Beranda blog Halaman 98

Interaksi al-Qur’an antara Generasi Sahabat dan Generasi Modern Menurut Ustadz Baharun

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Apa beda generasi salaf dan zaman sekarang dalam berinteraksi dengan al-Qur’an? Imam Masjid Ar Riyadh Kampus Ummulqura Ponpes Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Muhammad Baharun Musaddad, Lc., mengungkap perbedaan itu seperti dalam kisah sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud Rahimahullah.

Menurut Ustadz Baharun, sapaannya, hal itu tak lain sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud; “Inna shau’ba alaini hifzha alfazh al-Qur’an wa sahula alaini al-amala bihi”.

Yakni, generasi awal di zaman sahabat Nabi begitu dipersulit menghafal al-Qur’an namun dimudahkan dalam mengamalkan nilai dan ajaran al-Qur’an.

Sebaliknya, akan datang generasi setelah sahabat Nabi, mereka dimudahkan menghafal al-Qur’an, tetapi kesulitan mengamalkan al-Qur’an.

“Abdullah bin Mas’ud ini adalah kapten para penghafal al-Qur’an di semua zaman. Pelopor peradaban ilmu di Kufah. Pernah menghafal di daerah Persia,” ucap ustadz Baharun, menjelaskan tokoh yang dimaksud di hadapan para wisudawan, orangtua santri, dan tamu undangan acara Haflatu at-Takharruju Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah Balikpapan, beberapa waktu lalu, direportase Jum’at, 7 Safar 1447 (1/8/2025).

Generasi salaf, kata dosen Pendidikan Ulama Zuama Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (PUZ-STIS) Hidayatullah tersebut, adalah orang-orang yang setiap waktu berinteraksi dengan al-Qur’an.

“Di zaman Nabi belum ada mushaf al-Qur’an. Cuma berpatokan pada hafalan. Meski ada juga yang ditulis sebagian di pelepah kurma atau batu-batuan,” jelas ustadz Baharun.

“Bagaimana tilawahnya, ya dengan menghafal. Jadi tilawah itu maknanya menghafal, bukan cuma membaca saja,” lanjutnya menerangkan kandungan surah al-Jumuah [62] ayat kedua.

Lebih jauh, hingga di zaman khulafa rasyidin sekalipun, para sahabat Nabi tetap berpatokan pada hafalan al-Qur’an. Karena di zaman Abu Bakar, meski sudah ada mushaf tertulis, tetapi itu tidak dibagi. Hanya disimpan di rumah Abu Bakar.

Demikian seterusnya, mushaf itu berpindah disimpan di rumah Hafsah, di zaman Umar bin Khaththab. Bahkan pada masa Usman, mushaf yang tertulis jumlahnya hanya terbatas lima atau enam mushaf saja.

“Ini menunjukkan kalau hafalan al-Qur’an terjaga melalui hafalan-hafalan mereka saja. Jadi kalau ada yang lupa mereka bertanya kepada sebagian mereka yang hafal al-Qur’an,” terang alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Lalu bagaimana dengan generasi masa sekarang? Di zaman modern ini nyaris setiap orang punya mushaf al-Qur’an dalam rumahnya. Setiap orang punya telepon genggam canggih yang di dalamnya mungkin ada aplikasi al-Qur’an. Aplikasinya pun macam-macam. Ada terjemah, ada lafzhiyah (per kata), dan lain-lain.

“Jadi masalahnya tak lain adalah benar sudah membaca bahkan menghafal al-Qur’an, tetapi “yatlu alaihim” itu putus di “wa yuzakkihim” bisa jadi hati sebagian kita tidak benar-benar bersih saat membaca dan menghafal al-Qur’an itu hingga sulit memahami, meyakini, dan mengamalkan ajarannya,” pungkas ustadz Baharun.

Diketahui, Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah ini beralamat di bilangan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan. Memiliki area seluas 60 hektar lebih, Ahlus Shuffah komitmen mengusung visi besar “Melahirkan Kader Hafizh Al-Qur’an Bersanad, Unggul, Amanah, dan Mandiri”.

Program Takhassus SMH Hidayatullah Teritip Ukir Prestasi Sejak Tahun Pertama

0
Kegiatan kerja bakti santri di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan (Foto: Muhammad Abdus Syakur/ LPPH Gutem/MCU)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Usia boleh seumur jagung. Tapi satu persatu prestasi mulai terukir rapi. Itulah capaian membanggakan dan tentunya patut disyukuri dari santri Takhasus Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Raadhiyatan Mardhiyyah Takhassus.

Diluncurkan pada tahun 2024 atau setahun yang lalu sebagai program khusus, namun santri-santrinya sudah menyabet prestasi demi prestasi.

Terbaru, Ananda Rafiif Irfan El Muzakki, santri Takhassus kelas X MA itu berhasil meraih Juara I dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat kota Balikpapan dan selanjutnya akan bertarung di tingkat provinsi Kalimantan Timur.

Hal ini tentu menjadi kesyukuran sekaligus hiburan bagi orangtua yang telah mempercayakan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

“Alhamdulillah, ini menjadi pengalaman pertama kali madrasah kami mengikuti Olimpiade Bahasa Arab dan langsung meraih juara terbaik,” terang Penanggung Jawab SMH Takhassus, Ustadz Nashiruddin Jundi Hasbullah, dalam keterangan diterima media ini, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Tak hanya jago Bahasa Arab, rupanya santri-santri yang memang berkomunikasi aktif dengan Bahasa Arab selama 1×24 jam tersebut juga diantar untuk kian dekat dengan nilai-nilai al-Qur’an.

Sejumlah halaqah tahfizh dan juga muraja’ah (pengulangan hafalan) menjadi menu sehari-hari para santri di masjid.

Tak heran, tak butuh waktu satu tahun, sejumlah santri SMH Takhasus telah menyetorkan bahkan melampaui target hafalan mereka.

“Target hafalan selama tiga tahun adalah lima belas juz al-Qur’an. Tapi selama setahun ini ada beberapa santri sudah menyetor hafalan di atas 10 juz. Sebagian besar telah sampai juz 7 dan 8 dari al-Qur’an,” ucap Nashir.

Untuk diketahui, kurikulum SMH Takhassus ini merupakan hasil adaptasi dari kurikulum Idad Lughawi, program pra-kuliah Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah yang telah berjalan konsisten selama 4 angkatan di Balikpapan dan Yogyakarta.

Beberapa mata kuliah dasar dari tahun pertama PUZ juga diturunkan secara selektif ke tingkat Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah, dengan harapan terjadi akselerasi pembinaan yang terukur dan berkualitas sejak dini, bahkan sebelum memasuki jenjang kuliah.

Mudir Pendidikan Ulama Zuama, Ust. H. Muhammad Dinul Haq, Lc. menegaskan bahwa output yang dituju dari program Takhassus ini adalah lahirnya kader ulama muda yang unggul dalam bahasa Arab, menguasai disiplin ilmu syar’i, hafal minimal 15 juz Al-Quran, dan memiliki jiwa kepemimpinan Islam.

“Inilah model pendidikan kader ulama zuama yang kami siapkan dari bangku MA, dan insyaallah akan terus dikembangkan bertahap ke tingkat MTs dan MI,” ujarnya.

Terakhir, ia memohon doa, saat ini SMH Takhasus yang beralamat di RT. 25 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, ini tengah dipercaya sebagai pilot proyek Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah sebagai sekolah unggul Hidayatullah dengan kekhasan di bidang pengkaderan, hafalan al-Qur’an, serta lingkungan Bahasa (biah lughawiyah).

Kontingen Hidayatullah Gutem Borong Medali di FORNAS VIII dan Ajang Akademik

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80, santri-santri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Balikpapan, tak henti dulang prestasi. Terbaru, mereka berhasil mengharumkan nama madrasah dan kontingen yang diikuti dari arena Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII yang diadakan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tanggal 26-31/7/2025.

Dari berbagai informasi yang dihimpun, FORNAS VIII kali ini mempertandingkan sebanyak 18 cabang olahraga dan diikuti oleh total peserta mencapai lebih dari 18.000 orang dari 38 provinsi di seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah, Fakhirah sudah nyumbang 1 emas ustadzah untuk Kaltim,” ungkap Ustadzah Mujtahidah dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Mujtahidah yang merupakan guru KB-RA menceritakan prestasi muridnya yang kini duduk di kelas I Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Raadhiyatan Mardhiyyah Putri (Sabtu, 26/7/2025).

