
JIKA tidak ada rekrutmen, maka dua puluh tahun ke depan tinggal nama. Demikian pesan itu berseliweran seperti palu yang diketukkan perlahan di meja sejarah, tidak memekakkan telinga, tetapi mengguncang kesadaran. Sebuah peringatan struktural tentang masa depan sebuah organisasi.
Kalimat tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan tidak pernah bersifat otomatis; ia harus dirawat melalui kesadaran, perencanaan, dan tindakan yang konsisten.
Setiap organisasi hidup melalui manusia. Manusia adalah subjek yang menggerakkan nilai, menjalankan struktur, dan memikul amanah kolektif. Namun manusia juga tunduk pada hukum alam dan sunnatullah yang tidak dapat ditawar: menua, melemah, dan pada akhirnya wafat.
Karena itu, rekrutmen tidak dapat diposisikan sebagai aktivitas administratif belaka atau program kerja yang bisa ditunda. Rekrutmen adalah hukum keberlanjutan. Tanpanya, organisasi apa pun hanya menunggu waktu hingga kehilangan denyut kehidupannya.
Prinsip ini dipahami secara serius dalam pengelolaan negara modern. Setiap tahun, rekrutmen dibuka di sektor militer, kepolisian, dan birokrasi sipil karena selalu ada kekosongan akibat pensiun dan kematian.
Negara bahkan tidak cukup hanya menunggu pelamar, tetapi membangun sekolah-sekolah kedinasan untuk menyiapkan kader secara sistematis, berjenjang, dan disiplin. Masa depan, dalam perspektif negara, tidak boleh diserahkan pada kebetulan, melainkan harus dirancang melalui perencanaan jangka panjang.
Dunia usaha bergerak dengan logika yang serupa. Walaupun menggunakan bahasa yang lebih pragmatis, substansinya tetap sama, yakni regenerasi. Tanpa rekrutmen yang berkelanjutan, perusahaan hanya akan bertahan sebagai nama dagang dan arsip masa lalu. Prinsip ini bersifat universal, melintasi sektor, ideologi, dan latar budaya organisasi.
Perjuangan Nilai
Dalam konteks tersebut, Hidayatullah sejatinya telah memahami hukum keberlanjutan ini sejak awal kelahirannya sebagai pesantren dan kini sebagai ormas yang berkhidmat untuk khalayak luas. Dakwah tidak dimaknai semata sebagai ceramah, melainkan sebagai ajakan untuk bergabung dan hidup di dalam nilai.
Santri yang pulang ke kampung halaman tidak hanya membawa kerinduan, tetapi juga amanah sosial untuk mengajak keluarga, tetangga, dan lingkungan terdekat. Rekrutmen berlangsung secara alami, dari mulut ke mulut dan dari hati ke hati.
Sejarah mencatat bahwa pola ini pernah melahirkan peristiwa sosial yang penting. Dalam beberapa fase awal, rekrutmen bahkan terjadi secara kolektif, yang melibatkan keluarga besar atau komunitas dalam satu wilayah. Fenomena ini adalah fakta sejarah yang menunjukkan bahwa rekrutmen pernah menjadi gerakan sosial yang hidup, kolosal, organik, dan berakar di masyarakat.
Namun pengalaman panjang juga mengajarkan bahwa tidak semua rekrutmen menghasilkan dampak yang sama. Ada rekrutmen yang memiliki daya ungkit lebih besar dan berpengaruh dalam jangka panjang.
Rekrutmen di kalangan mahasiswa merupakan salah satu contoh paling menentukan. Kelompok ini membawa tradisi berpikir kritis, kapasitas intelektual, dan energi perubahan yang kuat. Tidak mengherankan jika struktur kepemimpinan organisasi pada masa kini banyak diisi oleh kader-kader yang dahulu direkrut pada fase ini.
Mereka tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang tarbiyah, pengabdian, dan pembelajaran organisasi. Pada masanya, mereka datang sebagai mahasiswa yang membawa semangat intelektual, lalu ditempa dalam medan dakwah dan kepemimpinan hingga matang secara visi dan karakter. Fakta ini menunjukkan bahwa investasi kaderisasi berbasis rekrutmen mahasiswa memiliki dampak struktural yang signifikan dalam menjaga kesinambungan organisasi.
Fenomena serupa terlihat pada cabang-cabang organisasi yang berkembang pesat. Cabang yang berada di kota-kota dengan ekosistem pendidikan tinggi umumnya menunjukkan dinamika pertumbuhan yang lebih kuat. Kesamaan mendasarnya terletak pada keberanian merekrut mahasiswa dan mempercayai mereka sebagai kader pelopor.
Walakin, kepercayaan ini bukan tanpa risiko, namun sejarah telah membuktikan bahwa keputusan tersebut melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjaga arah dan identitas organisasi.
Beberapa dekade kemudian, kader-kader hasil rekrutmen strategis tersebut berdiri sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar pengisi struktur. Mereka mampu menangkap, menerjemahkan, dan meneruskan cita-cita pendiri dan perintis, meskipun generasi awal telah banyak berpulang atau memasuki usia senja. Di titik inilah tampak bahwa eksistensi organisasi tidak ditopang oleh figur personal, melainkan oleh sistem rekrutmen dan kaderisasi yang visioner.
Dimensi Perguruan Tinggi
Kesadaran akan pentingnya kaderisasi ini mendorong lahirnya Perguruan Tinggi Hidayatullah pada pertengahan dekade 1990-an. Dalam bahasa organisasi, lembaga ini dapat dipahami sebagai sekolah kedinasan yang berfungsi sebagai pintu rekrutmen kader intelektual dan calon pemimpin masa depan.
Hingga kini, berbagai perguruan tinggi di bawah naungan organisasi telah berdiri dan meluluskan alumni yang mengisi posisi strategis di tingkat pusat, wilayah, dan daerah.
Data internal menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus tingkat pusat, wilayah, dan satuan pendidikan berasal dari jalur perguruan tinggi ini. Namun capaian tersebut belum sepenuhnya memuaskan.
Daya dobraknya belum sebanding dengan rekrutmen mahasiswa pada fase awal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Masih terdapat tantangan berupa ketidakkonsistenan pengabdian dan belum optimalnya pelaksanaan amanah oleh sebagian alumni.
Kemungkinan besar, ini adalah persoalan waktu dan proses. Kiprah alumni perguruan tinggi organisasi relatif masih muda dibanding generasi awal. Artinya, ruang harapan belum tertutup.
Regenerasi dan estafet kepemimpinan di semua level masih terbuka lebar, dengan satu prasyarat utama: peningkatan kompetensi yang berkelanjutan serta komitmen yang teguh pada jati diri organisasi.
Sejarah tidak pernah selesai. Ia hanya menunggu apakah sebuah organisasi memiliki keberanian untuk terus merekrut, membina, dan menyiapkan generasi penerusnya secara sadar dan terencana.
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah






