Beranda blog Halaman 92

Visitasi dan Pelatihan Grand MBA Tingkatkan Kualitas Dakwah di Kalimantan

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Gerakan Dakwah Nasional Membaca dan Belajar Al-Qur’an (GranD MBA) bersama Badan Koordinasi Pengembangan Tilawah al-Qur’an (BKPTQ) Pusat melaksanakan rangkaian visitasi dan pelatihan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada pertengahan hingga akhir Agustus 2025.

Program ini juga melibatkan Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Drs. Shohibul Anwar, serta didukung oleh Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai).

Rangkaian kegiatan terbagi dalam tiga agenda utama. Pertama, visitasi dan pendampingan Majelis Quran Hidayatullah (MQH) dan Rumah Quran Hidayatullah (RQH) percontohan di Kalimantan Timur pada 17–20 Agustus 2025.

Kegiatan ini mencakup peninjauan enam titik, antara lain RQH di Bontang, Samarinda, Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, serta MQH di Baru Kajang.

Kedua, visitasi dan pendampingan Sekolah Dai (SDH) DPW Hidayatullah Kalimantan Timur pada 19 Agustus 2025 yang berpusat di Samarinda.

Ketiga, pelatihan dai dan guru mengaji DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan yang berlangsung pada 22–24 Agustus 2025 dengan peserta daerah GranD MBA se-Kalsel.

Koordinator GranD MBA Pusat, Ust. H. Muhdi Muhammad, menegaskan bahwa rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat basis pendidikan Al-Qur’an sekaligus melahirkan dai dan guru mengaji yang kompeten.

“Program ini tidak hanya berupa asesmen, tetapi juga standardisasi dan peningkatan kualitas. MQH dan RQH percontohan di Kalimantan Timur kami dorong agar mampu menjadi model pembelajaran Al-Qur’an yang berkelanjutan dan berdaya guna,” ungkapnya.

Selain fokus pada MQH dan RQH, tim GranD MBA juga memberikan perhatian pada Sekolah Dai Hidayatullah di Samarinda. Asesmen dan standardisasi SDH dilakukan untuk memastikan kurikulum, metode pengajaran, dan kualitas sumber daya manusia berjalan sesuai standar nasional Hidayatullah.

“Kami ingin memastikan SDH Kalimantan Timur dapat menjadi pusat pengkaderan dai yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi dan kepemimpinan,” tambah Ust. Muhdi.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, kegiatan difokuskan pada sosialisasi serta pelatihan program GranD MBA. Para peserta yang berasal dari berbagai daerah mendapatkan pembekalan intensif mengenai strategi pembelajaran Al-Qur’an, teknik mengajar, serta pembinaan kader dakwah.

Ust. Muhdi menilai agenda ini krusial karena kualitas muallim dan muallimat menjadi fondasi utama keberhasilan dakwah di masyarakat.

“Peningkatan kualitas dai dan guru mengaji adalah investasi jangka panjang. Dari sinilah akan lahir generasi Qur’ani yang siap memimpin umat menuju peradaban mulia,” tegasnya.

Muhdi menyebutkan, kegiatan GranD MBA di Kalimantan ini memiliki enam tujuan utama, yaitu asesmen dan standardisasi MQH/RQH percontohan, asesmen dan standardisasi Sekolah Dai, sosialisasi program di Kalimantan Selatan, peningkatan kualitas MQH/RQH, peningkatan kualitas SDH, serta peningkatan kapasitas para muallim dan muallimat.

“Kegiatan juga sebagai upaya berkelanjutan dan komitmen Hidayatullah dalam menguatkan pendidikan berbasis Al-Qur’an di daerah,” katanya.

Kehadiran tim pusat bersama jaringan dai daerah diharapkan mempercepat proses standarisasi mutu sekaligus melahirkan pusat-pusat pembelajaran yang menjadi teladan.

Dalam rangkaian kegiatan ini hadir pengurus Badan Koordinasi Pengembangan Tilawah al-Qur’an dan turut dibersamai Ustadz Charles Joesoef selaku Ketua Sekolah Dai Kalimantan Timur.

