Beranda blog Halaman 89

Menghadapi Krisis Umat dengan Sinergi Dakwah sebagai Jalan Perubahan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam acara Silaturrahim Daring Kabid Dakwah dan Pelayanan Ummat yang bertajuk “Menguatkan Tugas Murabbi dalam Gerakan Dakwah dan Pembinaan Umat”, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) DPP Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, menyampaikan pokok-pokok penting yang menegaskan bahwa dakwah saat ini tidak cukup hanya bermodalkan semangat individual, melainkan menuntut sinergi, kolaborasi, dan agenda perubahan yang sistemik.

Nursyamsa membuka paparannya dengan mengingatkan perintah langsung Allah dalam Al-Qur’an surah Ali Imron ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”

Ayat ini, jelasnya, menjadi fondasi kokoh bahwa dakwah adalah tugas kolektif yang menuntut adanya komunitas yang bergerak aktif. Seruan moral ini sebagai dorongan untuk membangun struktur sosial baru yang berorientasi pada kebaikan.

Lebih lanjut, Nursyamsa mengutip sabda Rasulullah SAW yanhg diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya.

Ia memaknai hadis ini sebagai spirit memperkuat konsep bahwa nilai dakwah bukan hanya pada outputnya, tetapi juga pada proses kolaboratif yang menginspirasi orang lain untuk turut serta dalam amal saleh.

Namun, di balik urgensi dakwah tersebut, Nursyamsa menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi umat mulai dari krisis kepercayaan (amanah), krisis moral, krisis ekonomi, krisis sosial politik, maupun krisis budaya.

Tantangan ini, menurut dia, bukan hanya fenomena sosial biasa, tapi sudah memasuki tahap krisis multidimensional yang jika tidak segera direspons akan berujung pada kehancuran nilai dan institusi umat.

“Sebagai konsekuensinya, gerakan dakwah para da’i Hidayatullah harus memikul agenda perubahan yang komprehensif,” katanya, seraya menyebutkan ada lima ranah pemberdayaan menjadi syarat mutlak agar dakwah tetap relevan dan tangguh.

Pertama, adalah pemberdayaan ruhani (mental spiritual) untuk membangun ketahanan batin para aktivis dakwah. Kedua, pemberdayaan jasmani (fisik material) supaya da’i tidak rapuh menghadapi tantangan fisik dan kebutuhan hidup.

Ketiga, pemberdayaan sosial untuk menciptakan komunitas yang solid, saling menopang di tengah derasnya arus disintegrasi sosial, dan Keempat, pemberdayaan ekonomi, karena kemandirian finansial adalah penopang utama gerakan dakwah yang berkelanjutan.

Terakhir dan menurutnya ini tidak kalah penting dengan empat ranah sebelumnya, yaitu pemberdayaan politik, untuk memastikan bahwa umat memiliki kecerdasan dan daya tawar dalam sistem kekuasaan yang ada.

“Ini perlu dilakukan demi menghindari berjatuhannya para aktivis dakwah ketika menghadapi tantangan yang sangat berat,” tegas Nursyamsa, dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jum’at, 11 Dzulqa’dah 1446 (9/5/2025).

Ia pun menegaskan kesadaran strategis bahwa krisis multidimensi hanya bisa dihadapi dengan dakwah yang memiliki basis kekuatan spiritual, ekonomi, dan politik yang seimbang.

Dalam hal strategi sukses, Nursyamsa menegaskan bahwa sinergi dan kolaborasi antarelemen organisasi menjadi kunci. Dalam pada itu, gerakan dakwah Hidayatullah harus mengintegrasikan kekuatan DMP (Dewan Murabbi Pusat) dan DPP (Dewan Pengurus Pusat) secara harmonis.

“Aktivasi halaqah—baik di internal maupun yang tandang ke gelanggang sosial—adalah sarana utama untuk membangun jaringan dakwah yang dinamis dan berdampak,” katanya.

Beliau juga menyebutkan pentingnya aksi teknis melalui organ-organ seperti Departemen Komunikasi dan Penyiaran (DKP), Departemen Rekrutmen & Pembinaan Anggota, dan Departemen Perkaderan sebagai motor penggerak agar dakwah berjalan atraktif.

“Bahkan, landasan hukumnya jelas dalam PDO pasal 18 ayat 2 f yang menugaskan DMP mendorong rekrutmen anggota lewat tarbiyah dan dakwah,” terangnya.

Nursyamsa Hadis lantas menggarisbawahi bahwa dakwah kontemporer tidak cukup dengan pendekatan normatif, tetapi harus dipadukan dengan strategi pemberdayaan dan kolaborasi lintas bidang.

Ditambahkan dia, sinergi antara ruhaniyah dan struktur kelembagaan adalah fondasi untuk menegakkan peradaban umat yang kuat dalam menghadapi tantangan global yang kian kompleks.*/

Membangun Ruhiyah, Pemahaman dan Amal dalam Tarbiyah Hidayatullah

0

KONSEP tarbiyah ruhiyah Hidayatullah menekankan dua pilar utama untuk memperkuat spiritualitas, yaitu: mafahim ruhiyah (pemahaman ruhiyah) dan a’mal ta’abbudiyah (amalan ibadah).

Keseimbangan antara keduanya membentuk kekuatan ruhani seorang mukmin, menjaga hubungan erat dengan Allah melalui kesadaran akan karunia-Nya dan pengakuan atas kekurangan diri.

Mafahim Ruhiyah untuk Kesadaran dan Keseimbangan

Menurut Ibnu Taimiyah, pemahaman ruhiyah terwujud dalam dua aspek: mushahadat al-minnah (mempersaksikan karunia Allah) dan i’tiraf bil qushur (mengakui kelalaian diri).

Seorang mukmin menyadari bahwa amal yang dipersembahkan tidak sebanding dengan limpahan nikmat Allah.

Kesadaran ini menempatkan seorang mukmin dalam posisi al-khauf war-raja‘ (takut dan berharap), yang mendorong keteguhan spiritual.

Pemahaman ini menjadi panduan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan kebesaran Allah.

Amal Ta’abbudiyah dengan Tiga Pilar Utama

Amalan ibadah menjadi sarana praktis untuk memperkuat ruhiyah, dengan tiga fokus utama: tilawah Al-Qur’an, shalat, dan dzikir.

Tilawah Al-Qur’an

Tilawah terbagi menjadi ta’abbudiyah (ritual ibadah) dan ta-ammuliyah (perenungan). Tilawah ta-ammuliyah mengajak mukmin untuk merenungi ayat-ayat Al-Qur’an secara tematik dan menemukan inspirasi seperti yang dilakukan pemikir besar muslim serta orang orang shaleh.

Al-Qur’an memberikan kaidah umum yang relevan lintas zaman, memungkinkan mukmin mengambil ibrah dari ayat-ayatnya, seperti tema jihad dalam surat Al-Anfal atau konsep makr (makar) yang selalu dikaitkan dengan kekuasaan Allah. Perenungan ini memperkaya penghayatan spiritual dan memberikan keteguhan saat menghadapi syubhat atau situasi kritis.

Shalat

Shalat adalah tiang agama, mencakup 42 rakaat harian (17 rakaat wajib, 10 rakaat sunnah rawatib, 4 rakaat dhuha, dan 11 rakaat tahajud). Kunci keberhasilannya adalah muwazhabah (konsistensi).

Melaksanakan shalat berjamaah, terutama shalat wajib, meningkatkan pahala dan mempererat ikatan sosial-spiritual. Konsistensi dalam shalat, meski dengan bacaan sederhana, secara bertahap membangun kekuatan ruhiyah.

Dzikir Muthlaq

Dzikir seperti istighfar atau lafaz la ilaha illallah yang diulang ratusan kali membantu menjaga kesadaran akan tujuan akhir hidup.

Wirid seperti At Tawajjuhat yang dikeluarkan DPP Hidayatullah menjadi panduan praktis untuk dzikir pagi dan petang, memperkuat hubungan dengan Allah dan memberikan energi spiritual untuk menghadapi tantangan.

Gerakan Nawafil Hidayatullah

Gerakan Nawafil Hidayatullah atau GNH adalah metodologi Hidayatullah untuk membiasakan amalan ruhiyah secara konsisten, meliputi: mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan sekali, shalat fardhu berjamaah dan sunnah rawatib, tahajud, dzikir pagi-sore, infak harian, dan dakwah fardiyah.

GNH telah berkembang pesat, bahkan hingga ke mancanegara, menciptakan lingkungan (bi’ah) yang mendukung semangat spiritual tanpa kepentingan duniawi.

Aktivis GNH menjalani ritme spiritual yang khas, menikmati daabus shalihin (kultur orang-orang shalih), dan membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Menampakkan Amal Shalih

Kritik terhadap GNH, seperti tuduhan riya’ karena melaporkan amal, perlu diluruskan. Al-Qur’an, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 274, memuji amal shalih baik yang tersembunyi maupun terang-terangan.

Menampakkan amal, seperti laporan bacaan Al-Qur’an dalam GNH, bukanlah pelanggaran syariat, melainkan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Rasulullah SAW dan para sahabat, seperti Abu Bakar, sering berbagi amal shalih mereka tanpa niat riya’, sebagaimana hadits riwayat Muslim tentang Abu Bakar yang melaporkan puasa, mengantar jenazah, dan memberi makan orang miskin.

Tuduhan riya’ justru dapat melemahkan semangat amal shalih, sebagaimana sifat munafik yang mencela amal orang lain (QS. At-Taubah: 79).

Seorang muslim wajib husnuzhzhan (berprasangka baik) dan menyerahkan urusan hati kepada Allah, bukan membedah niat orang lain. Kritik seharusnya diarahkan pada kemaksiatan yang nyata, bukan pada pelaku kebaikan.

Seperti nasihat Fudhail bin ‘Iyadh, ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkan seseorang dari riya dan syirik. GNH selain sebagai program juga sebagai sebuah kultur spiritual yang menjadi ‘password’ keberhasilan Hidayatullah.

Mari terus hidupkan GNH sebagai sunnah hasanah, menghidupkan ajaran Islam di tengah keredupan nilai-nilai agama. Biarkan amal shalih menjadi cahaya yang menginspirasi, dengan hati yang selalu terpaut pada Allah.

*) Ust. H. Sholih Hasyim, penulis adalah pemetik hikmah kehidupan dan anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah

Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Palangkaraya

PALANGKARAYA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Tengah (Kalteng) H. Edy Pratowo beserta jajaran melaksanakan kegiatan anjangsana ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Tazkiyah Pondok Pesantren Hidayatullah, pada Kamis, 10 Dzulqa’dah 1446 (8/5/2025).

Kegiatan Anjangsana yang dilakukan ini merupakan salah satu agenda dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-68 Provinsi Kalteng.

Wagub H. Edy Pratowo mengungkapkan tema besar yang diusung dalam Peringatan Hari Jadi tahun ini adalah “Kalimantan Tengah, Masa Depan Indonesia”.

Ia berharap anjangsana kali ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan semangat kebersamaan, rasa kepedulian, dan saling membantu satu sama lain.

“Melalui peringatan Hari Jadi ke-68 Prov. Kalteng ini, kami berharap dapat memberikan dukungan kepada LKSA Darul Tazkiyah agar dapat terus berperan dalam mencetak generasi penerus bangsa, sejalan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk mendukung peningkatan sumber daya manusia adalah melalui program “Satu Keluarga, Minimal Satu Sarjana”.

Untuk itu, kata Wagub, kini disediakan fasilitas kuliah gratis bagi 10 ribu calon mahasiswa di 32 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang ada di Kalimantan Tengah.

“Informasi mengenai program kuliah gratis ini telah disampaikan ke seluruh kabupaten dan kota, dengan pembagian kuota yang telah ditentukan. Contohnya, Kabupaten Barito Utara mendapatkan alokasi beasiswa untuk 340 calon mahasiswa,” katanya.

