Beranda blog Halaman 77

Peduli Gaza, Wujud Solidaritas Bangsa Indonesia di Tengah Krisis Kemanusiaan

0

GAZA (Hidayatullah.or.id) — Semangat solidaritas bangsa Indonesia kembali menemukan wujudnya melalui aksi nyata. Kepedulian yang mengalir dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia terus menembus sekat batas geografis dan politik, menjelma menjadi bentuk cinta kemanusiaan yang universal.

Salah satu ekspresi dari nilai tersebut hadir melalui penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kepada anak-anak Gaza yang kini hidup dalam kondisi kekurangan gizi.

Direktur Utama BMH, Supendi, menegaskan bahwa seluruh bantuan yang dikirimkan merupakan hasil kepedulian dan partisipasi masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui program Peduli Gaza.

“Seluruh bantuan ini adalah amanah masyarakat Indonesia yang kami salurkan melalui program Peduli Gaza. Ini bentuk cinta dan solidaritas kita terhadap saudara-saudara di Palestina,” ujarnya dalam keterangannya diterima media ini, Selasa, 20 Jumadil Awal 1447 (11/11/2025). Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut sebagai bentuk nyata persaudaraan kemanusiaan lintas batas.

Dalam program terbaru ini, BMH menyalurkan ratusan paket susu formula untuk anak-anak di camp pengungsian Deir el Balah, Gaza Tengah. Bantuan tersebut diarahkan khusus kepada bayi dan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi akibat terbatasnya akses pangan dan layanan kesehatan.

Menurut Supendi, upaya ini juga berkat dukungan para dermawan dan mitra korporasi di Indonesia, di antaranya PT. Indo Anata Development, yang turut berkomitmen mendukung misi kemanusiaan untuk Gaza.

“Bantuan susu formula ini sangat berarti bagi bayi dan anak-anak yang gizinya menurun akibat minimnya asupan bergizi. Kami berterima kasih kepada seluruh donatur yang telah berpartisipasi,” jelas Supendi.

Ia menuturkan, proses distribusi dilakukan secara langsung kepada para ibu penerima manfaat dengan pengawasan ketat dari relawan mitra lokal BMH di Gaza, guna memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan usia anak-anak.

Setiap paket yang disalurkan berisi susu formula berkualitas dengan komposisi gizi yang disesuaikan. Para ibu penerima manfaat menyambut bantuan tersebut dengan rasa haru.

Salah seorang penerima manfaat mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan susu untuk bayinya dalam beberapa minggu terakhir akibat kelangkaan bahan pangan. “Bantuan ini benar-benar menolong kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Selain bantuan gizi anak, BMH juga terus menyalurkan bantuan lain seperti bahan pangan pokok, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen lembaga tersebut untuk memastikan masyarakat Gaza dapat bertahan di tengah situasi yang masih penuh tekanan.

World Peace Forum Dibuka, Nashirul Haq Tekankan Ajaran Wasathiyah Jadikan Umat Islam Khaira Ummah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – World Peace Forum (WPF) ke-9 resmi dibuka di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin, 19 Jumadil Awal 1447 (10/11/2025). Forum internasional yang mempertemukan tokoh lintas negara tersebut kembali mengangkat isu wasathiyah dan perdamaian sebagai pokok bahasan utama.

Acara ini menjadi ruang strategis untuk membahas kontribusi agama, budaya, dan kebijakan global dalam menciptakan stabilitas sosial-politik dunia yang lebih berkeadilan.

Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, M.A., hadir dalam forum tersebut dan memberikan keterangannya terkait urgensi tema yang diangkat pada perhelatan tahun ini. Menurutnya, relevansi WPF ke-9 terletak pada kemampuan forum ini menghadirkan gagasan dan dialog multidisipliner tentang masa depan harmoni global.

Ia menjelaskan bahwa isu utama yang diangkat tahun ini merupakan tema yang tidak pernah kehilangan relevansi. “Acara World Peace Forum ke-9 ini membahas tentang wasathiyah dan perdamaian. Tema yang sangat penting dan selalu relevan dengan setiap kondisi dan tempat,” katanya kepada media ini.

Wasathiyah dan perdamaian, jelasnya, berada dalam posisi fundamental untuk menjawab tantangan sosial, politik, dan keagamaan abad ini, baik di tataran regional maupun global. Nashirul menyoroti bahwa pemahaman mengenai wasathiyah memiliki cakupan konseptual yang jauh lebih luas daripada sekadar wacana umum tentang moderasi beragama.

Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa wasathiyah merupakan konsep komprehensif tentang cara hidup, bukan hanya sekumpulan sikap toleran yang bersifat situasional.

“Wasathiyah mengandung makna yang sangat luas sebagai jalan hidup, way of life yang komprehensif. Yaitu sikap pertengahan, adil, objektif, proposional,” katanya.

Konsep ini, dalam pandangan Nashirul, bukan sekadar panduan internal bagi komunitas Muslim, tetapi sebuah nilai universal yang dapat berfungsi dalam berbagai konteks masyarakat.

Ia kemudian menambahkan bahwa penerapan nilai wasathiyah dalam tindakan nyata masyarakat merupakan faktor utama dalam terwujudnya perdamaian global. “Jika wasathiyah menjadi landasan berpikir dan bertindak, maka, perdamaian pasti akan terwujud dalam kehidupan umat manusia,” katanya.

Nashirul memandang perdamaian tidak hanya dicapai melalui mekanisme politik, diplomasi, atau kerja sama antarnegara, tetapi juga melalui internalisasi nilai-nilai etika dan moral yang membentuk perilaku kolektif masyarakat. Dalam konteks itu, wasathiyah menurutnya berfungsi sebagai fondasi etik yang memastikan keseimbangan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

KH. Dr. Nashirul Haq, M.A. di forum Musyawarah Nasional VI Hidayatullah di Jakarta, 23 Oktober 2025 (Billy/Hidayatullah.or.id)

Berpihak kepada Kebenaran

Nashirul juga memberikan penekanan bahwa konsep wasathiyah tidak boleh dikecilkan maknanya menjadi sebatas moderasi atau toleransi yang bersifat praktis. Dalam kerangka Islam, wasathiyah memuat tuntunan moral yang mengarahkan manusia pada pilihan yang berpihak pada kebenaran.

“Wasathiyah tidak hanya dimaknai sebatas moderasi atau toleransi. Namun sebuah prinsip yang selalu berpihak kepada kebenaran, kebaikan dan kemaslahatan,” tegasnya.

Dia menguraikan, wasathiyah tidak hanya menjaga keseimbangan, tetapi juga menuntut keberanian moral untuk berpihak pada nilai-nilai yang diridhai dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam penutup keterangannya, Nashirul Haq menggarisbawahi bahwa ajaran wasathiyah merupakan salah satu pilar yang menjadikan umat Islam mendapat predikat sebagai komunitas terbaik. Hal ini merujuk pada istilah “khaira ummah” yang terdapat dalam Al-Qur’an.

“Bahkan ajaran wasathiyah inilah yang menjadikan umat Islam sebagai khaira ummah, umat terbaik,” terangnya.

Disamping itu, dia menambahkan, konsep wasathiyah memiliki legitimasi teologis yang kuat, karena menghubungkan umat Islam dengan predikat sebagai komunitas terbaik yang membawa misi kebaikan bagi seluruh umat manusia.

“Ketika umat Islam mengamalkan ajaran wasathiyah, maka seluruh umat manusia dan alam akan merasakan Islam sebagai rahmat,” katanya.

Forum World Peace Forum sendiri merupakan platform internasional yang sejak awal digagas untuk menyatukan pemikir, pemimpin komunitas, akademisi, dan diplomat dalam membahas isu perdamaian dari berbagai sudut pandang.

Penyelenggaraan forum kali ini merupakan kolaborasi antara Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Cheng Ho Multi Culture and Education Trust, Muhammadiyah.

Meneguhkan Khidmat untuk Bangsa, Pesan KH Naspi Arsyad pada Hari Pahlawan 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Peringatan Hari Pahlawan Nasional yang diperingati setiap 10 November menjadi momentum penting bagi bangsa untuk menengok kembali akar sejarahnya.

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menegaskan bahwa kepahlawanan adalah energi moral yang harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata khususnya oleh umat Islam.

Naspi menjelaskan, peringatan Hari Pahlawan 2025 kali ini dengan tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan” mengharuskan bangsa memikirkan ulang relevansi kepahlawanan dalam konteks Indonesia kontemporer.

Dia menyebutkan, tantangan yang dihadapi bangsa kini bersifat struktural mulai dari ketimpangan sosial-ekonomi, polarisasi identitas, krisis literasi, degradasi moral publik, serta ancaman disrupsi teknologi.

“Dengan demikian, kepahlawanan tidak lagi cukup dipahami sebagai keberanian fisik atau heroisme historis, tetapi harus didefinisikan ulang sebagai kemampuan kolektif menghadirkan ketangguhan moral dan sosial,” kata Naspi kepada media ini, Senin, 18 Jumadil Awal 1447 (10/11/2025).

Dalam kerangka inilah, terangnya melanjutkan, peran ormas Islam seperti Hidayatullah menemukan relevansi strategis. Gerakan ini selama puluhan tahun telah menggabungkan disiplin religius, pendidikan karakter, dan praksis sosial dalam sebuah konsep khidmat.

Khidmat, jelas Naspi, adalah pengabdian yang berakar pada nilai Islam dan diarahkan untuk kebaikan bangsa. Dalam perspektifnya, khidmat dapat dibaca sebagai modal sosial (social capital) yang memperkuat kohesi masyarakat melalui nilai solidaritas, empati, kejujuran, dan kepercayaan.

“Jika modal sosial adalah fondasi paling penting dalam pembangunan bangsa yang stabil, maka Hidayatullah berkontribusi pada pembangunan nasional melalui kehadiran kader kader di sekolah pedalaman, kampus dakwah, panti sosial, pesantren, hingga layanan kebencanaan yang menunjukkan bahwa Hidayatullah mengisi ruang-ruang yang tidak dijangkau negara,” katanya.

