Beranda blog Halaman 93

Menpora Apresiasi Sako Hidayatullah Kembangkan Program Kepramukaan

0
Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dito Ariotedjo, menjadi pembina upacara membuka Jambore Nasional ke-3 Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah/ Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis, 21 Agustus 2025 (Foto: Gagah Rafi Hidayatullah/ Hidayatullah.or.id)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga menegaskan dukungannya terhadap kegiatan pendidikan kepramukaan yang digelar oleh Hidayatullah. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dito Ariotedjo, saat membuka Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025) pagi.

Dalam sambutannya, Dito menyampaikan apresiasi atas konsistensi Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah dalam mengembangkan program kepramukaan.

“Kami di Kemenpora pastinya akan selalu memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Kami yakin bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah investasi dalam pembinaan pemuda dan juga adik-adik sekaligus,” ucapnya.

Menpora menilai keunikan Sako Hidayatullah terletak pada integrasi nilai kepramukaan dengan nilai keislaman. Menurutnya, hal ini menjadi kekuatan khusus yang membedakan Hidayatullah dengan komunitas pramuka lainnya.

“Integrasi nilai-nilai kepramukaan dengan nilai-nilai keislaman yang dikembangkan oleh Pramuka Hidayatullah ini mampu menciptakan keseimbangan yang harmonis,” ujarnya.

Lebih jauh, Dito menegaskan bahwa kegiatan seperti ISCH III bukan sekadar perkemahan, tetapi memiliki misi strategis dalam membina generasi muda.

“Saya berharap, ISCH ketiga ini tidak hanya menjadi ajang perkemahan biasa tapi juga menjadi momentum meneguhkan kembali komitmen kepramukaan Hidayatullah dalam membina generasi muda yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan,” katanya.

Selain memberikan pesan kepada peserta jambore, Menpora juga menyampaikan apresiasi khusus kepada para pengurus dan pembina.

“Kepada pengurus dan juga Pembina Pramuka Hidayatullah, saya mengapresiasi dedikasi dan komitmen dalam membina generasi muda. Teruslah berinovasi dan berkolaborasi untuk mengembangkan program-program kepramukaan yang relevan dengan kebutuhan zaman,” tutur Dito.

Menpora menambahkan, pemerintah akan terus hadir mendukung kegiatan pembinaan pemuda yang berorientasi pada nilai kebangsaan, spiritualitas, dan kemandirian. Hal itu sejalan dengan program nasional membangun sumber daya manusia unggul menyongsong Indonesia Emas 2045.

Acara pembukaan ISCH III berlangsung meriah dengan partisipasi ribuan pramuka dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini akan menjadi ajang edukatif, pembinaan, serta memperkuat persaudaraan antarpramuka muslim dari seluruh nusantara.

Kegiatan pembukaan turut dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Timur H. Rudi Mas’ud (Harum), Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Kalimantan Timur Fachruddin Djaprie, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A., dan juga sesepuh Hidayatullah H. Tahtit Eko Budi Susilo.

Selain itu, hadir pula Asisten Pemerintah dan Kesra H.M Syirajuddin, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kalimantan Timur Agus Hari Kesuma, Ketua Sako Nasional Hidayatullah Kak Syarif Daryono, Ketua Sakoda Hidayatullah Kaltim Kak Abdul Malik, pembina dan senior Hidayatullah, dan segenap undangan.

Rangkaian pembukaan dimeriahkan oleh penampilan seni dan atraksi peserta pramuka, termasuk pertunjukan berkuda, Tari Saman, hingga bela diri Tapak Suci.

Kegiatan ini juga turut didukung oleh segenap organsasi pendukung, amal, dan badan usaha Hidayatullah seperti Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, SAR Hidayatullah, Laznas BMH, Pandu Hidayatullah, dan banyak lainnya serta warga kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Teritip Balikpapan.

Santri Madrasah Aliyah Hidayatullah Depok Lolos Olimpiade Sains Nasional

0
Murid Madrasah Aliyah Swasta Hidayatullah Depok M. Nawfal Siddik Damanik (kiri) dan M. Dzaki Fathurrahman (Foto: Dok. Mahid Depok)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Depok menorehkan sejarah dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA tahun 2025. Untuk pertama kalinya ikut serta, madrasah ini berhasil meloloskan 2 santrinya sekaligus ke tingkat Provinsi Jawa Barat dalam cabang Kimia dan Biologi.

Mereka adalah M. Dzaki Fathurrahman pada cabang Kimia dan M. Nawfal Siddik Damanik pada cabang Biologi.