Fakhirah Nur Afifah yang berasal dari Balikpapan ini berhasil menyabet medali emas dan menyisihkan lawan-lawannya untuk Induk Organisasi Olahraga (Inorga) Panahan kategori Eliminasi Shortbow SD 123 putri jarak 5 meter.

Masih dari arena lapangan Bundar Praya, Lombok, Raniya Kamilah santri kelas I Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Raadhiyatan Mardhiyyah ini juga sukses menyegel medali emas Panahan kategori Kualifikasi Pelajar U18 Putri jarak 20 meter.

Tak ingin kalah, Muhammad Fatih Farhat, lulusan SMH RM Putra, juga berhasil meraih posisi terbaik sebagai Juara Harapan I dalam ajang Horseback Archery (berkuda memanah) kategori Panca Abilasa 90 meter.

Tak henti di prestasi olaharaga dan keterampilan fisik semata, syiar kebahagiaan dan kesyukuran ini juga datang dari ananda Rafiif Irfan El Muzakki (santri SMH Program Takhasus kelas X).

Usai menjuarai Olimpiade Bahasa Arab (OBA) Tingkat Kota Balikpapan, kini ia harus bersiap-siap untuk bertanding kembali di OBA Tingkat Provinsi selanjutnya.

Berikutnya, ada Muhammad Devin Anggara Eril Purwanto, santri SMH RM Putra kelas IX yang berhasil membawa pulang medali perak pada ajang lomba HIMSO (Hidayatullah Mathematis and Sciense) yang diadakan di Surabaya, 22/6/2025 lalu.

Ada pula Hanggar, Ihsan, Hamka dan sejumlah kawan-kawannya. Mereka para santri kelas VIII ini tampil sebagai finalis di kegiatan Final Jenius Science Olympiade 2025 yang diadakan di kampus UIN Yogyakarta, Juni 2025 silam.

Dari putri, rupanya prestasi mereka tak kalah menggembirakan. Untuk OBA misalnya, SMH RM Putri juga berhasil memastikan dua santri untuk melaju ke Tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Yakni, Mafaza Tazkia (MA) dan Aqila Carissa (MTs).

“Alhamdulillah, semuanya menggembirakan dan membahagiakan. Patut disyukuri, karena semua pihak saling support dan beri dukungan, terutama dari para orangtua santri. Terima kasih,” ucap Ustadzah Najmatun Nahdhah, Kepala SMH RM Putri, dihubungi media secara terpisah.*/

Pemimpin Umum Hidayatullah Tekankan Nilai Sedekah dalam Gerakan Menanam

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ada banyak alasan untuk menanam pohon atau merawat tanaman. Mulai dari hobi, hiburan di waktu senggang, hingga ingin mendapatkan penghasilan tambahan.

Rupanya Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad juga punya mindset tersendiri soal menanam. Apa itu? Niatkan bersedekah.

Menurutnya, Nabi telah mengajarkan begitu. Kalau seseorang menanam satu buah atau satu pohon, lalu dimakan oleh manusia atau binatang, itu jadi sedekah.

“Jadi itu spiritnya kalau saya menanam,” ucap Ustadz Abdurrahman yang memang dikenal hobi berkebun dan beternak ini.

Jelang Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah 2025 yang salah satunya juga mengusung tema lingkungan hijau, Ustadz Abdurrahman mengajak seluruh kader dan anggota Hidayatullah untuk memulai gerakan ini.

“Pokoknya dimana-mana saya anjurkan menanam. Menanam saja menanam. Karena bersedekah kita itu,” jelasnya di hadapan peserta Rapat Pleno Evaluasi dan Laporan Program Semester I YPPH Balikpapan beberapa waktu lalu, direportase Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

“Saya tanam pokoknya apa aja. Dapat bibit kelapa tanam kelapa. Ketemu batang singkong, ditanam juga. Bibit buah matoa saya tanam. Tanam elai juga, itu alhamdulillah berbuah semua,” ucapnya.

Saking perhatiannya urusan tanam-menanam ini, tak segan ia melarang anak-anak dan keluarganya membuang biji buah yang dimakan.

“Pelihara nangka juga. Kadang bilang, jangan buang bijinya ya. Padahal saya tidak (terlalu) makan nangka. Baik buah nangka atau sayur nangka,” lanjutnya.

