arti strategis dalam upaya melindungi warga sipil yang terdampak musim dingin ekstrem.

“Komitmen beliau telah menghadirkan perlindungan dasar yang sangat krusial bagi warga Palestina. Semoga kebaikan ini mendatangkan berkah bagi keluarga besar PT Indo Anata Development dan menghadirkan kehangatan bagi saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Supendi dalam keterangannya pada 7 Januari 2026.

Apresiasi juga disampaikan kepada Mazz Reza Pranata selaku pemilik PT Indo Anata Development yang telah mengamanahkan bantuan tersebut. Dukungan ini dinilai memperkuat keberlanjutan program kemanusiaan, khususnya dalam situasi darurat yang menuntut respons cepat dan tepat sasaran.

BMH menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam penyaluran bantuan kemanusiaan lintas negara sesuai dengan prinsip kemanusiaan universal. Fokus pada keselamatan anak-anak, lansia, dan kaum ibu menjadi penegasan bahwa upaya kemanusiaan harus berpijak pada prioritas perlindungan terhadap mereka yang paling rentan terdampak konflik dan kondisi alam ekstrem.

Relawan Bersihkan Warung Warga untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Relawan kemanusiaan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyasar kedai dan warung milik warga di Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk dibersihkan agar dapat segera difungsikan kembali sebagai ruang usaha.

Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025. Dengan mengaktifkan kembali aktivitas jual beli di tingkat lokal, relawan berharap roda ekonomi warga dapat berputar secara bertahap.

Fokus utama aksi kali ini diarahkan pada fasilitas usaha kecil milik warga yang terdampak endapan lumpur dan sisa material banjir, khususnya kedai dan warung yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.

Berbeda dari tahap awal tanggap darurat yang menitikberatkan pada evakuasi dan bantuan kebutuhan dasar, fase pemulihan saat ini diarahkan pada penguatan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Relawan menilai bahwa keberfungsian warung dan kedai memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai tempat usaha, tetapi juga sebagai pusat interaksi warga di tingkat gampong.

Aksi pembersihan dipimpin oleh Nur Huda Ramadihan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian panjang pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang. Menurutnya, hingga awal Januari 2026, proses rehabilitasi masih terus berjalan di berbagai sektor, meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala di lapangan.

“Pemulihan pascabanjir bandang November 2025 masih terus dilakukan. Fokusnya tidak hanya pada pembersihan rumah warga, tetapi juga fasilitas publik seperti sekolah, layanan trauma healing bagi anak-anak, pembangunan hunian sementara, serta pemulihan layanan dasar seperti air bersih, listrik, dan kesehatan,” ujar Nur Huda dalam laporan lapangannya kepada media ini, Selasa, 15 Rajab 1447 (6/1/2025).

Ia menjelaskan bahwa keterlibatan relawan tidak berdiri sendiri. Upaya pemulihan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah daerah, relawan lintas organisasi, serta unsur swasta. Sinergi tersebut diarahkan untuk membersihkan lumpur yang masih menutupi sejumlah kawasan, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan memulihkan fungsi layanan publik yang sempat terhenti.

Dalam keterangannya, Nur Huda juga mengungkapkan bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar. Beberapa wilayah di Aceh Tamiang belum dapat diakses secara optimal akibat lumpur tebal dan kerusakan jembatan. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi bantuan serta mobilitas warga yang hendak kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Masih ada wilayah yang sulit dijangkau karena lumpur tebal dan jembatan yang rusak. Puluhan sekolah belum dapat beroperasi normal, dan sebagian warga masih mengandalkan penerangan bohlam kecil karena listrik belum sepenuhnya pulih,” katanya.

Pembersihan kedai dan warung, jelas Nur Huda, sebagai langkah praktis yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan lingkungan usaha yang kembali bersih dan layak, warga memiliki kesempatan untuk memulai kembali aktivitas ekonomi, meskipun dalam skala terbatas. Relawan membantu membersihkan lantai, peralatan, serta area sekitar warung agar aman dan higienis untuk digunakan.

Nur Huda menegaskan harapannya agar aksi-aksi serupa dapat terus berlanjut. Ia menyadari bahwa kapasitas relawan memiliki keterbatasan, namun pendampingan tetap diupayakan secara konsisten agar warga tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi dampak pascabencana.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berjalan. Dengan segala keterbatasan yang ada, relawan berupaya tetap mendampingi masyarakat agar perlahan bisa bangkit dan kembali beraktivitas,” ujarnya.

Di tengah kerusakan infrastruktur dan keterbatasan layanan dasar, pengaktifan kembali ruang-ruang ekonomi lokal diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi masyarakat untuk menata ulang kehidupan pascabencana secara bertahap dan berkelanjutan.

Dari Madura hingga Tuban, Hidayatullah Dorong Kolaborasi Dakwah dan Pembangunan Daerah

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar oleh Hidayatullah di sejumlah wilayah Jawa Timur menjadi ruang konsolidasi penting antara organisasi kemasyarakatan dan pemangku kepentingan daerah. Dua forum yang berlangsung pada Sabtu, 14 Rajab 1447 (3/1/2026), masing-masing di kawasan Madura dan Kabupaten Tuban, menegaskan arah penguatan dakwah, kemandirian organisasi, serta perluasan kerja kolaboratif untuk kemaslahatan masyarakat.

