AdvertisementAdvertisement

Mahasiswa dan Daya Iqra’

Content Partner

ADA semacam magis yang terpancar dari sebuah jaket almamater dengan logo universitas meski tidak ternama. Sebuah simbol yang sering kali menjadi muara impian bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

Dalam strata akademik, status mahasiswa adalah kasta yang diidamkan, di mana gengsi dan ekspektasi berpadu dalam satu warna kain jaket.

Namun, di balik kebanggaan yang terpampang nyata itu, tersimpan tanggung jawab besar: apakah jaket tersebut hanya akan menjadi hiasan raga, ataukah menjadi zirah bagi pemikiran yang merdeka?

Tak banyak yang menyadari bahwa kursi di ruang kuliah adalah sebuah privilese yang mahal. Namun sayangnya, kemewahan itu sering kali diringkas menjadi sekadar perburuan indeks prestasi yang melangit untuk cumlaude. Mahasiswa-mahasiswa ini terjebak dalam obsesi angka, atau lebih parah lagi, terjebak dalam impian pragmatis tentang kenyamanan hidup setelah wisuda.

Perjalanan hidup sebagian mahasiswa hanya mengalir dalam garis lurus yang membosankan: dari kos ke kampus, mampir sejenak di perpustakaan, lalu berakhir di kantin. Sebuah perjalanan yang begitu mekanis, tanpa pernah benar-benar menyentuh debu jalanan atau keresahan rakyat di luar pagar kampus.

Mahasiswa sering kali lupa bahwa ijazah hanyalah artefak administratif, bukan jimat sakti untuk menaklukkan realitas. Hidup ini memiliki logikanya sendiri, sebuah teka-teki yang tak sanggup dijawab oleh indeks prestasi terbaik sekalipun.

Kewajiban belajar adalah komitmen seumur hidup, namun mereduksinya hanya sebatas duduk manis di balik meja kelas yang sempit adalah sebuah tragedi intelektual. Ruang kuliah ukuran enam kali delapan meter itu terlalu kecil untuk menampung luasnya samudera kehidupan yang sesungguhnya menanti untuk mahasiswa arungi.

Ada beban sejarah yang melekat pada pundak tiap mahasiswa, sebuah privilese yang tak sempat dicicipi oleh banyak anak bangsa. Namun, sering kali kemewahan ini disalahartikan sebagai tiket untuk sekadar bersantai dalam zona nyaman. Sebagian mahasiswa terjebak dalam ritus ‘kongkow’ yang repetitif, menghabiskan waktu dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya seolah hidup tak memiliki urgensi. Di sana, kopi hanya menjadi kawan bicara yang hambar, diminum tanpa ada ide yang lahir, dan habis tanpa menyisakan jejak perubahan bagi bangsa yang sedang menanti di luar sana.

Eksistensi mahasiswa hari ini adalah determinan utama bagi wajah Indonesia dua dekade mendatang. Masa depan Indonesia emas tahun 2045 tidak akan dikonstruksi oleh kebetulan, melainkan oleh kualitas intelektual dan integritas mahasiswa yang diasah hari ini. Pertanyaannya bukan lagi kapan perubahan itu datang, melainkan kontribusi strategis apa yang telah disiapkan untuk mengisi ruang-ruang kepemimpinan di masa depan tersebut.

Padahal, mahasiswa memiliki peran yang strategis yaitu, pertama, sebagai agent of change yang memegang mandat sebagai katalisator perubahan sosial. Peran ini menuntut keberanian moral untuk melakukan intervensi inovatif yang mendisrupsi status quo.

Gerakan mahasiswa tidak dirancang untuk mengakomodasi zona nyaman, melainkan sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan stagnasi dan mengonstruksi tatanan masyarakat yang lebih berkeadilan.

Kedua, sebagai social control. Mahasiswa mengartikulasikan fungsi kontrol sosial melalui keberanian dalam mengonfrontasi kebijakan publik yang teralienasi dari kebutuhan rakyat. Sebagai pemegang otoritas moral (moral force), mahasiswa mentransformasikan keresahan kolektif menjadi narasi kritis yang cerdas—baik melalui orasi demonstrasi di ruang jalanan maupun diskursus digital melalui media sosial. Intervensi ini bukan sekadar oposisi, melainkan upaya intelektual untuk memastikan suara masyarakat marjinal tetap menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan negara.

Ketiga, mahasiswa sebagai iron stock yang merupakan manifestasi dari regenerasi intelektual yang tidak boleh terputus. Efektivitas perkaderan dalam membentuk karakter pemimpin masa depan sangat bergantung pada dinamika kemahasiswaan; sebuah ruang dialektika yang tidak ditemukan di dalam ruang kelas formal.

Melalui aktivitas organisatoris, mahasiswa mengalami proses pengkristalan mental dan pematangan ideologi, yang menjadikannya kader bangsa yang kokoh, tangguh, dan tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan sesaat

Masa kuliah adalah momentum emas yang tidak pernah berulang. Jangan sia-siakan predikat ‘maha’ yang tersemat di depan status. Kata itu bermakna agung karena adanya daya pikir yang kritis, kepekaan sosial yang tajam, dan keberanian untuk berdiri tegak di atas kebenaran. Tanpa peran-peran tersebut, mahasiswa hanyalah ‘siswa’ yang berpindah gedung; memiliki kartu mahasiswa namun kehilangan nyawa intelektualitasnya.

Segala bentuk perjuangan mahasiswa, pada hakikatnya, harus bermuara pada satu hulu: daya Iqra’. Ia adalah sebuah ziarah ganda; membaca teks yang tersurat di atas lembaran buku untuk menimba kebijakan masa lalu dan prediksi masa depan, sekaligus membaca konteks yang tersirat dalam peristiwa sosial untuk menangkap kegelisahan masa kini.

Tanpa kekuatan membaca yang paripurna ini, mahasiswa hanyalah raga yang hampa. Mereka akan gagap saat hendak menggerakkan perubahan, kehilangan kompas moral saat mencoba mengontrol kuasa, dan terlampau rapuh untuk memikul beban estafet kepemimpinan di pundak mereka.

Daya baca mahasiswa saat ini sebagian tergerus dengan gadget, game online bahkan ironis ada yang terseret kepada judi online dan pinjaman online. Maka rendahnya literasi menyebabkan peran mahasiswa tidak lagi memiliki daya dobrak untuk menyuarakan kritik sosial dan membawa arus perubahan.

Menjadi mahasiswa adalah tentang melampaui batas diri. Mahasiswa dituntut punya otak ‘Profesor’ yang mampu berpikir strategis, namun punya otot ‘Kuli’ yang tak kenal lelah bekerja di akar rumput.

Bagi mahasiswa Muslim, perjuangan ini disempurnakan dengan napas ibadah seorang ‘Kyai’. Inilah profil mahasiswa paripurna: nalar yang cerdas, raga yang tangguh, dan jiwa yang tunduk pada Sang Pencipta. Jika salah satunya hilang, integritas mahasiswa sebagai agen perubahan akan rapuh.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

BAZNAS dan IMS Gelar Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan bagi Kelompok Rentan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) bekerja sama dengan Islamic Medical Service (IMS) menyelenggarakan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img