Mengakhiri sambutannya, Wagub mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak, baik Perangkat Daerah, Instansi Vertikal, BUMN, BUMD, Perbankan, maupun Swasta, yang telah berpartisipasi dan memberikan bantuan dalam kegiatan anjangsana kali ini.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub H. Edy Pratowo memberikan hadiah berupa tiga buah sepeda kepada anak-anak LKSA Darul Tazkiyah.

Bersama sejumlah instansi, seperti Bank Indonesia Prov. Kalteng dan Bank Kalteng, H. Edy Pratowo juga menyerahkan bantuan anjangsana berupa beras, paket sembako, makanan ringan, alat tulis, serta uang tunai.

Kegiatan Anjangsana ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Perwakilan Prov Kalteng Yuliansyah Andrias, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Bank Kalteng Tuk Yulianto, Kepala Diskominfosantik Kalteng Agus Siswadi, Kepala Biro Umum Setda Prov. Kalteng Sitti Maabdah Makiah, Plt. Kepala Biro Organisasi Setda Prov. Kalteng Betri Susilawati, Kepala LPP TVRI Kalteng Holil Azmi, dan segenap jajaran pengurus, pembina, serta pengawas LKSA Darul Tazkiyah Pondok Pesantren Hidayatullah.

Komitmen Kuatkan Sinergi dengan Pemerintah

Dalam suasana penuh kehangatan tersebut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust Usamah Sudiono, menyambut kunjungan Wakil Gubernur dengan penuh rasa hormat dan menyebutnya sebagai kehormatan besar.

“Jika ada kekurangan dalam sambutan dan penyambutan, semoga bapak Wagub dan rombongan berkenan memaafkan segala khilaf,” ungkapnya.

Usamah juga menceritakan sejarah singkat perkembangan lembaga yang dipimpinnya yang menjadi potret nyata perjuangan lembaga sosial-keagamaan dalam membina generasi muda, yang kini telah berkembang menjadi rumah bagi sekitar 500 santriwan dan santriwati.

“Sedikit kami bercerita tentang perkembangan Panti Asuhan Darul Tazkiyah. Awalnya Pondok Pesantren. Pondok Pesantren ini hanya memiliki satu kegiatan, yaitu sosial dan pendidikan keagamaan. Dahulu kami hanya memiliki Darul Tazkiyah ini, LKSA ini,” katanya.

Saat ini, para santri tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Desa Kruing, dan disekolahkan di lembaga pendidikan yang tersedia, mulai dari tingkat SD, MTS, hingga SMA, bahkan ada yang telah menempuh pendidikan tinggi.

Usamah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan pesantren ini terbuka, inklusif, dan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Melalui momen anjangsana ini, Usamah berharap pemerintah dan Hidayatullah serta berbagai lembaga pendidikan keagamaan di Kalteng terus membangun kolaborasi sebagai bagian dari upaya strategis merawat generasi muda sebagai aset masa depan provinsi.*/

Ustadz Sudirman dan Semangat Membangun Cahaya Ilmu di Tengah Masyarakat

WAJO (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas dakwahnya di Desa Mario, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Ustadz Sudirman mencatat sebuah capaian penting dalam perjalanan intelektualnya.

Meski usia hampir menyentuh angka 50 tahun, ia berhasil menuntaskan studinya dan sukses mempertahankan skripsinya yang berjudul “Peran Pasar Rakyat dalam Peningkatan Perekonomian Masyarakat Menurut Perspektif Ekonomi Islam.”

Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan simbol ketangguhan semangat belajar yang tak mengenal usia. Ustadz Sudirman mengakui bahwa tantangan dakwah di era digital menuntut para dai untuk terus memperkaya diri dengan ilmu.

“Dakwah di era digital ini lebih menantang. Justru karena itu, kami harus terus belajar,”* ujarnya dengan penuh tekad, seperti dalam keterangannya, Jum’at, 11 Dzulqa’dah 1446 (9/5/2025).

Pencapaian ini pun menjadi buah dari program strategis Beasiswa Super Prestasi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan.

Program ini secara khusus dirancang untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi para dai yang mengabdi di pedalaman, agar dakwah yang mereka sampaikan berakar kuat pada pondasi keilmuan yang kokoh.

Basori Shobirin, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan Laznas BMH Sulawesi Selatan, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan para dai penerima beasiswa tersebut.

“Ini adalah wujud komitmen BMH untuk menguatkan dakwah di pelosok negeri. Kami haru sekaligus bangga mereka bisa menyelesaikan studi dengan baik,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, pada bulan Mei ini, BMH akan menggelar Wisuda Akbar bagi para dai dan daiyah yang telah meraih gelar sarjana. Mereka akan kembali ke medan dakwah masing-masing, namun kali ini dengan bekal yang lebih mumpuni.

BMH meyakini bahwa peningkatan kapasitas para dai bukan sekadar soal gelar akademik, melainkan tentang membangun daya jangkau dakwah yang lebih efektif dan bermakna.

“BMH terus menguatkan perannya mendukung peningkatan kapasitas dai di pedalaman. Ilmu mereka, cahaya untuk kita semua,” tutup Basori, menegaskan filosofi di balik program pemberdayaan ini.*/

Inisiatif Ketahanan Pangan Dukung Pesantren sebagai Pilar Pendidikan dan Ekonomi Umat

KONSEL (Hidayatullah.or.id) — Dalam lanskap pendidikan Islam modern, kemandirian pesantren tidak lagi semata-mata dinilai dari kuatnya tradisi keilmuan, tetapi juga dari kemampuannya dalam beradaptasi dengan dinamika ekonomi dan sosial masyarakat.

Di sinilah Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menegaskan komitmennya melalui program Ketahanan Pangan Santri, yang kali ini diwujudkan dalam bentuk bantuan nener ikan bandeng kepada Pondok Tahfidzul Quran Hidayatullah di Desa Watumbohoti, Kabupaten Konawe Selatan, belum lama ini.

Program ini bagian dari strategi besar BMH dalam memperkuat ketahanan pangan dan membangun pondasi ekonomi mandiri bagi pesantren-pesantren di seluruh Nusantara.

Dengan memadukan aspek pendidikan dan pemberdayaan, program ini diharapkan mampu menjadikan para santri bukan hanya penghafal Al-Qur’an yang kokoh, tetapi juga individu yang terampil dalam bidang wirausaha dan pengelolaan sumber daya alam.

“Alhamdulillah, hari ini kami menyalurkan nener ikan bandeng untuk mendukung program budidaya yang akan dijalankan oleh Pondok Tahfidzul Quran Hidayatullah Watumbohoti. Ini adalah langkah nyata BMH dalam mendorong kemandirian pesantren di bidang ekonomi,” ujar Koordinator BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara Muhammad Armin seperti dalam keterangannya, Jum’at, 11 Dzulqa’dah 1446 (9/5/2025).

Ia berharap paradigma baru dalam pengembangan pesantren terus dikuatkan menuju lembaga yang mampu menopang dirinya secara ekonomi, bahkan turut serta memberdayakan masyarakat sekitar. Pesantren kini dituntut untuk menjadi episentrum pendidikan sekaligus agen pembangunan ekonomi umat.

Sambutan hangat juga datang dari kalangan internal pondok. Ustaz Ahmad, salah satu pengasuh Pondok Tahfidzul Quran Hidayatullah, menyatakan apresiasinya yang tinggi terhadap inisiatif ini.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Budidaya ikan bandeng akan kami jadikan sarana edukasi sekaligus penunjang kebutuhan pondok. Terima kasih kepada BMH dan para donatur,” ungkapnya.

Bantuan berfungsi secara praktis sebagai penyokong kebutuhan sehari-hari pondok, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menanamkan jiwa kewirausahaan dan keterampilan hidup bagi santri—sebuah modal penting di era modern.

Pondok Tahfidzul Quran Hidayatullah Watumbohoti sendiri menjadi rumah bagi santri yang berasal dari berbagai daerah di Konawe Selatan. Keberagaman ini memberi potensi besar bagi pondok untuk menjadi pusat pendidikan inklusif sekaligus motor pemberdayaan ekonomi umat di tingkat lokal.

Dengan program-program seperti ini, BMH berharap pesantren tak hanya sekadar menjadi menara gading, tetapi benar-benar hadir di tengah masyarakat, memberi manfaat yang lebih luas dan konkret.

Inisiatif ini menggarisbawahi peran strategis pesantren dalam membangun peradaban yang tidak tercerabut dari akar spiritualitas, namun kokoh berdiri di atas kemandirian ekonomi yang berkeadilan.

[KHUTBAH JUM’AT] Berserah kepada Yang Satu, Jalan Hamba Mendapatkan Keselamatan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Diantara sekian banyak mukjizat yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada para Nabi dan Rasul, hanya Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang masih bisa kita rasakan mukjizatnya.

Kita mungkin mendengar dan tentu saja meyakini mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa As yang dengan tongkatnya bisa membelah lautan, tapi kita tidak melihat langsung apalagi merasakan kehebatan tongkat tersebut.

Kita juga meyakini bahwa Nabi Sulaiman diberi mukjizat untuk bisa menggerakkan angin, berbicara dengan binatang bahkan memerintahkan Bangsa Jin, tetapi kita tidak melihat dan merasakannya.

Tapi, Qur’an, mukjizatnya masih bisa kita rasakan.

Sekitar tahun 610 Masehi atau 14 abad yang lalu ia diturunkan pertama kali, tetapi keagungannya masih memberi dampak hari ini bahkan hingga hari akhir nanti.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surat Az Zumar ayat yang ke 28:

قُرْءَانًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِى عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“(Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa”

Allah Ta’ala memulai ayat ini dengan kata Qur’aanan (قُرْءَانًا) yang berasal dari kata qoro’a yang mengandung makna bacalah.

Maka, untuk merasakan mukjizat al-Qur’an, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membacanya. Lalu Allah Ta’ala melanjutkan bahwa Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab (قُرْءَانًا عَرَبِيًّا).

Ini merupakan sebuah bukti nyata bahwa Qur’an adalah mukjizat. Sehebat apa pun Bangsa Arab pada saat itu dalam memproduksi syair syair yang cemerlang, tidak akan mampu mendatangkan 1 (satu) ayat pun yang menyerupai Al Qur’an.

Lalu Allah melanjutkan, غَيْرَ ذِى عِوَجٍ bahwa kandungan di dalam Al Qur’an adalah benar, sempurna, tidak ada kekeliruan, bahkan tidak memiliki kekurangan. Sehingga siapa pun yang membacanya akan mendapatkan nilai nilai ketakwaan.

Lalu Allah Ta’ala melanjutkan pada ayat yang ke 29 untuk membuktikan bahwa kandungan Qur’an mengandung kebenaran mutlak:

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَٰكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halna? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا Allah membuat perumpamaan pada ayat ke 29 ini. Dan, perumpamaan perumpamaan yang dibuat di dalam Al Qur’an adalah agar manusia lebih mudah memahami kandungan Al Qur’an.

رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَٰكِسُونَ perumpamaan yang dibuat oleh Allah Ta’ala pada ayat ini adalah perumpamaan seorang budak yang dimiliki oleh majikan yang banyak, dan majikan itu satu sama lain saling berselisih.

Lalu, Allah Ta’ala melanjutkan, وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ dan seorang budak yang menjadi milik penuh seorang saja.

Perumpamaan ini memperlihatkan kepada kita dua kondisi yang berbeda yang dialami oleh dua orang budak. Yang satu dimiliki oleh majikan yang banyak dan selalu berselisih, sedangkan yang satu hanya dimiliki oleh satu orang majikan.

Pada perumpamaan pertama Allah Ta’ala menggarisbawahi bahwa pemilik budak tersebut adalah lebih dari satu dan keadaannya selalu berselisih. Ini artinya, mereka bersepakat (شُرَكَآءُ) untuk menjadi majikan dari seorang hamba, tetapi selalu tidak mau mengalah satu sama lain (مُتَشَٰكِسُونَ).

Bisa dibayangkan betapa repotnya keadaan seorang budak yang dimiliki oleh banyak majikan yang selalu berselisih.

Ketika majikan yang satu memerintahkan budak ini untuk membersihkan rumah pada jam 8 pagi hari, misalnya, di saat yang sama majikan lainnya memerintahkan dia untuk belanja ke pasar.

Lalu, majikan yang berikutnya, pada saat yang bersamaan, memerintahkannya untuk mengantarkan anaknya berangkat ke sekolah.

Apakah budak ini memiliki kemampuan untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu? Tentu saja tidak mungkin dan nyaris bisa dikatakan mustahil.

Atau, katakanlah, budak ini memenuhi permintaan majikan yang pertama untuk membersihkan rumah, dan mengabaikan perintah majikan yang lain, apakah majikan yang lain akan senang? Tentu saja tidak, dan itulah mengapa majikan – majikan itu akan terus مُتَشَٰكِسُونَ (berselisih).

Perumpamaan yang pertama ini membuat keadaan menjadi serba salah. Pada kondisi budak, ia akan merasa bingung, takut, khawatir, dan selalu gelisah.

Sang budak bingung untuk memutuskan perintah majikan mana yang mau dikerjakan, dan ia juga takut karena tidak bisa memenuhi semua keinginan majikannya. Kondisinya selalu diliputi dengan kekhawatiran dan kegelisahan.

Sementara pada kondisi majikan, mereka akan selalu bersaing dan berselisih karena saling mendahulukan kepentingannya satu sama lain.

Dalam dunia industri, kita bisa melihat bahwa nyaris tidak ada produsen mobil yang membuat mobil dengan lebih dari 1 setir.

Kalau mobil memiliki 2 setir, apalagi 3 setir, dan dipegang oleh orang yang berbeda, maka mobil tersebut bisa dipastikan tidak akan pernah bisa mencapai tujuan yang diinginkan oleh penumpangnya.

Pada perumpamaan yang kedua, Allah meng-highlight kalimat وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ seorang budak yang dimiliki oleh satu majikan saja. Allah menggunakan kalimat سَلَمًا yang bermakna menyerahkan diri atau selamat.

Kalau pada perumpamaan yang sebelumnya Allah Ta’ala menginformasikan tentang kondisi majikan yang lebih dari satu yang selalu مُتَشَٰكِسُونَ (berselisih), pada perumpamaan yang kedua ini Allah tidak mengungkap keadaan majikan yang satu, tetapi Allah mengungkap keadaan budak yang سَلَمًا (selamat) ketika dimiliki oleh hanya satu majikan.

Hal ini menegaskan bahwa dibandingkan dengan seorang budak yang dimiliki oleh banyak majikan yang selalu berselisih, seorang budak yang hanya dimiliki oleh satu majikan akan senantiasa mendapatkan keselamatan.

Dan, kata سَلَمًا (selamat) ini adalah kata yang bersifat universal yang diinginkan oleh semua manusia di permukaan bumi ini. Tidak ada satu pun manusia yang ingin hidup dalam keadaan takut, khawatir, dan gelisah. Semua ingin merasakan kehidupan yang penuh ketenangan, kedamaian, dan keselamatan.

Dalam konteks budak yang dimiliki oleh majikan yang banyak dan selalu berselisih, budak yang hanya dimiliki oleh satu majikan, maka keselamatan hanya bisa didapatkan ketika berserah diri pada satu majikan saja.

Dalam kerangka Tauhid, perumpamaan ini ingin menyampaikan kepada kita, bahwa hanya dengan berserah diri kepada Allah Ta’ala, kita akan merasakan keselamatan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

Itulah mengapa Allah menggunakan kata سَلَمًا yang juga bermakna Islam dibandingkan dengan شُرَكَآءُ yaitu syirik yang menyekutukan Allah Ta’ala.

Hanya Islam yang mampu memberikan keselamatan kepada kita, karena Islam mengajarkan kepada kita untuk taat dan tunduk hanya kepada Allah Ta’ala.

Islam ini adalah agama yang rohmatan lil ‘alamiin, ajarannya bersifat universal. Kalau ingin mencari keselamatan, tunduklah hanya kepada Allah Ta’ala dan tinggalkan ajaran – ajaran yang menyekutukan Allah dengan makhluk – makhluk lainnya.

Lalu Allah melanjutkan ayat ini dengan pernyataan هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ, apakah sama keadaan dua orang budak ini? Pertanyaan yang tidak dijawab langsung di ayat ini, tetapi dijawab oleh kita yang membaca ayat ini.

Apakah sama keadaan dua orang budak tersebut? Dan, jawaban kita semua secara universal sama, tentu saja tidak.

Tidak sama keadaan budak yang dimiliki oleh banyak majikan yang berselisih dengan budak yang dimiliki hanya satu majikan.

Dan seperti itu juga keadaan seorang hamba yang berserah diri hanya kepada Allah Ta’ala, ia akan merasakan keselamatan, kedamaian, dan ketenangan dibandingkan dengan hamba yang menyekutukan Allah Ta’ala.

Berikutnya, Allah kemudian menutup ayat ini dengan kalimat yang begitu indah ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ. Alhamdulillah, sebuah bentuk pujian kepada Allah Ta’ala, sebagai satu satunya Dzat yang mengatur alam semesta ini, termasuk mengatur seluruh ummat manusia.

Tidak bisa dibayangkan betapa rumit dan rusaknya keadaan bumi ini kalau Tuhan yang memerintah lebih dari satu dan selalu berselisih.

Ada Tuhan yang ingin menurunkan hujan, pada saat yang bersamaan Tuhan yang lain ingin hujan tidak turun. Ada Tuhan yang ingin mendatangkan malam, sementara Tuhan yang lain ingin agar malam tidak mengganti waktu siang.

Alhamdulillah, kebenaran yang bersifat universal dan diinginkan oleh seluruh manusia, sesungguhnya telah disajikan dan dihidangkan oleh Allah Ta’ala dalam bentuk agama Islam ini, sayangnya tidak semua manusia mengetahuinya.

!بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Kabid Nursyamsa Uraikan Positioning Strategis Hidayatullah Menuju Indonesia Emas 2045

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang (Kabid) Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, menyampaikan pandangan mengenai pentingnya positioning strategis Hidayatullah di tengah perubahan zaman terutama untuk menghadapi visi Indonesia Emas 2045.

“Kita sudah 80 tahun merdeka dan 2045 mendatang dicita-citakan menjadi Indonesia Emas, karenanya kini saatnya Hidayatullah semakin memberikan dampak yang lebih baik terhadap kemajuan bangsa,” kata Nursyamsa.

Hal itu disampaikan Nursyamsa saat sambutan membuka acara Bedah Buku “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” karya Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, MA, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa, 8 Dzulqa’dah 1446 (6/5/2025).

Menurutnya, tantangan menuju visi tersebut merupakan panggilan bagi kader Hidayatullah untuk tidak sekadar menjadi penonton sejarah, melainkan aktor aktif dalam mewarnai perjalanan bangsa menuju puncak kejayaannya.

Ia menegaskan bahwa tantangan zaman modern ini menuntut perbaikan di seluruh sendi kehidupan. “Semua sektor masyarakat harus diupayakan menjadi lebih baik. Ini adalah dunia yang semakin modern,” lanjutnya.

Dia mengingatkan, dunia yang kini bergerak cepat dengan arus globalisasi dan disrupsi teknologi, menuntut umat Islam—khususnya kader Hidayatullah—untuk hadir membawa solusi, bukan sekadar nostalgia masa lalu.

Dalam mengurai narasi perubahan, Nursyamsa mengajak hadirin menyelami sejarah profetik sebagai sumber inspirasi gerakan.

“Simaklah sejarah para Nabi, sebagian Nabi diturunkan Tuhan untuk to initiate revolution karena memang kekuasaan sistem yang sedang berjalan saat itu sangat despotik; mempertahankan status quo dan jauh dari nilai-nilai keadilan. Maka seorang Nabi yang merupakan seorang intelektual hadir untuk menciptakan revolusi; perubahan sistem struktur kekuasaan,” jelasnya.

Di sini, ia ingin menegaskan bahwa gerakan dakwah bukan hanya bersifat ritual-spiritual semata, melainkan memuat misi besar perubahan sosial dan politik yang berakar pada nilai-nilai keadilan Ilahiah.

Namun, lanjutnya, perubahan tidak selalu bermakna revolusi frontal. Terkadang, seorang Nabi hadir di dalam sistem kekuasaan untuk menjadi inovator, bukan destruktor.

“Terkadang seorang Nabi hadir masuk dalam kekuasaan untuk memperbaiki dan memberikan inovasi yang menciptakan kreativitas,” tutur Nursyamsa.

Ia mencontohkan figur sentral Nabi Muhammad SAW dan Nabi Yusuf AS dalam dua model perubahan yang sama-sama strategis namun berbeda pendekatan.

Nabi Muhammad hadir untuk membuat revolusi dengan merubah struktur kekuasaan dan memperbaiki struktur sosial.

Sementara, Nabi Yusuf yang hadir mengarahkan kekuasaan yang ada pada saat itu untuk menciptakan sebuah sistem ekonomi, tata kelola keuangan dan perbendaharaan. Sehingga masyarakat bisa selamat dari paceklik, bisa makmur, bisa bahagia.

Lebih jauh, Nursyamsa memberikan refleksi seraya mengajukan tantangan intelektual yang serius bahwa kader harus menentukan posisi strategisnya dengan jalur inovatif yang mengoptimalkan potensi dalam sistem yang ada.

“Mungkin bedah buku ini dengan pisau analisinya Anregurutta Farid Saenong bisa membantu intelektual kader Hidayatullah dengan manhaj nabawi untuk menempatkan diri apakah sebagai seperti Nabi Muhammad SAW yang mengambil jalan revolusi ataukah menjadi Nabi Yusuf yang menempuh jalan sebagai inovator,” katanya.

Menutup sambutannya, Nursyamsa mengingatkan fondasi etis dalam gerakan dakwah dan perubahan sosial, dengan mengutip pandangan Dr. Farid yang menekankan prinsip maqasid al-shariah sebagai pedoman.

“Yang pasti, mengutip pandangan Dr Farid bahwa dalam Islam, prinsip maqasid al-shariah (tujuan syariah) menjadi pedoman penting, yang mencakup perlindungan atas agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Jika ada ajakan yang melanggar lima prinsip ini, tinggalkanlah. Setelah itu, diskusikan dan pelajari bersama para tokoh agama,” pungkasnya.

Bedah buku dihadiri narasumber pembedah yauitu Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI KH. Farid F. Saenong, M.Sc., Ph.D., dan hadir pula penulis menyajikan point pont penting dalam buku tersebut.

Dalam materinya, Farid memberi sejumlah catatan penting terkait buku ini serta tidak menutup-nutupi adanya perbedaan pendekatan. Namun ia justru menekankan bahwa perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan.

Sementara itu, Nashirul memberi sanjungan, terimakasih, dan apresiasi yang tinggi atas kesediaan pembedah memberi sejumlah catatan tajam terhadap buku karyanya ini sebagai bahan telaah untuk penyempurnaan pada edisi berikutnya.*/

Beginilah Pentingnya Peran Kader Intelektual dalam Transformasi Masyarakat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta menjadi tempat pelaksanaan acara bedah buku berjudul “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” karya Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, MA, pada Selasa, 8 Dzulqa’dah 1446 (6 Mei 2025).

Acara ini dibuka oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) DPP Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, yang menyampaikan sejumlah poin mengenai peran intelektual dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Dalam sambutannya, Nursyamsa menegaskan tanggung jawab intelektual sebagai pewaris risalah Nabi untuk membawa perubahan signifikan di tengah masyarakat, sejalan dengan semangat buku yang dibedah.

