Beranda blog Halaman 92

Pemimpin Umum Hidayatullah Ingatkan Titik Awal Kebaikan Dimulai dari Doa

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Kampus Utama (KIKU) Hidayatullah 2025 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Papua Barat, selama 25–27 April 2025, bukan hanya menjadi ajang koordinasi struktural, melainkan juga momentum refleksi ideologis dan spiritual.

Dalam taushiyahnya pada pembukaan Rakornas tersebut, KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah, menyampaikan rangkaian pemikiran yang merefleksikan akar teologis, orientasi profetik, dan praksis dakwah berbasis kampus dan masjid.

Dalam taushiyahnya, ia menyampaikan bahwa gerakan dakwah sejati tidak lahir dari ambisi politik atau kepentingan sosial semata, melainkan dari kesadaran untuk menghadirkan kebaikan dan menerangi manusia dari kegelapan.

Seperti Nabi Ibrahim, imbuhnya, titik berangkat perjuanganmya adalah munajat kepada Tuhan, yang kemudian membentuk keteguhan moral menghadapi kuasa duniawi.

“Sesungguhnya titik awal kebaikan berawal dari doa, begitulah ketika Nabi Ibrahim AS berhadapan dengan sistem politik dan berdialog dengan kekuasaan,” katanya.

KH Abdurrahman menegaskan bahwa ketika logika kekuasaan tidak mampu menundukkan kebenaran yang dibawa Nabi Ibrahim, maka kekuatan represif pun diluncurkan.

“Ketika kekuasaan tidak bisa menundukkan logika Nabi Ibrahim, maka kekuasaan menghimpun kekuatan dengan mengumpulkan kayu dan dibakarlah Nabi Ibrahim tapi Allah lebih berkuasa dengan spirit Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir,” imbuhnya.

Di sinilah titik kulminasi antara tujuan mulia dan kekuatan iman. Dalam sejarah kenabian, tegasnya, kekuatan sejati justru muncul dari penyerahan total kepada Allah. Spirit tawakal yang disebutkan tersebut menjadi titik tolak keberanian dan optimisme dakwah.

Sistematika Wahyu sebagai Rute Pergerakan

Dengan merujuk Surah Al-Fatihah sebagai inti “futuhat” atau pembukaan kemenangan, KH Abdurrahman menempatkan perjuangan dakwah sebagai jalan profetik.

Perjuangan ini, terang dia, tidak semata-mata bertumpu pada strategi, melainkan pada orientasi spiritual. Inilah yang membedakan antara gerakan dakwah dan gerakan yang berorientasi pada material belaka.

“Pergerakan kita ini adalah pergerakan nubuwah yakni sistematika wahyu. Surah Al-Fatihah itu berisi esensi futuhat, adanya kekuatan itu dari doa tadi yang ada di hati. Butuh kesabaran, kekuatan moral, mental, dan spiritual,” ujarnya.

Lebih jauh, beliau menyambungkan kesinambungan sejarah antara Ibrahim dan Muhammad SAW. “Rasulullah SAW hadir karena doa datuknya Ibrahim AS yang gerakan awalnya adalah meletakkan pondasi Baitullah atau masjid,” tukasnya.

Ia menegaskan, doa adalah fondasi peradaban. Sementara masjid, sebagai buah dari doa Ibrahim, bukan hanya tempat ibadah, tapi episentrum pergerakan umat.

Kampus sebagai Alat Peraga Dakwah

Lebih jauh, KH Abdurrahman pada kesempatan itu menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat transfer ilmu, tapi medan aplikatif dari nilai-nilai doa, iman, dan perjuangan.

Implementasi doa berarti menjadikan nilai spiritual sebagai nadi yang mendenyuti kehidupan kampus, bukan sekadar ornamen. “Implementasi doa itulah yang harus diperagakan di kampus-kampus utama. Jadikan masjid ini menjadi titik perjuangan,” tegasnya.

KH Abdurrahman memberikan contoh personal. “Ketika saya baru tiba di Timika, langsung menuju masjid dan memanjatkan doa yakni jadikanlah tempat ini mercusuar dakwah di Timika,” katanya.

Ia tidak hanya melangitkan doa. Pada hari Jumat (25/4/2025), puluhan dai disebar ke berbagai masjid di Timika sebagai wujud transformasi kebaikan dan doa yang melahirkan energi sosial yang luas.

Sebagai simbol afirmatif, KH Abdurrahman lantas memberikan penamaan istimewa untuk kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Timika sebagai “Al Manzila Al Fadilah” atau tempat yang mulia atau posisi yang terhormat.

Berkenaan dengan itu, ia juga menekankan bahwa kampus kampus Hidayatullah dimana pun hendaknya dibangun dengan nilai. Kemakmuran masjid dijadikan sebagai barometer keberhasilan pendidikan dan keimanan.

Masjid, terangnya, bukan sekadar tempat ibadah simbolik, tapi ruang sublimasi nilai dan penggemblengan jiwa.

“Otaknya, rasa, pikirannya penuh dengan kebaikan. Kampus yang indah adalah kebaikan-kebaikan yang sangat banyak. Taqwa itu pemecahan dimensi kebaikan dan identitas iman itu ditandai dengan makmurnya masjid,” katanya.

Dalam kerangka ini, perkaderan menurutnya bukan hanya menyiapkan kader ideologis, tetapi kader yang tahan banting, setia, bernalar kenabian, dan berkinerja profesional. Perkaderan sejati tidak cukup dengan teori, harus melalui penugasan nyata.

“Pengkaderan indikatornya militansi, loyalitas, profetik, dan profesional. Pengkaderan terbaik itu adalah penugasan,” katanya menegaskan.

Kisah masa mudanya menjadi ilustrasi konkret. Ketika ia harus berangkat ke Jayapura hanya membawa beberapa lembar pakaian, mesin ketik, dan buku, karena Irian Jaya waktu itu jauh dengan akses yang masih susah yang tidak seperti sekarang.

Pengorbanan, keterbatasan logistik, dan keberanian adalah DNA awal perintisan. Dan kini, tugas pengembangan jatuh ke generasi berikutnya.

“Ketika diperintahkan berangkat, pakaian anak dan istri diikat sarung, membawa atas dan membawa peti yang saya buat sendiri yang isinya buku tadi,” katanya.

Kalau berniat mati sebagai pejuang maka itu bisa di mana saja karena seluruh negeri ini adalah bumi perjuangan. Karena itu, karunia terbesar bagi pejuang adalah terwujudnya kebaikan bagi kehidupan umat yang dicitakannya.

Terakhir, beliau melontarkan candaan yang sarat dengan filosofi seleksi alam dalam dakwah. Menurutnya, hanya yang memiliki bobot nilai dan tekad yang akan bertahan.

“Perkaderan adalah dengan penugasan, jadi ditugaskan saja. Kalau dia keturunan labu maka dia akan terapung, tapi kalau dia turunan batu maka akan tenggelam. Dicoba saja siapa tahu lebih banyak turunan batu,” katanya.

Baginya, dalam proses kaderisasi, ujian adalah bagian integral untuk mengetahui siapa yang layak mengemban misi dakwah.*/

Rakornas KIKU Hidayatullah 2025 dan Tantangan Menjaga Identitas Gerakan

0

MOMENTUM Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Kampus Utama (KIKU) Hidayatullah 2025 yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Papua Barat, selama 3 hari, 25-27 April 2025, membawa tema strategis: “Mewujudkan Kampus sebagai Basis Perkaderan dan Alat Peraga Dakwah.”

Di balik tema tersebut, tersirat pesan penting tentang urgensi back to core values—kembali pada kultur dasar Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah yang menjadikan masjid dan lapangan sebagai dua episentrum transformasi kader.

Dalam konteks kekinian, ketika lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai tergoda mengadopsi pola-pola modern tanpa filtrasi nilai, Rakornas ini hadir sebagai pengingat.

Bahwa transformasi sejati hanya bisa terjadi jika akar nilai tetap dijaga dan disegarkan. Disnilah Hidayatullah menegaskan jati dirinya—bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai ruang kaderisasi ideologis yang mengakar kuat pada nilai perjuangan.

Masjid sebagai Episentrum Utama

Masjid telah lama menjadi jantung kegiatan Hidayatullah, tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat pembinaan kader, titik awal pembentukan ruhani dan kedisiplinan.

Salah satu tradisi khas Hidayatullah adalah pengumuman waktu masuk shalat melalui pelantang suara, dimulai dari 30 menit hingga 5 menit sebelum azan.

Dalam dunia yang kian bising oleh distraksi digital, alarm waktu shalat ini menjadi sistem penanda yang bukan hanya fungsional tapi juga simbolik.

Ia adalah pengingat identitas, bahwa kehidupan kampus Hidayatullah berporos pada kesadaran ilahiah. Menghapusnya adalah seperti mencabut jam dari dinding kehidupan: chaos spiritual bisa terjadi tanpa disadari.

Lebih dari itu, fungsi mimbar masjid sebagai ruang penyampaian “laporan perjalanan” para dai dari daerah perlu dihidupkan kembali.

Tradisi ini memungkinkan dai dari daerah berbagi kisah nyata tentang dinamika dakwah, termasuk tantangan dan keberhasilannya, menggunakan metode bercerita (storytelling).

Transformasi nilai semacam ini sangat relevan bagi santri Generasi Z, yang lebih mudah menyerap nilai melalui narasi emosional ketimbang pengajaran formal.

Berbeda dengan tenaga pengajar profesional yang fokus pada kurikulum akademik, dai lapangan membawa pengalaman otentik yang mampu menginspirasi semangat juang santri. Terlebih, generasi Z sebagai penerima dakwah hari ini lebih responsif terhadap pendekatan storytelling ketimbang instruksi normatif.

Dengan menghidupkan kembali tradisi ini, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga laboratorium perkaderan yang dinamis.

Lapangan sebagai Laboratorium Etos Kerja dan Kemandirian

Lapangan, sebagai episentrum kedua, merupakan ruang untuk menanamkan etos kerja dan nilai-nilai pra-Wahyu Nabi Muhammad SAW, seperti kemandirian, kepemimpinan, dan kewirausahaan.

Hidayatullah perlu mengaktualisasikan tiga fase pra-Wahyu—keyatiman, menggembala, dan berdagang—dalam kehidupan asrama santri.

Kehidupan di asrama adalah fase “keyatiman”, di mana santri dilatih hidup mandiri, seperti Nabi Muhammad yang yatim sejak kecil.

Mereka tidak hanya belajar, tapi juga mencuci pakaian sendiri, menyetrika, mengatur waktu makan, hingga menjaga kesehatan.

Sementara fase “menggembala” dimaknai sebagai pelatihan memimpin diri sendiri dan kelompok kecil, belajar memutuskan dan bertanggung jawab.

Berikutnya, fase “berdagang” menjadi ruang untuk menumbuhkan jiwa enterpreneurship melalui unit-unit usaha santri.

Transformasi nilai ini tidak bisa dicapai hanya melalui ceramah atau pengajaran kognitif. Ia perlu ekosistem yang konsisten dan teladan yang konkret.

Pengasuh pondok memegang kunci dalam hal ini. Mereka bukan sekadar pendidik, tetapi arsitek karakter yang menyulam nilai dalam keseharian santri.

Revitalisasi lapangan sebagai ruang perkaderan akan memastikan bahwa santri tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual.

Tantangan Kontemporer

Dalam iklim pendidikan nasional saat ini, banyak lembaga Islam yang mulai bergeser ke arah sekularisasi nilai dan komersialisasi pendidikan. Standar keberhasilan diukur dari akreditasi, sertifikasi, dan capaian akademik semata. Hidayatullah dihadapkan pada pilihan: ikut arus atau menguatkan akar.

Jika akar nilai tidak dijaga, maka kampus akan kehilangan jiwanya. Ketika tradisi khas digantikan dengan proyek-proyek artifisial, maka yang tersisa hanyalah kulit institusi tanpa ruh gerakan. Rakornas KIKU 2025 menjadi titik tolak untuk melakukan koreksi arah.

Dalam konteks kekinian, kita menghadapi sejumlah tantangan yang mengancam nilai-nilai utamanya. Salah satunya tantangan arus profesionalisasi pendidikan yang cenderung mengadopsi model sekuler yang menekankan prestasi akademik belaka dan mengesampingkan aspek perkaderan. Tantangan ini menuntut kita untuk berinovasi tanpa kehilangan identitasnya.

Kembali ke Kultur, Menjaga Arah Gerakan

Kultur bukan hanya adat atau kebiasaan, tapi adalah DNA lembaga. Revitalisasi nilai bukan nostalgia, tapi strategi bertahan dalam era krisis identitas.

Rakornas KIKU Hidayatullah 2025 di Timika harus menjadi titik balik kesadaran kolektif seluruh entitas Hidayatullah untuk terus meneguhkan nilai-nilai utama.

Tidak cukup hanya memperkuat infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ulang infrastruktur nilai dan kultural. Jika dua episentrum ini, masjid dan lapangan, selalu hidup penuh gairah, maka semangat dakwah, etos kerja, dan karakter kader akan selalu menyala.

Maka titik inilah, Rakornas Kampus Induk dan Kampus Utama harus dimaknai bukan hanya sebagai ajang koordinasi tahunan, melainkan sebagai forum rekalibrasi ideologis.

