Beranda blog Halaman 91

Dari Sulawesi Barat, Pesan HijauRun Menggema untuk Kelestarian Lingkungan

0
Foto: Massiara/ Dok. DPW Hidayatullah Sulbar

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah tahun 2025 semakin semarak dengan terselenggaranya kegiatan HijauRun yang mengusung tema “Berlari dan Hijaukan Bumi.” Agenda ini menjadi wujud nyata kepedulian kader Hidayatullah terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Di Sulawesi Barat, kegiatan tersebut dipusatkan di Taman Landscape, Mamuju, pada akhir pekan lalu. Start resmi dimulai pukul 07.00 WITA dengan pelepasan peserta yang dilakukan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Drs. H. Mardhatillah.

Dalam sambutannya, ia menekankan makna HijauRun tidak sekadar sebagai aktivitas olahraga, melainkan gerakan yang menumbuhkan kepedulian ekologis.

“HijauRun sebuah gerakan nyata untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan, kesehatan, dan penghijauan lingkungan,” ujar Mardhatillah saat memberikan arahan sebelum melepas peserta.

Sebagai tanda simbolik, Ketua DPW menyerahkan bibit pohon kepada panitia pelaksana. Penyerahan tersebut dimaknai sebagai penegasan komitmen Hidayatullah dalam menjaga kelestarian alam sekaligus meneguhkan nilai penghijauan sebagai bagian dari dakwah sosial kemasyarakatan.

Kegiatan HijauRun di Mamuju diikuti sekitar 200 peserta. Mereka menempuh rute sejauh 2 kilometer di kawasan pantai. Sambil berlari dan berjalan, peserta turut membawa kantong kresek yang digunakan untuk memungut sampah di sepanjang jalur yang dilalui.

Upaya tersebut memberikan nuansa berbeda karena olahraga dikombinasikan dengan aksi menjaga kebersihan lingkungan. Panitia pun menyiapkan beragam doorprize sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi masyarakat.

Selain terpusat di Mamuju, agenda serupa digelar secara serentak di lima kabupaten lain di Sulawesi Barat. Kegiatan tersebut melibatkan Muslimat Hidayatullah serta masyarakat setempat.

Foto: Massiara/ Dok. DPW Hidayatullah Sulbar

Antusiasme warga terlihat jelas, bukan hanya karena kegiatan ini bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga berfungsi sebagai media silaturahim antara kader, masyarakat umum, dan lembaga lokal.

Panitia pelaksana, Muhammad Bashori, dalam keterangannya mengatakan, dengan model penyelenggaraan semacam ini, HijauRun berpotensi menjadi gerakan berkelanjutan yang menanamkan kesadaran ekologis sekaligus budaya hidup sehat.

Harapannya, langkah kecil yang dilakukan dapat memberikan dampak jangka panjang berupa lingkungan yang bersih, asri, dan hijau, khususnya bagi generasi mendatang.

“Gerakan kecil seperti ini, bila dilakukan secara konsisten, akan menumbuhkan kesadaran ekologis yang pada akhirnya menjadi budaya hidup sehat sehari-hari,” ungkap Muhammad Bashori dalam keterangannya, Kamis, 4 Rabi’ul Awal 1447 (28/5/2025).

HijauRun yang berbarengan dengan momentum Munas VI Hidayatullah memperlihatkan sinergi antara olahraga, kepedulian sosial, dan dakwah lingkungan.

Bashori menambahkan, dengan menggabungkan unsur kebersamaan, kesehatan, serta penghijauan, kegiatan ini diharapkan menjadi teladan bagi masyarakat luas dalam memadukan aktivitas fisik dengan kepedulian terhadap alam.

KHUTBAH JUM’AT Iman dan Akhlak, Kunci Meraih Kemenangan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah, Tuhan pencipta dan pemelihara alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya.

Shalawat dan salam kepada Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ, keluarga beliau dan para sahabat, serta seluruh umat Islam yang mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Beberapa Jum’at berlalu, para khatib menyampaikan khutbah berkenaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Materi yang mengingatkan peristiwa bersejarah tersebut memang perlu diulang-ulang sebagai refleksi rasa syukur atas bebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan.

Rasa syukur juga dengan iringan do’a semoga Allah Ta’ala membalas jasa para pejuang yang memberikan pengorbanan untuk kemerdekaan bangsanya.

Sidang Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia,

Tidak terkira nilai pengorbanan yang dipersembahkan para pejuang patriot dalam meraih kemerdekaan. Pengorbanan mereka yang membuahkan kemerdekaan tersebut telah dinikmati sampai saat ini.

Namun, kita tidak boleh lengah, para pendiri bangsa berpesan bahwa memperjuangkan kemerdekaan adalah melawan penjajah asing, itu sangat berat.

Kendati demikian, Bung Karno mengingatkan kita bahwa akan lebih berat tantangan yang kalian hadapi nanti, karena akan melawan penjajah dari negara sendiri, musuh dalam selimut. Dan, itu telah menjadi kenyataan.

Menghadapi kenyataan hari ini, harus ada rasa prihatin (sense of crisis) yang bisa memantik kepedulian seluruh anak bangsa untuk mengisi kemerdekaan ini. Hal paling mendasar dalam mengisi kemerdekaan adalah membangun sumber daya manusia.

Eksistensi manusia adalah faktor paling menentukan nasib suatu bangsa. Kalau manusianya baik, maka baiklah bangsa tersebut.

Falsafah bernegara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berarti setiap warga negara wajib meyakini bahwa nilai tertinggi dari hidup di Indonesia adalah yakin kepada Tuhan Yang Esa.

Wujud keyakinan kepada Tuhan adalah lahirnya manusia-manusia yang adil dan beradab. Hal ini menegaskan bahwa jatidiri manusia Indonesia adalah beragama dan berakhlak mulia.

Dengan agama dan akhlak inilah yang menjadi perioritas harus dicapai dalam menguatkan cita-cita kemerdekaan.

Sidang Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah,

Dalam perspektif Islam, keyakinan iman dan akhlak adalah fondasi dan basis nilai semua aspek kehidupan. Iman dan akhlak inilah yang mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik. Dengan modal dasar ini pula, Islam mencapai puncak peradaban kemanusiaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surah An-Nur Ayat 55:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”

Dengan iman yang kuat akan melahirkan akhlak mulia. Urgensi akhlak dimulai dari pemimpin sebagai teladan kepada semua masyarakat yang dipimpinnya. Itulah predikat yang diberikan Allah Ta’ala kepada Rasulullah di awal turunnya wahyu:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”

Ayat-ayat ini mempertegas bahwa Iman dan akhlak adalah dua pilar utama dalam membangun masyarakat perperadaban.

Keduanya saling terkait erat dan tidak bisa dipisahkan—iman menjadi fondasi spiritual, sementara akhlak adalah manifestasi nyata dari keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kondisi negara kita tidak sedang baik-baik saja. Korupsi, narkoba, prostitusi merebak di mana-mana dan dapat dikatakan praktek hidup biadab seperti ini membudaya, dan secara tidak sadar telah merusak sistem kehidupan berbangsa, sekaligus menodai nilai-nilai kemerdekaan.

Semua perilaku yang menyimpang tersebut disebabkan tergerusnya keyakinan, hilangnya rasa takut kepada Tuhan, yang secara otomatis seseorang lepas kontrol, berbuat semaunya sesuai hawa nafsunya.

Jama’ah Jum’at yang Berbahagia,

Keyakinan bukan sekadar urusan pribadi antara manusia dan Tuhan, tetapi juga menjadi sumber motivasi untuk berbuat baik, jujur, dan adil dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, keyakinan menjadi landasan untuk saling menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan memperkuat solidaritas antarwarga.

Ideologi bangsa telah merangkum nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang menjadi fondasi spiritual dan etis dalam kehidupan bernegara.

Akhlak, di sisi lain, adalah cerminan dari kedalaman keyakinan seseorang. Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari kemajuan teknologi atau ekonomi, tetapi dari kualitas akhlak warganya.

Ketika akhlak dijadikan pedoman dalam berpolitik, berbisnis, dan bersosialisasi, maka akan tercipta tatanan masyarakat yang berkeadilan, berintegritas, dan saling menghargai.

Akhlak yang baik melahirkan pemimpin yang amanah, rakyat yang bertanggung jawab, serta sistem sosial yang harmoni dan saling memuliakan.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi, arus informasi, dan krisis identitas, bangsa Indonesia perlu kembali meneguhkan keyakinan dan memperkuat akhlak sebagai benteng moral.

Pendidikan karakter harus menjadi prioritas, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan. Media dan teknologi harus diarahkan untuk membangun kesadaran etis, bukan hiburan yang mengumbar nafsu dan hura-hura.

Umat Islam mencapai tingkat peradaban tertinggi di zaman nabi, sebagaimana ungkapan Rasulullah, khairul quruni qarnii.

Saat itu, infrastrruktur bangunan masih sangat sederhana, Masjid Nabawi sebagai pusat peradaban masih berlantai tanah dan beratapkan daun kurma.

Belum layak dari segi fisik material, tetapi mereka itulah yang disebut umat terbaik yang menginspirasi kemajuan peradaban secara global.

Allah Ta’ala mengabadikan mereka sebagai sebaik-baik umat dalam firman-Nya dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”

Jama’ah Jum’at yang Berbahagia,

Umat Islam pernah menghegemoni dunia karena ketinggian akhlak, baik dalam kepemimpinan maupun dalam sistem sosial. Selama kurang lebih 7 abad Islam menjadi kiblat peradaban dunia.

Namun, kita juga sangat sadar, bahwa keagungan peradaban Islam mengalami keruntuhan, dan puncaknya setelah Khilafah Utsmani Turki berakhir.

Penyebab keruntuhan itu, penyebab intinya adalah degradasi iman dan akhlak yang berawal dari para pemimpinnya.

Runtuhnya Khilafah Utsmani pada tahun 1924 bukan hanya akibat faktor politik dan militer, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh krisis iman dan moral di kalangan elit dan masyarakatnya.

Kalau kita telaah lebih dalam, ada beberapa aspek spiritual dan etis yang turut mempercepat keruntuhan ini.

Pada masa awal, Khilafah Utsmani dikenal sebagai pelindung umat Islam dan penyebar dakwah. Namun, semangat ini memudar seiring waktu, digantikan oleh kepentingan duniawi dan kekuasaan.

Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya di dalam surah Al-A’raf Ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”

Sangat jelas pada ayat ini, bahwa syarat lahirnya peradaban dan hidup penuh berkah adalah adanya komunitas yang tumbuh di atas nilai keimanan dan ketaqwaan.

Dan, sebaliknya, ketika nilai itu runtuh, akhlak pemimpin dan masyarakatnya mengalami degradasi, maka Allah Ta’ala memberikan siksaan akibat perbuatannya.

Demikian pentingnya akhlak dalam kehidupan, baik secara pribadi, komunitas, dan dalam kepemimpinan, sampai kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa tugas utama yang beliau emban adalah menyempurnakan akhlak manusia.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia”

Alangkah bermartabatnya suatu bangsa ketika para pemimpin dan masyarakatnya berakhlak mulia.

Di sana akan tumbuh sikap hidup jujur, taat aturan, saling mencintai, mengasihi, dan saling menolong dalam kebaikan. Sebuah gambaran hidup yang berkemajuan dan berperadaban.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Dialog Cendekiawan Antarbangsa Indonesia-Malaysia untuk Masa Depan Madani

0
Cendekiawan muslim dari Indonesia menghadiri Majlis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia yang berlangsung di Kuala Lumpur (Foto: Dok. MCM Malindo)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Puluhan cendekiawan muslim dari Indonesia menghadiri Majlis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (MCM Malindo) yang berlangsung di Kuala Lumpur pada 28-29 Shafar 1447/ 22-23 Agustus 2025. Forum ini menjadi ajang dialog lintas negara untuk membahas strategi dan langkah konkret menuju masyarakat madani.

Menurut keterangan resmi yang diterima media ini pada Rabu (27/8/2025), delegasi Indonesia dipimpin oleh Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Prof. Din Syamsudin.

“Forum ini akan berlanjut tahun depan di Indonesia dan delegasi Cendekiawan Malaysia akan menjadi peserta tamu,” ujar Din Syamsudin.

Sekitar 40 delegasi dari Indonesia mengikuti forum ini, terdiri dari cendekiawan muslim, ulama, akademisi, rektor perguruan tinggi, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi Islam.

Di antara mereka, hadir Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq, Anggota Dewan Pertimbangan Abdul Aziz QM, serta Ketua Penasehat Muslimat Hidayatullah Sabriati Aziz.

Cendekiawan muslim dari Indonesia menghadiri Majlis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia yang berlangsung di Kuala Lumpur (Foto: Dok. MCM Malindo)

Rombongan delegasi Indonesia disambut oleh Ketua Institut Kepahaman Islam Malaysia (IKIM), Prof. Madya Dr. Dato’ Mohd. Azam Mohd. Adil. Sambutan tersebut dilanjutkan dengan sesi pengenalan ekosistem wacana Islam di Malaysia.

Pada kesempatan berbeda, Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim beramah tamah dengan delegasi Indonesia setelah salat Jumat di Masjid Putra, Kompleks Pusat Pemerintahan Putrajaya.

Agenda MCM Malindo selanjutnya berlangsung di INCEIF University, dengan seminar bertemakan ekonomi dan keuangan Islam. Beberapa narasumber yang tampil antara lain Ketua INCEIF dan Fellow Kehormat IKIM, Tan Sri Azman Mokhtar.

Majlis Cendekiawan Madani secara resmi dibuka oleh Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama) YB. Senator Dato’ Setia Dr. Mohd. Na’im Bin Mokhtar di aula International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Kuala Lumpur pada Jumat malam (22/8/2025).

Hari berikutnya, forum dilanjutkan dengan sesi pengantar oleh Wakil Ketua IKIM Prof. Dr. Dato’ Mohd. Yusof Hj. Othman, Ketua IAIS Prof. Dr. Mazlee Malik, dan Ketua CDCC Prof. Dr. Din Syamsudin.

Sesi pertama mengangkat tema “Agenda Pohon Umat Serantau; Sasaran Jangka Pendek dan Jangka Panjang,” diikuti sesi kedua bertema “Meneguhkan Akar Umat: Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman.”

Masing-masing sesi menampilkan narasumber dari kedua negara. Pembicara dari Indonesia antara lain Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah, Rektor Universitas YARSI Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, Peneliti BRIN Prof. Dr. R. Siti Zuhro, dan Ketua Paramadina Institute Prof. Dr. Pipip Ahmad Rifai.

Delegasi Indonesia juga diisi tokoh-tokoh nasional seperti Dr. H. Hidayat Nurwahid, M.A. (Wakil Ketua MPR-RI), Dr. H. Lukman Saifuddin (Mantan Menteri Agama RI), Amb. Dr. H. Hajriyanto Y. Thohari (Mantan Dubes RI di Lebanon), Dr. K.H. Anwar Abbas, M.A. (Wakil Ketua Umum MUI Pusat), Prof. Dr. H. Syafiq Mughni (Ketua PP Muhammadiyah), dan Dr. K.H. Ahmad Suaedy, M.Hum (Ketua PB NU), bersama sejumlah pimpinan ormas Islam, ulama, dan akademisi lainnya.

Kegiatan ini dilaksanakan atas arahan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, sebagai bagian dari upaya pemerintah mendukung visi negara madani di Malaysia. Forum MCM Malindo diharapkan menjadi wadah berkelanjutan untuk penguatan kerjasama cendekiawan antara kedua negara.

LSH Hidayatullah Audiensi dengan BPJPH Bahas Percepatan Sertifikasi Juleha Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah melakukan silaturrahim sekaligus audiensi ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang berlangsung di ruang rapat Wakil Kepala BPJPH, Jakarta, pada Selasa, 2 Rabi’ul Awal 1447 (26/8/2025).

