Beranda blog Halaman 97

Menteri Kebudayaan Tegaskan Genosida Budaya Terjadi di Gaza

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyatakan dukungan tegas atas perjuangan rakyat Palestina dalam aksi damai yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP), Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025).

Dalam orasinya, Fadli menegaskan bahwa sikap pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak berubah, yakni mendukung penuh kemerdekaan Palestina sebagai negara yang berdaulat.

Ia menekankan bahwa dukungan ini merupakan perwujudan dari amanat konstitusi Indonesia yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

“Kita tidak punya lagi kata-kata yang dapat mewakili betapa kejam dan brutalnya rezim zionis Israel melakukan pembantaian massal terhadap rakyat Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak yang tak berdosa,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis.

Ia mengapresiasi peran aktif Menteri Luar Negeri Sugiono yang menurutnya konsisten dalam mengarahkan diplomasi Indonesia untuk mendukung penghentian kekerasan dan genosida di Gaza. Fadli menggarisbawahi bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap sejalan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan keadilan global.

Mengomentari eskalasi kekerasan di Gaza, Fadli menyatakan bahwa penghancuran fasilitas publik oleh Israel—termasuk sekolah, rumah sakit, dan tempat pengungsian—tidak dapat dipahami semata sebagai tindakan perang. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk genosida di era modern.

“Serangan dan penghancuran yang sistematis terhadap budaya, situs bersejarah, monumen, dan pusat peradaban Palestina di Gaza bukan hanya menghancurkan fisik, tetapi juga merupakan upaya penghapusan identitas suatu bangsa dan peradaban. Ini adalah bentuk genosida budaya yang sangat kejam dan nyata di zaman modern,” kata Fadli.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kekerasan tidak hanya menyasar struktur budaya fisik, tetapi juga ditujukan kepada individu-individu yang memelihara kebudayaan Palestina.

“Termasuk di dalamnya adalah serangan brutal terhadap para budayawan, seniman, dan intelektual Palestina yang menjadi penjaga dan pewaris nilai-nilai budaya bangsa,” sambung Fadli, yang juga dikenal sebagai mantan wartawan Majalah Suara Hidayatullah.

Dalam orasi yang sama, Fadli mengkritik negara-negara yang terus memberikan dukungan kepada rezim zionis. Ia menilai bahwa dukungan tersebut mencabut legitimasi moral mereka dalam berbicara mengenai demokrasi dan hak asasi manusia.

“Tindakan ini merupakan penghapusan ingatan sejarah sebuah bangsa dan merupakan tragedi kemanusiaan dan budaya yang sangat kejam,” tegasnya.

“Kita mempunyai amanah konstitusional untuk melawan penjajahan dan penindasan, bukan hanya terhadap rakyat Gaza yang terus dibantai, tetapi juga terhadap penghancuran budaya dan peradaban yang selama ini menjadi identitas bangsa Palestina.”

Ia menyampaikan keyakinannya bahwa perjuangan rakyat Palestina akan menjadi awal kebangkitan sebuah negara merdeka dan lahirnya kembali peradaban yang selama ini terancam. Fadli juga menyerukan tekanan global terhadap Israel dalam bentuk sanksi menyeluruh.

“Kita mendesak adanya sanksi internasional yang tegas dan menyeluruh terhadap Israel. Negara-negara di dunia harus solid dan bersatu memberikan tekanan melalui sanksi ekonomi, politik, dan diplomatik agar kekejaman ini segera dihentikan,” tuturnya.

“Semangat kita adalah semangat keadilan dan kemanusiaan. Mari kita terus bersatu membela kemerdekaan Palestina,” pungkasnya.

Ketua Umum Hidayatullah Serukan Tiga Panggilan Moral dalam Aksi Bela Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, M.A., menyampaikan pernyataan dalam aksi damai yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) di kawasan Monas, Jakarta, pada Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025). Aksi tersebut dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat dari berbagai kalangan yang menyuarakan solidaritas untuk Palestina.

Menurut Dr. Nashirul, kehadiran umat Islam Indonesia dalam aksi ini bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata dari tiga panggilan moral yaitu panggilan keimanan, kemanusiaan, dan kebangsaan.

“Kita hadir dalam aksi akbar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia selalu komitmen untuk mendukung sepenuhnya untuk kemerdekaan Palestina dan juga mengecam segala bentuk kejahatan kemanusiaan. Apalagi yang sedang saat ini melanda Gaza yaitu pelaparan massal dan sistematis yang mengancam nyawa sekitar 2 juta yang berada di wilayah Gaza,” ungkapnya di lokasi aksi.

Ia menegaskan, keterlibatan dalam aksi tersebut didasarkan pada panggilan keimanan yang menuntut empati mendalam terhadap penderitaan sesama umat manusia.

“Orang-orang beriman itu selalu peduli, selalu care, dengan apa yang sedang dialami oleh saudara-saudaranya di mana saja. Manakala ada satu yang menderita maka semua orang-orang beriman ikut merasakan pelaparan massal yang dihadapi saudara-saudara di Gaza,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nashirul menyatakan bahwa keterlibatan tersebut juga bersumber dari panggilan kemanusiaan yang tidak dapat membiarkan penderitaan tanpa kepedulian. Ia menyebut bahwa setiap insan yang memiliki nurani akan terdorong untuk bertindak.

“Orang yang memiliki hati nurani pasti tidak akan rela melihat ada yang mengalami kelaparan, yang mengalami ketidakjelasan kapan mereka mendapatkan bantuan untuk dapat melanjutkan kehidupan mereka,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kata dia, semangat aksi ini juga mencerminkan panggilan kebangsaan meneguhkan amanat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan.

“Konstitusi Indonesia sangat jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan penjajahan adalah bertentangan dengan kemanusiaan dan keadilan,” tegasnya.

Nashirul Haq mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.

“Semoga hal ini bisa menjadi kesadaran bagi masyarakat Indonesia agar terus terdepan dalam membela kemerdekaan Palestina dan juga mengecam segala bentuk tindakan kejahatan kemanusiaan sebagaimana dialami oleh bangsa Palestina saat ini,” pungkasnya.

Indonesia Tegaskan Dukungan Konstitusional untuk Palestina di Aksi Akbar Monas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Indonesia kembali menegaskan sikap politik luar negerinya yang konsisten dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono saat berorasi di hadapan puluhan ribu peserta Aksi Akbar Bela Palestina yang digelar di Lapangan Monas, Jakarta, Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025).

Dalam pernyataan resminya, Menlu Sugiono menyampaikan bahwa posisi Indonesia tidak berubah sejak awal, yakni menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai amanat konstitusional dan bagian dari agenda kebijakan luar negeri Indonesia.

“Sejak awal, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina adalah bagian dari cita-cita perjuangan bangsa Indonesia. Ini bukan sekadar retorika, tetapi wujud nyata dari amanat UUD 1945. Indonesia akan terus menolak segala bentuk penjajahan,” ujar Sugiono dalam keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Pernyataan tersebut ditegaskan kembali dalam konteks komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang, menurut Sugiono, menjadikan isu Palestina sebagai perhatian utama dalam berbagai forum internasional dan kebijakan bilateral.

Sugiono menyampaikan bahwa bentuk dukungan Indonesia kepada rakyat Palestina tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga terwujud dalam bantuan konkret. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengirimkan lebih dari 4.400 ton bantuan logistik ke Palestina sejak krisis kemanusiaan terbaru terjadi.

“Hingga kini, Indonesia telah mengirim lebih dari 4.400 ton bantuan logistik. Dalam waktu dekat, sebanyak 10.000 ton beras akan dikirimkan ke Palestina sebagai bentuk solidaritas kita,” ungkapnya di hadapan peserta aksi.

Selain bantuan kemanusiaan, Indonesia juga disebut aktif mendorong diplomasi untuk Palestina melalui berbagai forum internasional, antara lain ASEAN, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan pertemuan-pertemuan multilateral lainnya.

“Presiden Prabowo selalu mengangkat isu Palestina di level global. Tugas saya sebagai Menteri Luar Negeri adalah meneruskan suara itu dengan langkah-langkah konkret,” tegas Sugiono.

Dalam kesempatan yang sama, Sugiono menyoroti praktik-praktik pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Palestina, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata dan pengusiran paksa dari wilayah permukiman.

Menlu menilai tindakan-tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan universal.

Masih dalam kesempatan itu, Menlu Sugiono menyampaikan pesan solidaritas yang kuat kepada rakyat Palestina dan menekankan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan Palestina adalah perjuangan bersama umat manusia.

“Kalian tidak sendirian. Rakyat Indonesia bersama kalian. Dengan harapan dan keteguhan hati, kita akan terus melangkah menuju tujuan bersama: hadirnya Negara Palestina yang merdeka, berdaulat, dan hidup damai,” ujarnya.

Orasi Menlu Sugiono diakhiri dengan seruan yang menggema di seluruh kawasan Monas:

“Merdeka! Merdeka!”