Saat nilai-nilai utama ditegaskan kembali, maka arah gerakan akan tetap lurus, kader akan tetap teguh, dan lembaga akan tetap kokoh sebagai basis perkaderan dan alat peraga dakwah.[]

*) Anchal M. Said, penulis santri alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kaltim

Tangis Bahagia di Masjid Raya Al Munawwar, Dua Jiwa Menjemput Hidayah

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Malam Jumat, 18 April 2025, menjadi momen istimewa sebuah peristiwa yang menggugah jiwa di Masjid Raya Al Munawwar, Ternate.

Di antara denting azan dan gema doa, dua sosok muda—seorang perempuan, Maria, berusia 26 tahun dan, Gery, seorang laki-laki berusia 20 tahun—mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Di hadapan ratusan jamaah yang hadir, mereka menapakkan kaki pada jalan baru yang penuh harap dan keikhlasan: jalan Islam.

Momen sakral ini tak terjadi begitu saja. Semuanya bermula dari informasi seorang mualaf kepada Tim Dakwah Hidayatullah Maluku Utara.

Ia mengabarkan niat tulus keponakannya untuk memeluk Islam. Tim Dakwah pun tak menyia-nyiakan waktu.

Mereka segera melakukan konfirmasi, memastikan bahwa keputusan itu benar-benar lahir dari lubuk hati yang dalam—bukan karena tekanan, bukan karena paksaan, melainkan karena panggilan nurani.

Setelah beberapa pertemuan dan proses pembinaan awal, Tim Dakwah Hidayatullah Maluku Utara berkolaborasi dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara.

Mereka menyusun rencana untuk melangsungkan prosesi syahadat secara resmi dan sakral. Dipilihlah Masjid Raya Al Munawwar—ikon spiritual kota Ternate—sebagai tempat peralihan dua jiwa menuju cahaya Islam.

Sebelum syahadat diucapkan, keduanya menjalani mandi besar (al-ghuslu) sebagai simbol penyucian diri. Dalam tradisi Islam, ini adalah langkah spiritual dan fisik untuk menyambut kehidupan baru dengan hati bersih dan niat yang murni.

Usai salat Isya’, dalam suasana yang hening dan khidmat, prosesi syahadat pun dimulai. Imam Masjid Al Munawwar memimpin langsung acara yang disaksikan ratusan jamaah.

Dua saksi hadir secara resmi: Hasbi Yusuf, SE—anggota DPD RI dari Dapil Maluku Utara—dan Ustadz Nurhadi dari Tim Dakwah Hidayatullah. Keduanya menandatangani surat pernyataan masuk Islam sebagai bentuk legalitas spiritual dan administratif.

Ketika dua kalimat syahadat keluar dari lisan mereka, ruangan itu pecah oleh gema takbir. Air mata mengalir, tangan-tangan menengadah, dan doa-doa berhamburan di udara malam.

Suasana haru tak bisa terbendung. Di sinilah letak keindahan Islam: hidayah adalah anugerah, dan siapa pun yang meraihnya adalah tamu istimewa yang disambut dengan cinta oleh seluruh umat.

Gery (20) bersiap menjalani prosedur khitan setelah memeluk agama Islam (Foto: Nurhadi/ Hidayatullah.or.id)

Hasbi Yusuf, yang menyaksikan langsung prosesi tersebut, berkata dengan penuh haru, “Ini adalah nikmat hidayah yang patut kita syukuri. Semoga mereka menjadi muslim yang kokoh dalam iman dan terus belajar untuk mengenal Allah lebih dekat.”

Keterlibatan Tim Dakwah Hidayatullah dan BMH Maluku Utara tidak berhenti sampai di sini. Mereka menunjukkan komitmen kuat untuk membimbing para pencari kebenaran.

Tidak hanya dalam proses masuk Islam, tetapi juga dalam pembinaan lanjutan, termasuk memfasilitasi kebutuhan spiritual dan sosial lainnya.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur ada saudara kita bisa mendapat taufik dan hidayah dari Allah. Insya Allah, kami siap mensupport dan mendampingi dalam pembinaan, termasuk memfasilitasi khitanan. Semoga Allah mudahkan,” ujar Ustadz Nurhadi dengan semangat.

Ia juga menegaskan bahwa momen ini bukan hanya perjalanan spiritual pribadi dua mualaf, tetapi bagian dari jejak dakwah yang terus tumbuh di Maluku Utara. Ini adalah bukti nyata bahwa Islam tetap hidup dan berkembang dengan damai, lembut, dan penuh kasih.

Semoga keduanya istiqamah dalam belajar agama Allah, menjalankan perintah-Nya, dan bertahan dalam keimanan hingga akhir hayat. Doa seluruh umat pun menyertai mereka, agar langkah awal ini menjadi permulaan dari kehidupan yang penuh berkah.*/

Ketika Ilmu Tak Menuntun pada Hidayah karena Keadaan Diri yang ‘Tuli Bisu dan Buta’

0

DALAM perjalanan ruhani, ada satu titik yang sering kali membuat manusia terjebak dalam kegelapan meskipun ia telah melihat cahaya.

Ia tahu jalan yang benar, namun tidak ingin melaluinya. Ia mengenali kebaikan, tapi memalingkan wajah. Fenomena ini terekam jelas dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 18:

صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).”

Mari kita simak dengan seksama Tafsir As-Sa’diy yang menjelaskan ayat ini dengan mendalam:

{صُمٌّ} عَنْ سَمَاعِ الْخَيْرِ، {بُكْمٌ} عَنْ النُّطْقِ بِهِ، {عُمْيٌ} عَنْ رُؤْيَةِ الْحَقِّ

“Mereka (orang-orang yang seperti ini) adalah (tuli) tidak bisa mendengarkan kebaikan, (bisu) tidak bisa berbicara tentang kebaikan, (buta) tidak bisa melihat kebenaran”

{فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ} لِأَنَّهُمْ تَرَكُوا الْحَقَّ بَعْدَ أَنْ عَرَفُوهُ، فَلَا يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ

“{Maka mereka tidak kembali} (ke jalan kebenaran). Karena mereka telah meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya, sehingga mereka tidak dapat kembali kepadanya”

بِخِلَافِ مَنْ تَرَكَ الْحَقَّ عَنْ جَهْلٍ وَضَلَالٍ، فَإِنَّهُ لَا يَعْقِلُ، وَهُوَ أَقْرَبُ رُجُوعًا مِّنْهُمْ

“Berbeda halnya dengan orang yang meninggalkan kebenaran karena bodoh dan sesat, karena orang tersebut tidak berfungsi akalnya dengan baik, maka orang yang seperti itu lebih dekat untuk bisa kembali (kepada kebenaran) dibandingkan mereka (yang mengetahui kebenaran tetapi justru meninggalkannya”

Ayat ini bukan sekadar kritik tajam terhadap kondisi spiritual yang menyimpang, namun juga peringatan halus, bahwa hati bisa saja menjadi mati walaupun pikiran tetap hidup. Ini adalah tragedi ketika ilmu tidak lagi berujung pada hidayah.

Tuli, Bisu, Buta sebagai Simbol Krisis Spiritual

Ayat ini menggambarkan kondisi hati dan jiwa manusia yang telah tertutup dari petunjuk Allah.

Tuli—bukan dalam arti fisik, tetapi maknawi: tidak lagi sanggup mendengar nasihat.

Bisu—bukan karena kehilangan pita suara, melainkan karena lisan yang enggan menyuarakan kebenaran.

Buta—bukan karena gelap di retina, tapi karena hati tak lagi melihat cahaya.

Tuli, bisu, buta yang dimaksud di sini bukan tentang kondisi fisik, tetapi kondisi mental spiritual yang menunjukkan kerasnya kepala, butanya mata hati serta kosongnya jiwa sehingga enggan untuk menerima petunjuk walaupun ia sudah mengetahui kebaikan dan kebenarannya.

Inilah jenis penyakit batin yang paling halus sekaligus paling berbahaya: kesadaran spiritual yang mati karena penolakan yang disengaja.

Ada orang yang tidak tahu dan tersesat—mereka punya harapan besar untuk kembali. Namun orang yang sudah tahu tapi memilih menolak? Ia seperti membuka sendiri gerbang kehancurannya.

Orang seperti ini lebih buruk keadaannya daripada orang yang tersesat karena semata – mata ketidaktahuan.

Karena orang yang sesat karena tidak tahu masih memiliki harapan untuk kembali ke jalan yang benar ketika diberi tahu dan diberi ilmu.

Sedangkan orang yang tahu kebaikan dan kebenaran namun memilih untuk meninggalkannya—itulah bentuk penolakan yang disengaja. Itu tandanya hatinya memang terkunci.

Pelajaran Berharga dari Ayat Ini

Dari ayat ini, kita belajar bahwa:

1. Ilmu tidak selalu menjamin hidayah

Mengetahui tentang kebenaran saja tidak cukup, jika tidak disertai dengan sikap hati yang penuh keikhlasan dan sikap mental yang penuh ketundukan.

2. Hidayah adalah anugerah

Maka kita perlu terus menerus dan tak henti-hentinya memohon agar kiranya Allah SWT tidak memalingkan hati kita setelah diberi petunjuk.

3. Bahaya menolak kebenaran setelah mengetahuinya

Ini bisa membawa kepada kondisi “mati rasa spiritual” — yang tidak tersentuh jiwanya oleh nasihat dan tidak tergerak oleh kebenaran.

4. Jangan putus asa terhadap yang belum tahu

Justru mereka lebih mudah untuk disentuh dan dibimbing, selama mereka masih mau mendengar.

Inilah sebabnya mengapa doa Nabi dan para ulama begitu lembut dan terus diulang-ulang:

اللَّهُمَّ لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi”.

Sebab yang kita takutkan bukanlah ketidaktahuan, tapi kesombongan setelah tahu. Bukan kekeliruan karena keliru mencari, tapi kekeliruan yang disengaja karena enggan menerima.

Maka, semoga Allah Ta’ala menjadikan kita bukan sekadar orang yang tahu, tapi juga orang yang mau. Bukan hanya yang mendengar, tapi juga yang tunduk.*/

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Hidayatullah Jawa Barat Perkokoh Komitmen Dakwah dan Merajut Harmoni

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Silaturrahim Syawal, sebuah tradisi kebersamaan yang sejak awal telah ada dan digelar pendiri Hidayatullah, almarhum KH. Abdullah Said, telah menjadi pilar budaya organisasi yang memperkuat solidaritas dan semangat dakwah.

Demikian ditegaskan Ustadz Dadang Abu Hamzah, Ketua Dewan Murrabi Hidayatullah Jawa Barat, ketika menyampaikan taushiyah dalam acara Silaturrahim Syawal Hidayatullah Jawa Barat bertajuk “Energi Ramadhan Amunisi Berjuang” beberapa waktu lalu di Kota Bandung ditulis Jum’at, 26 Syawal 1446 (25/4/2025).

Menurut Dadang, kegiatan tahunan ini bukan sekadar perjumpaan rutin melainkan momentum sakral bagi kader Hidayatullah untuk saling memaafkan, mempererat tali persaudaraan, dan memperbaharui komitmen berjuang di jalan Allah.

Dadang menegaskan pentingnya silaturrahim sebagai warisan budaya Hidayatullah. Dalam taushiahnya, ia mengutip hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim:

“Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan (kepada fakir miskin), sambungkan tali silaturrahim. Dan shalat malamlah kalian ketika manusia sedang nyenyak tidur. Engkau akan masuk surga dengan salam (selamat)” (HR. Muslim).

Hadits ini, terang dia, menjadi landasan spiritual bahwa silaturrahim bukan hanya aktivitas sosial, tetapi juga ibadah yang mendekatkan pelakunya kepada keberkahan dan surga.

Dadang Abu Hamzah mengisahkan bahwa pada masa awal Hidayatullah, para dai dengan penuh semangat menjalin silaturrahim dengan berbagai kalangan, termasuk pejabat, ulama, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Mereka membawa buletin dan majalah sebagai media dakwah. “Dari situlah mereka mengenal Hidayatullah, dan kemudian mewakafkan tanah, berinfaq, dan bersedekah,” ujarnya.

Silaturrahim, lanjut Dadang, menjadi jembatan yang membuka hati masyarakat untuk mendukung misi dakwah Islam melalui Hidayatullah, menunjukkan bahwa interaksi tatap muka memiliki kekuatan untuk membangun kepercayaan dan solidaritas.

Menurut Dadang, silaturrahim memiliki peran krusial dalam menjaga harmoni tidak saja secara eksternal tetapi juga internal organisasi.

“Karena dengan bertatap muka, berbincang-bincang, hati kita akan nyambung, damai, dan tentram,” kata dai murah senyum ini.

Dalam dinamika kehidupan termasuk dalam interaksi organisasi, sering kali terjadi kesalahpahaman, ketidaknyamanan, atau miskomunikasi. Maka, disinilah silaturrahim menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah, mengurai kekusutan, dan saling memaafkan.

“Maka dengan bersilaturrahim banyak pekerjaan yang sulit bisa diselesaikan, ada yang kusut bisa diuraikan. Kita saling memaafkan. Dan niatnya akan dicatat sebagai pahala, memperpanjang umur, dan menambah rezeki,” katanya.

Energi Ramadhan sebagai Amunisi Dakwah

Sementara itu, Ustadz Drs. Nursyamsa Hadis, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menegaskan bahwa silaturrahim harus diiringi dengan konsistensi dalam menjalankan perintah Nabi SAW, seperti menjaga shalat malam dan solidaritas jamaah.

“Empat hal perintah Nabi SAW yang disampaikan tadi itu, apakah masih dilakukan oleh kader kita? Karena ini berat, butuh komitmen dan konsistensi,” katanya.

Nursyamsa menekankan bahwa konsistensi dalam ibadah, seperti shalat malam, adalah indikator sejati komitmen perjuangan. “Jangan mengaku berjuang kalau shalat malamnya bolong-bolong,” tegasnya.

Ia juga menghubungkan energi Ramadhan dengan kekuatan spiritual yang lahir dari keimanan, ketakwaan, dan solidaritas jamaah.

“Energi Ramadhan adalah kekuatan spiritual yang lahir dari keimanan, ketakwaan, dan solidaritas jamaah,” terangnya.

Ditegaskan dia, dengan menjalani Ramadhan secara penuh kesadaran dan keikhlasan, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pengampunan dosa, tetapi juga energi spiritual untuk terus berjuang di jalan dakwah.

“Ia menjadi amunisi utama untuk menghadapi ujian hidup, mengatasi kelemahan manusiawi, dan meraih keberkahan dunia-akhirat.” katanya, seraya mengutip sabda Nabi SAW:

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari).

Suasana Hangat dan Kebersamaan

Acara Silaturrahim Syawal ini berlangsung penuh hikmat dan hangat, dihadiri oleh pengurus organisasi Hidayatullah tingkat wilayah, daerah, badan usaha, amal usaha, serta aktivis Hidayatullah se-Jawa Barat.

Kebersamaan semakin terasa dengan kehadiran ibu-ibu Mushida yang menyajikan hidangan seperti bubur ayam, kue-kue, minuman segar, dan bakso.

Beberapa Dewan Pengurus Daerah (DPD) di Jabar bahkan membawa makanan khas daerahnya, menambah kekayaan cita rasa dan memperkuat nuansa kebersamaan, semangat solidaritas, dan keakraban yang menjadi inti dari silaturrahim.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Allah Ta’ala Tidak Pernah Menyelisihi Janji-Nya

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah, ada lima diantaranya yang mendapatkan gelar istimewa, salah satunya adalah Nabiullah Nuh Alaihissalam. Gelar yang kami maksudkan, adalah Ulul Azmi.

Gelar Ulul Azmi yang disematkan, tentu saja berbasis pada ujian yang tidak ringan dan dalam rentang waktu yang sangat panjang, namun berkat kesabaran dan keteguhan hati yang di atas standar rata-rata, Nabi Nuh mampu melaluinya.

Penugasan selama 950 tahun (QS. 29:14), dakwah dilakukan nyaris tidak mengenal waktu, yang dalam bahasa al-Qur’an disebutkan “lailan wa naharan (siang dan malam)”, dengan respon umat yang luar biasa parahnya (QS. 71: 5 – 7), tentu hanya bisa dilakoni oleh sosok yang benar-benar tangguh.

Maka menjadi hal yang sangat mengejutkan Nabi Nuh, saat Allah memberi teguran keras kepadanya, justru ketika di puncak masa penugasannya, sebagaimana yang tercantum pada Surah 11 (Hud) ayat 46.

Ada dua poin yg menjadi titik tekan dari teguran Allah pada ayat tersebut :

Pertama: فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِ عِلۡمٌۖ (jangan mempertanyakan ketetapan Allah yang kamu tidak tahu hakikatnya)

Kedua: إِنِّیۤ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡجَـٰهِلِینَ (Saya ingatkan kepadamu, jangan termasuk dalam barisan orang-orang yang bodoh)

Kerasnya teguran Allah ini, membuat Nabi Nuh ketakutan luar biasa, sehingga beliau segera memohon ampun dan mengharap rahmat dari Allah, agar beliau tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Jika Nabi Nuh mendapatkan teguran keras seperti itu, maka bisa dibayangkan seperti apa kemurkaan Allah kepada hamba-Nya, jika saat ini ada yang berani melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan Nabi Nuh ketika itu.

Kekhilafan yang dilakukan Nabi Nuh yang menjadi pemicu teguran, adalah ketika terkesan mempertanyakan kebenaran janji Allah, yang seolah Allah lupa atau bahkan sengaja tidak menepatinya, dan puncaknya saat Nabi Nuh berharap dispensasi khusus sebagai wujud kebijaksanaan Allah (QS. Hud: 45).

Allah mengabadikan kisah nabi Nuh ini, tentu saja untuk menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya, agar jangan pernah mempertanyakan kebenaran janji-Nya, sebab Dia adalah Dzat yang tidak pernah lupa, apa lagi sengaja melalaikan janji-Nya.

Kisah tentang ditegurnya nabi Nuh, sangat relevan untuk kita angkat saat ini, khususnya terkait bulan Ramadhan yang sudah kita lalui hampir sebulan yang lalu.

Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah kita perbuat, semua akan mendapatkan ganjaran sesuai janji-Nya, selama kita memang layak untuk memperolehnya.

Jika gambaran idealitas orang bertakwa belum kita saksikan dan rasakan dalam kehidupan keseharian, maka dapat dipastikan, ada yang salah dari penyikapan kita terhadap Ramadhan kemarin.

Segera evaluasi diri dan perbanyak istighfar, sebab menjadi pemandangan aneh yang sangat mengherankan, karena kelewat percaya diri turut merayakan idulfitri dengan aneka bentuk ekspresi kegembiaraan, saat seharusnya kita bersedih dengan penyesalan yang sangat.

Tanpa bermaksud menuding siapa-siapa, apa lagi sampai memvonis orang perorang, sebab takwa adalah jaminan kepastian, bagi siapa saja yang menyikapi bulan Ramadhan sebagaimana seharusnya.

Dan, inilah yang membuat kita miris, karena adanya pemandangan yang sangat kontras, antara idealitas takwa dengan realitas yang kita saksikan, di mana terbentang jarak yang sangat jauh.

Majelis sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Apa yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an dan juga yang dijelaskan oleh Rasulullah lewat berbagai sabdanya, terkait karakteristik orang-orang bertakwa, yang merupakan hasil konkret dari ibadah di bulan Ramadhan, sungguh sangatlah istimewa.

Bukanlah hal yang berlebih-lebihan, apa lagi sampai mengada-ada, jika dikatakan, sekian banyak masalah yang dihadapi dalam kehidupan dunia, baik yang sifatnya individu maupun persoalan dalam berbangsa dan bernegara, sejatinya akan teratasi dengan sendirinya, jika saja sebuah negeri dihuni oleh kumpulan orang-orang yang bertakwa.

Khusus dalam konteks Indonesia, negeri yang nyata-nyata memiliki sekian banyak kekayaan sumber daya alam, secara logika, seharusnya cerita kemiskinan dan kesejahteraan, adalah hal yang sudah lama teratasi.

Tidak usah kita berbicara soal takwa dalam segala dimensinya, baru sebatas ketakutan mereka memgambil sesuatu yang bukan haknya, dalam artian semua kekayaan negeri ini terdistribusi sebagaimana seharusnya, di mana prinsip keadilan menjadi perhatian utama, niscaya terbayang betapa indahnya kehidupan di negeri ini.

Hal di atas jauh-jauh hari telah dinyatakan oleh Allah dalam firmanNya, sebagaimana yang termaktub pada QS. 7 ayat 96

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan. (Surat Al-A’raf: 96)

Apa yang dijanjikan oleh Allah, sungguh telah terbukti dan dirasakan langsung oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, dan kita bisa menelusiri lewat kisah-kisah yang diabadikan dalam catatan sejarah.

Majelis sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita sama berharap, semoga saja termasuk dalam barisan orang-orang yang layak mendapatkan janji-janji Allah, baik di dunia dan lebih utama di hari akhirat.

Jika sekian banyak janji-Nya belum kita nikmati, semoga kiranya kita masih diberi waktu dan kesempatan, untuk mengevaluasi diri dan terus melakukan perbaikan, agar kita terhindar dalam barisan orang-orang yang merugi apa lagi celaka.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Kabid Dakwah Yanmat DPP Hidayatullah Sharing Pengantar Manajamen di Nabire

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Semua gagasan, seindah apapun, akan tetap utopis jika tak diiringi dengan kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang solid.

Demikian salah satu benang merah dari materi yang disampaikan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Nursyamsa Hadis dalam Sharing Session bertajuk “Manajemen dan Leadership Jembatan Ide Menjadi Realitas” pada Selasa, 23 Syawal 1446 (22/4/2025).

Kehadiran Nursyamsa sekaligus pendamping wilayah, memperkuat dimensi intelektual dan strategis acara Forum Sinergi dan Silaturrahim Syawal Hidayatullah Papua Tengah yang berlangsung di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire tersebut.

Dalam dunia yang terus berubah, jelas Nursyamsa, keberhasilan suatu organisasi tidak hanya bergantung pada visi besar, tetapi juga pada kemampuan menerjemahkan visi itu menjadi tindakan nyata.

“Di sinilah manajemen dan leadership menjadi dua pilar penting, jembatan dari ide menjadi realitas,” katanya.

Secara etimologi, manajemen berasal dari kata “ménagement” dalam bahasa Prancis yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Akar katanya juga bersumber dari bahasa Italia, maneggiare, yang berarti mengendalikan.

Maka, sejak awal, terang Nursyamsa, manajemen sudah dimaknai sebagai kemampuan manusia mengatur arah geraknya menuju tujuan tertentu.

Beberapa pemikir memperkaya pengertian ini. Eiji Ogawa menyebut manajemen sebagai perencanaan, implementasi, dan pengendalian kegiatan dalam organisasi untuk mencapai sasaran.

Sementara Prajudi Atmosudirdjo menekankan pentingnya sumber daya seperti orang, uang, dan alat.

Sementara Luther Gulick melihat manajemen sebagai ilmu sistematis yang menjelaskan bagaimana dan mengapa manusia bekerja sama menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

“Empat fungsi utama manajemen—planning, organizing, actuating, dan controlling—menjadi tulang punggung setiap gerak organisasi,” imbuhnya.

Nursyamsa kemudian merinci. Perencanaan (planning) menjadi tahap awal dari semua proses, yakni bagaimana menyusun strategi dan merancang peta jalan kegiatan.

“Tanpa rencana yang matang, organisasi seperti kapal tanpa arah,” katanya.

Pengorganisasian (organizing) berperan dalam membagi tugas sesuai kemampuan individu. Ini memastikan bahwa potensi manusia dimaksimalkan secara efisien, peran terdefinisi, dan tujuan bersama terarah.

Beriktunya, pengarahan (actuating) adalah seni memberi motivasi, arahan, dan konsultasi agar semua bagian bergerak selaras.

Hal ini kata dia adalah momen krusial di mana pemimpin membentuk semangat kolektif dan menghidupkan rencana menjadi tindakan.

Selanjutnya, jelas dia, adalah evaluasi (controlling) hadir untuk menilai kemajuan, meninjau strategi, dan melakukan perbaikan bila perlu.

Controlling ini bukan semata bentuk pengawasan, melainkan momentum refleksi dan pembelajaran,” ujarnya.

Lebih dari sekadar teknis pengelolaan, jelas Nursyamsa, manajemen juga menuntut kecermatan menilai kekuatan dan kelemahan organisasi, mengantisipasi ancaman, dan merancang inovasi sebagai terobosan menuju efektivitas.

Dalam kerangka ini, leadership atau kepemimpinan mengambil posisi yang tak kalah vital.

Menurut Nursyamsa, leadership adalah roh dari manajemen; jika manajemen adalah tubuh organisasi, maka kepemimpinan adalah jiwanya.

Ia pun menukil sejumlah pakar mengenai leadership, diantaranya sebagai kemampuan mengajak orang lain mencapai tujuan bersama.

Ahli lainnya melihatnya sebagai aktivitas para pengambil keputusan yang menekankan esensi pengaruh dan relasi antarmanusia dalam mencapai sinergi.

Nilai-nilai ini tercermin dalam prinsip-prinsip kepemimpinan yang lahir dari tradisi Islami, seperti sistematika wahyu, semangat Ahlussunnah wal Jama’ah, nilai-nilai jihad konstruktif dalam Al Haraqah Al Jihadiyah Al Islamiyah, serta prinsip wasathiyah (moderat) yang membawa keseimbangan dalam gerak organisasi.

Nursyamsa menambahkan, organisasi Hidayatullah, mengangkat visi besar melahirkan kader berkualitas, membangun komunitas Islami, serta mendorong sinergi dalam gerakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi dijalankan secara profetik dan profesional—dua kata kunci yang saling mengokohkan.

Dalam konteks kebangsaan, terang Nursyamsa, Hidayatullah mengajak seluruh elemen umat dan bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang unggul dan bermartabat melalui struktur organisasi dan fungsi manajemen yang rapi dan terukur.*/

Refleksi Visi Kedaulatan Pangan KH. Dr. Abdul Mannan Menuju Indonesia Emas 2045

0
Dr H Abdul Mannan, MM / dok

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) bekerja sama dengan Nasional.news menggelar talkshow bertajuk “Era Peradaban Baru: Visi Indonesia Emas 2045” di kanal Nasntv, Ahad, 21 Syawal 1446 (20/4/2025).