“Tentu harapannya adalah agar visi mencetak generasi Qur’ani dan dai profesional dapat diwujudkan secara bertahap dan berkesinambungan,” tandas Muhdi

Hidayatullah Gaungkan Kampanye HijauRun untuk Hidup Sehat dam Pelestarian Bumi

0
Foto: Yacong B. Halike/ Hidayatullah.or.id)

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Kegiatan bertajuk “Berlari dan Hijaukan Bumi” diawali dengan acara flag off yang menandai peluncuran resmi kampanye nasional gerakan hidup sehat dan ramah lingkungan HijauRun yang diinisiasi oleh Hidayatullah di Stadion Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad, 30 Safar 1447 (24/8/2025).

Pelepasan bendera ini digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia dalam bentuk virtual run dan dikaitkan dengan penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan berlangsung Oktober mendatang.

Ketua Panitia Munas VI, Marwan Mujahidin, menegaskan bahwa HijauRun merupakan bentuk dakwah yang meneguhkan peran Hidayatullah di bidang pendidikan dan lingkungan.

“Sebagai gerakan dakwah dan pendidikan yang telah menyebar ke seluruh Nusantara, Hidayatullah terus berikhtiar memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan umat. Melalui HijauRun, dakwah lingkungan diintegrasikan dengan gaya hidup sehat dan kreatif, sekaligus menjangkau generasi muda,” ujar Marwan.

Ia menambahkan, HijauRun tidak hanya menjadi kegiatan olahraga, melainkan juga sarana edukasi dan partisipasi publik. Dua isu krusial yang diangkat adalah kesadaran akan kesehatan tubuh dan kelestarian alam.

Menurut catatan iklim global, Mei 2025 mencatat suhu rata-rata dunia naik 1,4°C di atas level pra-industri, menjadikannya bulan terpanas kedua dalam sejarah. Di Indonesia, tren kenaikan suhu juga terus berlanjut.

“Dengan semangat berlari, peserta turut menanam kebaikan bagi bumi. Apalagi di tengah ancaman pemanasan global yang nyata, kegiatan seperti ini harus menjadi tradisi baru bangsa,” imbuh Marwan.

Foto: Yacong B. Halike/ Hidayatullah.or.id

Selain isu iklim, permasalahan lingkungan seperti deforestasi, pencemaran air, polusi udara, dan problem sampah juga menjadi latar penting dari kampanye HijauRun.

Marwan menekankan, Hidayatullah berkomitmen mengedepankan solusi berbasis komunitas dengan pendekatan Islam rahmatan lil alamin. Prinsip khalifah fil ardh dijadikan kerangka moral dalam menjaga keberlanjutan alam.

“Upaya kolektif ini akan memperkuat kohesi sosial sekaligus spiritualitas umat. Hanya dengan kolaborasi lintas sektor dan komitmen jangka panjang, Indonesia bisa menjadi lebih hijau dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” tandasnya.

Acara di Stadion Pakansari juga menggandeng Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor serta Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang melakukan penanaman pohon produktif di area sekitar stadion.

Ketua Panitia Flag Off, Ahmad Maghfur Gunawan, menambahkan bahwa kegiatan ini juga dirancang sebagai bentuk partisipasi publik dalam menyemarakkan Munas VI Hidayatullah.

“HijauRun menjadi ruang kolaborasi untuk membangun kesadaran kolektif, baik melalui olahraga maupun penghijauan. Ini adalah momentum menghubungkan dakwah dengan aktivitas sosial yang berdampak langsung,” kata Ahmad.

Ahmad menambahkan, HijauRun menjadi tonggak awal kampanye besar yang memadukan dakwah, kesehatan, dan ekologi.

“Dari Bogor, pesan tersebut digulirkan ke seluruh Nusantara menuju Indonesia Emas 2045,” tukasnya menandaskan.

Pelatihan Amil Leader Batch3 2025 Ditutup, Peserta Didorong Siap Berubah dari Hal Kecil

0
Foto: Yoga Agus Yulianto/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Acara penutupan Pelatihan Kepemimpinan Amil Leader Baitul Maal Hidayatullah (BMH) 2025 Batch3 berlangsung khidmat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Jumat, 28 Safar 1447 (22/8/2025). Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.

Pelatihan yang digelar selama lima hari ini merupakan program strategis untuk membentuk karakter kepemimpinan para amil zakat. Tujuannya agar para peserta tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga berkarakter kuat dalam membawa visi kelembagaan zakat berbasis dakwah.

Dalam sambutannya, Abdul Ghofar menyampaikan tiga pesan pokok sebagai bekal penting bagi peserta usai menjalani pelatihan intensif. Ia menegaskan bahwa perubahan diri merupakan langkah awal yang harus segera diwujudkan.

