Beranda blog Halaman 98

Transformasi Diri dan Sosial Langkah Pertama untuk Mewujudkan Peradaban Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah, sebagai salah satu organisasi Islam, hadir dengan spirit dan tekad mulia untuk turut serta dalam membangun peradaban Islam yang dimulai dari transformasi diri dan sosial.

Demikian dikatakan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Drs. Nursyamsa Hadis saat sambutan membuka acara Bedah Buku “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” karya Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, MA, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa, 8 Dzulqa’dah 1446 (6/5/2025).

Visi ini menurutnya merupakan panggilan ideologis yang berakar pada metode kenabian yang telah terbukti membangun peradaban agung.

Menurut Nursyamsa, kejayaan Islam dapat diraih melalui pendekatan yang telah divalidasi oleh sejarah, yakni manhaj nabawi atau minhajun nubuwwah.

“Konsep, metode, atau manhaj yang digunakan membumikan kembali kejayaan Islam adalah yang sudah terbukti berhasil membangun peradaban agung yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah SAW dalam mengemban risalah Islam,” katanya.

Dia menjelaskan, Manhaj Nabawi adalah sistem kenabian yang menawarkan kerangka holistik untuk membentuk individu, keluarga, dan masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai wahyu. Ikhtiar pola pendekatan ini tidak hanya relevan pada masa Rasulullah, tetapi juga menjadi panduan penting dalam meniti perjalanan zaman.

Nursyamsa mengungkapkan, manhaj nabawi bertujuan melahirkan kader intelektual yang menjadi pelanjut risalah Nabi.

Dia menerangkan, kader intelektual ini memiliki tugas strategis yaitu to initiate (memulai), to lead the change (memimpin perubahan), dan to create change (menciptakan perubahan).

Kader intelektual ini adalah agen transformasi yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak proaktif untuk membawa perubahan sosial yang luhur.

“Dalam perspektif ideologis atau manhaji, output konsep manhaj nabawi adalah melahirkan kader intelektual. Sebagaimana kita pahami bersama bahwa seorang intelektual adalah pelanjut penyampai risalah Nabi untuk setiap zaman dan tempatnya,” katanya.

Memberi Dampak Kebaikan pada Diri dan Masyarakat

Namun, lebih lanjut Nursyamsa menjelaskan, sebelum memberikan dampak kepada masyarakat, seorang intelektual, pertama tama harus terlebih dahulu menempa dirinya.

Transformasi diri ini, menurutnya, menjadi prasyarat utama. Seorang intelektual harus memiliki daya juang, aura kepemimpinan, dan kekuatan batin untuk menggerakkan perubahan.

“Saat yang sama juga seorang intelektual mempunyai tanggungjawab terhadap dirinya sendiri sebelum dia memberikan impact kepada masyarakat,” terangnya.

Dalam konteks Hidayatullah, kampus pesantren berperan sebagai “menara gading” tempat kader menempa kualitas spiritual, emosional, dan intelektual.

“Jadi seorang intelektual harus berusaha menyempurnakan dirinya di ‘menara gading’ tempat dia bertafakkur, bersuluk, belajar berpikir,” ujarnya. Dalam proses itu menghasilkan kader yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga hebat secara spiritual dan emosional.

Langkah kedua, lanjutnya, adalah transformasi keluarga, yang dalam konteks ini merujuk pada komunitas santri dan warga kampus.

“Kedua, dia harus melakukan perubahan terhadap keluarganya. Siapa keluarganya? Keluarganya adalah para santri dan warga kampus,” imbuhnya.

Kader intelektual bertugas memperkuat, mendampingi, dan mencerdaskan komunitas ini sebagai basis kekuatan untuk pengabdian sosial.

Ia lantas mengibaratkan peran ini dengan Rasulullah SAW, yang tidak hanya bekerja sendiri, tetapi juga membangun kekuatan bersama keluarga dan sahabatnya.

“Jadi ibarat seorang Nabi. Nabi itu tidak hanya bekerja sendiri, dia juga menciptakan kekuatan di tengah keluarganya,” katanya.

Menurut Nursyamsa, perubahan menuju lebih baik mesti dimulai dari diri sebagaimana keluarga dan sahabat Nabi yang menjadi inti energi perubahan sosial.

“Jadi Muhammad dan keluarganya adalah intelektual dan keluarganya beserta sahabatnya juga itu merupakan inti energi yang dia bawa untuk perubahan sosial,” terangnya.

Terakhir, jelas Nursyamsa, kader intelektual tidak boleh terjebak dalam isolasi akademik. Mereka harus turun dari “menara gading” dan terlibat langsung dalam isu-isu sosial.

“Perlu diingat bahwa area perubahan itu bukan saja diri dan keluarganya, melainkan dia membawa diri dan keluarganya keluar dari kotak kampus turun dari menara gading untuk terlibat dalam isu-isu sosial di tengah-tengah masyarakat,” tegas Nursyamsa.