Di wilayah Madura, Musda DPD Hidayatullah Rayon Madura yang mencakup Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep dihadiri peserta dari unsur pengurus dan kader. Forum Musda adalah sarana evaluasi internal sekaligus perumusan langkah strategis menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.

Kehadiran Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, menandai keterlibatan pemerintah daerah dalam mendorong sinergi program keumatan dan pembangunan.

Dalam sambutannya, Imam Hasyim menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah yang dinilai konsisten berperan dalam penguatan masyarakat. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan dan siap mengawal inisiatif yang disusun secara terencana.

Menurutnya, dakwah dan pembangunan daerah dapat berjalan beriringan selama dibangun di atas komitmen bersama dan kepercayaan yang berkelanjutan.

Sementara itu, arahan organisasi disampaikan oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie. Ia menegaskan bahwa tantangan dakwah pada masa kini semakin kompleks, sehingga menuntut peningkatan profesionalisme dan penataan internal yang lebih serius. Musda, menurutnya, harus menjadi titik tolak pergerakan organisasi agar program tidak berhenti pada wacana, melainkan terimplementasi secara terukur dan berkesinambungan.

Selain agenda persidangan, Musda Rayon Madura juga dirangkaikan dengan kegiatan sosial berupa penyaluran paket sembako kepada anak yatim. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penegasan bahwa dakwah tidak hanya hadir dalam forum diskusi, tetapi juga terwujud dalam aksi nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Jalannya musyawarah berlangsung tertib dan khidmat, dengan suasana kekeluargaan yang terjaga hingga akhir kegiatan.

Musda di Bumi Wali

Pada hari yang sama, Musda Hidayatullah Kabupaten Tuban diselenggarakan di Aula SD Integral Hidayatullah dengan peserta 50 orang yang berasal dari berbagai unsur struktur dan amal usaha. Forum ini mengusung tema peneguhan jati diri, kemandirian, dan kebermanfaatan, dengan penekanan pada semangat kolaborasi, inovasi, dan karya sebagai arah gerakan ke depan.

Sekreatris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Idris, dalam pemaparannya menekankan pentingnya kualitas kader sebagai fondasi masa depan organisasi. Ia menyampaikan bahwa jati diri organisasi berfungsi sebagai kompas yang menjaga arah dakwah agar tetap relevan di tengah tantangan globalisasi, disrupsi sosial, dan dinamika ideologis.

“Pegangan pada nilai-nilai dasar menjadi faktor utama agar gerakan tetap kokoh dan adaptif,” tegasnya.

Dari unsur legislatif daerah, Ketua DPRD Kabupaten Tuban, Sugiantoro, menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah yang dinilai memiliki program nyata di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Ia memandang keberadaan organisasi kemasyarakatan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang inklusif.

Musda yang berlangsung di kota berjuluk Bumi Wali ini juga menjadi momentum penataan kepemimpinan organisasi. Lajianto terpilih sebagai Ketua DPD Hidayatullah Tuban. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa gerakan ke depan perlu dijalankan secara kolektif, kreatif, dan produktif, sejalan dengan semangat kolaborasi yang dikembangkan pemerintah daerah.

Rangkaian kegiatan Musda Tuban turut diwarnai kehadiran alumni santri yang datang dari berbagai daerah. Seperti halnya di Madura, kegiatan sosial berupa pembagian sembako kepada masyarakat sekitar juga menjadi bagian dari agenda, menegaskan orientasi kebermanfaatan sosial organisasi.

“Forum musyawarah ini sebagai instrumen strategis untuk memastikan keberlanjutan gerakan yang terarah, terukur, dan berdampak luas,” imbuh Idris menandaskan.

Ustadz Ahmad Fitri Teladan Pendidik yang Menyatukan Ketegasan dan Kasih Sayang

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keluarga besar Hidayatullah berduka atas meninggalnya Ustadz Ahmad Fitri, salah satu pendidik dan dai senior Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Beliau wafat pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6/1/2026) pukul 05.09 WITA di RS Medika Utama Manggar, Kota Balikpapan.

Wafatnya Ustadz Ahmad Fitri meninggalkan duka yang mendalam. Kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang pendidik, melainkan perginya sosok guru kehidupan yang membentuk adab, disiplin, dan jiwa para muridnya lintas generasi.

Anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak ini juga dikenal sebagai guru pengabdian KMI Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1971–1976, sebuah fase penting yang menandai jejak panjang pengabdiannya di dunia pendidikan Islam.

Kesan personal tentang almarhum diungkapkan dengan sangat hangat oleh murid murid dan orang yang pernah bersinggungan dengan beliau, salah satunya Ahmad Buchory Muslim Al Floresy. Ia mengenang perjumpaan pertamanya di Gunung Tembak pada waktu Maghrib, saat suasana pesantren terasa begitu sejuk dan teduh.

