
BATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, menyampaikan bahwa kader senior memiliki peran strategis dalam menjaga nilai, arah, serta kesinambungan pengalaman perjuangan organisasi.
Ia menegaskan bahwa proses regenerasi tidak dimaksudkan untuk memutus mata rantai pengabdian, melainkan memastikan estafet dakwah berjalan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Pernyataan tersebut disampaikan Amun Rowie saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Batu, Jawa Timur, pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026).
Dalam arahannya, Amun menegaskan bahwa Hidayatullah merupakan organisasi perjuangan yang tidak mengenal konsep pensiun dalam dakwah.
Ia menyampaikan bahwa pengabdian dalam organisasi bersifat berkelanjutan, seiring dengan tanggung jawab moral dan nilai perjuangan yang melekat pada setiap kader.
“Pensiun boleh ada di amal usaha, tetapi tidak dalam organisasi perjuangan. Kita berjuang sampai akhir,” ujarnya di hadapan peserta Rakerwil.
Rakerwil DPW Hidayatullah Jawa Timur diikuti oleh berbagai unsur struktur organisasi. Peserta mencakup perwakilan Dewan Pengurus Pusat, Dewan Murabbi Wilayah, Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, badan-badan organisasi, amal usaha, serta organisasi pendukung Hidayatullah se-Jawa Timur. Kehadiran lintas unsur ini mencerminkan keterpaduan struktur organisasi dalam merumuskan arah kerja wilayah.
Amun Rowie menjelaskan bahwa regenerasi kader harus dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan, dengan pembagian peran yang jelas antara kader senior dan kader junior.
Menurutnya, kader senior tetap memegang fungsi strategis sebagai penjaga nilai, penentu arah, serta penyimpan pengalaman perjuangan organisasi.
Sementara itu, kader junior didorong untuk tampil sebagai penggerak lapangan dan pelaksana program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Pembagian peran tersebut, menurut Amun, bertujuan menjaga keseimbangan antara kesinambungan nilai dan kebutuhan akan energi baru dalam organisasi.
Dengan pola ini, proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan pergantian struktur, tetapi juga memastikan transfer nilai dan pengalaman berlangsung secara utuh. Ia menekankan bahwa regenerasi tidak identik dengan penghapusan peran kader lama, melainkan penataan ulang peran sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dalam pemaparannya, Amun juga mengungkapkan data komposisi kepengurusan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah di Jawa Timur. Ia menyebutkan bahwa sekitar 30 persen pengurus DPD saat ini berasal dari kader baru. Komposisi tersebut menunjukkan adanya proses penyegaran organisasi yang berjalan seiring dengan upaya menjaga ruh perjuangan yang telah dibangun sebelumnya.
Menurut Amun, kehadiran kader baru dalam struktur kepengurusan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penyegaran tersebut harus tetap berada dalam koridor nilai dan visi perjuangan Hidayatullah. Dengan demikian, keberlanjutan dakwah tidak hanya dijaga melalui regenerasi usia, tetapi juga melalui konsistensi nilai dan arah gerakan.
Dia mengatakan, Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah Jawa Timur menjadi forum penting untuk menyamakan persepsi terkait pola kaderisasi dan pembagian peran antar generasi.
Melalui forum ini, kembali dia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh munculnya kader baru, tetapi juga oleh peran aktif kader senior dalam membimbing, mengarahkan, dan menjaga marwah perjuangan.