Dengan demikian, imbuhnya, manhaj nabawi tidak hanya menciptakan individu unggul, tetapi juga komunitas yang siap mengabdi untuk kebangkitan umat, bangsa, dan negara.[]

BMH Tingkatkan Semangat Amil, Berjuang untuk Umat, Bangsa, dan Negara

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) terus berupaya meningkatkan semangat dan motivasi amil zakat dalam bekerja untuk umat, bangsa, dan negara.

Dalam sebuah kesempatan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Ketua Pembina BMH Pusat, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, memberikan paparan tentang pentingnya memiliki semangat juang yang tinggi dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalani oleh amil.

Dalam paparannya, KH. Dr. Nashirul Haq menyampaikan bahwa amil BMH harus memiliki semangat yang tinggi, sebagai amil yang haroki, yang berarti seseorang yang selalu bergerak aktif dan tidak pasif.

“Haroki itu bukan hanya bergerak, tetapi juga seorang mujahid, seorang pejuang yang siap menumpahkan seluruh potensi untuk kemajuan umat,” ujarnya, Rabu, 9 Dzulqa’dah 1446 (7/5/2025).

Ia menambahkan bahwa setiap amil harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, seperti yang dicontohkan oleh Ust. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.

“Tidak ada waktu yang terbuang. Seperti beliau, setiap waktu digunakan untuk ibadah dan amal shaleh. Tahajud di tengah malam, shalat subuh, syuruq, dhuha, bekerja di lapangan, dan melaporkan kegiatan hingga larut malam. Begitu selesai, bergegas untuk urusan berikutnya,” katanya.

KH. Dr. Nashirul Haq juga mengingatkan bahwa dalam bekerja untuk umat, amil harus mengedepankan tekad dan niat yang tulus.

“Allah SWT tidak pernah mengabaikan upaya-upaya manusia. Semua akan dihitung oleh-Nya. Tidak ada yang lepas dari perhitungan-Nya,” tegasnya.

Dengan semangat yang tak kenal lelah, BMH berupaya menjadikan amil sebagai pejuang yang penuh perjuangan, baik secara intelektual maupun spiritual.

Keberkahan selalu ada dalam setiap langkah harokah yang diambil, dan semangat inilah yang diharapkan dapat mendorong keberlanjutan perjuangan zakat dalam membangun umat yang lebih baik.

BMH terus mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk mendukung gerakan ini, agar setiap upaya yang dilakukan bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Supendi selaku Dirut BMH Pusat menegaskan bahwa kebutuhan mendasar untuk kemajuan adalah hadirnya amil yang punya semangat, kompetensi dan mampu terus adaptif terhadap perubahan.*/

Staf Khusus Menteri Agama RI Apresiasi Buku ‘Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu’

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana zaman yang dibayang-bayangi krisis moral dan kaburnya pemahaman holistik terhadap Alquran, hadir sebuah buku yang membuka cakrawala baru dalam memahami metode dakwah Rasulullah SAW.

“Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” karya Dr. Nashirul Haq, MA, menjadi jendela untuk menelaah kembali cara wahyu diturunkan, dipahami, dan dijalankan—sebuah pendekatan yang berakar dari pemikiran Ust. Abdullah Said, pendiri gerakan dakwah Hidayatullah.

Buku ini tidak sekadar membahas Alquran sebagai teks, tetapi sebagai sistem hidup yang diturunkan secara bertahap, sistematis, dan mengakar dalam jiwa.

Dari Al-Alaq, Al-Qolam, Al-Muzzammil, Al-Mudatstsir hingga Al-Fatihah, Dr. Nashirul menawarkan perspektif kepada pembaca untuk memahami bagaimana wahyu pertama membentuk tauhid dan pencerahan, melahirkan akhlak, menumbuhkan kesadaran ibadah, hingga menggerakkan dakwah sebagai rahmat bagi semesta.

Yang menarik, dalam bedah buku ini hadir pembanding yang juga memberikan apresiasi yaitu KH. Farid F. Saenong, MA, MSc, Ph.D, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI.

Ia membuka pembicaraan dengan kenangan masa kecil yang akrab dengan Majalah Suara Hidayatullah, menandai benang merah perjalanannya dengan spirit dakwah Hidayatullah.

Ia bahkan mengajak hadirin untuk membacakan Al-Fatihah bagi Ust. Abdullah Said—sebuah penghormatan yang menyentuh.

“Bedah buku ini tidak mudah, karena penulisnya hadir langsung bersama kita,” ujarnya, disambut tawa hangat para peserta.

KH. Farid tidak menutup-nutupi adanya perbedaan pendekatan. Namun ia justru menekankan bahwa perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan.

“Semakin lama saya hidup di Barat, saya merasa semakin tradisional dalam banyak hal,” ungkapnya, seraya menyampaikan bahwa justru dari Barat ia belajar untuk lebih berkontribusi bagi komunitas Muslim, bukan sekadar menyerap ilmu lalu pulang.