Menurutnya, keteduhan itu seolah memancar dari wajah dan hati para penghuninya, terutama dari sosok Ustadz Ahmad Fitri yang menyapanya dengan lembut, namun dengan pandangan tajam penuh makna, seakan telah lama saling mengenal.

Senyum khas sang guru, yang lahir dari kebiasaan dzikir dan qiyamullail, menjadikan pertemuan itu terasa seperti perjumpaan antara orang tua dan anak—hangat, nyaman, dan membekas.

Sebagai guru, Ustadz Ahmad Fitri dikenal mengajar Fiqh dan Ushul Fiqh dengan kesungguhan yang konsisten. Ahmad Buchory juga mencatat keistimewaan lain: almarhum adalah seorang khaththath, pemilik tulisan kaligrafi indah yang dahulu menghiasi kantor pondok dan rumah-rumah warga.

Bahkan sebagian karya itu dirangkai dari butiran cengkeh, merefleksikan keterikatan beliau dengan daerah asalnya, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Gaya mengajarnya pun khas—selalu diawali dengan pembacaan Surah Adz-Dzariyat ayat 56, disertai senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.

Kedekatan hubungan guru dan murid semakin terasa ketika Ahmad Buchory dipercaya mendampingi Ustadz Ahmad Fitri dalam perjalanan dauroh ke Jakarta bersama Ustadz Syamsu Rijal Palu.

Dalam perjalanan itu, beliau bersilaturahmi dengan guru-gurunya di Gontor, sahabat, serta keluarga yang menetap di Jakarta, termasuk tokoh-tokoh umat seperti Habib Chirzin dan KH Ahmad Cholil Ridwan. Jejaring keilmuan dan persahabatan itu menunjukkan bahwa almarhum adalah sosok yang menjaga sanad ilmu sekaligus ikatan ukhuwah.

Kedisiplinan dan Pendidikan Karakter

Kesaksian lain datang dari Ustadz Mushaddiq, alumnus Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyah (Marama) Hidayatullah Balikpapan angkatan II tahun 1994. Ia mengenang ketegasan Ustadz Ahmad Fitri sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter.

Menurut Mushaddiq, almarhum sangat disiplin dan detail: buku tidak boleh terlipat, tulisan harus rapi sesuai margin, dan membuka buku pun harus pelan karena di dalamnya terdapat risalah ilmu.

“Bahkan keterlambatan menjawab salam guru atau kerapian berpakaian bisa berujung pada taujih yang mendidik seluruh kelas,” kata Mushaddiq.

Namun di balik ketegasan itu, Mushaddiq juga mengisahkan kelapangan hati sang guru. Suatu ketika, setelah terjadi teguran keras di kelas, seluruh santri sepakat mendatangi rumah beliau untuk meminta maaf. Mereka datang dengan rasa takut, tetapi justru disambut senyum lebar dan hidangan makanan yang telah disiapkan.

Dengan penuh kebapakan, Ustadz Ahmad Fitri mempersilakan mereka makan bersama dan menyatakan bahwa semua telah dimaafkan. Teguran telah selesai, dan kasih sayang kembali mengalir tanpa sisa.

Duka yang sama juga disampaikan oleh murid beliau yang kini menjadi tokoh nasional, Hidayat Nur Wahid. Dalam pesan singkatnya, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya guru yang telah mendidik dengan ilmu dan amal.

Ia mendoakan agar seluruh perjuangan dan pengabdian Ustadz Ahmad Fitri diterima Allah sebagai ibadah, menjadi jalan menuju derajat mulia di surga, serta mengingatkan para murid untuk melanjutkan kiprah dan nilai-nilai yang telah diwariskan.

Kini, meski raga telah kembali kepada Sang Pencipta, hubungan batin itu tetap tersambung—melalui putra-putra beliau, melalui para murid, serta melalui keluarga besar Hidayatullah di berbagai penjuru dunia. Yang tertinggal adalah jejak adab, disiplin, dan cinta pada ilmu yang terus hidup dalam ingatan dan praktik para muridnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat pulang, wahai guru dan pejuang. Engkau telah menunaikan bhakti dengan penuh ketulusan. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya, bersama para pendidik dan orang-orang saleh.

Silaturrahim Turda DPW Sulteng Teguhkan Peran Strategis Kader di Masyarakat

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Kader Hidayatullah diposisikan sebagai muslim tercerahkan yang memakmurkan bumi melalui peran-peran strategis dalam tarbiyah dan dakwah di tengah masyarakat.

Kerangka pemikiran tersebut menjadi pokok pembinaan yang disampaikan dalam rangkaian roadshow kunjungan silaturahim turun ke daerah (turda) dan penguatan kelembagaan yang dilakukan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah, Sarmadani Karani, ke sejumlah daerah pada awal Januari 2026.

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana konsolidasi internal, silaturahim kader, serta penguatan visi dakwah dan tarbiyah organisasi di tingkat daerah.

