
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Departemen Dakwah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Agung Tranajaya menyampaikan pandangan mengenai tanggung jawab besar umat Islam dan para dai terhadap kondisi bangsa Indonesia. Dia menekankan bahwa baik buruknya kondisi negara ini sangat bergantung pada kualitas umat Islam dan kinerja para dainya.
Agung mengingatkan bahwa Indonesia adalah anugerah besar bagi umat Islam. Namun, ia juga memberikan catatan kritis mengenai korelasi antara kondisi masyarakat dengan peran para pendakwah. Menurutnya, jika kemaksiatan merajalela, hal tersebut menjadi indikator evaluasi bagi kinerja para dai.
“Dan, masyaallah, di Indonesia ini saya sering menyampaikan bahwa negeri ini adalah karunia bagi kita umat Islam. Baik dan buruknya negeri ini tergantung umat Islamnya. Karena mayoritas umat Islam. Baiknya negeri ini yang menikmati umat Islam, buruknya pun yang akan ditanya pasti umat Islam,” uja Agung.
Hal itu ditegaskan Agung dalam sambutannnya pada acara penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) kerjasama Hidayatullah, Kemenag, dan Laznas BMH yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).
Ia melanjutkan dengan penekanan yang kuat pada fungsi dai di tengah masyarakat. “Dan umat Islam ini tergantung dainya. Kalau masyarakat ini baik itu berarti menunjukkan dainya bekerja. Tapi kalau masyarakatnya buruk, kemaksiatan merajalela, berarti dainya tidak bekerja,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, yang turut dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Agung menyoroti pentingnya kolaborasi antara organisasi dakwah dan pemerintah. Ia menyambut baik kehadiran pihak direktorat sebagai momentum untuk memperkokoh dakwah di tanah air.
Agung memaparkan salah satu fokus utama dari organisasi Hidayatullah, yaitu gerakan memberantas buta huruf dan buta makna Al-Qur’an. Ia mengungkapkan bahwa saat ini infrastruktur dakwah berupa Rumah Quran sudah tersebar luas, namun masih memerlukan sinergi agar hasilnya lebih terukur dan masif.
“Hidayatullah punya konsen dakwah yaitu gerakan dakwah mengajar dan belajar Al-Qur’an (Grand MBA). Sudah lebih dari 1600 rumah Quran yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap Ustadz Agung.
Ia pun secara terbuka mengajak pemerintah untuk bersinergi lebih erat. “Kami berharap sebenarnya sudah lama ingin berkoordinasi ya, berkolaborasi bagaimana dakwah mengentaskan buta huruf dan buta makna Al-Qur’an ini menjadi lebih masif ya, lebih terukur supaya hasilnya itu semakin lama itu semakin bisa kita lihat ukurannya,” jelasnya.
Inti Dakwah adalah Interaksi dengan Al-Qur’an

Lebih jauh, Ustadz Agung mengingatkan para dai agar tidak terjebak pada retorika semata. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan dakwah yang sejati adalah seberapa dekat umat dengan kitab sucinya. Menurutnya, Al-Qur’an memiliki kekuatan yang melampaui kata-kata manusia karena ia adalah firman Allah yang menggenggam jiwa.
“Tugas kita adalah bagaimana mendekatkan umat ini kepada Al-Qur’an. Karena setinggi apapun dakwah kita, sehebat apapun retorika yang kita sampaikan, ujung-ujungnya bagaimana interaksi mereka dengan Al-Qur’an,” tegas Ustadz Agung.
Ia menambahkan, “Karena Al-Qur’an adalah sumber cahaya. Nasihat-nasihat dari ayat Al-Qur’an itu bukan kata-kata manusia tapi firman Allah yang menciptakan manusia yang menggenggam seluruh jiwa manusia.”
Menutup penyampaiannya, Ustadz Agung mengaitkan semangat dakwah ini dengan momentum bulan suci Ramadan sebagai Syahrul Qur’an. Ia mengajak para dai untuk bersyukur karena telah dipilih untuk menjalankan tugas mulia ini, tidak hanya di kota besar tetapi juga hingga ke pelosok negeri, termasuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
“Maka kita sangat beruntung, sangat berbahagia, sangat bersyukur menjadi bagian dari dai yang disiapkan oleh umat, oleh organisasi, oleh pemerintah untuk menyapa, menyampaikan secercah hidayah, menguatkan keimanan, mengokohkan keluhuran akhlak kita, keluhuran akhlak seluruh kaum muslimin termasuk di daerah 3T,” pungkasnya.






