
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, menegaskan bahwa masjid sebagai jantung peradaban islam dan pusat transformasi umat. Masjid sejak awal kehadiran Islam bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda identitas umat dan pusat kehidupan masyarakat Muslim.
Di mana ada komunitas Muslim, di situ selalu ada masjid. Ia menjadi simbol keberadaan, ruang perjumpaan, dan tempat umat meneguhkan hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia. Karena itu, pembangunan masjid tidak dapat dilepaskan dari misi peradaban Islam itu sendiri.
“Dan itu telah menjadi salah satu fitur paling mendasar, revolusioner, dan indah dari agama kita,” kata Muzakkir dalam notes yang diterima media ini, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).
Dalam sejarah Islam, generasi awal tidak berlomba membangun masjid megah dengan struktur besar. Masjid dibangun sebagai bagian alami dari kehidupan, menyatu dengan ritme sosial umat. Fungsi utamanya memang sebagai tempat ibadah berjamaah, terutama shalat Jumat, namun sejatinya masjid memiliki tujuan yang jauh lebih dalam.
Tujuan tersebut baru ditegaskan secara eksplisit di akhir masa turunnya wahyu, ketika Allah menurunkan Surah At-Taubah ayat 18. Ayat ini menegaskan bahwa yang berhak memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.
Kata kunci dalam ayat ini adalah “ya‘muru” atau memakmurkan. Makna kata ini, jelas Muzakkir, melampaui sekadar membangun atau merawat bangunan fisik. Dalam bahasa Arab, akar kata imarah bermakna menjaga agar sesuatu tetap hidup, tidak rusak, dan terus berfungsi sesuai tujuannya.
Karena itu, memakmurkan masjid bukan hanya soal karpet, pintu, atau kubah, tetapi menjaga ruh, fungsi, dan orientasi masjid agar tetap menjadi pusat pembinaan iman dan kehidupan umat.
“Masjid harus dipelihara tujuannya. Allah tidak hanya bicara tentang memelihara jendela, pintu, karpet, atau tempat wudu. Dia bicara tentang menjaga tujuan masjid itu sendiri,” katanya.
Masjid disebut sebagai “masajidallah”, rumah Allah. Konsep ini menegaskan bahwa masjid bukan milik individu, kelompok, atau kepentingan tertentu. Segala aktivitas di dalamnya harus tunduk pada nilai yang diridhai Allah. Di masjid, seluruh simbol status dunia ditanggalkan. Tidak ada perbedaan kelas, jabatan, atau kekayaan.
Semua berdiri sejajar dalam shaf yang sama, dengan dahi yang sama-sama menempel ke tanah. Inilah pendidikan kesetaraan yang paling mendasar, yang mengajarkan kerendahan hati dan membentuk karakter manusia yang tidak merasa lebih tinggi dari sesamanya.
Apa yang dipelajari di dalam masjid seharusnya memengaruhi cara hidup di luar masjid. Kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba Allah akan melahirkan sikap sosial yang adil, rendah hati, dan penuh empati. Dengan demikian, masjid menjadi sekolah nilai yang membentuk perilaku individu dan masyarakat.
“Ketika datang ke sini (masjid), satu-satunya kerendahan hati yang tersisa adalah kepada Allah. Ini adalah cara Allah mengajar kita bahwa di sini bukan tentang kepribadian seseorang, kualifikasi, atau pangkat. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Kita semua sama-sama rendah di hadapan Allah,” terangnya.
Fungsi pendidikan masjid mencapai puncaknya melalui transformasi Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa Al-Qur’an diturunkan selama 23 tahun kepada masyarakat Arab yang telah memiliki sistem nilai, budaya, dan tradisi yang mengakar selama berabad-abad. Namun, dalam rentang waktu tersebut, Al-Qur’an berhasil mengubah hampir seluruh aspek kehidupan mereka. Bukan hanya struktur sosial atau politik yang berubah, tetapi cara berpikir, merasa, mencintai, membenci, dan memandang dunia.
Revolusi Hati
Muzakkir lebih jauh menjelaskan bahwa revolusi Al-Qur’an berbeda dari revolusi mana pun dalam sejarah. Ia bukan revolusi kekuasaan, melainkan revolusi hati. Al-Qur’an tidak pertama-tama mengubah sistem, tetapi mengubah apa yang diinginkan manusia. Ketika hati tunduk kepada Allah, seluruh orientasi hidup ikut berubah. Standar kesuksesan tidak lagi diukur dari kekuasaan, harta, atau popularitas, tetapi dari keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya.
Di sinilah masjid menjadi episentrum transformasi Qur’ani. Dari masjid, semangat belajar Al-Qur’an, mentadabburi makna, dan menghidupkan nilai-nilainya harus terus ditumbuhkan. Iman lahir dan berkembang ketika jiwa manusia senantiasa berinteraksi dengan wahyu. Tanpa fungsi ini, masjid akan kehilangan perannya sebagai pusat perubahan.
“Kampanye pertama dari revolusi ini adalah mentransformasi jiwa. Jiwa adalah pusat percakapan dalam Al-Qur’an, terutama pada periode awal. Semuanya dimulai ketika hati berpaling kepada Allah,” katanya.
Selain sebagai pusat pendidikan, masjid juga berfungsi sebagai pusat rekonstruksi sosial dan ekonomi. Hal ini ditegaskan melalui penyebutan zakat dalam Surah At-Taubah ayat 18. Zakat menunjukkan adanya relasi sosial antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan. Masjid menjadi tempat bertemunya potensi ekonomi, solidaritas sosial, dan kepedulian antarsesama. Di sana, hubungan personal terbangun, kerja sama lahir, dan kebutuhan umat dapat dikenali secara langsung.
Masjid juga berperan melahirkan kepemimpinan umat. Rasulullah menyebut masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah, menunjukkan kedudukannya yang sentral dalam kehidupan Islam. Dari masjid lahir pemimpin yang takut kepada Allah, berjiwa melayani, dan berkomitmen pada keadilan. Kepemimpinan seperti ini tidak dibangun dari ambisi, tetapi dari kedekatan dengan wahyu dan tanggung jawab moral.
Dalam pada itu, refleksi Muzakkir mengingatkan bahwa membangun masjid, sebesar apa pun, tidak otomatis menjamin hidayah. Allah menggunakan kata “mudah-mudahan” dalam ayat tersebut, sebagai peringatan agar manusia tidak terjebak pada kebanggaan atas amal masa lalu. Memakmurkan masjid adalah proses yang tidak pernah selesai. Tujuan, fungsi, dan ruhnya harus terus direkonstruksi agar tetap hidup dan relevan.
“Kita tidak mendapatkan sertifikat hidayah hanya karena melakukan satu amal besar. Anda harus terus mengejar hidayah karena “pembangunan” masjid tidak pernah selesai. Secara makna imarah, tujuannya harus terus direkonstruksi setiap saat,” jelasnya.
Dia menegaskan, masjid yang hidup adalah masjid yang terus meniupkan kehidupan ke dalam iman, ilmu, ekonomi, dan kepemimpinan umat. Dari sanalah peradaban Islam bertumbuh dan memberi cahaya bagi dunia, tandasnya.






