Beranda blog Halaman 77

Perpanjangan Izin BMH Teguhkan Sinergi Zakat, Syariah, dan Tata Kelola Negara

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung tahun 2025, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mencatatkan capaian penting dalam penguatan tata kelola kelembagaan zakat di Indonesia. Capaian tersebut menegaskan posisi BMH sebagai mitra strategis negara dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang berlandaskan prinsip keislaman, kepatuhan regulatif, serta tanggung jawab kebangsaan.

Pada Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025), Kementerian Agama Republik Indonesia secara resmi menyerahkan Surat Keputusan Perpanjangan Izin Operasional LAZNAS BMH. Penyerahan berlangsung di Kantor Kementerian Agama RI, Lantai 9, Gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Keputusan ini menjadi dasar hukum keberlanjutan peran BMH dalam penghimpunan dan pendistribusian dana zakat secara nasional.

Surat keputusan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghofur, kepada Ketua Dewan Pengurus LAZNAS BMH, Firman ZA.

Dalam sambutannya, Prof. Waryono menegaskan bahwa perpanjangan izin operasional tidak dapat dipahami semata sebagai prosedur administratif rutin, melainkan sebagai bentuk pengakuan negara terhadap kinerja kelembagaan dan tingkat kepatuhan BMH terhadap regulasi zakat nasional.

“Perpanjangan izin ini mencerminkan konsistensi LAZNAS BMH dalam menjalankan fungsi pemberdayaan umat sekaligus menjaga kepatuhan terhadap kerangka regulasi yang ditetapkan negara,” ujar Prof. Waryono. BMH sebagai bagian dari ekosistem zakat nasional diharapkan mampu menjawab tantangan sosial-ekonomi umat secara terukur dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Prof. Waryono menjadikan empat pilar utama sebagai pokok pembahasan dalam penilaian terhadap kinerja BMH. Pertama, tata kelola yang amanah, yakni kemampuan lembaga dalam mengelola dana umat secara transparan dan bertanggung jawab sesuai prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan. Kedua, kedisiplinan pelaporan melalui Sistem Informasi Manajemen Zakat (SIMZAT), yang berfungsi memastikan keterlacakan dan akurasi data pengelolaan zakat.

Pilar ketiga adalah komitmen berkelanjutan terhadap perbaikan hasil audit syariah. Menurut Prof. Waryono, audit tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai mekanisme pembelajaran institusional agar kualitas pengelolaan dana umat terus meningkat.

Adapun pilar keempat adalah fungsi audit sebagai penjaga kepatuhan syariah, yang berperan mencegah potensi kemudaratan dalam pengelolaan zakat, baik dari sisi hukum Islam maupun tata kelola publik.

Respons terhadap kepercayaan negara tersebut disampaikan Ketua Dewan Pengurus LAZNAS BMH, Firman ZA. Ia menegaskan bahwa perpanjangan izin operasional menjadi pengingat sekaligus penguat komitmen internal lembaga untuk menjaga integritas dan akuntabilitas.

“Amanah ini menjadi penguat semangat kami untuk terus meningkatkan tata kelola, menjaga transparansi, dan memastikan keberpihakan kepada mustahik,” ujarnya.

Firman juga menekankan pentingnya sinergi antara lembaga zakat dan pemerintah dalam konteks pembangunan nasional. Menurutnya, pengelolaan zakat tidak hanya berdimensi ibadah individual, tetapi juga memiliki implikasi sosial dan kebangsaan yang luas. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap sistem pengawasan negara dipandang sejalan dengan spirit Islam dalam menjaga kemaslahatan umum.

Dengan diterbitkannya perpanjangan izin operasional tersebut, Laznas BMH secara hukum tetap memiliki kewenangan penuh untuk menjalankan aktivitas penghimpunan, pengelolaan, dan pendistribusian dana zakat di seluruh wilayah Indonesia. Legalitas ini sekaligus menjadi jaminan bagi masyarakat bahwa dana yang dititipkan dikelola melalui sistem yang diaudit secara syariah dan berada dalam pengawasan negara.

Integrasi Ibadah dan Kinerja Jadi Pokok Bahasan Sharing Kultural DPP di Deli Serdang

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Mengakhiri tahun dengan penguatan dimensi spiritual dan kelembagaan, Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan agenda sharing kultural di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah, Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan orientasi kader dakwah dalam memadukan nilai keislaman, profesionalisme, dan tanggung jawab kebangsaan.

Hadir sebagai narasumber utama, Imam Nawawi, Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, menyampaikan pokok pembahasan mengenai karakter Muslim sejati yang tidak terjebak pada dikotomi antara kesalehan ritual dan kualitas kerja. Dalam paparannya, Imam Nawawi menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang Muslim harus tercermin secara nyata dalam etos kerja, kinerja lapangan, dan kontribusi sosial bagi umat dan bangsa.

Di hadapan peserta yang terdiri atas unsur pengurus yayasan, perwakilan Dewan Pengurus Wilayah (DPW), serta mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq, ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca sebagai teks ritual, melainkan menjadi sumber energi moral dan intelektual dalam menjalankan amanah dakwah.

“Kita diperintahkan untuk senantiasa bersemangat dalam menguatkan kebaikan, kebenaran, dan kesabaran,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya menjadikan wahyu sebagai penggerak kerja nyata.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung dialogis, Imam Nawawi menguraikan tiga garis besar penguatan militansi kader dakwah. Pertama, ia menyoroti makna mendalam dari perintah membaca dalam wahyu pertama Al-Qur’an. Membaca, menurutnya, tidak berhenti pada aktivitas literasi, tetapi merupakan proses pembentukan cara pandang yang bertumpu pada tauhid.

Ketika perintah membaca dilaksanakan dengan kesadaran Bismirabbik—dengan menyebut dan melibatkan nama Allah—maka aktivitas intelektual akan melahirkan kejernihan visi, ketajaman analisis, dan keberanian moral dalam menjawab persoalan umat.

Kedua, Imam Nawawi menegaskan pentingnya integrasi antara ibadah dan etos kerja. Ia menyampaikan bahwa seorang Muslim tidak cukup dinilai dari intensitas ibadah ritual semata, tetapi juga dari kualitas kontribusinya dalam tugas dan tanggung jawab yang diemban.

“Orang Islam itu tidak hanya dituntut baik dalam ibadah, tetapi juga harus unggul dalam etos kerja dan kinerja,” katanya. Menurutnya, profesionalisme, disiplin, dan ketuntasan kerja merupakan manifestasi dari iman yang hidup dan bernilai sosial.

Poin ketiga yang ditekankan adalah kesadaran posisi kader dalam dunia dakwah dan pendidikan. Imam Nawawi mengingatkan bahwa keterlibatan seseorang dalam jalan dakwah bukan hasil perencanaan pribadi semata, melainkan karunia dari Allah SWT yang harus dijaga dengan kesungguhan.

Ia mengajak peserta untuk menjaga fokus perjuangan tanpa terjebak pada keraguan atau distraksi yang melemahkan langkah. “Teruslah bergerak maju, jangan larut menengok ke kanan dan ke kiri hingga kehilangan arah,” pesannya.

Agenda sharing kultural ini merupakan bagian dari tradisi internal Hidayatullah yang secara konsisten dirawat sebagai sarana konsolidasi nilai dan visi. Selain berfungsi sebagai media penyampaian arah kebijakan organisasi, forum ini juga menjadi ruang penyatuan orientasi batin antara pengelola lembaga dan generasi muda yang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan.

Dengan menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber energi spiritual dan etos kerja, pertemuan di Tanjung Morawa tersebut diharapkan dapat memperkuat karakter kader dakwah yang religius, produktif, dan berdaya saing. Spirit keislaman yang terintegrasi dengan semangat keindonesiaan ditegaskan sebagai fondasi untuk menjawab tantangan dakwah dan pembangunan umat pada masa-masa mendatang.

Refleksi Akhir Tahun, Naspi Arsyad Tekankan Momentum Menata Arah Kepemimpinan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jarangnya umat Islam duduk bersama secara kolektif untuk merumuskan kesepakatan strategis jangka panjang guna melahirkan kepemimpinan yang kuat menjadi sorotan utama dalam refleksi kebangsaan akhir tahun 2025.

Isu tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., dalam forum Refleksi Akhir Tahun yang digelar oleh Majelis Ormas Islam (MOI) bertajuk “Renungan Peristiwa 2025, Menuju 2026 yang Lebih Baik” yang digelar secara daring, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Naspi menegaskan bahwa kebaikan dan kemaslahatan umat tidak mungkin terwujud tanpa kehadiran kepemimpinan yang kokoh. Menurutnya, selama kepemimpinan tidak ditegakkan secara utuh dan terencana, potensi kekacauan sosial akan terus berulang. Kepemimpinan dipandang sebagai elemen mendasar yang menentukan arah dan keberlangsungan kehidupan umat.

Ia merujuk pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah adalah mereka yang memiliki iman dan kepemimpinan yang benar. Rujukan tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa kepemimpinan dalam perspektif Islam bukan semata-mata posisi struktural, melainkan amanah yang berlandaskan keimanan dan tanggung jawab moral.

Namun, Naspi menggarisbawahi adanya kesenjangan antara idealitas ajaran dan realitas yang dihadapi umat Islam saat ini. Ia menyampaikan bahwa umat Islam belum menunjukkan keseriusan kolektif dalam membangun kepemimpinan jangka panjang. Forum-forum bersama yang secara khusus membahas strategi melahirkan pemimpin masa depan dinilai masih sangat terbatas.

Ia menjelaskan bahwa pembicaraan tentang kepemimpinan sering kali terjebak pada kepentingan jangka pendek. Perencanaan strategis yang mencakup rentang waktu panjang, seperti 20 atau 30 tahun ke depan, jarang menjadi agenda utama. Akibatnya, upaya membangun kepemimpinan berjalan sporadis dan tidak berkelanjutan.

Dalam penjelasannya, Naspi menggambarkan kondisi tersebut dengan analogi yang mudah dipahami. Ia menyebut umat Islam kerap berada dalam posisi seperti mendorong kendaraan yang mogok. Ketika kendaraan tersebut kembali berjalan, dorongan dihentikan dan perhatian beralih. Namun, saat kendaraan kembali berhenti, umat Islam kembali dipanggil untuk mendorong. Siklus ini, menurutnya, terus berulang dalam periode lima tahunan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan umat sering kali bersifat reaktif dan temporer. Momentum politik atau pergantian kepemimpinan menjadi titik konsentrasi perhatian, sementara upaya perencanaan jangka panjang tidak mendapatkan porsi yang memadai. Akibatnya, Naspi menekankan, energi umat habis dalam dinamika sesaat tanpa menghasilkan fondasi kepemimpinan yang berkesinambungan.

Naspi menilai bahwa momentum pergantian tahun, baik berdasarkan kalender Hijriah maupun Masehi, seharusnya dimaknai sebagai ruang refleksi yang lebih mendalam. Pergantian waktu bukan hanya penanda kronologis, melainkan sarana untuk mengevaluasi arah perjalanan umat. Ia mengaitkan keteraturan pergantian siang dan malam sebagai bukti adanya kepemimpinan Ilahi yang mengatur alam semesta secara sempurna.

Ia mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Menurutnya, keteraturan tersebut menunjukkan bahwa setiap sistem yang berjalan dengan baik selalu berada di bawah kepemimpinan yang jelas dan terencana.

Naspi melanjutkan bahwa peredaran matahari dan bulan berlangsung secara konsisten karena ada otoritas Ilahi yang mengaturnya. Allah memiliki kekuasaan penuh dalam menempatkan berbagai kebaikan pada setiap fase waktu. Manusia dapat merasakan manfaat nyata dari keteraturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks sosial, ia menyampaikan bahwa realitas tersebut memberikan pelajaran penting tentang urgensi kepemimpinan bagi manusia. Jika alam semesta berjalan teratur karena kepemimpinan Ilahi, maka kehidupan bermasyarakat pun memerlukan kepemimpinan yang disepakati bersama, dirancang secara matang, dan diarahkan untuk tujuan jangka panjang.

Tujuan akhir dari proses tersebut, sebagaimana disampaikan Naspi, adalah lahirnya kepemimpinan Islam yang tumbuh dari perjuangan dan kesadaran kolektif umat. Kepemimpinan yang dimaksud bukan sekadar dipegang oleh individu yang beragama Islam, melainkan pemimpin yang memiliki komitmen maslahat dan keislaman serta lahir dari proses perencanaan umat yang berkesinambungan.

Hidayatullah Perkuat Pendidikan di Perbatasan, PPTQ di Watatu Donggala Diresmikan

0

DONGGALA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Donggala, Dr. H. Haerolah Muh. Arief, S.Ag., M.H.I., meresmikan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Hidayatullah Putri, Pendidikan Anak Usia Dini dan Kelompok Bermain (PAUD–KB) Hidayatullah, serta Mushalla Ar-Raudhah di Desa Watatu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, baru baru ini dan ditulis pada Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Haerolah mengatakan bahwa kehadiran PPTQ, PAUD–KB, dan Mushalla Ar-Raudhah merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat pendidikan keagamaan di Kabupaten Donggala. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, memakmurkan, dan mendukung keberlanjutan lembaga-lembaga tersebut.

“Kalau hendak cepat memanen maka tanamlah palawija, tetapi jika hendak panennya langgeng maka tanamlah kebaikan,” ujarnya berpantun sebagai pesan motivatif.

Kakan Kemenag Donggala mengatakan, peresmian ini sekaligus perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di kawasan perbatasan Kabupaten Donggala dengan Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Kehadiran lembaga pendidikan dan sarana ibadah ini menurutnya amat strategis dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an serta pembinaan karakter generasi muda di wilayah yang selama ini relatif terbatas dari pusat-pusat pendidikan formal keagamaan.

Dengan diresmikannya kawasan pendidikan integral ini, Haerolah berharap, Hidayatullah Watatu semakin berperan aktif dalam pembinaan umat, penguatan dakwah di wilayah perbatasan, serta penumbuhan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

“Kehadiran lembaga ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan dalam membangun generasi Qur’ani yang berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Profil Hidayatullah Putri Watatu

PPTQ Hidayatullah Putri Watatu berada di bawah kepemimpinan Abdul Hafidz Al-Mandary. Lembaga ini dirancang sebagai pusat pembinaan tahfizhul Qur’an dan pendidikan keislaman yang terintegrasi, sekaligus menjadi penggerak dakwah berbasis Al-Qur’an di tingkat lokal.

Bersamaan dengan itu, PAUD–KB Hidayatullah Yaa Bunayya diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, akhlak, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.

Dewan Pembina PPTQ Hidayatullah Watatu, Taufik Abdul Muin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendirian dan pengembangan lembaga tersebut. Ia menegaskan bahwa keberadaan PPTQ dan PAUD–KB diharapkan menjadi pusat pembinaan karakter Islami yang berkesinambungan, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dalam menyiapkan generasi berakhlak dan berilmu.

Penguatan visi kelembagaan juga disampaikan oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Tengah, Ustadz Ahmad Arsyad, S.Pd.I. Ia menekankan pentingnya pendidikan berbasis Al-Qur’an sebagai landasan pembangunan peradaban umat.

Menurut Arsyad, keberadaan PPTQ dan PAUD–KB menjadi sarana strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan spiritual dan akhlak mulia.

Apresiasi Pemerintah

Ikhtiar pelayanan umat Hidayatullah Donggala ini juga mendapat apresiasi pemerintah daerah disampaikan oleh Alwin, S.Pd., yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala.

Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah menyambut baik pengembangan lembaga pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Peran Hidayatullah dalam menghadirkan pendidikan berbasis nilai keislaman dinilai sejalan dengan tujuan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter,” katanya.

Acara peresmian dihadiri oleh unsur pemerintah dan keamanan setempat, antara lain perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Donggala, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepolisian Sektor Banawa Selatan, Komando Rayon Militer, pemerintah desa, serta unsur kecamatan, juga pengurus yayasan, Majelis Murabbiyah Wilayah, serta unsur Pemuda dan Muslimat Hidayatullah.

Layanan Sosial dan Pendidikan Hidayatullah sebagai Jawaban Kebutuhan Lintas Generasi

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, mengatakan bahwa Hidayatullah konsisten pada dua arus utama gerakan, yaitu dakwah dan tarbiyah, dengan pendekatan inklusif yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.

“Hidayatullah terus bersinergi dengan seluruh elemen keummatan. Kami mendorong penguatan dakwah yang wasathiyyah agar menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Muzakkir.

Hal itu disampaikan Muzakkir dalam sambutan pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VI Hidayatullah Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025)

Ia juga menguraikan konteks demografi Kalimantan Barat yang menuntut pendekatan adaptif. Data yang disampaikan menunjukkan dominasi generasi Z hingga sekitar 70 persen dari populasi, sementara kelompok lanjut usia mencapai kurang lebih 9 persen. Kondisi ini, menurutnya, menuntut penguatan layanan pendidikan dan sosial yang relevan dengan kebutuhan lintas generasi.

Pada sektor pendidikan, Muzakkir menekankan prinsip Pendidikan Bermutu untuk Semua. Ia menyatakan bahwa model Sekolah Rakyat yang kini digagas pemerintah sejatinya telah lama dipraktikkan oleh Hidayatullah melalui sistem pendidikan yang terbuka dan terjangkau, seraya terus meningkatkan mutu layanan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pendekatan ini, jelas Muzakkir, diposisikan sebagai kontribusi nyata Hidayatullah dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkeadilan. Dia menegaskan, layanan sosial dan pendidikan Hidayatullah merupakan jawaban kebutuhan lintas generasi.

Di bidang sosial, Muzakkir menyoroti layanan panti asuhan yang menjadi salah satu keunggulan Hidayatullah termasuk di Kalimantan Barat dan diterima luas oleh masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa pengelolaan panti asuhan berpotensi dikembangkan menjadi layanan pendidikan unggulan, mencontoh tata kelola madrasah di Turki, salah satunya Hamidie Wakfe.

Selain itu, transformasi panti asuhan lansia menjadi pusat dakwah husnul khatimah dinilai sebagai potensi strategis yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peresmian gedung dakwah sekaligus Kantor DPW Hidayatullah di pusat Kota Pontianak oleh Muzakkir Usman bersama para tokoh senior dan pimpinan terpilih. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah KH Abdul Latif Usman.

Muzakkir berharap kantor ini berfungsi melampaui peran administratif. “Kantor ini harus menjadi penghubung antara Hidayatullah dengan masyarakat luas serta menjadi pusat aktivitas keummatan yang inklusif,” pungkasnya.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh Lanjutkan Recovery Pascabanjir, Keharuan Dirasakan Dzulfirman

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Upaya pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang terus dilakukan secara bertahap oleh relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh bersama Laznas BMH.

Pada Senin, 9 Rajab 1447 (29/12/2025), kegiatan difokuskan pada pembersihan rumah salah satu tokoh agama setempat, Dzulfirman Batubara, Imam Rawatib Masjid Syuhada di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Dzulfirman dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an 30 juz dan figur keagamaan yang aktif membina masyarakat.

Dalam keterangannya, Dzulfirman menuturkan pengalaman saat banjir besar melanda kawasan permukiman tempat tinggalnya. Ia bersama keluarga dan warga sekitar berusaha menyelamatkan diri dengan mengungsi ke sebuah rumah bertingkat dua di kompleks tersebut. Rumah itu satu satunya yang bisa dijangkau korban di kawasan ditengah gelombang banjir yang sangat cepat.

Di lantai dua berukuran sekitar 4 x 4 meter, ribuan warga bertahan selama tiga hari tiga malam. Kondisi darurat memaksa mereka mengonsumsi apa pun yang tersedia, termasuk sisa makanan, buah-buahan yang hanyut terbawa arus, serta air bercampur lumpur.

“Selama tiga hari itu, kami bertahan dengan apa yang ada. Nasi yang sudah tidak layak, pepaya dan kelapa yang hanyut, bahkan roti yang tidak diketahui asalnya ikut kami makan. Air yang diminum pun bercampur lumpur,” ungkap Dzulfirman saat ditemui relawan.

Ia melanjutkan, setelah air mulai surut meski masih setinggi pinggang orang dewasa, warga yang mengungsi perlahan turun untuk meninjau rumah masing-masing.

Pemandangan yang mereka temui meninggalkan guncangan psikologis mendalam. Rumah-rumah porak-poranda, dipenuhi lumpur tebal dan sisa material yang terbawa banjir bandang.

Kegiatan pembersihan rumah Dzulfirman dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid. Ia bersama para relawan bergotong royong mengeluarkan lumpur dan membersihkan bagian rumah yang terdampak paling parah.

Menurut Harun, kehadiran relawan merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang berpijak pada nilai keislaman dan semangat kebersamaan masyarakat Indonesia.

“Insya Allah, tim masih terus bertahan membantu korban terdampak,” ujar Harun di sela kegiatan. Ia menegaskan bahwa bantuan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi diarahkan pada proses pemulihan yang lebih berjangka.

Dzulfirman dengan rasa haru menyampaikan rasa syukur atas kehadiran relawan. Ia mengungkapkan bahwa membersihkan lumpur dari rumah pascabanjir umumnya membutuhkan biaya besar jika dilakukan dengan tenaga berbayar.

“Ada yang harus mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk membersihkan rumah. Dengan bantuan relawan Hidayatullah dan BMH, saya tidak mengeluarkan biaya apa pun, selain menyiapkan makan siang sederhana,” tuturnya.

Harun Rasyid menekankan bahwa program recovery diupayakan dapat berjalan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan ketersediaan logistik serta dukungan dari masyarakat luas.

Berkah Muswil Kalimantan Barat Resmikan Gedung Dakwah, Pemprov Berikan Apresiasi

0
Asisten III Sekretariat Daerah, Drs. Alfian Salam, MM (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Asisten III Sekretariat Daerah, Drs. Alfian Salam, MM, mengapresiasi kiprah organisasi Hidayatullah saat menghadiri pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VI Hidayatullah Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025).

Alfian menyoroti kontribusi nyata Hidayatullah melalui pengembangan model dakwah yang adaptif dan kontekstual, khususnya di kawasan pedalaman.

Menurutnya, pendekatan dakwah yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga dirancang secara kreatif agar selaras dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.

Alfian secara khusus menyebut keberhasilan pelaksanaan gerakan dakwah di Kabupaten Kayong Utara sebagai contoh praktik yang dapat dijadikan rujukan. Program Subuh Keliling atau Suling dinilai sebagai bentuk dakwah yang inovatif karena mampu menghadirkan aktivitas keagamaan secara konsisten di tengah masyarakat, sekaligus membangun interaksi yang positif antara dai dan warga.

“Kami melihat langsung keberhasilan gerakan dakwah di pedalaman, seperti di Kabupaten Kayong Utara. Program Suling atau Subuh Keliling adalah contoh dakwah yang kreatif dan mencerahkan,” ungkapnya Alfian yang hadir mewakili Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan.

Ia menyampaikan bahwa program tersebut memberikan dampak pencerahan dan memperkuat kehidupan keagamaan di tingkat lokal. Pernyataan itu disampaikan Alfian sebelum secara resmi membuka Musyawarah Wilayah, sebagai bentuk pengakuan pemerintah daerah terhadap kontribusi Hidayatullah dalam penguatan dakwah dan pembinaan umat di Kalimantan Barat.

Penguatan Gerakan, Pengurus Baru, dan Peresmian Gedung Dakwah

Forum Muswil ini mengusung tema Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045 dan dihadiri jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah serta Dewan Pimpinan Daerah dari 12 kabupaten dan kota di seluruh Kalimantan Barat.

Dalam laporan pembuka yang disampaikan perwakilan Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Asep Samsul Fuad, mengatakan Musywil menjadi ruang konsolidasi strategis untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial dalam kerangka keislaman yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Asep memaparkan capaian organisasi selama periode berjalan. Jaringan Hidayatullah kini telah hadir di sekitar 95 persen wilayah Kalimantan Barat. Penguatan infrastruktur pendidikan juga terus dilakukan melalui pengembangan Kampus Madya di dua titik utama, yakni Kampus Hidayatullah Pontianak dan Ketapang. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan berbasis nilai Islam yang inklusif.

Musywil VI juga menjadi momentum regenerasi kepemimpinan wilayah dengan ditetapkannya Muhyiddin Nur Rabbani sebagai Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat dan Abdul Syukur sebagai Ketua Dewan Murobbi Wilayah. Penetapan ini memiliki makna khusus karena Musywil Kalimantan Barat menjadi penutup rangkaian Musywil Hidayatullah di 38 provinsi se-Indonesia.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peresmian gedung dakwah yang sekaligus Kantor DPW Hidayatullah di pusat Kota Pontianak oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, bersama para tokoh senior dan pimpinan terpilih. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah KH Abdul Latif Usman.

Muzakkir berharap kantor ini berfungsi melampaui peran administratif. “Kantor ini harus menjadi penghubung antara Hidayatullah dengan masyarakat luas serta menjadi pusat aktivitas keummatan yang inklusif,” pungkasnya.

Masjid sebagai Jantung Peradaban Islam dan Pusat Transformasi Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, menegaskan bahwa masjid sebagai jantung peradaban islam dan pusat transformasi umat. Masjid sejak awal kehadiran Islam bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda identitas umat dan pusat kehidupan masyarakat Muslim.

Di mana ada komunitas Muslim, di situ selalu ada masjid. Ia menjadi simbol keberadaan, ruang perjumpaan, dan tempat umat meneguhkan hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia. Karena itu, pembangunan masjid tidak dapat dilepaskan dari misi peradaban Islam itu sendiri.

“Dan itu telah menjadi salah satu fitur paling mendasar, revolusioner, dan indah dari agama kita,” kata Muzakkir dalam notes yang diterima media ini, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Dalam sejarah Islam, generasi awal tidak berlomba membangun masjid megah dengan struktur besar. Masjid dibangun sebagai bagian alami dari kehidupan, menyatu dengan ritme sosial umat. Fungsi utamanya memang sebagai tempat ibadah berjamaah, terutama shalat Jumat, namun sejatinya masjid memiliki tujuan yang jauh lebih dalam.

Tujuan tersebut baru ditegaskan secara eksplisit di akhir masa turunnya wahyu, ketika Allah menurunkan Surah At-Taubah ayat 18. Ayat ini menegaskan bahwa yang berhak memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.

Kata kunci dalam ayat ini adalah “ya‘muru” atau memakmurkan. Makna kata ini, jelas Muzakkir, melampaui sekadar membangun atau merawat bangunan fisik. Dalam bahasa Arab, akar kata imarah bermakna menjaga agar sesuatu tetap hidup, tidak rusak, dan terus berfungsi sesuai tujuannya.

Karena itu, memakmurkan masjid bukan hanya soal karpet, pintu, atau kubah, tetapi menjaga ruh, fungsi, dan orientasi masjid agar tetap menjadi pusat pembinaan iman dan kehidupan umat.

“Masjid harus dipelihara tujuannya. Allah tidak hanya bicara tentang memelihara jendela, pintu, karpet, atau tempat wudu. Dia bicara tentang menjaga tujuan masjid itu sendiri,” katanya.

Masjid disebut sebagai “masajidallah”, rumah Allah. Konsep ini menegaskan bahwa masjid bukan milik individu, kelompok, atau kepentingan tertentu. Segala aktivitas di dalamnya harus tunduk pada nilai yang diridhai Allah. Di masjid, seluruh simbol status dunia ditanggalkan. Tidak ada perbedaan kelas, jabatan, atau kekayaan.

Semua berdiri sejajar dalam shaf yang sama, dengan dahi yang sama-sama menempel ke tanah. Inilah pendidikan kesetaraan yang paling mendasar, yang mengajarkan kerendahan hati dan membentuk karakter manusia yang tidak merasa lebih tinggi dari sesamanya.

Apa yang dipelajari di dalam masjid seharusnya memengaruhi cara hidup di luar masjid. Kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba Allah akan melahirkan sikap sosial yang adil, rendah hati, dan penuh empati. Dengan demikian, masjid menjadi sekolah nilai yang membentuk perilaku individu dan masyarakat.

“Ketika datang ke sini (masjid), satu-satunya kerendahan hati yang tersisa adalah kepada Allah. Ini adalah cara Allah mengajar kita bahwa di sini bukan tentang kepribadian seseorang, kualifikasi, atau pangkat. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Kita semua sama-sama rendah di hadapan Allah,” terangnya.

Fungsi pendidikan masjid mencapai puncaknya melalui transformasi Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa Al-Qur’an diturunkan selama 23 tahun kepada masyarakat Arab yang telah memiliki sistem nilai, budaya, dan tradisi yang mengakar selama berabad-abad. Namun, dalam rentang waktu tersebut, Al-Qur’an berhasil mengubah hampir seluruh aspek kehidupan mereka. Bukan hanya struktur sosial atau politik yang berubah, tetapi cara berpikir, merasa, mencintai, membenci, dan memandang dunia.

Revolusi Hati

Muzakkir lebih jauh menjelaskan bahwa revolusi Al-Qur’an berbeda dari revolusi mana pun dalam sejarah. Ia bukan revolusi kekuasaan, melainkan revolusi hati. Al-Qur’an tidak pertama-tama mengubah sistem, tetapi mengubah apa yang diinginkan manusia. Ketika hati tunduk kepada Allah, seluruh orientasi hidup ikut berubah. Standar kesuksesan tidak lagi diukur dari kekuasaan, harta, atau popularitas, tetapi dari keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya.