“Siap berubah, itu kuncinya. Jangan menunggu hal besar, mulailah dari yang kecil. Setelah lima hari belajar, saatnya meningkatkan diri untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditandai dengan langkah spektakuler, melainkan dapat dimulai dari pembiasaan sehari-hari. Menurutnya, langkah sederhana tetapi konsisten akan membawa dampak besar dalam perjalanan pribadi maupun organisasi.

Abdul Ghofarjuga mengingatkan agar setiap peserta mampu menyingkirkan berbagai alasan yang sering menghambat pencapaian tujuan.

“Jangan banyak alasan, karena semakin banyak alasan, semakin jauh kita dari kesuksesan dalam mewujudkan tujuan,” tegasnya seraya menekankan pentingnya setiap muslim untuk bersikap disiplin, tangguh, dan fokus dalam menjalankan amanah.

Selain itu, ia menambahkan bahwa hasil pelatihan tidak boleh berhenti hanya sebagai pengetahuan teoritis, tetapi harus diimplementasikan langsung dalam kehidupan nyata.

“Tunjukkan perubahan kepada keluarga. Apa yang kita dapatkan selama lima hari ini, terapkanlah terutama dalam rumah tangga. Karena keluarga adalah cermin pertama dari keberhasilan kita,” jelasnya.

Dengan menekankan peran keluarga, Abdul Ghofar ingin menegaskan bahwa kepemimpinan amil tidak semata-mata ditunjukkan di ranah publik, tetapi dimulai dari lingkaran paling kecil. Hal ini sekaligus menjadi dasar moral dan sosial bagi para peserta untuk menguatkan integritas sebelum berkiprah lebih luas di masyarakat.

Foto: Yoga Agus Yulianto/ Hidayatullah.or.id

Suasana penutupan pelatihan berlangsung penuh semangat, diwarnai apresiasi peserta atas materi yang telah disampaikan selama proses pelatihan. Para amil yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak perubahan, baik di lingkungan keluarga, lembaga, maupun masyarakat luas.

Direktur BMH Pusat, Supendi, yang turut hadir dalam penutupan ini menambahkan bahwa pelatihan Kepemimpinan Amil Leader BMH 2025 Batch 3 menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kesiapan berubah, keberanian menghindari alasan, serta kemampuan menghadirkan dampak positif mulai dari lingkungan terdekat.

“Dengan bekal tersebut, para amil diharapkan semakin siap menjadi agen kebaikan yang membawa misi dakwah melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara profesional dan berintegritas,” tandasnya.

Ketika Sesepuh Hidayatullah Turun Gunung dengan Seragam Pramuka

0
Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Ada pemandangan berbeda pada pembukaan Perkemahan Nasional Pramuka Islam III Hidayatullah (The 3rd National Islamic Scout Camp of Hidayatullah/ISCH III) yang berlangsung Kamis, 27 Shafar 1447 Hijriah atau 21 Agustus 2025, di Lapangan Aglasra, Kampus Induk Hidayatullah, Gunung Tembak Teritip, Balikpapan.

Acara ini dihadiri pejabat nasional dan daerah, antara lain Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Ario Bimo Nandito Ariotedjo, Gubernur Kalimantan Timur, Dr. Rudy Mas’ud, M.E, serta Ketua Umum DPP Hidayatullah Hidayatullah, Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A, dan KH. Abdurrahman Muhammad. Turut hadir pula sejumlah tokoh senior serta ratusan tamu undangan.

Namun perhatian peserta justru banyak tertuju pada para pembina dan pengawas Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan.

Para kader awal Hidayatullah di Gunung Tembak itu kompak mengenakan seragam Pramuka Indonesia—Praja Muda Karana yang dimaknai sebagai “Jiwa Muda yang Suka Berkarya.”

Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH

Dalam potret yang beredar, tampak Ustadz Abdul Qadir Jaelani, Ustadz Amin Mahmud, Ustadz Mannandring Abdul Gani, Ustadz Sarbini Nasir, dan Ustadz Husain Kallado tersenyum lebar ketika diminta berpose di bawah tenda.

Kehadiran mereka yang gagah berbalut pakaian khas Pramuka memunculkan kesan jenaka sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan.

Tak ketinggalan, KH. Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah, tampil dengan seragam pramuka lengkap. Songkok hitam dan kain surban merah yang disampirkan di lehernya membuat sosoknya menyatu dengan ribuan santri anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah.