Nursyamsa menggarisbawahi realitas kompleks yang dihadapi masyarakat saat ini. Ia memandang intelektual sebagai agen perubahan yang tidak boleh berdiam diri di tengah krisis multidimensional yang melanda umat.

“Terlalu banyak masalah yang terjadi di tengah masyarakat dalam berbagai aspek dan berbagai sektor mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum dan sebagainya. Dan, itu merupakan tanggungjawab seorang intelektual untuk menuntaskan menurut kapasitas intelektualnya masing-masing,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa intelektual tidak hanya memiliki keunggulan dalam ranah pemikiran, tetapi juga memiliki kewajiban moral untuk menjawab tantangan sosial dengan solusi yang sesuai dengan keahlian mereka.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang intelektual yang mewarisi risalah Nabi harus memiliki dampak nyata terhadap lingkungan sosialnya.

Peran penting tersebut merujuk pada esensi manhaj nabawi, yang tidak hanya berfokus pada aspek ritual, tetapi juga pada transformasi sosial yang membawa kebaikan bagi masyarakat secara luas.

“Jadi seorang intelektual yang mewarisi peran meneruskan risalah Nabi harus punya dampak terhadap lingkungan sosialnya,” katanya.

Intelektual, dalam pandangan Nursyamsa, bukanlah individu yang terisolasi dalam menara gading, tetapi figur yang aktif berkontribusi dalam membangun harmoni sosial dan kesejahteraan kolektif.

Nursyamsa juga mengkritik kecenderungan sebagian intelektual yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepekaan sosial.

Ia mengingatkan bahwa kader intelektual sejati harus memiliki kesadaran spiritual yang mendorong mereka untuk melampaui ambisi pribadi demi kepentingan umat.

“Pada diri intelektual ada kehidupan individual, ada kehidupan sosial. Kita sering melihat bagaimana para intelektual hanya hidup untuk mementingkan karirnya, jabatannya, bagaimana gajinya tinggi, bagaimana posisinya semakin membaik tanpa kepedulian yang begitu signifikan terhadap masyarakatnya dan ini harus menjadi concern kita semua karena spirit yang kita bawa adalah spirit spritual intelektual,” tegasnya.

Spirit spiritual intelektual, sebagaimana yang ditekankan, adalah perpaduan antara keunggulan intelektual dan kepekaan moral yang berakar pada nilai-nilai ilahi.

Intelektual sebagai Inisiator Perubahan

Lebih jauh, dalam konteks perubahan sosial, Nursyamsa menegaskan bahwa seorang intelektual harus menjadi inisiator dan pencipta perubahan.

Kader intelektual, tegas dia, adalah pelaku yang proaktif dalam merumuskan solusi dan menggerakkan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.

“Seorang yang memiliki kekuatan intelektual itu harus menginisiasi dan menciptakan perubahan di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Kekuatan intelektual, dalam hal ini, menjadi alat untuk mewujudkan visi perubahan yang berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Terakhir, Nursyamsa menyoroti dua aspek utama yang perlu diperbaiki dalam kehidupan sosial, pertama, masyarakat itu sendiri (the social life) dan lingkungan hidupnya (environmental life).

“Dalam aspek sosial itu ada dua hal yang harus diperbaiki. Yang pertama adalah masyarakat itu sendiri -the social life- dan kehidupan lingkungannya -enviromental life-. Karena itulah seorang intelektual itu sesungguhnya adalah seorang yang membawa kekuatan dari sisi Tuhan untuk menjadi Rahmanlil’alamin,” jelasnya.

Dengan merujuk pada konsep Rahmanlil’alamin—rahmat bagi seluruh alam—Nursyamsa menggarisbawahi bahwa intelektual memiliki peran ilahi untuk membawa kebaikan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi lingkungan secara keseluruhan. Ini menurutnya mencakup upaya memperbaiki tatanan sosial, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan menjaga kelestarian alam.

Bedah buku dihadiri narasumber pembedah yauitu Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI KH. Farid F. Saenong, M.Sc., Ph.D., dan hadir pula penulis menyajikan point pont penting dalam buku tersebut.

Dalam materinya, Farid memberi sejumlah catatan penting terkait buku ini serta tidak menutup-nutupi adanya perbedaan pendekatan. Namun ia justru menekankan bahwa perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan.

Sementara itu, Nashirul memberi sanjungan, terimakasih, dan apresiasi yang tinggi atas kesediaan pembedah memberi sejumlah catatan tajam terhadap buku karyanya ini sebagai bahan telaah untuk penyempurnaan pada edisi berikutnya.[]

Transformasi Diri dan Sosial Langkah Pertama untuk Mewujudkan Peradaban Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah, sebagai salah satu organisasi Islam, hadir dengan spirit dan tekad mulia untuk turut serta dalam membangun peradaban Islam yang dimulai dari transformasi diri dan sosial.

Demikian dikatakan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Drs. Nursyamsa Hadis saat sambutan membuka acara Bedah Buku “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” karya Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, MA, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa, 8 Dzulqa’dah 1446 (6/5/2025).

Visi ini menurutnya merupakan panggilan ideologis yang berakar pada metode kenabian yang telah terbukti membangun peradaban agung.

Menurut Nursyamsa, kejayaan Islam dapat diraih melalui pendekatan yang telah divalidasi oleh sejarah, yakni manhaj nabawi atau minhajun nubuwwah.

“Konsep, metode, atau manhaj yang digunakan membumikan kembali kejayaan Islam adalah yang sudah terbukti berhasil membangun peradaban agung yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah SAW dalam mengemban risalah Islam,” katanya.

Dia menjelaskan, Manhaj Nabawi adalah sistem kenabian yang menawarkan kerangka holistik untuk membentuk individu, keluarga, dan masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai wahyu. Ikhtiar pola pendekatan ini tidak hanya relevan pada masa Rasulullah, tetapi juga menjadi panduan penting dalam meniti perjalanan zaman.

Nursyamsa mengungkapkan, manhaj nabawi bertujuan melahirkan kader intelektual yang menjadi pelanjut risalah Nabi.