Rangkaian kunjungan dimulai pada 2 Januari 2026 di Kabupaten Poso. Dalam pertemuan bersama pengurus dan kader setempat, Sarmadani menyampaikan arahan mengenai pentingnya penguatan struktur kelembagaan dan keberlanjutan program dakwah.

Silaturahim tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang dialog untuk menyelaraskan program wilayah dengan kebutuhan riil masyarakat di daerah.

Usai dari Poso, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Tojo Una-Una dengan menggunakan Armada Dakwah Hidayatullah Sulawesi Tengah. Setibanya di Ampana, ibu kota kabupaten tersebut, rombongan DPW didampingi Ketua DPD Hidayatullah Tojo Una-Una, Raihan, serta Bendahara DPW Sulawesi Tengah, Awaluddin Buhari.

Mereka bersilaturahim dengan Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, dalam pertemuan yang berlangsung di masjid yang berada di samping kediaman bupati. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana akrab dan penuh keterbukaan.

Agenda silaturahim kemudian berlanjut ke Kabupaten Banggai, tepatnya di Luwuk. Selama satu hari berada di wilayah ini, rombongan DPW menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh masyarakat, pengurus, serta simpatisan Hidayatullah. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan jejaring dakwah dan sinergi sosial agar program-program keumatan dapat berjalan selaras dengan dinamika lokal.

Rute terakhir dari rangkaian kunjungan wilayah ini adalah Kabupaten Banggai Kepulauan. Rombongan menyeberang menggunakan Kapal Ferry KM Fungka Permata 09 dan tiba di Banggai Kepulauan pada Ahad sore, 4 Januari 2026. Kehadiran Ketua DPW disambut oleh Ketua DPD setempat, Arsil, beserta jajaran pengurus.

Di hadapan para santri dan pengurus, Sarmadani menyampaikan tausiyah pembinaan yang menegaskan posisi kader Hidayatullah dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kader Hidayatullah sebagai seorang muslim tercerahkan adalah pemakmur bumi melalui peran-peran strategisnya dalam tarbiyah dan dakwah di masyarakat,” katanya, seraya menegaskan bahwa pengabdian kader tidak terbatas pada aktivitas internal organisasi, melainkan berorientasi pada kontribusi sosial yang luas.

Dalam penjelasannya, Sarmadani juga mengaitkan visi membangun peradaban Islam dengan kerja-kerja nyata di tengah umat. Menurutnya, visi tersebut mengandung semangat pelayanan dan pencerahan agar masyarakat semakin memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur ajaran Islam.

Oleh karena itu, lanjut Sarmadani, Hidayatullah di Sulawesi Tengah diarahkan untuk menghadirkan majelis-majelis Al-Qur’an sebagai sarana literasi keislaman yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Selain pembinaan keagamaan, kegiatan di Banggai Kepulauan juga diisi dengan aksi kepedulian lingkungan melalui penanaman pohon jambu air di lingkungan pesantren. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap kelestarian alam, sekaligus penguatan kesadaran bahwa dakwah Islam juga mencakup kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Di hadapan sekitar 30 santri, wartawan senior ini turut memberikan pelatihan jurnalistik singkat. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan dasar-dasar jurnalistik dan pentingnya dokumentasi kegiatan dakwah secara akurat dan bertanggung jawab. Pembekalan ini ditujukan agar santri memiliki keterampilan dasar dalam menyampaikan informasi positif kepada masyarakat luas.

Rangkaian kunjungan wilayah tersebut ditutup dengan perjalanan kembali ke Luwuk Banggai pada 5 Januari 2026. Sebelum kembali, rombongan menyempatkan diri bersilaturahim dengan salah seorang tokoh masyarakat di Salakan, Hj. Adha, dalam rangka mempererat ukhuwah, memperkuat konsolidasi organisasi, serta meneguhkan peran Hidayatullah dalam dakwah dan tarbiyah di seluruh wilayah Sulawesi Tengah.

Pemerintah dan Hidayatullah Perkuat Peran Nilai Keagamaan di Balikpapan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Kota Balikpapan menyatakan harapannya agar komunikasi dan kerja sama dengan Pesantren Hidayatullah dapat terus terjalin secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran nilai-nilai keagamaan dalam menjaga stabilitas sosial dan kedamaian kehidupan bermasyarakat.

Harapan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, dalam forum audiensi dan silaturahmi yang mempertemukan jajaran pemerintah daerah dengan pengelola Pesantren Hidayatullah, sebagai wujud komitmen membangun harmoni sosial di tengah dinamika kota yang terus berkembang.

Pertemuan tersebut berlangsung di lingkungan Kantor Pemerintah Kota Balikpapan pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6//1/2026). Bagus Susetyo hadir langsung dan memimpin dialog bersama pengelola Pesantren Hidayatullah.

Forum pertemuan ini menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai peran strategis institusi keagamaan dalam mendukung ketenteraman sosial serta pembangunan sumber daya manusia di daerah.

Bagus menegaskan bahwa keberadaan tokoh agama dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat perkotaan. Menurutnya, kota yang heterogen seperti Balikpapan membutuhkan fondasi moral yang kuat agar keberagaman dapat dikelola secara konstruktif dan tidak memicu friksi sosial.

