Beranda blog Halaman 78

Seni, Budaya, dan Olahraga Jalan Baru Menyapa Generasi Hidayatullah Masa Kini

0

KELAHIRAN Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) di struktur baru Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah merupakan langkah strategis yang menandai kesadaran baru dalam organisasi dakwah dan pendidikan Islam modern.

Langkah ini bukan hanya soal penambahan unit kerja, melainkan pembukaan ruang kreatif dan dialog bagi generasi muda yang kini hidup di tengah arus deras digitalisasi, hiburan massal, dan transformasi sosial yang cepat.

Dalam hemat saya, keberadaan departemen baru ini adalah terobosan penting. Hidayatullah, yang dikenal dengan basis dakwah dan kaderisasinya yang kuat, kini menegaskan bahwa seni, budaya, dan olahraga adalah bagian integral dari dakwah dan pembinaan umat.

Tiga ranah ini, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi medium penyadaran dan penguatan identitas keislaman di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi nilai dan gaya hidupnya.

Namun, di antara tiga sektor itu, budaya menempati posisi yang paling fundamental. Sebab budaya bukan sekadar ekspresi, melainkan cara hidup. Ia memuat nilai-nilai, kebiasaan, dan sistem makna yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam Islam, budaya (ats-tsaqafah) bukanlah wilayah sekuler yang netral, melainkan wadah spiritualitas, sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir Muslim klasik seperti Ibn Khaldun, bahwa peradaban adalah hasil dari jiwa dan nilai yang hidup dalam diri manusia.

Ruh yang Hidup dalam Kebiasaan

Sejak berdirinya pada 1973 di Gunung Tembak, Balikpapan, Hidayatullah telah membangun budaya organisasi yang khas. Dari sekian banyak kultur itu, tiga di antaranya patut dicatat sebagai identitas yang bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol nilai-nilai terdalam dari visi perjuangan.

Pertama, imbauan 30 menit sebelum waktu shalat melalui pengeras suara masjid atau biasa kita sebut “sholah-sholah”. Praktik sederhana ini memiliki makna yang kuat. Ia menumbuhkan kesadaran waktu, kedisiplinan spiritual, dan suasana batin yang senantiasa terikat pada Allah.

Dalam masyarakat modern yang cenderung terburu-buru, kebiasaan ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak semata soal efisiensi, melainkan juga ritme ruhani. Islam memang menempatkan waktu sebagai unsur moral, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-‘Ashr: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…” Imbauan tersebut adalah bentuk pendidikan batin yang menanamkan kesadaran akan nilai waktu dalam bingkai ibadah.

Kedua, wirid berjamaah pagi, sore, dan petang. Tradisi dzikir kolektif ini adalah upaya melestarikan spiritualitas yang aktif dan sosial. Dzikir tidak hanya bermakna mengingat Allah secara personal, tetapi juga mengikat batin antaranggota jamaah dalam satu irama ruhani.

Dalam salah satu sabda Nabi, kebersamaan dalam majelis dzikir seperti ini menjadi tempat turunnya ketenangan dan rahmat. Budaya ini membentuk habitus kolektif yang menjaga atmosfer spiritual kampus Hidayatullah dari rutinitas kosong.

Ketiga, menebarkan salam “Assalamu ‘alaikum” di lingkungan kampus. Sekilas tampak ringan, namun budaya salam adalah bentuk dakwah yang paling mendasar dan efektif. Rasulullah SAW menegaskan, “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Salam adalah simbol penghormatan, kasih sayang, dan kedamaian. Dalam tradisi Hidayatullah, ucapan salam menjadi wujud konkret persaudaraan, kesetaraan, dan pengakuan eksistensi antaranggota dan kaum muslimin. Budaya ini memperhalus suasana sosial, menumbuhkan empati, dan meneguhkan ikatan spiritual di tengah kehidupan modern yang individualistik.

Ketiga kebiasaan ini bukan hanya tradisi internal, melainkan warisan nilai Islam yang kontekstual. Mereka adalah bentuk “budaya yang menghidupkan” – budaya yang menumbuhkan kepekaan ruhani dan kebersamaan sosial. Bila tradisi semacam ini pudar, yang hilang bukan sekadar kebiasaan, melainkan ruh dari sistem pembinaan itu sendiri.

Budaya dan Tantangan Zaman

Di era digital yang penuh distraksi, budaya acapkali direduksi menjadi sekadar hiburan dan gaya hidup instan. Padahal dalam pandangan Islam, budaya adalah wasilah peradaban, medium membumikan nilai ilahiah dalam ruang sosial manusia. Inilah tantangan yang kini dihadapi oleh organisasi keislaman seperti Hidayatullah.

Pembentukan Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga adalah respons terhadap tantangan itu. Dalam ruang budaya, Hidayatullah dapat mengembangkan ekspresi seni Islam yang beradab, pola olahraga yang menumbuhkan etos jihad dan disiplin, serta pelestarian tradisi luhur yang telah menjadi identitas. Seni dapat menjadi bahasa dakwah yang lembut, budaya menjadi konteks nilai, dan olahraga menjadi wadah pembentukan karakter.

Namun demikian, kunci keberhasilan bukan pada banyaknya program, melainkan pada kemampuan menjaga nilai. Dalam kerangka gerakan Hidayatullah, budaya tidak boleh tercerabut dari akar tauhid. Semua ekspresi seni, aktivitas budaya, dan ajang olahraga harus berporos pada nilai ilahiah, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Menjaga Ruh, Menyapa Generasi

Refleksi atas tiga budaya khas Hidayatullah ini menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar aktivitas, melainkan energi keberimanan. Tradisi ini perlu terus dihidupkan dan dikontekstualisasikan agar mampu menjawab tantangan generasi kini tanpa kehilangan ruhnya.

Departemen SBO menjadi wadah yang tepat untuk merawat nilai-nilai tersebut dalam bentuk baru yang kreatif dan komunikatif. Seni bisa menjadi jembatan antar generasi; budaya bisa menjadi sarana pendidikan karakter; olahraga bisa membentuk ketahanan fisik dan mental kader dakwah.

Ketika budaya dipelihara dalam ruh tauhid, maka seni menjadi ibadah, olahraga menjadi jihad, dan kehidupan sehari-hari menjadi dakwah. Inilah makna terdalam dari visi kultural Islam yang ingin dihidupkan kembali oleh Hidayatullah, bahwa budaya sejati bukan hanya yang indah di mata, tetapi yang menenangkan hati dan menghidupkan iman.

*) Deden Sugianto Darwin, penulis adalah Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah

Dai Senior Hidayatullah di Papua Ustadz Al Djufri Muhammad Berpulang

0

INNAA lillahi wa innaA ilaihi raji’un. Al Djufri Muhammad, sosok yang dikenal sebagai dai senior Hidayatullah, telah berpulang pada hari Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 H (4 November 2025) di Mimika, Kabupaten Timika, Provinsi Papua.

Dengan meninggalnya beliau, dunia dakwah dan pendidikan Islam di kawasan timur Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang mencurahkan hidupnya untuk menegakkan hadirnya Islam terpadu dalam wilayah yang terhimpit tantangan alam dan sosial.

Sebagai dai dan mengemban tugas sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, Al Djufri menjalankan amanah yang tidak ringan. Di tengah situasi pedalaman yang tidak mudah, ia bergerak tanpa lelah untuk mendirikan dan memantapkan lembaga-lembaga pendidikan yang menggabungkan pengajaran agama dan pemahaman kontekstual atas kondisi masyarakat setempat.

Dalam serial liputan Republika (1/7/2014) mengenai dakwah di pedalaman Papua, sosok Al Djufri disebut beberapa kali langsung berada di medan lumpur, turunan keras jalur akses, dan situasi yang amat menantang untuk menggapai wilayah-wilayah di mana sekolah atau pesantren hampir tak terjamah.

Jejak-jejak dakwahnya menampilkan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Dalam salah satu cerita liputan dikisahkan bagaimana jalan pedalaman yang dilintasi beliau terkadang sedemikian rusak dan berbentuk lumpur dalam sehingga kendaraan sering terjebak.

Namun, Al Djufri tidak gentar. Ia tetap meneruskan perjalanan karena urgensi menyebarkan ilmu dan meneguhkan hadirnya pendidikan Islam di wilayah yang kerap luput dari perhatian.

Selain medan fisik, tantangan sosial-kultural di Papua menjadi latar perjuangan beliau. Al Djufri hadir sebagai figur yang memahami bahwa pendidikan agama tidak bisa dilepaskan dari kondisi lokal bahwa anak-anak di pedalaman membutuhkan akses, guru, fasilitas, dan semangat yang sebenar-benarnya untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, bertakwa, dan peduli terhadap masyarakat.

Kepergian beliau menjadi momen duka bagi banyak pihak: santri, guru, keluarga besar Hidayatullah, serta masyarakat Papua yang menjadi bagian dari jangkauan dakwahnya.

Dalam mengenang Al Djufri Muhammad, beberapa hal layak dicatat tentang sosoknya. Pertama, keberanian dan kesetiaan terhadap dakwah di wilayah yang sulit. Bukan di kota besar dengan fasilitas lengkap, melainkan di pedalaman Papua yang memerlukan keteguhan hati dan keuletan fisik. Ia menempuh jalan berlumpur, berhadapan dengan rintangan fasilitas, transportasi, bahkan risiko sosial di jalan-jalan yang sering sepi dan sulit diakses.

Kedua, kepemimpinannya dalam pendidikan. Sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, ia tidak hanya sebagai figur administratif, tetapi sebagai pelaku langsung dalam membangun lembaga pendidikan integral.

Ia memahami bahwa penguatan lembaga pendidikan tak boleh hanya berhenti di bangunan dan kurikulum formal, melainkan harus hadir dalam konteks sosial, ekonomi, dan budaya lokal agar pendidikan benar-benar bermakna untuk anak-anak pedalaman.

Ketiga, jejak relasi dengan masyarakat. Dalam setiap kunjungan ke pedalaman, Al Djufri tak sekadar datang sebagai pengajar atau pemimpin, tetapi sebagai sahabat dan penggerak komunitas.

Kisah-kisah liputan mencatat bagaimana banyak orang pedalaman mengenalnya, dan kehadirannya dipandang bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ingin berkembang bersama.

Dengan wafatnya Al Djufri Muhammad, dunia dakwah dan pendidikan Islam di Papua dan khususnya jaringan Hidayatullah kehilangan teladan yang sambil mengajar juga ikut melewati lumpur, medan berat, dan tantangan yang tak banyak dipilih oleh orang lain.

Meskipun beliau telah tiada, intangible legacy-nya tentang keberanian, pengabdian, semangat membangun umat lewat dakwah dan pendidikan di garis terdepan tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafan, dan menempatkan beliau dalam golongan orang-orang yang mendapat rahmat luas. Serta, santri-santri yang pernah dibimbingnya menjadi penerus yang konsisten dalam pengabdian dan ilmu.

Dunia Kian Canggih, Tapi Setan Semakin Halus Menyelinap ke Hati Manusia

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam Al Qur’an banyak memuat dialog tentang perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam, penolakan dan kesombongan Iblis, bisikan Iblis kepada Adam, dan kisah Adam beserta istrinya yang akhirnya diturunkan ke bumi. Diantaranya seperti yang terkandung pada Surah Al-Baqarah ayat 30-39, Surah Al-A’raf ayat 11-25, dan Surah Thaha ayat 115-123.

Pada halaqah subuh di Masjid Ummul Qura, Pesantren Hidayatullah Depok, Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 (4/11/2025), Ust. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar kembali menekankan kandungan materi tersebut dengan menyajikan refleksi Surah Al Hijr 39–42 yang melukiskan bagaimana Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia, kecuali mereka yang benar-benar terjaga dalam kemurnian ibadah kepada Allah Ta’ala.

“Ayat ayat dalam surah ini menjadi salah satu bagian penting dalam Al-Qur’an yang membuka kesadaran manusia tentang hakikat pertempuran batin yang terus berlangsung antara manusia dan setan,” katanya.

Ia menjelaskan, ayat ini turun dalam konteks kisah penciptaan Adam dan penolakan Iblis untuk bersujud kepadanya. Iblis yang dipenuhi kesombongan menganggap dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Akibat keangkuhan itu, Iblis dikutuk keluar dari rahmat Allah.

Namun, sebelum diusir, Iblis meminta penangguhan waktu hingga hari kebangkitan untuk menggoda manusia. Dalam ayat ini, Iblis menegaskan rencananya untuk menyesatkan semua keturunan Adam, kecuali mereka yang tergolong mukhlasin.

“Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman setan terhadap manusia. Ia tidak datang dengan bentuk fisik yang mudah dikenali, melainkan berperan halus sebagai qarin, pendamping dari kalangan setan yang selalu membisikkan keburukan,” jelasnya.

Hadits Nabi telah menegaskan bahwa kehadiran qarin merupakan bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memilikinya. Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada kemampuan Nabi untuk menundukkan setan yang melekat padanya.

“Dengan pertolongan Allah, Nabi mampu mengubah kekuatan destruktif itu menjadi dorongan kebaikan. Di sinilah letak hikmah besar ayat ini, bahwa manusia tidak pernah benar-benar bebas dari godaan setan, tetapi dapat mengendalikan pengaruhnya melalui kemurnian hati dan ketaatan yang total kepada Allah,” tegasnya.

Lebih jauh ia mengatakan, ditengah kehidupan modern yang kian maju seperti sekarang dimana arus informasi berkelindan tanpa batas, manusia menghadapi bentuk-bentuk baru dari “godaan setan” yang membungkus diri dalam teknologi, hiburan, dan ambisi material.

Godaan itu tidak selalu datang dalam bentuk kejahatan eksplisit tapi hadir dalam bentuk kemudahan, popularitas, atau kesenangan yang meninabobokan jiwa. Dalam situasi seperti ini, jelas Aziz, keberadaan ‘qarin’ menjadi semakin nyata, bukan sebagai entitas metafisik yang menakutkan, tetapi sebagai simbol kecenderungan manusia terhadap dorongan negatif yang terus membayang-bayangi pikiran dan perbuatannya.