Selain semangat bersedekah, kegemaran menanam pohon dan merawat lingkungan diakui sebagai hasil didikan ayahnya. Sejak kecil, almarhum H. Muhammad ayahnya mengajarinya hidup mandiri dan bekerja keras di kebun.

“Ayah saya yang ajari menanam. Kalau pulang (ke Sulawesi Selatan) langsung ke kebun saya,” ucapnya. Di sana, Pemimpin Umum Hidayatullah juga menyebut punya kebun yang berisi pohon buah-buahan dan tanaman lainnya.

Diketahui, Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan tengah menggencarkan program Hi-Farm yang fokus pada usaha peternakan sapi dan domba serta penanaman kelapa sawit.

Beberapa hari lalu, juga diadakan penanaman bibit perdana kelapa sawit yang langsung dihadiri dan didoakan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah.

“Nabi mengatakan, siapa yang menanam satu biji atau satu pohon, dan dimakan oleh manusia, dan dimakan oleh binatang atau burung-burung, maka menjadi shadaqah baginya,” terangnya tentang keutamaan menanam pohon dan menjaga lingkungan.

“Dengan ucapan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ kita mulai menanam pohon ini,” ujarnya lantas memasukkan bibit pohon sawit ke dalam lubang yang telah dipersiapkan.

Kick Off NGL 2025, Ketum Hidayatullah Dorong Lahirnya Pemimpin Muslim Profetik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., menyampaikan sambutan dalam acara Kick Off NextGen Leader (NGL) Nasional 2025 yang berlangsung di Audotorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara yang digelar Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) bekerjasama dengan Universitas Yarsi ini mengangkat tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Dalam sambutannya, Nashirul Haq menekankan pentingnya proses pembentukan karakter kepemimpinan melalui tempaan tantangan dan rintangan, bukan sekadar status sosial atau latar belakang pendidikan.

“Pemimpin itu tidak dilahirkan dari ruang-ruang kelas semata. Ia lahir dari tempaan kehidupan, dari tantangan, dari rintangan, dari pengabdian, dari jatuh bangun dalam menjalani amanah,” tegasnya di hadapan ratusan mahasiswa dan peserta kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa karakter kepemimpinan yang ideal adalah gabungan integritas dan

“Kriteria pemimpin menurut Al Qur’an ada dua, pertama, kuat dan amanah. Kuat, artinya memiliki kompetensi, kuat mental, kuat berpikir, kuat bekerja. Amanah maksudnya memiliki integritas.”

Di hadapan peserta yang merupakan mahasiswa dari berbagai kampus dan utusan lembaga kepemudaan, Nashirul juga menyampaikan enam aspek yang harus diperkuat oleh generasi muda jika ingin berperan sebagai pemimpin bangsa ke depan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah menguraikan konsep tarbiyah meliputi aspek spiritual (ruhiyah), intelektual (‘aqliyah), fisik (jismiyah), sosial (ijtimaiyah) dan kepemimpinan (idariyah).

Nashirul menggarisbawahi pentingnya aspek kepemimpinan. “Berbagai potensi yang dimiliki tidak dapat dioptimalkan tanpa adanya kepemimpinan dan manajemen yang baik.” Tegasnya.

Lebih lanjut, Nashirul mendorong mahasiswa untuk aktif menumbuhkan kepedulian sosial. “Interaksi sosial menumbuhkan tanggung jawab keumatan,” tegasnya.

Dalam bagian akhir sambutannya, Ketua Umum Hidayatullah mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kegiatan Next Gen Leaders (NGL) sebagai momentum peningkatan kualitas diri sebagai mahasiswa.

Acara Kick Off NGL 2025 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional sebagai pembicara antara lain: Dr. H. Zulkifli Hasan (Menteri Koordinator Bidang Pangan), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Cendekiawan Muslim, Ketua Mahkamah Konstitusi periode pertama, dan Prof. Dr. Fasli Jalal (Rektor Universitas YARSI Jakarta).

Para peserta terdiri dari delegasi mahasiswa dan pemuda dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pengkaderan kepemimpinan strategis yang bertujuan membentuk generasi Muslim yang profetik dan berdaya saing global.

