Beranda blog Halaman 76

Harapan Pemulihan Pascabencana Menggema Bersama Aksi Relawan Hidayatullah Aceh

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah bersama Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Aceh kembali melaksanakan aksi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan tersebut berlangsung di Dusun Meluncur, Kecamatan Tenggulun, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan membantu pemulihan sosial dan spiritual masyarakat.

Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan pada Sabtu malam, 14 Rajab 1447 (3/1/2025). Kegiatan lapangan dipimpin langsung oleh Buya Karyadi anggota Dewan Murabbi Hidayatullah Aceh, yang turut didampingi oleh istrinya. Kehadiran relawan pada malam hari dipilih untuk menyesuaikan dengan kondisi warga yang sebagian besar masih beraktivitas membersihkan lingkungan dan menata kembali tempat tinggal pascabencana.

Dalam kegiatan tersebut, tim menyalurkan bantuan kebutuhan pokok dan sarana ibadah kepada masyarakat yang mayoritas terdiri atas kaum ibu dan anak-anak. Bantuan yang disalurkan meliputi 300 bungkus nasi siap santap, 170 eksemplar Al-Qur’an, 50 buku Iqra, serta ratusan mukena untuk dewasa dan anak-anak, dengan total sekitar 150 lembar. Bantuan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan dasar sekaligus memperkuat dimensi keagamaan masyarakat terdampak.

Ustadz Karyadi menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian dan ikhtiar kemanusiaan, meskipun jumlahnya masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan riil warga di lapangan. Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan pascabencana, mulai dari akses terhadap sumber kebutuhan primer hingga ketersediaan air bersih dan fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari.

“Kami menyadari apa yang disalurkan belum sebanding dengan besarnya kebutuhan masyarakat terdampak. Namun ini adalah bentuk kehadiran dan kepedulian, agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi masa sulit,” ujar Karyadi di sela-sela kegiatan.

Lebih lanjut, Karyadi menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan material, tetapi juga menyangkut pemulihan psikologis dan spiritual masyarakat. Ia menyampaikan harapan agar musibah yang menimpa segera berlalu, sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas keseharian secara normal.

“Kami berharap masyarakat segera pulih, sehingga kehidupan bisa kembali berjalan seperti biasa. Langgar-langgar kembali hidup, anak-anak belajar mengaji, dan suara Al-Qur’an kembali menggema di tengah kampung,” tuturnya.

Ketua DPW Hiadyatullah Aceh, Harun Rasyid, kini pelan pelan langgar dan masjid masjid di Aceh khususnya Tamiang mulai sedikit sedikit hidup pascabencana dimana masjid dan langgar sebagai pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

“Upaya pemulihan ini juga menjadi bagian dari penguatan ketahanan sosial berbasis komunitas, di mana nilai gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan menjadi fondasi utama,” kata Harun dalam keterangannya.

Kehadiran Tim Siaga Bencana Hidayatullah dan BMH Perwakilan Aceh disambut dengan rasa syukur dan kebahagiaan oleh warga Dusun Meluncur. Sejumlah warga menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan, khususnya karena bantuan tidak hanya menyentuh kebutuhan pangan, tetapi juga mendukung keberlangsungan aktivitas ibadah dan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.

Masyarakat berharap pendampingan dan perhatian dari berbagai pihak dapat terus berlanjut hingga kondisi mereka benar-benar pulih. Bagi warga, kehadiran relawan di tengah keterbatasan memberikan dorongan moral sekaligus menumbuhkan optimisme untuk bangkit kembali.

“Diharapkan dari kehadiran yang sederhana ini dapat membantu masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi juga menata kembali kehidupan sosial dan keagamaan secara berkelanjutan,” tandas Harun.

Hidayatullah Kenang Jejak Pengabdian Prof Amal Fathullah Zarkasyi untuk Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi dan mengenang berpulangnya sebagai kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam dan bangsa Indonesia.

Almarhum wafat di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu, 3 Januari 2026. Kepergian tokoh pendidikan tersebut meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tidak terpisahkan dari Pondok Modern Darussalam Gontor.

Naspi Arsyad menyebut Amal Fathullah Zarkasyi sebagai figur yang telah mewakafkan hidupnya sepenuhnya untuk Islam dan kaum muslimin. Menurutnya, sosok guru kelahiran Ponorogo, 04 Nopember 1949 ini bukan hanya milik Gontor, tetapi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia yang kontribusinya melampaui ruang dan zaman.

“Beliau bukan hanya memimpin Gontor sebagai lembaga pendidikan besar dan berpengaruh, tetapi mewakafkan seluruh hidupnya untuk membangun manusia dan peradaban melalui pendidikan. Itulah jalan hidup yang beliau pilih hingga akhir hayatnya,” ujar Naspi Arsyad.

Almarhum Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi dikenal sebagai salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, sebuah institusi pendidikan Islam yang memiliki pengaruh luas dalam sistem pendidikan nasional.

Gontor dikenal dengan model pendidikan terpadu yang memadukan penguasaan ilmu agama, bahasa, kepemimpinan, dan kedisiplinan, serta menekankan nilai keikhlasan, kemandirian, dan pengabdian. Dalam kepemimpinannya, Gontor terus memperkuat perannya sebagai pusat kaderisasi umat dan bangsa.

Naspi Arsyad menyampaikan bahwa kiprah Amal Fathullah Zarkasyi tidak dapat dilepaskan dari kontribusi nyata Gontor dalam melahirkan sumber daya manusia yang berperan di berbagai sektor kehidupan.