Ia menyebut buku ini sebagai karya yang “elitis”—bukan dalam makna eksklusif, tetapi karena kedalamannya membutuhkan pembacaan yang sungguh-sungguh.

“Ini bukan bacaan ringan. Tapi justru karena itu, pemahaman yang lahir dari buku ini sangat penting untuk dijadikan qowa’idul ‘ammah, pedoman umum dalam gerakan dakwah kita,” jelasnya.

KH. Farid juga mengakui bahwa awalnya ia menduga sistematika wahyu yang dibahas di buku ini bersifat utuh dan struktural dari awal sampai akhir mushaf.

“Ternyata saya keliru. Sistematika yang dibahas adalah tartib nuzuli pada lima surah pertama. Tapi justru dari simplifikasi inilah muncul kedalaman dan hikmah yang luar biasa,” katanya.

Salah satu hikmah itu adalah—menurutnya—adab dalam perbedaan. Bahwa umat Islam bisa bergerak dalam barisan masing-masing tanpa saling menghakimi, dan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada konflik.

“Saya tidak menemukan aroma pertentangan dari buku ini. Justru saya menangkap ajakan untuk sikap yang lebih fair, terbuka, dan penuh akhlak. Bahkan tidak ada kalimat dari Ketum DPP Hidayatullah ini yang memuat narasi penghakiman atas perbedaan yang ada, ini wisdom saya kira,” ungkapnya.

Buku “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” bukan hanya tentang bagaimana wahyu diturunkan. Ia adalah tentang bagaimana manusia—khususnya umat Islam—dapat meniti jalan dakwah dengan bekal yang benar, cara pandang yang utuh, dan etika dalam perbedaan.

Buku ini mungkin bukan bacaan sehari jadi. Tapi ia pantas dibaca berkali-kali. Karena di balik tiap halaman, tersimpan jejak perjuangan membangun peradaban dengan cahaya wahyu—seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW, dan kini diwariskan kembali melalui pemikiran para pewarisnya.*/

Bedah Buku “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu”, Menggali Alquran Secara Substansial

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah krisis moral global dan kebingungan sebagian umat dalam memahami Alquran secara utuh, hadir sebuah buku yang memberi arah sekaligus pencerahan “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” karya Dr. Nashirul Haq, MA.

Buku ini bukan sekadar karya akademik, tapi juga rangkuman dari pergulatan panjang dalam menelusuri jejak dakwah Rasulullah SAW sebagaimana digagas oleh pendiri Hidayatullah, Ust. Abdullah Said.

“Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menggugah, Rasulullah SAW membangun peradaban hanya dalam waktu 23 tahun dengan Alquran. Mengapa kita tidak bisa?” Maka, jawabannya pun ditelusuri—ada sistem yang teratur dalam proses itu, yakni Sistematika Wahyu,” papar Nashirul mengawali ulasannya.

Bedah buku yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa, 8 Dzulqa’dah 1446 (6/5/2025) ini mengantar publik menyelami kembali bagaimana Alquran turun secara bertahap, sistematis, dan sesuai kebutuhan zaman.

Bagi para kader dakwah Hidayatullah, pola ini mungkin sudah terasa, namun seringkali belum terbahasakan. Di sinilah pentingnya buku ini menjadi jembatan antara rasa dan nalar, antara pengalaman ruhani dan pemikiran sistemik.

Berawal dari inspirasi Tafsir Sinar karya Buya Malik Ahmad yang menafsirkan Alquran berdasarkan urutan turunnya, Ust. Abdullah Said menyusun konsep dasar dalam berislam: bukan dari urutan mushaf, tapi dari sistematika wahyu.

“Misalnya, Al-Alaq sebagai awal turunnya wahyu bukan sekadar seruan membaca, tapi kesadaran tauhid dan pencerahan akal. Islam bukan dogma, tapi pembebasan manusia menuju jati dirinya. Ibn Taymiyah pun menyebut bahwa dalam Al-Alaq sudah terkandung hujjah tentang keesaan Allah,” tegas Dr. Nashirul Haq, MA yang juga Ketua Umum DPP Hidayatullah.

Kemudian turun Al-Qolam, yang memperkenalkan akhlak Qur’ani dan menyusun fikrah yang lurus. Dilanjutkan Al-Muzammil, seruan untuk memperkuat diri lewat ibadah malam sebagai buah dari kesadaran tauhid.

Al-Mudatstsir datang sebagai panggilan dakwah. Saat akhlak tertanam, ibadah menjadi nafas, maka menyampaikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam adalah keniscayaan.

Hingga pada akhirnya, Al-Fatihah menjadi simpulan sekaligus fondasi ajaran Islam—mengandung konsepsi, pola dasar, dan metode hidup dalam satu paket sempurna.

Dr. Nashirul Haq, dalam bukunya ini, bukan hanya mengulas teori. Ia merangkum sejarah perjuangan, pengalaman spiritual, dan arah perubahan peradaban dengan pendekatan yang segar dan membumi.

Bedah buku ini menghadirkan narasumber pembedah Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI KH. Farid F. Saenong, M.Sc., Ph.D.

Buku Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu dipandang bukan hanya penting untuk kalangan pesantren atau kader dakwah. Buku ini adalah ajakan untuk siapa pun yang ingin membaca Alquran dengan hati, memahami Islam dengan cara yang sistematis dan menyeluruh.

Bacaan ini bukan untuk sekali duduk. Ia akan terus memanggil pembacanya untuk membuka lagi, merenung, dan menghidupkan kembali semangat membangun peradaban—sebagaimana yang telah dimulai oleh Rasulullah SAW, dari satu ayat yang menggetarkan: Iqra’.*/

Seminar IAIH Soroti Pentingnya Peran Pesantren dalam Membangun Kesadaran Hukum

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Seminar dan diskusi hukum yang diselenggarakan oleh mahasiswa Jurusan Hukum Islam Institut Agama Islam Hidayatullah (IAIH) Batam pada Ahad, 6 Dzulqaidah 1446 (4/5/2025), menjadi wadah penting untuk menggali isu kesadaran hukum dalam konteks negara hukum yang berkeadilan.

Bertemakan “Strategi dan Tantangan Dalam Membangun Kesadaran Hukum”, acara ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Dudung A. Abdullah, S.H., M.H., M.Ag., Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah, dan Dipo Septiawan, S.H., M.H., hakim Pengadilan Negeri Batam.

Acara yang dihadiri oleh Ketua IAIH Batam, Muhammad Siddik, M.Pd., serta jajaran dosen dan mahasiswa ini berlangsung meriah di Aula Kampus Hidayatullah, Tanjung Uncang, Batam.

Peran Pesantren dalam Membangun Kesadaran Hukum

Dr. Dudung A. Abdullah menyoroti peran strategis pesantren sebagai pilar dalam membangun kesadaran hukum yang mendukung tegaknya negara hukum berkeadilan.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang mampu menanamkan nilai-nilai hukum Islam yang selaras dengan prinsip keadilan.

“Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran hukum masyarakat melalui pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai syariah yang berkeadilan,” katanya.

Menurut Dudung, pesantren dapat mengintegrasikan pendidikan hukum Islam ke dalam kurikulumnya, baik melalui pengajaran fiqh, ushul fiqh, maupun diskusi kontekstual tentang hukum nasional.

Pendekatan ini menurutnya memungkinkan santri memahami hukum secara holistik, tidak hanya dari perspektif agama, tetapi juga dalam kerangka negara hukum. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pesantren dan lembaga hukum formal, seperti LBH, untuk memberikan literasi hukum kepada masyarakat luas.

Tantangan utama yang diidentifikasi Dudung adalah rendahnya literasi hukum di kalangan masyarakat pedesaan dan keterbatasan akses terhadap informasi hukum.

Untuk mengatasi hal ini, ia mengusulkan penguatan peran pesantren sebagai pusat advokasi hukum melalui pelatihan paralegal bagikyai, pendidik, guru, dan santri. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi jembatan antara hukum formal dan hukum adat atau syariah yang hidup di masyarakat.

Strategi dan Tantangan Kesadaran Hukum di Masyarakat

Narasumber kedua, Dipo Septiawan, membahas strategi dan tantangan dalam membangun kesadaran hukum di tengah masyarakat. Sebagai hakim yang berpengalaman, Dipo menekankan bahwa kesadaran hukum merupakan fondasi utama tegaknya supremasi hukum.

“Kesadaran hukum masyarakat adalah cerminan dari efektivitas penegakan hukum. Tanpa kesadaran, hukum hanya menjadi aturan di atas kertas,” imbuhnya.

Dipo menguraikan beberapa strategi untuk meningkatkan kesadaran hukum, antara lain sosialisasi hukum yang masif melalui media sosial, pendidikan hukum di sekolah-sekolah, dan pelibatan tokoh masyarakat dalam penyuluhan hukum.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan kontekstual yang mempertimbangkan budaya lokal agar hukum dapat diterima tanpa resistensi. Sebagai contoh, di Batam yang memiliki masyarakat multikultural, penyuluhan hukum harus dilakukan dengan bahasa yang inklusif dan menghormati keragaman budaya.

Namun, Dipo juga mengakui adanya tantangan signifikan, seperti apatisme masyarakat terhadap hukum, rendahnya kepercayaan terhadap institusi penegak hukum, dan maraknya disinformasi hukum di era digital.

Untuk mengatasi tantangan ini, ia mengusulkan penguatan integritas aparatur hukum dan peningkatan akses masyarakat terhadap informasi hukum yang valid. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi hukum menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem hukum yang kondusif.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Seminar ini dibuka secara resmi oleh Ketua IAIH Batam, Muhammad Siddik, M.Pd., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran mahasiswa hukum Islam dalam mengedukasi masyarakat tentang hukum.

“Mahasiswa hukum Islam harus menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani hukum syariah dan hukum nasional dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Secara keseluruhan, seminar ini sebagai salah satu komitmen IAIH Batam dalam menghasilkan intelektual hukum yang berkontribusi pada pembangunan negara hukum yang berkeadilan.

Diskusi ini juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pendidikan, praktik hukum, dan keterlibatan masyarakat untuk menciptakan kesadaran hukum yang kokoh.*/

Kolaborasi Hijau dari Konawe Selatan untuk Melawan Krisis Iklim dan Bumi yang Lebih Lestari

KONSEL (Hidayatullah.or.id) — Sebuah inisiatif bermakna tumbuh di tepian pesisir Sulawesi Tenggara dalam rangka semarak Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-22 Kabupaten Konawe Selatan, Ahad, 6 Dzulqaidah 1446 (4/5/2025).

Pada hari itu Hidayatullah Mangrove Center (HMC) bersama Yayasan Batundu Lestari Indonesia, Komunitas Baca Bincang Buku (Babibu), Pondok Tahfidz Ardian Husein, Sahabat Aktivis Lingkungan Konawe Selatan, serta para guru dari SMAN 03 Konawe Selatan bergandengan tangan melaksanakan kegiatan penanaman ratusan pohon mangrove dan aksi bersih pantai di Gelora Beach, Desa Torobulu.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Konawe Selatan, Drs. Annas Mas’ud, M.Si., mewakili pemerintah daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Direktur Hidayatullah Mangrove Center, Ahmad Saputra, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih dari sekadar menanam pohon.

Inisiatif ini, terang Ahmad, adalah upaya strategis untuk menjaga kelestarian hutan mangrove yang memiliki fungsi vital dalam menjaga pesisir dan mencegah abrasi.

Ahmad menekankan urgensi pelibatan lebih banyak pihak di masa depan. “Olehnya itu, harapan kami semoga ke depannya bisa semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir ini,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima Hidayatullah.or.id, Senin.

Dia menjelaskan, mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di antara pasang surut air laut. Ia adalah benteng alam yang melindungi garis pantai dari kikisan abrasi yang semakin parah akibat perubahan iklim.

Akar-akar mangrove yang kuat menjerat sedimen, menyaring polusi, dan menyediakan habitat bagi beragam spesies laut.

Dalam konteks perubahan iklim global, Ahmad menjelaskan, ekosistem ini juga berperan sebagai penyerap karbon yang efektif, menyimpan karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan.

Apresiasi atas kolaborasi ini datang dari Rasfiuddin Sabaruddin, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah yang juga putra asli Sulawesi Tenggara.

Menurut Rasfiuddin, kegiatan di Konawe Selatan ini menjadi penting, bukan hanya karena skalanya, tapi karena sifat kolaboratifnya.

Di sinilah, terang dia, letak esensi gerakan lingkungan modern yaitu kolaborasi lintas komunitas, institusi pendidikan, organisasi sosial, dan pemerintah.

Menurutnya ini bukan lagi soal siapa yang paling peduli, tapi bagaimana semua pihak menyatukan kepedulian mereka dalam aksi nyata.

“Saya sangat mengapresiasi kolaborasi luar biasa ini. Hal ini adalah bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan, khususnya di tanah kelahiran saya sendiri,” ungkap pria kelahiran Konawe ini.

Rasfiuddin menegaskan bahwa pelestarian mangrove tidak boleh dilihat sebagai kegiatan seremonial semata. Ia menempatkan aksi ini dalam konteks yang lebih besar, yakni sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

“Kegiatan seperti ini harus menjadi gerakan bersama. Saya berharap makin banyak pemuda, masyarakat, dan pemerintah yang bersinergi dalam menjaga alam kita,” ujarnya.

Dia menambahkan, gerakan lingkungan yang berkelanjutan memang menuntut partisipasi kolektif. Tak cukup hanya dengan seratus pohon yang ditanam hari ini, tapi perlu ribuan pohon lagi dan perubahan pola pikir masyarakat tentang pentingnya ekosistem pesisir.

Dia pun mendorong inisiaif serupa juga dilakukan oleh komunitas terutama Pemuda Hidayatullah di berbagai wilayah yang dinahkodainya. Apalagi bagi Rasfiuddin isu besar seperti krisis iklim bisa diterjemahkan menjadi gerakan lokal yang impactfull.

“Pelestarian lingkungan yang kita lakukan hari ini adalah untuk menyemai harapan baru bagi generasi kita dan berikutnya. Ada pelibatan siswa, santri, komunitas baca, yang secara tidak langsung sedang membangun ekologi kesadaran baru bahwa mencintai bumi adalah tugas bersama,” tandasnya, seraya menegaskan gerakan hijau telah menjadi denyut nadi masa depan kita.*/

Asesmen Hidayatullah Banten Perkuat Struktur Manajemen dan Strategi Dakwah

SERANG (Hidayatullah.or.id) — Sabtu pagi itu, 3 Mei 2025, di Banten, ada pemandangan yang agak lain. Bukan soal cuaca yang cerah atau soal jalan tol yang makin mulus. Tapi di sebuah Rumah Qur’an bernama Al Amin, ada kegiatan yang diharapkan akan punya pengaruh besar ke masa depan dakwah di wilayah itu.

Namanya asesmen. Kegiatan yang di telinga sebagian orang terdengar kaku. Formal. Tapi hari itu, asesmen ini terasa agak hangat. Sebab yang dinilai bukan sekadar angka-angka atau lembar isian. Yang disentuh adalah fungsi utama manajemen. Tepatnya, sumber daya insani.

Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sedang bergerak serius. Melalui Departemen Sumber Daya Insani (SDI), mereka melakukan asesmen menyeluruh kepada seluruh pengurus tingkat wilayah — di Banten kali ini yang jadi tuan rumah.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh sang Ketua Departemen, Dr. Muhammad Arfan AU, yang datang tak hanya membawa instrumen asesmen, tapi juga membawa semangat, bahwa dakwah ke depan tak bisa lagi mengandalkan semangat saja. Struktur harus kuat. SDM harus siap.

Yang menarik, dalam asesmen ini DPP Hidayatullah menggandeng pihak luar. Seorang profesional di bidang pengembangan SDM, Teungku Sahindra, hadir langsung memberikan pendampingan. Ini sinyal bahwa organisasi ini mulai membuka jendela lebih lebar, menyerap praktik terbaik dari luar, tanpa kehilangan akarnya.

Para personel DPW Banten pagi itu mengikuti serangkaian tahapan: pengisian instrumen kompetensi, wawancara personal, hingga observasi peran.

Ini bukan sekadar formalitas. Targetnya jelas: standarisasi. Bahasa yang bagi sebagian aktivis dakwah dulu terasa asing — kini justru jadi kebutuhan. Karena tantangan dakwah hari ini menuntut kapasitas yang terukur, kompetensi yang nyata, bukan sekadar niat baik.

Dr. Arfan dalam sambutannya menyebut kegiatan ini bukan semata evaluasi, tapi juga pembinaan. “Ini penguatan karakter dan kompetensi kepemimpinan,” ujarnya.

Kata ‘karakter’ dan ‘kompetensi’ itu menarik. Keduanya kerap dipisahkan dalam banyak pelatihan. Di sini justru digandengkan. “Dakwah itu soal hati yang lurus dan akal yang terasah,” katan Arfan.

Ketua DPW Hidayatullah Banten, Ust. Ahmad Maghfur, pun menyambut antusias. Ia berharap asesmen ini jadi tonggak untuk memperkuat struktur manajemen dan strategi dakwah.

Kata ‘struktur’ yang dulu dianggap beku, kini justru jadi kunci. Karena tanpa struktur yang kuat, semangat bisa bocor ke mana-mana.

Langkah asesmen ini memang bagian dari strategi besar DPP Hidayatullah. Disadari bahwa organisasi yang ingin bermain di panggung utama dakwah dan tarbiyah tak bisa lagi bersandar pada pola lama. Harus ada standarisasi.

Arfan memandang, setiap pengurus wilayah harus punya kapasitas yang sejalan. Kompetensi harus setara. Dan yang tak kalah penting, integritas harus terjaga.

Dengan langkah ini, DPP Hidayatullah sedang mengasah mesinnya. Mesin dakwah yang diharapkan bisa berjalan lebih profesional, lebih terarah, lebih sinergis. Tidak lagi semata digerakkan oleh heroisme perorangan, tapi oleh struktur yang bergerak bersama.

Begitu juga dakwah. Ia bukan lagi sekadar soal retorika mimbar. Tapi soal bagaimana struktur, SDM, dan manajemen berjalan serempak.

Maka, dari Rumah Qur’an Al Amin Banten itu, sedang terjadi resolusi untuk sebuah arah baru yang lebih segar dan menyegarkan. Yang dinilai bukan semata siapa yang paling fasih, tapi siapa yang paling siap membawa dakwah ini masuk ke babak baru: lebih modern, lebih profesional, tanpa kehilangan ruhnya.

Karena, seperti kata bijak: tradisi yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi dengan zaman.*/

Sinergi Pembinaan Umat Ajarkan Tata Cara Shalat Sesuai Tuntunan Nabi

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 60 peserta dari binaan Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH), jamaah sekitar pesantren, dan anggota halaqah mengikuti Daurah Fiqih Shalat yang digelar oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kabupaten Nunukan, Kamis, 3 Zulkaidah 1446 (1/5/2025).

Program ini menjadi bukti nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah (ZIS) bukan hanya soal angka, tetapi soal perubahan. Perubahan pemahaman, perubahan kebiasaan, hingga perubahan generasi.

“Alhamdulillah kegiatan hari ini sangat bermanfaat, dan sangat penting bagi kami karena shalat adalah ibadah yang paling utama dalam Islam,” ujar Ibu Jumiati, salah satu peserta.

Ia mengaku selama ini masih banyak hal teknis dalam shalat yang belum sepenuhnya dipahami.

“Setelah ikut dauroh ini, saya jadi tahu mana gerakan dan bacaan yang benar,” tambahnya.

Pelatihan yang digelar intensif sehari ini digelar sebagai bagian dari gerakan dakwah sinergis yang terus mendorong masyarakat Muslim, khususnya di wilayah perbatasan seperti Nunukan, agar memahami ibadah dari akar ilmu yang benar.

“Shalat adalah tiang agama. Jika tiangnya goyah, seluruh bangunan bisa roboh. Itulah mengapa program seperti ini penting untuk terus digulirkan,” ujar M. Nor Komara, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara.

BMH memahami bahwa gerakan zakat tidak berhenti di distribusi bantuan, tapi juga mendidik. Menyentuh sisi spiritual umat agar ibadah yang menjadi fondasi hidup dilakukan dengan lurus dan sahih.

Dengan semangat berbagi dan membangun umat dari aspek ilmu, BMH mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung dakwah di daerah pelosok dan perbatasan. Dukungan Anda, sekecil apapun, bisa menjadi sebab seseorang belajar shalat dengan benar.*/

Wakil Walikota Apresiasi TK Ya Bunayya Edukasi Kehidupan Bernegara Sejak Dini

0
Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc., menyambu anak anak TK Ya Bunayya Hidayatullah di lobby kantornya (Foto: PPID Baubau)

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan usia dini memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan wawasan anak sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu pendekatan inovatif dalam pendidikan anak usia dini adalah mengintegrasikan proses pembelajaran dengan aktivitas rekreasi yang kontekstual.

Pada hari Rabu, 2 Zulkaidah 1446 (30/4/2025), puluhan guru dan murid Taman Kanak-Kanak (TK) Ya Bunayya Hidayatullah melaksanakan studi tour ke kantor Wali Kota Baubau, Palagimata.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc., yang melihatnya sebagai langkah unik dan menarik dalam mendekatkan anak-anak pada kehidupan pemerintahan kota sejak usia dini.

Menurut Wawali, kegiatan ini sebuah bentuk edukasi yang dirancang untuk memperkenalkan anak-anak pada konsep dasar kehidupan bernegara dalam lingkup lokal.

Dalam pandangannya, pendekatan ini memadukan unsur edukasi dan rekreasi secara harmonis, sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.

“Pengenalan itu suatu bentuk edukasi sekaligus juga rekreasi bagi anak-anak. Dan pada usia dini seperti itu bentuk edukasi harus sedekat mungkin dengan dunia mereka bermain,” ujar Wa Ode Hamsinah Bolu.

Wawali Wa Ode Hamsinah menekankan pentingnya metode pembelajaran yang menyenangkan dan relevan bagi anak-anak, sebagaimana yang juga ditegaskan oleh pakar pendidikan anak usia dini.

Aktivitas bermain, dalam hal ini, menjadi medium efektif untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan yang kompleks, seperti pengenalan terhadap sistem pemerintahan.

Lebih lanjut, Wawali menyoroti keunikan pilihan lokasi studi tour, yaitu kantor Wali Kota Baubau, yang tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang pembelajaran tentang kehidupan bernegara dalam skala kecil.

“Adapun lokasi bermain mereka di kantor Wali Kota Baubau dan itu juga suatu hal yang menarik yang memberi edukasi ekstra artinya bermain di tempat yang mereka harus mengenal kehidupan bernegara dalam skop kecil sebenarnya,” ungkapnya.

Kantor Wali Kota, sebagai simbol kepemimpinan dan pengelolaan pemerintahan kota, menjadi sarana nyata bagi anak-anak untuk memahami peran serta tanggung jawab seorang pemimpin dalam konteks yang sederhana dan mudah dipahami.

Kunjungan edukasi ini, katanya, sejalan dengan teori pembelajaran kontekstual, yang menekankan pentingnya menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan nyata anak.

Dalam interaksinya dengan anak-anak, Wawali juga berupaya menyampaikan konsep kepemimpinan pemerintahan secara langsung dan sederhana.

“Makanya tadi waktu saya bertemu dengan anak-anak itu, juga saya sampaikan tahu tidak Bapak Walikota? Walikota itu apa? Walikota itu di Baubau adalah yang memimpin pemerintahan kita di Kota Baubau. Itu sebenarnya bentuk edukasi kepada anak-anak di usia dini terhadap sistem ketatanegaraan kita,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Wawali Wa Ode Hamsinah menunjukkan pendekatan komunisi interaktif, di mana anak-anak diajak untuk memahami peran wali kota melalui bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif mereka.

Pengajaran ini baginya senafas dengan prinsip pendidikan kewarganegaraan dini (civic education), yang bertujuan menanamkan kesadaran tentang struktur dan fungsi pemerintahan sejak usia muda.

Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc., berfoto bersama anak anak TK Ya Bunayya Hidayatullah di lobby kantornya (Foto: PPID Baubau)
Wahana Pembelajaran Kebangsaan

Sementara itu, Kepala TK Yaa Bunayya di Baubau Ustazah Misnawati, S.Pd.I., menyampaikan tujuan dari kegiatan ini.

Menurut Misnawati, kegiatan studi tour ini memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai upaya untuk membangun rasa kebangsaan dan kepekaan sosial pada anak-anak.

“Dengan mengenal lingkungan pemerintahan kota, anak-anak diajak untuk memahami bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, yang diatur oleh sistem dan nilai-nilai bersama,” kata Misnawati.

Inisiatif ini menurutnya juga menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan dan pemerintah daerah dapat berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Dalam pada itu, Misnawati menyebut studi tour ke kantor Wali Kota Baubau ini menjadi bagian dari kehidupan nyata anak-anak, yang mengajarkan mereka untuk menghargai peran pemerintahan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan demikian, studi tour ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun fondasi pendidikan yang kokoh bagi anak-anak Kota Baubau,” tandas Misnawati.*/

Hidayatullah Terus Kuatkan Upaya Bentengi Akhlak Umat dari Pengaruh Negatif Globalisasi

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara menggelar acara Halal Bi Halal sekaligus Silaturrahim Syawal di Kampus Utama Pondok Pesostersantren Hidayatullah Medan, Desa Bandar Labuhan Bawah, Sabtu, 3 Zulkaidah 1446 H (1/5/2025).

Bertemakan “Komitmen Perjuangan & Transformasi Jati Diri Hidayatullah dalam Keluarga,” kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kader Hidayatullah untuk merefleksikan perjuangan dakwah dan memperkuat ikatan kebersamaan.

Acara ini dihadiri oleh segenap unsuer mulai dari lembaga internal hingga pengelola amal usaha Hidayatullah di wilayah Sumatera Utara.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua DPW Hidayatullah Sumut, Ust. Subur Pramudya, menyampaikan refleksi tentang perjalanan organisasi di tengah dinamika zaman.

Subur menyoroti kompleksitas tantangan dakwah di era modern, khususnya dalam upaya membentengi akhlak umat dari pengaruh negatif globalisasi dan sekularisme.

Ia menegaskan sikap introspektif yang menjadi ciri kepemimpinan Islami seraya terus menguatkan kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan bukan hanya soal otoritas, tetapi juga tanggung jawab moral untuk terus memperbaiki diri demi kebaikan umat.

“Kami meminta maaf atas segala khilaf dalam kepemimpinan,” ujarnya dengan rendah hati.

Acara ini semakin bermakna dengan kehadiran Ust. Lukman Hakim, M.HI, Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia mengajak peserta untuk menjadikan kesabaran sebagai fondasi utama perjuangan dakwah.

Lukman mengutip prinsip sabar dalam tiga dimensi yakni sabar dalam ketaatan, menghindari maksiat, dan menerima takdir Allah adalah jati diri orang beriman.

Dia menekankan, kesabaran adalah pilar spiritual yang membedakan seorang dai sejati. Dalam realitas dakwah modern, di mana godaan materialisme dan tantangan sosial semakin berat, kesabaran menjadi senjata utama untuk menjaga integritas dan komitmen.

Ust. Lukman, yang juga alumnus Hidayatullah Sumut, menegaskan bahwa transformasi jati diri individu dan keluarga harus berpijak pada nilai-nilai ketabahan ini.

Sebagai penutup acara, diselenggarakan seminar pranikah yang dipandu oleh Ketua Posdai Riau Ust. M. Ikhsan Taufik dan Ust. Lukman Hakim. Seminar ini mengupas pentingnya persiapan menuju keluarga sakinah sebagai basis moral umat.

Dalam Islam, keluarga bukan hanya unit sosial, tetapi juga benteng utama dalam menjaga nilai-nilai keimanan. Diskusi ini menekankan bahwa pernikahan selain bentuk ikatan emosional, juga amanah untuk membangun generasi yang berakhlak mulia.

Narasumber menggarisbawahi bahwa upaya transformasi jati diri Hidayatullah tidak hanya terjadi pada level individu, tetapi juga dalam lingkup keluarga sebagai pilar masyarakat.

Dukungan Laznas BMH

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang menegaskan komitmennya dalam mendampingi para dai dan da’iyah di seluruh Indonesia.

Muhammad Nuh, Kepala Perwakilan BMH Sumut, menegaskan bahwa Silaturrahim Syawal ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan sarana penguatan semangat bagi para dai, khususnya mereka yang bertugas di daerah pelosok.

“BMH akan terus berada di garda depan, memastikan para dai fokus pada tugas mulia tanpa hambatan logistik atau dukungan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Muhammad Nuh menegaskan bahwa dukungan BMH memiliki dimensi spiritual yang mendalam. “Ini adalah investasi akhirat,” tutupnya, menggarisbawahi bahwa setiap kontribusi untuk dakwah adalah bagian dari upaya menjaga moral umat dan meraih keberkahan di sisi Allah.*/