Dalam teori pembangunan modern, kontribusi semacam ini disebut sebagai governance from below, yakni mekanisme masyarakat sipil yang memperkuat efektivitas negara.

Lebih jauh Naspi berpesan, tema Hari Pahlawan 2025 menuntut adanya kesinambungan antara nilai historis dan realitas kontemporer. Para pahlawan bangsa memperjuangkan kemerdekaan pada masa sistem kolonial yang represif. Sementara, hari ini, perjuangan harus diarahkan pada peningkatan kualitas manusia.

“Tantangan generasi kini bukan lagi kolonialisme semata, tetapi kerapuhan karakter, rendahnya daya saing, lemahnya literasi digital, dan fragmentasi identitas. Membangun ketangguhan bangsa membutuhkan disiplin moral yang sistemik,” tegasnya.

Dalam kerangka semangat itu, khidmat yang dihidupkan Hidayatullah adalah bentuk kepahlawanan baru dengan berupaya menciptakan manusia unggul melalui pendidikan adab, pembiasaan ibadah, penguatan keluarga, dan aksi sosial berkelanjutan. “Semua ini menjadi penting karena tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar ekonomi, melainkan kualitas manusia,” terangnya.

Dalam pada itu, Naspi menambahkan bahwa peringatan Hari Pahlawan 2025 harus dibaca sebagai ajakan untuk menggeser pemahaman kepahlawanan dari romantisme sejarah menuju pembangunan karakter bangsa.

“Di sinilah kontribusi ormas Islam seperti Hidayatullah menjadi sangat signifikan dalam rangka melanjutkan perjuangan dengan keteladanan moral, kecerdasan sosial, dan konsistensi pengabdian,” tandasnya.

Keteladanan Keluarga sebagai Pondasi Tumbuhnya Generasi Baik

0

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Penguatan keluarga penting untuk terus menjadi fokus penting dalam berbagai forum pendidikan saat ini, terutama ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang cepat dan tantangan pengasuhan yang semakin kompleks. Kajian parenting menjadi ruang bersama bagi orang tua untuk meninjau kembali makna kepengasuhan dan kualitas hubungan di dalam keluarga.

Dengan latar itu, penyelenggaraan Kajian Parenting bertema “Kunci Surga di Rumah, Menjadi Orang Tua Inspiratif” di Masjid Baitussaid Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Jawa Barat, menghadirkan diskusi yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter anak, Ahad, 17 Jumadil Awal 1447 (9/11/2025).

Pada sesi utama, narasumber Mego Husodo, S.E., S.Psi., M.Fc., seorang profesional parenting dan keluarga Islami, menegaskan kembali bahwa anak tidak hanya tiba di dunia sebagai individu baru, tetapi membawa harapan besar sejak kelahirannya.

Ia menyatakan bahwa setiap anak lahir membawa harapan langit, impian akan kebaikan, kebahagiaan, dan keberkahan. Namun dalam kenyataan, banyak anak justru berhadapan dengan tuntutan dunia yang miskin pelukan hangat dan jauh dari doa yang tulus.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.00 WIB ini diikuti sekitar 200 peserta, terdiri dari wali murid TK, MDTA, SD Integral Ummul Quro, dan masyarakat umum. Acara merupakan kolaborasi antara Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang dan panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Pembukaan disampaikan oleh Ketua Yayasan, Rudi Safaat, yang juga bertindak sebagai keynote speaker. Ia menyampaikan bahwa pendidikan tidak hanya berada di tangan lembaga formal, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua.

Menurutnya, tema “Kunci Surga di Rumah” sejalan dengan prinsip bahwa pendidikan yang paling mendasar berawal dari lingkungan keluarga.

Orangtua dan Pembentukan Karakter

Dalam penyampaiannya, Mego mengajak peserta meninjau ulang fondasi pernikahan dan visi keluarga yang selaras dengan nilai-nilai Islami. Ia menjelaskan bahwa orang tua memiliki kedudukan sebagai madrasah pertama bagi anak.

Melalui doa, perhatian, dan kehadiran, orang tua menanamkan nilai yang berpengaruh langsung pada pembentukan karakter.

“Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya,” tutur Mego.

Ia menyampaikan sejumlah langkah praktis bagi orang tua, seperti keteladanan dalam perilaku, kemampuan mendengarkan anak secara empatik, serta konsistensi menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga.

Mego juga menekankan pentingnya memahami potensi anak serta memberikan dukungan penuh dalam proses tumbuh kembangnya.

Menjelang penutupan, Mego menyampaikan pesan bahwa rumah yang dipenuhi cinta dan kehadiran orang tua mampu menjadi jalan bagi terbentuknya generasi yang saleh, bahagia, dan berprestasi. Ia menyebut rumah sebagai titik awal yang menentukan arah perjalanan hidup seorang anak.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif, di mana para peserta menyampaikan pengalaman dan pertanyaan terkait pengasuhan.

Sejumlah orang tua mengakui mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana membangun suasana keluarga yang kondusif bagi perkembangan emosional dan spiritual anak.

Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa penguatan keluarga merupakan elemen strategis dalam mendukung tumbuhnya generasi yang lebih baik, dan peran orang tua menjadi pusat dalam proses tersebut.