Pertemuan tersebut membahas sinergi dalam mendukung percepatan sertifikasi halal dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) Juru Sembelih Halal (Juleha).

Rombongan LSH Hidayatullah dipimpin Ketua LSH, Ustadz H. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., didampingi Ustadz Muhammad Syarif (Bendahara), Ustadz Fahrur Rozi (Sekretaris), Ustadz Iwan Abdullah, M.Si. (Kepala Departemen Diklat), serta Ustadz Zainal Abidin (Bidang Kerjasama & Marketing).

Sementara itu, BPJPH diwakili oleh Wakil Kepala, Ir. Dr. Afriansyah Noor, beserta staf ahli, Ibu Gina dari Bidang Pengawasan, serta tim pengawasan dengan latar belakang kedokteran hewan dan peternakan.

Dalam paparannya, Afriansyah Noor menjelaskan strategi BPJPH dalam mempercepat sertifikasi halal melalui program self declare bagi warung makan serta penyusunan standar dan regulasi Juleha.

Ia menegaskan bahwa target nasional adalah menghadirkan dua Juleha tersertifikasi di setiap desa.

“Dengan sekitar 80.000 desa di Indonesia, berarti ada 160.000 Juleha yang harus dilatih dan disertifikasi. Untuk itu kami berharap LSH Hidayatullah ikut mendukung pencapaian target ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Afriansyah menyoroti kebutuhan penguatan lembaga pendukung ekosistem halal.

Dia mengatakan, kita perlu memperbanyak Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H).

SDM layanan seperti Pendamping Proses Produk Halal (P3H), penyelia halal, auditor halal, serta juru sembelih halal harus ditingkatkan jumlah dan kompetensinya.

Ia juga membuka peluang pengiriman tenaga profesional Juleha ke luar negeri untuk memenuhi standar global.

Dari pihak LSH Hidayatullah, Ketua Nanang Hanani menyampaikan kesiapan lembaganya untuk bersinergi dengan BPJPH.

Ia menekankan pentingnya pengawasan di Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU) agar praktik penyembelihan sesuai syariat.

“Kami menemukan bahwa masih banyak standar penyembelihan yang belum dijalankan secara benar. LSH Hidayatullah siap terlibat dalam penyusunan standarisasi, pelatihan, hingga pengawasan lapangan,” jelasnya.

Nanang juga melaporkan bahwa LSH Hidayatullah saat ini telah berkembang menjadi lembaga berskala nasional dengan pengurus wilayah di 28 provinsi.

Lembaga ini telah menyelenggarakan pelatihan bersertifikat BNSP dan menargetkan pembangunan rumah potong unggas di seluruh pondok pesantren Hidayatullah.

“Harapannya, kami dapat melayani kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung industri halal nasional yang dimulai dari hulu, yaitu penyembelihan halal sesuai syariah,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, BPJPH membuka ruang kolaborasi strategis. LSH Hidayatullah didorong untuk turut serta dalam penyusunan standar, pengawasan pelaksanaan, serta pelatihan bagi SDM Juleha.

Bahkan, ada usulan dari pihak LSH agar staf pengawasan BPJPH dengan latar belakang kedokteran hewan dan peternakan mengikuti pelatihan Juleha untuk memperkuat pemahaman teknis penyembelihan sesuai syariat.

Audiensi ini ditutup dengan kesepahaman bahwa percepatan sertifikasi halal dan pemenuhan target 160.000 Juleha nasional hanya dapat tercapai melalui sinergi pemerintah dan lembaga masyarakat.

BPJPH menegaskan kembali pentingnya integritas ekosistem halal, sementara LSH Hidayatullah menyatakan komitmennya untuk berperan aktif dalam pelatihan, standarisasi, dan pengawasan lapangan.

Sejarah Pertemuan Nasional Gen-Z di Balikpapan, Bersama Menuju Indonesia Emas 2045

0
Gelaran Jambore Nasional Pramuka Hidayatullah 2025 tidak hanya menjadi ajang perkemahan, tetapi juga ruang perjumpaan lintas generasi yang memperlihatkan bagaimana tradisi dapat diwariskan dengan penuh semangat kebersamaan. (Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH)

BERBICARA Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Teritip, Balikpapan, Kaltim, artinya mengingat sejarah. Salah satu riwayat yang terawat hingga hari ini adalah pertemuan nasional, utamanya Silaturrahim Nasional (Silatnas).

Namun sekarang ada yang benar-benar berbeda dari helatan nasional di lokasi Hidayatullah lahir dan berkembang itu. Yakni Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka Hidayatullah.

Pesertanya jelas bukan generasi “kolonial” dan milenial, tapi Gen-Z. Generasi yang diharapkan ke depan dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Tak heran, kalau Gubernur Kaltim hingga Menteri Pemuda dan Olahraga sangat bangga dan berbicara penuh antusias dalam sambutan pada rangkaian pembukaan Jamnas pada Kamis, 21 Agustus 2025.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Hidayatullah. Karena ini adalah jambore nasional yang ke-3, yang sudah berstatus Sako. Ini artinya komitmen dan juga kontribusi dari Hidayatullah dalam mendidik para muridnya, para santrinya dengan jiwa kepramukaan sudah tidak perlu kita pertanyakan lagi,” ujar Menpora RI Dito Ariotedjo di hadapan ribuan peserta dan tamu undangan.

Progresivitas Pendidikan Generasi Bangsa

Pernyataan Menpora mengandung pengakuan bahwa Hidayatullah telah membuktikan konsistensinya dalam mengembangkan pendidikan berbasis kepramukaan.