Dialog Peradaban Refleksi Sejarah dan Penguatan Aqidah untuk Peradaban Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perwakilan pengurus Hidayatullah dari wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten mengikuti Dialog Peradaban bertajuk “Refleksi Sejarah dan Penguatan Aqidah dalam Membangun Peradaban Islam”, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara ini digelar di Aula Orny Loebis Pusat Dakwah Hidayatullah menghadirkan empat narasumber utama dari Dewan Pengurus Pusat dan Majelis Syura Hidayatullah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan arah perjuangan organisasi menuju fase baru kaderisasi dan dakwah. Turut hadir sebagai narasumber KH. Abdurrahman Muhammad, KH. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, KH. Hamim Thohari, dan KH. Nursyamsa Hadis.

Sesi pertama membahas urgensi transisi organisasi. Ia mengingatkan peserta agar siap mengelola perubahan yang terus berlangsung dalam tubuh organisasi.

“Perkembangan Hidayatullah menuntut kesiapan struktur dan kader dalam menjemput fase baru perjuangan dakwah. Ini bagian dari sunnatullah perjuangan,” ujar Nursyamsa di hadapan peserta.

Berikutnya, narasumber memaparkan sejarah kaderisasi dan perlunya evaluasi sistem tarbiyah. Menurutnya, perjuangan organisasi tak lepas dari konsistensi membina generasi.

“Kita harus belajar dari jejak para kader pendahulu. Dari situ kita perbaiki karakter, militansi, dan sistem pembinaan yang ada,” terang Abdul Aziz yang juga anggota DPD RI 3 periode ini.

Paparan berikutnya dalam nuansa reflektif yang menyoroti arah perjuangan organisasi dari kacamata Al-Qur’an.

Narasumber mengutip pertanyaan filosofis dalam Surah At-Takwir (81):26, “Maka ke mana kamu akan pergi?”, yang dijawab oleh semangat Nabi Ibrahim dalam Surah As-Saffat (37):99–100: menuju Rabb dan memohon generasi yang shalih.

Hamim mengajak kader untuk terus menegaskan arah gerak perjuangan dalam bingkai misi profetik, termasuk menjadikan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah mendatang sebagai momentum refleksi bersama.

“Munas Hidayatullah adalah arena muhasabah nasional untuk memastikan bahwa jalan yang kita lewati adalah jalan yang benar. Sedangkan jalan yang akan kita tempuh ke depan adalah jalan yang efektif dan efisien,” pesannya.

Sesi terakhir digelar dialog interaktif dan menjawab berbagai pertanyaan peserta. Diskusi ini membahas tantangan aktual, mulai dari reformasi struktur internal hingga peran strategis kader dalam peta dakwah nasional dan global.

Seluruh sesi berjalan dinamis. Peserta aktif bertanya dan memberikan catatan. Kehadiran tokoh senior dalam forum ini memberikan penguatan ideologis dan strategi pergerakan yang lebih terarah.

Kick Off NGL Nasional 2025, Pemerintah Dorong Mahasiswa Ambil Peran Strategis Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menegaskan pentingnya peran generasi muda terutama mahasiswa dalam mendukung agenda nasional ketahanan pangan dan hilirisasi industri dalam sambutannya pada acara Kick Off NextGen Leader (NGL) Nasional 2025 yang digelar di Auditorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara gelaran Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) bekerjasama dengan Universitas Yarsi tersebut mengusung tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045” dan dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi termasuk dari luar Jakarta. Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi penguatan kepemimpinan generasi muda Muslim dalam mendukung agenda pembangunan nasional.

Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah memprioritaskan dua agenda besar dalam sektor pangan, yaitu penguatan ketahanan pangan nasional dan percepatan hilirisasi komoditas strategis.

“Ketahanan pangan tidak hanya soal mencukupi kebutuhan konsumsi. Ini tentang bagaimana kita memperkuat produksi lokal, distribusi, hingga akses yang merata di seluruh wilayah. Hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya kita sendiri,” ujar Zulkifli Hasan.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan sistem pertanian terpadu berbasis komunitas, peningkatan kapasitas petani milenial, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung ekosistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan. Upaya tersebut, menurut Zulkifli, memerlukan dukungan dari generasi muda yang inovatif dan berdaya saing.

“Kita butuh anak-anak muda seperti kalian yang bisa menjawab tantangan zaman. Harus terus belajar, berinovasi, dan jangan minder. Kalau gigih, kalian pasti bisa sampai ke puncak,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu Zulkifli Hasan membagikan kisah masa mudanya pada tahun 1984. Ia mengisahkan bagaimana dirinya memulai usaha dagang hingga merambah pasar internasional, termasuk ke Tiongkok dan Vietnam.