Isu-isu yang dibahas dalam audiensi meliputi kontribusi agama dalam memperkuat persatuan umat, pembinaan karakter generasi muda, serta peran pesantren dalam mendukung agenda pembangunan manusia. Diskusi juga menggarisbawahi bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga memerlukan penguatan dimensi etika dan spiritual.

Bagus menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan tokoh agama merupakan elemen kunci dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman dan damai. Ia menilai pesantren tidak semata berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun karakter masyarakat yang beradab dan berdaya saing.

“Kami percaya, pembangunan yang berkelanjutan harus dibarengi dengan penguatan nilai moral dan spiritual. Pesantren dan tokoh agama memiliki peran besar dalam membentuk masyarakat yang berakhlak, toleran, dan saling menghargai,” ujar Bagus dalam kesempatan tersebut.

Ia menegaskan pandangan pemerintah daerah bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan sosial kontemporer. Di tengah laju perkembangan teknologi, urbanisasi, dan perubahan pola interaksi sosial, tokoh agama dipandang sebagai penyeimbang yang mampu memberikan rujukan etis bagi masyarakat.

Sementara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Dr. Arfan, M.Pd.I., menekankan bahwa kolaborasi yang terbangun antara pemerintah dan pesantren diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga persatuan serta ketenteraman sosial di Kota Balikpapan.

Arfan mengatakan, audiensi tersebut juga mengangkat pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menghadapi tantangan ke depan.

“Forum pertemuan memandang bahwa kompleksitas persoalan sosial membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur, termasuk institusi keagamaan, masyarakat sipil, dan dunia pendidikan,” kata Arfan dalam keterangannya.

Dia menekankan bahwa kedamaian dan ketenteraman masyarakat tidak dapat dilepaskan dari peran aktif lembaga-lembaga keagamaan dalam menanamkan etika sosial, toleransi, dan semangat persaudaraan.

Dengan terbangunnya kerja sama yang berkelanjutan, terangnya, diharapkan Hidayatullah terus berkontribusi sebagai mitra strategis dalam menjaga kedamaian sosial.

Dia memandang sinergi ini sebagai langkah penting untuk memastikan bahwa pembangunan kota berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai moral yang menjadi perekat kehidupan bermasyarakat di Balikpapan.

Ustadz Ahmad Fitri Berpulang, Ketum Hidayatullah Kenang Keteguhan Prinsip dan Kesederhanaan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan rasa duka dan belasungkawa atas wafatnya Ustadz Ahmad Fitri, Anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak sekaligus guru pengabdian KMI Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1971–1976. Almarhum wafat pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6/1/2026) pukul 05.09 WITA di RS Medika Utama Manggar, Kota Balikpapan.

Dalam keterangannya, Naspi Arsyad menguraikan kesaksian tentang pribadi almarhum sebagai figur pendidik yang memadukan ketegasan prinsip, keteladanan ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensi dalam amanah. Menurut Naspi, karakter tersebut terbentuk dari keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran dan kesediaan untuk menjaga nilai, meski harus berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

Ia menjelaskan bahwa almarhum dikenal sebagai sosok yang tidak mudah berkompromi dalam urusan prinsip. Ketika telah meyakini suatu perkara sebagai kebenaran, almarhum akan menjaganya secara utuh, bahkan dalam hal-hal yang oleh sebagian orang dipandang remeh. Keteguhan ini, menurut Naspi, bukan keras tanpa arah, melainkan konsistensi pada nilai yang diyakini benar.

“Beliau sosok yang tegas. Ketika telah berpegang dan meyakini satu kebenaran, maka beliau akan memegangnya dengan sungguh-sungguh dan siap berhadapan dengan siapa pun yang melanggar atau tidak sejalan dengan prinsip kebenaran tersebut, bahkan pada hal-hal yang oleh orang lain dianggap sederhana,” katanya kepada media ini.

Sebagai contoh, Naspi mengisahkan sikap almarhum terhadap perkara penampilan. Bagi almarhum, aspek lahiriah tertentu memiliki keterkaitan dengan nilai dan adab. Ketika ia meyakini suatu model rambut tidak sesuai dengan prinsip yang dipegangnya, ia berani menyampaikan sikap, meski sebagian orang menganggapnya sebagai hal lumrah.

Selain keteguhan prinsip, Naspi menekankan keteladanan almarhum dalam ibadah. Ia menggambarkan komitmen almarhum untuk menjaga kualitas shalat, terutama dalam hal kedisiplinan waktu dan posisi shaf. Bagi almarhum, shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi pusat pembentukan karakter.

“Beliau ahli ibadah. Itu terlihat dari komitmen beliau untuk selalu berusaha shalat di shaf pertama atau tepat di belakang imam. Sangat jarang beliau tertinggal atau masbuk,” kata Naspi tentang sosok alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo ini.