Status jambore yang sudah masuk kali ketiga dan resmi sebagai Satuan Komunitas Nasional (Sakonas) menjadi indikator nyata bahwa kiprah ini bukan sekadar seremonial, melainkan hasil dari komitmen panjang dan kontribusi berkelanjutan.

Secara rasional, hal ini menegaskan bahwa Hidayatullah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai karakter, kemandirian, dan kepemimpinan melalui wadah kepramukaan.

Pesan beliau juga menggarisbawahi bahwa kualitas pembinaan santri sudah diakui, sehingga tidak perlu diragukan.

Dengan kacamata optimis, pernyataan ini bisa dimaknai sebagai dorongan agar Hidayatullah terus memperluas peran pendidikan dan pembinaan generasi muda, bukan hanya dalam lingkup internal pesantren, tetapi juga memberi warna dalam pendidikan nasional.

Sementara dari sudut pandang visioner, pengakuan Menpora tersebut dapat dibaca sebagai landasan legitimasi untuk melangkah lebih jauh bahwa Hidayatullah berpotensi menjadi pelopor dalam membentuk generasi emas 2045, melalui integrasi nilai agama, kebangsaan, dan kepramukaan yang solid.

Menpora RI Dito Ariotedjo menjadi Pembina Upacara saat pembukaan Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka Hidayatullah 2025 (Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH)
Kiprah dan Kiprah

Berdasarkan uraian itu maka ke depan, Hidayatullah, utamanya Gunung Tembak harus bisa menjadi sentral pembinaan generasi bangsa, salah satunya melalui Pramuka. Bahkan Gunung Tembak relevan jika menyiapkan diri menjadi bumi perkemahan yang representatif untuk regional Kalimantan bahkan nasional.

Mengapa demikian? Karena ke depan, kita harus menyiapkan generasi bangsa dan umat yang siap berkiprah. Menunjukkan kemampuannya, kecerdasannya, bahkan akhlaknya, sehingga anak-anak muda ke depan rindu ke Gunung Tembak. Bukan karena semata ada kisah heroik masa lalu, tapi juga karena terbentang medan untuk menyiapkan diri berkiprah lebih luas bagi bangsa bahkan dunia.

Wajah-wajah muda, peserta Jamnas III kali ini, akan mengukir masa depan Indonesia. Dan, saya sangat yakin, sebagian besar dari mereka, kelak, pada 2045 pasti rindu dan bangga datang kembali ke Gunung Tembak.

Bukan untuk bercerita bagaimana Jamnas 2025 sangat mengesankan. Tetapi ia menawarkan generasi berikutnya untuk Jamnas ke sekian pada tahun itu dengan deklarasi kebangsaan yang menggetarkan dunia.

Belum terbayang memang sekarang, tapi itu sangat mungkin menjadi kenyataan. Apalagi kalau meresapi arti dari lambang pramuka: Buah Nyiur. Yang pesannya sangat jelas bahwa tiap Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Saat itu terjadi 50 tahun kedua Hidayatullah, generasinya telah menemukan bukti baru untuk mendaki ke 100 tahun kedua Hidayatullah. Insya Allah. Kuncinya perkuat pendidikan dan dakwah melalui berbagai instrumen yang relevan, legal dan progresif.

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Al-Qur’an Bukan Sekadar Bacaan, Tapi Rujukan Kehidupan

0
Foto: Al Qur’an Karim/ Dream Lab

AL QUR’AN bukan sekadar kitab suci yang dibacakan dalam shalat, dilantunkan dengan indah di majelis, atau dihormati dengan disimpan rapi di lemari kaca. Lebih dari itu, ia adalah rujukan utama, pedoman hidup, dan cahaya penerang bagi manusia dalam menapaki jalan kehidupan.

Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an untuk memberi arah, menetapkan hukum, dan menuntun manusia agar tidak tersesat di tengah gelombang zaman yang penuh ujian.

Sebagaimana dijelaskan Syaikh Dr. Aaidh ibn Abdullah al-Qarni dalam Tafsir Al-Muyassar:

أَنْزَلَ اللهُ -تَعَالَى- الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ، وَجَعَلَهُ مَرْجِعًا لِلْخَلْقِ فِي مَعْرِفَةِ أَحْكَامِ الدِّينِ الْإِسْلَامِيِّ، وَقَدْ أَوْدَعَ اللهُ -تَعَالَى- فِيهِ الْأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ الَّتِي تُنَظِّمُ الْحَيَاةَ مِنْ بَيْعٍ، وَشِرَاءٍ، وَزَوَاجٍ، وَعِبَادَةٍ، وَأَخْلَاقٍ، وَمُعَامَلَاتٍ

“Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an Al-Karim, dan menjadikannya sebagai rujukan bagi manusia dalam mengetahui hukum-hukum agama Islam. Allah ﷻ telah menitipkan di dalamnya hukum-hukum syariat yang mengatur kehidupan, mulai dari jual beli, transaksi, pernikahan, ibadah, akhlak, hingga muamalah.”

Al-Qur’an adalah panduan yang lengkap. Ia tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh urusan sosial, ekonomi, hingga akhlak sehari-hari. Karena itu Allah menegaskan:

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ

“Kami tidak mengabaikan sesuatu pun di dalam Kitab ini” (QS. Al-An‘ām: 38)

Dan dalam ayat lain:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ

“Dan sungguh, telah Kami jelaskan berulang kali kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan segala macam perumpamaan.” (QS. Al-Isrā’: 89).