Dia menerangkan, kader intelektual ini memiliki tugas strategis yaitu to initiate (memulai), to lead the change (memimpin perubahan), dan to create change (menciptakan perubahan).

Kader intelektual ini adalah agen transformasi yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak proaktif untuk membawa perubahan sosial yang luhur.

“Dalam perspektif ideologis atau manhaji, output konsep manhaj nabawi adalah melahirkan kader intelektual. Sebagaimana kita pahami bersama bahwa seorang intelektual adalah pelanjut penyampai risalah Nabi untuk setiap zaman dan tempatnya,” katanya.

Memberi Dampak Kebaikan pada Diri dan Masyarakat

Namun, lebih lanjut Nursyamsa menjelaskan, sebelum memberikan dampak kepada masyarakat, seorang intelektual, pertama tama harus terlebih dahulu menempa dirinya.

Transformasi diri ini, menurutnya, menjadi prasyarat utama. Seorang intelektual harus memiliki daya juang, aura kepemimpinan, dan kekuatan batin untuk menggerakkan perubahan.

“Saat yang sama juga seorang intelektual mempunyai tanggungjawab terhadap dirinya sendiri sebelum dia memberikan impact kepada masyarakat,” terangnya.

Dalam konteks Hidayatullah, kampus pesantren berperan sebagai “menara gading” tempat kader menempa kualitas spiritual, emosional, dan intelektual.

“Jadi seorang intelektual harus berusaha menyempurnakan dirinya di ‘menara gading’ tempat dia bertafakkur, bersuluk, belajar berpikir,” ujarnya. Dalam proses itu menghasilkan kader yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga hebat secara spiritual dan emosional.

Langkah kedua, lanjutnya, adalah transformasi keluarga, yang dalam konteks ini merujuk pada komunitas santri dan warga kampus.

“Kedua, dia harus melakukan perubahan terhadap keluarganya. Siapa keluarganya? Keluarganya adalah para santri dan warga kampus,” imbuhnya.

Kader intelektual bertugas memperkuat, mendampingi, dan mencerdaskan komunitas ini sebagai basis kekuatan untuk pengabdian sosial.

Ia lantas mengibaratkan peran ini dengan Rasulullah SAW, yang tidak hanya bekerja sendiri, tetapi juga membangun kekuatan bersama keluarga dan sahabatnya.

“Jadi ibarat seorang Nabi. Nabi itu tidak hanya bekerja sendiri, dia juga menciptakan kekuatan di tengah keluarganya,” katanya.

Menurut Nursyamsa, perubahan menuju lebih baik mesti dimulai dari diri sebagaimana keluarga dan sahabat Nabi yang menjadi inti energi perubahan sosial.

“Jadi Muhammad dan keluarganya adalah intelektual dan keluarganya beserta sahabatnya juga itu merupakan inti energi yang dia bawa untuk perubahan sosial,” terangnya.

Terakhir, jelas Nursyamsa, kader intelektual tidak boleh terjebak dalam isolasi akademik. Mereka harus turun dari “menara gading” dan terlibat langsung dalam isu-isu sosial.

“Perlu diingat bahwa area perubahan itu bukan saja diri dan keluarganya, melainkan dia membawa diri dan keluarganya keluar dari kotak kampus turun dari menara gading untuk terlibat dalam isu-isu sosial di tengah-tengah masyarakat,” tegas Nursyamsa.

Dengan demikian, imbuhnya, manhaj nabawi tidak hanya menciptakan individu unggul, tetapi juga komunitas yang siap mengabdi untuk kebangkitan umat, bangsa, dan negara.[]

BMH Tingkatkan Semangat Amil, Berjuang untuk Umat, Bangsa, dan Negara

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) terus berupaya meningkatkan semangat dan motivasi amil zakat dalam bekerja untuk umat, bangsa, dan negara.

Dalam sebuah kesempatan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Ketua Pembina BMH Pusat, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, memberikan paparan tentang pentingnya memiliki semangat juang yang tinggi dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalani oleh amil.

Dalam paparannya, KH. Dr. Nashirul Haq menyampaikan bahwa amil BMH harus memiliki semangat yang tinggi, sebagai amil yang haroki, yang berarti seseorang yang selalu bergerak aktif dan tidak pasif.

“Haroki itu bukan hanya bergerak, tetapi juga seorang mujahid, seorang pejuang yang siap menumpahkan seluruh potensi untuk kemajuan umat,” ujarnya, Rabu, 9 Dzulqa’dah 1446 (7/5/2025).

Ia menambahkan bahwa setiap amil harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, seperti yang dicontohkan oleh Ust. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.

“Tidak ada waktu yang terbuang. Seperti beliau, setiap waktu digunakan untuk ibadah dan amal shaleh. Tahajud di tengah malam, shalat subuh, syuruq, dhuha, bekerja di lapangan, dan melaporkan kegiatan hingga larut malam. Begitu selesai, bergegas untuk urusan berikutnya,” katanya.

KH. Dr. Nashirul Haq juga mengingatkan bahwa dalam bekerja untuk umat, amil harus mengedepankan tekad dan niat yang tulus.

“Allah SWT tidak pernah mengabaikan upaya-upaya manusia. Semua akan dihitung oleh-Nya. Tidak ada yang lepas dari perhitungan-Nya,” tegasnya.

Dengan semangat yang tak kenal lelah, BMH berupaya menjadikan amil sebagai pejuang yang penuh perjuangan, baik secara intelektual maupun spiritual.

Keberkahan selalu ada dalam setiap langkah harokah yang diambil, dan semangat inilah yang diharapkan dapat mendorong keberlanjutan perjuangan zakat dalam membangun umat yang lebih baik.

BMH terus mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk mendukung gerakan ini, agar setiap upaya yang dilakukan bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Supendi selaku Dirut BMH Pusat menegaskan bahwa kebutuhan mendasar untuk kemajuan adalah hadirnya amil yang punya semangat, kompetensi dan mampu terus adaptif terhadap perubahan.*/