
MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat, Shohibul Anwar, M.H.I, menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah merupakan wujud kepedulian sekaligus rasa syukur atas nikmat besar yang Allah SWT anugerahkan kepada Indonesia sebagai negeri yang luas, kaya, dan berpenduduk besar.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau yang dimulai pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).
Shohibul Anwar memaparkan gambaran umum kondisi Indonesia sebagai negara dengan bentang geografis yang sangat luas. Ia menyampaikan bahwa luas wilayah Indonesia dapat disejajarkan dengan jarak dari Turki hingga Kepulauan Inggris.
Selain itu, Indonesia memiliki keragaman yang sangat besar dengan ribuan bahasa daerah dan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen penduduk memeluk agama Islam.
Namun demikian, ia juga menyampaikan bahwa tantangan umat masih cukup besar, termasuk fakta bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an.
Shohibul Anwar menjelaskan bahwa realitas tersebut menjadi dasar kehadiran dan peran Hidayatullah di tengah masyarakat. “Di sinilah Hidayatullah hadir sebagai gerakan pelayanan umat melalui pendidikan, dakwah, dan sosial yang berkelanjutan,” ujarnya di hadapan peserta Rakerwil.
Ia kemudian memaparkan kondisi dan capaian pelayanan Hidayatullah di wilayah Kalimantan Utara. Menurutnya, hingga saat ini Hidayatullah telah hadir di lima kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Kehadiran itu diwujudkan melalui jaringan lembaga pendidikan yang lengkap, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Ia menyampaikan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan tidak bersifat tunggal, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Shohibul Anwar menjelaskan bahwa model pendidikan Hidayatullah mencakup sekolah berbayar, sekolah dengan biaya terjangkau, serta sekolah gratis. Skema tersebut diterapkan sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat kurang mampu agar tetap memperoleh akses pendidikan.
Selain pendidikan formal, ia juga menyampaikan bahwa Hidayatullah mengembangkan Sekolah Dai sebagai pusat kaderisasi dakwah. Seluruh alumni perguruan tinggi Hidayatullah dipersiapkan melalui lembaga tersebut untuk menjadi pendakwah yang siap terjun langsung ke tengah masyarakat.
Di bidang sosial, Shohibul Anwar menyampaikan bahwa Hidayatullah telah menginisiasi program Sekolah Lansia. Program ini diselenggarakan baik dalam bentuk berasrama maupun non-berasrama. Ia menjelaskan bahwa Sekolah Lansia dirancang agar para lanjut usia dapat mengisi masa tua dengan aktivitas yang bermakna dan membahagiakan.
Selain itu, Hidayatullah juga memiliki unit Search and Rescue (SAR) yang aktif terlibat dalam penanganan kebencanaan di berbagai wilayah Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Shohibul Anwar menekankan pentingnya perumusan program kerja yang matang dan terukur. Ia menyampaikan bahwa setiap program yang dirancang harus berorientasi pada dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Hidayatullah hadir bukan sekadar hadir. Semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat, maka semakin kuat kepercayaan dan pengaruh dakwah yang dibangun,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Shohibul Anwar juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara serta pemerintah kabupaten dan kota atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini.
Ia mengingatkan seluruh kader Hidayatullah untuk terus menjaga sinergi dengan pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Menurutnya, tugas dakwah merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat Islam.
Menutup arahannya, Shohibul Anwar menyampaikan permohonan maaf kepada para kader di daerah atas keterbatasan yang dimiliki oleh pengurus pusat dalam memenuhi kebutuhan sumber daya insani dan layanan lainnya.