Seminar Gebyar Munas VI Mushida Ajak Perempuan Membaca Hidup sebagai Ruang Bertumbuh

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam dinamika masyarakat modern, pertumbuhan kapasitas diri menjadi kebutuhan yang semakin mendesak, terutama bagi perempuan yang memikul peran sosial, keluarga, dan spiritual secara bersamaan. Tantangan harian yang dihadapi individu tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, namun juga menyangkut kemampuan mengelola emosi, menata pikiran, dan menjaga keseimbangan hidup.

Relevansi tema ini menjadi landasan penting terselenggaranya Seminar Kemandirian Finansial dan Integritas Diri dalam rangka gebyar Musyawarah Nasional ke-VI Muslimat Hidayatullah yang diadakan pada Sabtu, 17 Jumadil Awwal 1447 (8/11/2025).

Pada awal pemaparan, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida), Siti Sarah Zakiyah, menegaskan bahwa setiap hari manusia akan selalu dihadapkan dengan masalah, namun justru di situlah ruang belajar dan kesempatan untuk mencari solusi. Sarah menekankan mengenai pentingnya kecerdasan diri sebagai bekal ketahanan mental dan spiritual.

Acara yang digelar secara hybrid di Masjid Ummul Quraa Hidayatullah, Depok, ini merupakan bagian dari rangkaian gebyar Munas VI Muslimat Hidayatullah. Kegiatan diikuti oleh 120 peserta luring dan sedikitnya 2000 peserta daring yang mengikuti nobar dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dengan tema Cerdas Akhlak dan Finansial, Menjadi Muslimah yang Mandiri, seminar ini diarahkan untuk memperkuat kesadaran perempuan dalam membangun kapasitas diri secara utuh.

Dalam sesi kajiannya, Sarah menguraikan lima komponen kecerdasan diri. Komponen tersebut mencakup kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Menurutnya, pemahaman terhadap lima aspek tersebut membantu seseorang tidak hanya memahami dirinya, tetapi juga menjaga kualitas interaksi sosial dan ketepatan dalam mengambil keputusan.

Sarah merujuk pada firman Allah dalam Al Qur’an surah Al Alaq ayat 1 “Iqra!”, Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu. Ia menjelaskan bahwa kemuliaan Al Qur’an tidak dapat dirasakan secara utuh tanpa memahami sejarah serta pesan yang dikandungnya.

Ia menekankan bahwa Al Qur’an hadir untuk mengajarkan keseimbangan antara intelektual dan spiritual. Karena itu, ia mengajak peserta menjadikan Al Qur’an sebagai sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar ini juga menghadirkan narasumber kedua, Khadijah Ayrrizha Vebee, dari komunitas 7Elf Ocean. Mantan finalis Putri Indonesia yang kini aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan tersebut menyampaikan pengalamannya berhijrah serta pentingnya mengelola kecerdasan emosional.

Khadijah mengutip sabda Rasulullah bahwa orang kuat adalah orang yang mampu menahan amarah, bukan yang pandai bergulat. Pesan tersebut disampaikan dia seraya menegaskan bahwa kekuatan sejati seorang muslimah bertumpu pada kemampuan menjaga kendali diri.

Khadijah juga mengingatkan peserta mengenai pentingnya kecerdasan finansial. Ia menjelaskan bahwa rezeki adalah amanah yang menuntut pengelolaan bijak, bukan semata-mata perhitungan angka.

Menurutnya, perempuan berperan penting dalam melahirkan generasi terbaik sehingga diperlukan ketangguhan, kecerdasan, dan akhlak yang kuat.

Khadijah menutup sesi dengan ajakan agar muslimah Indonesia menjadi “ratu peradaban” yang mampu memberi kontribusi bermakna bagi masyarakat.

Hidayatullah Tekankan Pengajaran Al Qur’an sebagai Fondasi Pencerdasan Kehidupan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menegaskan pentingnya pengajaran Al Qur’an bagi masyarakat sebagai bagian integral dari amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Naspi Arsyad menekankan bahwa pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Al Qur’an bukan sekadar kegiatan dakwah, melainkan kontribusi langsung terhadap tujuan negara sebagaimana tertuang dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945.

“Mengajarkan Al Qur’an berarti mengajarkan kecerdasan akal, kejernihan moral, dan ketertiban sosial. Itu semua adalah bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya kepada media ini usai menerima pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah di Jakarta, Kamis, 15 Jumadilawal 1447 (6/11/2025).

Ia menambahkan bahwa Pasal 31 UUD 1945 tentang pendidikan memberikan dasar kuat bagi umat Islam untuk terlibat aktif dalam memperluas akses pembelajaran yang bermutu.

Pertemuan tersebut juga membahas berbagai program pembinaan yang sedang dijalankan BKPTQ, termasuk perluasan program Grand MBA dan metode belajar Al Qur’an cepat Metode Al-Hidayah. Naspi Arsyad mendorong agar kedua program strategis ini terus dikembangkan, diperkuat secara metodologis, dan diperluas jangkauannya ke berbagai wilayah.