OSN tahun 2025 diikuti oleh 248.792 siswa dari SMA/MA/SMK/MAK se-Indonesia. Pada tingkat Kota Depok, sebanyak 81 sekolah menengah negeri dan swasta turut berpartisipasi.

Kompetisi ini mempertandingkan sembilan cabang keilmuan, mulai dari Matematika, Fisika, Kimia, Informatika, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian hingga Geografi.

Pelaksanaan OSN tingkat Kota Depok dilakukan secara daring pada 24–25 Juni 2025 di satuan pendidikan masing-masing. MA Hidayatullah Depok mengirimkan 21 santri terbaik dalam bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Geografi.

Keikutsertaan tersebut sekaligus melanjutkan tradisi prestasi setelah sebelumnya madrasah ini meraih juara pada Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat Kota Depok tahun 2022.

Melaju ke Tingkat Provinsi

Salah satu capaian yang membanggakan datang dari M. Dzaki Fathurrahman. Santri Madrasah Aliyah Hidayatullah ini berhasil meraih nilai tertinggi bidang Kimia di Kota Depok.

Ia menjadi satu-satunya wakil Kota Depok di cabang tersebut yang berhak melaju ke tingkat Provinsi.

Tahapan berikutnya dijadwalkan berlangsung di SMA Negeri 1 Depok pada Kamis ini (21/8/2025) dengan menghadirkan 108 peserta se-Jawa Barat.

Dalam keterangannya, Dzaki menyampaikan rasa syukur atas prestasi yang diraih.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa juara tingkat Kota Depok dan kaget menjadi satu-satunya yang lolos di bidang Kimia,” katanya.

“Prestasi ini saya persembahkan untuk pondok tercinta serta khususnya untuk orang tua saya yang selalu mendoakan dan mendukung secara moril maupun materil. Semoga ini menjadi langkah awal kami untuk terus berkarya dan berprestasi,” ujarnya menambahkan.

Dzaki juga menegaskan bahwa keberhasilannya tidak terlepas dari peran guru pembimbing. Ia menyampaikan terima kasih kepada para pendamping, yakni Ust. Ali Mustofa, S.Pd, Ust. Ahmad Ali Irfan, S.Pd, Ust. M. Zakky, M.Pd, Ust. Itqonul, SE, dan Ust. Indra Azhar Ahmad, S.E.I.

“Bimbingan, latihan soal, pembahasan materi, dan motivasi dari para ustadz benar-benar membantu saya menghadapi OSN tingkat Kota. Semoga Allah membalas setiap kebaikan ustadz dengan pahala yang berlipat ganda,” tambah Dzaki.

Madrasah dan Keilmuan Modern

Kepala Madrasah Hidayatullah Depok, Ust. Amin Fawaid, M.M., menyampaikan bahwa pencapaian ini meneguhkan daya saing madrasah dalam keilmuan modern. Menurutnya, madrasah harus mampu membuktikan diri setara dengan lembaga pendidikan umum dalam bidang sains dan teknologi.

Alhamdulillah, prestasi ini menjadi bukti bahwa santri SMP-MA Hidayatullah Depok mampu bersaing dengan siswa dari sekolah umum bahkan di kancah nasional,” ungkap Amin.

Ia menambahkan, keberhasilan santri dalam ajang OSN 2025 menjadi indikator penting bahwa madrasah tidak hanya unggul di bidang keagamaan, tetapi juga mampu meraih pencapaian akademik dalam disiplin ilmu sains.

Amin mengapresiasi seluruh pihak yang berperan dalam proses ini, mulai dari siswa yang berjuang hingga para pendidik yang dengan penuh dedikasi mendampingi mereka.

“Kami sangat bangga kepada Dzaki dan Nawfal serta siswa lainnya yang telah bekerja keras, juga kepada para guru pembimbing yang mendampingi mereka dengan sepenuh hati,” katanya.

Amin berharap prestasi ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi santri lainnya untuk terus mengembangkan potensi, berani berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menpora Resmikan Jambore Nasional Pramuka Hidayatullah di Balikpapan

0
Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo membuka Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III atau Jambore Ke-3 Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis,21 Agustus 2025 (Foto: Bagus/Dok. Kemenpora)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Dito Ariotedjo, secara resmi membuka Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III atau Jambore Nasional Ke-3 Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah.

Acara pembukaan berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025) pagi.

Dalam suasana khidmat upacara pembukaan, Menpora menyampaikan pidato resmi sekaligus sebagai pembina upacara dalam pembukaan acara ini.

“Dengan semangat penuh harapan dan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya menyatakan Islamic Scout Camp of Hidayatullah III atau jambore nasional ke-3 satuan komunitas pramuka Hidayatullah secara resmi dibuka,” ucapnya saat bertindak sebagai pembina upacara.

Komitmen Kepramukaan dan Pendidikan Karakter

Dalam amanatnya, Menpora menyampaikan apresiasi kepada Hidayatullah yang untuk ketiga kalinya menggelar jambore nasional dengan status sebagai satuan komunitas (sako).

Menpora Dito menilai, keberadaan Sako Pramuka Hidayatullah menunjukkan konsistensi dalam menanamkan nilai kepramukaan pada para santri dan murid di pesantren.

“Satuan komunitas Pramuka Hidayatullah memiliki posisi yang unik dan strategis dalam pembinaan pemuda yang siap menghadapi tantangan zaman dengan mengusung semangat takwa, mandiri, dan bermanfaat,” ujar Menpora.

Ia menegaskan bahwa integrasi nilai kepramukaan dengan prinsip keislaman yang dijalankan Pramuka Hidayatullah mampu melahirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Menpora menyebut pendekatan tersebut sebagai kekuatan khas yang membedakan Hidayatullah dari komunitas kepramukaan lain.

Foto: Dok. Diskominfo Kaltim
Pesan untuk Peserta

Menpora juga memberikan pesan kepada ribuan peserta yang hadir. Ia menekankan bahwa jambore tidak hanya sekadar ajang perkemahan, melainkan momentum untuk mempertegas komitmen pembinaan generasi muda.

“Saya berharap Islamic Scout Camp of Hidayatullah ketiga tidak hanya menjadi ajang perkemahan biasa, tetapi juga menjadi momentum meneguhkan kembali kepramukaan Hidayatullah dalam membina generasi muda yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menpora menambahkan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga akan terus mendukung agenda positif seperti ini. Menurutnya, investasi terbaik bangsa terletak pada pembinaan generasi muda.

Kepada peserta, ia berpesan agar kegiatan ini dijadikan sebagai kesempatan emas untuk belajar dan memperluas wawasan.

“Jadikanlah jambore nasional ini sebagai momentum untuk mengasah kemampuan, memperluas wawasan, dan menjalin persahabatan dengan rekan-rekan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia,” tandasnya.

Jambore nasional ini berlangsung selama empat hari, hingga 24 Agustus 2025. Panitia mencatat sekitar 4.000 peserta yang terdiri dari anggota pramuka tingkat penggalang dan penegak, didampingi para pembina. Para peserta datang dari berbagai pondok pesantren Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Kegiatan pembukaan turut dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Timur H. Rudi Mas’ud (Harum), Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Kalimantan Timur Fachruddin Djaprie, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A., dan juga sesepuh Hidayatullah H. Tahtit Eko Budi Susilo.

Selain itu, hadir pula Asisten Pemerintah dan Kesra H.M Syirajuddin, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kalimantan Timur Agus Hari Kesuma, Ketua Sako Nasional Hidayatullah Kak Syarif Daryono, Ketua Sakoda Hidayatullah Kaltim Kak Abdul Malik, pembina dan senior Hidayatullah, dan segenap undangan.

Rangkaian pembukaan dimeriahkan oleh penampilan seni dan atraksi peserta pramuka, termasuk pertunjukan berkuda, Tari Saman, hingga bela diri Tapak Suci.

Kegiatan ini juga turut didukung oleh segenap organsasi pendukung, amal, dan badan usaha Hidayatullah seperti Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, SAR Hidayatullah, Laznas BMH, Pandu Hidayatullah, dan banyak lainnya serta warga kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Teritip Balikpapan.

Dari Surabaya, Cahaya Dakwah Hidayatullah Siap Menyala ke Pelosok Negeri

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh semangat menyelimuti Pesantren Hidayatullah Surabaya saat Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Daurah Marhalah Wustho (DMW) pada 18–21 Agustus 2025.

Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memperkuat jatidiri kader dan memantapkan tekad mereka mengabdi di tengah masyarakat.

Sebanyak 51 calon wisudawan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Luqman Al Hakim Surabaya mengikuti rangkaian pembinaan yang dirancang khusus untuk menyiapkan dai muda yang berilmu, berakhlak, dan siap membangun umat.

Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Dr. Muhamad Shaleh Usman, M.I.Kom., menegaskan bahwa DMW bukan sekadar forum pembelajaran, melainkan wadah transformasi kader menuju terwujudnya peradaban Islam.

“Melalui forum ini, kita ingin melahirkan dai muda yang tidak hanya tangguh dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam karakter untuk membawa misi kemajuan umat dan bangsa,” ujarnya.

Shaleh menambahkan, gelaran DMW ini komitmen Hidayatullah dalam mencetak tenaga dai muda yang siap hadir di tengah umat, menyebarkan nilai Islam, dan memberi kontribusi positif bagi bangsa.

“Dari Surabaya, mereka membawa semangat baru untuk menyalakan cahaya dakwah hingga pelosok negeri,” katanya.

Bagi para peserta, momentum ini terasa istimewa. Arif Sukirno, peserta terbaik, mengungkapkan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah, mengikuti DMW menjadi pengalaman sangat berharga. Banyak ilmu, wawasan, dan penguatan ruhiyah yang saya dapatkan. Selain itu, ukhuwah bersama peserta dan asatidz semakin menambah semangat untuk terus berjuang di jalan dakwah,” tuturnya dengan mata berbinar.

Ia juga berharap program ini terus berlanjut dan semakin baik.

“Untuk generasi berikutnya, semoga halaqah ula bisa diaktifkan agar semakin siap mengikuti DMW. Terima kasih kepada para asatidz dan panitia atas bimbingan dan kesabarannya,” tambahnya.

Hadirnya Gerakan Islam Harus Membawa Maslahat dan Perubahan Signifikan Bagi Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pakar pendidikan yang juga dai senior Hidayatullah KH. Dr. Ali Imron, M.Ag., mengingatkan bahwa kehadiran gerakan Islam hendaknya membawa maslahat yang menghadirkan perubahan signifikan bagi umat, bangsa, dan negara.

Hal itu ditegaskan dia dalam acara Forum Kamisan yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta pada Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025). Forum ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang organisasi Hidayatullah yang kini memasuki usia setengah abad.

Dalam paparannya, Ali Imron menekankan pentingnya memahami arah perubahan organisasi dengan kerangka historis, ideologis, dan sosial. Ia menyebut bahwa roda sejarah selalu digerakkan oleh tiga faktor besar yaitu pergeseran ideologi, perebutan materi, serta perubahan alam dan sosial teknologi.

“Zaman terus berkembang dan berubah. Karena itu, organisasi harus memiliki visi yang cerdas dan terukur agar mampu menjawab tantangan,” ujar KH. Ali Imron.

Siklus Perubahan

Pada forum itu, KH. Ali Imron menyoroti siklus organisasi yang secara alami melewati fase perintisan, pertumbuhan, pengembangan, hingga pembaharuan.

Pada fase perintisan, perjuangan lebih banyak ditopang oleh narasi iman, hijrah, dan jihad, serta kesadaran kolektif untuk berjuang bersama. Seiring waktu, fase pertumbuhan menuntut organisasi menegaskan posisi sosial-ekonomi sekaligus konsolidasi ideologi.

KH. Ali Imron menegaskan bahwa perjalanan Hidayatullah harus dipahami dalam konteks siklus kehidupan. “Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya. Karena itu, kepemimpinan dituntut adaptif, solutif, sekaligus berani,” ungkapnya.

Forum ini juga menyinggung berbagai tantangan internal, seperti pola kepemimpinan dan kaderisasi yang masih cenderung dogmatis, serta kesiapan sumber daya manusia untuk tampil sebagai tokoh berpengaruh.

Dari sisi eksternal, jelas KH. Ali Imron, organisasi menghadapi persaingan ideologi dengan berbagai gerakan lain serta persepsi publik tentang positioning yang sedang diperjuangkan.

Dalam catatan diskusi, kondisi stagnasi kerap muncul akibat kesenjangan intelektual, sosial, dan finansial. Hal ini kemudian memicu orientasi yang lebih bersifat penyelamatan individu ketimbang memperkuat kolektivitas.

Pentingnya Pembaharuan

Menjawab tantangan tersebut, KH. Ali Imron mendorong pentingnya gerakan pembaharuan yang meliputi re-definisi doktrin kepemimpinan, rasionalisasi kebijakan, dan prioritas program yang mencerahkan umat.

“Transformasi dalam melakukan perubahan masyarakat sangat terkait dengan proses transfer nilai, sistem kepemimpinan, atau pilihan strategi,” tegas KH. Ali Imron.

Menurutnya, perbaikan harus dilakukan secara konsisten dan sabar agar organisasi tidak kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Dalam hal ini ia menekankan perlunya membangun generasi baru dengan visi dan strategi segar yang adaptif, cerdas, dan kreatif.

Menatap 50 Tahun Kedua Hidayatullah

Lebih lanjut, KH. Ali Imron mengajak semua terutama angkatan muda untuk terus melangkah optimis. Momentum 50 tahun Hidayatullah dianggap sebagai titik persimpangan yang menentukan.

Pada fase ini, terangnya, organisasi dihadapkan pada pertanyaan besar apakah memilih stagnan atau justru melahirkan energi baru untuk menatap masa depan.

Ali Imron mengingatkan bahwa kesetiaan jamaah dan keberanian pemimpin akan menjadi penentu arah gerakan. “Kesaktian ideologi dan kapasitas leadership akan menjadi saksi bagaimana Hidayatullah menapaki babak berikutnya,” ucapnya.

Diskusi Kamisan yang dimoderatori Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi ini menutup catatan dengan menekankan perubahan adalah keniscayaan seraya menggarisbawahi bahwa organisasi yang mampu menata ulang strategi dengan tetap berpegang teguh pada nilai luhur Islam akan lebih siap menjadi alternatif solusi bagi problem umat dan bangsa.

Wahyu Sebagai Amanah, Nikmat, dan Rahmat Bagi Umat Manusia

0

“Dan (ingatlah) ketika Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) agar kamu mendapat petunjuk.”

Demikianlan kandungan makna atau terjemah dari lafaz kitabullah surah Al-Baqarah ayat 53: وَاِذْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Ayat ini bukan sekadar penggalan sejarah, tetapi sebuah pesan universal bahwa wahyu adalah nikmat terbesar. Allah mengingatkan Bani Israil tentang anugerah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa.

Kitab itu bukan beban, melainkan cahaya yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, halal dan haram, serta petunjuk dari kesesatan.

Wahyu sebagai Cahaya Kehidupan

Tafsir Jalalain menegaskan bahwa kata al-Furqaan adalah penjelasan dari Taurat itu sendiri, yakni fungsi kitab suci sebagai pembeda antara hak dan batil.

Tafsir al-Muyassar menyebutnya nikmat yang menyelamatkan dari kegelapan menuju jalan lurus. Sementara Ibnu Katsir memperluas makna dengan menyebutkan fungsi kitab sebagai baṣā’ir (pelita hati), hudā (petunjuk), dan raḥmah (rahmat).

Allah juga mengabadikan fungsi ini dalam QS. al-Qashash: 43:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa al-Kitab setelah Kami membinasakan generasi-generasi terdahulu, sebagai pelita bagi manusia, petunjuk, dan rahmat, agar mereka mau mengambil pelajaran.” (QS. al-Qashash: 43)

Tiga fungsi ini berlaku untuk semua kitab suci yang diturunkan Allah Ta’ala, termasuk Al-Qur’an. Ia adalah cahaya batin yang membuka mata hati, penunjuk jalan kehidupan, dan rahmat yang membimbing menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Hikmah dan Pelajaran

Dari ayat ayat ini, kita mendapati kepingan kepingan hikmah, bahwa Wahyu adalah nikmat terbesar. Allah mengingatkan Bani Israil bahwa Taurat adalah nikmat, bukan beban.

Begitu pula kita hari ini. Al-Qur’an adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan sekadar dibaca tanpa penghayatan. Syukur itu diwujudkan dengan membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya.

Wahyu sebagai pembeda kebenaran dan kebatilan. Di tengah derasnya arus informasi yang bercampur antara fakta dan manipulasi, Al-Qur’an adalah furqān. Ia membantu kita memilah mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang halal dan haram.

Tanpa wahyu, manusia mudah terjebak dalam kabut opini dan kepentingan duniawi.

Wahyu juga merupakan petunjuk bukan hanya untuk diketahui, tapi diikuti. Bani Israil mengenal isi Taurat, namun sebagian enggan mengamalkannya.

Itulah kesalahan yang tidak boleh kita ulang. Ilmu yang tidak diiringi amal hanya menjadikan seseorang tahu arah jalan, tetapi tetap tersesat karena tidak mau melangkah.

Lebih jauh lagi, Wahyu adalah nikmat besar yang hendaknya disertai tanggung jawab besar. Wahyu tidak hanya membawa keistimewaan, tetapi juga amanah. Allah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikianlah Kami menjadikan kalian umat yang pertengahan, agar kalian menjadi saksi atas manusia…”

Menjadi saksi kebenaran berarti menyampaikan kebenaran melalui ilmu dan dakwah, memperlihatkan ajaran itu melalui akhlak nyata, serta menjaga kemurnian wahyu dari penyimpangan.

Dari sini kita juga belajar dari sejarah umat terdahulu. Kisah Bani Israil bukan sekadar dongeng, tetapi cermin bagi kita. Mereka lalai mensyukuri wahyu, bahkan ada yang meremehkannya. Kesalahan itu menjadi peringatan agar kita tidak bersikap sama terhadap Al-Qur’an.

Renungan untuk Zaman Ini

Di era modern, manusia sering merasa lebih percaya pada data, algoritma, atau opini publik dibanding wahyu. Padahal, segala teknologi dan pengetahuan hanyalah alat. Tanpa wahyu, manusia kehilangan kompas moral.

Al-Qur’an datang untuk menghidupkan hati, mengajarkan keadilan, dan mengokohkan nilai kemanusiaan. Jika ia benar-benar menjadi pedoman, maka kehidupan akan tertata, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sosial, politik, dan peradaban.

Namun, nikmat wahyu bisa berubah menjadi bencana bila diabaikan. Tanpa kesadaran, Al-Qur’an hanya dibacakan di acara seremonial, tetapi tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Inilah titik rawan yang harus kita waspadai.

Maka disinilah kewajiban kita sebagai mukmin untuk selalu berupaya menghidupkan wahyu dalam kehidupan.

Menghargai wahyu berarti menjadikannya sebagai sumber inspirasi hati, membaca dengan tadabbur, sehingga ayat-ayatnya menggerakkan hati untuk berubah.

Mari kita menjadikan wahyu Qur’ani sebagai kompas moral. Menjadikannya sebagai penentu benar-salah dalam keputusan pribadi maupun sosial.

Wahyu adalah panduan kita dalam beramal juga menerjemahkan nilai-nilainya dalam ibadah, muamalah, hingga dalam sikap berbangsa dan bernegara.

Al Qur’an adalah rahmat yang menyatukan. Wahyu yang dikandungnya merupakan perekat yang membawa manusia pada kebaikan bersama, bukan sumber perpecahan.

Akhirnya, kita diajak untuk merenung, apakah wahyu sudah kita syukuri sebagai nikmat terbesar, ataukah masih kita biarkan sekadar hiasan? Jawaban ini tidak cukup dengan kata, tetapi harus tampak dalam laku hidup sehari-hari.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Daurah Wustho Hidayatullah Sumenep Teguhkan Jati Diri Menuju Indonesia Emas

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) – Aula lantai tiga SMP Luqman Al Hakim, Pesantren Hidayatullah di bilangan Payudan Tengah, Mastasek, Pabian, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, hari itu dipenuhi semangat.

Sebanyak 35 peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam Daurah Marhalah Wustho bertema “Transformasi Jati Diri Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam” yang digelar pada pertengahan Agustus ini.

Kegiatan ini tidak sekadar forum belajar, melainkan juga ruang pembentukan karakter. Sambutan pembuka dari Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Dr. Muhammad Shaleh Utsman, S.S, M.I.Kom, menegaskan bahwa kader Hidayatullah harus memahami jati diri mereka sebagai bagian dari perjuangan besar menegakkan nilai Islam.

“Daurah ini bukan sekadar pembelajaran, tetapi perjalanan ruhani yang membentuk karakter dan komitmen,” pesan Shaleh seperti dalam keterangannya, Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025).

Keistimewaan daurah kian terasa dengan hadirnya tokoh pusat Hidayatullah, antara lain Ust. Dr. Nashirul Haq, MA., Ust. Ir. Hanifullah, dan Ust. Dr. Ir. H. Abdul Azis Qahhar, M.Si.

Mereka menyampaikan materi inti yang menekankan pentingnya penerapan nilai Islam dalam ranah pribadi, sosial, hingga kepemimpinan dakwah. Jajaran Dewan Murabbi Wilayah Jawa Timur juga turut hadir memperkuat spirit peserta.

Selama empat hari, peserta aktif mengikuti materi, diskusi, dan refleksi. Lebih dari sekadar menambah wawasan, daurah ini mempererat ukhuwah dan kesadaran spiritual. Para peserta pulang dengan tekad lebih kuat untuk mengimplementasikan nilai Islam dalam kehidupan nyata.

Pola interaktif ini membuat mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat langsung dalam proses penguatan jati diri. Bagi Sugeng Purnomo, peserta dari Malang, pengalaman ini sangat berkesan.

Baginya, semangat kebersamaan yang lahir di Sumenep ini menjadi bekal penting dalam membawa nilai nilai peradaban Islam yang luhur untuk Indonesia Emas 2045.

“Penyampaian materi penuh semangat, panitia pun membuat kami nyaman dan fokus,” ungkapnya.

Amil Didorong Jadi Penggerak Perubahan Sosial Melalui Tata Kelola Zakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Praktisi Pemberdayaan Masyarakat, Sigit Iko Sugondo, menekankan pentingnya penerapan Zakat Core Principles (ZCP) sebagai standar tata kelola dan manajemen lembaga zakat.

Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Amil Leader Baitul Maal Hidayatullah (BMH) 2025 Batch 3 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025).

Sigit menjelaskan bahwa ZCP merupakan seperangkat prinsip yang dirancang untuk memastikan lembaga zakat beroperasi secara amanah, transparan, akuntabel, dan sesuai syariah.

Ia menegaskan, prinsip ini sangat penting agar lembaga zakat mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memaksimalkan manfaat zakat dalam pengentasan kemiskinan serta pemberdayaan umat.

“Zakat Core Principles (ZCP) adalah seperangkat prinsip inti sebagai standar tata kelola dan manajemen lembaga zakat,” ungkap Sigit.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa ZCP terinspirasi dari Core Principles for Effective Banking Supervision yang disusun oleh Basel Committee dan digunakan dalam dunia perbankan. Prinsip tersebut kemudian diadaptasi agar sesuai dengan konteks pengelolaan zakat di Indonesia.

“ZCP terinspirasi dari Core Principles for Effective Banking Supervision yang digunakan dalam dunia perbankan, lalu diadaptasi agar sesuai dengan konteks pengelolaan zakat,” jelasnya.

Dalam paparannya, Sigit juga menyoroti peran penting amil zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebagai pengelola dana umat.

Menurutnya, amil memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan publik agar zakat, infak, dan sedekah dapat disalurkan secara adil, transparan, dan sesuai syariah.

“Amil zakat BMH sebagai pengelola dana umat memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan publik dan memastikan bahwa zakat, infak, dan sedekah benar-benar tersalurkan secara adil, transparan, dan sesuai syariah,” tegas Sigit.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa mempelajari prinsip tata kelola zakat menjadi keharusan bagi setiap amil. Prinsip ini, menurutnya, tidak hanya meningkatkan kualitas pengelolaan lembaga, tetapi juga membangun profesionalisme dan akuntabilitas dalam menjalankan amanah umat.

Orientasi pada Pemberdayaan Mustahik

Sigit menjelaskan bahwa pemahaman yang baik terhadap prinsip-prinsip tata kelola akan memperluas fungsi amil. Amil tidak lagi sekadar menjadi penyalur dana, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.

“Dengan pemahaman yang baik terhadap prinsip-prinsip tata kelola, amil tidak hanya berfungsi sebagai penyalur dana, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial-ekonomi umat,” ujar Sigit.

Ia menambahkan, hal ini sekaligus memperkuat legitimasi lembaga zakat di mata masyarakat dan regulator. Dengan demikian, keberadaan lembaga zakat dapat semakin dipercaya dan diakui sebagai pilar penting dalam pembangunan ekonomi umat.

Selain itu, penerapan prinsip tata kelola zakat juga berperan dalam membangun budaya integritas, kepatuhan syariah, dan mitigasi risiko di dalam lembaga.

Menurut Sigit, hal ini akan mendorong amil untuk senantiasa bekerja dengan penuh tanggung jawab dan menjaga kredibilitas lembaga zakat.

“Hal ini sekaligus memperkuat legitimasi lembaga zakat di mata masyarakat dan regulator, serta mendorong tumbuhnya budaya integritas, kepatuhan syariah, dan mitigasi risiko dalam setiap aktivitas kelembagaan,” pungkasnya.

161 Santri Kontingen Hidayatullah Bontang Dilepas ke Jamnas Islamic Scout Camp III

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Kwartir Cabang Pramuka Bontang, Kak H. Budi Supriyanto, secara resmi melepas kontingen Hidayatullah Bontang untuk mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) Islamic Scout Camp Hidayatullah III resmi dimulai pada Kamis, 21 hingga Ahad, 24 Agustus 2025, bertempat di Hidayatullah Pusat Gunung Tembak (Gutem) Balikpapan.

Dari Bontang, peserta berjumlah 161 santriwan-santriwati yang terbagi dalam empat regu SD, empat regu SMH putra, dan lima regu SMH putri, dengan tambahan 24 orang bina damping.

Seluruh kontingen dilepas secara resmi di lapangan Masjid Ar Riyadh, Kampus Hidayatullah Bontang pada Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025).

Meski sejak malam sebelumnya kawasan kampus diguyur hujan rintik hingga deras, semangat pelepasan tidak surut.

Acara pelepasan dimulai pukul 08.15 WITA dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne Satya Darma Pramuka, Mars Kota Bontang, doa, serta sambutan-sambutan.

Selain dihadiri Ketua Kwartir Cabang Pramuka Bontang, Kak H. Budi Supriyanto, turut hadir beserta sekretarisnya, Kak H. Misbahul Munir. Juga hadir para ketua dan pengurus majelis pembimbing ranting serta kwartir ranting Bontang Utara, Barat, dan Selatan.

Dari internal Hidayatullah tampak Dewan Pembina Ust. H. Jamaluddin I, Dewan Pengawas Ustadz Ahmad Wisnu, Ketua YPPH Kota Bontang Ust Firdaus, serta jajaran guru ustadz dan ustadzah Pesantren Hidayatullah Kota Bontang.

Dalam sambutannya, Kak H. Budi menegaskan pentingnya menjaga nama baik daerah.

“Kegiatan Jambore ini peserta membawa nama Kota Bontang. Maksimalkan kehadirannya di sana dengan berupaya sungguh-sungguh mengikuti kegiatan atau lomba-lomba yang diadakan panitia,” katanya.

“Perhatikan kebersihan, ketertiban, dan keamanan, serta selalu siaga menghadapi kondisi alam yang sering hujan,” ujarnya berpesan.

Acara pelepasan ditutup dengan penyerahan bendera Sako Hidayatullah Bontang oleh Kak H. Budi secara simbolis, menandai keberangkatan kontingen Jamnas III.

Prosesi berlangsung khidmat dengan doa bersama agar peserta senantiasa dilindungi Allah Ta’ala dan mampu membawa nama baik Kota Bontang di arena Jamnas.

Kegiatan berskala nasional ini diperkirakan diikuti sekitar 5.000 peserta dan 1.000 bina damping dari berbagai daerah di Indonesia.

Jalinan Kolaborasi Budidaya Pisang Cavendish untuk Pemberdayaan Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sinergi antara Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Perum Perhutani terus diperkuat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Pada Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025), jajaran BMH melakukan kunjungan resmi ke kantor Perhutani di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Kehadiran rombongan BMH disambut langsung oleh Kepala Divisi Keuangan Perhutani, Ahmad, serta Kepala Seksi Utama Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, Suharsono.

Kunjungan ini menjadi momentum penting karena bertepatan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam pelaksanaan program TJSL untuk budidaya pisang Cavendish.

Program ini sudah berjalan sejak awal 2025 dan direncanakan menghasilkan panen perdana pada Oktober mendatang.

“Alhamdulillah, program ini berkembang positif. Oktober nanti, insya Allah kita bisa menyaksikan panen perdana,” ujar Direktur Marketing BMH, Zainal Abidin, saat memberikan keterangan di sela pertemuan.

Menurutnya, pendekatan sinergis antara lembaga zakat dan badan usaha milik negara dapat berkontribusi signifikan pada peningkatan ekonomi masyarakat serta pelestarian lingkungan.

Harapan besar disematkan agar inisiatif ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi model pemberdayaan berbasis kemitraan di masa depan.

Dalam kesempatan yang sama, pihak Perhutani menekankan pentingnya keberlanjutan dan dampak program terhadap masyarakat.

“Kami berharap BMH dapat memastikan program berjalan baik. Yang tak kalah penting, manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dan santri binaan BMH. Kalau berhasil, ini akan jadi contoh yang bisa kita laporkan ke kementerian dan terus kita lanjutkan,” kata Ahmad.

Sebagai mitra, BMH menyatakan kesiapan untuk menjaga kualitas pelaksanaan program. “Kami berkomitmen menjalankan program ini sebaik-baiknya agar pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin berkualitas,” tambah Zainal Abidin.

Menurut Zainal, program budidaya pisang Cavendish tidak hanya berorientasi pada hasil pertanian, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat di berbagai daerah. Salah satu kisah nyata datang dari seorang kepala keluarga di Sidoarjo, Jawa Timur.

Sebelumnya ia menggantungkan hidup sebagai pemulung, kini ia terlibat langsung dalam pengelolaan tanaman pisang Cavendish yang dikembangkan bersama BMH. Perubahan ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat memberikan peluang baru bagi peningkatan taraf hidup masyarakat.

Pertemuan ini ditutup dengan penandatanganan PKS yang mengikat kedua pihak dalam upaya mengembangkan kemitraan berkelanjutan.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan panen pisang Cavendish berkualitas, tetapi juga menjadi model kerja sama yang mampu memberikan manfaat luas, baik bagi masyarakat maupun lingkungan.