Aksi damai yang diprakarsai Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dari seluruh penjuru tanah air dan berlangsung dengan tertib di bawah pengamanan aparat serta koordinasi dari berbagai organisasi sipil dan keagamaan.

Penguatan Visi Pendidikan Al-Qur’an Bersanad di Kampus Ummulqura Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Awal tahun pelajaran di lingkungan pendidikan putri Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, ditandai dengan pelaksanaan kegiatan penguatan visi keilmuan dan spiritualitas para pendidik melalui program Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Bersanad. Kegiatan ini menghadirkan Imam Masjid Ar Riyadh Kampus Ummulqura Hidayatullah, Ust. H. Muhammad Baharun Musaddad, Lc., sebagai narasumber utama.

Seluruh jajaran dewan guru dari unit pendidikan KB-RA, MI Raadhiyatan Mardhiyyah, hingga Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) mengikuti kegiatan ini dalam suasana khidmat dan reflektif.

Dalam taujihnya, Ustadz Baharun mengajak para pendidik untuk merenungi makna mendalam dari QS Ali Imran ayat 35–39 sebagai fondasi visi pendidikan Islam.

“Ibunda Maryam sudah berdoa bahkan sejak anaknya masih dalam kandungan. Ketika lahir, doanya justru dilanjutkan untuk keturunan berikutnya. Inilah amanah yang sedang dititipkan kepada para guru hari ini,” ujar Ustadz Baharun, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 10 Shafar 1447 H (4/8/2025).

Ia menekankan bahwa guru dalam Islam bukan sekadar pengajar, melainkan juga pelanjut doa orang tua. Ia mencontohkan peran Nabi Zakaria yang bukan hanya mengasuh dan mengajarkan ilmu kepada Maryam, tetapi juga membimbing secara spiritual.

“Ketika Zakaria telah mendidik Maryam dengan penuh kesungguhan, Allah hadiahkan anaknya sendiri yaitu Yahya, seorang nabi. Ini pesan penting bahwa siapa yang mendidik anak orang lain dengan sungguh-sungguh, bisa jadi Allah akan mendidik anaknya dengan cara yang luar biasa di antaranya dengan menghadirkan guru terbaik untuknya,” lanjutnya.

Mengenai pelaksanaan program LPQ bersanad, Ustadz Baharun menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kualitas waktu dalam pengajaran Al-Qur’an. Ia mengkritisi praktik menjadikan kegiatan Qur’ani sebagai pengisi waktu sisa.

“Jangan berikan waktu sisa untuk Al-Qur’an. Karena hasilnya pun hanya sisa-sisa. Mengajar Al-Qur’an harus dalam kondisi terbaik, bukan saat guru dan murid sudah lelah,” tegasnya.

Ia juga memperingatkan risiko menganggap remeh kesalahan bacaan huruf hijaiyah dalam pembelajaran dasar anak.

“Bagaimana jika dia bawa kesalahan itu sampai ke kuburan?,” tanyanya retoris, menyampaikan urgensi ketelitian dalam mengajarkan bacaan Al-Qur’an.

Ustadz Baharun turut menyampaikan sebuah kisah inspiratif dari Ustadzah Aida Musaddad, Kepala Sekolah Taud Saqu Bogor. Seorang syeikh, kata beliau, meminta agar semua surah Al-Qur’an diajarkan kepada anaknya kecuali Al-Fatihah. Ketika ditanya alasannya, sang syeikh menjawab, “Ia ingin pahala al-Fatihah itu berasal langsung dari dirinya.”

Mengakhiri taujihnya, Ustadz Baharun menyampaikan pesan motivasional kepada para pendidik Al-Qur’an.

“Bayangkan, betapa banyak anak yang membaca Al-Fatihah hari ini, dan siapa yang pertama kali mengajarkannya? Itulah jejak amal seorang guru Quran,” tutupnya.

Kegiatan ini, jelas panitia penyelenggara, menjadi pembuka yang sarat nilai spiritual dan metodologis dalam menyambut tahun ajaran baru, sekaligus menguatkan komitmen para pendidik di lingkungan Kampus Ummulqura terhadap tanggung jawab besar mereka sebagai penjaga warisan Al-Qur’an.

Pengabdian Total Kepada Allah sebagai Inti Kepemimpinan Mukmin

0
Rapat Pleno Laporan & Evaluasi Program Kerja Semester I Tahun 2025 YPPH Balikpapan di Gunung Tembak, Balikpapan [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad, menegaskan bahwa hakikat kehidupan seorang mukmin adalah pengabdian total kepada Allah. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi akhir hari pertama Rapat Pleno Evaluasi Program Kerja Semester I 2025 di Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, direportase Senin, 10 Shafar 1447 (4/8/2025).

“Karenanya, jika jati diri kita adalah pengabdian, maka tidak ada masalah dalam hidup orang beriman. Yang sering menghambat penugasan justru kekhawatiran berlebihan: mampukah membiayai anak, mencukupi kebutuhan, dan sebagainya,” ungkapnya di hadapan para peserta pleno.

Ustaz Abdurrahman menukil ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Anbiya ayat 73 sebagai pijakan utama konsep kepemimpinan dalam Islam. Ayat tersebut berbunyi, “Dan Kami jadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk melakukan kebaikan, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”

Ia menyampaikan rasa syukur atas nikmat kesehatan, lahir dan batin, yang menjadi bekal utama untuk beribadah, belajar, bekerja, dan memimpin.

Dalam sesi tersebut, ia juga menceritakan bahwa dirinya sempat berada di Kampus Hidayatullah Madinatul Izzah Mubarak, Lamatanre, Kabupaten Pinrang, dalam rangka menghadiri kegiatan Semarak Muharram serta peletakan batu pertama Masjid As-Salam Lamatanre.

“Saya bersyukur dalam kegiatan peresmian masjid tersebut, seluruh pembimbing dan istri mereka hadir, menandakan ruh perjuangan yang masih menyala,” ujarnya.

Meski kondisi fisik tidak sepenuhnya fit, Ustaz Abdurrahman tetap mengunjungi empat titik pembangunan kampus Hidayatullah di Sulawesi Selatan, yakni Parepare, Lamatanre, Pinrang, dan Parengki, sebagai bentuk pendampingan dan peneguhan semangat kaderisasi.

Dalam konteks pendidikan dan dakwah, ia menegaskan pentingnya adab dalam diri guru dan muballigh. “Adab bukan sekadar ucapan sopan seperti ‘tabe’ tabe’’, tetapi perilaku yang berdiri di atas kebenaran, kebermanfaatan, dan keihsanan,” ucapnya.

Ia kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Bukhari, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Menurutnya, pengabdian harus dimulai dari keteladanan. Ruh ilmu, amal, dan kepemimpinan bertumpu pada keteladanan yang nyata.

“Saya jaga ruh saya. Saya membaca, bekerja, dan mengontrol kerja teman-teman. Apa lagi yang bisa diperlihatkan, kecuali bahwa di sini ada orang yang bekerja, berpikir, dan beribadah,” jelasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen lembaga untuk tidak sekadar fokus mengejar prestasi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan kebersihan dalam lingkungan kampus dan asrama. “Kalau sudah ada uswah dan qudwah, barulah kita pantas mengundang orang datang ke tempat kita,” pungkasnya.

Prof Jimly Asshiddiqie Berikan Motivasi di Forum NGL Nasional 2025 Gerakan Mahasiswa Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pakar Hukum Tata Negara Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., menyampaikan orasi ilmiah dalam kegiatan seminar dan pembukaan Next Gen Leaders (NGL) Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) yang berlangsung di Audotorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Mengangkat tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari 33 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dalam orasinya, Prof. Jimly memberikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah, khususnya dalam bidang dakwah.

“Kita bersyukur kepada Allah karena ada Hidayatullah yang melakukan dakwah di daerah pedalaman, pinggiran, dan perbatasan,” ujar Prof. Jimly, yang mengulang kalimat ini beberapa kali sebagai bentuk penegasan.

Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI) pertama ini juga mengutip kaidah fikih “Mala yatimmul wajib illa bihi fa huwa wajibun”, yang bermakna bahwa sesuatu yang menjadi sarana terlaksananya kewajiban, maka hukumnya pun menjadi wajib.

Ia mengaitkan prinsip ini dengan keberadaan Hidayatullah yang mewakili umat dalam menjangkau wilayah-wilayah yang kurang tersentuh oleh dakwah.

“Hidayatullah telah mewakili kita menunaikan kewajiban dakwah di wilayah yang kurang mendapatkan perhatian,” imbuhnya, mencontohkan Papua sebagai salah satu daerah yang dimaksud.

Lebih lanjut, Prof. Jimly mendorong organisasi masyarakat (ormas) Islam untuk tetap fokus pada peran strategis dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keumatan.

“Ormas jangan berorientasi politik,” tegas Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.

Menurutnya, salah satu fondasi penting kemajuan peradaban Islam adalah kemandirian ekonomi. Ia menyebut bahwa Hidayatullah memiliki potensi besar untuk memperkuat aspek ini dalam rangka menopang visi peradaban umat.

“Hidayatullah perlu melakukan gerakan ekonomi untuk kemajuan peradaban,” ujar Ketua Dewan Penasehat ICMI periode 2021–2026 itu.

Dalam konteks sejarah, Prof. Jimly mencontohkan peran tokoh-tokoh Islam seperti Khadijah dan para sahabat Nabi SAW yang menjadi pengusaha dan turut mendorong pertumbuhan dakwah Islam.

Ia juga menyinggung fenomena global seperti bersyahadat massal di Filipina serta perkembangan Islam di berbagai negara termasuk Eropa sebagai indikator gelombang kembalinya masyarakat dunia kepada Islam.

“Di Filipina terjadi proses bersyahadat ramai-ramai sebanyak 50 orang. Ini gelombang baru di seluruh dunia,” jelasnya.

Mengakhiri orasinya, Prof. Jimly mengajak mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas intelektual, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saya belajar dari madrasah yang tidak dikenal bisa menjadi pendiri Mahkamah Konstitusi,” tuturnya, memberi motivasi kepada para peserta NGL.

Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber, antara lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Rektor Universitas YARSI dan Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI 2010–2011 Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D., Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., Ketua Umum Pengurus Pusat GMH Rizki Ulfahadi, S.Ag.

Berikutnya hadir sebagai narasumber seminar Anggota DPR RI 2004–2019 dan Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Teguh Anantawikrama, Wakil Gubernur Sumatera Barat 2021–2024 Dr. Ir. Audy Joinaldy, M.Sc., Analis Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Grani Ayuningtyas Harmani, dan Founder & Owner D’BestO Fried Chicken Dr. (c). drh. Hj. Evalinda Amir, M.Sos.

Kunjungan Wilayah PP Mushida Gelar Konsolidasi Dakwah dan Ukhuwah di Sumatera Utara

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) melakukan kunjungan wilayah ke Sumatera Utara pada Jumat, 7 Shafar 1447 (1/8/2025), sebagai bagian dari program nasional penguatan organisasi.

Kegiatan hari pertama ini dipusatkan di Kota Medan dan diikuti oleh perwakilan pengurus daerah dari Berastagi, Batubara, Deli Serdang, Sibolga, Mandailing Natal, hingga Nias.

Dua pengurus pusat yang hadir dalam kunjungan ini adalah Neny Setiawati, Ketua Bidang Pelayanan Umat, dan Sudaryani, Ketua Departemen Dakwah. Keduanya memimpin langsung forum brainstorming dan rapat koordinasi yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 17.00 WIB.

Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi Organisasi dan Spirit Juang dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah” yang menjadi bingkai utama seluruh rangkaian acara.

Ketua PW Mushida Sumut, Mujiatun, mengapresiasi perhatian PP terhadap wilayah. “Saya sangat bahagia saat teman-teman di PP mau bersilaturahim dengan kami di sini walaupun banyak sekali kekurangan yang ada di tempat ini,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari pengurus pusat. Dalam paparannya, Sudaryani menegaskan kembali misi Mushida sebagai organisasi pendukung (orpen) dakwah Hidayatullah.

“Kita harus mampu mengembangkan dakwah islamiyah dan menguatkan peran aktif Mushida sebagai orpen itu sendiri dalam kancah kehidupan domestik rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” jelasnya.

Neny Setiawati turut menekankan pentingnya ketahanan keluarga dan sinergi antarorganisasi kewanitaan.

Pada kesempatan itu Neny mendorong keterlibatan Mushida di forum-forum keislaman tingkat provinsi sebagai bentuk kolaborasi strategis dalam semangat pelayanan umat dan penguatan ukhuwah islamiyah.

Selain monitoring dan evaluasi program, kegiatan ini juga diisi taujih, diskusi terbuka, serta sesi tanya jawab terkait tantangan pelaksanaan program di daerah. Suasana forum menjadi ruang aman bagi petugas daerah untuk menyampaikan kendala, masukan, dan harapan.

“Saya berharap silaturahim selalu terjaga antar pusat, wilayah, dan daerah. Bagaimana visi misi sinergi dan semangat kita sebagai Mushida tetap satu dan beriringan,” ujar Ummi Haya, pengurus PD Mushida Mandailing Natal.

Menko Pangan Paparkan Strategi Reformasi dan Kedaulatan Pangan di NGL Nasional 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan menyampaikan materi dalam seminar dan pembukaan Next Gen Leaders (NGL) Nasional 2025 yang berlangsung di Audotorium Al Quddus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 6 Shafar 1447 (31/7/2025).

Acara yang digelar Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) bekerjasama dengan Universitas Yarsi ini mengangkat tema “Membangun Generasi Muslim Profetik, Mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Menko Zulkifli Hasan mendorong para mahasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan agar bisa menguasai dunia. Banyak negara yang berhasil mengembangkan teknologi di berbagai bidang seperti pertanian. “Itu karena mereka serius belajar,” ujarnya.

“Kita harus mengejar ketertinggalan dari negara maju seperti India,” lanjut mantan Ketua MPR RI ini menegaskan.

Pada kesempatan itu Zulkifli Hasan juga menyoroti masih lemahnya penelitian di bidang sains dan teknologi. “Yang diteliti malah toleransi beragama. Padahal kita butuh penelitian bibit unggul seperti padi dan kopi,” ujarnya.

Pria yang karib disapa Zulhas ini memberi motivasi mahasiswa agar optimis meraih kesuksesan. “Saya lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA) bisa jadi Menteri, Ketua MPR, dan ketua umum partai. Apalagi saudara-saudara ini mahasiswa, yang penting gigih dan tidak minder,” ucapnya.

Menko Zulhas yang menegaskan dirinya merasa senang membantu Presiden Prabowo itu mengajak hadirin mengawal program pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. “Kita doakan Pak Prabowo agar tetap kuat dan tidak capek,” katanya.

Zulhas juga menguraikan langkah-langkah Presiden Prabowo dalam melakukan perbaikan sistem politik, pendidikan, ketahanan pangan dan berbagai bidang lainnya. “Pak Prabowo sedang melakukan reform, pembenahan,” imbuhnya.

Di bidang pangan, selaku Zulkifli Hasan berkisah ketika diminta Presiden untuk mewujudkan kemandirian pangan dalam tempo yang cepat yaitu 2 tahun. Ia pun meminta Presiden agar mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres).

Menko yang juga Ketua Umum DPP PAN itu menceritakan tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan kemandirian pangan yang menjadi tekad Presiden Prabowo.

Ia mencontohkan sulitnya para petani di desa mendapatkan pupuk karena panjangnya jalur yang dilewati sehingga harga menjadi mahal.

“Potong rantai yang panjang agar desa berdaya. Maka lahirlah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” kisahnya.

Hadir menyambut dan mendampingi Menko Bidang Pangan itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, Rektor Universitas YARSI Jakarta Prof. Dr. Fasli Jalal, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Rizki Ulfahadi, serta sejumlah pengurus Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah.

Spirit Madinah di Balik Lahirnya Ma’had Tahfizhul Qur’an Ahlus Shuffah Balikpapan

0
Rombongan peserta Rapat Koordinasi Nasional dan Pembekalan Dewan Murabbi Hidayatullah se-Indonesia berfoto bareng Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad di depan Masjid Al Huffaz Tahfidz Ahlus Shuffah, Gunung Binjai, Balikpapan, Kaltim, Rabu (09/02/2022). [Foto: Dok. Ahlus Shuffah/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Hampir setiap tahun ajaran baru, Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah menjadi sekolah favorit bagi para orang tua yang ingin mendaftarkan anak-anaknya menjadi penghafal al-Qur’an.

Tapi, tahukah Anda, bagaimana kisah di balik cikal bakal pendirian bumi penghafal al-Qur’an yang tepat berada di tengah perkebunan karet di Gunung Binjai, Balikpapan tersebut?

Iya, sudah jadi rahasia umum, sejumlah keputusan dan kebijakan besar Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad, seringkali tak lepas dari inspirasi yang didapat di Tanah Haram (kota Makkah dan Madinah).

Salah satunya tak lain adalah pendirian Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah yang beralamat di jalan Gunung Binjai RT. 16 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Ini ada yang prinsip. Hidayatullah sudah berazzam harus dihadirkan lembaga tahfizh al-Qur’an. Jadi begitu pulang dari Makkah, langsung bikin lembaga tahfizh di kakinya masjid (beranda selatan masjid ar-Riyadh), langsung tancap pakai beko, tidak pakai waktu lagi langsung bikin,” ucap ustadz Abdurrahman dalam satu kesempatan wawancara, beberapa waktu lalu.

Dikisahkan, beberapa kali bolak-balik ibadah umrah dan haji, Pemimpin Umum Hidayatullah terus merenung hingga akhirnya menemukan satu inspirasi besar. Bahwa seluruh interaksi dengan al-Qur’an, membaca, menghafal dan mempelajarinya, bagian utama atau inti daripada perjuangan dakwah Islam.

Apalagi secara historis, tegasnya, sejak awal pendirian Hidayatullah, kegiatan tahfizh atau keberadaan santri yang fokus menghafal al-Qur’an sudah ada sejak dahulu.

“Itu saya tangkap di Makkah. Saya katakan harus kembalikan spirit tahfizh yang pernah ada di Gunung Tembak. Maka saya secepat-cepatnya itu bikin dulu di samping wc di bawah (selatan) ar-Riyadh. Tancap langsung apa namanya itu (kayu balok) ulin-ulin,” lanjutnya menceritakan secara kronologis.

Singkat cerita, Ustadz Kaspan lalu ditunjuk sebagai ketua Ma’had Tahfizh yang belakangan populer dengan sapaan mudir (direktur). Masih terinspirasi dari Tanah Haram, disepakati namanya Ahlus Shuffah.

Sebagaimana para sahabat Ahlus Shuffah yang berdiam di masjid Nabawi Madinah, santri-santri Ahlus Shuffah di Gunung Tembak juga asyik menempati “emperan””” masjid ar-Riyadh.

Berbagai kerja fisik di lapangan menjadi menu wajib bagi mereka, selain menghafal al-Qur’an. Ustadz Kaspan sendiri ditemani oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, sebagai pengasuh yang mendampingi santri di asrama.

Seiring waktu, rupanya Pemimpin Umum Hidayatullah belum puas. Apalagi, sejak awal, inspirasi dan cita-cita yang diboyong dari Madinah tersebut menghendaki adanya lembaga tahfizh terfavorit.

“Pokoknya saya mau bikin tahfizh paling besar. Paling luas arealnya. Kalau bukan di dunia di Indonesia lah, kampusnya paling besar, yah Alhamdulillah,” ucapnya tersenyum penuh optimis.

Lanjut cerita, gayung pun bersambut. Tak lama tersiar informasi, ada orang menawarkan kebun di bilangan Gunung Binjai seluas sepuluh hektar. Belakangan, diketahui namanya Wa Lawang, seorang pegiat berkebun asal Sidrap Sulawesi Selatan.

Tanpa menunda sedikitpun, Ustadz Abdurrahman segera meminta untuk menghubungi si pemilik kebun. Besok paginya, ia juga langsung mengajak Haji Sujaib (bendahara Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan) untuk mengecek lokasi yang dimaksud.

“Ayo Pak Jaib, kita ke sana. Tidak ada jalan waktu itu, cuma jalan kaki saja. Meraba-meraba masuk hutan. Itu pertama, besoknya pergi lagi. Berapa kali ke sana itu, berulang ulang pokoknya. Karena masih hutan,” ucapnya penuh semangat.

Soal urusan keluar masuk hutan, Ustadz Abdurrahman membocorkan sedikit “rahasia” yang dimilikinya. Ilmu tersebut diakuinya didapat dari Ustadz Amin Baharun, sewaktu tugas dakwah di Berau, Kalimantan Timur. “Itu ilmu menguasai wilayah, kita kuasai memang. Jadi langsung naik ke paling atasnya gunung itu dan keliling beberapa kali,” katanya.

Dari beberapa kali survei lapangan, disepakati lokasi tersebut cocok untuk dijadikan sebagai tempat santri menghafal al-Qur’an. “Aih bagus ini tempat, jadi ini insyaAllah,” jelasnya masih dengan semangat yang sama.

Urusan selanjutnya adalah menemui Wak Lawang, tuan tanah berdarah Bugis Rappang (Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan). Dengan perantara kearifan lokal (berbahasa daerah), negosiasi harga dimulai “Jadi uwelli tu dare’ta tapi de’gaga doe,”. Terjemahnya kira-kira, saya jadi ingin membeli kebun Wak, tetapi uangnya tidak ada (belum cukup).

Konon, orang tua ini berniat pulang kampung halaman ke Sulawesi Selatan. Di sisi lain, dana yang tersedia cuma bisa untuk membayar panjar dan selanjutnya mencicil dua tahun. Sedang total biaya 50 juta untuk 10 hektar.

Berikutnya, diadakan peresmian atau peletakan batu pertama untuk pondasi masjid. Masjid berlantai tiga itu sendiri menjadi bangunan pertama dan menempati posisi tertinggi di lokasi Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah.

Sebelum itu, butuh waktu sekitar tiga tahun tanpa henti untuk penataan awal kampus Gunung Binjai dengan menggunakan alat berat. Mulai dari kliring lahan, pembuatan jalan, bendungan, danau, menata bukit, dan sebagainya.

“Pagi-pagi buta sudah berangkat dan sore jelang Maghrib baru pulang. Tentu saya lebih kuat waktu itu karena ada spirit tadi, mau bikin lembaga tahfizh paling besar,” ucapnya menceritakan.

Dikisahkan Ustadz Abdurrahman, orang pertama menyumbang di Gunung Binjai adalah Haji Malik. Sosok dermawan asal Riau itu menyumbang tak kurang dari 50 sak semen untuk pembangunan masjid.

Sedang rumah kayu pertama di Ahlus Shuffah adalah eks rumah Pak Kalu (warga senior Hidayatullah Gunung Tembak) yang dibeli dan dipindahkan ke Gunung Binjai.

“Termasuk yang layak kita doakan selalu adalah sosok orang baik yang telah menyumbang sebagian besar hartanya dan juga kendaraan alat beratnya di Gunung BInjai,” ungkapnya sambil menyebut nama yang dimaksud.

“Pernah Pak haji itu pinjamkan bekonya, di sini buka bungkusnya. Bantuan itu tidak pernah berhenti sampai sekarang ini. Jadi berapa puluh tahun sudah, memakai beko itu,” terangnya mengakhiri tuturnya tentang sekilas sejarah Ahlus Shuffah.

Guru sebagai Agen Perubahan, Profesi Mulia yang Menuntut Kesungguhan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menjadi guru itu nikmat yang tak terkira. Meski tidak mudah tapi amanahnya sungguh mulia. Itulah hakikat seorang guru. Guru tak cuma bisa mengajarkan ilmu tetapi juga mampu memotivasi sekaligus menginspirasi murid-murid dan orang-orang di sekitarnya.

Demikian kupas tuntas profil guru yang disampaikan oleh Ketua Departemen Pendidikan dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd. dalam acara Training of Trainers (ToT) Excellent School 2025 di Aula Kampus Utama Hidayatullah Depok, Jawa Barat baru-baru ini.

“Bersyukurlah antum sekalian menjadi guru atau terlibat di dunia pendidikan. Guru itu tidak ada bosannya,” ucap Ustadz Nanang yang juga pernah diamanahi Ketua Sekolah Tinggi Teknologi STIKMA Internasional, Malang Jawa Timur.

“Jadi guru nikmat sekali. Bertemu siswa, tersenyum (itu) sedekah sudah. Ketemu teman sesama guru, langsung salaman,” jelasnya, medio Juli 2025 lalu.

Guru disebut Nanang mampu menginspirasi orang lain. Ia bisa membangkitkan motivasi dan memunculkan potensi dalam audiens layaknya membangunkan raksasa tidur.

“Tapi (syaratnya) dalam mengajar guru harus perfect dan bersungguh-sungguh. Ia sudah tahu materi. Sudah kuasai, telah disusun, dibuat, ada peraga, dan sebagainya. Jadi tidak sekadar datang mengajar begitu saja,” terangnya.

Mempertebal motivasi sekaligus tanggung jawab, Nanang menceritakan nasib orang-orang yang bekerja di pabrik tertentu. Pabrik sapu misalnya. Ada orang yang kerjanya memasukkan batang kayu coklat panjang setiap waktu seharian tanpa henti.

Lain lagi di pabrik mie yang pernah dikunjunginya. Di sana ia melihat orang-orang bekerja pagi hingga sore dengan tugas yang bermacam-macam.

“Ada yang ‘cuma’ meluruskan mie pakai kawat besi melengkung. Ada juga tugasnya memasukkan bumbu ke dalam bungkus kecil,” ucapnya sambil bercerita.

“Jadi guru itu nikmat yang patut disyukuri dan dijaga dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan dan sekolah,” jelasnya.

Setidaknya, lanjut Nanang, pekerjaan mulia ini mesti ditopang dengan empat aspek pada diri seorang pendidik. Yakni, aspek spiritual, intelektual, sosial emosional, dan psikomotorik.

“Sekolah unggul itu hasil dari guru-guru luar biasa. Maka pacu diri kalian. Antum ditakdirkan jadi guru jadi pengelola pendidikan, akan menyesal kalau tidak melakukan perubahan. Itulah mengapa disebut agent of change,” tutupnya.

Diketahui, ToT Excellent School diikuti oleh 26 peserta dari Kampus Induk dan Utama Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini merupakan hasil rekomendasi yang digagas di pertemuan Rakornas Hidayatullah di Timika, Papua Tengah, belum lama ini.