
KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noepatria, mengajak para santri untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan perjuangan umat, tetapi turut mengambil bagian melalui proses belajar, pendalaman ilmu, dan keterlibatan dalam aktivitas yang konstruktif.
Ajakan tersebut disampaikan dalam tausiyah Subuh yang dihadiri para santri SMP–SMK Lukman Al-Hakim Hidayatullah Kudus serta pengurus Yayasan Hidayatullah Kudus di kompleks pesantren Jalan Raya Kudus–Jepara, Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu, 1 Dzulqaidah 1447 (18/4/2026).
Nanang mengingatkan pentingnya menumbuhkan rasa syukur kepada Allah atas kesempatan menjalani ibadah pada waktu Subuh. Ia menyebut bahwa nikmat iman, kesehatan, dan kehidupan merupakan karunia yang patut disyukuri oleh setiap muslim.
Ia kemudian menegaskan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk terus beribadah kepada Allah dan menjaga konsistensi dalam menjalankan ajaran-Nya. Nanang merujuk pada konsep istiqamah sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an dengan frasa “tsummalladzīna istaqāmū”, yang menunjukkan pentingnya keteguhan dalam menjalankan ketaatan.
Menurutnya, istiqamah dalam menjalani perjuangan tidak dapat dipisahkan dari proses kesabaran dan ketekunan. Hal tersebut juga berlaku dalam perjalanan menuntut ilmu yang memerlukan kedisiplinan serta kesungguhan dalam belajar.
Ia menyebut bahwa kebiasaan wirid pada waktu pagi, sore, dan malam dapat menjadi salah satu sarana untuk menjaga konsistensi spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Nanang juga menyampaikan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap perkembangan zaman. Ia menjelaskan bahwa para santri merupakan generasi yang dipersiapkan untuk melanjutkan peran dakwah pada masa mendatang.
Ia juga menekankan pentingnya pembinaan karakter. Ia menekankan pentingnya pemberian tanggung jawab kepada para santri sebagai bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan.
Tanggung jawab tersebut, menurutnya, dapat membantu mengasah kemampuan organisasi, memperkuat identitas diri, serta membentuk ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia juga menyampaikan bahwa santri diharapkan memiliki kemampuan untuk memotivasi diri serta memberi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan manajemen, kepemimpinan, serta pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari bekal yang perlu dipersiapkan.
Dalam penutup pesannya, Nanang kembali menegaskan pentingnya keterlibatan aktif para santri dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri.
“Jangan hanya menjadi penonton dalam perjuangan ini. Ambil bagian dengan terus belajar, mentadabburi ilmu, dan aktif dalam berbagai kegiatan yang positif,” ujarnya.