Momen ini segera menuai respons positif dari berbagai kader di seluruh Indonesia. “Maa syaa Allah, para sesepuh kita mengenakan kostum Pramuka,” tulis Ustadz Ahmad MS, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara, di sebuah grup percakapan gawai.

Pujian senada datang dari Abbas Usman Palese, pengurus pusat Search and Rescue (SAR) Hidayatullah. Ia menulis, “MasyaAllah, sesuatu banget ini. Beliau-beliau jadi tambah muda semua. Barakallah.

Sementara itu, Ustadz Irsyad Istoyo, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Barat, menambahkan, “MasyaAllah, barakallah fikum.”

Doa mengalir dari Direktur KBIH Hidayatullah, H. Hamudi, yang menyebut mereka sebagai pramuka sejati. “Allahu Akbar, inilah pramuka sejati, pramuka sejarah,” ungkapnya sembari mendoakan kesehatan para sesepuh.

Pujian lain datang dari kader senior, Ustadz Syarif Bastian, yang menuliskan, “Mantap, masih gagah semua di usia senja. Semoga Allah tetap menjaga dan menyehatkan semuanya, amin.”

Di luar pakaian, hal lain yang tak kalah menarik adalah soal tradisi sapaan khas Pramuka: “kak.” Selama perkemahan, sapaan ini bebas digunakan oleh santri kepada guru mereka.

“Pokoknya, selama empat hari bebas panggil kak ke guru-guru kalian,” ujar seorang ustadzah Sekolah Menengah Hidayatullah Raadhiyatan Mardhiyyah Putri sambil tertawa bersama murid-muridnya.

Canda itu pun berlanjut ketika seorang santri putri menimpali, “Bebas dong ya, bisa panggil kakak ke siapa saja, biar tambah akrab gitu.” Suasana hangat tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dalam Jambore Nasional Sako Pramuka Hidayatullah tahun ini.

Dengan tampilan sederhana namun penuh makna, para kader senior berhasil menghadirkan suasana meriah di tengah acara nasional ini.

ISCH III pun tidak hanya menjadi ajang perkemahan, tetapi juga ruang perjumpaan lintas generasi yang memperlihatkan bagaimana tradisi dapat diwariskan dengan penuh semangat kebersamaan.

Bincang Literasi Pemuda Hidayatullah Jakarta Dorong Hidupkan Kesusastraan Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Acara Bincang Literasi bertema “Dakwah dengan Literasi Nyalakan Aksi Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta di Perpustakaan Nasional RI, Sabtu, 25 Shafar 1447 (23/8/2025), menghadirkan diskusi yang menekankan pentingnya literasi sejarah sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Hadi Nur Ramadhan, penulis juga pustakawan pendiri Rumah Sejarah Indonesia (RSI) Tamadun Hadi Nur Ramadhan, menyatakan bahwa para pendiri bangsa adalah penulis dan pustakawan bagi diri mereka sendiri. “Kita tidak akan menjadi orang besar kalau tidak membaca sejarah orang-orang besar. Al-Qur’an pun menginformasikan peristiwa masa lalu agar kita belajar darinya,” tegasnya.

Menurut Hadi, tradisi literasi sejarah dan sastra merupakan kekuatan yang kini mulai pudar dalam masyarakat. Karena itu, dia mendorong agar tradisi kesusastraan islam dapat kembali dihidupkan sebagai media dakwah.

Melalui medium ini, gerakan Islam yang digerakkan pemuda akan menguatkan langkah mempromosikan ajaran Islam, serta mengkritik realitas yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang bertujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Ia menambahkan, pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, membangun gerakan dakwah melalui literasi yang terinspirasi dari dua buku besar, yakni Tafsir Sinar karya Buya Hamka dan Mutu Manikam karya KH Isa Anshari. “Inilah bukti bahwa literasi sejarah dan sastra melahirkan gerakan besar,” ujarnya.

Dari perspektif kebangsaan, Adam Sukiman, Ketua Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, menekankan peran literasi sebagai awal dari setiap perjuangan.

“Semua pekerjaan dimulai dari wacana. Para pendiri bangsa kita juga memulai perjuangan dengan menulis dan menyebarkan gagasan. Budaya literasi adalah fondasi gerakan menuju Indonesia Emas 2045,” jelas Adam dalam sambutannya.

Sementara itu, Muhammad Isnaini mengkritisi data UNESCO yang menyebut rendahnya budaya baca bangsa Indonesia.

“Ada disparitas antara realitas dan idealitas dalam penelitian tersebut. Umat Islam mestinya memiliki budaya literasi yang tinggi karena setiap hari berinteraksi dengan Al-Qur’an,” ungkapnya. Isnaini menegaskan program Rumah Qur’an sebagai pusat literasi, aspirasi, dan pemberdayaan yang diinisiasi Hidayatullah.

Tokoh literasi nasional, Maman Suherman, menyoroti bahwa literasi seharusnya bukan sekadar adu retorika. “Orang cerdas yang tampil di televisi sering kali hanya beradu mulut, bukan berdialektika. Ini terjadi karena kita tidak benar-benar menjalankan perintah iqro bismirabbik,” ujarnya.

Ia menambahkan, literasi finansial dalam Islam adalah contoh konkret bagaimana membaca dapat menuntun manusia dalam kehidupan sosial-ekonomi.

Imam Nawawi menambahkan dimensi spiritual dari literasi. “Dasar dari literasi adalah cinta. Jika cinta itu diarahkan kepada yang Maha Mencintai, maka literasi kita akan melahirkan amal yang bermanfaat bagi umat dan bangsa,” jelasnya.

Acara ini turut dihadiri perwakilan pemerintah, Slamet Abadi dari Kementerian Agama DKI Jakarta, yang menyampaikan apresiasi terhadap upaya penguatan literasi di kalangan generasi muda.

Bincang Literasi ini menurut Slamet menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan dengan kesadaran sejarah dan komitmen literasi. Seperti ditegaskan para narasumber, membaca sejarah adalah membaca diri sendiri, dan bangsa yang abai pada sejarahnya akan kehilangan arah di masa depan.

Jelajah Kampus ISCH III Napak Tilas Sejarah dan Penanaman Nilai Peradaban

0
Foto: Mujtahidah M. Salbu/ Dok. ISCH

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Agenda Jelajah Kampus menjadi salah satu kegiatan paling ditunggu dalam rangkaian Perkemahan Nasional Pramuka Islam III Hidayatullah (The 3rd National Islamic Scout Camp of Hidayatullah/ISCH III). Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 25 Shafar 1447 (23/8/2025) di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sejak pagi, ratusan peserta yang didominasi tingkat Penggalang dari sekolah-sekolah Hidayatullah se-Indonesia berbaris rapi. Dengan mengenakan seragam pandu dan kaos ISCH, mereka menyusuri setiap sudut kampus yang dikelilingi pepohonan rindang. Suasana semangat terlihat jelas, disertai yel-yel khas pramuka Hidayatullah yang diteriakkan secara bergantian.

Jelajah Kampus kali ini tidak hanya menghadirkan wisata edukasi, tetapi juga napak tilas sejarah pendirian Pondok Pesantren Hidayatullah. Lokasi Gunung Tembak dipilih bukan tanpa alasan, sebab di sinilah cikal bakal pesantren didirikan oleh Ustadz Abdullah Said puluhan tahun lalu.

Seorang peserta asal Makassar, Yusuf, mengungkapkan kegembiraannya. “Alhamdulillah, semangat kakak,” ucapnya singkat ketika ditanya suasana kegiatan.

Sementara Afifah, salah satu bina damping dari Solo, Jawa Tengah, menambahkan kekagumannya. “MasyaAllah, ternyata kampus Gunung Tembak ini luas sekali ya,” ujarnya.

Selain berkeliling, sebagian peserta juga menyempatkan diri berziarah ke makam para pendiri Hidayatullah yang berada tidak jauh dari arena Jambore Nasional (Jamnas). Ziarah ini menambah kesan spiritual dan penghormatan terhadap perjuangan pendahulu.

Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH
Foto: Mujtahidah M. Salbu/ Dok. ISCH
Tujuan Pendidikan dan Pengkaderan

Kampus Gunung Tembak dipilih sebagai tuan rumah Jamnas Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah tahun 2025, yang berlangsung pada 21–24 Agustus. Panitia menekankan bahwa kegiatan ini tidak sebatas lomba atau aktivitas pramuka pada umumnya, melainkan juga wadah penanaman nilai dan idealisme Islam sebagai pelanjut generasi bangsa.

“Kita berharap, seluruh peserta semakin tercerahkan dengan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) ini sebagai modal dasar menjadi pemimpin berkarakter,” ungkap Ketua Panitia ISCH III, Kak Abdul Malik.