Acara ini tidak hanya menjadi wadah refleksi pemikiran KH. Dr. Abdul Mannan, tetapi juga peringatan empat tahun wafatnya tokoh intelektual, pendakwah, dan pendidik ini.

Menghadirkan narasumber Mazlis B. Mustafa, murid almarhum, dan Imam Nawawi, Direktur Prospect, bincang ini menggali warisan pemikiran Abdul Mannan yang relevan bagi visi Indonesia Emas 2045.

KH. Dr. Abdul Mannan, atau dikenal juga sebagai Abdul Mannan El Kindy, adalah sosok yang mencerminkan perpaduan langka antara intelektual, aktivis dakwah, guru, pendidik, dan penulis.

Karyanya yang monumental, Era Peradaban Baru, menjadi salah satu bukti kepeduliannya terhadap arah peradaban bangsa.

Abdul Mannan wafat pada Selasa, 8 Ramadhan 1442/ 20 April 2021, di RS Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat. Sebagai Ketua Umum DPP Hidayatullah dua periode (2005–2015), ia dikenal tegas, inspiratif, dan mampu memotivasi jamaah serta kadernya.

Pria asal Gresik, Jawa Timur, ini juga tercatat sebagai Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dan pendiri sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok.

Visi Kedaulatan Pangan

Dalam talkshow tersebut, Mazlis B. Mustafa menyoroti gagasan kedaulatan pangan yang menjadi salah satu pilar pemikiran Abdul Mannan.

Ia mengenang bagaimana almarhum mengirimnya bersama belasan mahasiswa STIE Hidayatullah untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Paremono, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah.

Di sana, mereka menjalani pelatihan integrated farming selama tiga bulan, mencakup pertanian, perkebunan, dan peternakan. Menurut Mazlis, gagasan ini mencerminkan visi Abdul Mannan yang jauh melampaui pendidikan formal.

“Istilah beliau waktu itu, ini bukan hanya ketahanan pangan tapi kedaulatan pangan. Jadi, kedaulatan pangan di atas dari ketahanan pangan, di atas dari swasembada pangan, karena ini sudah berbicara tentang harga diri dan masa depan,” ungkap Mazlis.

Ia juga mengingatkan pesan Dr Abdul Mannan tentang ketergantungan Indonesia pada impor pangan, seperti kedelai yang mencapai 70 persen dan daging hingga 30 persen.

“Bayangkan saja kedelai. Kita hari-hari makan tempe dan itu tidak bisa ditinggalkan dalam menu-menu kita di rumah,” tambahnya.

Dr Abdul Mannan memandang kedaulatan pangan sebagai benteng pertahanan bangsa di tengah potensi krisis global. Ia khawatir, jika terjadi gangguan besar di sektor pertanian dunia, ketergantungan pada impor akan melemahkan Indonesia.

Oleh karena itu, ia mendorong santrinya untuk menciptakan ekosistem pertanian mandiri. “Sehingga, santri-santri beliau kirim untuk belajar kedaulatan pangan tentang bagaimana menciptakan ekosistem pertanian yang bisa memenuhi kebutuhan pangan bangsa kita dan memberi dampak kepada negara-negara lain,” jelas Mazlis.

Lebih jauh, Abdul Mannan memandang peradaban Islam sebagai manifestasi iman yang terwujud dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pertanian. Ide integrated farming yang ia gagas mengintegrasikan pertanian, perikanan, dan peternakan untuk menciptakan sinergi positif.

Namun, di balik visi besar ini, Dr Abdul Mannan selalu menekankan prinsip ibda’ binafsik—perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

“Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri. Perubahan besar hanya akan menjadi omong kosong kalau tidak dimulai dan dimulainya adalah dari diri kita sendiri, lalu keluarga, sahabat, komunitas, masyarakat, dan kemudian dampaknya dapat dirasakan dan berpengaruh,” tegas Mazlis.

Prinsip ini, menurutnya, berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pondasi kokoh. “Konstruksi yang dibangun tanpa pondasi yang kuat akan rapuh. Ibda’ binafsik adalah pondasi. Pondasi ini harus kuat, dan pondasi itu adalah nilai-nilai Quran. Kalau nilai-nilai Quran ditinggal, tujuan Islam tidak akan lahir kembali,” pungkasnya.

Era Peradaban Baru dan Dedikasi Pendidikan

Sementara itu, Imam Nawawi memandang ibda’ binafsik dalam konteks pendirian STIE Hidayatullah sebagai wujud nyata dari visi Dr Abdul Mannan.

Dalam muqaddimah buku Era Peradaban Baru, Dr Abdul Mannan dengan penuh haru menceritakan bagaimana STIE Hidayatullah, meski dengan segala keterbatasan, mampu mengirim dai sarjana ke berbagai daerah di Indonesia untuk melanjutkan misi peradaban baru.

“Yang disebut era peradaban baru adalah era yaitu ketika Rasulullah SAW menerima Wahyu, yang ketika itu turun tidak ada lagi peradaban mayor yang hidup. Itulah kenapa peradaban Islam oleh beliau dimaknai sebagai era peradaban baru,” jelas Imam.

Menurut Imam, Dr Abdul Mannan memiliki idealisme untuk membentuk manusia yang berkualitas, sebagaimana tercermin dalam ungkapannya, “asal orang, masuk dia”.

Prinsip ini menunjukkan keterbukaan Dr Abdul Mannan dalam mendidik tanpa memandang latar belakang, dengan fokus pada pembentukan karakter dan dedikasi.

Jejak rekam Dr Abdul Mannan sebagai pendidik menunjukkan konsistensi dan disiplin luar biasa. “Sikap ini kemudian tercermin dalam diri beliau yang sangat disiplin dan tekun sebagai seorang dosen, pendidik, dan guru, bahkan sampai ia meninggal dunia,” ungkap Imam.

Ia menegaskan bahwa dedikasi Dr Abdul Mannan layak menjadi teladan bagi gerakan Hidayatullah ke depan.

“Ini sesuatu yang sebenarnya sangat layak kita sorot menjadi headline di dalam gerakan Hidayatullah ke depan. Apakah masih ada seorang pendidik, seorang dosen, yang punya cita-cita besar yang kemudian itu terimplementasi dalam satu bentuk aplikasi konsistensi yang sedemikian tegar dan kokohnya,” tambahnya.

Keteguhan dan Keberanian Seorang Pejuang

Di sisi lain, Dr Abdul Mannan dikenal sebagai sosok tegas dan blak-blakan, terutama dalam hal perkaderan. Imam Nawawi menggambarkannya sebagai pejuang yang tidak menjanjikan kenyamanan, melainkan perjuangan penuh tantangan.