“Kami mendorong BKPTQ dan seluruh elemen pembinaan umat untuk memperkuat kapasitas, memperluas jaringan, dan bekerja dalam sinergi. Program Grand MBA dan metode Al-Hidayah telah memberikan bukti nyata di lapangan dan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Lebih jauh Naspi memaparkan, pembelajaran Al Qur’an tidak hanya menyangkut kemampuan membaca teks, tetapi juga pembentukan karakter, literasi moral, dan peningkatan kemampuan berpikir.

Dia menyebutkan, dalam banyak studi tentang pendidikan Islam, Al Qur’an dipandang sebagai sumber pedagogi yang mengintegrasikan akal, etika, dan spiritualitas. Dalam konteks negara modern, jelasnya, integrasi ketiganya menjadi modal penting untuk menciptakan warga negara yang cerdas, berintegritas, dan mampu berkontribusi pada ketertiban sosial.

“Kecerdasan bangsa bukan semata kemampuan teknis, tetapi juga mencakup kedewasaan moral. Pembelajaran Al Qur’an, terutama melalui pendekatan metode cepat yang terukur seperti Grand MBA dan Metode Al-Hidayah, membantu masyarakat memperoleh literasi dasar secara sistematis. Keterampilan membaca Al Qur’an yang baik berdampak pada peningkatan disiplin kognitif, keteraturan berpikir, dan kemampuan memahami nilai-nilai etis, yang merupakan komponen penting dari pendidikan kebangsaan,” terangnya.

Naspi Arsyad juga menekankan perlunya sinergi lintas-elemen umat Islam, baik lembaga pendidikan, ormas, pesantren, maupun struktur pembinaan di akar rumput. Menurutnya, tidak ada program pengajaran Al Qur’an yang berdampak luas tanpa sinergi.

“Kita harus saling memperkuat, saling menopang, dan saling membangun ruang kolaborasi,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa tantangan dakwah ke depan semakin kompleks, sehingga kolaborasi menjadi kebutuhan strategis.

Penguatan sinergi tersebut menurutnya relevan dengan dinamika sosial saat ini, ketika kualitas literasi Al Qur’an di sebagian masyarakat masih belum merata. Dalam konteks pembangunan nasional, ketimpangan literasi, baik literasi umum maupun literasi keagamaan, menurutnya, dapat berdampak pada kesenjangan sosial dan lemahnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

“Oleh karena itu, program pembinaan Qur’ani yang terstruktur memiliki kontribusi strategis dalam memperkecil kesenjangan tersebut,” imbuhnya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen BKPTQ untuk memperluas kualitas pelatihan guru mengaji, meningkatkan standar metode pembelajaran, serta memaksimalkan teknologi dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengajaran Al Qur’an.

Naspi Arsyad menegaskan bahwa DPP Hidayatullah akan terus mendukung upaya tersebut dalam rangka memastikan bahwa pembelajaran Al Qur’an hidup di tengah masyarakat, hadir sebagai cahaya peradaban, dan menjadi bagian dari usaha mencerdaskan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Makna Rezeki yang Melapangkan Hati dalam Refleksi Surah Al-Fajr

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Refleksi keagamaan adalah ruang bagi setiap muslim untuk mengurai kembali makna hidup yang sering kali tertutup oleh rutinitas. Salah satu tema yang terus relevan adalah tentang rezeki, terutama bagaimana manusia memahaminya, meresponsnya, dan meletakkannya dalam hubungan dengan nilai-nilai spiritual.

Dalam kajian Rabu malam di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu malam, 14 Jumadilawal 1447 (5/11/2025), Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menelaah mengenai tafsir rezeki berdasarkan Surah Al-Fajr ayat 15–16.

Pada pembahasan awal, K.H. Naspi Arsyad menegaskan bahwa rezeki tidak semata-mata identik dengan materi ataupun kelapangan harta. Ia menyampaikan bahwa segala sesuatu yang melapangkan hati, menenangkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan rezeki.

Penekanan ini menjadi dasar untuk memahami lebih jauh pesan Al-Qur’an yang membuka ruang makna rezeki secara lebih komprehensif dan tidak terbatas pada ukuran duniawi.

Kajian dibuka dengan pembacaan ayat: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15–16).

Ayat tersebut menggambarkan sikap sebagian manusia yang menilai kemuliaan atau kehinaan melalui banyak dan sedikitnya harta. Menurut penjelasan yang disampaikan, pandangan demikian mencerminkan karakter orang musyrik dan munafik pada masa turunnya ayat, yang menilai derajat dan kehormatan dari besaran materi yang dimiliki.

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Naspi Arsyad menguraikan empat pesan penting terkait pemahaman rezeki. Pertama, bahwa rezeki meliputi segala hal yang memberi kelapangan batin. Ia mencontohkan kesehatan, keluarga yang tenteram, kekuatan beribadah, hingga kemampuan untuk bersyukur sebagai bentuk rezeki yang sering tidak terperhatikan.

Kedua, kesadaran terhadap rezeki itu sendiri dipandang sebagai rezeki tertinggi. Ia menjelaskan bahwa banyak orang menikmati nikmat tetapi tidak menyadari bahwa itu merupakan pemberian Allah. Kesadaran untuk melihat segala hal sebagai karunia disebut sebagai bentuk rezeki yang mengangkat derajat spiritual seorang hamba.

Ketiga, ibadah tidak seharusnya dikerjakan sekadar karena kebiasaan. Ia menekankan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran dan keikhlasan belum menjadi rezeki. Rezeki beribadah muncul saat seorang hamba menjalankannya dengan rasa syukur dan pemahaman akan nilainya.

Keempat, manusia perlu menilai rezeki melalui kacamata iman. Rezeki biasanya dipersepsi melalui ukuran kesenangan dan keuntungan. Namun, tegas Naspi, dalam pandangan seorang mukmin, ujian dan kesempitan juga dapat menjadi bentuk rezeki karena menyimpan pelajaran dan penghapus dosa.

Gerakan Peduli Mata di Jakarta, Edukasi Kesehatan yang Kian Mendesak

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Imron Faizin mengingatkan kesehatan mata menjadi persoalan publik yang membutuhkan perhatian serius ditengah kehidupan masyarakat Indonesia yang kian terhubung dengan perangkat digital.

“Mobilitas tinggi, gaya hidup urban, dan intensitas penggunaan layar telah menciptakan tantangan baru bagi kesehatan masyarakat,” kata Imron dalam keterangannya.

Dalam konteks inilah berbagai inisiatif sosial yang menekankan perlindungan indera penglihatan memperoleh relevansi yang semakin kuat, terutama bagi komunitas perkotaan yang rentan terhadap penurunan kualitas penglihatan.

Pada kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Mata di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu, 14 Jumadilawal 1447 (5/11/2025), Imron menegaskan kembali urgensi edukasi kesehatan mata bagi masyarakat. Ia menilai kegiatan semacam ini perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian sosial.

“Kegiatan semacam ini perlu kita lakukan rutin dalam rangka menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mata dan menjaganya dengan baik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup, khususnya di kalangan muda yang banyak menghabiskan waktu di depan layar, menuntut perhatian lebih. “Banyak masyarakat, termasuk anak muda yang menatap layar berjam-jam, butuh perhatian lebih terhadap kesehatan mata. Sinergi seperti ini harus terus kita perkuat,” tambahnya.

Program sosial ini merupakan kolaborasi Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), DPW Hidayatullah DKI Jakarta, dan Rumah Qur’an Darul Ikhlas. Mereka menghadirkan layanan pemeriksaan dan terapi mata dengan menggandeng Pusat Terapi Mata Sari Kusuma 99 sebagai mitra penyembuhan. Para terapis dari pusat layanan tersebut dikenal ramah dan komunikatif, sehingga memberikan kenyamanan bagi peserta yang hadir.

Pengasuh Rumah Qur’an Darul Ikhlas, Amin Johari, menjelaskan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan mata di wilayah tersebut cukup tinggi. Ia menyampaikan bahwa banyak warga, terutama perempuan usia produktif, mengalami gangguan penglihatan.

“Data kami menunjukkan rata-rata wanita usia 30-40 tahun mengalami mata minus dan silinder. Karena itu, kegiatan ini sangat relevan dan masyarakat butuhkan,” kata Amin.

Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh peserta. Salah satunya adalah Muhammad, warga yang mengikuti pemeriksaan dan terapi. Ia menyampaikan adanya perubahan positif setelah mendapatkan layanan. “Rasanya mata jadi terang, dan setelah diukur, minus saya berkurang,” ujarnya sambil tersenyum.

Sekretaris DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi, yang turut hadir dalam kegiatan mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnyta, kegiatan ini tidak hanya menyediakan bantuan kesehatan, tetapi juga memperkuat pesan bahwa menjaga indera penglihatan turut berperan dalam menjaga kualitas hidup yang lebih baik.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menyatakan bahwa komitmen lembaganya terhadap pembangunan sumber daya manusia tetap menjadi prioritas. Ia menegaskan bahwa program seperti ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang dilakukan BMH. “BMH insya Allah komitmen dalam upaya membangun SDM Indonesia yang unggul dan beradab,” ujarnya.

Melalui sinergi berbagai pihak, dia berharap, kegiatan sosial ini menghadirkan ruang pembelajaran publik tentang pentingnya merawat mata, sekaligus membuka akses layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat urban.

Seni, Budaya, dan Olahraga Jalan Baru Menyapa Generasi Hidayatullah Masa Kini

0

KELAHIRAN Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) di struktur baru Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah merupakan langkah strategis yang menandai kesadaran baru dalam organisasi dakwah dan pendidikan Islam modern.

Langkah ini bukan hanya soal penambahan unit kerja, melainkan pembukaan ruang kreatif dan dialog bagi generasi muda yang kini hidup di tengah arus deras digitalisasi, hiburan massal, dan transformasi sosial yang cepat.

Dalam hemat saya, keberadaan departemen baru ini adalah terobosan penting. Hidayatullah, yang dikenal dengan basis dakwah dan kaderisasinya yang kuat, kini menegaskan bahwa seni, budaya, dan olahraga adalah bagian integral dari dakwah dan pembinaan umat.

Tiga ranah ini, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi medium penyadaran dan penguatan identitas keislaman di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi nilai dan gaya hidupnya.

Namun, di antara tiga sektor itu, budaya menempati posisi yang paling fundamental. Sebab budaya bukan sekadar ekspresi, melainkan cara hidup. Ia memuat nilai-nilai, kebiasaan, dan sistem makna yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam Islam, budaya (ats-tsaqafah) bukanlah wilayah sekuler yang netral, melainkan wadah spiritualitas, sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir Muslim klasik seperti Ibn Khaldun, bahwa peradaban adalah hasil dari jiwa dan nilai yang hidup dalam diri manusia.

Ruh yang Hidup dalam Kebiasaan

Sejak berdirinya pada 1973 di Gunung Tembak, Balikpapan, Hidayatullah telah membangun budaya organisasi yang khas. Dari sekian banyak kultur itu, tiga di antaranya patut dicatat sebagai identitas yang bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol nilai-nilai terdalam dari visi perjuangan.

Pertama, imbauan 30 menit sebelum waktu shalat melalui pengeras suara masjid atau biasa kita sebut “sholah-sholah”. Praktik sederhana ini memiliki makna yang kuat. Ia menumbuhkan kesadaran waktu, kedisiplinan spiritual, dan suasana batin yang senantiasa terikat pada Allah.

Dalam masyarakat modern yang cenderung terburu-buru, kebiasaan ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak semata soal efisiensi, melainkan juga ritme ruhani. Islam memang menempatkan waktu sebagai unsur moral, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-‘Ashr: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…” Imbauan tersebut adalah bentuk pendidikan batin yang menanamkan kesadaran akan nilai waktu dalam bingkai ibadah.

Kedua, wirid berjamaah pagi, sore, dan petang. Tradisi dzikir kolektif ini adalah upaya melestarikan spiritualitas yang aktif dan sosial. Dzikir tidak hanya bermakna mengingat Allah secara personal, tetapi juga mengikat batin antaranggota jamaah dalam satu irama ruhani.

Dalam salah satu sabda Nabi, kebersamaan dalam majelis dzikir seperti ini menjadi tempat turunnya ketenangan dan rahmat. Budaya ini membentuk habitus kolektif yang menjaga atmosfer spiritual kampus Hidayatullah dari rutinitas kosong.

Ketiga, menebarkan salam “Assalamu ‘alaikum” di lingkungan kampus. Sekilas tampak ringan, namun budaya salam adalah bentuk dakwah yang paling mendasar dan efektif. Rasulullah SAW menegaskan, “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Salam adalah simbol penghormatan, kasih sayang, dan kedamaian. Dalam tradisi Hidayatullah, ucapan salam menjadi wujud konkret persaudaraan, kesetaraan, dan pengakuan eksistensi antaranggota dan kaum muslimin. Budaya ini memperhalus suasana sosial, menumbuhkan empati, dan meneguhkan ikatan spiritual di tengah kehidupan modern yang individualistik.

Ketiga kebiasaan ini bukan hanya tradisi internal, melainkan warisan nilai Islam yang kontekstual. Mereka adalah bentuk “budaya yang menghidupkan” – budaya yang menumbuhkan kepekaan ruhani dan kebersamaan sosial. Bila tradisi semacam ini pudar, yang hilang bukan sekadar kebiasaan, melainkan ruh dari sistem pembinaan itu sendiri.

Budaya dan Tantangan Zaman

Di era digital yang penuh distraksi, budaya acapkali direduksi menjadi sekadar hiburan dan gaya hidup instan. Padahal dalam pandangan Islam, budaya adalah wasilah peradaban, medium membumikan nilai ilahiah dalam ruang sosial manusia. Inilah tantangan yang kini dihadapi oleh organisasi keislaman seperti Hidayatullah.

Pembentukan Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga adalah respons terhadap tantangan itu. Dalam ruang budaya, Hidayatullah dapat mengembangkan ekspresi seni Islam yang beradab, pola olahraga yang menumbuhkan etos jihad dan disiplin, serta pelestarian tradisi luhur yang telah menjadi identitas. Seni dapat menjadi bahasa dakwah yang lembut, budaya menjadi konteks nilai, dan olahraga menjadi wadah pembentukan karakter.

Namun demikian, kunci keberhasilan bukan pada banyaknya program, melainkan pada kemampuan menjaga nilai. Dalam kerangka gerakan Hidayatullah, budaya tidak boleh tercerabut dari akar tauhid. Semua ekspresi seni, aktivitas budaya, dan ajang olahraga harus berporos pada nilai ilahiah, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Menjaga Ruh, Menyapa Generasi

Refleksi atas tiga budaya khas Hidayatullah ini menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar aktivitas, melainkan energi keberimanan. Tradisi ini perlu terus dihidupkan dan dikontekstualisasikan agar mampu menjawab tantangan generasi kini tanpa kehilangan ruhnya.

Departemen SBO menjadi wadah yang tepat untuk merawat nilai-nilai tersebut dalam bentuk baru yang kreatif dan komunikatif. Seni bisa menjadi jembatan antar generasi; budaya bisa menjadi sarana pendidikan karakter; olahraga bisa membentuk ketahanan fisik dan mental kader dakwah.

Ketika budaya dipelihara dalam ruh tauhid, maka seni menjadi ibadah, olahraga menjadi jihad, dan kehidupan sehari-hari menjadi dakwah. Inilah makna terdalam dari visi kultural Islam yang ingin dihidupkan kembali oleh Hidayatullah, bahwa budaya sejati bukan hanya yang indah di mata, tetapi yang menenangkan hati dan menghidupkan iman.

*) Deden Sugianto Darwin, penulis adalah Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah

Dai Senior Hidayatullah di Papua Ustadz Al Djufri Muhammad Berpulang

0

INNAA lillahi wa innaA ilaihi raji’un. Al Djufri Muhammad, sosok yang dikenal sebagai dai senior Hidayatullah, telah berpulang pada hari Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 H (4 November 2025) di Mimika, Kabupaten Timika, Provinsi Papua.

Dengan meninggalnya beliau, dunia dakwah dan pendidikan Islam di kawasan timur Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang mencurahkan hidupnya untuk menegakkan hadirnya Islam terpadu dalam wilayah yang terhimpit tantangan alam dan sosial.

Sebagai dai dan mengemban tugas sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, Al Djufri menjalankan amanah yang tidak ringan. Di tengah situasi pedalaman yang tidak mudah, ia bergerak tanpa lelah untuk mendirikan dan memantapkan lembaga-lembaga pendidikan yang menggabungkan pengajaran agama dan pemahaman kontekstual atas kondisi masyarakat setempat.

Dalam serial liputan Republika (1/7/2014) mengenai dakwah di pedalaman Papua, sosok Al Djufri disebut beberapa kali langsung berada di medan lumpur, turunan keras jalur akses, dan situasi yang amat menantang untuk menggapai wilayah-wilayah di mana sekolah atau pesantren hampir tak terjamah.

Jejak-jejak dakwahnya menampilkan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Dalam salah satu cerita liputan dikisahkan bagaimana jalan pedalaman yang dilintasi beliau terkadang sedemikian rusak dan berbentuk lumpur dalam sehingga kendaraan sering terjebak.

Namun, Al Djufri tidak gentar. Ia tetap meneruskan perjalanan karena urgensi menyebarkan ilmu dan meneguhkan hadirnya pendidikan Islam di wilayah yang kerap luput dari perhatian.

Selain medan fisik, tantangan sosial-kultural di Papua menjadi latar perjuangan beliau. Al Djufri hadir sebagai figur yang memahami bahwa pendidikan agama tidak bisa dilepaskan dari kondisi lokal bahwa anak-anak di pedalaman membutuhkan akses, guru, fasilitas, dan semangat yang sebenar-benarnya untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, bertakwa, dan peduli terhadap masyarakat.

Kepergian beliau menjadi momen duka bagi banyak pihak: santri, guru, keluarga besar Hidayatullah, serta masyarakat Papua yang menjadi bagian dari jangkauan dakwahnya.

Dalam mengenang Al Djufri Muhammad, beberapa hal layak dicatat tentang sosoknya. Pertama, keberanian dan kesetiaan terhadap dakwah di wilayah yang sulit. Bukan di kota besar dengan fasilitas lengkap, melainkan di pedalaman Papua yang memerlukan keteguhan hati dan keuletan fisik. Ia menempuh jalan berlumpur, berhadapan dengan rintangan fasilitas, transportasi, bahkan risiko sosial di jalan-jalan yang sering sepi dan sulit diakses.

Kedua, kepemimpinannya dalam pendidikan. Sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, ia tidak hanya sebagai figur administratif, tetapi sebagai pelaku langsung dalam membangun lembaga pendidikan integral.

Ia memahami bahwa penguatan lembaga pendidikan tak boleh hanya berhenti di bangunan dan kurikulum formal, melainkan harus hadir dalam konteks sosial, ekonomi, dan budaya lokal agar pendidikan benar-benar bermakna untuk anak-anak pedalaman.

Ketiga, jejak relasi dengan masyarakat. Dalam setiap kunjungan ke pedalaman, Al Djufri tak sekadar datang sebagai pengajar atau pemimpin, tetapi sebagai sahabat dan penggerak komunitas.

Kisah-kisah liputan mencatat bagaimana banyak orang pedalaman mengenalnya, dan kehadirannya dipandang bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ingin berkembang bersama.

Dengan wafatnya Al Djufri Muhammad, dunia dakwah dan pendidikan Islam di Papua dan khususnya jaringan Hidayatullah kehilangan teladan yang sambil mengajar juga ikut melewati lumpur, medan berat, dan tantangan yang tak banyak dipilih oleh orang lain.

Meskipun beliau telah tiada, intangible legacy-nya tentang keberanian, pengabdian, semangat membangun umat lewat dakwah dan pendidikan di garis terdepan tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafan, dan menempatkan beliau dalam golongan orang-orang yang mendapat rahmat luas. Serta, santri-santri yang pernah dibimbingnya menjadi penerus yang konsisten dalam pengabdian dan ilmu.