AdvertisementAdvertisement

Ngabuburit Bareng Gen Alpha

Content Partner

DIAM DIAM sebuah generasi mulai membesar populasinya. Ya, itulah Gen Alpha. Sebagaimana diketahui, generasi ini lahir antara tahun 2011 sampai 2025 kemarin. Gen Alpha tertua berusia sekitar 15-16 tahun. Sementara termudanya adalah bayi dengan kisaran usia 0-1 tahun.

Gen Alpha sudah mulai banyak dibahas. Memang bahasannya belum sebanyak Gen Z. Akan tetapi lambat laun bahasan Gen Alpha bisa melesat jauh, meninggalkan aneka topik seputar Gen Z. Karena sebentar lagi Gen Alpha memasuki usia produktif kerja. Estimasinya 5 tahun lagi.

Oleh karena itu generasi senior, apapun tingkatannya, sudah perlu untuk benar-benar memperhatikan Gen Alpha. Karakteristik, potensi kebaikan, dan sisi lemah mereka merupakan tiga hal penting yang mesti dikuasai mendalam oleh generasi senior. Agar potensi kebaikan mereka tumbuh, di saat bersamaan sisi lemah mereka bisa dikuatkan bersama.

Pertama, Gen Alpha lahir di saat teknologi digital sudah matang. Dari sini sudah gampang ditebak bahwa perilaku kebanyakan mereka tidak bisa lepas dari piranti digital, software plus hardware-nya. Sehingga generasi senior diharap maklum, betapa handphone sudah jadi bagian melekat untuk Gen Alpha. Berikutnya sinyal jadi kebutuhan pokok mereka, hampir mengalahkan nasi.

Kedua, Gen Alpha tentu tidak seperti generasi senior menyangkut kedekatan dengan alam. Gen Alpha lebih suka di ruangan dengan gawainya. Hampir tidak ada di handbook Gen Alpha itu main di sungai atau panas-panasan mengejar layangan. Sehingga wajar jika beberapa penyakit mudah menyerang.

Ketiga, karena kurang terlatih akrab dengan alam, Gen Alpha memiliki emosi yang relatif lebih lemah ketimbang generasi senior. Mereka mudah cemas. Akhirnya sulit bagi mereka berkolaborasi satu sama lain. Setelah lama bergaul, mungkin kolaborasi baru bisa terbangun.

Keempat, Gen Alpha lahir di saat makanan sudah saling silang secara global. Di saat bersamaan makanan lokal mulai meredup. Di sisi lain generasi senior juga mulai tergoda untuk setia pada makanan luar. Akhirnya bisa ditebak, Gen Alpha lebih banyak memilih makanan luar. Persoalannya kadang makanan luar sudah dimodifikasi gizinya. Dengan alasan ekonomis, bahan-bahan aslinya yang bergizi tinggi diganti dengan bahan-bahan lain bergizi rendah namun jauh lebih murah.

Nah, dari keempat ulasan tersebut, tergambarlah ngabuburit model apa yang cocok untuk Gen Alpha.

Kenapa ngabuburit? Simpel, karena ngabuburit itu momen yang menyenangkan bagi kebanyakan orang berpuasa. Buka puasa terasa sangat dekat. Hidangan dan keseruannya sudah terasa menggoda.

Nah di momen menyenangkan ini bolehlah orangtua, sebagai generasi senior yang paling dekat dengan Gen Alpha, merancang kegiatan-kegiatan yang bermanfaat buat Gen Alpha.

Aktivitas1: Keluar

Sangat disarankan untuk Gen Alpha keluar rumah. Mungkin mereka diajak mencari takjil, atau dimintai tolong ke warung/toko untuk membeli kebutuhan rumah. Alternatif lainnya adalah mengantarkan takjil ke tetangga sebelah, semoga jadi jalan sosialisasi.

Aktivitas2: Memasak

Gen Alpha bagus untuk diajak memasak bersama. Bahan-bahan makanan dikenalkan, semoga jadi jalan pengetahuan tentang real food. Berikutnya nutrisi dibincangkan. Catatan kepada generasi senior, tolong tidak panjang lebar menceramahi Gen Alpha. Cukup mereka dipancing dengan kata-kata, “Coba aja searching di handphone…”

Aktivitas3: Tadarus

Satu ide yang perlu dipertimbangkan adalah tadarus online bersama teman sekelas, semoga jadi jalan kolaborasi kebaikan.

Aktivitas4: Ditugasi

Generasi senior pura-pura minta tolong kepada Gen Alpha tentang gawai, semisal mencari teks hadits di internet. Ini ikhtiar agar mereka belajar secara tidak langsung.

Aktivitas5: Bukber

Dalam hal ini boleh antarorangtua bersinergi agar terselenggara bukber aman dan inspiratif. Orangtua mengawasi dari jauh saja. Apabila orangtua ikut duduk campur Gen Alpha, bisa ditebak akhir kisah bukbernya.

Di atas segalanya, doa dan kesabaran orangtua jadi kunci utama untuk Gen Alpha bertumbuh optimal. Kedekatan orangtua dengan Allah ta’ala terus dijalin. Komunikasi dua arah antara orangtua dengan anak juga dibangun.

Ngabuburit jadi asyik, inspiratif, dan edukatif buat Gen Alpha. Puasa dan ibadah-ibadah lainnya senantiasa mereka rindukan, selangkah lagi menuju kerinduan hakiki kepada Allah Sang Pencipta.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img