Ia menekankan bahwa latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk berkontribusi dalam birokrasi maupun kenegaraan, selama seseorang memiliki semangat belajar dan pantang menyerah.

“Saya hanya lulusan PGA, belajar umum dan agama. Tapi saya bisa masuk ke birokrasi dan dunia kenegaraan sampai hari ini karena saya terus belajar dan tidak menyerah,” tuturnya.

Menurutnya, pendidikan profetik yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kepemimpinan, dan teknologi sangat relevan untuk mendorong transformasi sosial menuju visi Indonesia Emas 2045.

Acara NGL Nasional 2025 ini juga diisi dengan peluncuran program leadership training mahasiswa berbasis nilai-nilai Islam progresif, serta rangkaian pelatihan dan pendampingan kepemudaan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan.

Acara NGL Nasional 2025 ini turut diisi oleh berbagai sesi seminar dan talkshow kebangsaan yang menghadirkan tokoh , pemimpin lembaga, dan pengusaha. Berikut daftar narasumber yang hadir:

Sesi Kick Off NGL 2025 (07.30–12.00 WIB)

  • Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. – Menteri Koordinator Bidang Pangan RI
  • Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A. – Ulama dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah
  • Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D. – Rektor Universitas YARSI, Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI 2010–2011
  • Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H. – Pakar Hukum Tata Negara, Ketua MK RI 2003–2008

Seminar Kebangsaan (13.00–15.30 WIB)

  • Putri Zulkifli Hasan – Wakil Ketua Komisi XII DPR RI
  • Rizki Ulfahadi, S.Ag. – Ketua Umum PP GMH
  • Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. – DPR RI 2004–2019, Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah
  • Teguh Anantawikrama – Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia

Talkshow Inspiratif (15.30–17.00 WIB)

  • Dr. (c). drh. Hj. Evalinda Amir, M.Sos. – Founder & Owner D’BestO Fried Chicken
  • Dr. Ir. Audy Joinaldy, M.Sc. – Wakil Gubernur Sumatera Barat 2021–2024
  • Grani Ayuningtyas Harmani – Analis Literasi dan Edukasi Keuangan OJK

Acara ini terbuka untuk umum secara gratis dan diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai wilayah. Peserta mendapatkan fasilitas berupa seminar kit, makan siang, sertifikat, serta kesempatan meraih doorprize jutaan rupiah.

Program Next Gen Leader 2025 diinisiasi oleh Gerakan Mahasiswa Hidayatullah bekerja sama dengan Universitas YARSI dan berbagai lembaga mitra seperti BMH, Koperasi Syariah Hidayatullah, Pesmadai, dan D’BestO.

Mengokohkan Eksistensi Hidayatullah di Era Kontemporer

0

SEBAGAI organisasi Islam, Hidayatullah dengan pengarusutamaan gerakan pada bidang pendidikan dan dakwah, telah menunjukkan eksistensinya secara progresif dalam dinamika pembangunan masyarakat Indonesia.

Di tengah gelombang perubahan sosial dan teknologi yang mengiringi era kontemporer, tantangan bagi organisasi Islam tidak lagi sekadar mempertahankan idealisme, melainkan bagaimana menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan transformasional yang menjawab kebutuhan zaman.

Dalam konteks ini, Hidayatullah tampil dengan manhaj nabawi sebagai salah satu jatidiri kader sebagai landasan gerakan, serta berperan aktif dalam membangun peradaban Islam melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial serta kegiatan-kegiatan lainnya.

Perkembangan Historis dan Identitas Gerakan

Didirikan pada tahun 1973 di Balikpapan oleh Ustadz Abdullah Said, Hidayatullah tumbuh dari gerakan dakwah lokal menjadi organisasi nasional yang menjangkau hampir seluruh pelosok Indonesia.

Hingga Juni 2025, menurut Samsuddin sebagai Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah, jumlah jaringan secara nasional ada 2.698 titik, belum termasuk pondok pesantren dan institusi pendidikan, BMH, BTH, retail dan klinik.

