
INNAA lillahi wa innaA ilaihi raji’un. Al Djufri Muhammad, sosok yang dikenal sebagai dai senior Hidayatullah, telah berpulang pada hari Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 H (4 November 2025) di Mimika, Kabupaten Timika, Provinsi Papua.
Dengan meninggalnya beliau, dunia dakwah dan pendidikan Islam di kawasan timur Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang mencurahkan hidupnya untuk menegakkan hadirnya Islam terpadu dalam wilayah yang terhimpit tantangan alam dan sosial.
Sebagai dai dan mengemban tugas sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, Al Djufri menjalankan amanah yang tidak ringan. Di tengah situasi pedalaman yang tidak mudah, ia bergerak tanpa lelah untuk mendirikan dan memantapkan lembaga-lembaga pendidikan yang menggabungkan pengajaran agama dan pemahaman kontekstual atas kondisi masyarakat setempat.
Dalam serial liputan Republika (1/7/2014) mengenai dakwah di pedalaman Papua, sosok Al Djufri disebut beberapa kali langsung berada di medan lumpur, turunan keras jalur akses, dan situasi yang amat menantang untuk menggapai wilayah-wilayah di mana sekolah atau pesantren hampir tak terjamah.
Jejak-jejak dakwahnya menampilkan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Dalam salah satu cerita liputan dikisahkan bagaimana jalan pedalaman yang dilintasi beliau terkadang sedemikian rusak dan berbentuk lumpur dalam sehingga kendaraan sering terjebak.
Namun, Al Djufri tidak gentar. Ia tetap meneruskan perjalanan karena urgensi menyebarkan ilmu dan meneguhkan hadirnya pendidikan Islam di wilayah yang kerap luput dari perhatian.
Selain medan fisik, tantangan sosial-kultural di Papua menjadi latar perjuangan beliau. Al Djufri hadir sebagai figur yang memahami bahwa pendidikan agama tidak bisa dilepaskan dari kondisi lokal bahwa anak-anak di pedalaman membutuhkan akses, guru, fasilitas, dan semangat yang sebenar-benarnya untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, bertakwa, dan peduli terhadap masyarakat.
Kepergian beliau menjadi momen duka bagi banyak pihak: santri, guru, keluarga besar Hidayatullah, serta masyarakat Papua yang menjadi bagian dari jangkauan dakwahnya.
Dalam mengenang Al Djufri Muhammad, beberapa hal layak dicatat tentang sosoknya. Pertama, keberanian dan kesetiaan terhadap dakwah di wilayah yang sulit. Bukan di kota besar dengan fasilitas lengkap, melainkan di pedalaman Papua yang memerlukan keteguhan hati dan keuletan fisik. Ia menempuh jalan berlumpur, berhadapan dengan rintangan fasilitas, transportasi, bahkan risiko sosial di jalan-jalan yang sering sepi dan sulit diakses.
Kedua, kepemimpinannya dalam pendidikan. Sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, ia tidak hanya sebagai figur administratif, tetapi sebagai pelaku langsung dalam membangun lembaga pendidikan integral.
Ia memahami bahwa penguatan lembaga pendidikan tak boleh hanya berhenti di bangunan dan kurikulum formal, melainkan harus hadir dalam konteks sosial, ekonomi, dan budaya lokal agar pendidikan benar-benar bermakna untuk anak-anak pedalaman.
Ketiga, jejak relasi dengan masyarakat. Dalam setiap kunjungan ke pedalaman, Al Djufri tak sekadar datang sebagai pengajar atau pemimpin, tetapi sebagai sahabat dan penggerak komunitas.
Kisah-kisah liputan mencatat bagaimana banyak orang pedalaman mengenalnya, dan kehadirannya dipandang bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ingin berkembang bersama.
Dengan wafatnya Al Djufri Muhammad, dunia dakwah dan pendidikan Islam di Papua dan khususnya jaringan Hidayatullah kehilangan teladan yang sambil mengajar juga ikut melewati lumpur, medan berat, dan tantangan yang tak banyak dipilih oleh orang lain.
Meskipun beliau telah tiada, intangible legacy-nya tentang keberanian, pengabdian, semangat membangun umat lewat dakwah dan pendidikan di garis terdepan tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafan, dan menempatkan beliau dalam golongan orang-orang yang mendapat rahmat luas. Serta, santri-santri yang pernah dibimbingnya menjadi penerus yang konsisten dalam pengabdian dan ilmu.