Naspi menambahkan bahwa bahkan ketika almarhum datang ke masjid dalam kondisi waktu yang mepet menjelang iqamah, ia tetap berupaya mendapatkan posisi terbaik dalam shalat. Sikap ini merefleksikan kesungguhan batin dan penghormatan terhadap ibadah berjamaah sebagai sarana pembinaan diri.

Dalam aspek kehidupan sehari-hari, Naspi menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang sederhana. Tidak tampak kemelekatan pada kemewahan, baik dalam penampilan maupun gaya hidup. Kesederhanaan itu tidak dibuat-buat, melainkan pilihan sadar yang menyatu dengan kepribadian.

“Beliau orangnya sederhana. Tidak terlihat ada barang-barang mewah yang melekat pada diri beliau, termasuk di rumahnya. Beliau memilih untuk tidak berkendaraan dari rumah ke masjid dan lebih sering berjalan kaki,” tutur Naspi yang pernah berinteraksi lama dengan almarhum sebagai sesama pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Naspi juga menyampaikan bahwa dalam aktivitas mengajar, almarhum kerap memilih menggunakan transportasi umum. Ia tidak meminta perlakuan khusus, tidak meminta dijemput, dan menjaga jarak dari sikap yang dapat menumbuhkan ketergantungan pada fasilitas.

Lebih lanjut, Naspi menekankan konsistensi almarhum dalam memegang amanah. Baik dalam jadwal mengajar, rapat, maupun kesepakatan organisasi, almarhum dikenal sebagai figur yang dapat diandalkan. Komitmen terhadap waktu dan kesepakatan menjadi bagian dari etos kerja dan keteladanan pendidikannya.

“Beliau konsisten dengan kesepakatan. Baik jadwal mengajar, jadwal rapat, maupun hal-hal yang telah disepakati bersama. Beliau adalah orang yang teguh memegang kesepakatan-kesepakatan itu,” ujar Naspi.

Dia menambahkan, Ustadz Ahmad Fitri sebagai pendidik yang meninggalkan warisan nilai, keteguhan prinsip, kedalaman ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensi amanah yang diembannya menjadi teladan yang relevan bagi dunia pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat di tengah tantangan zaman.

Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Gunung Tembak 1, Kelurahan Teritip, tepat di samping Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak. Pria kelahiran Lingadan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, ini wafat pada usia 81 tahun.

Ustadz Ahmad Fitri telah mengajarkan keteguhan sikap, ketulusan ibadah, dan kesederhanaan hidup yang mengajarkan makna istiqamah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal baktinya sebagai amal saleh yang tak terputus, melapangkan kuburnya, dan meninggikan derajatnya bersama para pendidik, shiddiqin, dan orang-orang saleh, Aamiin.

Gerakan Berlanjut, Tim Siaga Bencana Hidayatullah Dampingi Lansia di Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Gerakan kemanusiaan akan terus dilakukan dan membutuhkan doa serta dukungan dari masyarakat luas. Pesan tersebut disampaikan langsung oleh koordinator relawan dalam aksi pembersihan rumah warga yang kembali digelar oleh relawan Hidayatullah Aceh bersama BMH Perwakilan Aceh di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, 14 Rajab 1447 (3/1/2026).

Aksi sosial tersebut dilaksanakan oleh Tim Siaga Bencana dari Hidayatullah Aceh yang berkolaborasi dengan BMH Perwakilan Aceh. Kegiatan difokuskan pada pembersihan rumah milik sepasang warga lanjut usia yang berdomisili di Dusun Damai, Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru. Rumah tersebut membutuhkan penanganan segera agar kembali layak ditempati oleh penghuninya.

Kehadiran para relawan di lokasi merupakan bagian dari respons kemanusiaan berkelanjutan yang selama ini dijalankan Hidayatullah dan BMH di wilayah Aceh. Kegiatan pembersihan rumah tidak hanya dimaknai sebagai kerja fisik, tetapi juga sebagai bentuk pendampingan sosial bagi warga rentan, khususnya lansia yang memiliki keterbatasan tenaga dan akses.

Aksi lapangan tersebut dipimpin langsung oleh Nur Huda Ramadihan, pengurus DPD Hidayatullah Aceh Besar. Ia mengoordinasikan jalannya kegiatan bersama empat orang alumni Madrasah Aliyah (MA) Luqman Al-Hakim Hidayatullah Lhoknga, Aceh Besar, yang turut menjadi bagian dari tim relawan. Kolaborasi lintas latar belakang ini memperkuat efektivitas gerakan sosial yang dilakukan.

Selain itu, tim relawan juga diperkuat oleh Ustadz Misriyanto, putra daerah Aceh Tamiang yang memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian dakwah dan pendidikan. Dalam perjalanan pengabdiannya, ia pernah mengemban amanah sebagai pimpinan Dayah atau Pesantren Hidayatullah di Lawe Luning Aman, Aceh Tenggara.

Kegiatan pembersihan rumah dilakukan secara gotong royong dengan membersihkan bagian dalam dan luar rumah agar dapat kembali difungsikan secara normal. Bagi pasangan lansia pemilik rumah, kehadiran relawan menjadi bantuan nyata yang sangat berarti, mengingat keterbatasan fisik yang mereka hadapi dalam merawat tempat tinggal.

Dalam keterangannya di sela kegiatan, Nur Huda Ramadihan menegaskan bahwa aksi kemanusiaan semacam ini bukan kegiatan sesaat. Ia menyampaikan bahwa relawan Hidayatullah Aceh dan BMH Perwakilan Aceh berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.

“Gerakan ini akan terus kami lakukan. Kami mohon doa dan dukungan dari semua pihak agar ikhtiar kemanusiaan ini bisa berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Nur Huda Ramadihan.

Secara lebih luas, aksi pembersihan rumah warga lansia di Aceh Tamiang ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan sosial berbasis komunitas. Kehadiran relawan tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan fisik, tetapi juga memberikan penguatan psikologis bagi warga yang menerima bantuan. Rasa diperhatikan dan didampingi menjadi modal penting dalam menjaga martabat dan semangat hidup masyarakat, terutama kelompok rentan.

Melalui kegiatan tersebut, Hidayatullah Aceh dan BMH Perwakilan Aceh menegaskan perannya sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil yang aktif dalam pelayanan sosial. Gerakan kemanusiaan yang dilakukan secara konsisten diharapkan dapat menjadi jembatan solidaritas antara berbagai lapisan masyarakat.

Itsar sebagai Jalan Penguat Organisasi dan Masyarakat

0

SEORANG senior rela sibuk mencarikan rumah kontrakan untuk kader yuniornya. Setelah menemukan rumah yang diharapkan, sang senior menyerahkannya kepada sang yunior. Padahal sang senior juga butuh rumah kontrakan untuk diri dan keluarganya, karena sudah harus segera berpindah dari rumah yang sekarang mereka tinggali.

Sang yunior tidak enak hati. Ia pun meminta agar sang senior menggunakan rumah tersebut. Biarlah dirinya sendiri mencari. Akan tetapi sang senior menolak permintaan itu. Akhirnya, dengan terpaksa dan haru, ia menerima kebaikan sang senior.

Jika mau, sang senior bisa menggunakan rumah tersebut. Ia yang mencari, pun seorang senior. Akan tetapi ia memilih untuk menolong sang yunior. Walaupun dengan begitu, ia sendiri mengalami kesulitan. Inilah contoh itsar.

Itsar dapat diartikan sebagai mendahulukan orang lain. Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9 menyampaikan, “Dan mereka (Anshar) mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Melalui itsar, sang senior yakin Allah ta’ala akan menurunkan pertolongan kepadanya, sebagaimana hadits riwayat Muslim, “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama sang hamba selalu menolong saudaranya.”

Dengan itsar, sang senior menitipkan pesan agar sang yunior percaya bahwa dirinya sedang dieksplorasi, diantarkan untuk menjadi baik dan menyebarkan kebaikan. Dirinya tumbuh semakin berkapasitas. Sementara orang sekitarnya bertumbuh kebahagiaannya karena merasakan banyak kebaikan darinya.

Jika sang yunior ragu, ini bahaya. Satu perasaan buruk berpeluang muncul, yakni merasa dieksploitasi. Eksploitasi bermakna penggalian potensi sumber daya untuk diorientasikan kepada orang lain saja, sementara sang pemilik sumber daya relatif dilupakan.

Eksploitasi tidak jarang menimbulkan masalah berat. Sang yunior sebagai pemilik sumber daya akan kehabisan sumber daya lalu melemah, bahkan burn out. Hidupnya menyentuh titik nadir yang paling nyeri.

Satu yang diharapkan sang senior dari tindakan itsar-nya, yakni para yunior terinspirasi untuk saling itsar juga. Satu sama lain saling menolong sesuai kemampuan. Kedekatan antarperson atau kohesi sosial bisa lebih kuat. Pergerakan organisasi/komunitas lebih solid. Dampak ke masyarakat semakin terasa.

Perihal ini pernah dikaji oleh dilakukan Schiefer dan Noll (2016). Terdapat enam dimensi untuk mengokohkan kohesi sosial: Hubungan sosial, keterhubungan, orientasi baik, nilai-nilai bersama, kualitas hidup subjektif dan objektif, kesetaraan dan ketidaksetaraan.

Mengandalkan indoktrinasi saja bukan keputusan tepat. Aktivitas ini hanya menyentuh satu dua dimensi, lainnya belum. Menariknya itsar berpotensi menyentuh banyak dimensi. Misalkan dengan itsar, kesenjangan ekonomi dapat berkurang.

Satu catatan penting, itsar bukan lahir dari kelemahan. Justru itsar berawal dari kekuatan. Salah satunya kekuatan iman.

Catatan lainnya itsar bisa beresonansi. Orang yang menerima kebaikan lewat itsar, terutama para kader, terantarkan untuk berkeinginan itsar juga. Dengan sedikit penguatan, insya Allah, itsar akan terinternalisasi.

