AdvertisementAdvertisement

Iqra Bismirabbik Cara Pandang Islam dalam Memahami Kehidupan

Content Partner

IQRA’ Bismirabbik merupakan bagian dari ayat pertama Surah Al-‘Alaq. Terjemahannya adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu”.

Sebagai ayat yang memiliki dimensi filosofis yang mendalam, tentu saja ini bukan semata kalimat. Ini adalah basis yang seharusnya membentuk cara pandang Muslim dalam memahami kehidupan ini.

Sebelum mendalami Iqra’ Bismirabbik kita perlu lebih dahulu memahami apa itu cara pandang. Dalam kajian filsafat, cara pandang adalah metode berpikir kritis, radikal (mendasar), sistematis dan universal.

Dan, dalam konteks bahasan ini, cara pandang adalah kerangka dasar dalam memahami realitas.

Dalam filsafat sendiri, cara pandang terbagi ke dalam beberapa pemahaman. Mulai dari idealisme, rasionalisme, empirisme, kritisisme, konstruktivisme, humanisme, dan mungkin masih ada lagi lainnya.

Iqra’ Bismirabbik bisa kita jadikan sebagai cara pandang karena memang dia membentuk satu cara berpikir yang mengedepankan makna akan segala sesuatu dengan mengacu pada tuntunan wahyu.

Jadi inilah cara pandang Iqra’ Bismirabbik, yakni memahami realitas dengan berbasis wahyu.

Hidup adalah Amanah

Dalam konteks lebih jauh tentang cara pandang, mari kita coba perhatikan makna atau konsep hidup. Dalam Islam hidup adalah amanah. Mengapa dan dari mana makna itu hadir?

Iqra’ Bismirabbik memang perintah, tetapi kalau kita perhatikan, itu adalah sebuah dorongan agar umat Islam memiliki makna yang jelas dan benar tentang apapun itu dalam kehidupan dunia ini.

Hidup manusia dalam Islam, ketika kita menggunakan Iqra’ Bismirabbik sebagai cara pandang, maka itu tidak lain adalah amanah.

Artinya manusia membaca kehidupan dengan kesadaran bahwa semua berasal dari Allah (bismirabbik), maka hidup tidak lagi dipandang bebas nilai, tetapi sebagai titipan (amanah).

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).

Dalam tafsir Al-Muyassar amanah bermakna ketentuan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ternyata amanah ini Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung. Semuanya menolak, akan tetapi manusia malah mengambilnya.

Tafsir yang lain menyebutkan amanah adalah tentang beban, tanggung jawab, kewajiban dalam ibadah, muamalat dan memakmurkan alam kepada seluruh makhluk.

Ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia sejak awal memang dibangun di atas tanggung jawab, bukan kebebasan mutlak apalagi yang basisnya adalah hawa nafsu.

Dalam kata yang lain, hidup manusia sejatinya adalah amanah. Tidak akan berhasil manusia menjadi pribadi yang bahagia dan meraih kebaikan, jika konsep dasar tentang amanah ini justru diabaikan.

Kemaslahatan

Kalau kita cermati lebih dalam, jika hidup ini adalah amanah, maka semua hal yang ada dalam bagian-bagian hidup manusia, seluruhnya amanah. Sebagai contoh, ilmu, harta dan kedudukan, semuanya adalah amanah.

Dalam cara pandang peradaban Barat, ilmu adalah kekuatan (knowledge is power). Dalam banyak kasus, paradigma tersebut berpotensi mengarah pada penggunaan ilmu tanpa batas nilai.

Maka konsekuensi dari cara pandang itu, pengetahuan yang mereka miliki cenderung digunakan secara tidak tentu arah. Perhatikan bagaimana eksploitasi alam terjadi luar biasa dan dekadensi moral yang merosot tajam.

Betapa tidak tentunya arah ilmu dalam peradaban Barat. Fritjof Capra, seorang fisikawan dan filsuf sistem, dalam pemikirannya (terutama dalam buku The Turning Point) menyoroti bahwa pola pikir Barat modern yang mekanistik, reduksionistik, dan antroposentris telah menghasilkan krisis global dan kerusakan besar pada lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis bukan semata teknis, tetapi krisis cara pandang.

Bahkan, Barat telah menjadi penyebab hadirnya krisis sistemik. Capra berpendapat bahwa kerusakan lingkungan, krisis energi, dan krisis sosial adalah satu kesatuan krisis persepsi yang berakar pada pandangan dunia Barat modern yang menganggap alam sebagai mesin, bukan sebagai sistem kehidupan yang saling terhubung.

Sedangkan Iqra’ Bismirabbik mendorong manusia dalam memandang ilmu sebagai amanah. Tidak benar dan tidak boleh kalau ilmu yang ada dalam diri seseorang digunakan sebagai sarana memuaskan hawa nafsu, menciptakan kerusakan pada diri dan orang lain, apalagi sampai jadi sebab kerusakan alam.

Oleh karena itu dalam upaya mengembalikan kesadaran umat akan peradaban Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa umat harus kembali pada cara pandang Islam, islamic worldview yang berlandaskan tauhid, Hal ini menegaskan bahwa wahyu adalah fondasi utama ilmu pengetahuan yang sumber utamanya adalah dari Allah SWT.

Dengan demikian, Iqra’ Bismirabbik bukan sekadar perintah membaca, tetapi fondasi dalam membangun cara pandang yang menuntun manusia memahami hidup sebagai amanah dan ilmu sebagai sarana kemaslahatan.[]

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ketua Umum Hidayatullah Hadiri Forum Dialog Bersama Wakil Menteri Luar Negeri

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menghadiri pertemuan dengan Wakil Menteri Luar...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img