Al-Qur’an dan Kehidupan Sehari-hari

Seringkali kita menganggap Al-Qur’an hanya berhubungan dengan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, atau haji.

Padahal, ia juga mengatur soal muamalah tentang bagaimana kita bertransaksi dengan jujur, menikah dengan benar, menjaga amanah, serta bersikap adil kepada sesama.

Bayangkan bila manusia hidup tanpa rujukan. Maka arah hidup akan kabur, nilai kebaikan dan keburukan bisa tertukar, dan kebenaran menjadi relatif. Tetapi ketika Al-Qur’an dijadikan rujukan, maka ada fondasi yang kokoh dalam menimbang setiap langkah.

Pertanyaannya sekarang, sejauh mana kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup? Apakah ia hanya menjadi bacaan di bulan Ramadan, atau benar-benar menjadi rujukan setiap keputusan?

Membaca Al-Qur’an itu mulia, tetapi memahami dan mengamalkannya jauh lebih utama. Membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan berarti menghadirkan nilainya dalam cara kita bekerja, berkeluarga, bergaul, bahkan bermasyarakat.

Jika Al-Qur’an mengatakan “jangan mendekati riba”, maka dalam bisnis kita menjauhinya. Jika Al-Qur’an menyeru kepada keadilan, maka kita berusaha menegakkannya meski kepada orang terdekat. Jika Al-Qur’an mengajarkan akhlak, maka tutur kata dan sikap kita pun mencerminkan kelembutan itu.

Al-Qur’an sebagai Obat Hati

Hidup manusia tidak hanya butuh aturan, tetapi juga penghiburan. Al-Qur’an hadir sebagai syifa’ (obat) bagi hati yang gelisah, cahaya bagi jiwa yang kelam, dan peneguh bagi langkah yang goyah.

Ketika kita lelah, Al-Qur’an menenangkan. Ketika kita kehilangan arah, ia menunjukkan jalan. Dan ketika kita terjatuh dalam kesalahan, ia mengingatkan dengan penuh kasih bahwa pintu taubat selalu terbuka.

Maka mari kita jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan yang disuarakan lisan belaka, melainkan pedoman nyata dalam kehidupan.

Membaca Al-Qur’an adalah awal, memahami maknanya adalah langkah lanjut, dan mengamalkannya adalah tujuan sejati.

Setiap kali kita membuka mushaf, sesungguhnya kita sedang membuka dialog dengan Allah ﷻ. Setiap ayat yang dibaca bukan hanya lantunan huruf, tetapi pesan cinta dan peringatan yang mengarahkan kita menuju jalan keselamatan.

Hidup ini singkat. Dunia terus berubah, nilai-nilai bergeser, dan manusia selalu tertawan yang sewaktu waktu bisa kehilangan arah. Tetapi Al-Qur’an tetap kokoh, tetap relevan, tetap menjadi cahaya di setiap zaman.

Marilah kita kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai rujukan utama. Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita bersikap, bekerja, berinteraksi, dan membangun peradaban.

Karena pada akhirnya, siapa yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, tidak akan pernah tersesat jalan.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Peluncuran Logo Baru Laznas BMH, Perubahan Strategis untuk Menebar Kebaikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) meluncurkan logo barunya dalam konferensi pers bertajuk “Menguatkan Citra, Memperluas Amal, Menebar Kebaikan” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Selasa, 2 Rabi’ul Awal 1447 (26/8/2025).

Direktur BMH, Supendi, menjelaskan bahwa pembaruan logo ini merefleksikan transformasi lembaga sekaligus mempertegas kontribusi zakat dalam pembangunan masyarakat.

“Perubahan adalah sebuah hal yang wajar, bahkan sesuatu pada titik tertentu harus melakukan perubahan. Ini menjadi harapan baru bagi BMH untuk lebih profesional dalam menjawab tantangan masa depan yang akan datang,” ungkapnya.

Logo terdiri dari tiga unsur utama, yakni ikon atau logogram, singkatan “bmh” dengan huruf kecil sebagai lettermark, serta tulisan lengkap Baitul Maal Hidayatullah sebagai logotype.

Di dalamnya, pola huruf “H” menjadi simbol kekuatan organisasi Hidayatullah yang kokoh dan konsisten dalam dakwah.

Sementara huruf “Z” melambangkan zakat, pilar utama BMH sebagai instrumen penguatan ekonomi umat yang dapat membawa manfaat nyata, serta menjadi fondasi untuk menciptakan kesejahteraan sosial yang lebih luas dan merata.

Selain itu, terdapat simbol dua tangan yang terhubung, merepresentasikan peran BMH sebagai perantara terpercaya antara donatur dan penerima manfaat. Simbol ceklis hadir sebagai tanda profesionalitas dan standar tinggi yang dijunjung lembaga.

Pilihan warna juga mengandung makna filosofis. Hijau menggambarkan pertumbuhan, kesejahteraan, serta pembangunan berkelanjutan.

Sedangkan oranye muda melukiskan semangat sinergi, integritas, serta kemampuan adaptasi di tengah perubahan zaman.

Menurut Supendi, pembaruan identitas ini merupakan langkah strategis yang sudah dipersiapkan sejak 2024.

“Perubahan logo ini tidak instan. Perubahan logo ini tertera dalam renstra BMH dimana perubahan ini menjadi sesuatu yang sangat strategis yang dimulai sejak awal tahun 2024,” jelasnya.

Ia menambahkan, peluncuran ini sekaligus menjadi tonggak awal sosialisasi secara nasional.

“Dengan launching logo baru BMH ini, maka perubahan logo branding BMH sudah mulai dilakukan secara nasional secara luas, termasuk kehadiran teman-teman wartawan pada kesempatan hari ini menjadi media ikhtiar kita untuk menyampaikan kabar kebaikan ini kepada masyarakat secara luas,” katanya.

Munas VI Hidayatullah Dimulai dengan Semangat Sehat melalui HijauRun

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Peserta dari berbagai kalangan memadati Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Ahad, 30 Shafar 1447 (24/8/2025). Mereka mengikuti flag off gerakan nasional HijauRun bertema “Berlari dan Hijaukan Bumi.”

Acara ini menandai dimulainya kampanye hidup sehat dan peduli lingkungan yang diprakarsai Hidayatullah dalam rangka menyambut Musyawarah Nasional (Munas) VI pada Oktober mendatang.

Bagi Ketua Panitia Munas VI, Marwan Mujahidin, HijauRun adalah bentuk dakwah yang inovatif.

“Lebih dari sekadar olahraga, HijauRun menjadi sarana edukasi. Ia menghubungkan gaya hidup sehat dengan kepedulian terhadap bumi, sehingga dakwah bisa menjangkau kalangan yang lebih luas, termasuk generasi muda,” ujar Marwan.

Menurutnya, tantangan kesehatan masyarakat saat ini semakin kompleks. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Pola hidup sedentari dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor penyebab utama.

“Melalui HijauRun, kami ingin mengajak masyarakat membangun budaya sehat. Berlari adalah aktivitas sederhana, murah, dan bisa dilakukan semua orang. Jika disertai dengan kesadaran menjaga lingkungan, manfaatnya menjadi berlipat,” jelas Marwan.

Selain itu, olahraga memiliki dimensi sosial yang kuat. Kegiatan lari massal seperti HijauRun memperkuat solidaritas masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan. Momentum ini, kata Marwan, selaras dengan semangat Munas VI yang ingin membangun kontribusi umat dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan global.

Ketua Panitia Flag Off HijauRun, Ahmad Maghfur Gunawan, menambahkan bahwa acara di Pakansari dikemas secara inklusif.

“Kami berusaha melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas olahraga, hingga keluarga. Gerakan ini bukan hanya untuk atlet, tetapi untuk semua kalangan yang peduli kesehatan dan lingkungan,” ungkap Ahmad.

Acara HijauRun di Pakansari juga melibatkan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor, yang selama ini aktif mengampanyekan olahraga rekreasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kehadiran Muslimat Hidayatullah (Mushida) turut memperkaya acara dengan aksi nyata penanaman pohon produktif di sekitar stadion.

Dengan demikian, terang Marwan, olahraga tidak hanya dipahami sebagai aktivitas kebugaran, tetapi juga kontribusi ekologis. Gerakan tanam pohon diintegrasikan sebagai simbol keseimbangan antara jasmani dan lingkungan.

Marwan menegaskan, dakwah lingkungan seperti HijauRun memiliki relevansi yang tinggi di tengah krisis global. Menurut catatan iklim, Mei 2025 menjadi salah satu bulan terpanas dalam sejarah, dengan suhu global naik 1,4°C di atas level pra-industri.

“Dengan semangat berlari, peserta juga belajar bahwa tubuh yang sehat adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman. Apalagi di tengah ancaman iklim dan kesehatan publik yang semakin serius,” katanya.

Kegiatan ini tidak berhenti di Bogor. HijauRun juga digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia, menegaskan luasnya jaringan sosial Hidayatullah. Partisipasi masyarakat di daerah menjadi bukti bahwa olahraga bisa menjadi medium dakwah sekaligus sarana memperkuat kohesi sosial.

“Pesan utama yang ingin ditegakkan adalah kesehatan dan lingkungan adalah satu kesatuan. Tidak ada tubuh sehat tanpa bumi yang sehat, dan sebaliknya. Melalui HijauRun, masyarakat diajak bergerak bersama, menapaki jalan yang menyehatkan tubuh sekaligus melestarikan bumi,” katanya.

Kibaran Merah Putih Raksasa Warnai Perkemahan Nasional Sako Pramuka Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Sejarah istimewa tercipta dalam Perkemahan Nasional Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Islam III Hidayatullah atau The 3rd National Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH III) yang berlangsung di bumi Kampus Induk Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam momentum rangkaian Jambore Nasional (Jamnas) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah itu, bendera Merah Putih berukuran seribu meter persegi terbentang megah di lapangan Aglasra, Gunung Tembak Teritip.

Bendera raksasa tersebut diarak oleh ratusan santri pramuka Hidayatullah tingkat Penggalang. Prosesi berlangsung khidmat dengan iringan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dinyanyikan bersama-sama.

Para peserta Jamnas mengibarkan bendera tersebut di tengah lapangan dengan disaksikan tamu undangan serta sejumlah pejabat pemerintah yang hadir. Suasana semakin semarak ketika teriakan “Allahu Akbar, Merdekaa!” menggema dari para santri.

Anggota Majelis Pembina Nasional (Mabinas) Sako Pramuka Hidayatullah, Kak Supriyadi, menyampaikan bahwa ISCH III merupakan momentum penting bagi generasi muda.

“Silaturahim akbar yang kita lakukan, semua seperti main-main. Tapi orang dewasa mengerjakan tidak dengan main-main,” ujarnya pada Kamis, 21 Agustus 2025.

Mantan Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar perkemahan biasa, melainkan wujud nyata komitmen Hidayatullah kepada bangsa dan negara.

“Ini bukan hanya sekadar perkemahan. Tapi tahun 2045 pertaruhannya, merekalah yang akan memimpin bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Lebih jauh, Kak Pri menjelaskan bahwa seluruh pemangku kepentingan Hidayatullah, termasuk pendiri dan pembina, telah menyepakati falsafah dasar serta landasan bangsa sebagai jati diri yang tak bisa ditawar.

“Tinggal bagaimana bersungguh-sungguh menyiapkan generasi emas yang akan mengisi kemerdekaan dan melanjutkan pembangunan bangsa tercinta ini,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan sejarah penting yang telah ditorehkan sebelumnya oleh Satuan Tugas SAR Hidayatullah. Pada 21 Mei 2013, tim tersebut berhasil mengibarkan bendera Merah Putih berukuran seribu meter persegi di atas menara bambu setinggi 67 meter, yang dicatat sebagai rekor dunia “The Largest Flag Flown In A Flag Bamboo Pole”. Acara bersejarah itu turut dihadiri Gubernur Kalimantan Timur saat itu, Awang Faroek Ishak.

Menurut Kak Pri, pengibaran bendera raksasa di Jamnas kali ini melanjutkan tradisi kecintaan Hidayatullah terhadap Indonesia.

“Ini satu bentuk manifestasi, kibaran bendera atau berkibarnya bendera rekor dunia yang belum dapat digeser oleh siapapun dan akan kami pertahankan sebagai bentuk manifestasi kekuatan adik-adik menyongsong generasi emas Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, sejarah yang tercipta di Jamnas bukan hanya milik peserta, tetapi juga bagian dari perjalanan Sako Pramuka Hidayatullah.

“Belum ada pramuka di dunia yang mengalahkan. Rekor dunianya ada di Sako Pramuka Hidayatullah,” pungkasnya sebelum mengakhiri dengan pekikan takbir yang disambut serentak peserta perkemahan.

Momentum jambore nasional ini menjadi ajang silaturahmi dan pembinaan generasi muda yang berakar pada nilai kebangsaan, spiritualitas, dan semangat persatuan.

Hidayatullah Halal Festival Semarakkan Road to Musyawarah Nasional VI 2025

0

KUDUS (Hidayatullah.or.id) – Menyongsong Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah tahun 2025, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah menyelenggarakan Hidayatullah Halal Festival di Yayasan Al-Aqsho Pondok Pesantren Hidayatullah, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad, 30 Safar 1447 (24/8/2025).

Kegiatan yang berlangsung setengah hari ini diikuti sekitar 150 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Ketua panitia sekaligus Ketua LPH Hidayatullah Jawa Tengah, Muhammad Hamdan, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Munas VI Hidayatullah yang akan digelar Oktober 2025.

“Harapannya, melalui kegiatan ini bapak-ibu, para pelaku UMKM dapat memahami regulasi sertifikasi halal dan segera mengurusnya baik melalui program self-declare maupun reguler. Sehingga, nantinya produk halal bapak-ibu bisa menambah datangnya keberkahan,” ujarnya.

Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, menegaskan bahwa kehadiran lembaga ini merupakan wujud komitmen organisasi untuk memperkuat ekosistem halal di Indonesia.

Ia mengingatkan kembali keputusan Munas V tahun 2020 yang menempatkan Hidayatullah sebagai pelopor halal nasional.

“Pada Munas V Tahun 2020, salah satu kebijakan strategis organisasi Hidayatullah adalah jadi pelopor halal Indonesia dengan memberikan edukasi kepada masyarakat supaya lebih memperhatikan kehalalan pangan yang mereka konsumsi setiap hari,” katanya.

Gerakan Halal sebagai Gaya Hidup

Sementara itu, Sekretaris Satgas Halal Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Ahmad Ridaurrahman, memberikan apresiasi atas terselenggaranya festival ini.

Menurutnya, gerakan halal kini sudah menjadi gaya hidup masyarakat, termasuk di kalangan UMKM.

“Kami siap kolaborasi dengan LPH dan LP3H Hidayatullah supaya UMKM Jawa Tengah segera naik kelas,” tegasnya.

Ridaurrahman juga menyampaikan bahwa pemerintah menyediakan satu juta kuota sertifikasi halal gratis melalui program SEHATI yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha.

Ketua MUI Kabupaten Kudus, Kiai Ahmad Hamdani, turut menekankan pentingnya aspek kehalalan, bukan hanya dari produk akhir tetapi juga dari cara mendapatkannya.

Dalam kesempatan yang sama, Hidayatullah meresmikan Al-Aqsho Halal Center sebagai wadah layanan halal bagi masyarakat.

Acara ini mendapat dukungan dari berbagai sponsor, termasuk Mushida, BTH, Gotri Resto, Nahla, Deoja, Belicendol, Barizama, dan Zoya. Kolaborasi lintas sektor tersebut memperlihatkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem halal nasional.

“Melalui Hidayatullah Halal Festival, LPH Hidayatullah berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi UMKM dan memperkuat visi menjadikan Indonesia pusat halal dunia,” tandas panpel.