“Melalui Gontor yang beliau pimpin, lahir para pendidik, dai, ulama, hingga birokrat yang berkiprah memajukan kehidupan bangsa dan memberi kontribusi strategis bagi Indonesia,” kata Naspi.

Pondok Modern Darussalam Gontor telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di dalam dan luar negeri, berkiprah sebagai akademisi, pendakwah, pemimpin lembaga pendidikan, aparatur negara, dan tokoh masyarakat. Sistem wakaf yang menjadi fondasi kelembagaan Gontor menjadikan pondok ini berdiri independen dari kepentingan pribadi, sebuah prinsip yang terus dijaga oleh para pimpinannya, termasuk Amal Fathullah Zarkasyi.

Naspi menilai bahwa gagasan-gagasan almarhum memperkuat paradigma pendidikan berbasis karakter dan pengabdian. “Beliau selalu menekankan bahwa ilmu harus melahirkan tanggung jawab moral. Pendidikan bukan untuk kepentingan diri, tetapi untuk kemaslahatan umat dan bangsa,” ungkap Naspi Arsyad.

Menurut Naspi, pandangan guru besar di bidang Ilmu Aqidah di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor itu sejalan dengan tradisi Gontor yang memposisikan pendidikan sebagai amanah peradaban, bukan sekadar transmisi pengetahuan.

Naspi Arsyad juga menekankan bahwa keteladanan Amal Fathullah Zarkasyi terletak pada konsistensi antara pemikiran dan praktik. Kepemimpinannya di Gontor ditandai dengan kesederhanaan, disiplin, dan keteguhan menjaga nilai-nilai wakaf pondok yang mengantar lembaga ini menjadi pilar pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi di RS Moewardi Solo menutup satu fase penting dalam sejarah Gontor, namun warisan pemikiran dan sistem pendidikan yang dibangunnya tetap hidup. Naspi Arsyad menyampaikan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan agar keteladanan hidupnya terus menginspirasi generasi penerus.

“Beliau telah menunaikan amanah hidupnya dengan sangat baik. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan spirit pengabdian itu, menjaga pendidikan sebagai jalan membangun umat dan bangsa,” tutup Naspi Arsyad.

Ketum DPP Hidayatullah Tekankan Pentingnya Gerakan Berdampak untuk Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seluruh jaringan Hidayatullah di berbagai level dan tingkatan ditegaskan wajib melaksanakan amanah program organisasi dengan sebaik mungkin, dengan tujuan utama agar dampak gerakan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas.

Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, dalam sesi pembukaan Sidang Pleno DPP Hidayatullah yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada Sabtu, 14 Rajab 1447 (3/1/2026).

KH Naspi Arsyad menyampaikan bahwa Sidang Pleno DPP memiliki posisi strategis sebagai forum pengambilan keputusan yang menentukan arah program kerja organisasi ke depan. Forum ini, menurutnya, menjadi ruang konsolidasi untuk merumuskan langkah-langkah yang mampu mendorong penguatan dakwah dan tarbiyah secara lebih luas dan terstruktur di seluruh wilayah Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pembahasan program kerja dalam sidang pleno tidak dapat dipisahkan dari misi dasar Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, setiap keputusan yang dihasilkan diharapkan berorientasi pada kemajuan umat dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial masyarakat. Dalam konteks tersebut, pelaksanaan program tidak berhenti pada tataran perencanaan, tetapi harus diwujudkan secara konkret oleh seluruh elemen organisasi.

KH Naspi Arsyad menaruh harapan agar sidang pleno ini menghasilkan rumusan yang aplikatif dan dapat dijalankan secara konsisten. Ia menekankan bahwa persatuan internal merupakan prasyarat penting dalam mewujudkan program kerja yang efektif. Keputusan yang diambil, menurutnya, harus mencerminkan ukhuwah yang semakin kuat dan terpelihara di dalam tubuh organisasi.

Naspi menggarisbawahi pentingnya sinergi antarlembaga dan antarstruktur organisasi. Sinergi tersebut, kata dia, perlu diwujudkan secara nyata dalam penjabaran program kerja nasional, mulai dari tingkat pusat hingga wilayah. Dengan demikian, setiap unit organisasi bergerak dalam satu arah dan saling menguatkan.

“Oleh karena itu, sinergi ini harus teraktualisasi secara maksimal dalam penjabaran dan pelaksanaan program kerja secara nasional,” tegas KH Naspi.

Lebih lanjut, KH Naspi Arsyad menyebut Sidang Pleno DPP sebagai momentum bermujahadah, yakni kesungguhan kolektif untuk mengoptimalkan peran organisasi. Dalam kerangka ini, seluruh jaringan Hidayatullah di tingkat wilayah dipandang memiliki tanggung jawab besar untuk menjalankan amanah program dengan penuh kesungguhan. Pelaksanaan program yang konsisten dan terukur diharapkan mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa orientasi program kerja Hidayatullah tidak terlepas dari tujuan kemaslahatan publik. Oleh sebab itu, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari tersusunnya dokumen perencanaan, tetapi dari sejauh mana gerakan yang dijalankan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Penegasan ini disampaikan sebagai pengingat agar seluruh struktur organisasi menjaga komitmen terhadap tujuan awal pendirian gerakan.

Menutup arahannya, KH Naspi Arsyad menyoroti pentingnya aktivasi pikiran dalam kehidupan berorganisasi. Ia menyampaikan bahwa penggunaan akal secara optimal merupakan cerminan dari hakikat seorang Muslim. Menurutnya, dimensi intelektual tidak dapat dipisahkan dari religiositas, karena keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi dan komunitas yang berdaya.

“Aktivasi pikiran adalah cerminan dari hakikat seorang muslim,” tegas KH Naspi Arsyad.

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan aktivasi pikiran dengan tanggung jawab manusia untuk memanfaatkan potensi akal yang dianugerahkan. Pemanfaatan akal secara optimal dipandang sebagai bentuk kesadaran dan kesungguhan dalam menjalankan peran sebagai insan beriman sekaligus anggota masyarakat. Prinsip ini, menurutnya, relevan diterapkan dalam dinamika organisasi.

KH Naspi Arsyad juga menekankan bahwa organisasi yang ingin berkembang memerlukan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis dan inovatif. Kemampuan tersebut, jelasnya, diperlukan agar setiap kegiatan tidak berhenti pada rutinitas semata dan memastikan bahwa program yang dijalankan memiliki substansi dan relevansi dengan kebutuhan masyarakat.

Dari Individu ke Gerakan yang Gemilang

0

KEMAJUAN tidak pernah lahir secara kebetulan. Ia selalu bertumpu pada kualitas manusia yang menggerakkannya. Di balik setiap perubahan besar, selalu ada pribadi-pribadi yang kuat secara batin, jernih dalam berpikir, dan matang dalam bersikap. Tanpa manusia semacam ini, pembangunan hanya akan berhenti pada slogan, dan kebangkitan tinggal menjadi wacana.

Buya Hamka pernah memberikan gambaran sederhana namun sangat dalam tentang seperti apa pribadi unggul itu. Menurutnya, manusia hebat adalah mereka yang mampu menahan amarah, sanggup menenggang perasaan orang lain, serta memiliki keberanian untuk berpikir dan berpendapat secara mandiri.

Hamka juga menekankan pentingnya tradisi membaca yang aktif dan kreatif. Dalam buku karyanya, Pribadi Hebat, ia menganjurkan agar seseorang “menelan” banyak buku, lalu mengolahnya menjadi pupuk bagi pertumbuhan diri. Artinya, ilmu tidak cukup hanya dikumpulkan. Ia harus dicerna, dipahami, dan diolah hingga melahirkan pandangan yang hidup dan bernilai.

“‘Telan’ buku-buku yang banyak, lalu jadikan pupuk untuk menyuburkan diri sendiri dengan pendapat sendiri,” kata Hamka.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan Syeikh Yusuf al-Qaradawi. Dalam bukunya, Kembali dalam Dekapan Tarbiyah, ia menegaskan bahwa kemajuan yang gemilang menuntut prasyarat yang tidak ringan. Salah satu yang paling mendasar adalah keyakinan yang kokoh. Tanpa keyakinan, langkah mudah goyah dan arah mudah kabur.

Keyakinan yang kokoh, menurut Al-Qaradawi, tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh melalui proses tarbiyah yang berkesinambungan. Tarbiyah membentuk manusia dari dalam, memperkuat iman, menata ruhani, dan meneguhkan orientasi hidup. Karena itu, kebangkitan sejati selalu dimulai dari individu, bukan dari struktur atau institusi semata.

Dalam proses tarbiyah inilah peran murabbi menjadi sangat menentukan. Murabbi bukan sekadar pengajar, melainkan sosok yang memiliki bobot. Bobot iman, kedalaman ruhani, kesucian jiwa, kekuatan kehendak, kematangan emosi, dan kemampuan memengaruhi orang lain ke arah kebaikan. Kehadiran murabbi dengan kualitas semacam ini menjadi faktor kunci lahirnya generasi unggul.

Kebijaksanaan dan Sikap Hidup

Kebangkitan peradaban, dengan demikian, tidak pernah muncul dari ruang hampa. Ia berawal dari transformasi batin seorang manusia. Prosesnya mirip dengan pertumbuhan sebuah pohon.

Akar menyerap unsur-unsur dari tanah, tetapi pohonlah yang mengolahnya hingga berbuah manis. Demikian pula manusia; informasi dan pengetahuan yang diserap baru akan bermakna jika diolah menjadi kebijaksanaan dan sikap hidup.

Secara alamiah, pertumbuhan manusia mengikuti hukum akumulasi. Pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit tidak otomatis menjelma menjadi karakter. Di sinilah relevansi pesan Hamka tentang pentingnya pendapat mandiri.

Buku adalah nutrisi mentah, sementara daya pikir dan refleksi pribadi adalah alat pencernaannya. Tanpa proses ini, ilmu hanya akan menjadi tumpukan data yang membebani ingatan, bukan menerangi kehidupan.

Keyakinan yang lahir dari proses pengolahan ini bekerja seperti mesin penggerak pada sebuah kapal besar. Ia menentukan arah dan menjaga kestabilan perjalanan. Al-Qaradawi menempatkan keyakinan sebagai syarat mutlak kemajuan, karena keyakinan yang sejati bukan sekadar pernyataan lisan, melainkan kesatuan antara pikiran dan perbuatan. Ketika seseorang memiliki kepastian arah, ia tidak mudah goyah oleh tekanan, kritik, atau perubahan situasi.

Peran Katalisator

Gerakan yang besar dan bermakna juga membutuhkan figur pemimpin yang berfungsi sebagai katalisator. Dalam ilmu pengetahuan, katalis mempercepat reaksi tanpa ikut habis.

Demikian pula murabbi. Dengan kedalaman spiritual dan ketenangan emosinya, ia mempercepat proses pendewasaan umat. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menularkan keteguhan, keikhlasan, dan kejernihan visi.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Abdullah Said yang melihat objek dakwah sebagai manusia yang haus dan lapar akan sentuhan nilai-nilai Islam. Kesadaran ini membuat seorang murabbi mampu mengelola konflik dengan kepala dingin dan hati yang bersih, tanpa merendahkan atau menyakiti.

Pada akhirnya, kebangkitan yang gemilang terwujud ketika pribadi-pribadi hebat disatukan dalam satu barisan. Individu yang mandiri dalam berpikir, namun rendah hati dalam bersikap, akan membangun kolaborasi yang tulus.

Seperti akar-akar pohon yang saling menguatkan di bawah tanah, kesatuan visi inilah yang perlahan meruntuhkan kemustahilan dan menghadirkan harapan baru bagi masa depan.[]

*) Mas Imam Nawawi, penulis pegiat literasi

Mushida Papua Barat Daya Gemakan Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Pembangunan Nasional

0

PAPUA BARAT DAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketahanan keluarga adalah pondasi utama dalam membentuk masyarakat yang berakhlak dan memiliki daya saing di tengah dinamika pembangunan nasional. Demikian penegasan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) I Muslimat Hidayatullah Papua Barat Daya yang digelar di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, pada Jum’at, 13 Rajab 1447 (2/1/2026).

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya, M. Sanusi, S.Pd.I., menegaskan bahwa forum ini momentum konsolidasi awal organisasi dalam memperkuat peran perempuan Muslim dari lingkup keluarga sebagai basis pembangunan peradaban.

Sanusi mengapresiasi tema Muswil I Mushida Papua Barat Daya tersebut yang mengangkat tajuk Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045.

“Tema ini senafas dengan arah gerak organisasi yang memandang keluarga sebagai ruang strategis pembentukan karakter generasi bangsa,” kata Sanusi.

Sanusi mengatakan bahwa forum ini istimewa sebagai ajang musyawarah organisatoris dan juga ruang penguatan visi bersama mengenai peran Muslimah dalam pembangunan bangsa.

Melalui Muswil I tersebut, Sanusi berharap Muslimat Hidayatullah Papua Barat Daya semakin solid menjalankan perannya sebagai pilar ketahanan keluarga sekaligus bagian penting dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Sanusi menekankan bahwa penguatan ketahanan keluarga tidak dapat dilepaskan dari kesiapan sumber daya manusia, khususnya peran perempuan sebagai penggerak utama pendidikan di rumah. Ia menyampaikan bahwa masyarakat yang berakhlak dan berdaya saing tidak dibentuk secara instan di ruang publik, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari keluarga yang kokoh secara nilai dan spiritual.

Tri Konsolidasi

Lebih lanjut, menurut Sanusi, terdapat tiga konsolidasi utama yang perlu menjadi perhatian seluruh kader Muslimat Hidayatullah. Konsolidasi tersebut meliputi konsolidasi jati diri, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi wawasan. Ketiganya dipandang saling terkait dan menjadi fondasi dalam menjalankan peran strategis Muslimah di tengah masyarakat.

Pada aspek konsolidasi jati diri, Sanusi menegaskan pentingnya membangun visi besar dalam diri setiap anggota. Ia menyampaikan bahwa cita-cita membangun peradaban Islam harus dimulai dari kesadaran personal akan peran masing-masing individu, terutama dalam keluarga.

“Peradaban Islam tidak lahir secara tiba-tiba di ruang publik, tetapi dibangun secara bertahap dari rumah tangga yang berlandaskan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Ia juga menekankan posisi ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga. Dalam pandangannya, ketahanan keluarga sangat ditentukan oleh kualitas peran ibu dalam membimbing dan membentuk karakter anak.

“Ibu memiliki peran yang sangat fundamental sebagai pendidik utama. Sebagaimana ungkapan al-ummu madrasatul ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya,” kata Sanusi, lantas menegaskan bahwa keluarga merupakan titik awal pembentukan masyarakat yang berintegritas dan berdaya saing.

Konsolidasi kedua yang disoroti adalah konsolidasi organisasi. Sanusi menilai bahwa kekuatan organisasi sangat ditentukan oleh pemahaman pengurus terhadap struktur, fungsi, dan nilai dasar yang menjadi rujukan gerak organisasi. Ia menekankan pentingnya menjadikan Pedoman Dasar Organisasi sebagai acuan utama dalam menjalankan amanah.

“Organisasi akan berjalan kuat apabila setiap pengurus memahami peran dan tanggung jawabnya, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah,” tegasnya dalam forum tersebut.

Sementara itu, konsolidasi wawasan ditegaskan sebagai elemen ketiga yang tidak kalah penting. Sanusi mendorong seluruh anggota Muslimat Hidayatullah untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan tidak terjebak pada sikap pasif terhadap perubahan. Ia mengingatkan bahwa tantangan zaman menuntut Muslimah untuk memiliki wawasan luas agar mampu beradaptasi dan memberikan kontribusi nyata.

“Semangat belajar sepanjang hayat harus terus dijaga, sebagaimana pesan Rasulullah SAW, carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat,” tuturnya.

Pembukaan Muswil I ini turut dihadiri oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren serta Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Sorong Selatan. Selain itu, jajaran pengurus DPW Hidayatullah Papua Barat Daya, pengurus DPD Muslimat Hidayatullah se-Papua Barat Daya, pengurus majelis taklim, dan tokoh masyarakat setempat turut hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan secara tertib.

Pergantian Tahun Momentum Pererat Silaturahmi dan Teguhkan ‘Pela Gandong’ di Maluku

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Momentum pergantian tahun dinilai sebagai ruang strategis untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat demi mewujudkan Maluku yang semakin kondusif, aman, dan penuh keberkahan.

Peneguhan nilai-nilai kearifan lokal, terutama pela gandong, kembali ditekankan sebagai fondasi sosial yang telah lama menjadi perekat kehidupan masyarakat Maluku. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Doa Bersama menyambut malam Tahun Baru 2026 yang digelar di Kota Ambon.

Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Kamis malam, 11 Rajab 1447 (31/12/2025), tersebut diselenggarakan di Tribun Lapangan Letkol Pol (Purn) CHR Tahapary, kawasan Tantui. Acara ini diinisiasi oleh Kapolda Maluku sebagai bagian dari upaya memperkuat harmoni sosial dan menjaga stabilitas keamanan di wilayah Maluku menjelang pergantian tahun.

Dalam forum tersebut, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku, Naharuddin, turut hadir memenuhi undangan. Kehadirannya merepresentasikan komitmen organisasi dalam mendukung hubungan beragama serta menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Doa bersama ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Maluku, unsur TNI dan Polri, tokoh-tokoh lintas agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Wakapolda Maluku Brigjen Pol. Imam Thobroni dan Danrem 151/Binaiya dari Kodam XV/Pattimura tampak hadir bersama unsur pimpinan daerah lainnya. Masyarakat setempat juga turut mengikuti kegiatan tersebut dengan tertib.

Di sela-sela kegiatan, Ketua DPW Hidayatullah Maluku menegaskan bahwa pergantian tahun seharusnya dimaknai lebih dari sekadar perayaan simbolik. Menurutnya, momen ini dapat menjadi sarana memperkuat relasi sosial dan membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kebersamaan.

“Momentum pergantian tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan ajang untuk mempererat tali silaturahmi. Kita berdoa agar Maluku ke depan semakin kondusif, aman, dan penuh keberkahan melalui sinergi seluruh elemen masyarakat,” ujar Naharuddin.

Ia menyampaikan bahwa partisipasi Hidayatullah dalam forum lintas agama tersebut merupakan bentuk ikhtiar konkret untuk menumbuhkan semangat toleransi yang berkelanjutan. Harapannya, nilai-nilai saling menghormati dan kebersamaan tidak berhenti pada level elite, tetapi terus mengakar hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kapolda Maluku Dadang Hartanto menjelaskan bahwa doa bersama lintas agama ini merupakan bagian integral dari rangkaian Operasi Lilin Salawaku 2025. Operasi tersebut digelar untuk memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat selama perayaan Natal 2025 dan menyambut Tahun Baru 2026.

“Kita berkumpul malam ini untuk bersyukur sekaligus memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah buah dari sinergi, dedikasi seluruh petugas di lapangan, serta dukungan serta doa seluruh masyarakat,” ungkapnya di hadapan para undangan.

Kapolda juga menekankan bahwa stabilitas keamanan tidak dapat terwujud hanya melalui pendekatan struktural dan pengamanan aparat semata. Menurutnya, kekuatan sosial dan budaya masyarakat Maluku memiliki peran penting dalam menjaga kedamaian dan menyelesaikan persoalan secara bermartabat.

Kapolda menggarisbawahi pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal Maluku, khususnya pela gandong. Nilai ini dipandang sebagai warisan budaya yang mengajarkan persaudaraan lintas batas, baik agama, suku, maupun wilayah, dan telah terbukti menjadi perekat sosial dalam berbagai situasi.

Penekanan terhadap pela gandong dalam forum lintas agama ini menunjukkan bahwa pendekatan kultural tetap relevan dalam merawat harmoni sosial. Kearifan lokal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai simbol tradisi, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang hidup dan adaptif dalam menghadapi tantangan zaman.

Kegiatan doa bersama lintas agama di penghujung tahun ini sekaligus menjadi refleksi bersama atas perjalanan Maluku sepanjang 2025. Dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, agenda tersebut memperlihatkan upaya kolektif untuk menutup tahun dengan semangat persatuan dan membuka lembaran baru dengan harapan akan kehidupan sosial yang lebih damai.

Naharuddin menambahkan, silaturahmi yang terbangun dalam ruang-ruang kebersamaan semacam ini menjadi modal sosial penting bagi Maluku untuk melangkah ke masa depan yang lebih kondusif, aman, dan penuh keberkahan, dengan tetap berakar pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Musibah Datang Saat Tugas Negara, Rumah Ustadz Idham Terendam Banjir Bandang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Saat banjir bandang melanda wilayah Aceh Tamiang pada akhir November hingga awal Desember, Ustadz Muhammad Idham tidak berada di rumah. Pada waktu musibah terjadi, ia sedang menjalankan tugas kedinasan di luar daerah.

Dalam kondisi darurat tersebut, istri dan anak-anaknya berupaya menyelamatkan diri dengan mengungsi ke salah satu balai dayah atau pesantren yang berlokasi tidak jauh dari kediaman mereka. Peristiwa ini menandai dampak personal yang dialami keluarga aparatur negara di tengah bencana alam yang melanda kawasan tersebut.

Ustadz Muhammad Idham merupakan alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) Hidayatullah Surabaya dan saat ini berprofesi sebagai aparatur sipil negara di bawah naungan Kementerian Agama.

Ia bertugas di salah satu Kantor Urusan Agama tingkat kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang. Secara administratif, ia tercatat berdomisili di Dusun Bahagia, Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, wilayah yang termasuk terdampak cukup parah oleh banjir bandang.

Menurut keterangan lapangan, air bah disertai lumpur memasuki rumah kediaman keluarga Ustadz Idham hingga memenuhi seluruh bagian bangunan. Kondisi tersebut menyebabkan tidak ada satu pun perabot rumah tangga yang dapat diselamatkan.

Selain peralatan sehari-hari, sejumlah dokumen penting turut rusak, termasuk ijazah, rapor pendidikan anak-anak, serta berbagai arsip keluarga. Koleksi buku-buku keagamaan dan kitab yang selama ini digunakan untuk menunjang aktivitas keilmuan juga ikut terendam dan tidak dapat diselamatkan.

Dampak banjir tidak hanya terbatas pada kerusakan rumah dan barang-barang pribadi. Sarana transportasi yang biasa digunakan Ustadz Idham untuk menunjang aktivitas kedinasan sebagai penyuluh agama Islam juga menjadi korban.

Sepeda motor yang selama ini menjadi alat mobilisasi ke kantor KUA ikut terendam banjir. Akibatnya, hingga beberapa waktu setelah kejadian, ia belum dapat kembali menjalankan tugas secara normal karena keterbatasan akses dan ketiadaan kendaraan.

Dalam situasi tersebut, dukungan kemanusiaan datang dari jaringan relawan. Beberapa hari setelah banjir, Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh melakukan kunjungan langsung ke lokasi tempat tinggal Ustadz Idham. Rombongan relawan dipimpin oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid, bersama perwakilan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Aceh.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari respon kemanusiaan terhadap warga yang terdampak banjir bandang. Lokasi kediaman Ustadz Idham termasuk salah satu kawasan dengan tingkat kerusakan cukup berat.

Dalam kesempatan itu, relawan menyalurkan bantuan berupa paket sembako. Bantuan tidak hanya diberikan kepada keluarga Ustadz Idham, tetapi juga kepada beberapa warga sekitar yang mengalami kondisi serupa.

Penyaluran bantuan tersebut dimaksudkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar keluarga terdampak dalam masa pemulihan awal pascabencana. Kehadiran relawan di lokasi juga menjadi sarana pendataan langsung atas kondisi warga, sekaligus bentuk kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya di lingkungan yang terdampak secara signifikan.

Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang memberikan gambaran nyata mengenai kerentanan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi.

Harun mengatakan, keluarga Ustadz Idham menjadi salah satu contoh bagaimana musibah tidak hanya berdampak pada aspek material, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan anak dan kewajiban kedinasan kepala keluarga. Kerusakan dokumen dan sarana kerja menambah tantangan dalam proses pemulihan pascabencana.

“Upaya solidaritas yang dilakukan tim gabungan ini sebagai upaya kecil dalam membantu warga terdampak. Bantuan logistik yang disalurkan diharapkan dapat menjadi penopang sementara hingga kondisi berangsur membaik,” kata Harun.

Hingga saat ini, proses pemulihan di wilayah terdampak masih berlangsung. Keluarga Ustadz Muhammad Idham bersama warga lainnya terus berupaya menata kembali kehidupan mereka pascabencana.

“Dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting dalam membantu masyarakat melewati masa sulit, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di tengah ujian alam yang terjadi,” tandas Harun yang meninjau langsung Dusun Bahagia, Aceh Tamiang.

Ustadz Supri Melawan Buaya dan Menjaga Amanah Dakwah di Toili

0
Ustadz Supri (Foto: Sarmadani/ Hiayatullah.or.id)

ADA kisah yang tidak lahir dari mimbar megah, tetapi dari sunyi medan pengabdian. Kisah tentang kesetiaan pada amanah, tentang iman yang diuji bukan dengan kata-kata, melainkan dengan nyawa.

Kisah itu adalah kisah Ustadz Supri, dai Hidayatullah yang telah puluhan tahun menanamkan hidupnya di Toili, Luwuk Banggai.

Menjelang keberangkatan ke Musdagab VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah, ujian datang bertubi-tubi.
Pertama, dompetnya hilang.
Kedua, sang istri jatuh sakit.
Ketiga, anak-anak harus kembali ke pondok setelah libur semester.

Banyak alasan untuk tidak berangkat. Banyak pembenaran untuk menunda.
Namun Supri memilih satu sikap: tegak dalam ketaatan.

“Alhamdulillah, saya bisa hadir di tempat ini untuk mengikuti Musdagab sebagai bentuk ketaatan kepada lembaga,” ungkapnya lirih, saat diberi kesempatan menyampaikan tausiyah di hadapan peserta Musdagab.

Kalimat itu bukan retorika. Ia lahir dari perjalanan panjang hidup seorang pejuang.

Jejak Pengabdian

Ustadz Supri mulai mengenal Hidayatullah pada tahun 1993 di Tomohon, saat organisasi ini masih dipimpin oleh almarhum Ustadz Abdul Kadir Abdullah. Tiga tahun menimba tempaan di Sulawesi Utara, ia kemudian memilih pulang kampung ke Luwuk Banggai.

Tahun 1998, ia bergabung kembali dengan Hidayatullah Luwuk Banggai, dan setahun kemudian—bersama Ustadz Rasyid Ridho—mulai merintis dakwah di Toili. Saat itu, Toili masih sunyi. Pesantren baru dirintis. Lahan masih berupa semak belukar. Pondok-pondok berdiri dengan segala keterbatasan.

Semua serba awal. Semua serba kurang.
Namun dakwah tidak pernah menunggu keadaan sempurna.

Hari yang Mengubah Segalanya

Desember 2007 menjadi bulan yang tak pernah hilang dari ingatan keluarga Supri.