Gerakan Nawafil Hidayatullah sendiri menekankan pembiasaan ibadah, seperti shalat berjamaah di masjid, shalat tahajjud, tilawah al-Qur’an, dzikir pagi petang, serta budaya berinfak. Aktivitas ini menjadi bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda Hidayatullah.

Melalui agenda Jelajah Kampus, peserta tidak hanya diajak mengenal ruang fisik dan sejarah Hidayatullah, tetapi juga nilai besar yang diwariskan pendiri. Ustadz Abdullah Said merintis lembaga ini dengan cita-cita besar membangun peradaban Islam melalui pendidikan dan dakwah.

Dengan demikian, kegiatan tersebut menjadi simbol kesinambungan perjuangan dan transformasi nilai, sekaligus pengingat akan pentingnya pendidikan karakter bagi generasi emas Indonesia 2045.

Pemimpin Umum Hidayatullah Menyapa Peserta Jambore Nasional Pramuka Hidayatullah

0
Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Acara Perkemahan Nasional Pramuka Islam III Hidayatullah (Islamic Scout Camp of Hidayatullah/ISCH III) meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan peserta.

Kegiatan pembukaan acara yang digelar di lapangan sepakbola Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis, 27 Shafar 1447 H atau bertepatan dengan 21 Agustus 2025, diikuti lebih dari 2.000 santri tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat dari seluruh Indonesia.

Dalam momen pembukaan, para peserta mendapat kesempatan istimewa karena disapa langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad.

Kehadirannya didampingi jajaran Majelis Pembina Nasional (Mabinas), Pimpinan Sako Nasional (Pinsakonas) Pramuka Hidayatullah, serta tokoh nasional yang juga sesepuh Hidayatullah H. Tahtit Eko Budi Susilo.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa usai prosesi resmi pembukaan, Ustadz Abdurrahman tidak langsung meninggalkan lokasi. Ia bersama rombongan berjalan mengelilingi lapangan untuk menyapa para peserta yang masih berbaris rapi.

Dalam suasana penuh keakraban, Pemimpin Umum tampak melambaikan tangan dan membalas salam para santri pramuka. Sesekali, ia juga berpose bersama kelompok peserta yang antusias menyambutnya.

Keceriaan peserta semakin terlihat ketika salah satu panitia, Kak Darmansyah Dahura, yang juga anggota Pinsakonas, mengajak semua peserta menyanyikan lagu pramuka. “Ayo semuanya ramai-ramai menyanyi lagu Pramuka,” serunya lantang.

Ajakan tersebut segera disambut oleh Kak Jamaluddin, pengurus Sako Pramuka Hidayatullah Penajam Paser Utara, yang memimpin nyanyian lagu Pramuka penuh semangat.

Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH)

Riuh lantunan lagu menggema dari ribuan peserta, menambah kemeriahan suasana di tengah lapangan.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ustadz Abdurrahman Muhammad, memohon keberkahan agar kegiatan berjalan lancar.

Selepas itu, seluruh peserta bersama-sama melakukan aksi peduli lingkungan dengan memungut sampah di sekitar lapangan.

Aksi ini menjadi implementasi nyata dari tema jambore yang menekankan nilai #lingkunganhijau dan #backtonature.

Ketua Panitia ISCH III, Kak Abdul Malik, menegaskan pentingnya kegiatan sederhana tersebut.

“Seluruh peserta tidak ada yang ditinggal kecuali kebaikan. Sampah di sekitar lapangan agar diambil, dipungut, sebagai bentuk amal shaleh yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan harapannya agar acara berlangsung sesuai rencana.

“Mohon doa. Semoga kegiatan berjalan lancar, aman, semua peserta sehat walafiat hingga kegiatan Jamnas selesai,” tutupnya.

LKBB Putri Jamnas 2025 Jadi Panggung Pendidikan Karakter Nasional

0
Foto: Mujtahidah M. Salbu/ Dok. ISCH

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Lomba Keterampilan Baris Berbaris (LKBB) putri menjadi panggung pendidikan karakter sebagai bagian dari rangkaian Jambore Nasional/International Scout Camp Hidayatullah (ISCH) 2025 berlangsung meriah di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Teritip, Balikpapan, Kaltim, Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025).

Kompetisi ini digelar di tiga titik area perkemahan Jamnas dengan diikuti 96 regu dari berbagai tingkatan pendidikan. Panitia mencatat jumlah peserta terdiri atas 22 regu tingkat SD/MI, 39 regu SMP/MTs, dan 35 regu SMA/MA.

Sejak pagi, lapangan utama dipadati peserta yang memperlihatkan kekompakan, kerapian, serta variasi formasi kreatif di hadapan dewan juri Kwartir Cabang dan ratusan penonton.

Peserta tingkat SD tampil dengan formasi sederhana namun penuh semangat. Suasana semakin hidup ketika regu-regu kecil menampilkan aba-aba dan yel-yel khas anak-anak.

Salah satu peserta, Ummu Salma S. Al-Haddad dari Hidayatullah Ternate, menuturkan bahwa ajang ini menjadi pengalaman yang berkesan.

“Acara ini menyenangkan karena bisa banyak kenal teman baru. Selama Jamnas pun tidak ada kesulitan, suasananya menyenangkan sekali,” ujarnya.

Memasuki jenjang SMP, ketegangan kompetisi semakin terasa. Regu-regu menghadirkan variasi gerakan yang lebih kompleks.

Wa Ode Rahmatunnisa, peserta SMP asal Konawe, Sulawesi Tenggara, menyampaikan pengalaman perjalanannya yang panjang untuk dapat tampil di ajang nasional ini.

“Acara ini seru, saya dapat pengalaman baru. Latihan kami hanya dua pekan, tapi tampilannya memuaskan sesuai usaha. Perjalanan ke sini cukup panjang, tiga hari dengan feri dan kapal Pelni,” ungkapnya.

Sementara itu, penampilan regu SMA menonjol dengan ketegasan aba-aba, langkah rapi, serta koreografi yang lebih kreatif. Keyla, peserta dari Hidayatullah Tomohon, Manado, mengakui tantangan utama ada pada variasi formasi.

“Kami percaya diri meski hanya latihan tiga hari dan yel-yel disiapkan semalam. Awalnya sempat minder melihat yang lain lebih wow, tapi kami berani tampil. Ini juga jadi yang terakhir bagi saya karena sudah kelas 11,” kata Keyla.

Peran Pembina dan Nilai Edukatif

Ajang LKBB ini bukan hanya memberi pengalaman baru bagi peserta, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para pembina. Kak Marida, pembina sekaligus guru MI Hidayatullah Ternate, menekankan bahwa lomba ini menjadi ruang pembelajaran berharga.

“Harapannya anak-anak lebih semangat ikut Pandu Hidayatullah. LKBB ini melatih fisik sekaligus ukhuwah, dan baru pertama kali mereka tampil di tingkat nasional,” jelasnya.

Lebih dari sekadar kompetisi baris berbaris, LKBB Jamnas/ISCH 2025 memuat nilai-nilai pembentukan karakter. Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kebersamaan, melatih kepemimpinan, serta meneguhkan rasa tanggung jawab pada generasi muda.

Inilah Pesan dan Harapan Kak Dito di Jamnas III Sako Pramuka Hidayatullah

0
Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dito Ariotedjo, membuka Jambore Nasional ke-3 Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah/ Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis, 21 Agustus 2025 (Foto: Gagah Rafi Hidayatullah/ Hidayatullah.or.id)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Kak Dito Ariotedjo, membuka secara resmi Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III atau Jambore Ke-3 Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025) pagi.

Dalam arahannya, Menpora menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam mewujudkan cita-cita besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

“Tahun 2045 adalah tahun yang sangat istimewa bagi bangsa Indonesia. Itu adalah tahun kita merayakan 100 tahun kemerdekaan dan Indonesia Emas 2045 bukanlah sekadar impian tetapi visi bersama yang harus kita wujudkan,” ujar Kak Dito.

Ia menekankan bahwa pencapaian visi tersebut membutuhkan kualitas generasi muda yang tidak hanya mumpuni dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki ketangguhan mental dan moral.

“Untuk mencapai visi tersebut kita membutuhkan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan berkarakter. Generasi yang tidak saja menguasai pengetahuan dan teknologi tetapi juga memiliki akhlak mulia, semangat juang yang tinggi,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kak Dito mengajak peserta Jambore untuk memanfaatkan forum pramuka nasional sebagai ruang belajar dan pengembangan diri.

“Oleh karena itu, manfaatkan kesempatan emas ini untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan diri. Jadikan Jambore Nasional ini sebagai momentum untuk mengasah kemampuan, memperluas wawasan, dan menjalin persahabatan dengan rekan-rekan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia,” paparnya.