“Seperti medan perjuangan, tidak ada seorang pejuang yang menjanjikan kenyamanan. Seorang pejuang justru sejak awal menyampaikan bahwa ini perjalanan yang pahit, tapi dengan pahit ini, Anda selamat dari penyakit akibat terlalu banyak makan yang manis atau minum yang manis. Saya kira itu yang bisa menjadi pelajaran terpenting dari almarhum Doktor Abdul Mannan,” imbuh Imam.

Dr Abdul Mannan juga menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa. Menurut Imam, ia adalah sosok yang telah menyelesaikan segala kekhawatiran hidup di usia muda, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan dan dedikasi.

Warisan pemikiran Dr Abdul Mannan, dari kedaulatan pangan hingga pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an, tegas Imam, menjadi pijakan penting bagi visi Indonesia Emas 2045.*/

Silaturrahim Syawal Hidayatullah Papua Tengah Momentum Mengokohkan Visi dan Amal

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Tidak ada yang lebih kuat dari persaudaraan yang dirawat dengan visi bersama dan semangat kolaborasi. Kalimat ini terasa hidup dalam denyut acara Forum Sinergi dan Silaturrahim Syawal Hidayatullah Papua Tengah yang berlangsung pada Selasa, 23 Syawal 1446 (22/4/2025).

Kegiatan ini mempertemukan para penggerak dakwah dan pendidikan Islam dari berbagai elemen di Papua Tengah, termasuk DPW Hidayatullah Papua Tengah, perwakilan DPD, Pemuda dan Muslimat Hidayatullah, LAZNAS BMH, serta pengurus Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire sebagai tuan rumah.

Muhammad Haeranzi, Ketua Hidayatullah Nabire sekaligus panitia acara, membuka ruang dengan pesan pentingnya meneguhkan spirit ibadah dan ukhuwah dalam membangun peradaban.

Di tengah tantangan besar yang dihadapi masyarakat dan umat, terang dia, silaturrahim semacam ini menjadi pertemuan yang menggabungkan energi spiritual dan sosial sekaligus dalam memperkuat simpul-simpul kerja sama dan pengabdian.

“Tujuan acara ini adalah silaturrahim Syawal sekaligus menguatkan kolaborasi dan sinergi menuntaskan program-program organisasi serta optimalisasi pelaksanaan kegiatan amal usaha pada akhir kepengurusan,” katanya.

Kehadiran Ustaz Drs. Nursyamsa Hadis, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah sekaligus pendamping wilayah, memperkuat dimensi intelektual dan strategis acara tersebut.

Dalam sambutannya, Nursyamsa menyampaikan poin-poin penting yang menjadi suluh bagi para aktivis dakwah di Papua Tengah.

“Manajemen dan leadership adalah jembatan membumikan ide menjadi kenyataan,” tegasnya. Menurutnya, teori dan praktik manajemen modern penting dikuatkan yang merupakan prinsip fundamen dalam Islam.

Dia menjelaskan, sejak zaman Rasulullah SAW, visi besar Islam hanya bisa ditegakkan dengan fondasi kepemimpinan yang kokoh dan pengelolaan yang tertata. Maka, peningkatan kompetensi pengurus dalam hal manajerial dan kepemimpinan bukanlah pilihan, tetapi keniscayaan.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kesuksesan membumikan visi, misi, dan program hanya akan terwujud jika tim memiliki kesolidan. Dalam konteks ini, acara Syawal menurutnya bukan hanya ajang temu kangen, tapi ruang rekonsiliasi komunikasi, pembaruan semangat, dan perkuatan niat kolektif.

“Itulah pentingnya silaturrahim Syawal ini, sehingga hambatan-hambatan komunikasi bisa teretas dengan lempang,”* jelasnya, seraya menegaskan silaturrahim adalah perangkat lunak sosial yang memperlancar perangkat keras organisasi.

Di tengah pesan strategis tersebut, Ustaz Nursyamsa juga menyelipkan pesan agar yang belum puasa Syawal, sebaiknya memanfaatkan waktu yang masih tersisa.

“Bagi yang belum menyelesaikan puasa Syawalnya, segera mulai berpuasa karena masih ada waktu enam hari Syawal,” katanya.

Baginya, puasa Syawal bukan sekadar ritual, tetapi bentuk nyata dari kecintaan kepada Nabi dan kepatuhan terhadap sunnahnya.

“Kesungguhan berpuasa Syawal adalah bukti kecintaan dan ketaatan kepada Nabi serta keyakinan akan dahsyatnya puasa 6 hari Syawal yang imbalannya setara dengan puasa setahun,” tukasnya.

Dengan hikmah puasa Syawal, menghadirkan keseimbangan yang khas dalam gerakan Islam yaitu antara kerja sosial yang nyata dan ibadah yang personal.

Dalam dunia yang kian menuntut produktivitas, spiritualitas tidak boleh menjadi hiasan, melainkan fondasi yang mengakar dan menyuburkan setiap amal, demikian ia memungkasi.*/

MTs Daarun Najah Hidayatullah Savana Jaya Mulai Gelar Ujian Madrasah Tahun 2025

PULAU BURU (Hidayatullah.or.id) — Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sebanyak 15 siswa kelas akhir MTs Daarun Najah, yang berada di bawah naungan Pesantren Hidayatullah Buru, memulai Ujian Madrasah Tahun Pelajaran 2024/2025 dengan penuh semangat dan percaya diri, di Kecamatan Waeapo, Senin, 22 Syawal 1446 (21/04/2025).

Pembukaan ujian digelar secara sederhana namun khidmat. Hadir langsung dalam momen penting ini Kepala MTs Daarun Najah, yang memberikan pengarahan dan membuka secara resmi pelaksanaan ujian.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Savana Jaya, Ustaz Hidayat, turut memberikan motivasi kepada para peserta didik.

Ia menyampaikan bahwa ujian ini adalah bagian dari proses panjang pendidikan yang tak hanya menekankan pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak santri.

“Jaga kejujuran, jaga semangat. Ini bukan sekadar soal nilai, tapi latihan kejujuran dan tanggung jawab. InsyaAllah semua akan diberikan kemudahan oleh Allah SWT,” pesan Ustaz Hidayat penuh semangat, seperti dinukil laman Kemenag Maluku.

Dengan satu ruang ujian yang tertata rapi dan suasana yang tenang, para peserta terlihat siap menghadapi soal demi soal yang akan mereka kerjakan selama beberapa hari ke depan.

Semangat para siswa MTs Daarun Najah di Savana Jaya ini menjadi cerminan bahwa meskipun berada di daerah yang jauh dari pusat kota, semangat menuntut ilmu tetap berkobar tanpa batas.

“Selamat menempuh ujian, santri-santri hebat! Semoga sukses dan membawa berkah,” pungkasnya.