Tanggal 17 Desember 2007, sang istri sedang mencuci pakaian di sungai. Tanpa peringatan, seekor buaya besar menerkamnya. Gigitan itu mengenai perut dan sebagian lengan. Buaya berusaha menyeret tubuh sang istri ke tengah sungai, memutar-mutar mangsanya—cara alamiah untuk mematikan.

Saat itu, Supri tidak sempat berpikir panjang.
Yang ada di benaknya hanya satu: istri harus diselamatkan.

“Ini tanggung jawab saya sebagai suami,” katanya dalam hati.

Ia melompat ke sungai, berjibaku dengan buaya. Air bercampur darah. Buaya terus berputar. Supri berusaha mencari mata buaya untuk dicolok—namun gagal. Dalam satu celah, ia memasukkan tangan kiri ke dalam mulut buaya, berharap bisa mencapai tenggorokan.

Upaya itu gagal.
Tangan kirinya justru digigit, patah, dan cacat permanen hingga hari ini.

Namun Supri tidak menyerah.

Dengan sisa tenaga, ia kembali memasukkan tangan kanan ke mulut buaya. Kali ini ia berhasil meraih bagian tenggorokan. Buaya tercekik. Cengkeramannya melemah. Sang istri terlepas.

Dalam kondisi setengah sadar, Supri menarik istrinya ke tepi sungai. Buaya itu belum menyerah. Ia kembali menyambar. Supri meraih sepotong balok kayu di pinggir sungai dan menghalau buaya tersebut hingga akhirnya menjauh.

Sekitar 30 menit kemudian, warga setempat datang menolong. Keduanya dilarikan ke Puskesmas.
Istri Supri mengalami luka robek parah di perut.
Tangan Supri hancur dan cacat seumur hidup.

Namun keduanya selamat.
Atas izin Allah.

Ibrah dari Medan Dakwah

Hampir tiga puluh tahun Ustadz Supri mengabdikan hidupnya di Toili. Suka, duka, lapar, bahaya, dan kehilangan—semua pernah ia rasakan. Namun satu hal tidak pernah ia lepaskan: kesetiaan pada dakwah dan lembaga.

Kisah ini bukan untuk mengundang iba.
Ia adalah cermin keteguhan iman.

Bahwa dakwah bukan sekadar program, tetapi pengorbanan.
Bahwa ketaatan bukan sekadar slogan, tetapi pilihan hidup.
Dan bahwa para pejuang sering bekerja dalam sunyi, tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan.

Semoga kisah Ustadz Supri menjadi ibrah bagi kita semua—terutama para pejuang Hidayatullah—tentang makna istiqamah, keberanian, dan cinta kepada amanah.

Semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya, menerima seluruh pengorbanannya, dan menempatkannya di barisan orang-orang yang ikhlas. Amin.

Menulis sebagai Fondasi Intelektual Mahasiswa di Tengah Budaya Visual

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah arus deras budaya visual yang serba cepat dan ringkas, aktivitas menulis kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam pembentukan tradisi intelektual.

Pesan tersebut mengemuka dalam sesi berbagi literasi bersama mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq di Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang posisi menulis sebagai instrumen pengolah nalar, bukan sekadar keterampilan akademik formal.

Hadir sebagai narasumber, Imam Nawawi, Ketua Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menyampaikan pandangan yang menempatkan menulis sebagai kerja intelektual yang menuntut kedisiplinan berpikir.

Dengan pengalaman panjang sebagai praktisi literasi sejak tahun 2000, ia menggarisbawahi bahwa tantangan utama mahasiswa hari ini bukan hanya menyelesaikan pendidikan tinggi, melainkan membangun keberanian intelektual melalui kebiasaan membaca dan menulis secara konsisten.

Menurut Imam, menulis memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Ia menegaskan bahwa proses menulis memaksa otak untuk mengorganisir informasi yang diperoleh dari aktivitas membaca menjadi sebuah gagasan yang utuh dan terstruktur. Dengan demikian, menulis berperan sebagai jembatan antara pengetahuan yang tersebar dan pemahaman yang terintegrasi.

Dalam pemaparannya, Imam mengkritisi pandangan yang memosisikan menulis sebagai beban tata laksana rutin, seperti tugas makalah atau skripsi. Ia menyampaikan bahwa kualitas tulisan tidak ditentukan oleh formula instan, melainkan oleh sistem yang dibangun secara sadar dalam kehidupan sehari-hari. Menulis, menurutnya, harus diperlakukan sebagai bagian dari ritme hidup intelektual.

“Jika ingin menghasilkan tulisan yang baik, tidak ada rumus singkat. Yang dibutuhkan adalah membangun sistem agar dalam 24 jam, sepanjang pekan, bulan, hingga tahun, kita terbiasa dan mencintai aktivitas menulis,” ujarnya di hadapan para mahasiswi. Dia menekankan pentingnya pembiasaan sebagai sarana melatih kedisiplinan mental dan ketajaman berpikir.

Imam menjelaskan bahwa dengan membangun sistem menulis, mahasiswa secara simultan sedang membentuk pola pikir yang sistematis. Proses tersebut melatih kemampuan menyusun argumen, memilah informasi, serta menyampaikan gagasan secara runtut.

Dalam konteks keislaman, aktivitas ini ditekankan Imam sebagai sejalan dengan tradisi ilmiah yang menempatkan ilmu dan pena sebagai sarana pencerahan umat. Dalam pada itu, kebiasaan menulis menjadi kontribusi nyata dalam membangun wacana publik yang berakar pada nalar dan nilai.

Lebih lanjut, Imam memaparkan sejumlah manfaat strategis yang dapat diperoleh mahasiswa apabila memulai keseriusan menulis sejak masa kuliah. Pertama, menulis melatih ketajaman analisis karena menuntut penulis memahami secara mendalam apa yang dibacanya sebelum menuangkannya kembali dalam bentuk gagasan.

Kedua, tulisan berfungsi sebagai rekam jejak intelektual yang memungkinkan pemikiran seorang mahasiswa tetap hidup dan dapat ditelusuri melampaui masa studinya. Ketiga, keterampilan menulis merupakan kompetensi profesional yang bernilai tinggi, mengingat dunia kerja membutuhkan individu yang mampu menyampaikan ide secara jelas, logis, dan bertanggung jawab.

Pengalaman pribadi Imam yang telah menekuni dunia literasi selama lebih dari dua dekade menjadi ilustrasi bahwa konsistensi menulis merupakan investasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa aspek teknis dalam menulis dapat dipelajari secara bertahap, namun dorongan internal untuk mencintai proses menulis harus dibangun dengan kesadaran penuh.

Menutup sesi tersebut, Imam menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak semata diukur dari kemampuan menyelesaikan tugas akhir.

“Mahasiswa yang berhasil adalah mereka yang mampu menjadikan menulis sebagai bagian dari identitas dirinya,” pungkasnya, seraya menegaskan menulis sebagai jalan pembentukan karakter intelektual yang berkelanjutan.

Banjir Sempat Hentikan Usaha Gorengan Bu Nur, Program Pemulihan Mulai Menyapa

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Bu Nur, penjual gorengan asal Dusun Karya, Kabupaten Aceh Tamiang, sempat kehilangan satu-satunya tumpuan ekonomi ketika air banjir menerjang warung kecil tempat ia mencari nafkah. Peristiwa tersebut memutus aktivitas usaha harian yang selama ini menopang kebutuhan keluarga.

Namun, di tengah sisa lumpur banjir yang masih membekas di lingkungan tempat tinggalnya, secercah harapan mulai tumbuh ketika tim kemanusiaan mendatangi kediamannya di Lorong Rel, Desa Seumadam, Rabu, 11 Rajab 1447 (31/12/2025).

Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghentikan denyut ekonomi masyarakat kecil. Para pelaku usaha mikro menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan sarana usaha sekaligus sumber pendapatan. Kondisi inilah yang menjadi perhatian utama tim Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dalam rangkaian peninjauan dan perencanaan pemulihan pascabencana.

Kehadiran tim BMH di Aceh Tamiang tidak berhenti pada pendataan dampak banjir. Mereka melakukan penyisiran wilayah terdampak untuk memetakan kebutuhan warga secara menyeluruh. Program yang disiapkan mencakup dua aspek utama, yakni perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan serta pemulihan ekonomi masyarakat melalui penguatan kembali usaha kecil dan menengah.

Bagi Bu Nur, kunjungan tersebut membawa arti penting. Sebelum banjir, ia menggantungkan penghasilan dari berjualan gorengan, es, dan kopi. Warung sederhana yang ia kelola menjadi sumber utama penghidupan keluarga. Ketika banjir datang, seluruh aktivitas tersebut terhenti. Air merusak peralatan usaha dan membuat warung tidak lagi bisa digunakan. Dalam situasi itulah Bu Nur merasakan langsung rapuhnya ekonomi keluarga ketika bencana melanda.

Rencana pendampingan dan pemulihan yang disampaikan tim BMH memberikan dorongan semangat baru. Bu Nur menyambut positif inisiatif tersebut karena membuka peluang baginya untuk kembali berjualan. Harapan untuk bangkit secara ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, seiring tuntutan hidup yang terus berjalan meski bencana baru saja berlalu.

Dampak banjir juga dirasakan warga lain di Desa Seumadam. Abu Yamin, salah seorang warga terdampak, menyampaikan rasa lega atas rencana perbaikan rumah yang disiapkan BMH. Menurutnya, kerusakan hunian akibat banjir menyulitkan warga untuk kembali menjalani kehidupan normal. Program perbaikan rumah dinilai sebagai langkah yang sangat dibutuhkan dalam fase awal pemulihan.

Pemulihan tidak hanya dimaknai sebagai perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan rasa aman dan keberlanjutan hidup masyarakat. Rumah yang layak huni menjadi fondasi penting, sementara ekonomi warga berfungsi sebagai penopang jangka panjang agar keluarga dapat kembali mandiri.

Kepala Departemen Kreator Program BMH Pusat, Rohsyandi Santika, menjelaskan bahwa program pemulihan ini dirancang sebagai upaya konkret agar penyintas tidak berlarut-larut dalam dampak bencana. Ia menegaskan bahwa warga terdampak perlu didorong untuk bangkit melalui langkah nyata yang menyentuh kebutuhan paling dasar.

Menurutnya, penguatan ekonomi warga dan pembenahan rumah yang rusak menjadi dua instrumen utama dalam proses tersebut. Program ini dijalankan dengan koordinasi bersama aparat setempat, mulai dari kepala dusun hingga kepala desa, agar pelaksanaannya tepat sasaran dan selaras dengan kondisi lapangan.

Pendekatan berbasis koordinasi lokal dinilai penting untuk memastikan bahwa setiap bantuan dan program pemulihan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat. Selain itu, keterlibatan aparat desa membantu menjaga transparansi serta memperkuat kepercayaan warga terhadap proses pemulihan yang sedang berjalan.