Hidayatullah mengusung semangat perubahan berbasis tauhid, tarbiyah, dan taklim. Manhaj Nabawi, yaitu metode perjuangan yang meneladani Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat madani, menjadi pemandu manhaji pergerakan Hidayatullah.

Dinamika Tantangan Era Kontemporer

Era kontemporer yang disebut dalam teori kepemimpinan Warren Bennis dan Burt Nanus, penulis buku Leaders: The Strategies for Taking Charge, sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), menuntut organisasi Islam bersikap responsif terhadap perubahan.

Digitalisasi, pluralisme budaya, serta gaya hidup modern yang cenderung individualis dan hedonis menjadi ujian bagi eksistensi Hidayatullah.

Di sisi internal, tuntutan terhadap profesionalisasi organisasi, rekrutmen anggota, efektivitas kaderisasi, dan transparansi pengelolaan menjadi prioritas yang tak terelakkan.

Sedangkan di sisi eksternal, Hidayatullah perlu hadir sebagai solusi di tengah kegelisahan spiritual masyarakat urban maupun pedesaan.

Strategi dan Inovasi Organisasi

Guna mengokohkan eksistensi yang berkelanjutan, Hidayatullah perlu mengadopsi pendekatan adaptif yang tetap berpijak pada nilai-nilai jatidirinya. Strateginya meliputi, Pertama, konsolidasi struktur organisasi dan penguatan identitas jamaah.

Konsolidasi struktur organisasi sangat penting karena menyangkut efektivitas pencapaian visi misi, memperkokoh kekuatan internal, dan ketahanan menghadapi tantangan zaman.

Jadi, konsolidasi tidak dimaksudkan menegasikan tokoh-tokoh lintas generasi. Konsolidasi struktur dimaksudkan memudahkan koordinasi dan pelaksanaan kegiatan, setiap bagian organisasi tahu peran dan tanggung jawabnya sehingga tidak ada tumpang tindih.

Kedua, digitalisasi tarbiyah dan dakwah melalui platform media sosial dan e-learning. Ketiga, pengembangan lembaga pendidikan berbasis kurikulum integratif antara ilmu umum dan ilmu syar’i.

Keempat, inisiatif pemberdayaan ekonomi umat seperti koperasi, fundraising mandiri, dan program kemanusiaan. Dan, Kelima, pengembangan Majelis Qur’an dan Rumah Qur’an Hidayatullah sebagai embrio kebangkitan masyarakat berbasis nilai-nilai Islam.

Eksistensi Hidayatullah di era kontemporer bukanlah sekadar mempertahankan eksistensi fisik kelembagaan, melainkan merumuskan secara tepat makna gerakan Islam yang relevan dengan zaman.

Dengan berpegang pada manhaj nabawi dan semangat transformasi, pergerakan Hidayatullah dengan mainstream tarbiyah dan dakwah memiliki potensi besar untuk menjadi arus utama dalam pembangunan peradaban Islam di Indonesia.

Itulah pentingnya Hidayatullah memperhatikan akar sejarah awal kebangkitannya yang bisa menjadi modal menjawab tantangan masa kini tanpa mengabaikan urgensinya inovasi yang berpijak pada iman, ilmu, dan amal yang pantang menyerah. Tiga elemen yang menjadi warna khas kader Hidayatullah dalam berkontribusi membangun bangsa.

*) Nursyamsa Hadis, penulis Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah. Tulisan ini diolah penulis dari berbagai sumber.

Pramuka Hidayatullah Siap Gelar ISCH III, Kwarda Kaltim Beri Masukan Strategis

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Kalimantan Timur menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Perkemahan Pramuka Islam Nasional ke-3 Hidayatullah (Islamic Scout Camp of Hidayatullah / ISCH III) yang akan digelar pada 21–24 Agustus 2025 mendatang.

Dukungan ini disampaikan secara langsung oleh Ketua Kwarda Kalimantan Timur, Kak H. Fachruddin Djaprie, dalam pertemuan resmi bersama Panitia Pelaksana ISCH III di Kantor Kwarda, Samarinda, pada Senin siang, 3 Shafar 1447 (28/7/2025).

“Secara umum kami menyambut baik ISCH III,” ujarnya di hadapan jajaran pengurus Kwarda dan tamu dari Sako Pramuka Hidayatullah, dikutip dari laman ummulqurahidayatullah.id.

Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Kwarda Kalimantan Timur, Kak Prof. Dr. Ir. H. M. Aswin, M.M., menegaskan pentingnya dukungan terhadap kegiatan kepramukaan yang berbasis nilai-nilai spiritual. “Jambore Islamic (ISCH) yang ketiga ini, sangat bagus sekali dan kita dukung,” tegasnya.

Pada audiensi tersebut, Ketua Panitia ISCH III, Kak Abdul Malik Najamuddin, memaparkan beberapa konsep utama kegiatan. Di antaranya adalah penguatan spiritualitas dan pendekatan ramah lingkungan dalam pelaksanaan kegiatan perkemahan.

“Kami juga ingin menekankan pentingnya ketahanan pangan berbasis pesantren sebagai bagian dari program kemandirian,” kata Kak Malik.

Konsep tersebut diapresiasi oleh Ketua Kwarda. “Mudah-mudahan Hidayatullah menjadi salah satu lumbung yang men-support Kaltim,” kata Kak Fachruddin. Ia juga menyampaikan harapan atas kesuksesan pelaksanaan kegiatan nasional ini.

Turut hadir dalam pertemuan itu, antara lain Anggota Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas) Sako Pramuka Hidayatullah, Supriadi, serta pengurus panitia ISCH III lainnya, seperti Sukman (Sekretaris), Hamimal Mustofa Rizki (Bendahara), Imam Muhammad (Ketua Humas), dan Muhammad Abdus Syakur (Ketua Media Center).

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh semangat kebersamaan. Sejumlah pengurus Kwarda Kaltim turut memberikan arahan dan masukan teknis maupun strategis demi mendukung pelaksanaan ISCH III.

Selain membahas agenda Jambore, audiensi juga menjadi ajang penguatan sinergi antara Pramuka dan lembaga pendidikan berbasis keislaman.

MUI dan ARIBP Gelar Aksi “Bersatu Padu Selamatkan Gaza” pada 3 Agustus di Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) akan menggelar aksi akbar bertajuk “Bersatu Padu Selamatkan Gaza” mulai pukul 06.00 WIB di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025).

Aksi ini dirancang sebagai bentuk solidaritas atas tragedi kemanusiaan yang terus menimpa warga sipil di Gaza, Palestina.

Diperkirakan ratusan ribu warga dari berbagai latar belakang masyarakat Indonesia akan hadir dalam aksi tersebut. Agenda utama mencakup orasi kemanusiaan, doa bersama lintas elemen, pembacaan pernyataan sikap, serta penggalangan dana yang akan difokuskan untuk bantuan pangan dan medis ke Gaza.

Sebagai bagian dari rangkaian persiapan, konsolidasi akbar telah dilakukan sebelumnya oleh jaringan ormas lintas usia dan sektor. Konsolidasi tersebut berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Jakarta Timur, pada Rabu, 30 Juli 2025, dan dihadiri oleh berbagai elemen aktivis, organisasi kepemudaan, serta kemahasiswaan yang turut mendukung agenda solidaritas ini.

Panitia mengimbau seluruh peserta untuk menjaga ketertiban, membawa atribut dukungan Palestina, serta menjadikan aksi ini sebagai bentuk unjuk kekuatan moral dan kepedulian Indonesia terhadap penjajahan dan genosida yang berlangsung di abad modern.

Aksi ini merupakan respons terhadap kondisi darurat di Gaza yang saat ini tengah mengalami pembantaian bersenjata dan blokade total. Situasi tersebut telah menyebabkan kelaparan massal dan jatuhnya korban jiwa secara tragis, termasuk di antaranya anak-anak dan perempuan.

Menurut keterangan yang dihimpun dari panitia, tokoh-tokoh publik yang dijadwalkan hadir meliputi para ulama, da’i nasional, aktivis kemanusiaan, perwakilan ormas, hingga sejumlah artis.

Mereka akan menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan kepada publik dalam rangka membangun kesadaran kolektif terhadap penderitaan yang dialami rakyat Palestina.

Kegiatan ini terbuka untuk seluruh kalangan masyarakat dan bertujuan membangkitkan kepedulian publik nasional.

Penyelenggara juga berharap agar aksi ini dapat memberikan tekanan moral kepada pemangku kebijakan di tingkat nasional dan internasional untuk segera menghentikan kekerasan serta mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan.