AdvertisementAdvertisement

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

Content Partner

SETIAP muslim pasti meyakini bahwa ia lebih unggul, mulia, luhur derajatnya daripada kafir. Sehingga realitas kehidupan diliputi keamanan, kejayaan, kesucian, keberkahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran (3) : 139)

Allah memberi rahmat, maghfirah, pertolongan di dunia kepada muslim dan memasukkannya ke dalam surga-Nya sebagai wujud perhatian dan kecintaan-Nya kepadanya.

Sedangkan Allah tidak merahmati, tidak mengampuni, dan tidak mencintai orang kafir dan memasukkannya ke dalam neraka-Nya secara permanen.

Yang diperlu diberi garis tebal di sini, mengapa demikian mulia posisi muslim dan demikian rendah/hina kedudukan kafir disisi Allah ? Sedangkan sama-sama hamba-Nya, sama-sama manusia, sama-sama keturunan Nabi Adam, sama-sama menikmati wasilatul hayah (sarana kehidupan) secara gratis, sama-sama mengkonsumsi karunia-Nya, sama-sama penghuni bumi dan langit-Nya.

Mereka juga sama-sama dilahirkan oleh ibu dalam keadaan lemah dan sama-sama meninggal dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa, dan sama-sama dikubur di alam barzakh-Nya!

Kalau tidak ada perbedaan atribut lahiriyahnya muslim dengan kafir, mengapa demikian menganga perbedaan kedua makhluk-Nya tersebut ?

Apakah karena muslim bernama Ahmad, Sumayya, Shabiyya dan kafir bernama Robert, Kristiani, Kristianto? Apakah karena muslim berkhitan, tidak makan daging babi, yang menjadi standar perbedaan kedudukan keduanya? Bukankah Allah sudah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya untuk memperlakukan seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini?

Perbedaan

Sesungguhnya Islam tidak membedakan seseorang dengan lainnya karena faktor keturunan, status sosial, jabatan, asesoris lahiriyah, tetapi yang paling mulia disisi-Nya adalah yang paling berkulitas ketakwaannya (QS. Al Hujurat : 13).

Dengan demikian, perbedaan muslim dan kafir adalah diukur dari seberapa jauh sikap ridha Allah sebagai Rabbul Alamin, Islam sebagai din, Rasulullah sebagai utusan-Nya. Jadi, turunnya rahmat, maghfirah, pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan keterikatannya yang kokoh (iltizam) dengan Rabb, Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu diantara zikir yang matsur, dapat menjamin seseorang masuk surga, jika zikir berikut ia panjatkan dengan hati yang tulus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda :

من قال رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولا وجبت له الجنة

“Barang siapa yang mengucapkan ‘Radhiitu billahi rabbaa wa bil islaami diinaa wa bi muhammadin shallaa allahu ‘alaihi sa sallama rasuulaa’ (Aku rela Allah Swt sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Saw sebagai Rasul) Maka surga merupakan suatu kepastian baginya” (HR. Abu Dawud & dishahihkan Albani).

Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin, menjelaskan bahwa hadits ini mengandung inti dari pada rukun iman. Ridha Allah sebagai Rabb mengandung makna bahwa ia rela hanya akan menyembah dan mentauhidkan-Nya semata, sadar bahwa hanya Dia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Ridha dengan Nabi Muhammad sebagai rasulnya berarti ia rela dan tulus dan total mengikuti ajarannya. Ridha dengan Islam sebagai agamanya berarti ia rela dan ikhlas menjadikan islam sebagai jalan hidupnya (manhajul hayah).

Setelah hadits di atas, Imam Nawawi mengaitkan sabda Rasul tersebut dengan hadits lainnya. Beliau menyebut riwayat yang terdapat di dalam kitab Imam Tirmidzi, yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Busr Ra, berkata,

أن رَجُلاً قال : يا رسول الله إن شرائِع الإسلام قد كثُرت عليه فأخبرني بشيئ أتشبَّث به، فقال : لا يزال لِسانك رَطبًا مِن ذكر الله تعالى

Seorang lelaki mengatakan, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak atas diriku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang akan kupegang erat-erat.” Nabi Saw menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir menyebut Allah Swt.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi mengatakan, kualitas hadis ini hasan. Lafaz atasyabbatsu mengandung makna atamassaku (berpegang teguh), yakni (zikir) yang bisa aku jadikan sebagai pegangan dan amalan andalanku. Yaitu zikir yang mudah dipanjatkan kapanpun agar bisa menambal kekurangan ibadah-ibadah wajib yang hilang yang karenanya pahala amalan wajib menjadi tidak sempurna.