Namun, terangnya, Allah Ta’ala menegaskan bahwa hanya ‘mukhlasin’ yang mampu lolos dari jerat setan. Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa mukhlasin adalah mereka yang dibersihkan oleh Allah dari syirik dan penyakit hati, sehingga tidak ada ruang bagi setan untuk masuk ke dalam jiwa mereka. Sementara Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai bentuk jaminan bahwa keikhlasan adalah benteng paling kokoh dari segala tipu daya setan.

“Ikhlas bukan hanya perasaan religius, tetapi kondisi kesadaran diri bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kuasa Allah,” katanya.

Ia mengajak berkaca pada peri-kehidupan Rasulullah SAW yang memberikan teladan konkret bagaimana menghadapi godaan setan. Beliau menjaga kedekatan dengan Allah melalui dzikir, istighfar, dan shalat malam yang konsisten.

Dalam satu hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda yang menegaskan bahwa setan mengalir dalam diri manusia sebagaimana darah mengalir seraya berwasiat untuk mempersempit jalannya dengan lapar dan dzikir kepada Allah.

“Menjadi mukhlasin berarti menempuh jalan yang sunyi, jernih, dan terus-menerus membersihkan niat dari segala selain Allah. Keikhlasan menjadi satu-satunya jalan untuk tetap selamat dari bisikan setan yang terus mengintai dari balik segala bentuk kenikmatan,” tandasnya.

Manajemen Sosial Memanusiakan, Hidayatullah Ingatkan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menyesalkan tindakan kekerasan yang terjadi di Masjid Agung Sibolga, Jalan Diponegoro, Kecamatan Sibolga Kota, Jumat (31/10) hingga jatuh korban. Korban berinisial AT (21), dilaporkan awalnya tidur beristirahat di masjid, kemudian ditegur dan dianiaya oleh sekelompok orang hingga mengalami luka berat di bagian kepala dan akhirnya meninggal dunia.

Wakil Sekretaris Jenderal III Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Isnaini mengatakan menyesalkan kejadian ini karena tiga sebab pokok. Pertama, tindakan kekerasan di ruang yang semestinya aman mencederai rasa keadaban dan kemanusiaan.

“Masjid, dalam pemahaman luas dan dalam konteks agenda pembinaan umat, memang seharusnya lebih dari sekadar ruang ibadah ritual. Masjid adalah pusat peradaban Islam,” kata Isnaini dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 2 Jumadil Awal 1447 (3/11/2025).

Kedua, jelas Isnaini, kejadian ini menjadi pengingat bahwa fungsi masjid tidak otomatis terlaksana hanya dengan bangunan dan jamaah. Menurutnya, pemakmuran masjid membutuhkan manajemen sosial yang sensitif terhadap keberagaman, kondisi pengguna, dan tanggung jawab moral.

“Jika sebuah masjid justru menjadi tempat kematian seorang pemuda karena tidur di situ untuk beristirahat maka ada kegagalan fungsi sosial yang harus diakui,” katanya.

Ketiga, lanjutnya, dimensi institusional dan pendidikan dari masjid sebagai pusat peradaban harus kembali direfleksikan secara serius. Kejadian ini menurutnya konfrontatif terhadap semangat itu di mana seharusnya sikap empatik dan pembinaan umat, terjadi kekerasan spontan yang merenggut nyawa.

Kendati demikian, dia menegaskan, tidaklah adil menyimpulkan bahwa fungsi masjid secara keseluruhan gagal karena satu insiden. Banyak masjid yang dengan giat menjadi pusat aktivitas kemaslahatan, pendidikan, dan sosial.

Dalam lingkup yang lebih luas, jelas Isnaini, kejadian ini menjadi momentum penting untuk mendorong implementasi nilai-nilai pemakmuran seluruh masjid secara nasional sebagai pusat ilmu dan karakter.

Isnaini pun mengajak segenap pengelola masjid termasuk masjid di lingkungan Hidayatullah untuk memperkuat kegiatan pengarusutamaan nilai masjid sebagai majelis ilmu, kegiatan sosial-kemasyarakatan, ruang konsultasi, dan program pemuda yang aktif.

“Kalau hal ini terealisasi, fungsi masjid sebagai benteng peradaban akan lebih nyata,” tegasnya.

Untuk menghindari tragedi serupa, semua pihak termasuk DKM dan masyarakat sekitar perlu menyinergikan pengawasan terhadap aktivitas malam di masjid, khususnya jam penggunaan dan keamanan lingkungan.

Sebagai rumah Allah dan pusat peradaban, kata Isnaini, masjid harus dibentengi bukan hanya secara fisik tetapi juga secara budaya, kelembagaan, dan sosial bahkan dari sikap sederhana seperti menghormati orang yang tidur di masjid untuk istirahat hingga terbukanya ruang dialog antar-jamaah.

“Setiap masjid harus menjadi tempat persinggahan manusia yang aman, tidak hanya untuk ritual ibadah, tetapi juga untuk kebutuhan kemanusiaan. Jika masjid gagal menjalankan fungsi ini, maka ia kehilangan makna fundamentalnya,” tandasnya.

Khotmil Qur’an Nasional Muslimat Hidayatullah Teguhkan Spirit Indonesia Emas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam kehidupan berbangsa yang tengah mencari arah moral dan spiritual menuju Indonesia Emas 2045, penting untuk mengingat bahwa ukuran kemajuan tidak semata diukur dari kemegahan pembangunan fisik atau kemajuan teknologi.

Dalam perspektif Islam, tolok ukur keemasan suatu bangsa justru ditentukan oleh kedalaman iman dan stabilitas spiritual masyarakatnya. Hal inilah yang menjadi pokok pandangan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida), Ustadzah Hani Akbar, dalam kegiatan Khotmil Al-Qur’an Nasional yang digelar Muslimat Hidayatullah di Aula Orny Loebis DPP Hidayatullah, Jakarta, pada Jumat, 10 Jumadil Awal 1447 (1/11/2025).

“Dalam pandangan Islam, ukuran keemasan sebuah peradaban bukanlah gemerlap duniawi, tetapi stabilitas keimanan masyarakatnya. Karena dari keimanan yang kuatlah lahir peradaban yang beradab dan bermartabat,” ujar Ustadzah Hani Akbar.

Kegiatan yang mengusung tema “Menguatkan Jiwa Menuju Indonesia Emas dengan Al-Qur’an” ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti sekitar 50 peserta secara langsung serta ratusan lainnya dari berbagai wilayah Indonesia melalui tayangan bersama. Rangkaian ini menjadi bagian dari gebyar Musyawarah Nasional (Munas) Muslimat Hidayatullah 2025 yang meneguhkan visi organisasi untuk membangun keluarga Qur’ani sebagai basis peradaban Islam.

Menurut Hani, Khotmil Qur’an Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, ia menjadi bentuk ikhtiar spiritual bersama untuk memperkuat ruh jihad perempuan Muslimah dalam dakwah, serta menyatukan langkah seluruh kader dan simpatisan Muslimat Hidayatullah dari berbagai daerah.

“Ini adalah momentum untuk menyatukan hati dan langkah dalam kecintaan kepada Al-Qur’an, agar kita semua senantiasa berorientasi pada nilai-nilai Ilahiyah dalam setiap kiprah kehidupan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, narasumber kegiatan, Ustadz Muhammad Yusri Ramadhan Alzamy, menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan peradaban Islam. Ia menekankan pentingnya tidak hanya membaca, tetapi juga mentadaburi dan mengamalkan ajarannya.

“Generasi terbaik dalam sejarah Islam adalah generasi Nabi. Maka, Indonesia Emas hanya dapat diraih jika masyarakatnya meneladani generasi tersebut dalam kedekatannya dengan Al-Qur’an,” ujarnya.

Ustadz Yusri kemudian mengutip firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 28, ‘(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.’ Ia menjelaskan bahwa ketenangan hati yang diperoleh melalui zikir dan tilawah Al-Qur’an adalah fondasi bagi terbentuknya generasi yang kuat secara spiritual dan moral.

Kegiatan Khotmil Qur’an Nasional ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali semangat rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat yang tengah diuji oleh derasnya arus globalisasi dan krisis nilai.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi suluh penerang bagi jiwa-jiwa yang merindukan kebaikan, serta menjadi wasilah turunnya keberkahan Allah bagi perjuangan Muslimat Hidayatullah dalam menyongsong masa depan Indonesia yang lebih bermartabat dan berkeadaban,” tandas Ustadzah Hani.

Dengan demikian, tambah Hani, melalui semangat tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, Muslimat Hidayatullah meneguhkan peran strategis perempuan Muslim dalam membangun fondasi spiritual bangsa.

“Sebab, dari tangan-tangan perempuan berimanlah lahir generasi yang tangguh, berakhlak, dan berjiwa Qur’ani, sebagai pilar utama menuju Indonesia Emas yang berkeimanan teguh,” tukasnya.

Ponpes Hidayatullah Ikut Sukseskan Doa Bersama dan Mlaku Bareng Santri di GOR Sidoarjo

0

SIDOARJO (Hidayatullah.or.id) – Hari Santri Nasional bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi menjadi momen reflektif untuk mengingat kembali jejak historis perjuangan para santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat kebangsaan yang lahir dari pesantren merupakan bagian integral dari perjalanan panjang bangsa ini membangun jati diri dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Manager Unit BMH Sidoarjo, Abdul Karim, menegaskan pentingnya nilai-nilai perjuangan itu untuk terus diwariskan melalui keterlibatan aktif santri dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

“Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang peran besar para santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sekaligus meneladani semangat perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian mereka,” ujarnya di sela kegiatan peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Sidoarjo, Ahad, 1 Jumadil Awal 1447 (2/11/2025).

Dalam kesempatan itu, puluhan santri dari Pondok Pesantren Hidayatullah Sidoarjo turut menyemarakkan kegiatan bertajuk Doa Bersama, Mlaku Bareng Santri, dan Festival UMKM yang berlangsung di Parkir Timur GOR Delta Sidoarjo.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn., dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, antara lain Ketua DPRD Sidoarjo H. Abdilah Nasih, Ketua PCNU Sidoarjo KH. Zainal Abidin, M.Pd., serta Direktur PT Radar Surabaya, Lilik Widyantoro.

Sejak pagi pukul 06.00, para santri dan masyarakat mulai memadati area acara. Suasana kebersamaan tampak hangat ketika Bupati Subandi mengibarkan bendera start sebagai tanda dimulainya kegiatan jalan santai “Mlaku Bareng Santri”. Acara ini menjadi simbol semangat gotong royong dan kekompakan masyarakat dalam memperingati hari yang memiliki nilai historis bagi bangsa.

Abdul Karim sebagai salah satu pendamping rombongan ini menjelaskan bahwa keterlibatan santri Hidayatullah tidak hanya sekadar partisipasi, tetapi merupakan bentuk nyata kontribusi dalam menghidupkan semangat keumatan dan kebangsaan di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Hidayatullah Sidoarjo sendiri merupakan salah satu mitra binaan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sidoarjo, yang selama ini aktif melaksanakan berbagai program sosial dan pemberdayaan umat.

“BMH bersama pesantren terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas melalui berbagai program sosial seperti wakaf Al-Qur’an, sumur bor, beras santri, sedekah buka puasa sunnah, hingga pembangunan mushala di pelosok,” tambah Abdul Karim.

Ia juga mengajak para dermawan untuk terus menumbuhkan kepedulian dan partisipasi dalam mendukung program-program tersebut agar kebermanfaatannya semakin luas.

Kegiatan peringatan Hari Santri di Sidoarjo tidak hanya menampilkan semangat keagamaan, tetapi juga menggambarkan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan Islam, dan masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

Melalui momentum ini, semangat perjuangan para santri dan ulama di masa lalu diharapkan terus hidup dalam jiwa generasi muda, menjadi fondasi moral dalam membangun bangsa yang berkeadaban dan berkeadilan.

Kunjungan Pengusaha Agribisnis ke Hidayatullah, Bahas Peluang Ekspor Sekam dan Sabut Kelapa ke Belanda

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengusaha agribisnis nasional Ade Wardhana Adinata yang juga founder dari Minaqu Indonesia melakukan kunjungan ke Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 8 Jumadil Awal 1447 (30/10/2025).

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka silaturrahim sekaligus mengucapkan selamat atas terpilihnya KH Naspi Arsyad sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Ade Wardhana yang dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang pertanian yang telah mengekspor tanaman hias dalam bentuk kultur jaringan (tissue culture) ke 56 negara, termasuk ke Belanda, hadir bersama dua mitra bisnisnya asal Belanda, yaitu Mr. Jan dan Mr. Frank. Dalam pertemuan tersebut, mereka membuka peluang kerja sama dengan Hidayatullah yang memiliki jejaring hampir di seluruh kota kabupaten di Indonesia.

Beberapa skema kerja sama yang dijajaki antara pihak Minaqu Indonesia, mitra Belanda, dan Hidayatullah mencakup potensi ekspor produk agraria seperti sekam bakar, batok dan sabut kelapa dari Indonesia ke Belanda.

Dalam sambutannya, Ade Wardhana menyampaikan apresiasi kepada Hidayatullah atas penerimaan dan sambutan hangatnya terhadap kunjungan bisnis pertama mitra Belanda.

“Kami sangat berterima kasih atas penerimaan Hidayatullah dalam kunjungan pertama kami ke Indonesia,” ungkap Mr. Jan secara simbolis dalam pertemuan tersebut. Pihak Belanda melihat potensi kemitraan yang strategis melalui jaringan dakwah dan sosial Hidayatullah yang tersebar hingga tingkat daerah.

Sementara itu, KH Naspi Arsyad dalam sambutannya menekankan pentingnya menjembatani antara dakwah, pendidikan, dan ekonomi mikro-makro sebagai bagian dari kontribusi Hidayatullah terhadap pembangunan ekonomi umat. Ia menyebut bahwa kerja sama yang bersifat bisnis dan sosial dapat menjadi bagian dari penguatan jaringan ekonomi di kalangan anggota dan mitra Hidayatullah.

Para pihak sepakat untuk melanjutkan kajian teknis mengenai rantai pasok dan ekspor produk sabut dan batok kelapa mulai dari ketersediaan bahan baku di tingkat petani, standar mutu ekspor, hingga regulasi logistik dan pemasaran di Belanda.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Muhammad Isnaini dalam keterangannya mengatakan kunjungan ini menjadi langkah awal yang bersifat simbolis namun potensial bagi pembukaan kerja sama agrikultur lintas negara yang menggabungkan kapabilitas pengusaha Indonesia, mitra asing, dan jejaring organisasi nasional.

“Jika direalisasikan dengan baik, peluang seperti ekspor sabut, batok kelapa dan sekam bakar dapat menjadi perluasan ekonomi berbasis sumber daya lokal sekaligus memperkuat peran organisasi dakwah dalam bidang pemberdayaan ekonomi,” katanya.

Ke depan, dia menambahkan, keberlanjutan kolaborasi ini akan bergantung pada penyusunan skema yang konkret, kesiapan standar ekspor, serta sinergi antara sektor bisnis dan komunitas dakwah.

“Dengan demikian, momen kunjungan pada hari ini bukan hanya menguatkan silaturrahim, melainkan bisa menjadi batu loncatan bagi sinergi ekonomi-keagamaan yang produktif,” tandasnya.

Pemuda Hidayatullah Apresiasi Ketegasan Kementan Tertibkan Harga Pupuk Subsidi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, apresiasi pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) atas langkah tegas menindak pengecer dan distributor pupuk bersubsidi yang menjual di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Kami mengapresiasi langkah korektif Kementan yang konsisten melakukan penertiban. Penegakan HET ini bukan semata-mata soal kepatuhan regulasi, melainkan instrumen keadilan agar petani benar-benar memperoleh pupuk pada harga yang ditetapkan negara,” ujar Rasfiuddin dalam keterangannya di Jakarta, 9 Jumadil Awal 1447 (31/10/2025).

Ia menegaskan, kepastian harga dan pasokan adalah prasyarat naiknya produktivitas sekaligus ketahanan pangan. Langkah tegas pemerintah dalam beberapa bulan terakhir tercermin dari pencabutan izin terhadap 2.039 kios dan pelaku usaha pupuk bersubsidi yang terbukti melanggar ketentuan.

Kebijakan tersebut diambil untuk melindungi kepentingan petani dan menertibkan mata rantai distribusi dari praktik permainan harga. Data pemerintah menyebutkan, pelanggaran tersebar di 285 kabupaten/kota pada 28 provinsi, dari total 27.319 kios pupuk yang ada. Pencabutan izin ini diposisikan sebagai sanksi administratif yang diiringi upaya pemulihan layanan distribusi agar tidak mengganggu kebutuhan petani di musim tanam.

Di sisi hulu kebijakan, pemerintah juga menurunkan HET pupuk bersubsidi hingga 20 persen yang mulai diberlakukan pada 22 Oktober 2025. Kebijakan ini menegaskan arah pro-petani di tengah tekanan biaya produksi. Penurunan HET dimaksudkan memperkuat daya beli petani sekaligus meredam insentif ekonomi bagi permainan harga di tingkat kios. Kementan menyatakan penurunan HET berlaku untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi dan diiringi penguatan pengawasan di titik serah.

Rasfiuddin memandang penegakan hukum terhadap pelanggaran HET merupakan bagian dari moral economy dalam tata niaga pangan. “Menjual di atas HET sama saja menggerus margin usaha tani yang sudah tipis. Ketegasan sanksi administratif dan pidana harus berjalan beriringan agar ada efek jera,” tegasnya.

Pola penindakan ini menurut Rasfiuddin penting untuk menjaga integritas rantai pasok, terutama di wilayah dengan rasio kios terhadap petani yang timpang.

Menurutnya, kombinasi kebijakan harga (penurunan HET), penertiban distribusi (pencabutan izin pelanggar), serta penguatan pengawasan berlapis (Kementan, Pupuk Indonesia, dan Satgas Pangan) merupakan tiga pilar yang perlu dijaga konsistensinya.

Kombinasi pilar ini dinilai Rasfiuddin mampu menekan biaya produksi, memperbaiki akses input, dan pada gilirannya berkontribusi pada stabilisasi produksi pangan.

Ke depan, dia berharap pengungkapan data real-time mengenai alokasi dan realisasi penyaluran per kabupaten/kota, serta kanal pengaduan yang mudah diakses petani, semakin mempersempit ruang distorsi harga di tingkat kios.

Rasfiuddin mengajak semua pemangku kepentingan menjaga integritas kebijakan subsidi. Dia menegaskan, ketika negara sudah menurunkan HET dan menindak tegas pelanggar, maka tugas kita bersama adalah memastikan setiap karung pupuk tiba di tangan petani dengan harga sesuai aturan.

“Subsidi adalah amanah publik, di situlah keadilan dan keberpihakan nyata negara kepada petani,” tutupnya.

DPP Hidayatullah Serah Terima Amanah Kepengurusan Periode 2025–2030

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah resmi menggelar prosesi Serah Terima Amanah Kepengurusan Harian DPP Hidayatullah dari periode 2020–2025 kepada pengurus baru periode 2025–2030. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Rapat Pleno Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak 1/14, Polonia, Jakarta, pada Jumat, 9 Jumadil Awal 1447 (31/10/2025).

Seremoni ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta. Dalam forum tertinggi organisasi tersebut, ditetapkan susunan pengurus DPP Hidayatullah masa amanah 2025–2030 sebagai kelanjutan estafet kepemimpinan.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Khoirul Z.A., dilanjutkan sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., yang menegaskan pentingnya amanah sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam membangun peradaban Islam.

Dalam sambutannya, K.H. Naspi Arsyad menyampaikan pesan tentang makna pergantian kepemimpinan dalam bingkai dakwah. “Ini momentum untuk memperbarui komitmen dalam melanjutkan perjuangan dakwah dan pendidikan umat. Setiap amanah adalah ujian, dan setiap ujian menuntut kesungguhan serta keikhlasan,” ujarnya.

Naspi menekankan bahwa perubahan kepengurusan bukan berarti perubahan arah perjuangan, melainkan peneguhan kembali visi Hidayatullah untuk berkontribusi membangun peradaban Islam yang maju dan berkeadaban.

“Dengan kebersamaan dan semangat kolektif, Hidayatullah akan terus tumbuh menjadi poros dakwah dan pendidikan Islam yang berdaya saing tinggi,” tegasnya.

Dalam prosesi serah terima, dilakukan penyerahan tanggung jawab secara simbolis dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, hingga para Kepala Bidang periode sebelumnya kepada jajaran pengurus baru periode 2025–2030.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dan doa yang dipimpin oleh Ustadz Abu A’la Abdullah, sebagai penanda harapan dan permohonan keberkahan atas amanah baru yang diemban.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, acara serah terima amanah berlangsung khidmat itu, Naspi Arsyad juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pengurus periode 2020–2025 atas dedikasi dan pengabdiannya.

“Setiap pengabdian yang telah dilakukan akan menjadi bagian dari sejarah perjuangan Hidayatullah. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas kerja keras dan keikhlasan para asatidz yang telah menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab,” ucapnya.

SAR Hidayatullah Didorong Tumbuhkan Budaya Tangguh Bencana di Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, saat menerima pengurus baru SAR Hidayatullah periode 2025-2030 beserta jajaran pembina dan pengawas di ruang kerjanya, Selasa, 6 Jumadil Awal 1447 (28/10/2025).

Naspi menyampaikan bahwa peran SAR Hidayatullah tidak hanya sebatas reaksi terhadap bencana, tetapi juga mencakup upaya preventif dan edukatif.

Ia mengatakan, melalui pelatihan mitigasi dan sosialisasi kebencanaan, lembaga ini diharapkan mampu menumbuhkan kewaspadaan dini dan budaya tangguh bencana di masyarakat.

“Kerja kemanusiaan tidak berhenti di medan evakuasi. Ada tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat agar siap dan tanggap menghadapi risiko bencana sejak dini,” ujar Naspi.

Selain memperkuat sumber daya manusia, Naspi juga menyoroti pentingnya kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, baik lembaga pemerintah maupun organisasi kebencanaan lainnya. Ia menilai sinergi lintas lembaga sangat penting untuk meningkatkan efektivitas operasi SAR dan memperluas jangkauan bantuan.

“SAR Hidayatullah harus terus membuka diri untuk bekerja sama dengan BNPB, Basarnas sebagai leader sector, dan lembaga-lembaga sosial lainnya dalam semangat kolaborasi dan pelayanan kemanusiaan,” tegasnya.

Pergantian kepengurusan ini diharapkan menjadi momentum penguatan kelembagaan SAR Hidayatullah. Dengan semangat baru dan arah strategis yang lebih terukur, Naspi berharap, lembaga ini diharapkan mampu memperluas kontribusi dalam penanganan bencana sekaligus memperkuat karakter kader relawan yang berjiwa sosial, disiplin, dan berorientasi pada pelayanan publik.

“Sebagai lembaga yang tumbuh dari kultur dakwah Hidayatullah, SAR Hidayatullah hendaknya menempatkan nilai keikhlasan, kebersamaan, dan profesionalitas sebagai dasar geraknya,” harapnya.

Melalui kepemimpinan baru ini, Naspi berharap lembaga ini semakin dikenal bukan hanya karena ketangguhannya di lapangan, tetapi juga karena ketulusannya dalam melayani sesama.

“Jadikan kerja SAR sebagai bentuk ibadah dan dakwah melayani masyarakat. Setiap tindakan penyelamatan adalah bentuk pengabdian kepada Allah dan kemanusiaan,” pungkasnya.