Di sinilah masjid menjadi episentrum transformasi Qur’ani. Dari masjid, semangat belajar Al-Qur’an, mentadabburi makna, dan menghidupkan nilai-nilainya harus terus ditumbuhkan. Iman lahir dan berkembang ketika jiwa manusia senantiasa berinteraksi dengan wahyu. Tanpa fungsi ini, masjid akan kehilangan perannya sebagai pusat perubahan.

“Kampanye pertama dari revolusi ini adalah mentransformasi jiwa. Jiwa adalah pusat percakapan dalam Al-Qur’an, terutama pada periode awal. Semuanya dimulai ketika hati berpaling kepada Allah,” katanya.

Selain sebagai pusat pendidikan, masjid juga berfungsi sebagai pusat rekonstruksi sosial dan ekonomi. Hal ini ditegaskan melalui penyebutan zakat dalam Surah At-Taubah ayat 18. Zakat menunjukkan adanya relasi sosial antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan. Masjid menjadi tempat bertemunya potensi ekonomi, solidaritas sosial, dan kepedulian antarsesama. Di sana, hubungan personal terbangun, kerja sama lahir, dan kebutuhan umat dapat dikenali secara langsung.

Masjid juga berperan melahirkan kepemimpinan umat. Rasulullah menyebut masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah, menunjukkan kedudukannya yang sentral dalam kehidupan Islam. Dari masjid lahir pemimpin yang takut kepada Allah, berjiwa melayani, dan berkomitmen pada keadilan. Kepemimpinan seperti ini tidak dibangun dari ambisi, tetapi dari kedekatan dengan wahyu dan tanggung jawab moral.

Dalam pada itu, refleksi Muzakkir mengingatkan bahwa membangun masjid, sebesar apa pun, tidak otomatis menjamin hidayah. Allah menggunakan kata “mudah-mudahan” dalam ayat tersebut, sebagai peringatan agar manusia tidak terjebak pada kebanggaan atas amal masa lalu. Memakmurkan masjid adalah proses yang tidak pernah selesai. Tujuan, fungsi, dan ruhnya harus terus direkonstruksi agar tetap hidup dan relevan.

“Kita tidak mendapatkan sertifikat hidayah hanya karena melakukan satu amal besar. Anda harus terus mengejar hidayah karena “pembangunan” masjid tidak pernah selesai. Secara makna imarah, tujuannya harus terus direkonstruksi setiap saat,” jelasnya.

Dia menegaskan, masjid yang hidup adalah masjid yang terus meniupkan kehidupan ke dalam iman, ilmu, ekonomi, dan kepemimpinan umat. Dari sanalah peradaban Islam bertumbuh dan memberi cahaya bagi dunia, tandasnya.

Layanan Makanan Siap Saji Menjangkau 250 Penyintas Bencana di Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 250 warga dan anak-anak penyintas bencana tercatat sebagai penerima manfaat dalam kegiatan layanan pangan yang berlangsung tertib di Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka berkumpul secara teratur di posko pelayanan untuk menerima makanan siap santap, sebuah kegiatan yang menjadi bagian dari respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah tersebut.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di posko Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana (SPPB) yang diinisiasi oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan didukung Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh. Program ini dirancang sebagai dukungan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pangan, di tengah situasi darurat yang masih membatasi aktivitas warga sehari-hari.

Pelaksanaan layanan pangan ini mendapat dukungan dari Bunda Aisah. Melalui kerja sama dengan BMH, amanah sedekah yang dititipkan disalurkan kepada warga terdampak bencana, dengan sasaran utama keluarga dan anak-anak yang berada di sekitar posko pengungsian. Penyaluran dilakukan secara terkoordinasi untuk memastikan ketertiban dan pemerataan manfaat.

Sejak pagi hari, warga telah berdatangan ke lokasi kegiatan. Anak-anak, orang tua, hingga lansia terlihat mengikuti arahan relawan dengan disiplin. Tidak terdapat antrean yang tidak teratur, karena pendataan penerima manfaat telah dilakukan sebelumnya. Situasi ini memungkinkan proses pembagian makanan berlangsung dengan lancar dan kondusif.

Bagi sebagian penyintas, makanan siap santap yang diterima memiliki makna lebih dari sekadar konsumsi harian. Dalam kondisi keterbatasan akses pangan dan kesehatan, bantuan tersebut menjadi penopang penting agar keluarga tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terlihat merasakan dampaknya, karena sebagian besar dari mereka datang langsung untuk menerima makanan.

Salah satu penerima manfaat adalah Selfi, siswi kelas enam sekolah dasar. Ia menerima porsi makanan dengan raut wajah cerah. Dalam keterbatasan yang dihadapinya hari itu, bantuan pangan tersebut memastikan bahwa ia dan keluarganya tetap dapat makan. Kondisi kesehatan orang tua yang sedang terganggu membuat bantuan tersebut memiliki arti tersendiri bagi keluarganya.

Selain Selfi, terdapat pula Aldi, anak lain yang ikut dalam barisan penerima manfaat. Ia menerima makanan sambil menyampaikan ucapan terima kasih kepada donatur. Ekspresi polos anak-anak tersebut mencerminkan bagaimana bantuan sederhana dapat memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah situasi pascabencana..

