AdvertisementAdvertisement

Belajar dari Halaqah Pertama Rasulullah

Content Partner

Ust. Abdul Ghofar Hadi (Foto: Olah digital/ hidayatullah.or.id)

KETIKA Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan wahyu maka secara keimanan mendorongnya untuk mengajak (dakwah) orang-orang di sekitarnya yaitu keluarga, kerabat dan teman-teman dekatnya untuk bisa beriman. Kemudian mereka yang berhasil diajak untuk beriman maka perlu dilakukan pembinaan (tarbiyah) agar semakin teguh keimanannya. Mereka bukan hanya ditarbiyah tapi juga disiapkan untuk menjadi penerus risalah kenabian sehingga dibina secara intens (perkaderan).

Keimanan senantiasa mendorong untuk berdakwah agar risalah Islam dakwah tersebar, memerlukan pembinaan (tarbiyah) agar keimanan semakin kuat dan tidak mudah tergoda. Keimanan juga harus menyiapkan penerus (kaderisasi) karena risalah Islam ini bukan untuk satu generasi.

Di saat yang sama, kaum kafir Quraisy tidak hanya menentang dakwah Nabi Muhammad ﷺ namun mereka mencoba melakukan penyerangan untuk menghentikan dakwah Nabi ﷺ dengan berbagai cara. Secara umum ada dua metode besar yaitu metode menyerang secara psikologi/mental dan metode menyerang secara fisik. Keduanya dilakukan secara ekstrem sebagai pembunuhan karakter dan pembunuhan fisik.

Menghadapi penyerangan brutal kaum Quraisy, Nabi ﷺ mengambil langkah cerdas dan strategis yaitu berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ memilih rumah Arqam sebagai tempat berhalaqah untuk berkumpul, mengajar, dan membina para sahabat. Beliau memilih rumah al Arqam karena tiga alasan. Pertama, Arqam masih muda yang belum dikenal keislamannya sehingga Quraisy tidak menyangka rumah seorang pemuda menjadi pusat gerakan besar. Orang-orang kafir Quraisy menyangka markaz pertemuan di rumah salah satu pembesar shahābat.

Kedua, Arqam berasal dari Bani Makhzum, kabilah yang bersaing keras dengan Bani Hasyim sehingga Quraisy tidak pernah mengira Nabi Muhammad ﷺ menjadikan rumah anggota Makhzum sebagai markas dakwah. Padahal resikonya apabila ketahuan oleh kabilahnya (Bani Makhzum), maka dia bisa dibunuh oleh Abu Jahl, karena saat itu Abu Jahl adalah pembesarnya Bani Makzhum.

Ketiga, posisi rumah Arqam bin Arqam di dekat Jabal Shafa artinya dekat dengan Ka’bah sehingga tidak mencurigakan dijadikan tempat pertemuan Nabi ﷺ dan para sahabat beliau. Pintu masuknya dari belakang sehingga banyak orang tidak memperhatikan. Inilah yang membuat rumah tersebut tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy.

Apa Kegiatan di Rumah Arqam bin Arqam?

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam Sirah -nya:

Rasulullah  mengajak para sahabat untuk berkumpul di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam di bukit Shafa. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajarkan agama kepada mereka.” (Sirah Ibnu Hisyam , jilid 1, hlm. 265).

Di rumah itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tasqif (pembinaan). Para sahabat yang baru masuk Islam belajar langsung tentang tauhid, ibadah, dan akhlak. Dalam pertemuan tersebut Rasulullah membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kandungan Al-Qur’an, menguatkan iman mereka yang masih baru, memperkuat mental mereka menghadapi tekanan dari kaum musyrikin Qurasy dan memberikan motivasi gambaran masa depan kehidupan yang lebih baik, baik di dunia dan akherat.

Di rumah Arqam itulah Rasulullah dan para sahabat bisa leluasa beribadah, menerima penjelasan wahyu-wahyu yang turun meski belum banyak ayat al-Quran yang turun. Di antara mereka mengajak keluarga dan teman dekatnya untuk masuk Islam lalu dibawa ke rumah Arqam bin Arqam untuk masuk Islam tanpa harus diketahui oleh orang-orang kafir Qurasy yang mengintai dan mengancam dengan siksaan kejam.

Pelajaran yang bisa dipetik dari strategi Rasulullah dalam mengumpulkan para sahabat di rumah sederhana Arqam

Pertama, Rasulullah berfokus pada perkaderan dengan pembinaan intens. Orang-orang seperti Abu Bakar, Khadijah, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan lainnya sebagai assabiqunal awwalun. Mereka tumbuh dengan karakter menjadi pemimpin, panglima, dan teladan umat sepanjang zaman yang terbukti luar biasa jasanya untuk perjalanan Islam selanjutnya.

Kedua, pembinaan secara intens agar terjaga dan tumbuh iman dengan baik. Dalam kondisi apapun, apalagi di kondisi tenang tanpa ancaman maka seharusnya lebih leluasa dan intens dalam pembinaan. Melalui halaqah-halaqah, majelis-majelis taklim rutin, komunitas-komunitas. Tidak terburu-buru mengejar kuantitas dan popularitas tapi kualitas dari kader

Ketiga, pentingnya seorang murabbi, muallim, instruktur yang memiliki kompetensi dan komitmen untuk lahirnya kader-kader militan. Rasulullah adalah seorang murabbi, muallim dan sekaligus instruktur. Maka menghadirkan sosok murabbi itu penting agar menjadi magnet, episentrum yang bisa menarik dan menggerakkan orang-orang beriman agar terantar menjadi kader yang militan dan tangguh.

Keempat, pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antar sesama muslim untuk saling menguatkan dan nasehat menasehati dalam kebaikan. Pertemanan dan persahabatan dalam bingkai keimanan itu sangat urgen sebagaimana dikatakan Rasulullah, “Sesungguhnya seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Halaqah adalah circle paling efektif dan ideal untuk menjaga pertemanan dalam bingkai iman, mengontrol spritual, moral dan ukhwah.

Kelima, orientasi keselamatan jiwa. Dakwah dan tarbiyah harus mengutamakan keselamatan jiwa, tidak ceroboh dengan mengandalkan semangat tapi kurang strategi yang terkadang mengancam jiwa. Rasulullah dan orang-orang beriman bukan penakut tapi melihat kondisi sosial, sensitifitas masyarakat dan ada tujuan lebih strategis untuk kesinambungan dakwah ke depan dengan menghindari konfrotasi fisik di awal dakwah.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Terima Hibah Rumah untuk Pusat Dakwah di Mamberamo Raya

PAPUA (Hidayatullah.or.id) -- Pada momen spesial Ramadhan ini, Hidayatullah Kabupaten Mamberamo Raya menerima hibah sebuah rumah yang direncanakan menjadi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img