Ibarat siklus, itsar mewujud ke dalam kebaikan. Lalu kebaikan ini menginspirasi pihak lain. Pihak lain kemudian membangun itsar juga. Terus demikian hingga itsar meluas, tidak hanya di satu organisasi/komunitas tertentu.

Memang awalannya tidak mudah. Butuh orang-orang yang istiqomah melahirkan dan menyebarkan itsar. Ibarat pusaran, inti dibutuhkan. Para pengkader dan kader adalah intinya. Jika mereka istiqomah dalam itsar, ada harapan itsar terbentuk juga di masyarakat luas. Sebaliknya jika mereka berhenti, berhenti pula pertumbuhan itsar di masyarakat.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

Dari Ta’aruf Nasional, Bidang Perkaderan Hidayatullah Tekankan Amanah dan Budaya Membaca

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Amanah kepemimpinan dalam kerja-kerja perkaderan hanya dapat dijalankan secara istiqamah apabila disertai kesadaran mendalam terhadap nilai literasi. Penegasan tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Ta’aruf Perkaderan se-Indonesia yang diselenggarakan secara daring oleh Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah pada Senin, 16 Rajab 1447 (5/1/2026).

Pesan tersebut disampaikan Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, di hadapan Kepala Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah dari berbagai wilayah di Indonesia. Forum ini menjadi pertemuan nasional pertama setelah Bidang Perkaderan dibentuk secara struktural di tingkat pusat, dengan mandat strategis dalam penguatan sumber daya kader.

Dalam pemaparannya, Ghofar menjelaskan bahwa pembentukan struktur baru bukan sekadar penataan organisasi, melainkan peneguhan tanggung jawab yang bersifat moral dan spiritual. Ia menyebut amanah sebagai konsep sentral yang tidak dapat dilepaskan dari keimanan. “Ini amanah,” tegasnya dalam forum tersebut.

Menurutnya, dalam tradisi Islam, amanah tidak boleh dikejar secara ambisius, namun juga tidak boleh dihindari ketika telah dipercayakan. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan pribadi dan intelektual agar amanah tidak berubah menjadi beban yang dijalankan secara formalistik semata. Dalam konteks inilah, terang Ghofar, literasi menjadi prasyarat utama kepemimpinan perkaderan.

“Amanah hanya bisa kita laksanakan jika kita yakin kepada Allah, yakin akan adanya surga dan neraka, serta percaya bahwa menjaga amanah adalah tanda iman sejati,” imbuhnya,

Ia menegaskan bahwa membaca merupakan fondasi peradaban seraya menekankan bahwa literasi sebagai instrumen strategis dalam membentuk pola pikir, ketajaman analisis, dan kedewasaan sikap para kader. “Tidak ada orang, apalagi bangsa, yang maju tanpa membaca,” kata Ghofar.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa membaca memiliki dimensi ibadah ketika diniatkan untuk memperkuat amanah dan memperluas kemaslahatan. Dalam kepemimpinan perkaderan, kemampuan memahami realitas, merumuskan kebijakan, dan membimbing generasi penerus sangat ditentukan oleh keluasan wawasan. Tanpa tradisi baca, kepemimpinan rentan terjebak pada pendekatan pragmatis dan kehilangan orientasi nilai.

Ghofar mengangkat teladan sejarah internal organisasi. Ia menyebut pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, sebagai figur yang menempatkan membaca sebagai napas perjuangan. Dalam pandangannya, tradisi intelektual tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan karakter gerakan sejak awal.

Membaca dan Gerakan Hidayatullah

Lebih jauh Ghofar juga menguraikan bahwa kerangka pemikiran Hidayatullah tidak lahir dalam ruang hampa. Prosesnya dibentuk melalui interaksi intensif dengan berbagai karya tokoh nasional dan ulama pemikir. Nama-nama seperti KH Mas Mansoer, Buya Malik Ahmad, Buya Hamka, dan Munawar Khalil disebut sebagai referensi bacaan yang turut memberi warna pada orientasi dakwah dan pendidikan Hidayatullah.

Dalam kesempatan yang sama, Ghofar menyinggung tradisi literasi yang masih terjaga di lingkaran kepemimpinan organisasi. Ia menyampaikan bahwa pimpinan tertinggi Hidayatullah dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan buku. “Hingga kini, Rais ‘Am Hidayatullah pun dikenal sebagai sosok yang gemar membaca. Kado terbaik untuk beliau ya buku,” ungkapnya.

Ghofar menegaskan bahwa tanpa kesadaran literasi, amanah berisiko kehilangan arah. Ketika wawasan menyempit, kepemimpinan dapat tergelincir pada sikap reaktif dan jangka pendek. Sebaliknya, budaya baca memungkinkan kader memahami konteks zaman sekaligus menjaga prinsip dasar gerakan.

Melalui forum nasional ini, dia mengatakan, Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah menegaskan orientasi pembinaan yang berbasis ilmu, akhlak, dan kesinambungan. Amanah kepemimpinan menurutnya adalah tanggung jawab jangka panjang yang hanya dapat ditunaikan melalui ketekunan, keimanan, dan komitmen terhadap literasi sebagai nilai dasar pembentukan kader