Kak Menpora juga menyampaikan pesan kepada 5000 peserta dan pendamping yang menyemarakkan jambore nasional dari berbagai daerah ini.

“Izinkan saya menyampaikan beberapa pesan dan harapan untuk kalian semua. Pesan ini saya sampaikan bukan hanya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga tetapi juga sebagai kakak yang menaruh harapan besar kepada generasi muda,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para pramuka bahwa masa depan bangsa berada di tangan mereka.

“Ingatlah, bahwa kalian adalah harapan bangsa dan masa depan Indonesia ada di pundak kalian. Apa yang kalian pelajari, apa yang kalian yakini, dan apa yang kalian lakukan hari ini akan menentukan seperti apa Indonesia di masa depan,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Dito berpesan agar generasi muda menjadikan hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

“Jadilah pribadi yang bermanfaat, yang kehadirannya dirindukan, kepergiannya ditangisi. Jadilah pemuda yang memiliki mimpi besar untuk bangsa ini dan bekerja keras untuk mewujudkannya,” pesan Kak Menpora.

Gubernur Kaltim Harum Sambut 5.000 Peserta Jamnas III Pramuka Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Jambore Nasional (Jamnas) III Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah atau Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) resmi dibuka pada Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025) pagi.

Acara ini dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Ario Bimo Nandito Ariotedjo, dan dihadiri Gubernur Kalimantan Timur, Drs. H. Rudy Mas’ud, S.H., M.Kn., atau yang akrab disapa Harum.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, sejak 21 hingga 24 Agustus 2025 ini menjadi ruang kolaborasi pendidikan non-formal yang melengkapi pendidikan pesantren.

Dengan menggabungkan disiplin Pramuka dan nilai keislaman, kegiatan ini diharapkan melahirkan generasi muda yang unggul, berjiwa pemimpin, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Acara dipusatkan di Lapangan Sepakbola Algasra, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Jamnas III diikuti oleh sekitar 5.000 peserta dari unsur Pramuka penggalang dan penegak cabang Hidayatullah se-Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat pembinaan generasi muda melalui aktivitas kepramukaan yang menanamkan kedisiplinan, religiusitas, serta kepemimpinan.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya acara ini. Ia menegaskan bahwa kehadiran Pramuka Hidayatullah menambah warna dalam pendidikan pesantren karena memadukan nilai religius dengan pembinaan karakter kepemudaan.

“Hidayatullah adalah lembaga yang memiliki pengabdian dan kontribusi besar dalam pembangunan Kalimantan Timur maupun Indonesia. Di lingkungan pondok pesantren ini, kegiatan Pramuka berkembang pesat, sesuatu yang jarang dijumpai di pesantren lain,” ujar Harum, sapannya, dalam sambutannya.

Ia menilai bahwa penyelenggaraan Jamnas III Sako Pramuka Hidayatullah bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki nilai edukatif yang sangat penting.

“Kegiatan Jamnas III Sako Hidayatullah ini luar biasa karena tidak akan ditemukan dalam kurikulum belajar di kelas, tetapi di alam terbuka yang mampu membimbing dan melatih adik-adik semua menjadi petarung. Kalau ingin menjadi seorang pemimpin maka bersiaplah untuk menjadi petarung,” tegasnya.

Lebih jauh, Harum mengaitkan penyelenggaraan jambore dengan visi pembangunan daerah menuju Generasi Emas 2045.

Menurutnya, Jamnas III sejalan dengan misi pemerintah daerah dalam membentuk generasi yang kuat, berkarakter, dan mampu bersaing.

“Generasi muda yang kuat, disiplin, dan berkarakter adalah modal utama dalam menyongsong masa depan daerah dan bangsa. Yang pintar banyak, tetapi yang berkarakter itu akan lahir melalui seleksi,” kata Harum.

Selain menekankan pentingnya karakter, ia juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan momen jambore sebagai sarana mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta memperkuat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

“Dengan penuh bangga kami menyambut kehadiran seluruh peserta di Bumi Etam, Kalimantan Timur. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa meridhai langkah kita dalam membina generasi muda, penerus daerah, penerus bangsa,” kata gubernur sebelum menutup sambutan.

“Pergi berkemah di alam terbuka, mendirikan tenda bersama kawan. Pramuka Hidayatullah teruslah berjaya untuk bangsa, agama, dan persatuan,” tutupnya dengan sebait pantun.