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan BMH pusat. Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, turun langsung ke lokasi untuk memantau jalannya program. Menurut Imam, respons warga terhadap program ini sangat positif, terutama dari kalangan anak-anak.

Ia menyaksikan secara langsung bagaimana paket makanan yang sederhana mampu menghadirkan suasana berbeda di lingkungan pengungsian. Kegiatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan bersahabat di tengah kondisi darurat.

Program layanan pangan melalui SPPB merupakan bagian dari rangkaian respons BMH dalam penanganan dampak bencana. Pendekatan yang digunakan menekankan pada ketepatan sasaran, ketertiban distribusi, serta penghormatan terhadap martabat penerima manfaat.

“Seluruh proses dilakukan dengan melibatkan relawan yang telah mendapatkan pembekalan dasar terkait pelayanan kebencanaan,” katanya.

Di tengah kondisi pascabencana yang masih menyisakan berbagai keterbatasan, layanan pangan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas kehidupan warga terdampak.

HCR Planting Day Tumbuhkan Kesadaran Ekologis Santri demi Keberlanjutan Alam dan Bangsa

0

BANDUNG TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Melalui sebuah kegiatan edukatif dan ekologis, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat termasuk para santri.

Santri adalah sebagai generasi penerus yang tidak hanya diharapkan unggul dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberlangsungan alam sebagai bagian dari amanah kebangsaan dan keagamaan.

Kesadaran tersebut menjadi landasan pelaksanaan kegiatan peduli lingkungan bertajuk HCR Planting Day yang digelar oleh para santri penghafal Al-Qur’an dari Pondok Pesantren Hidayatullah Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), di kawasan Agroforestri Indonesia yang berada di lereng bawah Gunung Manglayang, sebuah wilayah yang dikenal memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan sekitarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para santri bersama unsur masyarakat dan mitra kegiatan melakukan penanaman 200 pohon. Aksi penanaman ini diproyeksikan sebagai langkah konkret dalam mendukung pelestarian lingkungan serta menjaga keseimbangan ekosistem. Penanaman pohon dipilih sebagai simbol sekaligus praktik nyata perawatan bumi yang berkelanjutan, sejalan dengan prinsip Islam yang memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Koordinator kegiatan HCR Planting Day, Harry Firmansyah, mengatakan kawasan Agroforestri Indonesia dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki peran strategis dalam konservasi alam dan pendidikan lingkungan. Sistem agroforestri mengintegrasikan fungsi kehutanan dan pertanian, sehingga mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus melestarikan sumber daya alam.

“Melalui keterlibatan santri dalam ruang ekologis seperti ini, pesantren mendorong pembelajaran kontekstual yang menghubungkan nilai keagamaan dengan realitas lingkungan hidup,” katanya dalam keterangannya.

Harry menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan karakter santri. Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguatan spiritual dan intelektual, tetapi juga pembentukan kepedulian sosial dan ekologis. Lingkungan hidup dipandang sebagai bagian dari kehidupan umat yang harus dijaga secara kolektif.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Oleh karena itu, penanaman pohon tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai internalisasi nilai tanggung jawab dan amanah. Santri diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan wujud pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari asatidz dan santri Hidayatullah Cilengkrang, alumni HCR, perwakilan dari Salman ITB, Karang Taruna Desa Cilengkrang, hingga tokoh masyarakat setempat.

Harry mengatakan, dengan keterlibatan beragam elemen semakin menguatkan terbangunnya sinergi lintas komunitas dalam isu lingkungan hidup. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi modal sosial penting dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan.

Santri Adaptif Terhadap Tantangan Zaman

Lebih jauh, Harry menjelaskan, partisipasi santri dalam kegiatan ini juga menegaskan peran pesantren sebagai institusi pendidikan yang adaptif terhadap tantangan zaman. Di tengah isu krisis iklim dan degradasi lingkungan, pesantren berupaya menempatkan santri sebagai subjek perubahan yang memiliki kesadaran ekologis.

“Nilai keindonesiaan yang menekankan gotong royong dan kepedulian terhadap ruang hidup bersama menjadi spirit yang menyertai pelaksanaan kegiatan ini,” katanya.

Selain aspek lingkungan, kegiatan ini memperkuat relasi sosial antara pesantren dan masyarakat sekitar. Interaksi langsung di lapangan membuka ruang dialog dan kerja sama yang saling menguatkan. Dengan demikian, pesantren tidak berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan hadir sebagai bagian integral dari upaya pembangunan berkelanjutan berbasis nilai-nilai lokal dan religius.

Melalui HCR Planting Day, diharapkan terbentuk pemahaman kolektif bahwa merawat alam adalah tugas bersama. Santri sebagai generasi muda, jelas Harry, dipersiapkan untuk memiliki kesadaran ganda, yaitu kecakapan dalam ilmu keislaman dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

“Kesadaran ini menjadi bekal penting dalam membangun masa depan bangsa yang berlandaskan iman, ilmu, dan kepedulian terhadap keberlangsungan bumi sebagai rumah bersama,” katanya menandaskan.