
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menegaskan bahwa kesabaran dan keteguhan dalam menjalani proses merupakan bagian penting dari pembentukan karakter seorang da’i. Menurutnya, tidak semua orang mampu bertahan dalam proses panjang pendidikan dan pembinaan, namun mereka yang istiqamah akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan siap menghadapi medan dakwah yang sesungguhnya.
KH Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi kepada seluruh santri yang tetap bertahan dan bersabar menghadapi berbagai dinamika kehidupan di pondok. Ia menyebut bahwa proses pendidikan dan pembinaan tidak selalu mudah, namun justru di situlah karakter ditempa.
“Kesabaran dan keteguhan dalam menjalani proses adalah bagian dari pembentukan karakter,” katanya, seraya menekankan bahwa ketahanan dalam proses merupakan bekal utama dalam perjuangan dakwah.
Pesan pesan itu tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat menjadi pembicara dalam kegiatan Kuliah Umum yang dirangkai dengan Tarhib Ramadhan Sekolah Da’i Hidayatullah di Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Ahad, 20 Sya’ban 1447 (8/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para santri Sekolah Da’i sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Pada kesempatan tersebut, KH Naspi Arsyad juga mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah rutin tahunan, melainkan bulan tarbiyah dan dakwah. Ramadhan, menurutnya, adalah masa pembinaan diri yang menyeluruh sekaligus penguatan orientasi perjuangan seorang da’i. Ia menekankan bahwa setiap muslim termasuk para santri kuliah dai perlu memaknai Ramadhan sebagai ruang pembentukan mental, ruhiyah, dan kedisiplinan.
Dalam arahannya, ia mengingatkan agar para santri tidak terpesona oleh gemerlap dunia yang kerap melalaikan manusia dari tujuan hidup. Ia menegaskan pentingnya keyakinan kepada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Usaha terbaik harus dilakukan, sementara hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

KH Naspi Arsyad menekankan bahwa Ramadhan perlu dijalani dengan kesungguhan dan totalitas. Setiap momen di dalamnya adalah kesempatan berharga yang tidak selalu dapat terulang. Ia mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan bulan penggemblengan diri menuju ketakwaan, sehingga harus diisi dengan ibadah, amal saleh, dan peningkatan kualitas pribadi.
Kedekatan dengan Al-Qur’an menjadi salah satu penekanan utama dalam kuliah umum tersebut. Menurutnya, seorang da’i harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan hanya dibaca dan dilantunkan, tetapi juga dipahami dan ditadabburi. Dakwah yang kuat, katanya, lahir dari hati yang dekat dengan wahyu.
Ia juga mengingatkan agar Ramadhan tidak dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas, terutama karena aktivitas ibadah malam. Justru, menurutnya, Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih disiplin dan mampu mengatur waktu serta menjaga stamina agar tetap optimal dalam menjalankan aktivitas keseharian.
Dalam salah satu penekanan pesannya, KH Naspi Arsyad menyampaikan peringatan kepada para santri tentang tanggung jawab yang menanti mereka. “Umat sudah menunggu kalian,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar Ramadhan dijalani dengan target yang jelas, baik dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, perenungan, sedekah, qiyamul lail, maupun perbaikan akhlak. Menurutnya, tanpa target yang terukur, Ramadhan akan berlalu tanpa memberikan dampak yang signifikan.
Di akhir arahannya, KH Naspi Arsyad mengingatkan pentingnya adab dalam menyambut Ramadhan dengan rasa gembira dan penuh syukur.
“Semoga Ramadhan benar-benar menjadi momentum tarbiyah yang mengantarkan kita menuju ketakwaan dan menguatkan langkah kita dalam perjuangan dakwah,” pungkasnya.