Dalam hadits terakhir, Rasul tidak menyebutkan apa zikir yang bisa dijadikan pegangan oleh sahabat tersebut. Beliau hanya menekankan agar ia selalu berzikir hingga bibirnya selalu basah karena menyebut nama Allah dan itu bisa dengan melafalkan zikir apapun.

Jika berharap zikir yang menjamin masuk surga, maka bisa mengamalkan zikir yang diajarkan Rasulullah dalam hadis pertama. Namun jika ingin membuat timbangan amalnya berat, maka bisa dengan melantunkan zikir yang lain.

ومعناه اي قنعت بان الله تعالى هو الخالق والسيد والمالك والمصلح والمربي لخلقه والمدبر امورهم ولستُ بمكره على ذلك بل انا راضٍ به ، وكذلك رضيت ان ادين بدين الاسلام عما سواه من الاديان ، وكذلك رضيت بحمّد صلى الله عليه وسلم رسولا من الله مخالفا من عائدٍ وكفر به ، اي : ان من يقول هذا الدعاء كان حقّا على الله ان يدخله الجنة

Makna hadits di atas, aku puas bahwa Allah sebagai Al Kholiq, Tuan, Raja, Mushlih dan Murabbi kepada seluruh makhluk-Nya, dan Pengatur segala urusannya, dan aku tidak benci dengan itu semua, bahkan aku ridha dengannya, demikian pula aku ridha untuk memeluk dinul Islam yang unggul diatas seluruh agama.

Disamping itu aku ridha Muhammad sebagai Rasulullah, menyelisihi dengan para pengingkar dan penentangnya. Sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut, merupakan kewajiban Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika seorang muslim yang tidak ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai manhajul hayah, dan Rasulullah sebagai figur sentralnya ?

Apakah perlu dibedakan jika ucapan dan perilaku muslim beririsan (tasyabbuh) dengan orang kafir? Bahkan secara lahiriyah negara kafir lebih bersih, jujur, disiplin, manajemen lebih rapi, sumber daya manusianya lebih berkelas.

Realitas kehidupan kaum muslimin menjadi bukti, paradok dengan isi kitab sucinya. Al Islamu mahjubun bilmuslimin. Umat islam lebih culas, tidak disiplin, konsumtif, kurang bersih dan kurang disiplin dan mutu sumber daya mukmin yang dibawah standar umum.

Jika muslim tidak melakukan cabang keimanan yang prinsip, mentauhidkan Rabb, mencintai Islam, memuliakan Rasulullah, karena faktor kebodohan, maka urusannya terserah Allah diampuni ataupun disiksa dengan azab-Nya.

Berbeda status hukumnya jika muslim sengaja secara struktur dan masif untuk menentang Rabb, menyudutkan dinul Islam, merendahkan derajat Rasulullah, secara otomatis bisa menggugurkan keislamannya.

Langkah kongkritnya adalah meyakinkan diri dan orang lain agar lebih mengenal Rabb, memahami dan mengamalkan Islam, meneladani Rasulullah, agar kaum muslimin lebih berkualitas dalam berbagai dimensi kehidupannya..

Justru ketetapan Allah membedakan yang berbeda dan menyamakan yang sama adalah sikap adil. Alangkah zalimnya jika manusia yang shalih di dunia dengan kafir yang kerjanya berbuat kerusakan, ujung kehidupannya disamakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ

Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. Al-Qalam 68: 35)

مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ

“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 68: 36)

Jika mereka beriman seperti keimanan para pendahulunya yang shalih mereka akan terbimbing, sebaliknya jika mereka berpaling maka kehidupan mereka akan berantakan.

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 137)

Ust. Sholih Hasyim, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Jambore Sako Pramuka Hidayatullah Sumatera Utara Torehkan Sejarah Baru

MEDAN (Hidayatullah.or.id) -- Bertempat di Bumi Perkemahan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, terukir sejarah baru bagi Sako Pramuka...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img