
DALAM riuh rendah dunia yang kian bising oleh narasi materialisme, manusia modern seringkali kehilangan satu hal yang paling esensial: ampunan atas kekhilafan masa lalunya. Manusia berjalan memikul beban yang tak kasat mata; tumpukan kesalahan dan dosa, noda hitam kemaksiatan, hingga residu ego yang seringkali mengeras menjadi tabir tebal antara seorang hamba dan Sang Pencipta.
Di tengah keletihan spiritual inilah, Allah SWT dengan kasih sayang-Nya yang tak bertepi menurunkan Ramadhan sebuah oase surgawi di tengah gurun dunia yang gersang. Satu bulan yang istimewa dibandingkan sebelas bulan lainnya.
Ramadhan bukan sekadar repetisi ritualistik tahunan atau ajang transformasi fisik dengan kesemarakannya. Ramadhan menyediakan momentum “Amnesti Massal” melalui instrumen shaum dan qiyamul-lail. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan dalam dua hadistnya.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barangsiapa yang ibadah malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari).
Sebenarnya meminta ampunan Allah bisa kapan saja dan di mana saja, namun dua hadist di atas menunjukkan bahwa hanya di bulan Ramadhan yang spesial karena sepanjang siang malam selama 24 jam Allah membuka pintu ampunan. Ramadhan waktu strategis yang efektif untuk meraih ampunan Allah, siang melalui puasa dan malam dengan qiyamul lail plus senantiasa istighfar dan munajat taubat.
Dalam perspektif sains manajemen ruhani, keberhasilan meraih ampunan dan terhapus memori dosa tersebut dari catatan amal berarti mengnihilkan “biaya beban” (overhead cost) masa lalu yang menghambat potensi hamba.
Dengan ampunan, seorang Muslim kembali ke titik nol (fitrah) suci seperti bayi yang baru lahir karena مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ itu artinya seluruh dosa yang pernah dilakukan masa lalu. Ini yang memungkinkan terjadinya lonjakan performa ibadah dan amal sosial tanpa hambatan mental-spiritual dari kesalahan masa lalu.
Dalam kacamata cendekiawan, dosa bukanlah sekadar pelanggaran hukum formal agama. Dosa adalah “Karat Organik” yang merusak fungsi-fungsi ruhani. Hati yang tertutup noda dosa akan kehilangan sensitivitasnya terhadap kebenaran, pikirannya akan tumpul dalam menangkap hikmah, dan langkahnya akan terasa berat untuk melakukan ketaatan. Inilah mengapa ampunan Allah adalah “Kunci Induk” (master key) bagi seluruh perbaikan hidup.
Dosa yang menumpuk menciptakan asimetri (ketidakseimbangan) dalam hubungan vertikal, yang berdampak langsung pada hilangnya keberkahan dalam urusan horizontal (duniawi). Mengejar ampunan di bulan Ramadhan adalah upaya sadar untuk melakukan sinkronisasi ulang dengan kehendak Ilahi. Ketika pengampunan diraih, saluran rahmat kembali terbuka lebar, yang secara empiris termanifestasi dalam bentuk ketenangan batin, kejernihan visi hidup, dan kemudahan dalam menghadapi kompleksitas problematika harian.
Dengan Ramadhan, Allah ingin orang beriman memasuki masa depan tanpa beban utang moral masa lalu. Bagaimana mungkin sebuah peradaban besar bisa dibangun jika individu-individunya masih terbelenggu oleh trauma kesalahan dan kegelapan jiwa? Ampunan adalah prasyarat bagi kemerdekaan ruhani, dan Ramadhan adalah momentum untuk menjemput kemerdekaan itu.
Ramadhan adalah mahkamah kasih sayang, di mana setiap hamba yang mengaku bersalah dan meminta ampunan secara tulus maka akan dipeluk dengan ampunan dan dihadiahi kemuliaan yaitu surga.
Maka, kejarlah ampunan itu seolah-olah ini adalah Ramadhan terakhir. Karena pada akhirnya, keberuntungan sejati bukanlah milik mereka yang perutnya kenyang, melainkan milik mereka yang jiwanya tenang karena telah mendapatkan ampunan dari Allah.[]
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah






